Chapter Thirty One
Restu
POV: Anjani
Bu Aminah meminta kami datang hari Minggu, seminggu setelah peringatan seribu hari.
Kami. Bukan aku. Bukan Bagas. Kami. Bu Aminah menyebut kata itu di telepon dengan sangat jelas, seperti guru yang mendikte kata sulit: kalian berdua datang, ya. Bawa orang tua. Semuanya.
Lalu, sebelum menutup telepon, ia menambahkan: Fadhil juga mau ngenalin seseorang.
Aku menutup telepon dan tersenyum ke layar ponsel lama sekali.
Ruang tamu rumah keluarga Ramadhan sekali lagi terlalu penuh.
Keluarga Adinegara di sofa panjang. Om Darmawan dengan batik cokelat, Tante Ratih dengan kerudung hijau yang paling bagus, Nisa dengan buku kucing yang ia janjikan tidak akan dibuka, Reza dengan Kiki di pangkuan. Keluarga Wardhani di kursi-kursi tambahan dari ruang makan. Mama dengan tisu yang sudah siap di tangan. Bapak dengan papan catur kayu sonokeling yang entah kenapa ia bawa, dan yang langsung disambut Pak Zainal dengan mata berbinar.
Bagas duduk di kursi tunggal di dekat jendela. Kursi yang dulu diduduki Fadhil di hari pertama keluarga Ramadhan datang ke rumahku. Ia memakai kemeja putih. Kupingnya sudah merah sejak di pagar.
Aku duduk di sebelah Bu Aminah. Seperti biasa.
Foto pernikahanku dan Fikri masih tergantung di dinding, di atas sofa. Tapi ada yang berbeda hari ini. Di sebelahnya, ada bingkai baru. Foto Fikri sendirian, dengan rompi oranye, tertawa miring ke kiri, memeluk seorang anak kecil berambut keriting di depan tenda-tenda putih. Foto yang sama dengan yang ada di rak studioku.
Bu Aminah melihatku menatap foto itu.
“Ibu minta dicetak sama Mbak Rara,” katanya pelan. “Biar dia kelihatan kayak dia. Bukan cuma kayak suami.”
Aku menggenggam tangannya.
Fadhil datang terlambat sepuluh menit.
Ia masuk dari pintu samping, dari arah dapur, dengan wajah yang sangat pucat dan kemeja yang disetrika terlalu rapi. Di sebelahnya, setengah langkah di belakangnya, seorang perempuan muda berkerudung biru muda dan gamis abu-abu, memegang kotak kue di depan dadanya dengan dua tangan, seperti memegang kotak suara.
Aku mengenali wajahnya. Dari layar kunci ponsel Fadhil, di dapur ini, di syukuran tiga puluh lima tahun.
Ruangan mendadak sunyi.
Fadhil berdiri di tengah ruang tamu. Ia menatap ibunya. Ia menatap bapaknya. Ia menatap semua orang. Lalu ia menarik napas yang sangat panjang, seperti orang yang mau menyelam.
“Bu. Pak,” katanya. “Ini Laila.”
Perempuan muda itu membungkuk sopan. “Assalamualaikum, Bu. Pak.”
“Laila guru juga,” lanjut Fadhil cepat. “Di SMP. Kami kenal dua tahun. Saya ...” Ia menelan ludah. “Saya mau nikahin dia, Bu.”
Hening.
Bu Aminah menatap anaknya. Lalu menatap Laila. Lalu kembali menatap anaknya. Wajahnya tidak bergerak.
“Dua tahun?” tanya Bu Aminah.
“Iya, Bu.”
“Dua tahun kamu kenal dia, dan baru sekarang kamu bawa ke sini?”
Fadhil menunduk. “Maaf, Bu.”
“Kenapa?”
Fadhil tidak menjawab. Ia menatap lantai. Lalu, pelan, matanya bergerak ke arahku. Hanya sebentar. Tapi Bu Aminah melihatnya.
Bu Aminah menoleh ke arahku.
“Kamu tahu, Nak?”
Aku menelan ludah. Di seberang ruangan, Nisa membuka buku kucingnya tanpa sadar, lalu menutupnya lagi dengan panik.
“Tahu, Bu,” kataku. “Belum lama. Fadhil minta saya rahasiain.”
Bu Aminah menatapku. Lalu menatap Fadhil. Lalu, pelan, ia menatap bingkai foto Fikri yang baru di dinding.
Dan ia tertawa.
Bukan tawa yang keras. Tawa kecil, basah, yang keluar dari tempat yang sangat dalam, seperti tawa seseorang yang baru saja menyadari betapa bodohnya rencana yang sudah ia susun berbulan-bulan.
“Ya Allah,” kata Bu Aminah di sela tawanya. “Ya Allah, Dhil. Kamu takut sama Ibu?”
“Bukan takut, Bu ...”
“Kamu takut Ibu sedih.” Bu Aminah menggeleng. Matanya mulai basah, tapi ia masih tertawa. “Ibu bikin rencana nikahin kamu sama mbakmu sendiri, dan kamu diam aja, karena kamu takut Ibu sedih. Mbakmu nyari laki-laki lain buat dijadiin alasan, karena dia takut Ibu sedih. Semua orang di rumah ini takut Ibu sedih.”
Ia menyeka matanya dengan ujung kerudung.
“Ibu memang sedih,” katanya, lebih pelan. “Ibu sedih terus dua tahun ini. Tapi Ibu nggak minta kalian berhenti hidup buat nemenin Ibu sedih.”
Ia berdiri dari sofa. Ia berjalan ke arah Laila, yang masih berdiri dengan kotak kue di depan dada dan wajah yang sangat ketakutan. Bu Aminah mengambil kotak kue itu dari tangannya, meletakkannya di meja, lalu memegang kedua tangan perempuan muda itu.
“Laila,” katanya. “Kamu bisa masak?”
Laila menatapnya, bingung. “Bisa sedikit, Bu.”
“Ayam kecap?”
“Bisa, Bu.”
“Gosong?”
Laila menatap Fadhil dengan panik. Fadhil menatap lantai. Di sofa panjang, Nisa tertawa sampai Reza harus menutup mulutnya.
“Nggak, Bu,” jawab Laila pelan. “Nggak gosong.”
Bu Aminah mengangguk puas. “Bagus. Di keluarga ini sudah cukup yang gosong.”
Dan semua orang di ruangan itu menoleh ke arah kursi di dekat jendela.
Bagas menutup wajahnya dengan dua tangan. Kupingnya merah tua.
Bude Ningsih tidak hadir. Bu Aminah sengaja tidak mengundangnya. Biar Ibu yang kasih tahu nanti, katanya. Kalau sekarang, dia bakal ngomong panjang, terus Ibu bakal nangis, terus semua jadi berantakan.
Setelah makan siang, setelah opor dan sayur nangka dan ayam kecap buatan Bu Aminah yang, kata Pak Zainal, adalah standar emas yang belum tercapai oleh siapa pun di ruangan ini, Bu Aminah memanggil Bagas ke teras.
Hanya Bagas. Tidak denganku.
Aku menonton dari jendela ruang tamu. Semua orang menonton dari jendela ruang tamu. Mama, Tante Ratih, Nisa, bahkan Laila. Bapak dan Pak Zainal pura-pura bermain catur di meja kecil, tapi bidak-bidak mereka tidak bergerak selama sepuluh menit.
Bu Aminah dan Bagas duduk di bangku kayu di teras, di bawah pohon mangga. Di halaman, ayam bernama Jani sedang mematuk-matuk tanah, diikuti anak-anaknya.
Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Tapi aku bisa melihat.
Bu Aminah bicara lama. Bagas mendengarkan dengan tangan di lutut, punggung tegak, seperti murid yang dipanggil ke ruang BK. Sesekali ia mengangguk. Sekali ia menggeleng, cepat, seolah menolak sesuatu, dan Bu Aminah memegang lengannya dan terus bicara.
Lalu Bu Aminah mengeluarkan sesuatu dari saku dasternya.
Aku tidak bisa melihat apa itu. Sesuatu yang kecil. Bu Aminah meletakkannya di telapak tangan Bagas dan menutup jari-jari Bagas di atasnya.
Bagas menatap tangannya. Lama.
Lalu ia menunduk. Dalam. Seperti orang yang membungkuk di depan sesuatu yang sangat ia hormati.
Bu Aminah meletakkan tangannya di kepala Bagas. Di rambutnya. Seperti seorang ibu yang mendoakan anaknya sebelum berangkat jauh.
Di sebelahku, Tante Ratih mulai menangis. Lalu Mama. Lalu Nisa, yang akhirnya membuka buku kucingnya dan menulis dengan tangan gemetar.
Bagas kembali ke ruang tamu sepuluh menit kemudian. Matanya merah. Tangannya terkepal, seperti menyimpan sesuatu di dalamnya.
Ia tidak menjelaskan apa-apa. Ia hanya duduk kembali di kursi di dekat jendela dan menatap tangannya.
Aku tidak bertanya. Aku tahu ia akan menceritakannya nanti, kalau ia sudah siap. Laki-laki itu menyimpan cerita seperti ia menyimpan cincin di saku kemejanya: dekat jantung, aman, sampai waktunya.
Tapi Bu Aminah, yang masuk di belakangnya, berjalan langsung ke arahku. Ia duduk di sebelahku. Ia memegang tanganku, tangan kananku, dan menatap jari manisnya yang kosong.
“Nak,” katanya pelan. “Cincinmu yang dulu. Dari Fikri. Masih kamu simpan?”
Aku mengangguk. Di kotak kayu kecil di laci meja rias. Bersama surat dari lembaga dan jam tangan yang ternyata bukan milik Fikri, yang sekarang sudah kukembalikan ke Mbak Rara.
“Ibu boleh minta?” tanya Bu Aminah.
Aku menatapnya.
“Bukan buat apa-apa,” katanya cepat. “Ibu cuma mau simpan. Di sini. Di rumah dia.” Ia meremas tanganku. “Kamu nggak perlu bawa dia ke rumah barumu, Nak. Biar Ibu yang bawa. Ibu ibunya.”
Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya mengangguk, berkali-kali, dan Bu Aminah memelukku, dan aku menangis di bahunya seperti dulu aku menangis di bahunya waktu kabar pertama datang. Tapi kali ini tangisnya berbeda. Kali ini tangisnya seperti meletakkan sesuatu yang sudah terlalu lama dipikul.
Minggu depannya, aku mengantar cincin itu ke Depok. Bu Aminah menyimpannya di kotak kayu kecil yang lain, di lemari di kamar Fikri, di sebelah jaket relawan oranye yang dilipat rapi.
Kami pamit jam tiga sore.
Di teras, sementara Mama dan Tante Ratih dan Bu Aminah melakukan ritual perpisahan yang tampaknya akan berlangsung sampai magrib, aku berdiri di sebelah Bagas, di bawah pohon mangga.
Ayam bernama Jani berjalan mendekati kaki Bagas, menatap sepatunya dengan curiga, lalu mematuknya.
Bagas tidak bergerak.
“Dia galak,” kataku.
“Saya tahu.” Bagas menatap ayam itu. “Bu Aminah cerita. Namanya Jani.”
“Mas Fikri yang kasih nama.”
“Kayak kamu,” kata Bagas pelan. “Kecil tapi galak.”
Aku menatapnya. Ia tidak menatapku. Ia menatap ayam itu, yang sekarang mematuk tali sepatunya dengan sangat serius.
Aku melirik ke tangannya. Tangan kanannya masih terkepal. Sejak dari teras tadi, ia tidak membukanya.
Lalu aku melirik ke saku kemejanya. Di dada kiri. Aku bisa melihat bentuk cincin emas putih itu di balik kain tipis. Masih di sana. Masih di saku, bukan di jarinya.
Penetapan pengadilan sudah keluar. Seribu hari sudah lewat. Bu Aminah sudah memanggilnya ke teras. Dan cincin itu masih di sakunya.
Aku mendekat. Sedikit. Cukup dekat sehingga hanya ia yang bisa mendengar.
“Mas,” bisikku.
“Hm?”
“Sudah direstui tiga keluarga.”
Ia menoleh. Matanya melebar sedikit.
“Keluarga Mas. Keluarga saya. Keluarga Mas Fikri.” Aku menghitung dengan jari, pelan, di depan wajahnya. “Tiga.”
Kupingnya mulai merah.
“Kalau Mas masih mundur,” bisikku, lebih pelan lagi, dengan senyum yang tidak bisa kutahan, “saya yang lamar.”
Ia membuka mulut.
“Cepat, Mas.”
Kami berdua menoleh. Fadhil berdiri di ambang pintu, dengan Laila di sebelahnya. Ia menyeringai, seringai pertama yang pernah kulihat di wajah adik iparku yang sopan, seringai yang tiba-tiba sangat mirip kakaknya.
“Cepat, Mas,” ulang Fadhil. “Laila juga sudah nunggu. Masa adiknya duluan.”
Laila memukul lengan Fadhil. Fadhil tertawa.
Di halaman, Jani si ayam mematuk sepatu Bagas sekali lagi, keras, lalu berbalik dan berjalan pergi dengan dagu terangkat, diikuti anak-anaknya, seolah tugasnya sudah selesai.
Bagas menatap ayam itu pergi. Lalu ia menatapku.
Lalu, untuk pertama kalinya sejak ia melepas cincin itu di teras belakang rumahku, ia tertawa. Tawa yang keras, lepas, keluar dari perut, sampai ia harus membungkuk dan memegang lututnya.
Aku tidak tahu apa yang lucu. Tapi aku ikut tertawa.
Di dalam rumah, aku mendengar suara pulpen yang menulis sangat cepat.
- 1 Jam Tujuh
- 2 Janji Arisan
- 3 Pertemuan Pertama
- 4 Tameng
- 5 Krisan Putih
- 6 Bekal Gosong
- 7 Calon Saya
- 8 Rencana Hujan
- 9 Jangan Korbankan Hidupmu
- 10 Sup Hari Kamis
- 11 Pasien Paling Bandel
- 12 Mas Lulus
- 13 Cemburu pada Orang Baik
- 14 Izin
- 15 Undangan yang Tidak Menyebut Namaku
- 16 Langkah Kuda
- 17 Persiapan Rahasia
- 18 Sekali, Umur Dua Tahun
- 19 Masih Tameng?
- 20 Bukan
- 21 Cincin
- 22 Mawar Kuning
- 23 Bukan yang Ditunggu
- 24 Administrasi Kepulangan
- 25 Maju Dua Langkah
- 26 Lampu Teras
- 27 Pintu Kedatangan
- 28 Catatan Terakhir
- 29 Kiriman Tanpa Nama
- 30 Krisan Putih, Kali Ini Benar
- 31 Restu reading
- 32 Janda Tahu Caranya
- 33 Bukan Pengganti
- 34 Proyek A, Versi Final
- 35 Malam Tanpa Jam Tujuh
- 36 Selamat Datang Pulang
- 37 Malam Pertama
- 38 Laporan Bulanan
- 39 Jam Tujuh, ke Rumah Kita
- 40 Proyek B
- 41 Epilog — Hujan