Chapter Twenty

Bukan

POV: Anjani

Aku tidak membalas pesannya.

Bukan karena aku tidak mau. Aku memegang ponsel itu sampai jam tiga pagi, membaca dua kata itu berulang-ulang, udah makan?, dengan jempol di atas papan ketik. Aku mengetik belum. Aku menghapusnya. Aku mengetik Mas, maaf. Aku menghapusnya. Aku mengetik paragraf panjang yang dimulai dengan waktu pertama kali ketemu dan berakhir dengan saya nggak tahu harus mulai dari mana, dan aku menghapus semuanya.

Laki-laki itu bertanya satu hal di depan pagar. Satu pertanyaan, dengan tangan di saku supaya aku tidak melihat tangannya gemetar. Dan ia layak mendapat jawaban yang tidak diketik di layar ponsel jam tiga pagi oleh perempuan yang matanya bengkak.

Ia layak mendapat jawaban yang diucapkan langsung. Di depan wajahnya.

Aku tertidur jam empat dengan ponsel di tangan dan kemeja flanelnya di dada.


Mama mengetuk pintu kamarku jam tujuh pagi.

Ia tidak menunggu jawaban. Ia masuk membawa nampan berisi segelas teh manis, sepiring roti bakar dengan selai srikaya, dan semangkuk bubur ayam yang ia beli dari gerobak di depan kompleks. Ia meletakkan nampan itu di nakas. Lalu ia duduk di tepi tempat tidurku, di tempat yang dulu ia duduki setiap pagi selama enam bulan itu.

Kami tidak bicara lama.

“Jani,” kata Mama akhirnya. “Mama minta maaf.”

“Mama nggak salah.”

“Mama salah.” Mama menatap tangannya. “Mama takut kamu nggak mau ketemu siapa-siapa lagi. Mama takut kamu nikah sama Fadhil karena nggak enak sama Bu Aminah, terus hidupmu habis jadi menantu yang baik di rumah orang yang sudah nggak ada. Mama takut.” Mama tersenyum, sedih. “Mama selalu takut soal kamu. Jadi Mama bikin rencana. Mama nggak mikirin dia.”

Aku tidak menjawab.

“Semalam di rumah Ratih,” lanjut Mama pelan, “dia bilang dia nggak marah. Empat kali. Tante hitung.” Mama menggeleng. “Laki-laki itu, Jan. Laki-laki itu duduk di sofa dengerin Mama nangis, dengerin semua kebodohan Mama, terus yang dia minta cuma satu. Dia cuma mau dikasih tahu dari awal.”

Mataku panas lagi. Aku tidak tahu masih ada air mata yang tersisa.

“Dia nanya kamu masih tameng atau bukan?” tanya Mama.

Aku mengangguk.

“Kamu jawab apa?”

“Nggak jawab, Ma.” Suaraku pecah. “Nggak bisa. Suaranya nggak keluar.”

Mama menatapku lama. Lalu ia mengambil mangkuk bubur ayam dari nampan dan menyodorkannya kepadaku, dengan sendok yang sudah ditancapkan di tengahnya.

“Makan dulu,” kata Mama. “Terus mandi. Terus pikirin, kamu mau jawab apa.”

“Aku sudah tahu jawabannya, Ma.”

Mama mengangkat alis.

“Aku sudah tahu dari lama,” kataku. “Aku cuma nggak tahu cara ngomongnya.”


Aku menghabiskan pagi itu memasak.

Bukan karena aku pintar memasak. Aku bisa masak, tapi tidak istimewa. Sup ayam Mama satu-satunya masakan yang benar-benar kukuasai. Tapi tanganku butuh sesuatu untuk dikerjakan, dan kepalaku butuh sesuatu selain wajah laki-laki di balik jeruji pagar, yang berkata nggak usah dijawab sekarang dengan senyum yang gagal.

Aku membuat sambal goreng ati kentang. Aku tahu dari Tante Ratih bahwa ia suka sambal goreng ati, tapi Tante Ratih jarang membuatnya karena Om Darmawan harus menjaga kolesterol. Aku menggoreng kentang sampai kering di pinggirnya. Aku menumis bumbu sampai harum. Aku memotong ati ayam kecil-kecil, seperti Mama dulu mengajarkannya waktu aku SMA.

Bapak masuk ke dapur jam sebelas, mencium bau sambal goreng, lalu berdiri di belakangku dan menatap wajan.

“Buat siapa?” tanya Bapak.

“Buat makan malam.”

“Makan malam di mana?”

Aku tidak menjawab. Bapak tidak bertanya lagi. Tapi waktu ia keluar dari dapur, ia berhenti di ambang pintu dan berkata, tanpa menoleh:

“Jam tujuh. Jangan telat.”


Aku berdiri di depan pagar rumah keluarga Adinegara jam tujuh kurang lima menit.

Aku membawa rantang tiga susun berisi sambal goreng ati kentang. Aku memakai blus putih dan rok hijau zaitun, pakaian yang sama dengan yang kupakai di kafe dekat Kebun Raya, pertama kali kami bertemu. Aku tidak merencanakannya. Aku membuka lemari dan tanganku langsung mengambilnya.

Di bahuku, tersampir, kemeja flanel kotak-kotak abu-abu.

Pagar terbuka sebelum aku sempat membunyikan bel.

Nisa yang membukanya. Ia memakai daster, rambutnya dicepol, dan ia memegang buku kucing di satu tangan dan pulpen di tangan yang lain. Ia menatapku. Ia menatap rantangku. Ia menatap kemeja flanel di bahuku.

Ia tidak menjerit. Itu yang paling mengejutkan. Ia hanya menutup buku kucingnya pelan-pelan, menyelipkan pulpennya ke cepolan rambut, lalu mundur satu langkah dan membuka pagar lebar-lebar.

“Kak,” katanya pelan. “Masuk. Mas belum makan dari kemarin.”


Ruang makan keluarga Adinegara terang dan hangat dan penuh bau semur jengkol.

Mereka sudah duduk. Om Darmawan di ujung meja, dengan sarung dan kacamata. Tante Ratih di sebelah kanannya. Reza di seberang dengan Kiki di pangkuan. Kursi Nisa kosong, karena Nisa sedang berdiri di belakangku.

Dan di kursi sebelah kiri Om Darmawan, Bagas.

Ia memakai kaus abu-abu dan celana pendek. Pakaian rumah. Rambutnya berantakan seperti belum disisir sejak bangun tidur. Ada lingkaran gelap di bawah matanya. Ia sedang memegang centong nasi, berhenti di tengah gerakan menyendokkan nasi ke piring Om Darmawan.

Ia melihatku.

Centong itu berhenti di udara. Nasi di ujungnya bergoyang, lalu sebutir jatuh ke taplak.

Tidak ada yang bicara. Bahkan Kiki diam, dengan mata bulat yang bergerak dari wajahku ke wajah omnya.

Lalu Tante Ratih berdiri. Tanpa sepatah kata pun, ia berjalan ke lemari, mengambil satu piring lagi, satu sendok, satu garpu, dan meletakkannya di meja, di sebelah kiri Bagas. Di kursi yang biasanya kosong. Kursi tempat enam tangkai bunga matahari pernah diletakkan dalam vas kaca.

Lalu Tante Ratih duduk kembali.

Aku berjalan ke meja. Aku meletakkan rantang di tengah. Aku duduk di kursi itu.

Bagas masih memegang centong. Ia masih menatapku. Kupingnya mulai merah, dan aku tidak pernah sesenang itu melihat kuping seseorang memerah.

“Mas,” kataku. “Sini centongnya.”

Ia menatapku seperti tidak mengerti bahasa yang kugunakan.

Aku mengulurkan tangan dan mengambil centong itu dari tangannya. Pelan. Jari-jarinya tidak melawan.

Lalu aku berdiri dan mulai menyendokkan nasi.

Piring Om Darmawan dulu, sedikit saja, karena gula darahnya. Lalu piring Tante Ratih. Lalu piring Reza. Lalu piring Kiki, yang kunasi sambil kupotongkan jengkol kecil-kecil supaya tidak tersedak, persis seperti yang kulihat Bagas lakukan di panggilan video dari Surabaya. Lalu piring Nisa, di kursinya yang masih kosong.

Lalu piring Bagas. Nasinya banyak. Lauknya banyak. Semur jengkol, sambal goreng ati, kerupuk. Lebih banyak dari yang lain.

Lalu, terakhir, piringku sendiri.

Aku duduk. Aku meletakkan centong di tempatnya.

Semua orang menatapku.


“Semalam,” kataku, menatap Bagas, “Mas nanya satu hal ke saya.”

Ia tidak bergerak. Ia tidak bernapas.

Om Darmawan meletakkan sendoknya. Tante Ratih menggenggam tangan Om Darmawan di atas meja. Reza menutup telinga Kiki dengan dua tangan, lalu melepaskannya lagi karena Kiki protes. Nisa, di ambang pintu, membuka buku kucingnya dan menutupnya lagi tanpa menulis apa-apa.

“Mas nanya,” kataku, “saya masih nganggep Mas tameng atau nggak.”

Suaraku tidak bergetar. Aku sudah selesai menangis. Aku menangis semalaman, dan pagi ini, dan sepanjang memotong ati ayam. Sekarang tidak ada lagi yang tersisa. Yang tersisa hanya jawabannya.

“Awalnya iya,” kataku.

Ruangan itu menahan napas.

“Awalnya saya datang ke kafe itu buat cari nama,” lanjutku. “Nama yang bisa saya sebut di depan keluarga almarhum suami saya. Saya nggak peduli siapa orangnya. Saya kira bakal satu kali ketemu, sopan, selesai. Itu yang saya pikirin waktu masuk pintu kafe.”

Aku menatapnya. Ia menatapku balik. Matanya merah.

“Terus Mas pegang sendok kebalik,” kataku.

Seseorang di meja tertawa kecil, tertahan. Mungkin Reza.

“Dua kali,” kataku. “Terus kuping Mas merah. Terus Mas bilang Mas nggak mau ini jadi satu kali saja. Terus Mas bawa krisan putih ke studio saya. Terus Mas masak ayam gosong. Terus Mas mayungin saya sampai Mas basah kuyup.” Suaraku mulai sedikit bergetar sekarang. Aku membiarkannya. “Terus Mas nolak promosi, terus saya marahin, terus Mas negosiasi. Terus Mas sakit, saya rawat, Mas ngegombal. Terus Mas main catur sama Bapak saya, terus Mas belajar bikin teh tubruk punya Eyang saya. Terus Mas ke makam bawa ember pel dan minta izin ke orang yang udah nggak bisa jawab.”

Tante Ratih menutup mulutnya dengan tangan.

“Tameng nggak bikin saya ketawa sampai jatuh dari kursi, Mas,” kataku. “Tameng nggak bikin saya nungguin pesan jam enam pagi. Tameng nggak saya peluk kemejanya tiap malam ...”

Aku berhenti.

Aku baru saja mengatakan itu. Di depan keluarganya. Di depan ayahnya. Di depan balita berusia tiga tahun.

Nisa, di ambang pintu, mengeluarkan suara seperti balon yang dikempiskan.

Bagas menatap kemeja flanel di bahuku. Lalu menatap wajahku. Kupingnya sudah merah tua.

Aku menarik napas. Aku memutuskan untuk tidak menarik kembali apa yang sudah kukatakan. Aku janda. Aku sudah pernah menikah. Aku tidak akan malu soal kemeja.

“Saya bukan lagi nyari nama buat disebut, Mas,” kataku, lebih pelan. “Saya nyari Mas.”

Aku menatap matanya.

“Jawabannya bukan,” kataku. “Mas bukan tameng. Sudah lama bukan. Mungkin dari sendok kebalik yang kedua. Saya cuma takut ngakuinnya, karena kalau saya ngaku, saya harus cerita gimana semuanya dimulai. Dan saya takut Mas pergi.”

Hening.

Hening yang panjang, berat, penuh. Jam dinding di ruang makan berdetak. Di luar, seekor cicak berbunyi.

Lalu Kiki, yang duduk di pangkuan Reza dengan kuah semur di dagunya, menunjuk ke arahku dengan sendoknya.

“Tante Bunga,” katanya keras. Lalu menunjuk ke Bagas. “Sama Om Jomblo.”

Lalu ia mengerutkan kening, seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat rumit. Lalu ia menoleh ke Reza dan bertanya, dengan suara balita yang terlalu keras:

“Papa, Om Jomblo masih jomblo?”

Reza tertawa sampai Kiki hampir jatuh dari pangkuannya.

Om Darmawan menurunkan kacamatanya. Jauh. Sampai ke ujung hidung. Lalu kacamata itu jatuh ke dalam mangkuk sayur sop di depannya, dengan bunyi plung yang kecil.

Tidak ada yang mengambilnya.


Bagas belum bicara. Ia masih menatapku.

Lalu, pelan, ia mengambil sendok di sebelah piringnya. Ia menyendok nasi dan sambal goreng ati kentang. Ia mengangkatnya. Tapi tidak ke mulutnya sendiri.

Ke mulutku.

“Udah makan?” tanyanya. Suaranya serak.

Aku menatap sendok itu. Lalu menatapnya.

“Belum,” kataku. “Dari kemarin.”

“Buka.”

Aku membuka mulut. Ia menyuapiku. Pelan, hati-hati, seperti memegang telur. Sedikit kuah sambal goreng menetes di sudut bibirku. Ia tidak mengusapnya dengan ibu jari. Ia mengambil serbet dan mengusapnya dengan serbet, rapi, sopan, dan kupingnya merah sampai ke leher.

Lalu ia menyendok untuk dirinya sendiri. Ia makan. Untuk pertama kalinya sejak kemarin siang.

Tante Ratih mulai menangis. Om Darmawan mengambil kacamatanya dari mangkuk sayur sop, mengelapnya dengan sarung, dan memakainya kembali, basah. Nisa akhirnya menulis sesuatu di buku kucingnya, sambil terisak.

Dan kami semua makan malam. Jam tujuh lewat dua belas menit. Keluarga Adinegara ditambah satu.


Setelah makan, Bagas mengantarku ke teras.

Langit sudah gelap. Lampu teras menyala kuning. Di halaman, pot-pot tanaman Tante Ratih berbaris di sepanjang pagar, dan di salah satunya, aku melihat enam tangkai bunga matahari yang sudah kering, digantung terbalik di dinding teras, seperti seseorang sengaja mengeringkannya untuk disimpan.

Kami berdiri berdampingan, menghadap halaman. Tidak bicara.

Lalu aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Seperti di Depok. Di depan minimarket.

Bahunya keras. Tegang. Seperti kayu.

Tapi kali ini ia tidak menunggu bahunya melunak sendiri. Kali ini ia menolehkan kepalanya sedikit, ke arah rambutku. Aku merasakan napasnya di puncak kepalaku. Hangat. Gemetar.

“Mas,” bisikku.

“Hm?”

“Mas boleh peluk saya.”

Napasnya berhenti.

“Saya sudah lama nunggu,” kataku pelan, ke bahunya, “Mas berani.”

Ia tidak bergerak selama tiga detik. Aku menghitungnya.

Lalu tangannya bergerak. Tangan kanannya, yang biasanya ia sembunyikan di saku celana supaya aku tidak melihatnya gemetar, terangkat pelan dan melingkar di bahuku. Lalu tangan kirinya. Lalu ia berbalik, sedikit, supaya kami berhadapan, dan menarikku ke dadanya.

Kaku. Canggung. Seperti orang yang belajar memeluk dari buku panduan. Lengannya melingkar terlalu tinggi, terlalu kencang, dagunya membentur ubun-ubunku. Jantungnya berdetak di telingaku seperti genset gudang yang dinyalakan saat listrik padam.

Aku tidak mengoreksinya. Aku hanya melingkarkan tanganku di pinggangnya dan memejamkan mata.

Pelan-pelan, pelukannya berubah. Lengannya turun sedikit. Kekencangannya melonggar. Dagunya bergeser dari ubun-ubunku ke pelipisku. Ia belajar. Sama seperti ia belajar masak, belajar teh tubruk, belajar menggenggam tangan. Satu langkah demi satu langkah. Cepat.

“Jani,” katanya pelan.

Aku membuka mata.

Itu pertama kalinya ia memanggilku begitu. Bukan Mbak. Bukan Anjani, dengan jeda kecil di depannya seperti orang yang mau melangkah ke air dingin. Jani. Pendek. Hangat. Seperti nama yang sudah lama ia simpan di dalam mulutnya dan baru sekarang berani dikeluarkan.

Hanya keluargaku yang memanggilku begitu. Dan satu orang lagi, dulu, yang sudah lama tidak memanggilku apa-apa.

Aku tidak menangis. Aku tidak sedih. Aku hanya merasakan sesuatu di dadaku bergeser ke tempatnya, seperti bidak catur yang akhirnya sampai di petak yang benar.

“Iya, Mas?”

“Saya mau nikahin kamu.”

Tidak ada SOP. Tidak ada slide presentasi. Tidak ada spreadsheet. Tidak ada cincin, karena ia belum sempat membelinya, karena aku terus mengikutinya ke setiap toko perhiasan di Bogor. Hanya satu kalimat, diucapkan di teras rumah ibunya, dengan lengan yang masih kaku dan jantung yang masih berdetak terlalu kencang.

“Saya tahu,” kataku ke dadanya.

“Kamu mau?”

“Setelah seribu harinya Fikri,” kataku. “Biar saya selesai pamit dulu. Sama dia. Sama keluarganya.”

Ia diam sebentar. Lalu ia mengeratkan pelukannya, sedikit, hati-hati.

“Saya bisa nunggu,” katanya.

Itu kalimat yang sama yang ia ucapkan di teras rumahku, di hari pertama keluarga Ramadhan datang, waktu ia tidak tahu apa yang sedang ia tunggu.

Sekarang ia tahu.

Di balik jendela ruang tamu, gorden bergerak. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu ada empat wajah di baliknya, mungkin lima, mungkin enam kalau Kiki diangkat ke atas sofa. Aku mendengar suara pulpen yang menulis sangat cepat. Aku mendengar suara Tante Ratih yang berbisik ya Allah, ya Allah. Aku mendengar suara Om Darmawan berdeham satu kali, yang biasanya artinya sudah, bubar, tapi tidak ada yang bubar.

Aku tidak peduli.

Aku memejamkan mata di dada laki-laki yang tidak pernah telat pulang jam tujuh, dan untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun, aku merasa sudah pulang juga.