Chapter Fourteen
Izin
POV: Anjani
Bagas yang meminta ikut.
Kami sedang duduk di teras rumahku hari Kamis malam. Itu sudah jadi kebiasaan baru: setiap Selasa dan Kamis, setelah makan malam jam tujuh di rumahnya, ia menyetir ke rumahku jam delapan, duduk di teras selama satu jam, lalu pulang jam sembilan. Bapak menyebutnya “jam besuk”. Mama menyebutnya “jam pacaran”. Aku tidak menyebutnya apa-apa, karena kalau aku menamainya, aku harus mengakui bahwa aku menunggunya.
Malam itu aku bilang Sabtu aku tidak bisa bertemu.
“Ke Depok,” kataku. “Ke makam. Sebulan sekali.”
Ia mengangguk. Ia tidak bertanya apa-apa lagi. Ia menyesap teh melati tanpa gula yang sudah mulai bisa ia minum tanpa meringis, dan menatap pot-pot bunga Mama di halaman.
Lalu, setelah lama sekali, ia berkata pelan:
“Boleh saya ikut?”
Aku menoleh. “Ke makam?”
“Kalau boleh.”
“Kenapa?”
Ia meletakkan cangkirnya di meja kecil di antara kami. Kupingnya merah, tapi suaranya tenang.
“Saya mau izin,” katanya.
Hari Sabtu, ia menjemputku jam tujuh pagi.
Ia membawa ember.
Ember plastik hijau, ember yang biasa dipakai untuk mengepel. Di dalam ember itu: sapu lidi kecil, sikat, dua pasang sarung tangan karet, gunting rumput, sebotol cairan pembersih marmer, kain lap tiga lembar, dan sebotol besar air mawar.
Aku berdiri di depan pagar dan menatap ember itu lama.
“Mas mau bersih-bersih makam atau buka jasa cleaning service?”
“Saya nggak tahu harus bawa apa.” Ia menggaruk tengkuknya. “Saya tanya Ibu. Ibu bilang bawa air mawar. Saya tanya Nisa. Nisa bilang bawa bunga. Saya tanya Tomi ...”
“Tomi bilang apa?”
“Tomi bilang jangan ikut.” Ia menunduk ke ember itu. “Jadi saya bawa semuanya, kecuali yang Tomi bilang.”
Aku tidak tahu harus tertawa atau menangis. Jadi aku tertawa, dan ia tersenyum lega, dan kami berangkat ke Depok dengan sebuah ember pel hijau di jok belakang.
Pemakaman keluarga Ramadhan ada di pinggir Depok, di lahan wakaf di belakang sebuah masjid kecil. Tidak besar, mungkin seratus makam, dikelilingi pagar tembok putih yang catnya mulai mengelupas dan pohon-pohon kamboja tua yang akarnya mencuat dari tanah.
Penjaga makamnya Pak Udin, laki-laki tua bertubuh kecil dengan peci hitam yang warnanya sudah pudar menjadi abu-abu. Ia sudah mengenalku sejak dua tahun lalu. Waktu ia melihatku turun dari mobil, ia melambai dari pos jaganya. Lalu ia melihat Bagas turun dari sisi pengemudi, membawa ember pel hijau dengan dua tangan.
Pak Udin berhenti melambai.
Ia berjalan mendekat, pelan, dengan mata menyipit di balik kacamata tebalnya. Ia menatap Bagas dari atas ke bawah. Lalu menatap ember itu. Lalu menatapku.
“Neng,” katanya. “Ini adiknya almarhum? Yang guru?”
“Bukan, Pak. Itu Fadhil.”
“Oh.” Pak Udin menatap Bagas lagi. “Terus ini siapa? Tukang bersih-bersih?”
Bagas membuka mulut. Aku tahu persis apa yang akan keluar. Nama, jabatan, perusahaan, cabang.
Aku lebih cepat.
“Teman saya, Pak,” kataku. “Mau ikut doa.”
Pak Udin menatap Bagas lama sekali. Lalu, perlahan, ekspresinya berubah. Dari curiga menjadi heran, dari heran menjadi sesuatu yang lebih lembut, seperti orang tua yang baru menyadari sesuatu yang tidak perlu dijelaskan.
“Oh,” kata Pak Udin. “Teman.”
Ia menepuk lengan Bagas dua kali, lalu kembali ke pos jaganya sambil bergumam sesuatu dalam bahasa Sunda yang tidak bisa kudengar dengan jelas, tapi aku menangkap kata alhamdulillah.
Makam Fikri ada di barisan ketiga dari belakang, di bawah pohon kamboja yang paling besar. Nisan marmer putih itu masih bersih. Aku sudah membersihkannya bulan lalu. Hanya ada beberapa daun kering dan bunga kamboja yang jatuh di atasnya.
Bagas berhenti beberapa langkah di belakangku.
Aku berjongkok di samping nisan, menyapu daun-daun itu dengan tangan, lalu duduk di bangku semen kecil yang biasa kududuki. Aku menunggu Bagas mendekat.
Ia tidak mendekat. Ia berdiri di sana, memegangi ember hijau itu di depan dadanya dengan dua tangan, menatap nisan itu dengan wajah yang tidak bisa kubaca.
“Mas?”
“Ini ...” Suaranya pelan. “Ini dia?”
“Iya.”
Ia membaca tulisan di nisan itu. Bibirnya bergerak tanpa suara. Fikri Ramadhan bin Zainal Ramadhan. Wafat dalam tugas kemanusiaan. Aku melihatnya membaca baris terakhir dua kali, seperti orang yang tidak yakin ia membacanya dengan benar.
“Nggak ada tanggalnya,” katanya.
“Nggak ada yang tahu tanggal pastinya.”
Ia menatapku. Lalu menatap nisan itu lagi. Lalu, pelan sekali, ia meletakkan ember hijau itu di tanah, membuka sarung tangan karet dari dalamnya, dan memakainya.
Ia mulai membersihkan.
Aku tidak menyuruhnya. Ia tidak bertanya. Ia hanya berjongkok di sisi lain nisan, berhadapan denganku, dan mulai bekerja. Ia menyapu sisa-sisa daun dari sela-sela batu dengan sapu lidi kecil. Ia mencabuti rumput liar yang tumbuh di sekeliling batas makam, satu per satu, sampai ke akarnya. Ia menyemprotkan cairan pembersih ke marmer dan mengelapnya dengan kain, pelan, melingkar, seperti mengelap sesuatu yang bisa pecah. Ia membersihkan setiap huruf di nisan itu dengan ujung kain yang dilipat kecil, huruf demi huruf, sampai debu di sela-sela ukiran huruf F, I, K, R, I hilang semua.
Aku duduk di bangku semen dan memperhatikannya.
Ia bekerja dengan cara yang sama seperti ia melakukan segalanya: teliti, serius, tanpa bicara. Seperti sedang menyusun rute pengiriman. Seperti sedang memasak ayam kecap untuk pertama kalinya. Seperti sedang memegang tanganku di samping mobilnya, hati-hati, seperti memegang telur.
Tapi ada yang berbeda. Gerakannya lebih pelan. Lebih hormat. Ia membersihkan makam laki-laki yang membuatnya cemburu, laki-laki yang membuatnya menjatuhkan gelas teh, dengan kehati-hatian yang sama seperti membersihkan makam keluarganya sendiri.
Aku merasakan sesuatu naik di tenggorokanku.
Setengah jam kemudian, makam itu bersih. Lebih bersih dari yang pernah kubuat sendiri. Bagas melepas sarung tangannya, membuka botol air mawar, dan menuangkannya pelan-pelan di atas tanah makam, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Wangi mawar memenuhi udara pagi, bercampur dengan wangi bunga kamboja.
Lalu ia berlutut di samping nisan.
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak pernah melihat laki-laki lain berlutut di makam Fikri, kecuali Bapak mertuaku dan Fadhil. Aku duduk diam di bangku semen dan menahan napas.
Bagas menunduk. Bibirnya bergerak. Al-Fatihah, mungkin. Lalu doa yang lain. Aku tidak bisa mendengar.
Lalu ia mengangkat kepala dan menatap nisan itu. Dan ia mulai bicara. Bukan berdoa. Bicara. Seperti sedang bicara dengan seseorang yang duduk di depannya.
“Assalamualaikum, Mas Fikri,” katanya. Suaranya pelan tapi jelas. “Saya Bagas. Bagas Adinegara.”
Ia berhenti sebentar. Aku melihat bibirnya bergerak lagi, seperti ingin menyebut sesuatu, mungkin jabatan, mungkin nama perusahaan, lalu ia menutup mulutnya dan menggeleng kecil. Seolah ia baru saja menyadari bahwa di tempat ini, hal-hal semacam itu tidak berarti apa-apa.
“Saya bukan siapa-siapa,” katanya. “Saya bukan dokter. Saya nggak pernah nolong orang di tempat bencana. Saya kerja di gudang. Saya ngatur truk. Kerjaan saya membosankan. Kata Anjani, laporan stok saya bikin deg-degan saking membosankannya.”
Aku menutup mulut dengan punggung tangan.
“Saya nggak bisa nyelametin dunia kayak Mas,” lanjutnya. “Saya nggak punya keberanian kayak gitu. Saya cuma bisa pulang. Tiap hari. Jam tujuh. Itu satu-satunya yang saya bisa.”
Angin bergerak di pohon kamboja di atas kami. Beberapa bunganya jatuh. Satu jatuh di bahu Bagas. Ia tidak menyingkirkannya.
“Saya tahu Mas orang baik,” katanya. “Anjani cerita. Mas telat dua jam ke akad sendiri karena nolong orang. Mas bawa anak ayam dari Flores. Mas bilang teh juga boleh, asal dari kamu.” Ia diam sebentar. “Saya cemburu, Mas. Saya ngaku. Saya cemburu sama Mas. Saya malu. Tapi saya nggak mau bohong di depan Mas.”
Air mataku jatuh. Aku tidak tahu kapan mulainya.
“Saya nggak minta Mas digantikan,” kata Bagas. “Saya tahu saya nggak bisa gantiin Mas. Saya nggak mau. Mas tetap Mas. Tempat Mas tetap di sini.”
Ia menunduk sebentar. Lalu mengangkat kepalanya lagi.
“Saya cuma mau minta izin,” katanya. “Izin buat ada di sebelah dia. Izin buat bikinin dia sup kalau dia sakit. Izin buat nemenin dia kalau hujan. Izin buat ...” Suaranya pecah sedikit. Ia berdeham. “Izin buat sayang sama dia. Dengan cara saya. Cara orang gudang.”
Ia meletakkan telapak tangannya di atas nisan itu. Di atas nama Fikri.
“Saya izin, Mas,” katanya pelan. “Saya izin.”
Aku menangis.
Bukan tangis duka. Aku sudah lama selesai berduka. Tangis ini berbeda, sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya, sesuatu yang naik dari dadaku dan keluar lewat mata tanpa bisa ditahan, sesuatu yang rasanya seperti lega dan haru dan sedikit sakit, semuanya bercampur jadi satu.
Tidak ada yang pernah meminta izin.
Keluarga Ramadhan merencanakan pernikahanku dengan Fadhil tanpa bertanya apa yang kuinginkan, karena mereka terlalu sayang padaku untuk melepaskan. Mama merancang tameng tanpa bertanya apakah aku sanggup menjalaninya, karena Mama terlalu takut kehilangan aku lagi. Semua orang mencintaiku dengan cara yang membuatku harus menyesuaikan diri.
Laki-laki ini datang ke makam membawa ember pel dan meminta izin. Kepada orang yang sudah meninggal. Kepada orang yang tidak bisa menjawab.
Bagas mendengar aku menangis. Ia menoleh, dan wajahnya langsung panik.
“Anjani? Maaf. Saya salah ngomong? Saya ...”
Aku menggeleng. Aku tidak bisa bicara. Aku hanya menggeleng dan menutup wajah dengan tangan dan terus menangis, sementara ia berlutut di samping makam dengan bunga kamboja di bahunya, tidak tahu harus berbuat apa.
Ia tidak memelukku. Ia tidak menyentuhku. Ia hanya pindah, pelan-pelan, dari samping nisan ke samping bangku semen. Duduk di tanah. Di dekat kakiku. Diam. Menunggu.
Aku menangis sampai tangisnya habis sendiri.
Kami berjalan kembali ke mobil lewat jalan setapak di antara makam-makam. Jalan itu sempit, berbatu, dengan akar-akar pohon kamboja yang mencuat di sana-sini.
Bagas berjalan di depanku, membawa ember hijau yang sekarang kosong kecuali sapu lidi dan sarung tangan bekas.
Aku mengulurkan tangan dan memegang ujung kemejanya.
Bukan tangannya. Ujung kemejanya. Bagian bawah kemeja di punggungnya, yang tidak dimasukkan ke celana. Aku menggenggamnya di antara jari-jariku seperti anak kecil yang takut tersesat di pasar.
Ia berhenti. Ia menoleh ke belakang. Ia melihat tanganku di ujung kemejanya. Lalu ia menatap wajahku, yang aku yakin masih merah dan sembap dan berantakan.
Ia tidak bilang apa-apa. Ia hanya menoleh lagi ke depan dan berjalan lebih pelan. Sangat pelan. Supaya aku tidak perlu melepaskan.
Aku memegang ujung kemejanya sepanjang jalan itu. Melewati barisan makam. Melewati pohon-pohon kamboja. Melewati pos jaga Pak Udin, yang berdiri di depan posnya dengan peci abu-abu di tangan dan menatap kami dengan mata berkaca-kaca, dan yang berkata pelan waktu kami lewat, hati-hati di jalan, Neng. Hati-hati, A.
Aku baru melepaskannya di samping mobil.
Di mobil, di jalan tol Jagorawi menuju Bogor, kami diam lama.
Aku menatap ke luar jendela. Pohon-pohon di pinggir tol berlalu cepat. Langit Bogor di depan sudah mulai mendung, seperti biasa.
Aku menoleh dan menatapnya. Ia sedang menyetir dengan dua tangan di kemudi, posisi jam sepuluh dan jam dua, persis seperti di buku panduan mengemudi. Matanya lurus ke jalan. Kupingnya masih sedikit merah. Ada bekas tanah di lutut celananya, dari berlutut tadi.
“Mas,” kataku.
“Hm?”
“Terima kasih.”
Ia melirikku sebentar, lalu kembali ke jalan. “Buat apa?”
“Sudah izin.”
Ia tidak menjawab. Tapi aku melihat jakunnya bergerak, seperti menelan sesuatu.
Aku menyandarkan kepalaku ke jendela dan menatapnya dari samping. Wajahnya serius, fokus, menyetir dengan hati-hati seperti sedang membawa muatan yang mudah pecah. Dan aku merasakan sesuatu berubah di dalam diriku. Pelan. Pasti. Seperti pintu yang selama ini tertutup rapat, yang tiba-tiba engselnya bergerak sendiri.
“Mas tahu nggak,” kataku.
“Apa?”
“Sekarang Mas sudah izin.”
“Iya.”
“Berarti,” kataku, menurunkan suaraku sedikit, “sekarang Mas resmi boleh deg-degan sama saya.”
Mobil itu tersendat. Hanya sedikit. Kakinya mungkin tergelincir dari pedal gas sepersekian detik. Truk di belakang kami membunyikan klakson.
“Saya ...” Suaranya serak. “Saya sudah deg-degan dari awal.”
“Saya tahu,” kataku. “Tapi tadinya belum resmi.”
Ia tertawa. Tawa yang pendek, kaget, keluar begitu saja seperti tadi aku menangis. Lalu kupingnya berubah dari merah muda menjadi merah tua, dan merahnya merambat ke leher, ke rahang, ke pipi.
Aku tersenyum dan memejamkan mata.
Hujan turun di Ciawi. Gerimis tipis yang membasahi kaca depan. Bagas menyalakan wiper dan mengecilkan AC karena ia tahu aku gampang kedinginan. Aku tidak memberitahunya. Ia memperhatikan sendiri.
Aku tertidur sebelum masuk Bogor. Waktu aku bangun, mobil sudah berhenti di depan rumahku, mesin masih menyala, dan ada sesuatu yang hangat di bahuku.
Kemeja flanel kotak-kotak abu-abu. Kemeja yang kupinjam dan belum kukembalikan. Yang tadi pagi kubawa di tas karena kupikir akan dingin di Depok.
Ia mengambilnya dari tasku waktu aku tidur, dan menyelimutkannya ke bahuku.
Aku menoleh. Ia sedang duduk di kursi pengemudi, menatap jam di dasbor. Jam enam lewat lima.
“Mas pulang,” kataku dengan suara serak bangun tidur. “Nanti telat.”
“Masih ada waktu.”
“Kenapa nggak bangunin saya?”
Ia menatapku. Lalu, pelan, seperti mengakui sesuatu:
“Kamu tidurnya kelihatan tenang,” katanya. “Saya nggak tega.”
- 1 Jam Tujuh
- 2 Janji Arisan
- 3 Pertemuan Pertama
- 4 Tameng
- 5 Krisan Putih
- 6 Bekal Gosong
- 7 Calon Saya
- 8 Rencana Hujan
- 9 Jangan Korbankan Hidupmu
- 10 Sup Hari Kamis
- 11 Pasien Paling Bandel
- 12 Mas Lulus
- 13 Cemburu pada Orang Baik
- 14 Izin reading
- 15 Undangan yang Tidak Menyebut Namaku
- 16 Langkah Kuda
- 17 Persiapan Rahasia
- 18 Sekali, Umur Dua Tahun
- 19 Masih Tameng?
- 20 Bukan
- 21 Cincin
- 22 Mawar Kuning
- 23 Bukan yang Ditunggu
- 24 Administrasi Kepulangan
- 25 Maju Dua Langkah
- 26 Lampu Teras
- 27 Pintu Kedatangan
- 28 Catatan Terakhir
- 29 Kiriman Tanpa Nama
- 30 Krisan Putih, Kali Ini Benar
- 31 Restu
- 32 Janda Tahu Caranya
- 33 Bukan Pengganti
- 34 Proyek A, Versi Final
- 35 Malam Tanpa Jam Tujuh
- 36 Selamat Datang Pulang
- 37 Malam Pertama
- 38 Laporan Bulanan
- 39 Jam Tujuh, ke Rumah Kita
- 40 Proyek B
- 41 Epilog — Hujan