← Nggak Usah Dibales

Chapter Thirty Six

Pintu Biru

POV: Dayana

Lampu di depan pintunya masih mati.

Aku berdiri di situ sekitar satu menit sebelum mengetuk, dan selama satu menit itu aku memandangi motor yang tertutup terpal dengan ban belakang kempes.

Amplop dari tujuh puluh orang itu sudah lima hari.

Bannya masih kempes.


Dia membuka pintu di ketukan kedua.

Kaus oblong. Celana pendek. Tidak ada hoodie, tidak ada headphone, dan itu adalah pertama kalinya aku melihatnya tanpa keduanya, dan efeknya lebih besar dari yang aku duga.

Dia kelihatan lebih muda. Dan lebih kurus. Dan lebih capek.

“Kak.”

“Alfa.”

“Kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

Dia berdiri di ambang pintu memegang gagangnya.

“Kafe?”

“Kafe nggak apa-apa.”

“Kulkas?”

“Kulkas juga nggak apa-apa.”

“Terus?”

Dan aku berdiri di depan pintu biru itu jam setengah sepuluh malam dan menyadari betapa lucunya ini.

Orang ini tidak punya konsep bahwa seseorang bisa datang ke rumahnya tanpa ada yang rusak.

“Aku boleh masuk?”

Dia diam sebentar.

“Berantakan.”

“Aku nggak nanya rapi apa nggak.”

Dia mundur dan membuka pintunya.


Kontrakannya satu ruangan.

Aku ingin menuliskannya persis seperti yang aku lihat, karena aku memikirkannya berhari-hari setelah itu.

Kasur tipis di lantai, dilipat rapi. Satu lemari plastik. Satu meja kecil. Satu kipas angin berdiri yang jelas sudah dibongkar dan dipasang ulang beberapa kali.

Dinding kosong. Tidak ada foto. Tidak ada kalender. Tidak ada apa-apa.

Dan di sudut, tersusun sangat rapi menempel tembok, ada barang-barang.

Kardus kecil berisi obeng dan tang, disusun berdasarkan ukuran. Gulungan kabel, diikat satu-satu. Kotak-kotak kecil berlabel tulisan tangan yang aku kenal.

Dan di rak paling atas lemari plastik itu, sendirian, ada wadah plastik merah yang sudah dicuci bersih.

Aku memandangi wadah itu terlalu lama.

“Kak, duduk.”

Tidak ada kursi. Ada satu bangku plastik. Dia menariknya ke tengah untuk aku dan dia sendiri duduk di lantai.

“Alfa, kamu duduk di bangku.”

“Nggak apa-apa.”

“Alfa.”

“Kak, ini kontrakan aku.”

Dan itu adalah pertama kalinya dia menang berdebat dengan aku, jadi aku duduk di bangku plastik.


Kami tidak bicara selama mungkin dua menit.

“Kak.”

“Hm.”

“Kenapa ke sini?”

Aku memandangi tanganku di pangkuanku.

Aku sudah menyusun kalimat selama tiga jam di meja dapur dan menyobek semuanya, dan aku sudah tahu sejak jam empat pagi bahwa aku tidak akan punya kalimat yang benar.

Jadi aku bilang yang paling jelek.

“Aku mau pamit.”

Dia mengangkat kepala.

“Pamit ke mana?”

“Bukan pamit ke mana.” Aku menarik napas. “Pamit berhenti.”

Kontrakan itu sunyi. Ada suara TV dari kontrakan sebelah. Ada motor lewat di gang.

“Berhenti apa?”

“Alfa.”

“Kak, aku nggak ngerti.”

“Aku tahu kamu nggak ngerti.” Dan suaraku sudah mulai pecah dan aku belum sampai kalimat kedua. “Itu yang bikin ini susah banget.”


Aku menceritakan semuanya.

Bukan yang aku rencanakan. Aku tidak merencanakan apa-apa. Yang keluar malam itu adalah tiga bulan yang aku simpan di laci di bawah nampan uang receh.

Aku cerita soal nota karbon biru. Enam minggu. Aku cerita soal aku yang menghafal jadwalnya lewat depan kafe tanpa berencana menghafal. Aku cerita soal aku yang berdiri di balik tembok di mulut gang jam empat pagi seperti anak SMP.

Aku cerita soal Alina. Soal peniti di dompet. Soal perjanjian di balik pintu kulkas dengan materai yang digambar tangan.

Soal jam empat pagi di lantai ruang depan waktu adikku menyuruhku bilang “aku pengen dia” tiga kali dan aku bilang tiga kali dengan suara paling kecil yang pernah aku punya.

Alfa duduk di lantai kontrakannya dan mendengarkan semuanya tanpa memotong sekali pun.

“Dan sekarang aku pamit,” kataku.

“Kenapa?”

“Karena aku baru ngerti sesuatu semalem.” Aku menyeka mata dengan punggung tangan. “Dan yang aku ngerti itu bikin aku sadar aku udah tiga bulan nyakitin kamu tanpa tahu.”

Dia menatapku.

“Kak nggak nyakitin aku.”

“Alfa, kami numpuk barang di atas kamu.” Aku menunjuk ke arah pintu, ke arah luar, ke arah Blok C. “Makanan. Amplop. Tujuh puluh orang di depan bengkel. Aku, tiap hari, tiga bulan.”

“Kak—“

“Dan kamu bilang sendiri di gang.” Suaraku naik. “Kamu bilang kalau orang baik terus kamu kebiasaan terus mereka berhenti, kamu harus belajar lagi dari awal.”

Dia diam.

“Jadi aku berhenti sekarang,” kataku. “Sebelum kamu kebiasaan. Itu lebih adil.”


Aku berdiri.

Aku benar-benar berdiri. Aku sudah memegang tali tasku dan aku sudah melangkah satu langkah ke arah pintu dan aku bersumpah aku akan melakukannya.

“Kak.”

“Alfa, aku harus—“

“Kak.”

Aku berhenti.

Dia masih duduk di lantai. Dia tidak mengejar. Dia tidak berdiri. Dia cuma menoleh ke aku dari lantai kontrakannya sendiri.

“Aku udah kebiasaan.”

Aku berdiri di tengah ruangan itu dengan tali tas di tangan.

“...Apa?”

“Aku udah kebiasaan,” ulangnya. Datar, seperti biasa, seperti orang menyebutkan cuaca. “Udah lama.”

“Alfa.”

“Aku tiap sore jalan lewat depan kafe jam empat.” Dia memandang ke lantai. “Bengkel tutup jam lima. Aku bilang ke Koh Ateng aku istirahat sore.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Kak.”

“...Ya.”

“Aku bohong sama Koh Ateng tiap hari selama tiga bulan.”


Aku menaruh tasku.

Aku tidak ingat menaruhnya. Yang aku ingat adalah aku sudah jongkok di lantai di depannya dan tali tas itu sudah tidak ada di tanganku.

“Alfa.”

“Kak, aku nggak tahu ini apa.”

“Aku tahu.”

“Aku nggak bisa benerin ini.”

“Alfa.”

“Aku nggak ngerti,” katanya, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya suaranya tidak datar. “Aku bisa lihat semua. Aku bisa lihat lampu mati dari seberang jalan. Aku bisa lihat karet kulkas dari suaranya doang. Aku bisa lihat—“

Dia berhenti.

“Aku nggak bisa lihat ini,” katanya.

Dan aku, jongkok di lantai kontrakan satu ruangan di ujung gang belakang Blok C jam sepuluh malam, dengan tiga bulan dan tiga draf yang sudah aku sobek dan tidak satu pun kalimat yang benar, akhirnya mengerti bahwa memang tidak pernah ada kalimat yang benar.

Aku mengangkat tanganku dan memegang wajahnya.

“Aku lihat, kok,” kataku.

Dan aku menciumnya.


Dia tidak bergerak selama sekitar sepuluh detik.

Sepuluh detik penuh, di mana aku memegang wajah orang yang seluruh sistemnya berhenti bekerja, dan aku sempat berpikir bahwa aku baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam dua puluh lima tahun hidupku.

Lalu tangannya naik.

Ke pergelanganku. Bukan menarik. Bukan melepas.

Menahannya di situ.

Dan dia membalas dengan cara orang yang tidak pernah melakukan ini seumur hidupnya, yang artinya salah, yang artinya kaku, yang artinya sangat hati-hati, seperti orang memegang sesuatu yang dia yakin akan pecah.

Aku menangis di tengah-tengahnya dan aku tidak berhenti dan dia tidak melepaskan pergelanganku.


Waktu aku menarik diri, dia masih memegang pergelanganku.

“Kak.”

“Ya.”

“Kafenya besok buka jam berapa?”

Aku menatapnya.

Dan aku tertawa. Di lantai kontrakan, dengan muka basah, dengan tangan orang itu masih di pergelanganku, aku tertawa sampai bahuku bergetar dan sampai aku harus menunduk.

“Alfa.”

“Ya.”

“Kamu baru aja aku cium.”

“Iya.”

“Terus kamu nanya kafe buka jam berapa.”

Dia memikirkan itu sebentar.

“Iya.”

“Kenapa?”

Dan dia bilang, dengan wajah yang sepenuhnya serius:

“Karena besok Senin. Senin jadwal Kakak masak.”

Aku menaruh dahiku di bahunya dan tertawa dan menangis pada waktu yang sama, dan orang itu duduk di lantai kontrakannya sambil menahan pergelanganku dan sama sekali tidak mengerti apa yang lucu.


Aku pulang jam sebelas lewat.

Adikku sudah tidur di sofa dengan TV menyala, seperti selalu.

Aku menyelimutinya, seperti selalu.

Dan aku duduk di lantai di samping sofa itu untuk waktu yang lama, memandangi wajah adikku, dengan setengah lembar kertas sobekan buku stok masih menyembul dari saku belakang celananya.

Pasal 11.

Aku menutup mata dan menyandarkan kepala ke sofa.

Aku tahu apa yang harus aku lakukan besok.

Aku cuma belum tahu bagaimana caranya.