Chapter Twenty
Perjanjian
POV: Alina
Aku menuntut sidang hari Minggu, jam sebelas malam, di kafe yang sudah tutup.
“Kak, kita harus bikin aturan.”
“Alina.”
“Kakak keluar jam empat pagi.”
“Aku udah bilang—“
“Kak Dayana.” Aku menaruh dua tangan di meja. “Kakak keluar. Jam empat. Pagi. Ke gang. Yang bau.”
Kakakku diam.
“Aku nggak marah,” kataku. “Aku bahkan bangga. Itu keren banget. Itu level yang aku sendiri nggak sanggup.”
“Terus kenapa—“
“Karena kalau nggak ada aturan, aku bakal bangun jam tiga.”
Kakakku membuka mulut untuk protes, lalu menutupnya, karena kakakku tahu aku tidak bercanda.
“Kak, aku serius. Aku bakal jam tiga. Terus Kakak bakal jam dua. Terus salah satu dari kita bakal ketemu dia di jalan jam satu pagi sambil bawa nasi goreng dan itu udah bukan romantis lagi, itu udah masalah kejiwaan.”
Kak Dayana menatapku dari seberang meja selama sekitar sepuluh detik.
Lalu dia berdiri, jalan ke belakang konter, dan kembali dengan buku stok, pulpen, dan dua potong cheesecake.
“Ya udah,” katanya. “Bikin.”
Kami menulisnya di kertas buku stok yang disobek, di meja pojok — mejanya, yang mana kami berdua sadari sekitar tiga puluh detik setelah duduk dan kami berdua putuskan untuk tidak dibahas.
PERJANJIAN
Itu judul pertama. Ditulis kakakku, huruf kapital, rapi.
“Perjanjian apa, Kak?”
“Perjanjian aja.”
“Nggak bisa. Harus ada judul lengkap.”
“Alina—“
“Nanti kalau ada sengketa gimana?”
“SENGKETA?”
Judul akhirnya jadi:
PERJANJIAN BERSAMA ANTARA DAYANA (PIHAK PERTAMA) DAN ALINA (PIHAK KEDUA) MENGENAI HAL YANG SUDAH SAMA-SAMA TAHU
“Kenapa aku pihak kedua?”
“Karena aku lahir duluan.”
“Itu bukan dasar hukum, Kak.”
“Ini rumah aku.”
“Ini rumah kita.”
“Aku yang bayar listrik.”
Aku jadi pihak kedua.
PASAL 1. Tidak ada yang boleh mundur. Kalau ketahuan mundur diam-diam, dianggap melanggar dan kena Pasal 10.
Ini pasal kakakku. Ditulis pertama, tanpa diskusi. Aku membacanya dua kali dan tidak berkomentar apa-apa, dan waktu aku mengangkat kepala kakakku sedang melihat ke arah lain.
PASAL 2. Tidak ada yang boleh menjelekkan yang lain di depan Alfa. Termasuk dengan nada.
“Termasuk dengan nada?”
“Kamu tahu persis kenapa aku nulis itu.”
“Aku nggak pernah—“
“’Kak Dayana emang gitu, kalau capek suka diem.’”
“Itu fakta!”
“Alina.”
“...Oke, termasuk nada.”
PASAL 3. Jadwal masak. Pihak Pertama: Senin, Rabu, Jumat. Pihak Kedua: Selasa, Kamis, Sabtu. Minggu libur, dia harus makan sendiri, kasihan juga tiap hari dikasih makan orang.
PASAL 4. Jam kafe adalah jam netral. Tidak ada yang boleh mengklaim jam kafe.
PASAL 5. Dilarang memakai baju kuning di depan Alfa.
“Kak, ini kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“KENAPA KUNING?”
“Alina, tulis aja.”
“Kak, aku punya empat baju kuning.”
“Sekarang kamu punya nol.”
Aku menulisnya. Sampai sekarang aku tidak pernah tahu alasannya dan kakakku tidak pernah menjelaskan, dan itu jadi satu-satunya pasal yang tidak pernah dilanggar oleh siapa pun sepanjang sejarah perjanjian ini.
PASAL 6. Kalau salah satu pihak sedang berdua dengan Alfa dan pihak lain datang, pihak yang datang tidak boleh pura-pura kebetulan.
“Ini pasal buat kamu.”
“Aku tahu.”
PASAL 7. Kontak fisik.
Kami berhenti lama di pasal tujuh.
“Kak.”
“Tulis aja.”
“Kakak yang tulis.”
“Kamu yang megang pulpen.”
“Kakak yang punya kafe.”
Akhirnya kami menulisnya bergantian, satu ayat masing-masing, sambil tidak menatap satu sama lain sama sekali.
Ayat 1. Tidak ada yang boleh sengaja bikin situasi. (Ditulis Pihak Pertama.)
Ayat 2. Pelukan maksimal empat detik. Dihitung. Keras-keras. (Ditulis Pihak Kedua.)
Ayat 3. “Keras-keras” dihapus. (Pihak Pertama.)
Ayat 4. “Keras-keras” dikembalikan. (Pihak Kedua.)
Ayat 5. Yang tidak sengaja tidak dihitung. (Ditulis berdua, bersamaan, dan kami berdua langsung tahu kenapa yang lain menulisnya.)
PASAL 8. Dilarang memberi tahu Alfa tentang perjanjian ini.
PASAL 9. Dilarang memberi tahu Bu Ratih tentang perjanjian ini. (Pasal ini ditambahkan kakakku dan menurutku sangat bijaksana.)
PASAL 10. Sanksi pelanggaran: mencuci semua piring kafe selama satu minggu penuh, sendirian, termasuk loyang.
PASAL 11.
Kami sampai di pasal sebelas jam dua belas lewat dua puluh, dengan cheesecake sudah habis dan kafe sudah dingin, dan kami berdua sama-sama tahu pasal apa yang belum ditulis.
“Kak.”
“Hm.”
“Gimana kalau dia milih salah satu.”
Kakakku memutar pulpennya di antara jari.
“Terus?”
“Ya terus gimana.”
“Ya berarti udah.”
“Kak.”
“Alina, kalau dia milih, ya udah. Itu haknya.”
“Aku bukan nanya itu.” Aku menarik kertasnya sedikit ke arahku. “Aku nanya, kita gimana.”
Kafe itu diam sekali. Kulkas display berbunyi seperti ambulans, seperti biasa, seperti selamanya.
Kakakku mengambil pulpen dari tanganku.
Dan menulis:
PASAL 11. Apa pun yang terjadi, kami tetap kakak-adik. Ini pasal yang paling penting dan tidak bisa dibatalkan oleh pasal mana pun di atasnya.
Aku membaca pasal itu tiga kali.
“Kak.”
“Jangan nangis.”
“Kakak duluan yang mau nangis.”
“Aku nggak—“
“Idung Kakak merah.”
“Alina.”
“IDUNG KAKAK MERAH.”
Kami berdua menangis di kafe jam setengah satu pagi seperti dua orang bodoh, sambil memegang selembar kertas sobekan buku stok, dan kami tertawa di tengah-tengahnya sampai kami tidak tahu lagi mana yang mana.
Ada satu pasal yang tidak masuk ke kertas.
Kami membicarakannya jam setengah satu, sambil membereskan piring, dan kami berdua sepakat untuk tidak menuliskannya karena kalau ditulis rasanya jadi terlalu nyata.
“Kak.”
“Hm.”
“Gimana kalau dia nggak milih siapa-siapa?”
Kakakku berhenti mencuci.
“Maksudnya?”
“Ya... gimana kalau dia emang nggak bisa.” Aku memutar gelas di tanganku. “Kak, dia nggak ngerti waktu aku nanya. Kakak lihat sendiri. Bukan pura-pura nggak ngerti. Beneran nggak ngerti.”
Air kerannya mengalir agak lama.
“Aku tahu,” kata kakakku.
“Terus?”
“Aku nggak tahu, Alina.”
Dan kami berdua membiarkannya di situ, di wastafel, jam setengah satu pagi, karena tidak ada satu pun dari kami yang siap.
Materainya palsu.
Aku yang mengusulkan materai. Kak Dayana bilang tidak ada materai di rumah. Aku bilang gambar saja.
Jadi di pojok kanan bawah perjanjian itu ada gambar persegi panjang, digambar tanganku, dengan tulisan 10.000 di dalamnya dan garis-garis yang seharusnya jadi hologram tapi lebih mirip mie.
Kami menandatanganinya di atas gambar itu.
Tanda tangan kakakku rapi dan pendek. Tanda tanganku panjang dengan tiga lingkaran karena aku merancangnya waktu kelas dua SMA dan tidak pernah punya kesempatan memakainya untuk apa pun yang penting.
Ini yang penting.
Kak Dayana menempelkannya di balik pintu kulkas kafe, di sisi dalam, di tempat yang cuma terlihat kalau kamu membuka kulkas dan berdiri agak menunduk.
Lalu dia menutup kulkasnya.
“Udah,” katanya.
“Udah.”
“Pulang.”
“Kak.”
“Apa.”
“Besok Senin.”
Kakakku menoleh ke aku dengan tatapan waspada.
“Iya.”
“Senin itu jadwal Kakak.”
“...Iya.”
“Kakak masak apa?”
“Bukan urusan kamu.”
“KAK, PASAL 2!”
“Pasal 2 soal ngejelekin, bukan soal menu.”
“Itu semangat pasalnya!”
Kakakku mengunci pintu kafe dan jalan duluan ke arah rumah, dan aku menyusul sambil masih berdebat, dan lampu jalan nomor tujuh menyala kuning di belakang kami sepanjang jalan pulang.
Perjanjian itu bertahan enam hari.
Tapi aku belum tahu itu waktu menandatanganinya, dan malam itu aku tidur dengan perasaan bahwa kakakku dan aku baru saja menyelamatkan sesuatu.
- 1 Lampu Nomor Tujuh
- 2 Peniti
- 3 Info Ruko Blok C
- 4 Air Putih
- 5 Salah Orang
- 6 Tiga Detik
- 7 Satu Ekor
- 8 Lima Belas Saksi
- 9 Jangan Dibangunin
- 10 Orang yang Sama
- 11 Kardusnya Jatuh
- 12 Om Hoodie Nganterin Aku Pulang
- 13 Namanya
- 14 Enam Minggu
- 15 Kampanye
- 16 Lantai Basah
- 17 Empat Puluh Satu
- 18 Verifikasi
- 19 Sembilan Ekor
- 20 Perjanjian reading
- 21 Jam Dua Pagi
- 22 Delapan Kali
- 23 Ember
- 24 Yang Aku Tahan Seharian
- 25 Jam Tiga Pagi
- 26 Sebelas
- 27 Radio
- 28 Yang Hilang
- 29 Bus
- 30 Aku Lihat, Kok
- 31 Nenek Sum
- 32 Gang
- 33 Kamera Tiga
- 34 Empat Detik
- 35 Yang Aku Susun Semalaman
- 36 Pintu Biru
- 37 Aku Nggak Mau Tahu
- 38 Berani Nggak
- 39 Yang Aku Lihat
- 40 Satu Pasal
- 41 Epilog — Om, Saya Mau Minta Izin