Chapter Twenty Six
Sebelas
POV: Dayana
Aku kembali hari Senin.
Aku masak. Aku antar sendiri. Aku duduk di kursi seberangnya tanpa diminta, yang mana adalah hal yang belum pernah aku lakukan sekali pun dalam dua bulan, dan yang mana membuat adikku hampir menjatuhkan nampan dari jarak enam meter.
“Kak?”
“Duduk aja, Alina. Nggak ada yang antre.”
Adikku duduk di kursi meja empat dan menonton kami dari kejauhan sambil pura-pura melipat serbet.
Alfa makan. Aku menunggu.
“Enak?”
“Enak.”
“Beda sama punya Alina?”
Dia berhenti mengunyah. Melihat aku. Lalu melihat ke arah meja empat, di mana adikku sedang melipat serbet yang sama untuk ketiga kalinya.
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa. Jawab aja.”
“Punya Kakak kurang asin.”
Dari meja empat terdengar bunyi seperti orang tersedak.
“Enak, kok,” tambahnya, dengan nada yang sepenuhnya tidak berubah.
Kafe tutup jam sebelas malam. Alina pulang jam sepuluh karena ada kelas pagi.
Alfa masih di meja pojok jam sepuluh lewat empat puluh, karena hari itu dia lembur sampai jam sembilan dan baru sampai jam setengah sepuluh, dan karena aku tidak menyuruhnya pulang.
Aku menaikkan kursi. Aku mematikan lampu depan.
Lalu aku duduk di kursi seberangnya lagi.
“Kak?”
“Sebentar.”
Dan aku melakukan hal yang sudah aku putuskan akan aku lakukan sejak jam empat pagi hari Minggu di lantai ruang depan.
Aku mengulurkan tangan dan mengambil tangan kanannya dari atas meja.
Dia tidak menarik.
Itu yang pertama aku catat. Dia tidak menarik dan tidak menegang. Tangannya cuma diam di tanganku, berat dan hangat dan sama sekali tidak melawan, seperti benda.
Telapaknya kasar di semua tempat yang salah. Ada kapalan di pangkal jari. Ada kulit kering di sisi luar telapak.
Dan ada plester.
“Alfa.”
“Ya.”
“Aku mau ngitung.”
“Ngitung apa?”
“Ini.”
Aku menyentuh plester di jari telunjuknya.
“Satu.”
“Kak—“
“Satu ini kenapa?”
Dia diam sebentar.
“Obeng minus,” katanya akhirnya. “Selip. Rabu.”
“Dua.” Aku pindah ke buku jari. “Ini?”
“Kena rangka kipas. Bu Yati, blok D. Rangkanya karatan.”
“Tiga.”
“Solder.”
“Kapan?”
“Kemarin.”
“Empat.”
Aku membalik tangannya. Ada goresan panjang di sisi luar, sudah kering, belum diplester.
“Seng,” katanya. “Talang kos Melati.”
Aku menoleh cepat. “Kamu benerin talang kos Melati?”
“Bocor.”
“Kapan?”
“Minggu.”
Hari Minggu itu hari aku menangis di lantai ruang depan sampai jam empat pagi.
Aku menarik napas dan melanjutkan.
“Lima.”
Sebelas.
Aku menghitung sampai sebelas, di kafe yang gelap, jam sebelas kurang, dengan cuma lampu konter yang menyala.
Dan dia menjawab kesebelasnya.
Semuanya. Tanpa berpikir lama. Tanpa satu pun “lupa”. Setiap luka punya benda, punya tempat, punya hari.
Orang yang katanya tidak memperhatikan apa pun bisa menyebutkan asal-usul sebelas luka di tangannya sendiri dalam waktu kurang dari tiga menit.
Yang nomor tujuh membuat aku berhenti agak lama.
Bekas melintang di punggung tangan, tipis, sudah menghitam di pinggirnya.
“Ini?”
“Kaca.”
“Kaca apa?”
“Pecahan di gang tembus.”
Aku mengangkat kepala. “Yang kamu pindahin pakai tangan?”
Dia melihat aku. “Kakak tahu?”
“Semua orang tahu, Alfa. Ada di catetan Pak Har. Nomor dua puluh satu.”
“Oh.”
“Kenapa nggak pakai sapu?”
“Nggak bawa.”
“Kenapa nggak ambil sapu dulu?”
“Nanti keburu ada yang lewat.”
Aku menunduk ke tangannya lagi dan melanjutkan menghitung tanpa berkomentar, karena kalau aku berkomentar aku akan mengatakan sesuatu yang belum boleh aku katakan.
Aku berhenti di nomor sebelas dan tidak melepaskan tangannya.
“Alfa.”
“Hm.”
“Kamu inget semuanya.”
“Ya inget.”
“Nggak semua orang inget.”
“Kenapa nggak inget?”
Dan begitulah cara orang ini menjawab. Selalu dengan pertanyaan yang membuat pertanyaanku sendiri kelihatan aneh.
Aku memandangi tangannya di tanganku.
Lalu aku melihat sesuatu yang bukan plester.
Di pangkal ibu jari, di daging tebal antara ibu jari dan telunjuk, ada bekas kecil. Dua titik. Sudah putih. Sudah lama.
“Ini bukan luka baru.”
“Bukan.”
“Ini apa?”
Dia melihat ke tangannya sendiri.
“Digigit kucing.”
“Kucing mana?”
“Yang miring.”
Aku mengangkat kepala.
“Si Miring?”
“Iya.”
“Kapan?”
“Awal-awal.”
“Awal-awal itu kapan, Alfa?”
Dia berpikir. Benar-benar berpikir, dengan cara orang yang harus menghitung mundur.
“Tiga tahun.”
Aku menatapnya.
“Tiga tahun.”
“Iya.”
“Kamu ngasih makan kucing itu tiga tahun.”
“Awalnya nggak tiap hari.”
“Alfa.”
“Dia galak.” Dia menatap bekas gigitan itu dengan ekspresi orang yang sedang mengingat sesuatu yang tidak penting. “Awalnya dia nggak mau. Digigit dua kali. Terus dia mau.”
“Terus kamu terusin.”
“Iya.”
“Tiga tahun.”
“Kenapa?”
Aku tidak bisa menjawab, karena kalau aku membuka mulut yang keluar bukan kata-kata.
Tiga tahun.
Aku membuka kafe ini tiga tahun lalu. Aku bangun jam empat setiap pagi selama tiga tahun dan aku lewat mulut gang itu ratusan kali dan aku tidak pernah sekali pun berhenti.
Dan delapan ratus meter dari kafeku, setiap pagi, selama tiga tahun, ada orang yang jongkok di gang bau untuk seekor kucing yang menggigitnya dua kali.
Dan aku baru tahu dua bulan lalu.
Dan seluruh Blok C baru tahu dua bulan lalu.
Dan orang ini tidak pernah, sekali pun, dalam tiga tahun, menyebutkannya ke siapa pun.
“Kak.”
“Hm.”
“Tangan Kakak gemeteran lagi.”
Aku tidak melepaskannya.
Itu perbedaan malam itu dengan semua malam sebelumnya, dan aku tahu perbedaannya waktu itu juga, dan aku sengaja.
“Iya,” kataku.
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
Dia diam.
Lalu — dan aku sudah menduga ini, aku sudah menduganya sejak aku memegang tangannya, dan aku sudah menyiapkan diri dan tetap saja tidak siap — dia mulai bergerak untuk mengambil sesuatu dari kantong hoodie-nya dengan tangan yang satunya.
“Alfa.”
“Hm.”
“Kalau kamu ngeluarin permen sekarang aku bakal nangis beneran.”
Tangannya berhenti di tengah jalan.
Dia menariknya kembali dan menaruhnya di meja.
Dan kami duduk seperti itu — satu tangannya di kedua tanganku, satu lagi di meja, di kafe gelap jam sebelas kurang sepuluh — selama waktu yang aku tidak hitung, karena untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai aku memutuskan untuk tidak menghitung.
“Kak.”
“Ya.”
“Kafenya udah tutup.”
“Iya.”
“Kakak besok bangun jam empat.”
“Iya.”
Hening.
“Ya udah,” katanya.
Dan dia tidak menarik tangannya.
Aku melepaskannya sendiri, akhirnya, entah berapa menit kemudian.
Kami keluar. Aku mengunci pintu. Dia berdiri di trotoar seperti biasa.
“Alfa.”
“Ya.”
“Besok jangan lupa makan siang.”
“Iya.”
“Kamu selalu bilang iya.”
“Iya.”
Aku memukul lengannya pelan, dan itu adalah pertama kalinya aku melakukan hal semacam itu, dan aku melakukannya karena adikku melakukannya setiap hari dan kelihatan sangat mudah dan ternyata tidak mudah sama sekali.
“Kak.”
“Apa.”
“Kakak mukulnya kurang kenceng.”
“HAH?”
“Alina lebih kenceng.”
Aku berdiri di trotoar depan kafeku sendiri jam sebelas malam dan tidak bisa memutuskan apakah aku barusan dibandingkan, dikritik, atau diberi tips.
“Alfa.”
“Ya.”
“Kamu ngebandingin aku sama adik aku.”
Dia memikirkan itu sebentar.
“Iya.”
“Itu nggak sopan.”
“Oh.” Dia mengangguk pelan. “Maaf.”
Dan dia mengatakannya dengan begitu tulus, dengan begitu tidak punya pertahanan sama sekali, sampai aku harus menoleh ke arah lain selama dua detik.
Dia tidak menghindar.
Dia memasang headphone-nya. Mengangkat satu tangan setinggi bahu. Jalan ke selatan.
Aku berdiri di bawah lampu nomor tujuh dan menghitung sesuatu untuk terakhir kalinya malam itu.
Sebelas luka di satu tangan.
Dan yang paling lama, yang paling kecil, yang sudah putih dan hampir tidak kelihatan, adalah yang paling dia ingat.
- 1 Lampu Nomor Tujuh
- 2 Peniti
- 3 Info Ruko Blok C
- 4 Air Putih
- 5 Salah Orang
- 6 Tiga Detik
- 7 Satu Ekor
- 8 Lima Belas Saksi
- 9 Jangan Dibangunin
- 10 Orang yang Sama
- 11 Kardusnya Jatuh
- 12 Om Hoodie Nganterin Aku Pulang
- 13 Namanya
- 14 Enam Minggu
- 15 Kampanye
- 16 Lantai Basah
- 17 Empat Puluh Satu
- 18 Verifikasi
- 19 Sembilan Ekor
- 20 Perjanjian
- 21 Jam Dua Pagi
- 22 Delapan Kali
- 23 Ember
- 24 Yang Aku Tahan Seharian
- 25 Jam Tiga Pagi
- 26 Sebelas reading
- 27 Radio
- 28 Yang Hilang
- 29 Bus
- 30 Aku Lihat, Kok
- 31 Nenek Sum
- 32 Gang
- 33 Kamera Tiga
- 34 Empat Detik
- 35 Yang Aku Susun Semalaman
- 36 Pintu Biru
- 37 Aku Nggak Mau Tahu
- 38 Berani Nggak
- 39 Yang Aku Lihat
- 40 Satu Pasal
- 41 Epilog — Om, Saya Mau Minta Izin