Chapter Twenty Eight
Catatan Terakhir
POV: Anjani
Rumah sakit itu putih dan berbau antiseptik. Bau yang sama seperti baju Fikri setiap kali ia pulang dari jaga malam. Bau yang dulu membuatku menahan napas setiap kali memeluknya di pintu.
Aku menahan napas lagi waktu masuk lorong itu.
Hanif dibawa ke ruang perawatan di lantai empat. Dokter memeriksanya selama dua jam: luka di kepala yang sudah lama dan tidak dirawat, kaki yang patah dan sembuh dalam bentuk yang salah, kurang gizi berat, infeksi di beberapa tempat. Mbak Rara mengurus semua dokumen. Mbak Rara menelepon Lentera Kasih di Cirebon. Mbak Rara menangis di telepon, lalu menyeka wajahnya, lalu menelepon lagi.
Kami menunggu di lorong. Kursi-kursi besi di sepanjang dinding. Bu Aminah duduk di tengah, diapit suaminya dan Fadhil. Ia sudah berhenti menangis. Sekarang ia hanya diam, menatap lantai, dengan tasbih yang tidak lagi bergerak di tangannya.
Mama dan Bapak duduk di ujung. Bagas berdiri di dekat jendela di ujung lorong, jauh dari kami semua, menatap ke luar. Langit Jakarta abu-abu. Mendung.
Aku duduk di sebelah Bu Aminah. Aku memegang tangannya. Tangannya dingin.
Jam satu siang, seorang perawat keluar dari ruang perawatan dan berbicara dengan Mbak Rara. Mbak Rara mendengarkan, lalu berjalan ke arah kami.
“Pak Hanif minta ketemu,” katanya. “Sama Ibu. Sama Mbak Anjani.”
Bu Aminah mengangkat kepala.
“Katanya ada yang mau dia kasih,” kata Mbak Rara pelan. “Sudah dua tahun dia bawa.”
Ruangan itu kecil. Satu ranjang, satu jendela, satu kursi. Hanif setengah duduk di ranjang dengan bantal di punggungnya. Infus masih di lengannya. Perban di kepalanya sudah diganti dengan yang baru, putih bersih. Wajahnya masih kurus, tapi matanya sekarang lebih jernih. Ia sudah diberi makan. Ia sudah diberi obat.
Begitu kami masuk, ia mencoba duduk lebih tegak. Perawat menahannya.
“Ibu,” katanya. Suaranya masih serak, tapi lebih jelas dari tadi pagi. Ia menatap Bu Aminah. Lalu ia menatapku. Lama. Seperti mencocokkan wajahku dengan sesuatu di dalam kepalanya.
“Mbak Jan,” katanya pelan.
Aku membeku.
Tidak ada yang memanggilku begitu. Mbak Jan. Hanya ada satu orang yang memanggilku Jan, dan orang-orang di sekitarnya, yang mendengarnya terus-menerus, kadang ikut memanggilku begitu. Teman-teman Fikri di posko. Rekan-rekannya di rumah sakit. Mereka memanggilku Mbak Jan, karena setiap hari mereka mendengar Fikri berkata Jan, Jan, Jan, sampai nama itu menempel di mana-mana seperti stiker.
“Mas Fikri banyak cerita soal Mbak,” kata Hanif. “Tiap malam. Di tenda. Saya hafal muka Mbak dari foto di dompetnya.”
Ia mengulurkan tangan ke laci kecil di samping ranjang. Perawat membantu membukanya.
Di dalam laci, sebuah kantong kain lusuh. Kain hijau tua yang sudah pudar menjadi abu-abu, dengan jahitan tangan yang kasar di sekelilingnya, seperti seseorang menjahitnya sendiri dengan benang apa pun yang bisa ditemukan.
Hanif mengambil kantong itu dengan tangan yang gemetar. Ia memegangnya di dada sebentar. Lalu ia membuka jahitannya, pelan, dengan kuku.
Ia mengeluarkan dua benda.
Sebuah jam tangan. Jam tangan digital hitam dengan tali karet yang retak, jenis jam tangan murah yang tahan air dan tahan banting, yang biasa dipakai relawan di lapangan. Layarnya mati.
Dan sebuah buku catatan kecil. Ukuran saku. Sampulnya kulit cokelat yang sudah mengelupas di pinggir, dengan noda gelap di salah satu sudutnya yang tidak ingin kutanyakan asalnya.
Aku mengenali keduanya.
Jam tangan itu kubelikan di pasar dekat posko banjir, waktu kami pertama kali bertemu. Harganya tujuh puluh lima ribu rupiah. Fikri bilang itu jam tangan paling mahal yang pernah ia punya, karena aku yang membelinya.
Buku catatan itu kuberikan di ulang tahunnya yang kedua puluh tujuh. Ia menulis semuanya di sana. Nama pasien. Dosis obat. Daftar belanja. Kalimat-kalimat lucu yang ia dengar di jalan. Kadang puisi yang buruk.
Bu Aminah mengeluarkan suara kecil. Suara yang bukan tangisan, bukan kata-kata. Suara seorang ibu yang mengenali barang milik anaknya.
Hanif bercerita.
Pelan. Terputus-putus. Kadang berhenti lama karena napasnya pendek, atau karena ingatannya masih berlubang di beberapa tempat, atau karena ia harus menangis dulu sebelum bisa melanjutkan.
Malam itu klinik mereka diserang. Bukan oleh siapa-siapa yang spesifik. Hanya ledakan, dari arah yang tidak jelas, di tengah malam. Bangunan klinik setengah runtuh. Fikri yang pertama berdiri. Fikri yang pertama berlari ke bangsal anak.
Hanif tertimpa reruntuhan di lorong. Kakinya terjepit. Fikri yang menariknya keluar, menggendongnya di punggung, melewati asap dan debu, sampai ke halaman di luar.
“Terus Mas Fikri dengar ada anak nangis,” kata Hanif. “Di dalam. Masih di dalam.”
Ia berhenti. Lama.
“Saya pegang lengan bajunya,” katanya, suaranya pecah. “Saya bilang jangan, Mas. Jangan. Bangunannya mau runtuh.”
Aku menutup mataku.
Saya pegang lengan kemejanya di bandara sampai petugas negur.
“Mas Fikri lepas jam tangannya,” lanjut Hanif. “Lepas buku catatannya dari saku. Dia taruh dua-duanya di tangan saya. Dia bilang ...”
Hanif menatapku.
“Dia bilang, Pegangin, Nif. Kalau aku nggak keluar, kasih ke Jan.”
Ruangan itu sunyi. Bahkan perawat di pojok berhenti menulis.
“Terus dia masuk lagi,” kata Hanif. “Terus ada ledakan kedua.”
Ia tidak melanjutkan. Ia tidak perlu.
Sisanya ia ceritakan pelan-pelan, selama satu jam berikutnya, dengan banyak jeda. Kepalanya terkena serpihan di ledakan kedua. Ia tidak ingat banyak setelahnya. Ia ingat dibawa orang-orang yang tidak ia kenal, dari satu tempat ke tempat lain. Ia ingat berbulan-bulan tidak bisa mengingat namanya sendiri. Ia ingat menjahit kantong kain itu dari potongan bajunya sendiri, di sebuah kamp, dengan jarum yang ia pinjam dari seorang nenek, supaya dua benda di dalamnya tidak hilang. Ia tidak tahu kenapa ia melakukannya. Ia hanya tahu dua benda itu penting. Ia hanya tahu ia harus memberikannya kepada seseorang bernama Jan.
“Saya nyebut Jan terus,” katanya. “Kata orang-orang di kamp. Tiap malam. Jan, maaf. Jan, maaf.”
Ia tersenyum, kecil dan basah.
“Saya kira saya lagi minta maaf ke istri saya,” katanya. “Istri saya namanya Jannah. Saya juga manggil dia Jan.” Ia menggeleng pelan. “Ternyata saya minta maaf ke dua orang. Ke istri saya, karena saya nggak pulang. Ke Mbak, karena saya nggak bisa bawa Mas Fikri keluar.”
Aku tidak bisa bicara.
Hanif mengulurkan dua benda itu. Jam tangan ke Bu Aminah. Buku catatan ke aku.
“Mas Fikri sempat nulis sesuatu,” katanya. “Malam sebelumnya. Di tenda. Saya lihat dia nulis lama. Saya tanya buat siapa. Dia cuma senyum.”
Ia menatapku.
“Halaman terakhir, Mbak.”
Aku tidak membukanya di ruangan itu.
Aku membawanya keluar. Ke lorong. Lalu ke ujung lorong, ke dekat jendela, tempat Bagas tadi berdiri. Bagas sudah tidak di sana. Aku tidak tahu ia ke mana.
Aku duduk di kursi besi di bawah jendela. Di luar, langit Jakarta semakin gelap. Hujan akan turun.
Aku membuka buku catatan itu dari belakang.
Halaman terakhir. Tulisan tangan Fikri. Miring ke kanan, terburu-buru, seperti tulisan dokter yang selalu dikejar waktu. Tintanya biru. Sedikit luntur di beberapa tempat, mungkin karena keringat, mungkin karena hujan, mungkin karena hal lain.
Jan,
Kalau kamu baca ini, berarti aku telat lagi. Kali ini kayaknya aku nggak bisa minta maaf langsung. Maaf ya. Lagi.
Aku tahu kamu nunggu. Kamu selalu nunggu. Di posko. Di Jakarta. Di bandara. Kamu pegang lengan bajuku sampai satpam negur, dan aku tetap pergi. Aku tahu aku nggak pernah adil sama kamu, Jan. Dari awal.
Jangan tunggu aku terlalu lama.
Aku bukan laki-laki yang selalu pulang. Kamu tahu itu dari awal, dan kamu tetap milih aku. Terima kasih. Itu hal paling berani yang pernah dilakukan orang buat aku.
Sekarang giliran kamu milih lagi.
Cari yang selalu pulang. Yang bisa duduk diam setengah jam main catur sama Bapak tanpa gelisah. Yang pulang sebelum supnya dingin. Yang nggak bikin kamu menghitung hari.
Kalau ketemu, jangan merasa bersalah. Aku yang nyuruh. Bilang ke dia, aku titip. Bilang ke dia, jaga kamu baik-baik, karena aku nggak bisa.
Teh juga boleh, asal dari kamu. Tapi mulai sekarang, buat dia aja.
— F.
P.S. Anak ayamnya masih hidup? Kalau masih, kasih makan yang bener. Dia galak kayak kamu.
Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di sana.
Aku tahu aku menangis. Aku menangis seperti belum pernah menangis selama dua tahun lebih. Bukan tangis enam bulan itu, yang kosong dan tanpa suara. Bukan tangis di makam waktu Bagas meminta izin, yang haru dan lega. Tangis ini berbeda. Tangis ini penuh. Penuh dengan semua hal yang tidak pernah sempat kukatakan, dan semua hal yang tidak pernah sempat ia katakan, dan sekarang, akhirnya, ia mengatakannya.
Ia tahu. Dari awal, ia tahu. Ia tahu dirinya burung, seperti kata Bapak. Ia tahu ia tidak bisa duduk diam setengah jam di depan papan catur. Ia tahu aku menghitung hari.
Dan di malam terakhirnya, di tenda di perbatasan, dengan bau antiseptik dan suara anak-anak yang menangis di bangsal sebelah, ia memikirkan aku. Bukan untuk meminta aku menunggu. Untuk memintaku berhenti menunggu.
Cari yang selalu pulang.
Aku sudah menemukannya, Fik.
Aku menemukannya di kafe dekat Kebun Raya, memegang sendok terbalik.
Bagas menemukanku di sana. Aku tidak tahu jam berapa. Langit di luar jendela sudah gelap, dan hujan sudah turun, deras, membasahi kaca.
Ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya duduk di kursi besi di sebelahku. Tidak menyentuhku. Tidak bicara. Hanya duduk.
Aku menyodorkan buku catatan itu kepadanya. Terbuka di halaman terakhir.
Ia menatapku. Lalu menatap buku itu. Ia ragu.
“Baca, Mas,” kataku. “Ini buat Mas juga.”
Ia mengambilnya. Ia membacanya pelan, seperti ia membaca segalanya, baris demi baris, dengan teliti. Aku melihat matanya berhenti di satu baris. Yang bisa duduk diam setengah jam main catur sama Bapak tanpa gelisah. Aku melihat jakunnya bergerak. Aku melihat matanya berhenti lagi di baris yang lain. Bilang ke dia, aku titip.
Ia menutup buku itu. Ia memegangnya di kedua tangannya, di pangkuan, seperti memegang sesuatu yang suci.
Lalu ia menunduk, dan bahunya mulai bergetar.
Aku tidak memeluknya. Aku hanya memindahkan tanganku dari pangkuanku sendiri ke atas tangannya, yang masih memegang buku catatan Fikri.
Untuk pertama kalinya sejak ia melepas cincinnya di teras belakang rumahku, ia tidak menarik tangannya.
Jannah datang jam delapan malam.
Ia datang dari Cirebon dengan mobil sewaan, ditemani dua orang dari Lentera Kasih dan ibu mertuanya, ibu Hanif, seorang perempuan tua bertubuh kecil yang harus dipapah dari mobil. Jannah masih muda, mungkin tiga puluh, berkerudung biru muda yang basah di bagian bahu karena hujan. Ia berlari di lorong rumah sakit. Ia tidak berhenti di meja perawat. Ia tidak bertanya ruangan mana. Ia hanya berlari, seperti tubuhnya tahu jalannya sendiri.
Kami semua berdiri di lorong waktu ia lewat.
Ia membuka pintu ruangan Hanif.
Dari tempatku berdiri, melalui pintu yang terbuka, aku melihat Hanif menoleh dari ranjangnya. Aku melihat wajahnya. Aku melihat bibirnya bergerak, membentuk satu kata, satu suku kata.
Jan.
Jannah tidak menjawab. Ia hanya berjalan ke ranjang itu dan memeluk suaminya, dengan infus dan perban dan semuanya, dan tangis mereka berdua memenuhi lorong rumah sakit lantai empat, dan tidak ada satu pun perawat yang menyuruh mereka diam.
Bu Aminah menatap pintu itu dari lorong. Ia tersenyum. Senyum yang basah dan pecah dan sangat tulus.
“Alhamdulillah,” bisiknya. “Alhamdulillah, ada yang pulang.”
Kami keluar dari rumah sakit jam sembilan malam. Hujan masih turun. Deras. Hujan Jakarta yang tidak seperti hujan Bogor, lebih panas, lebih berat, seperti air yang dituang dari ember kotor.
Parkiran rumah sakit tidak beratap. Mobil-mobil kami diparkir di ujung, jauh dari pintu.
Bagas membawa payung. Tentu saja ia membawa payung. Payung lipat hitam yang sama, payung kecil untuk satu orang, yang dulu ia pegang di atas kepalaku di Kebun Raya sampai bahunya basah kuyup.
Ia memayungi Bu Aminah dulu. Mengantarnya ke mobil keluarga Ramadhan, pelan, dengan payung miring di atas kepalanya, sementara hujan menghantam punggungnya sendiri. Lalu ia kembali. Ia memayungi Pak Zainal. Lalu kembali lagi. Memayungi Mama. Lalu Bapak. Lalu Fadhil, yang menolak, yang bilang Mas, saya bisa lari, dan Bagas tetap memayunginya.
Ia bolak-balik di parkiran itu enam kali. Enam kali, dengan payung kecil untuk satu orang, di bawah hujan Jakarta yang berat. Bahunya basah. Punggungnya basah. Rambutnya basah dan menempel di dahi. Air menetes dari ujung hidungnya.
Lalu ia kembali untuk yang terakhir kali. Untuk aku.
Aku berdiri di bawah kanopi kecil di depan pintu rumah sakit. Aku menunggu. Ia berjalan ke arahku dengan payung terulur, dan ia berhenti di depanku, dan mengangkat payung itu di atas kepalaku.
Tapi aku tidak berjalan ke mobil.
Aku melangkah ke belakangnya. Ke punggungnya yang basah kuyup. Dan aku menyandarkan kepalaku di sana. Di antara kedua tulang belikatnya. Di atas kemeja biru muda yang sudah basah sampai ke kulit.
Ia membeku.
Punggungnya hangat di bawah kain yang dingin. Aku bisa mendengar jantungnya, dari belakang, berdetak kencang dan tidak teratur, seperti genset gudang yang dinyalakan saat listrik padam.
“Jani,” katanya pelan.
“Sebentar, Mas,” bisikku ke punggungnya. “Sebentar aja.”
Ia tidak bergerak. Payung itu tetap terangkat, tapi sekarang payung itu tidak memayungi siapa-siapa, karena aku di belakangnya dan ia di depan dan hujan turun di atas kami berdua.
Aku memejamkan mata.
Bilang ke dia, aku titip.
Aku tidak perlu bilang, Fik. Dia sudah tahu. Dia sudah membacanya sendiri.
Kami berdiri seperti itu di bawah hujan, di parkiran rumah sakit, entah berapa lama. Sampai Mama membunyikan klakson dari mobil, pelan, sekali, seperti orang yang tidak tega mengganggu tapi juga tidak mau anaknya masuk angin.
Aku mengangkat kepala dari punggungnya.
Ia berbalik. Ia menatapku. Wajahnya basah, dan aku tidak tahu mana yang hujan dan mana yang bukan.
“Ayo pulang, Mas,” kataku.
- 1 Jam Tujuh
- 2 Janji Arisan
- 3 Pertemuan Pertama
- 4 Tameng
- 5 Krisan Putih
- 6 Bekal Gosong
- 7 Calon Saya
- 8 Rencana Hujan
- 9 Jangan Korbankan Hidupmu
- 10 Sup Hari Kamis
- 11 Pasien Paling Bandel
- 12 Mas Lulus
- 13 Cemburu pada Orang Baik
- 14 Izin
- 15 Undangan yang Tidak Menyebut Namaku
- 16 Langkah Kuda
- 17 Persiapan Rahasia
- 18 Sekali, Umur Dua Tahun
- 19 Masih Tameng?
- 20 Bukan
- 21 Cincin
- 22 Mawar Kuning
- 23 Bukan yang Ditunggu
- 24 Administrasi Kepulangan
- 25 Maju Dua Langkah
- 26 Lampu Teras
- 27 Pintu Kedatangan
- 28 Catatan Terakhir reading
- 29 Kiriman Tanpa Nama
- 30 Krisan Putih, Kali Ini Benar
- 31 Restu
- 32 Janda Tahu Caranya
- 33 Bukan Pengganti
- 34 Proyek A, Versi Final
- 35 Malam Tanpa Jam Tujuh
- 36 Selamat Datang Pulang
- 37 Malam Pertama
- 38 Laporan Bulanan
- 39 Jam Tujuh, ke Rumah Kita
- 40 Proyek B
- 41 Epilog — Hujan