Chapter One

Jam Tujuh

POV: Bagas

Jam tujuh kurang empat menit, mobilku sudah masuk garasi.

Aku tahu persis karena aku melihat jam di dasbor, lalu jam tangan, lalu jam di dasbor lagi, seperti orang yang takut waktu kabur kalau tidak diawasi. Sembilan tahun bekerja, aku belum pernah sekali pun pulang lewat jam tujuh. Tidak waktu banjir menggenangi gudang Cibinong. Tidak waktu truk kontainer kami terguling di Jagorawi. Tidak juga waktu atasan lamaku mengajak makan malam “penting” di Senayan. Aku pamit di tengah hidangan pembuka. Dia tidak pernah mengajakku lagi, dan aku tidak pernah menyesal.

Jam tujuh adalah jam makan malam di rumah ini. Dan di rumah ini, kursi kosong di meja makan adalah urusan serius.

Dulu kursi kosong itu milik Ayah. Waktu aku kelas lima SD, Ayah sering dinas ke luar kota. Berminggu-minggu Ibu makan berdua denganku, menyisakan satu piring tertutup tudung saji yang tidak pernah disentuh sampai pagi. Suatu malam aku melihat Ibu menatap piring itu lama sekali, lalu membuang isinya ke tempat sampah sambil pura-pura tidak menangis.

Malam itu aku berjanji pada diriku sendiri. Kalau sudah besar, aku akan selalu pulang tepat waktu.

Anak kelas lima memang suka membuat janji yang terlalu besar. Masalahnya, aku menepatinya.

Begitu pintu depan terbuka, bau semur jengkol menyerbu hidungku. Minggu malam berarti semur jengkol, dan semur jengkol berarti Nisa datang.

“Om Jomblo pulaaang!”

Sesuatu seberat karung beras kecil menabrak lututku. Kiki, keponakanku, tiga tahun, rambut dikuncir dua seperti antena. Ia memeluk kakiku dengan seluruh tenaganya, lalu mendongak dengan senyum yang sangat puas.

Aku berjongkok. “Kiki. Siapa yang ngajarin bilang begitu?”

“Papa!”

Dari ruang makan terdengar Reza, adik iparku, tersedak teh. “Kiki, Papa bilang itu rahasia!”

“Om Jomblo rahasia!” Kiki mengangguk serius, lalu berlari kembali ke meja.

Aku berdiri dan melepas sepatu dengan martabat seorang kepala operasional yang baru saja dihina balita.


Meja makan kami muat delapan orang, tapi malam itu kami cuma enam. Ayah di ujung, sudah memakai sarung dan kacamata baca yang tidak pernah dilepasnya meskipun tidak sedang membaca. Ibu di sebelah kanannya. Nisa, Reza, Kiki berderet di seberang. Kursiku di sebelah kiri Ayah, tempat yang sama sejak aku masih harus duduk di atas bantal supaya sampai ke meja.

Aku mengambil centong nasi dan mulai menyendok, satu per satu. Piring Ayah dulu: nasi sedikit, karena gula darahnya. Lalu piring Ibu. Lalu piring Kiki, yang kunasi sambil kupotongkan jengkol kecil-kecil supaya tidak tersedak. Lalu piring Nisa.

“Mas,” kata Nisa sambil menyodorkan piring Reza juga. “Sekalian.”

Aku menyendokkan nasi ke piring Reza.

“Lauknya juga, Mas.”

Aku menambahkan semur dan sepotong ayam goreng.

“Sambelnya di pinggir ya, Mas, jangan kena nasi.”

Aku menaruh sambal di pinggir.

Nisa menopang dagu, menatapku dengan wajah yang sangat mirip Ibu waktu sedang merencanakan sesuatu. “Mas tuh ya. Kalau ngambilin lauk orang, cepet banget. Kalau ngambil istri, lambatnya kayak antrean BPJS.”

Reza tertawa sampai bahunya bergetar. Ayah tidak tertawa, tapi kacamatanya sedikit turun, dan itu cara Ayah tertawa.

Aku mengambil nasiku sendiri, terakhir, seperti biasa. “Makan, Nis.”

“Aku cuma ngomong fakta.”

“Fakta yang nggak ditanya.”

“Ibu yang nanya.” Nisa menoleh ke Ibu dengan tatapan penuh dukungan moral. “Iya kan, Bu?”

Dan di situlah, seperti setiap Minggu malam selama dua tahun terakhir, sidang dimulai.


“Gas,” kata Ibu, meletakkan sendok dengan pelan. Ibu selalu meletakkan sendok dengan pelan sebelum mengatakan sesuatu yang berat. “Kamu ingat Dokter Melia?”

Aku ingat Dokter Melia. Dokter gigi, anak teman pengajian Ibu, cantik dan sopan. Kami bertemu di sebuah kafe di Jalan Pajajaran dan dia bertanya apa hobiku. Aku menjawab “merapikan rute pengiriman”, dengan jujur. Dia tertawa sopan. Lalu aku menerima telepon dari gudang, ada truk yang salah muat, dan aku pamit. Itu delapan bulan lalu.

“Ingat, Bu.”

“Kamu ingat Rina, anak Bu RT?”

Rina vegetarian. Aku mengajaknya makan di rumah makan Sunda dan memesankan ayam bakar untuk kami berdua, karena aku tidak tahu. Dia makan lalapan dan tahu sambil tersenyum menahan diri. Aku tahu kencan itu gagal waktu dia bilang “Mas Bagas baik banget, ya” dengan nada yang biasanya dipakai orang untuk satpam kompleks.

“Ingat, Bu.”

“Kamu ingat Sheren? Yang lulusan Australia?”

“Itu dia yang nggak datang, Bu.”

“Karena kamu batalin dua kali!”

“Karena ada audit, Bu.”

“Audit,” ulang Ibu, seperti mengucapkan nama penyakit.

Nisa mencondongkan badan ke Reza dan berbisik keras sekali, sekeras bisikan yang memang dimaksudkan untuk didengar. “Totalnya sebelas, Yang. Aku catat.”

“Dua belas,” koreksi Reza. “Kamu lupa yang guru les piano.”

“Oh, iya! Yang Mas Bagas kasih kartu nama kantor.”

“Dia nanya saya kerja di mana,” kataku. “Saya jawab.”

“Mas, itu bukan wawancara kerja,” kata Nisa. “Itu kencan.”

Kiki, yang tidak mengerti apa pun selain bahwa semua orang sedang memandangi omnya, menunjukku dengan sendok penuh kuah semur. “Om Jomblo!”

Kuah semur menetes ke taplak. Tidak ada yang menegurnya, karena secara teknis ia sedang membela pihak yang benar.


Biasanya sidang berlanjut panjang. Ibu akan menyebut usia. “Kamu sudah tiga puluh, Gas.” Lalu Nisa akan menyebut dirinya sendiri, “Aku aja sudah nikah tiga tahun, Mas”, sambil menepuk tangan Reza seperti piala. Lalu Ayah akan berdeham satu kali, yang artinya “sudahlah”, dan semua orang akan berhenti karena Ayah jarang berdeham.

Malam itu Ibu tidak menyebut usia.

Ibu menatap piringnya cukup lama, lalu tersenyum kecil. Senyum yang bukan senyum. “Ya sudah,” katanya. “Ibu nyerah, Gas.”

Ruang makan mendadak sunyi. Bahkan Kiki berhenti mengunyah.

“Bu,” kata Nisa pelan.

“Nggak apa-apa.” Ibu mengambil sendoknya lagi. “Ibu cuma mikir, mungkin Ibu yang salah. Kamu sudah capek kerja dari pagi. Pulang ke sini, ngurusin kami. Atap bocor kamu yang benerin. Nikahan Nisa kamu yang bayar. Obat Ayah kamu yang tebus. Terus tiap Minggu Ibu malah nambahin beban, nyuruh kamu ketemu orang.”

“Bu, itu bukan beban.”

“Ibu tahu kamu nggak bakal bilang beban.” Ibu menatapku, dan matanya basah, dan itu jauh lebih buruk daripada dimarahi. “Ibu cuma pengin ada yang ngurusin kamu juga, Gas. Itu saja. Bukan buat Ibu. Buat kamu.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Sembilan tahun aku pulang jam tujuh, dan tidak pernah sekali pun terpikir olehku bahwa yang Ibu tunggu di meja ini bukan hanya kehadiranku.

Ayah berdeham satu kali.

Semua orang kembali makan.


Setelah makan, Nisa dan Reza membawa Kiki ke ruang tengah untuk menonton kartun. Aku membereskan piring, seperti biasa. Waktu aku masuk dapur, Ayah dan Ibu sudah berdiri di depan bak cuci.

Ayah mencuci. Ibu membilas. Mereka tidak bicara. Sesekali Ayah menyerahkan piring dengan tangan masih berbusa, dan Ibu menerimanya dengan tangan yang sudah keriput, dan jari mereka bersentuhan sebentar, dan tidak satu pun dari mereka menganggapnya istimewa.

Aku berdiri di ambang pintu dapur dengan setumpuk piring kotor dan tiba-tiba merasa seperti tamu.

Sudah tiga puluh enam tahun mereka menikah. Ayah pernah pergi berminggu-minggu. Ibu pernah membuang semur ke tempat sampah sambil menangis. Tapi di sini mereka berdua, mencuci piring di bawah lampu dapur yang kuning dan berkedip, dan Ayah menyenandungkan lagu keroncong dengan nada yang salah, dan Ibu tidak mengoreksinya.

Aku tidak pernah punya waktu untuk memikirkan apakah aku menginginkan hal semacam itu. Ada gudang yang harus diurus, ada cicilan, ada atap yang bocor. Jatuh cinta selalu terdengar seperti sesuatu yang bisa kukerjakan nanti, setelah semua urusan lain beres.

Masalahnya, urusan lain tidak pernah beres.

“Taruh di situ, Gas,” kata Ibu tanpa menoleh. “Nanti Ibu cuci.”

Aku menaruh piring di samping bak. Lalu, karena tidak tahu harus berbuat apa dengan tanganku sendiri, aku mengambil lap dan mulai mengeringkan.

Kami bertiga berdiri berderet. Mencuci, membilas, mengeringkan. Di ruang tengah, Kiki tertawa keras pada sesuatu di televisi.

Lalu telepon Ibu berdering.


Ibu mengelap tangannya di daster dan mengangkat telepon dengan alis berkerut, karena nomornya tidak tersimpan.

“Halo? ... Iya, saya sendiri. ... Siapa? ...”

Lalu wajah Ibu berubah. Aku belum pernah melihat wajah Ibu berubah secepat itu, dari curiga ke bingung ke terkejut ke sesuatu yang hanya bisa kugambarkan sebagai remaja yang baru diajak nonton konser.

“SRI?” Ibu hampir menjatuhkan teleponnya. “Sri Wulandari? Sri yang duduk di belakangku waktu SMA? Ya Allah, Sri!”

Ayah menoleh padaku. Aku menoleh pada Ayah. Kami berdua mengangkat bahu.

“Kamu di mana sekarang? ... BOGOR? Sejak kapan? ... Bogor Barat? Ya ampun, itu dekat! ... Nggak, nggak, aku nggak ganti nomor, kamu yang ganti nomor tiga kali! ...”

Ibu tertawa. Tertawa sampai harus bersandar ke kulkas. Aku memperhatikan Ibu, yang lima belas menit lalu menangis di meja makan, dan sekarang tertawa seperti anak SMA, dan aku memutuskan bahwa siapa pun Sri ini, dia boleh menelepon kapan saja.

Lalu tawa Ibu mereda. Suaranya turun. Ia berbalik membelakangi kami, menghadap jendela dapur yang gelap.

“... Iya. Iya, aku dengar. ... Ya Allah, Sri. Aku nggak tahu. ... Dua tahun? ...”

Hening lama. Ayah berhenti mencuci. Air keran mengalir sia-sia ke bak.

“... Terus sekarang dia gimana? ... Alhamdulillah. ... Iya. ... Iya, aku ngerti.”

Ibu mendengarkan lama sekali. Kepalanya mengangguk-angguk pelan. Lalu ia berkata, dengan suara yang sangat hati-hati, suara yang dipakainya waktu menawar harga di pasar dan tidak ingin kelihatan terlalu menginginkan barangnya:

“... Ada, Sri. Sulungku. Tiga puluh. ... Belum. ... Iya, belum sama sekali.”

Aku menurunkan lap.

“... Kerja, Sri. Kerjaaa terus. Pulangnya jam tujuh, tiap hari, nggak pernah meleset. ... Iya, beneran. Sembilan tahun.”

Hening lagi. Lalu Ibu tertawa kecil, aneh, seperti tidak percaya pada apa yang baru didengarnya.

“... Kamu serius? ... Sri, kamu belum lihat anaknya. ... Iya, aku tahu, tapi ... ya Allah. Ya Allah, Sri.”

Ibu menutup telepon. Ia berdiri diam beberapa saat, masih menghadap jendela. Lalu ia berbalik, dan wajahnya cerah, terlalu cerah, dengan semangat yang sepertinya baru saja dilahirkan kembali dari abu.

“Gas,” katanya.

Aku tahu nada itu. Aku sudah mendengarnya dua belas kali.

“Bu. Ibu barusan bilang Ibu nyerah.”

“Itu tadi.” Ibu melambaikan tangan, seolah lima belas menit adalah satu abad yang lalu. “Sabtu kamu kosong?”

“Bu.”

“Bagas Adinegara.”

Dari ruang tengah, suara Nisa memekik. “SABTU MAS KOSONG, BU! AKU UDAH CEK KALENDERNYA!”

Aku menatap Ayah. Ayah mematikan keran, mengeringkan tangannya dengan tenang, lalu menepuk bahuku dua kali.

Itu artinya: “Semoga beruntung, Nak. Ayah dulu juga begini.”