Chapter Thirty Three
Kamera Tiga
POV: Pak Har
Rekaman itu kami buka hari Senin jam sembilan pagi, di pos, bertiga: saya, Pak Broto, dan Koh Ateng.
Koh Ateng saya panggil karena beliau yang paling paham DVR setelah Alfa, dan karena saya sudah memutuskan sejak semalam bahwa saya tidak akan memanggil Alfa untuk urusan ini.
Ada hal-hal yang tidak boleh diminta dari orang yang sedang dituduh.
Kabelnya sudah disambung ulang hari Sabtu.
Yang dicabut cuma kamera tiga. Tiga kamera lain merekam normal selama ini, tapi tiga kamera lain menghadap ke jalan depan, dan tidak ada satu pun kejadian di jalan depan.
Kamera tiga menghadap ke gang belakang dan pintu belakang gudang C-9.
Kabelnya dicabut hari Minggu minggu lalu.
Brankas hilang hari Minggu ini.
Yang artinya, kalau orangnya cukup teliti untuk mencabut kabel seminggu sebelumnya, orang itu juga tahu bahwa rekaman DVR ini menyimpan tiga puluh hari ke belakang.
Dan yang artinya, kejadian hari Senin dan Rabu — uang Pak Wisnu dan HP anak kos — masih ada di dalam sana.
Koh Ateng yang menyadari itu.
“Har.”
“Ya, Koh.”
“Kalau dia cabut hari Minggu, berarti yang sebelum-sebelumnya kerekam.”
Saya menoleh ke Pak Broto.
Pak Broto sudah pucat sejak sepuluh menit yang lalu.
Kami mundur ke hari Senin.
Kamera tiga. Jam dua siang.
Gambarnya jelek. Hitam putih, patah-patah, tapi cukup.
Jam dua lewat empat belas, ada orang masuk lewat gang belakang ke arah pintu belakang ruko Pak Wisnu.
Bukan Alfa.
Orangnya lebih pendek. Tidak memakai hoodie. Memakai jaket bengkel abu-abu dengan logo di punggung.
Koh Ateng berhenti bernapas.
Saya menoleh ke beliau.
“Koh.”
Koh Ateng tidak menjawab.
“Koh Ateng.”
“Mundurin,” kata beliau. Suaranya sudah berubah. “Mundurin sepuluh detik.”
Saya memundurkan.
Orang itu masuk ke frame dari kiri, berhenti, melihat ke arah kamera — ke arah kamera, langsung, selama sekitar dua detik — lalu masuk ke pintu belakang.
Wajahnya kelihatan jelas.
Koh Ateng meletakkan kedua tangannya di meja pos saya dan menunduk.
“Koh.”
“Ivan,” katanya.
Ivan itu keponakan Koh Ateng. Dua puluh tiga tahun. Anak magang di bengkel sejak dua tahun lalu, keluar delapan bulan lalu, masih sering datang.
Ivan itu yang diteriaki “PENITI” oleh Neng Alina di depan bengkel tiga bulan lalu dan jadi bahan tertawaan satu blok selama dua minggu.
Ivan itu juga yang, empat tahun lalu, membongkar radio di rak belakang bengkel karena mau memberi kejutan.
Saya menuliskan itu semua di buku saya, dan waktu saya menuliskannya tangan saya tidak stabil sama sekali.
Ivan mengaku sore itu.
Tidak ada drama. Tidak ada kejar-kejaran. Koh Ateng menelepon dan anak itu datang sendiri ke pos dalam waktu empat puluh menit dan langsung duduk dan menangis sebelum ditanya apa pun.
Utang. Aplikasi pinjaman. Dua puluh tiga juta, dari yang awalnya satu setengah.
Saya sudah dua belas tahun kerja di sini dan saya sudah tiga kali mendengar cerita yang persis sama dengan angka yang berbeda.
“Kenapa nggak bilang ke Om?” tanya Koh Ateng.
Anak itu tidak menjawab.
“KENAPA NGGAK BILANG.”
“Malu, Om.”
Dan Koh Ateng — yang menurut cerita orang sudah membuat tiga orang pindah kontrakan hanya dengan tatapan — duduk di kursi plastik pos saya dan menutup muka dengan dua tangan.
Yang perlu saya catat, dan yang jadi entri terpanjang di buku saya:
Saya bertanya ke Ivan kenapa dia mencabut kabel kamera tiga.
“Saya tahu kameranya nyala, Pak.”
“Dari mana?”
Anak itu melihat saya.
“Dari grup, Pak.”
Saya membuka HP saya.
Saya menggulir ke atas. Ke pesan panjang yang saya kirim dua bulan lalu, yang saya ketik selama tiga jam dengan dua jari, empat puluh satu entri, yang membuat Bu Ratih menangis di depan lapak.
Dan di entri nomor empat puluh dua, yang saya tambahkan sendiri, dengan tangan saya sendiri:
Senin. 21.14. Pos satpam. DVR CCTV diperbaiki. Adaptor dibeli sendiri oleh subjek. Ongkos ditolak.
Catatan: kamera 3 aktif kembali.
Saya menaruh HP saya di meja.
Saya yang memberi tahu.
Saya, yang menulis empat puluh dua entri untuk membela anak itu, yang memberi tahu satu-satunya orang di Blok C yang tidak boleh tahu.
Saya duduk di pos itu cukup lama setelah semua orang pulang.
Yang tidak saya duga terjadi keesokan harinya.
Saya menemui Alfa di depan bengkel jam empat sore, sendirian, seperti waktu itu.
“Mas.”
“Pak Har.”
“Mas sudah dengar?”
“Sudah.”
“Dari Koh Ateng?”
“Iya.”
Saya duduk di bangku semen.
“Mas.”
“Ya.”
“Saya mau nanya satu hal dan Mas boleh nggak jawab.”
“Iya.”
“Mas sudah tahu, ya.”
Alfa tidak menjawab selama beberapa detik.
“Nggak tahu,” katanya akhirnya. “Curiga.”
“Dari kapan?”
“Dari hari Rabu. Yang HP anak kos.”
“Kenapa?”
“Ivan dateng ke bengkel hari itu jam empat. Pake jaket bengkel. Dia udah nggak kerja di situ delapan bulan.”
Saya menutup mata.
“Mas.”
“Pak.”
“Kenapa Mas nggak bilang ke saya?”
Dan anak itu bilang, dengan suara datar yang sama seperti selalu:
“Saya cuma curiga, Pak. Kalau saya bilang terus salah, anak itu rusak seumur hidup.”
Saya duduk di bangku semen depan bengkel dan tidak bisa mengatakan apa pun.
“Dan kalau saya bener,” lanjutnya, “dia tetep rusak.”
“Jadi Mas diem.”
“Iya.”
“Sampai Mas sendiri yang dituduh.”
Dia mengangkat bahu sekali.
“Itu beda, Pak.”
“Beda gimana, Mas?”
“Saya udah gede.”
Blok C datang hari Rabu.
Saya tidak mengorganisir. Saya bersumpah saya tidak mengorganisir. Yang saya lakukan cuma menulis satu pesan di grup hari Selasa malam:
Sudah jelas. Bukan Mas Alfa. Saya minta maaf sebagai admin karena tidak menghentikan pembicaraan lebih awal.
Saya kira akan ada dua puluh balasan.
Yang terjadi adalah tiga puluh dua orang datang ke depan bengkel Koh Ateng hari Rabu sore.
Bukan tiga puluh dua. Lebih. Ada yang bawa anak. Anak kos Melati datang lima orang. Bilal datang dengan sepeda yang rodanya sudah diperbaiki. Bu Ratih datang dengan ember bunga yang rodanya tidak berbunyi.
Nenek Sum datang dengan tongkat, diantar cucunya, dan langsung duduk di kursi plastik yang disediakan Koh Ateng tanpa diminta.
Dan Pak Broto datang paling depan.
Alfa keluar dari bengkel jam setengah lima karena dipanggil Koh Ateng dengan alasan ada pelanggan.
Anak itu berdiri di ambang pintu bengkel dengan solder masih di tangan dan melihat sekitar tujuh puluh orang berdiri di jalan depan bengkel.
Dan saya melihat wajahnya.
Saya ingin mencatat ini dengan hati-hati, karena ini yang paling penting dari seluruh dua belas tahun saya di sini.
Anak itu tidak terharu.
Anak itu ketakutan.
Dia mundur setengah langkah ke dalam bengkel.
Pak Broto yang bicara duluan, dan Pak Broto tidak pandai bicara, jadi kalimatnya pendek.
“Mas.”
“Pak.”
“Saya salah.”
“Nggak apa-apa, Pak.”
“Saya salah, Mas.”
“Iya, Pak.”
Dan Pak Broto — yang duitnya benar-benar hilang, yang kehilangannya nyata, yang tidak akan pernah kembali — menyerahkan amplop.
“Ini apa, Pak?”
“Ongkos.”
“Ongkos apa?”
“Semuanya.” Pak Broto menahan amplop itu di depannya. “Semua yang Mas benerin di blok ini. Kita hitung. Kita patungan.”
Alfa melihat amplop itu.
“Nggak usah dibales.”
Dan yang terjadi berikutnya adalah hal yang tidak pernah saya lihat di Blok C dalam dua belas tahun.
Tujuh puluh orang menolak.
Bukan serentak seperti di film. Berantakan, saling tumpang tindih, tidak jelas siapa bilang apa.
“Nggak bisa, Mas.”
“Ambil, Mas.”
“Mas, ini bukan dibales. Ini dibayar.”
“BENER ITU!”
“Mas kalau nolak nanti ibu-ibu tersinggung.”
“Nenek udah tujuh puluh empat, Mas. Jangan bikin nenek berdiri lama.”
Dan Bilal, dari barisan depan, dengan suara paling keras di seluruh jalan itu:
“OM! AMBIL AJA! NANTI BISA BUAT BENERIN MOTOR OM!”
Blok C diam.
“Motor apa, Bilal?” tanya Bu Ratih.
“Motor Om Hoodie di depan kontrakan. Bannya kempes dari lama.”
Dan sekitar tujuh puluh orang menoleh serentak ke arah Alfa.
Anak itu berdiri di ambang pintu bengkel dengan solder di tangan dan amplop di depannya dan tujuh puluh orang menatapnya.
Dia mengambil amplopnya.
Tangannya bergetar. Saya lihat dari jarak empat meter.
“Makasih,” katanya.
Dan Bu Ratih langsung menangis, dan setelah Bu Ratih menangis semua orang jadi berisik lagi, dan Koh Ateng berteriak menyuruh semua orang minggir karena menghalangi jalan, dan tidak ada yang minggir.
Yang saya catat sebagai entri terakhir hari itu:
Malamnya, waktu semua sudah pulang, saya lewat bengkel untuk pulang.
Lampu bengkel masih menyala.
Alfa duduk di lantai, sendirian, dengan amplop belum dibuka di sebelahnya.
Dan di pangkuannya ada wadah plastik merah.
Wadah rendang Bu Sri, yang menurut Bu Ratih sudah tiga bulan tersimpan di rak belakang tanpa pernah dibuka.
Anak itu sedang membukanya.
- 1 Lampu Nomor Tujuh
- 2 Peniti
- 3 Info Ruko Blok C
- 4 Air Putih
- 5 Salah Orang
- 6 Tiga Detik
- 7 Satu Ekor
- 8 Lima Belas Saksi
- 9 Jangan Dibangunin
- 10 Orang yang Sama
- 11 Kardusnya Jatuh
- 12 Om Hoodie Nganterin Aku Pulang
- 13 Namanya
- 14 Enam Minggu
- 15 Kampanye
- 16 Lantai Basah
- 17 Empat Puluh Satu
- 18 Verifikasi
- 19 Sembilan Ekor
- 20 Perjanjian
- 21 Jam Dua Pagi
- 22 Delapan Kali
- 23 Ember
- 24 Yang Aku Tahan Seharian
- 25 Jam Tiga Pagi
- 26 Sebelas
- 27 Radio
- 28 Yang Hilang
- 29 Bus
- 30 Aku Lihat, Kok
- 31 Nenek Sum
- 32 Gang
- 33 Kamera Tiga reading
- 34 Empat Detik
- 35 Yang Aku Susun Semalaman
- 36 Pintu Biru
- 37 Aku Nggak Mau Tahu
- 38 Berani Nggak
- 39 Yang Aku Lihat
- 40 Satu Pasal
- 41 Epilog — Om, Saya Mau Minta Izin