Chapter Nine

Jangan Korbankan Hidupmu

POV: Anjani

Aku tahu soal Surabaya dari dua orang yang seharusnya tidak memberitahuku apa-apa.

Yang pertama, tentu saja, Nisa.

nisaadinegara_: Kak, aku mau info lagi
nisaadinegara_: tapi kali ini serius, bukan lucu-lucuan
nisaadinegara_: Mas Bagas ditawarin pindah ke Surabaya 3 bulan. Buka cabang baru. Kata Ibu itu promosi, Kak. Jadi kepala wilayah
nisaadinegara_: Mas Bagas nolak
nisaadinegara_: Ibu nanya kenapa, Mas Bagas cuma bilang “nggak dulu, Bu”
nisaadinegara_: Kak, aku nggak bilang ini gara-gara Kakak ya
nisaadinegara_: tapi aku juga nggak bilang ini bukan gara-gara Kakak

Yang kedua adalah seorang laki-laki bernama Tomi, yang datang ke studioku hari Selasa siang dengan alasan membeli bunga untuk “mantan istri yang kedua, ulang tahunnya besok”.

Ia bertubuh gempal, berkumis tipis, memakai seragam polo berlogo yang sama dengan seragam yang pernah kulihat di jok belakang mobil Bagas. Ia memilih bunga dengan cepat, setangkai mawar merah, dan saat aku membungkusnya, ia bersandar ke meja kerja dan berkata dengan suara yang sangat santai, terlalu santai:

“Mbak ini yang namanya Mbak Anjani, ya?”

Aku berhenti membungkus.

“Saya Tomi. Kepala gudang. Anak buahnya Pak Bagas.” Ia tersenyum lebar. “Saya cuma mau lihat aja, Mbak. Orang yang bikin bos saya nolak jadi kepala wilayah.”

Aku menyelesaikan bungkusan mawar itu dengan pita, pelan-pelan, sambil berpikir.

“Mas Tomi,” kataku. “Mawar merah buat mantan istri itu kurang pas.”

“Oh ya?”

“Kesannya Mas masih berharap.”

Tomi menatap mawar itu, lalu menatapku. “Saya memang masih berharap, Mbak.”

Aku tertawa, dan Tomi ikut tertawa, dan selama satu menit kami saling memahami sebagai dua orang dewasa yang sama-sama pernah gagal dalam urusan cinta.

Lalu Tomi berhenti tertawa.

“Mbak,” katanya, lebih pelan. “Saya sembilan tahun kerja sama Pak Bagas. Belum pernah lihat dia nolak tanggung jawab. Sekali pun. Kerjaan orang lain aja dia ambil. Forklift mogok jam dua pagi, dia yang datang. Supir sakit, dia yang nyetir.” Tomi mengusap kumisnya. “Kemarin dia nolak promosi. Alasannya cuma saya nggak bisa pergi sekarang.”

Ia mengambil mawar merahnya dan membayar.

“Saya bukan mau ikut campur, Mbak,” katanya di ambang pintu. “Saya cuma takut. Orang yang selalu ngasih, kalau sekali berhenti ngasih ke dirinya sendiri, biasanya nggak bakal mulai lagi.”


Aku menelepon Bagas jam empat sore.

Ini pertama kalinya aku meneleponnya. Selama dua minggu terakhir kami hanya berkirim pesan. Setiap pagi jam enam ada pesan darinya, Selamat pagi. Sudah sarapan?, dan setiap malam jam sembilan, Selamat malam. Jangan tidur terlalu malam. Di antaranya, foto bekal yang ia masak, foto kucing liar di gudang, foto langit Cibinong yang menurutnya “warnanya kayak bunga yang kemarin itu, yang ungu, saya lupa namanya”. Lavender. Aku sudah memberitahunya tiga kali.

Ia mengangkat di dering pertama.

“Anjani?” Suaranya terdengar panik. “Kenapa? Ada apa?”

“Nggak ada apa-apa, Mas.”

“Mbak, eh, kamu ... Anjani nggak pernah nelepon.”

Aku memejamkan mata. Ia masih belum terbiasa memanggil namaku. Setiap kali ia mengucapkannya, ada jeda kecil sebelumnya, seperti orang yang mau melangkah ke air dingin.

“Mas bisa ke studio sebelum pulang?”

“Bisa. Jam berapa?”

“Sebelum jam tujuh.”

Hening sebentar. Lalu: “Saya ke sana jam lima.”


Ia datang jam lima kurang lima. Tentu saja.

Aku sudah menutup studio. Tanda di pintu sudah kubalik menjadi Tutup. Radio sudah kumatikan. Aku duduk di kursi kayu di belakang meja kerja, dan aku menyiapkan dua cangkir teh melati, dan aku tidak tahu harus mulai dari mana.

Ia masuk, melihat dua cangkir itu, melihat wajahku, dan berhenti di ambang pintu.

“Saya salah apa?” tanyanya langsung.

“Duduk dulu, Mas.”

Ia duduk di bangku plastik di depan meja. Punggungnya tegak. Tangannya di lutut. Seperti murid yang dipanggil ke ruang BK.

Aku mendorong cangkir teh ke arahnya. Ia tidak menyentuhnya.

“Surabaya,” kataku.

Wajahnya berubah. Kuping dulu, lalu leher. Tapi kali ini bukan merah karena malu. Merah karena tertangkap basah.

“Nisa,” katanya.

“Sama Tomi.”

“Tomi?” Ia hampir berdiri. “Tomi ke sini?”

“Beli mawar merah buat mantan istrinya yang kedua.”

Bagas menutup wajahnya dengan dua tangan. “Saya pecat dia besok.”

“Jangan. Dia baik.” Aku menunggu sampai ia menurunkan tangannya. “Mas. Kenapa ditolak?”

Ia tidak langsung menjawab. Ia menatap cangkir tehnya. Lalu ia mengambil cangkir itu, akhirnya, dan memutarnya pelan di atas tatakan.

“Tiga bulan itu lama,” katanya.

“Tiga bulan itu sebentar, Mas.”

“Ayah harus kontrol gula darah tiap bulan. Saya yang antar.”

“Nisa bisa antar.”

“Atap belakang masih ...”

“Mas.” Aku meletakkan cangkirku. “Itu bukan alasan Mas. Itu alasan yang Mas pakai supaya alasan yang sebenarnya nggak kelihatan.”

Ia diam.

Aku menunggu. Aku sudah belajar menunggu. Dua tahun lebih aku menunggu kabar yang tidak pernah datang, dan menunggu laki-laki di depanku ini menemukan kata-katanya jauh lebih mudah dari itu.

“Saya baru ketemu kamu,” katanya akhirnya, sangat pelan, ke cangkir tehnya. “Tiga minggu. Saya baru belajar masak. Baru tahu krisan putih itu bunga duka. Baru tahu teh melati nggak boleh pakai gula.” Ia menelan ludah. “Kalau saya pergi tiga bulan, nanti ... nanti saya pulang, terus semuanya sudah beda. Terus saya harus mulai dari nol. Atau lebih buruk lagi, saya nggak bisa mulai lagi sama sekali.”

Ia mengangkat matanya dan menatapku. Matanya jujur dan takut, seperti anak kecil yang mengakui sudah memecahkan vas bunga.

“Saya nggak mau kehilangan sesuatu yang baru saya temukan,” katanya.


Dadaku sesak.

Bukan karena kalimatnya romantis. Kalimat itu memang romantis, dengan caranya sendiri, tapi bukan itu yang membuat dadaku sesak.

Yang membuat dadaku sesak adalah karena aku pernah berada di posisi sebaliknya.

Dulu, aku yang memohon. Aku yang berdiri di bandara, memegangi lengan kemeja seorang laki-laki, dan bilang jangan pergi, tolong, jangan pergi. Dan laki-laki itu memelukku dan bilang ini panggilan, Jan, ada orang yang butuh aku di sana, dan ia pergi, dan aku tidak pernah melihatnya lagi.

Laki-laki itu memilih dunia. Ia tidak pernah mengecilkan hidupnya untukku, sedikit pun.

Dan sekarang, di depanku, duduk seorang laki-laki yang melakukan hal sebaliknya. Ia mengecilkan hidupnya. Ia menolak dunia yang sedang membukakan pintu untuknya, demi sesuatu yang baru tiga minggu, demi seorang perempuan yang bahkan belum ia genggam tangannya.

Aku seharusnya tersanjung. Sebagian diriku memang tersanjung.

Tapi sebagian yang lain, bagian yang sudah pernah hancur dan tahu persis bagaimana rasanya, bagian itu ketakutan.

“Mas,” kataku. “Dengar saya baik-baik.”

Ia mengangguk.

“Saya nggak mau jadi alasan Mas berhenti tumbuh.”

“Bukan begitu ...”

“Dengar dulu.” Aku mencondongkan badan ke depan, menyandarkan siku di meja. “Saya pernah menikah dengan laki-laki yang nggak pernah mau mengecilkan hidupnya buat saya. Sedikit pun. Dan itu menyakitkan, Mas. Sangat. Tapi tahu apa yang lebih menakutkan buat saya?”

Ia menggeleng.

“Laki-laki yang mengecilkan seluruh hidupnya buat saya.” Aku menatap matanya. “Karena suatu hari, Mas bakal bangun dan sadar Mas sudah nggak punya apa-apa lagi selain saya. Dan Mas bakal benci saya karena itu. Mungkin nggak hari ini. Mungkin bukan tahun depan. Tapi suatu hari.”

“Saya nggak akan benci kamu.”

“Mas nggak tahu itu.”

“Saya tahu.”

“Mas,” kataku, lebih lembut. “Mas sudah menghabiskan sembilan tahun pulang jam tujuh demi keluarga Mas. Itu indah. Saya serius, itu indah. Tapi Mas sadar nggak, selama sembilan tahun itu, Mas nggak pernah sekali pun memilih sesuatu buat diri Mas sendiri?”

Ia membuka mulut. Lalu menutupnya.

“Saya nggak mau jadi satu hal lagi yang Mas korbankan diri Mas buat,” kataku. “Saya mau jadi sesuatu yang Mas pilih. Itu beda.”


Hening lama. Di luar, Pak Kumis sedang menutup warungnya. Suara rolling door seng berderit turun.

“Jadi saya harus ke Surabaya?” tanya Bagas akhirnya.

“Saya nggak bilang Mas harus.”

“Terus?”

“Saya bilang, jangan jadikan saya alasannya.” Aku tersenyum sedikit. “Kalau Mas nggak mau ke Surabaya karena memang nggak mau, itu hak Mas. Tapi kalau Mas nggak mau karena takut kehilangan saya ...” Aku mengangkat bahu. “Mas meremehkan saya.”

Ia mengerutkan kening. “Meremehkan?”

“Mas kira saya bakal hilang dalam tiga bulan?” Aku menyandarkan dagu di atas kepalan tangan dan menatapnya. “Mas kira saya perempuan yang gampang lupa? Mas kira ada laki-laki lain di Bogor yang bakal bawa krisan putih ke studio saya dan bikin saya ketawa sampai jatuh dari kursi?”

Kupingnya mulai merah. Akhirnya.

“Saya sudah pernah menunggu laki-laki yang nggak pernah pulang, Mas,” kataku pelan. “Menunggu laki-laki yang pasti pulang itu gampang.”


Ia tidak menerima tiga bulan.

Laki-laki itu orang logistik. Ia bernegosiasi. Besok paginya, ia masuk ke ruangan direktur regional dan keluar dengan kesepakatan baru: dua minggu di Surabaya untuk menyiapkan sistem cabang baru, melatih kepala gudang di sana, lalu kembali ke Bogor. Promosinya tetap berjalan. Ia akan mengawasi cabang Surabaya dari jauh, dengan kunjungan sebulan sekali.

Ia meneleponku dari parkiran kantor, terengah-engah, seperti baru berlari.

“Dua minggu,” katanya. “Saya dapat dua minggu.”

“Mas negosiasi?”

“Saya bilang, saya bisa bikin sistem yang jalan sendiri dalam dua minggu. Kalau nggak bisa, saya balik lagi ke sana sampai bisa.” Ia menarik napas. “Direktur bilang saya gila. Terus dia setuju.”

Aku tertawa. Aku berdiri di tengah studio dengan ponsel di telinga dan tertawa, dan aku tidak tahu kenapa mataku panas.

“Anjani?”

“Hm?”

“Ini saya pilih sendiri,” katanya. “Bukan karena kamu. Bukan juga bukan karena kamu. Saya cuma ... saya pilih.”

“Saya tahu, Mas.”

“Tapi ada satu masalah.”

“Apa?”

Hening. Lalu, dengan suara orang yang mengaku dosa besar: “Selama dua minggu, saya nggak bisa pulang jam tujuh.”

Aku berhenti tertawa.

Sembilan tahun. Ia tidak pernah melewatkan makan malam jam tujuh selama sembilan tahun. Dan sekarang, karena aku menyuruhnya memilih sesuatu untuk dirinya sendiri, ia akan melewatkannya empat belas kali berturut-turut.

“Mas,” kataku pelan. “Biar saya yang urus.”


Ia berangkat hari Minggu.

Hari Minggu itu juga, jam tujuh kurang sepuluh menit, aku berdiri di depan pagar rumah keluarga Adinegara dengan sebuket bunga di tangan.

Bukan krisan. Bukan mawar. Bunga matahari, enam tangkai, besar-besar, kuning terang, diikat dengan pita hijau.

Tante Ratih yang membuka pagar. Ia menatapku, menatap bunga itu, lalu menutup mulut dengan kedua tangannya.

“Anjani?”

“Selamat malam, Tante.” Aku menyerahkan bunga itu. “Mas Bagas titip. Katanya buat ditaruh di kursinya. Biar kursinya nggak kosong.”

Itu tidak sepenuhnya benar. Bagas tidak menitip apa-apa. Ini ideku. Tapi waktu aku meneleponnya dan menjelaskan rencanaku, ia diam lama sekali, lalu berkata dengan suara serak, iya. Iya, saya titip.

Tante Ratih memeluk bunga-bunga itu. Lalu ia memelukku, bunga dan semuanya, dan aku mencium bau dapur dari daster-nya: bawang goreng, kecap, dan semur jengkol.

“Masuk, Nak,” katanya ke bahuku. “Masuk. Makan dulu.”

Aku tidak berencana makan. Tapi aku masuk.

Malam itu, di meja makan keluarga Adinegara, di kursi sebelah kiri Om Darmawan, ada enam tangkai bunga matahari di dalam vas kaca. Dan di sebelahnya, di layar ponsel yang disandarkan ke stoples kerupuk, ada wajah Bagas dari sebuah kamar hotel di Surabaya, yang menatap meja makan rumahnya dengan mata merah.

“Mas nangis,” kata Nisa.

“Nggak.”

“Mas nangis.”

“Kamera hotelnya jelek.”

Kiki, yang duduk di pangkuan Reza, menunjuk ponsel itu dengan sendok. “Om Jomblo di dalam HP!”

Lalu ia menunjukku. “Tante Bunga!”

Semua orang tertawa. Kecuali Bagas, di layar, yang menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca, dan Om Darmawan, yang menurunkan kacamatanya.


Setiap malam selama dua minggu itu, jam tujuh, Bagas melakukan panggilan video ke meja makan keluarganya.

Setiap malam jam sembilan, ia meneleponku.

Kami berbicara tentang hal-hal kecil. Gudang di Surabaya yang atapnya bocor. Kepala gudang baru di sana yang bernama Pak Slamet dan selalu minta izin ke kamar mandi setiap kali ditanya soal stok. Soto Lamongan di dekat hotel yang menurutnya “terlalu enak, saya khawatir”. Aku bercerita tentang pesanan bunga pernikahan, tentang Pak Kumis yang selalu bertanya “Aa-na ke mana, Neng?”, tentang Mama yang sekarang mengirimiku foto-foto kue buatan Tante Ratih setiap hari.

Kadang kami tidak berbicara apa-apa. Ia mengerjakan laporan di laptopnya dan aku merangkai bunga di meja kerja, dan ponsel kami tersandar di depan masing-masing, dan kami hanya mendengar suara satu sama lain bekerja. Suara keyboard di Surabaya. Suara gunting di Bogor.

“Makan dulu, Mas,” kataku setiap malam. “Saya tungguin.”

Dan setiap malam, sepuluh menit kemudian, ponselku bergetar dengan sebuah foto: piring kosong di atas meja hotel. Kadang piring nasi padang. Kadang mangkuk soto. Sekali, piring kertas bekas martabak.

“Lulus?” tanyanya.

“Lulus.”


Di malam kesembilan, aku lupa.

Aku baru selesai mandi waktu ponselku berdering, jam sembilan tepat. Rambutku masih basah. Handuk masih melingkar di leher. Aku memakai kaus longgar dan celana tidur bergambar awan, karena tidak ada orang yang akan melihatnya.

Aku mengangkat panggilan video itu tanpa berpikir.

Wajah Bagas muncul di layar. Ia sedang duduk di meja kerja hotel, dengan kemeja yang lengannya digulung dan kacamata baca yang belum pernah kulihat ia pakai sebelumnya. Ia mulai bicara.

“Anjani, tadi Pak Slamet ...”

Lalu ia berhenti.

Ia menatap layar. Ia menatap rambutku yang basah, tetesan air yang turun dari ujung rambut ke leher, handuk putih yang melingkar di bahu. Mulutnya masih setengah terbuka, berhenti di tengah kata Slamet.

Aku seharusnya menutup kamera. Perempuan baik-baik akan menutup kamera. Perempuan baik-baik akan bilang sebentar, Mas, lalu berganti baju dan mengeringkan rambut dulu.

Aku tidak menutup kamera.

Aku justru duduk di tepi tempat tidur, menyandarkan ponsel ke bantal, dan mengambil ujung handuk untuk mengeringkan rambutku pelan-pelan, sambil menatap kamera.

“Kenapa diam, Mas?” tanyaku.

Ia tidak menjawab. Kacamatanya melorot sedikit di hidung.

“Belum pernah lihat perempuan habis mandi?”

Ia membuka mulut. Ia menutupnya.

Lalu layar ponselku membeku, dan gambarnya menjadi kotak-kotak, dan suaranya terputus-putus: “Anjani ... sinyal ... hotel ... jelek ... nanti saya ... telepon ... lagi ...”

Panggilan terputus.

Aku menatap layar ponsel yang kembali ke beranda. Lalu aku menatap ikon sinyal di pojok atas layarku. Penuh. Aku membuka WhatsApp. Status Bagas: online.

Aku tertawa sampai harus berbaring di tempat tidur dengan handuk menutupi wajah.

Lima menit kemudian, ia menelepon lagi. Kali ini bukan panggilan video. Panggilan suara biasa.

“Sinyalnya sudah bagus?” tanyaku.

“Sudah.”

“Kenapa nggak video?”

Hening yang sangat panjang. Lalu, dengan suara seperti orang yang sedang menahan napas:

“Rambut kamu sudah kering?”

“Belum.”

“Nanti saja videonya.”


Malam kesepuluh, kesebelas, keduabelas. Aku selalu mengeringkan rambut dulu sebelum jam sembilan. Ia selalu mengecek dulu: rambut sudah kering? Lalu baru menelepon. Itu menjadi lelucon kecil di antara kami, lelucon yang tidak pernah kami ucapkan dengan keras.

Tapi ada sesuatu yang lain, yang tidak lucu, yang mulai tumbuh di malam-malam itu.

Aku mulai menunggu jam sembilan.

Aku mulai menyelesaikan pekerjaan lebih cepat supaya jam sembilan aku sudah di rumah. Aku mulai melirik jam di studio, seperti dia, setiap dua puluh menit. Aku mulai merasakan sesuatu yang aneh setiap pagi jam enam, tepat sebelum pesannya masuk: semacam napas yang ditahan.

Dan di sore hari, waktu aku melewati jendela studio dan melihat warung bakso Pak Kumis, dan bangku plastik kosong di depannya, dan trotoar tempat mobil sedan abu-abu itu biasa diparkir, aku merasakan sesuatu yang belum kurasakan selama lebih dari dua tahun.

Ada yang kurang.

Ruang di sebelahku yang tadinya biasa saja, sekarang terasa kosong.

Malam ketiga belas, ia bilang akan pulang hari Rabu.

“Rabu sore,” katanya. “Kalau penerbangannya nggak telat, saya sampai Bogor jam lima.”

“Langsung pulang ke rumah. Jam tujuh.”

“Iya.”

“Jangan mampir ke gudang.”

Hening.

“Mas.”

“Iya, iya. Saya langsung pulang.”

Aku tidak percaya padanya. Laki-laki itu sudah sembilan tahun tidak bisa menolak forklift yang mogok.

Tapi aku tidak bilang apa-apa. Aku hanya berbaring di tempat tidur dengan ponsel di telinga dan mendengarkan suara napasnya di Surabaya, dan menghitung, dalam hati, berapa jam lagi sampai Rabu.

Aku tidak pernah menghitung jam untuk Fikri. Fikri selalu bilang nanti, dan nanti tidak bisa dihitung.

Untuk laki-laki ini, aku tahu persis. Empat puluh satu jam.