← Nggak Usah Dibales

Chapter Eleven

Kardusnya Jatuh

POV: Dayana

Setelah malam itu, ada sesuatu yang berubah di rumah kami, dan yang berubah adalah kami berdua jadi sangat sopan.

Alina masih ribut. Aku masih menyuruhnya makan. Kami masih rebutan colokan.

Tapi ada satu topik yang kami berdua kelilingi seperti lubang di trotoar, dan kami berdua tahu kami sedang mengelilinginya, dan kami berdua memilih tetap mengelilinginya.

Hari Senin, adikku pulang kuliah dan langsung ke kafe dan langsung duduk di kursi favoritnya.

“Kak, aku boleh bantu lagi nggak?”

“Kamu nggak pernah bantu, kamu cuma nampak sibuk.”

“Aku serius. Aku butuh uang.”

“Buat apa?”

“Buat hidup, Kak. Aku manusia.”

Aku memberinya celemek.

Dan sejak hari itu adikku ada di kafeku setiap sore, dan aku tahu persis kenapa, dan dia tahu aku tahu, dan kami berdua tetap tidak membicarakannya.

Aku bilang ke diriku sendiri ini bagus. Kafe butuh tangan tambahan. Alina butuh uang. Semua masuk akal.

Aku tidak menghitung berapa kali aku melirik ke pintu setiap kali bel berbunyi. Aku sudah berhenti menghitung hal-hal semacam itu karena hasilnya selalu memalukan.


Hari Rabu jam sebelas siang, aku keluar untuk mengambil kiriman susu dari agen di seberang.

Blok C jam sebelas siang itu ramai dengan cara yang buruk. Bukan ramai orang jalan. Ramai kendaraan. Motor dari empat arah, angkot yang berhenti di mana saja, mobil pikap barang yang parkir menutupi setengah jalan karena tidak ada tempat lain.

Aku sedang berdiri di trotoar depan agen sambil menghitung krat susu waktu aku dengar bunyi.

Bunyi kardus jatuh. Banyak.

Aku menoleh.

Di seberang jalan, seorang bapak-bapak — Pak Wisnu, yang punya ruko kelontong dua pintu dari kafeku — sedang menurunkan barang dari pikap dan tumpukannya roboh. Lima, enam kardus mi instan tumpah ke aspal. Dua terbuka. Isinya berhamburan ke tengah jalan.

Dan Blok C, seperti biasa, tidak berhenti.

Motor mengelakkan. Angkot membunyikan klakson. Seseorang berteriak dari jendela mobil. Pak Wisnu berdiri di tengah kekacauan itu memegang satu kardus, kelihatan seperti orang yang sedang menghitung berapa persen dari hidupnya yang barusan berantakan.

Lalu ada hoodie masuk ke tengah jalan.

Aku tahu itu dia sebelum otakku selesai memproses. Bukan dari wajah — dia membelakangi aku. Dari cara jalannya. Dari headphone yang menggantung di leher.

Dia jongkok di tengah jalan. Mulai memungut.

Bukan pelan-pelan. Cepat, efisien, dua-dua sekaligus, sambil menumpuknya di lengan kiri.

“Mas—“ Pak Wisnu bilang sesuatu yang tidak terdengar dari seberang.

Dia tidak menjawab. Dia lanjut memungut.

Sebuah motor lewat sangat dekat. Dia bergeser sedikit, tidak menoleh, lanjut memungut.

Aku menaruh krat susu itu di trotoar.

Motor kedua. Lebih dekat.

Dia masih memungut.

Dan aku mulai jalan menyeberang.


Yang aku tidak tahu, dan yang baru aku ketahui dua detik kemudian, adalah bahwa dari arah tikungan selatan ada pikap kedua yang jalan terlalu cepat karena sopirnya sedang mencari alamat.

Aku tahu karena aku sudah di tengah jalan waktu aku dengar mesinnya.

Dan orang di depanku, dengan tumpukan kardus setinggi dada dan headphone di leher dan mata yang sedang mencari bungkus mi terakhir di bawah kolong angkot, sama sekali tidak dengar.

Aku tidak berteriak.

Aku ingin mencatat itu, karena nanti aku memikirkannya berkali-kali. Aku tidak berteriak. Aku tidak sempat memutuskan apa pun. Aku cuma sampai di sebelahnya dan menarik lengannya ke belakang dengan seluruh berat badanku.

Kardusnya jatuh semua.

Pikap itu lewat.

Jaraknya — aku tidak tahu. Orang selalu bilang angka di cerita seperti ini. Sepuluh sentimeter. Setengah meter. Aku tidak tahu. Aku cuma tahu ada angin dan ada bunyi dan ada tangan yang aku pegang di antara dua tanganku sendiri, dan bahwa aku menariknya terlalu keras sampai kami berdua mundur tiga langkah dan hampir jatuh ke trotoar.

Dunia berhenti sekitar dua detik.

Lalu Blok C melanjutkan hidupnya seperti tidak ada apa-apa, karena Blok C memang begitu.

Aku masih memegang lengannya.

Aku memegangnya dengan dua tangan, di depan agen susu, jam sebelas siang, di depan Pak Wisnu dan tukang parkir dan entah siapa lagi.

Dan aku gemetar. Bukan sedikit. Tanganku bergetar sampai kelihatan.

Dia menoleh ke aku.

Lalu dia melihat ke jalan. Ke pikap yang sudah jauh. Lalu ke kardus-kardus yang berserakan di aspal.

Dan dia bilang:

“Kardusnya jatuh.”

Aku menatapnya.

“Kardusnya jatuh,” ulangku.

“Iya.”

“Mas.”

“Ya.”

“Mas hampir ketabrak.”

Dia melihat ke jalan lagi, seperti sedang mengecek ulang informasi yang baru dia terima dari sumber yang kurang bisa dipercaya.

“Oh.”

“’Oh.’”

“Iya.”

Dan dia mulai jongkok untuk memungut kardusnya lagi.

Aku menarik lengannya lagi. Kali ini bukan karena bahaya.

“Jangan.”

“Kak, kardusnya—“

“Aku tahu kardusnya jatuh,” kataku, dan suaraku keluar lebih keras dari yang aku rencanakan, cukup keras sampai tukang parkir menoleh. “Aku lihat kardusnya. Semua orang lihat kardusnya. Yang nggak ada yang lihat itu Mas.”

Dia diam.

Untuk pertama kalinya sejak aku kenal dia — kalau tiga minggu bisa disebut kenal — dia benar-benar diam dengan cara yang berbeda. Bukan diam yang datar. Diam yang bingung.

“Kak,” katanya pelan.

“Apa.”

“Tangan Kakak gemeteran.”

Aku melepaskan lengannya secepat orang melepas panci panas.

“Nggak.”

“Iya.”

“Nggak, Mas.”

Dia melihat tanganku. Aku menyembunyikannya di belakang punggung seperti anak SD.

Dan lalu — dan aku bersumpah aku tidak mengarang bagian ini — dia memasukkan tangan ke kantong hoodie-nya, mengeluarkan satu permen, dan menyodorkannya ke arahku.

Aku menatap permen itu.

“Aku bukan anak kecil.”

“Iya.”

“Terus kenapa dikasih permen.”

Dia berpikir sebentar.

“Habis kaget,” katanya. “Enakan ada manisnya.”

Aku mengambil permen itu.

Aku mengambilnya dari tangannya, di trotoar depan agen susu, dan jariku kena jarinya lagi dan kali ini cuma sepersekian detik dan tetap saja terasa, dan aku memasukkannya ke saku celemek dan berbalik dan jalan ke arah kafeku tanpa mengucapkan satu kata pun.

Di belakangku, aku dengar dia mulai memungut kardus lagi.

Dan aku dengar Pak Wisnu bilang, “Mas, udah, Mas, biar saya aja.”

Dan aku dengar dia bilang, “Dikit lagi.”

Aku berhenti jalan. Aku tidak berbalik.

Aku berdiri di tengah trotoar Blok C jam sebelas siang, di antara motor dan klakson dan bau gorengan, mendengar orang di belakangku memungut mi instan dari aspal setelah hampir mati empat puluh detik yang lalu, dan aku menyadari sesuatu yang membuat perutku dingin.

Dia tidak melakukan itu karena berani.

Orang berani tahu dia sedang mengambil risiko. Dia tidak tahu. Dia benar-benar tidak menghitungnya. Buat dia, ada kardus jatuh di jalan, dan kardus di jalan itu masalah, dan masalah itu perlu diberesin.

Dirinya sendiri tidak masuk hitungan sama sekali.


Aku sampai di depan pintu kafe dan baru sadar aku meninggalkan krat susunya di trotoar seberang.

Aku juga baru sadar sesuatu yang lain.

Selama ini aku memikirkan dia sebagai orang yang membetulkan. Lampu, pintu, roda, tali tas, kucing yang tidak bisa rebutan. Aku memikirkannya seperti memikirkan sesuatu yang stabil.

Aku belum pernah sekali pun memikirkan bahwa dia bisa hilang.

Aku berdiri di depan pintu kafeku selama mungkin satu menit penuh dengan permen di saku celemek dan tangan yang masih belum berhenti gemetar.

Lalu Alina membuka pintu dari dalam.

“Kak? Susunya mana?”

Aku membuka mulut.

Dan aku tidak bisa menjawab.