Chapter Nineteen
Masih Tameng?
POV: Bagas
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, aku duduk di meja makan jam tujuh dan tidak makan.
Aku menyendokkan nasi untuk Ayah. Untuk Ibu. Untuk diriku sendiri. Aku mengambil sayur dan lauk. Aku memegang sendok. Aku menatap piring itu: nasi putih, sayur sop, tempe goreng, sambal terasi. Semuanya ada. Semuanya rapi.
Aku tidak bisa menyuap.
Ibu memperhatikanku sejak aku masuk. Ibu tidak bertanya apa-apa waktu aku melepas sepatu. Tidak bertanya waktu aku menggantung kunci mobil. Tidak bertanya waktu aku duduk. Tapi aku tahu Ibu memperhatikan, karena Ibu tidak menyentuh makanannya juga.
Ayah makan. Ayah makan pelan, seperti biasa, satu suap demi satu suap. Tapi kacamatanya tidak turun sekali pun. Itu artinya Ayah tidak sedang tertawa dalam hati.
Lima belas menit berlalu. Piringku masih penuh.
“Gas,” kata Ibu akhirnya, sangat pelan. “Makan.”
“Iya, Bu.”
Aku tidak makan.
“Gas.”
Aku meletakkan sendok di piring. Aku menatap Ibu. Ibu menatapku balik, dan aku melihat sesuatu di matanya yang membuatku tahu bahwa Ibu sudah tahu. Ibu tahu apa yang terjadi hari ini. Mungkin dari grup itu. Mungkin dari Nisa. Mungkin dari Bu Sri. Mungkin Ibu hanya tahu, seperti ibu-ibu selalu tahu, dari cara anaknya duduk.
“Bu,” kataku. “Ibu tahu dari awal?”
Ibu tidak menjawab. Tapi matanya berkaca-kaca, dan itu jawaban.
Ayah meletakkan sendoknya.
Bu Sri datang jam delapan lewat sepuluh. Pak Hendra yang menyetir. Ibu yang menelepon mereka, dari dapur, dengan suara rendah yang tidak bisa kudengar. Aku tidak memintanya. Aku duduk di ruang tamu dengan tangan di lutut, menunggu, seperti dulu waktu SMA menunggu dipanggil ke ruang kepala sekolah karena ketahuan memanjat pagar.
Bu Sri masuk dengan wajah yang sudah basah sebelum ia sampai di sofa.
Pak Hendra masuk di belakangnya, pelan, dan duduk di kursi santai Ayah tanpa diminta. Ayah tidak keberatan. Ayah duduk di kursi makan yang ia tarik dari ruang makan, di pojok, seperti hakim yang memutuskan untuk tidak ikut sidang.
Ibu dan Bu Sri duduk berdampingan di sofa panjang. Di depanku.
Tidak ada yang bicara.
Lalu Bu Sri mulai menangis. Bukan menangis pelan. Menangis dengan suara, dengan bahu yang naik turun, dengan tangan yang menutupi wajah. Ibu memeluk bahunya. Lalu Ibu juga mulai menangis.
Dua perempuan berusia hampir enam puluh tahun, sahabat sejak SMA, duduk berpelukan di sofa ruang tamuku sambil menangis seperti dua anak SD yang ketahuan memecahkan kaca jendela kelas.
Aku tidak tahu harus berbuat apa.
“Tante,” kataku. “Bu. Jangan nangis.”
“Maafin Tante, Gas,” kata Bu Sri di sela tangisnya. “Maafin Tante. Ini semua ide Tante. Ibumu cuma ikut. Ibumu nggak salah.”
“Aku salah, Sri,” kata Ibu. “Aku setuju. Aku yang nelepon Gas suruh antar kue ke rumahmu waktu keluarga Ramadhan datang.”
“Itu ide aku, Tih.”
“Tapi aku yang setuju.”
“Aku yang nelepon kamu pertama kali.”
“Aku yang ngangkat.”
“Tih, kamu nggak bisa nggak ngangkat telepon.”
“Ya, tapi aku bisa nutup!”
Mereka saling menatap. Lalu, di tengah tangis, Bu Sri tertawa kecil, tawa yang basah dan putus asa. Ibu juga tertawa. Lalu mereka menangis lagi.
Di pojok, Ayah berdeham satu kali.
Dua perempuan itu diam.
Bu Sri yang menceritakan semuanya. Pelan, terputus-putus, kadang harus berhenti untuk menyeka hidung dengan tisu yang Ibu sodorkan.
Telepon dari Bu Aminah, ibu mertua Anjani. Rencana setelah seribu hari. Anjani yang duduk di lantai studio sampai magrib dan tidak bisa menolak. Amplop cokelat lusuh berisi foto-foto arisan yang ditemukan di kardus pindahan. Ide bodoh, ide gila, kata Bu Sri, untuk menelepon sahabat lama yang sudah dua puluh delapan tahun tidak dihubungi.
“Tante nggak tahu kamu masih bujang,” kata Bu Sri. “Tante cuma mau tanya kabar. Terus ibumu bilang kamu belum nikah. Terus ibumu bilang kamu pulang jam tujuh tiap hari. Sembilan tahun.” Bu Sri menggeleng. “Tante langsung nangis, Gas. Tante kira itu tanda dari Allah.”
“Tante bilang itu bercanda,” kataku. “Soal dijodohin dari kecil. Di ruang tamu ini. Tante bilang waktu itu bercanda.”
“Memang bercanda. Waktu itu.” Bu Sri menatapku dengan mata merah. “Tapi Tante butuh alasan, Gas. Anjani butuh nama. Supaya bisa bilang nggak ke keluarga Ramadhan tanpa nyakitin siapa-siapa. Supaya Bu Aminah nggak sedih. Supaya Fadhil nggak terpaksa.”
“Terus saya?”
Pertanyaan itu keluar lebih keras dari yang kumaksudkan. Ruang tamu mendadak sunyi.
“Terus saya, Tante,” kataku lagi, lebih pelan. “Saya gimana? Kalau saya nggak cocok, saya pulang, nggak apa-apa. Kalau saya cocok ...”
Aku berhenti. Aku tidak bisa menyelesaikan kalimat itu.
Kalau saya cocok, saya jatuh cinta. Dan saya nggak tahu bahwa saya jatuh cinta di atas sesuatu yang dibangun buat alasan lain.
Bu Sri menatapku. Lalu ia mulai menangis lagi, kali ini lebih pelan.
“Tante nggak nyangka kamu bakal sayang sama dia secepat itu, Gas,” katanya. “Tante nggak nyangka dia bakal ketawa lagi kayak gitu. Tante kira ... Tante kira kalian bakal ketemu satu kali, kamu sopan, dia sopan, selesai. Tante cuma butuh satu kali.”
Satu kali, Bu. Satu kali ketemu. Kalau nggak cocok, Ibu janji berhenti.
Aku yang bilang begitu. Di meja makan. Aku sendiri yang memasang batasnya.
Pak Hendra belum bicara sejak masuk.
Ia duduk di kursi santai Ayah dengan kedua tangan terlipat di pangkuan, menatap lantai. Waktu Bu Sri selesai bercerita, waktu tangis di sofa sudah mereda menjadi isak-isak kecil, Pak Hendra akhirnya mengangkat kepala.
“Nak Bagas,” katanya.
“Iya, Om.”
“Saya hampir cerita. Dua kali.” Ia menatapku. “Di teras rumahmu. Di atas papan catur.”
“Saya tahu, Om.”
“Saya nggak cerita karena saya pikir itu hak Anjani.” Pak Hendra menghela napas. “Tapi mungkin saya salah. Mungkin seharusnya ada orang dewasa di rumah kami yang bilang, sudah, cukup, kasih tahu dia sekarang.”
“Om nggak salah.”
“Saya ayahnya. Saya selalu salah kalau soal dia.” Pak Hendra tersenyum tipis, sedih. “Kamu marah?”
Aku memikirkan pertanyaan itu untuk kedua kalinya hari itu. Aku menunggu kemarahan datang. Aku melihat Bu Sri yang matanya bengkak, Ibu yang memeluk bahunya, Pak Hendra yang duduk dengan punggung bungkuk, Ayah di pojok dengan kacamata yang tidak turun.
Mereka semua orang baik. Mereka semua mencintai seseorang dan takut kehilangannya. Mereka semua melakukan hal yang salah untuk alasan yang benar.
Dan aku tidak bisa marah pada orang-orang seperti itu.
“Saya nggak marah, Om,” kataku. “Saya nggak marah, Tante. Saya nggak marah, Bu.”
Bu Sri menatapku dengan harapan.
“Saya cuma ...” Aku berhenti. Aku menatap tanganku. Tangan yang dua minggu lalu digenggam dengan jari-jari yang masuk satu per satu ke sela-sela jariku. Tangan Mas keringetan. Nanti juga terbiasa. “Saya cuma pengin tahu dari awal.”
Itu saja. Itu satu-satunya hal yang kuinginkan. Bukan permintaan maaf. Bukan penjelasan. Aku hanya ingin seseorang memberitahuku dari awal, supaya aku tahu di atas tanah apa aku sedang berdiri waktu aku jatuh cinta.
Ruang tamu sunyi lama.
Lalu Ayah berdiri dari kursi makannya di pojok. Ia berjalan pelan ke arahku. Ia menepuk bahuku dua kali, seperti biasa.
Lalu, untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun, Ayah tidak hanya menepuk. Ayah meninggalkan tangannya di bahuku. Diam. Hangat. Berat.
“Pergi,” kata Ayah pelan. “Tanya sendiri sama dia.”
Aku sampai di rumah keluarga Wardhani jam sembilan kurang sepuluh.
Rumah itu sepi. Lampu ruang tamu menyala. Lampu teras menyala. Bu Sri dan Pak Hendra masih di rumahku, karena Ibu memaksa mereka makan malam dulu. Aku tahu Ibu sengaja menahan mereka.
Anjani duduk di teras.
Ia duduk di kursi rotan yang biasa ia duduki setiap Selasa dan Kamis malam, ketika aku datang membawa diriku dan kami minum teh tubruk Slawi. Tapi malam ini tidak ada teh. Meja kecil di antara dua kursi rotan itu kosong. Ia memakai kaus longgar dan celana tidur, dan rambutnya diikat asal, dan di bahunya, tersampir, kemeja flanel kotak-kotak abu-abu milikku.
Ia tidak terkejut melihatku. Ia sudah tahu aku akan datang. Mungkin Bu Sri yang meneleponnya. Mungkin grup itu. Mungkin ia hanya tahu.
Aku berhenti di depan pagar. Pagar itu tidak dikunci.
Aku tidak masuk.
Kami saling menatap melalui jeruji pagar. Lampu teras menyinari wajahnya dari atas. Matanya bengkak. Ia sudah menangis. Mungkin lama.
“Mas,” katanya. Suaranya serak.
“Fadhil ke kantor saya tadi,” kataku. “Bawa rendang dari ibunya.”
Ia menutup matanya.
“Terus Tante Sri ke rumah. Sama Om. Barusan.” Aku memasukkan tanganku ke saku celana, karena tanganku mulai gemetar dan aku tidak mau ia melihatnya. “Mereka cerita semuanya. Ibu saya juga.”
Ia membuka matanya. Ia berdiri dari kursi rotan. Kemeja flanel itu hampir jatuh dari bahunya, dan ia menahannya dengan satu tangan.
“Mas, saya mau cerita,” katanya cepat. “Saya mau cerita hari Minggu. Besok. Saya sudah siapin kalimatnya. Saya ...”
“Saya tahu.”
“Saya nggak mau Mas tahu dari orang lain. Saya mau ...”
“Anjani.” Aku memotongnya. Pelan. “Saya nggak datang buat dengar penjelasan.”
Ia berhenti.
“Penjelasannya sudah saya dengar,” kataku. “Dari Fadhil. Dari Tante. Dari Ibu. Saya ngerti. Saya beneran ngerti. Kamu nggak mau nyakitin Bu Aminah. Kamu nggak mau Fadhil terpaksa. Kamu butuh nama. Saya ngerti semuanya.”
Ia menatapku. Air mata mulai turun lagi di pipinya, pelan, tanpa suara.
“Saya nggak marah,” kataku. Aku mengatakannya untuk keempat kalinya hari itu, dan untuk keempat kalinya, itu benar. “Saya nggak marah sama kamu. Saya cuma mau tanya satu hal.”
Ia menunggu.
Aku menatapnya melalui jeruji pagar. Perempuan yang tertawa sampai jatuh dari kursi karena krisan putih. Perempuan yang mengusap sudut bibirku dengan ibu jari. Perempuan yang menangis di makam suaminya karena aku meminta izin. Perempuan yang menyandarkan kepalanya di bahuku di depan minimarket di Depok, di ujung gang yang tidak boleh kumasuki.
“Sekarang,” kataku, “saya masih tameng, atau sudah bukan?”
Ia tidak langsung menjawab.
Aku melihatnya mencoba. Bibirnya bergerak. Tangannya mencengkeram kemeja flanel di bahunya sampai buku-buku jarinya memutih. Ia membuka mulut, lalu menutupnya, lalu membukanya lagi, dan yang keluar hanya napas yang tertahan, seperti orang yang tenggelam dan mencoba bicara di bawah air.
Air matanya jatuh lebih deras.
Dan aku mengerti. Aku mengerti bahwa ia tidak bisa menjawab sekarang. Bukan karena jawabannya masih. Mungkin juga bukan karena jawabannya bukan. Mungkin karena jawaban apa pun yang ia berikan sekarang, di depan pagar, dengan mata bengkak dan suara yang tidak keluar, akan terdengar seperti pembelaan. Seperti seseorang yang mengatakan apa saja untuk menghentikan rasa sakit.
Dan ia tidak mau memberiku jawaban seperti itu. Ia terlalu jujur untuk itu. Itu yang membuatku jatuh cinta padanya sejak awal. Saya janda, Mas. Saya cerita supaya nggak ada yang buang-buang waktu.
“Nggak usah dijawab sekarang,” kataku.
“Mas ...”
“Nggak usah.” Aku mencoba tersenyum. Aku tidak tahu apakah berhasil. “Kayak teh tubruk. Kata Om Hendra, ada hal-hal yang harus dibiarkan tenang dulu. Biar mengendap.”
Ia menutup mulutnya dengan tangan. Bahunya bergetar.
Aku ingin membuka pagar itu. Aku ingin masuk dan berdiri di depannya dan menyeka air matanya dengan ibu jari, seperti ia menyeka sudut bibirku. Aku ingin memeluknya, padahal aku belum pernah memeluknya, dan aku tidak tahu caranya.
Tapi aku tidak bergerak. Aku tidak berhak. Belum.
“Saya pulang dulu,” kataku.
Ia mengangguk tanpa menurunkan tangannya dari mulut.
Aku berbalik. Aku berjalan ke mobil. Aku membuka pintu.
“Mas.”
Aku berhenti. Aku menoleh.
Ia berdiri di teras, di bawah lampu, dengan kemeja flanelku tersampir di bahunya. Ia menurunkan tangannya dari mulut.
“Jangan berhenti pulang,” katanya. Suaranya hampir tidak terdengar. “Apa pun jawabannya. Jangan berhenti.”
Aku menatapnya lama.
Lalu aku masuk ke mobil dan menyetir pulang.
Di rumah, Bu Sri dan Pak Hendra sudah pulang. Ibu sedang mencuci piring yang tidak perlu dicuci. Ayah sedang membaca koran yang tidak dibaca. Mereka tidak bertanya apa-apa waktu aku masuk.
Aku masuk ke kamar. Aku duduk di tepi tempat tidur. Di belakang pintu, kemeja biru muda dengan mawar kuning kering di sakunya bergoyang pelan.
Mawar kuning. Persahabatan. Untuk sekarang.
Aku menatap kemeja itu lama.
Jam sepuluh malam, aku mengambil ponsel. Aku membuka obrolan dengan namanya. Pesan terakhir dariku dikirim jam tiga sore tadi: Saya jemput jam empat. Pesan terakhir darinya: Oke, Mas. Ditunggu dengan emotikon bunga kecil.
Aku memikirkan nasi uduk di bawah tenda. Piringnya. Piringnya masih setengah penuh waktu kami pergi. Ia tidak makan, sama seperti aku. Ia bercerita tentang pesanan bunga sambil mengaduk-aduk nasi tanpa menyuapnya, karena ia melihat wajahku dan tahu ada sesuatu yang salah.
Lalu ia pulang dan menangis sampai matanya bengkak.
Ia belum makan.
Aku tahu itu dengan kepastian yang aneh, seperti aku tahu jam tujuh akan datang setiap hari.
Aku mengetik. Aku tidak membuat draf. Aku tidak menghapus apa pun.
Aku: Udah makan?
Dua centang abu-abu. Lalu dua centang biru. Langsung. Ia sedang memegang ponselnya.
Tidak ada sedang mengetik. Tidak ada balasan.
Aku menunggu lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh menit.
Centangnya tetap biru. Tidak ada balasan.
Aku meletakkan ponsel di nakas, layar menghadap ke bawah. Aku berbaring dan menatap langit-langit.
Malam itu aku tidak tahu. Belakangan aku tahu bahwa di sebuah kamar di Bogor Barat, di atas tempat tidur dengan kemeja flanel kotak-kotak abu-abu, seorang perempuan sedang memeluk ponselnya ke dada dan menangis jauh lebih keras dari sebelumnya.
Bukan karena sedih.
Karena laki-laki yang baru saja mengetahui bahwa ia dipakai sebagai tameng, laki-laki yang tidak makan malam untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, laki-laki itu masih bertanya apakah ia sudah makan.
- 1 Jam Tujuh
- 2 Janji Arisan
- 3 Pertemuan Pertama
- 4 Tameng
- 5 Krisan Putih
- 6 Bekal Gosong
- 7 Calon Saya
- 8 Rencana Hujan
- 9 Jangan Korbankan Hidupmu
- 10 Sup Hari Kamis
- 11 Pasien Paling Bandel
- 12 Mas Lulus
- 13 Cemburu pada Orang Baik
- 14 Izin
- 15 Undangan yang Tidak Menyebut Namaku
- 16 Langkah Kuda
- 17 Persiapan Rahasia
- 18 Sekali, Umur Dua Tahun
- 19 Masih Tameng? reading
- 20 Bukan
- 21 Cincin
- 22 Mawar Kuning
- 23 Bukan yang Ditunggu
- 24 Administrasi Kepulangan
- 25 Maju Dua Langkah
- 26 Lampu Teras
- 27 Pintu Kedatangan
- 28 Catatan Terakhir
- 29 Kiriman Tanpa Nama
- 30 Krisan Putih, Kali Ini Benar
- 31 Restu
- 32 Janda Tahu Caranya
- 33 Bukan Pengganti
- 34 Proyek A, Versi Final
- 35 Malam Tanpa Jam Tujuh
- 36 Selamat Datang Pulang
- 37 Malam Pertama
- 38 Laporan Bulanan
- 39 Jam Tujuh, ke Rumah Kita
- 40 Proyek B
- 41 Epilog — Hujan