Chapter Twenty Nine

Kiriman Tanpa Nama

POV: Anjani

Aku tinggal di Depok selama sembilan hari.

Bukan karena ada yang memintaku. Tidak ada yang meminta. Bu Aminah bahkan menyuruhku pulang, di malam pertama, dengan suara lelah: pulang, Nak, kamu sudah capek, Ibu nggak apa-apa. Tapi Bu Aminah mengatakannya sambil duduk di tepi ranjang di kamar Fikri yang lama, memeluk jaket relawan oranye yang dulu ia simpan di lemari, dan tidak melepaskannya sampai subuh.

Jadi aku tidak pulang.

Aku tidur di kamar itu juga. Di kasur lipat di lantai, di sebelah ranjang Bu Aminah. Seperti dulu ia tidur di lantai kamarku selama dua minggu, waktu kabar pertama datang.

Malam pertama kami tidak bicara. Malam kedua, Bu Aminah mulai bercerita. Tentang Fikri kecil yang takut gelap dan selalu tidur dengan lampu menyala sampai kelas enam SD. Tentang Fikri SMA yang menolong kucing tertabrak motor dan membawanya ke dokter hewan dengan uang jajan seminggu. Tentang Fikri kuliah yang pulang setiap Jumat malam membawa cucian kotor satu ransel penuh dan cerita tentang pasien-pasien yang ia temui di rumah sakit pendidikan.

“Anak itu,” kata Bu Aminah, menatap langit-langit kamar, “dari kecil sudah nggak bisa diam. Ibu kira, kalau dia nikah, dia bakal tenang.” Ia tersenyum. “Ternyata kamu yang harus belajar nggak tenang.”

“Saya nggak keberatan, Bu.”

“Ibu tahu.” Bu Aminah menoleh ke arahku di kasur lipat. “Ibu tahu kamu nggak keberatan. Makanya Ibu takut kehilangan kamu. Perempuan yang nggak keberatan nungguin anak Ibu yang nggak bisa diam. Ibu kira nggak bakal ada lagi.”

Aku tidak menjawab.

“Tapi dia nulis, ya,” kata Bu Aminah pelan. “Di buku itu. Kamu disuruh nyari yang lain.”

Aku menatapnya. Aku belum menunjukkan halaman terakhir buku catatan itu kepada Bu Aminah. Buku itu masih di tasku. Aku tidak tahu kapan saat yang tepat.

“Hanif cerita,” kata Bu Aminah, menjawab pertanyaan yang tidak kuucapkan. “Waktu kamu keluar ke lorong. Dia bilang, Mas Fikri nulis lama banget, Bu. Waktu saya tanya buat siapa, dia bilang, buat Jan, biar dia nggak nunggu.”

Bu Aminah menutup matanya.

“Belum, Nak,” katanya. “Ibu belum siap baca. Nanti.”


Hari ketiga, kiriman pertama datang.

Jam sebelas siang, seorang tukang ojek berhenti di depan pagar rumah keluarga Ramadhan. Ia memakai helm hijau, jaket hijau, masker hitam, dan kacamata hitam besar yang tidak wajar untuk siang yang mendung. Ia menyerahkan kantong plastik besar kepada Fadhil di pagar, menolak waktu Fadhil mau membayar, lalu buru-buru pergi tanpa sepatah kata pun.

Di dalam kantong itu, rantang tiga susun. Nasi. Sayur asem. Ayam goreng kecap.

Tidak ada nama pengirim. Tidak ada catatan.

Bu Aminah menatap rantang itu dengan bingung. Pak Zainal menatapnya dengan curiga. Fadhil membuka susun ketiga, mencium baunya, lalu mengambil sepotong ayam goreng kecap dan membalikkannya.

Bagian bawahnya hitam.

Tidak hitam total. Hanya di pinggir. Hitam yang sudah sangat kukenal.

Fadhil menatap ayam itu. Lalu menatapku. Lalu tersenyum, senyum pertama yang kulihat di wajahnya sejak di bandara.

“Mbak,” katanya. “Karamelisasi.”

Aku tidak bisa menahan tawa. Itu tawa pertamaku sejak di bandara juga.


Hari keempat, kiriman kedua. Tukang ojek yang sama. Helm hijau, jaket hijau, masker hitam, kacamata hitam. Rantang yang sama. Nasi, sop buntut, perkedel kentang. Perkedelnya gosong di satu sisi.

Hari kelima, kiriman ketiga. Nasi, rendang, sayur nangka. Rendangnya, untuk pertama kalinya, tidak gosong sama sekali. Tapi terlalu asin.

Pak Zainal mencicipi rendang itu, mengunyah lama, lalu berkata dengan wajah serius seorang pensiunan guru matematika: “Kemarin gosong. Hari ini asin. Ada kemajuan. Tapi grafiknya belum stabil.”

Bu Aminah tertawa. Untuk pertama kalinya sejak di bandara.

Hari keenam, waktu tukang ojek itu datang lagi, Fadhil sudah menunggu di pagar. Ia tidak mengambil kantong plastik dari tangan tukang ojek itu. Ia berdiri di depan motor, melipat tangan di dada, dan berkata dengan suara yang sangat sopan:

“Mas Reza, buka helmnya.”

Tukang ojek itu membeku.

“Saya kenal motornya, Mas. Itu motornya Mbak Nisa. Ada stiker Hello Kitty di spatbor belakang.”

Tukang ojek itu menunduk melihat spatbor belakang motornya. Lalu, sangat pelan, seperti orang yang menyerahkan diri di kantor polisi, ia membuka helm hijaunya. Lalu masker hitamnya. Lalu kacamata hitamnya.

Reza. Suami Nisa. Dengan wajah merah dan rambut yang lepek karena keringat di bawah helm.

“Maaf, Dhil,” katanya. “Disuruh.”

“Disuruh siapa?”

Reza tidak menjawab. Ia hanya menyerahkan kantong plastik itu, lalu, karena kebohongannya sudah terbongkar, ia menambahkan dengan suara pelan:

“Masmu ... Mas Bagas ... bangun jam empat pagi tiap hari, Dhil. Masak. Dibantuin Ibu. Terus dititip ke aku jam sembilan. Aku yang nganter. Dia bilang jangan bilang siapa-siapa. Dia bilang keluarga kalian lagi berduka, dia nggak mau ganggu, dia cuma mau kalian makan.”

Fadhil menatap kantong plastik di tangannya.

“Kenapa nggak dia sendiri yang nganter?”

Reza mengangkat bahu, lalu menatap ke arah rumah, ke jendela ruang tamu tempat aku dan Bu Aminah berdiri dan menonton semuanya.

“Katanya,” kata Reza, “dia belum diundang.”


Malam itu, setelah semua orang tidur, aku duduk di teras rumah keluarga Ramadhan dengan ponsel di tangan.

Di halaman, di bawah pohon mangga, seekor ayam betina besar berbulu cokelat keemasan sedang bertengger di atas kandang bambu. Ia tidur dengan kepala terselip di bawah sayap. Di sekelilingnya, beberapa anak ayam tidur berdesakan.

Aku tahu ayam itu. Aku tahu namanya.

Bu Aminah yang memberitahuku, kemarin, sambil menebarkan jagung di halaman. Itu Jani, katanya. Anak ayam yang dulu dibawa Fikri dari Flores. Kamu titipin ke sini waktu pindah ke rumah kontrakan, ingat? Galak. Sudah tiga kali punya anak. Fadhil dipatuk tiap pagi.

Aku ingat. Aku sudah lupa. Selama enam bulan itu aku lupa semuanya, termasuk anak ayam yang kutitipkan di Depok karena kontrakan kami tidak punya halaman.

Ia masih hidup. Ia sudah besar. Ia galak. Ia punya anak.

P.S. Anak ayamnya masih hidup? Kalau masih, kasih makan yang bener.

Aku tertawa pelan, sendirian di teras, lalu menyeka mata.

Lalu aku membuka obrolan dengan Mas SOP.

Pesan terakhir darinya dikirim jam enam pagi tadi: Selamat pagi. Sudah sarapan? Seperti biasa. Seperti setiap pagi. Bahkan pagi setelah bandara. Bahkan pagi setelah rumah sakit. Setiap jam enam tepat, dua kalimat itu datang, dan aku membalasnya dengan satu kata, sudah, atau kadang belum, dan ia tidak pernah menambahkan apa-apa lagi.

Ia tidak menelepon. Ia tidak datang. Ia hanya mengirim dua kalimat setiap pagi dan rantang tiga susun setiap siang, lewat adik iparnya yang menyamar jadi tukang ojek.

Aku tahu kenapa. Aku tahu tanpa perlu bertanya. Laki-laki itu tidak akan masuk ke rumah duka tanpa diundang. Laki-laki itu menunggu di ujung gang, di depan minimarket, enam jam, dengan empat gelas kopi.

Laki-laki itu tidak pernah berhenti datang. Ia hanya memilih cara datang yang tidak mengganggu.

Aku mengetik.

Aku: Mas.

Dua centang biru. Langsung. Jam sebelas malam, dan ia langsung membacanya. Ia belum tidur. Mungkin ia tidak pernah tidur di jam-jam seperti ini, akhir-akhir ini.

Sedang mengetik...

Hilang.

Aku tidak menunggunya. Aku mengetik lagi.

Aku: Reza ketahuan. Stiker Hello Kitty.

Sedang mengetik... Hilang. Muncul.

Mas SOP: Saya sudah bilang ke dia, pakai motor saya.

Aku: Mas nggak punya motor.

Mas SOP: Iya. Itu masalahnya.

Aku tertawa. Sendirian. Di teras rumah keluarga Ramadhan, di bawah pohon mangga, dengan ayam bernama Jani yang tidur di atas kandang bambu.

Aku: Rendang tadi asin.

Mas SOP: Saya tahu. Ibu sudah bilang. Saya lupa garamnya sudah dimasukin.

Aku: Pak Zainal bilang grafiknya belum stabil.

Lama. Tiga titik muncul dan hilang berkali-kali.

Mas SOP: Pak Zainal makan?

Aku menatap pertanyaan itu. Bukan kamu makan? Bukan Bu Aminah suka? Tapi Pak Zainal makan?

Laki-laki itu memasak setiap pagi jam empat untuk keluarga yang sedang berduka atas suami perempuan yang ia cintai. Dan yang ia khawatirkan adalah apakah seorang pensiunan guru matematika yang baru kehilangan anaknya untuk kedua kalinya mau makan.

Aku: Makan, Mas. Habis. Nambah dua kali.

Mas SOP: Alhamdulillah.

Lalu sunyi lama. Lalu, satu pesan lagi:

Mas SOP: Kamu?

Aku memeluk lutut. Di halaman, Jani si ayam menggeliat dalam tidurnya.

Aku mengetik pelan.

Aku: Besok apinya dikecilin, Mas.

Aku: Tapi jangan berhenti.

Aku berhenti. Jempolku menggantung di atas layar. Lalu aku mengetik satu baris lagi, dan aku tidak menghapusnya.

Aku: Saya suka dimasakin Mas.

Dua centang biru.

Tidak ada sedang mengetik. Tidak ada balasan. Lama sekali.

Aku hampir meletakkan ponsel ketika layarnya menyala lagi.

Bukan pesan. Foto.

Foto dapur keluarga Adinegara di malam hari. Lampu kuning di atas kompor. Sebuah wajan di atas api yang kecil, sangat kecil, hampir padam. Di dalam wajan, ayam goreng kecap yang sedang dimasak pelan-pelan. Di samping kompor, sebuah sendok kayu, sebotol kecap, dan secarik kertas HVS yang ditempel di dinding dengan selotip.

Aku memperbesar foto itu untuk membaca tulisan di kertas.

Tulisan tangan yang rapi dan kaku. Spidol hitam.

API KECIL. JANGAN DITINGGAL. JANGAN BUKA HP.

Di bawahnya, lebih kecil, dengan pulpen biru, seperti ditambahkan belakangan:

(Kecuali dia yang chat.)

Aku menutup mulut dengan tangan dan menatap foto itu sampai layar ponselku mati sendiri.


Hari ketujuh, kiriman datang lagi. Kali ini bukan Reza. Kali ini Nisa sendiri, dengan helm yang sama dan kacamata hitam yang sama, dan Fadhil langsung mengenalinya dari buku kucing yang mencuat dari saku jaketnya.

Isinya: nasi, sayur bening bayam, telur dadar, dan ayam goreng kecap.

Ayamnya tidak gosong. Sedikit pun. Cokelat keemasan, mengilap, sempurna.

Pak Zainal mencicipinya, mengunyah lama, lalu meletakkan sendoknya dan menatap Bu Aminah.

“Grafiknya,” kata Pak Zainal, “sudah stabil.”


Hari kedelapan, Bu Aminah memanggilku ke kamar Fikri.

Ia duduk di tepi ranjang dengan buku catatan kecil itu di pangkuannya. Aku tidak tahu kapan ia mengambilnya dari tasku. Mungkin pagi tadi, waktu aku mandi. Buku itu terbuka. Di halaman terakhir.

Matanya merah. Tapi ia tidak menangis.

“Duduk, Nak,” katanya.

Aku duduk di sebelahnya.

Ia menatap halaman itu lama. Jarinya menyentuh tulisan tangan anaknya, pelan, huruf demi huruf, seperti Bagas membersihkan huruf-huruf di nisan.

“Yang bisa duduk diam setengah jam main catur sama Bapak tanpa gelisah,” baca Bu Aminah pelan. Ia tersenyum. “Anak itu. Masih sempat ngeledek bapakmu.”

“Iya, Bu.”

“Yang pulang sebelum supnya dingin.” Bu Aminah menghela napas. “Ibu nggak pernah bilang, Nak. Tapi dulu, waktu kalian masih tinggal di kontrakan di Jakarta, Ibu sering datang bawa makanan. Ibu sering lihat kamu nungguin dia di meja makan. Supnya dipanasin tiga kali.” Ia menggeleng. “Ibu lihat. Ibu tahu. Ibu diam aja.”

Aku tidak menjawab. Aku menggenggam tangannya.

Bu Aminah menutup buku itu. Ia meletakkannya di pangkuanku. Lalu ia menatapku dengan mata yang merah dan lelah dan, entah kenapa, lebih tenang dari yang pernah kulihat selama dua tahun lebih.

“Nak,” katanya. “Laki-laki yang masak tiap pagi itu.”

“Iya, Bu.”

“Suruh dia datang,” kata Bu Aminah. “Ibu yang undang.”