Chapter Thirty Nine

Jam Tujuh, ke Rumah Kita

POV: Bagas

Hari pertama masuk kerja setelah menikah, semua orang di gudang Cibinong menatapku seperti menatap truk yang baru keluar dari bengkel. Penasaran. Menilai. Mencari bagian yang berubah.

Pak Satpam memberi hormat dua jari di dahi waktu aku masuk gerbang. Anak-anak gudang bersiul dari balik tumpukan kardus. Dua perempuan berseragam polo dari bagian administrasi berbisik terlalu keras di dekat dispenser air: itu dia, itu dia, katanya rumahnya pagar hijau.

Tomi menungguku di depan ruanganku dengan dua cangkir kopi sachet.

“Selamat pagi, Bos,” katanya, menyodorkan satu cangkir. “Selamat datang kembali ke dunia orang yang kerja.”

“Pagi, Tom.”

“Bos kelihatan beda.”

“Beda gimana?”

Tomi menatapku dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Lalu ia mengerutkan kening. “Bos senyum.”

“Saya selalu senyum.”

“Bos nggak pernah senyum jam delapan pagi.” Tomi menyesap kopinya. “Bos senyum jam empat sore, pas jadwal bongkar muat selesai. Itu satu-satunya senyum Bos dalam sembilan tahun.”

Aku tidak menjawab. Aku masuk ke ruanganku dan duduk di kursiku. Di meja, di sebelah tumpukan map yang disusun berdasarkan warna, ada sesuatu yang tidak ada sebelum aku cuti.

Sebuah pot kecil. Kaktus bulat berduri emas. Kembaran yang ada di teras rumah.

Di bawahnya, secarik kertas ucapan bunga. Tulisan tangan yang rapi dan sedikit miring.

Kaktus itu sabar. Kamu juga. Pulang jam berapa?

Aku menatap kertas itu lama.

Dulu aku tidak perlu ditanya pulang jam berapa. Semua orang tahu. Jam tujuh. Sembilan tahun. Tidak pernah meleset.

Sekarang ada orang yang bertanya.


Hari itu berjalan normal. Lebih normal dari yang kuduga. Aku memimpin rapat koordinasi armada. Aku menandatangani surat jalan. Aku menelepon Pak Slamet di Surabaya, yang sekarang sudah tidak minta izin ke kamar mandi setiap kali ditanya soal stok. Aku menyebut tarif tol ketika maksudku tarif tol.

Jam lima sore, ponselku bergetar.

Istri: Mas pulang jam berapa?

Aku menatap nama kontak itu. Aku menggantinya tadi pagi, di parkiran, sebelum masuk kantor. Dari Anjani menjadi Istri. Aku menghabiskan sepuluh menit memutuskan apakah harus menulis Istri atau Istriku atau Jani. Aku memilih Istri, karena itu yang paling seperti surat dinas, dan aku tahu ia akan menertawakannya.

Ia belum tahu. Aku belum memberitahunya.

Aku: Jam tujuh.

Istri: Jam tujuh?

Aku: Kenapa?

Istri: Nggak apa-apa. Aku cuma mau dengar Mas ngomong itu.

Lalu, setelah jeda:

Istri: Ke rumah kita.

Aku meletakkan ponsel di meja dan menatap kaktus di sebelahnya. Durinya berkilau emas di bawah cahaya sore yang masuk dari jendela.

Ke rumah kita.


Aku meninggalkan kantor jam enam lewat dua puluh.

Seperti biasa. Sembilan tahun, aku meninggalkan kantor jam enam lewat dua puluh, supaya bisa sampai di rumah jam tujuh kurang empat menit kalau Jagorawi lancar, atau tepat jam tujuh kalau Jagorawi macet.

Jagorawi lancar.

Aku menyetir dengan dua tangan di kemudi, posisi jam sepuluh dan jam dua. Radio mati. Kaca jendela setengah terbuka. Angin sore Bogor masuk, membawa bau tanah dan asap knalpot dan sesuatu yang manis dari pohon-pohon di pinggir jalan.

Aku memikirkan Anjani. Aku memikirkan pagar hijau sage. Aku memikirkan dapur kecil dengan kertas HVS di dinding: API KECIL. JANGAN DITINGGAL. Tungku sebelah juga. Aku memikirkan tab kelima di spreadsheet Rumah Tangga, yang belum berani kubuka lagi sejak hari Minggu.

Aku keluar dari tol. Aku belok kanan di perempatan. Aku belok kiri di lampu merah. Aku belok kanan lagi di depan masjid. Aku masuk ke jalan kompleks. Aku melewati pos ronda. Aku melewati rumah Pak RT yang anjingnya selalu menggonggong. Aku melewati warung Bu Inah yang menjual gas elpiji.

Aku berhenti di depan pagar.

Pagar besi bercat cokelat tua. Yang catnya sudah mengelupas di bagian bawah, karena aku belum sempat mengecatnya ulang sejak tahun lalu.

Pagar rumah Ibu.

Aku menatap pagar itu.

Aku menatap jam di dasbor. Jam enam lewat empat puluh tiga.

Aku menatap pagar itu lagi.


Pintu depan rumah terbuka sebelum aku sempat mematikan mesin.

Ibu berdiri di ambang pintu. Ia memakai daster batik dan celemek. Di tangannya, centong nasi. Di belakangnya, Ayah, dengan sarung dan kacamata dan koran yang tidak dibaca.

Mereka berdua menatapku. Aku menatap mereka, dari balik kemudi, melalui kaca jendela yang setengah terbuka.

Hening.

Lalu Ibu berjalan ke pagar. Pelan. Dengan centong nasi di tangan. Ia berdiri di balik jeruji pagar cokelat tua itu, menatapku, dan aku melihat sudut bibirnya bergerak, seperti sedang menahan sesuatu yang sangat ingin keluar.

“Gas,” kata Ibu.

“Iya, Bu.”

“Salah rumah.”

Aku tidak bisa menjawab.

Di belakang Ibu, Ayah berdeham. Satu kali. Lalu, untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun, aku mendengar Ayah tertawa. Bukan kacamata yang turun. Bukan dehem. Tawa sungguhan, keras, dari perut, yang membuat koran di tangannya bergetar dan kacamatanya miring.

Ibu mulai tertawa juga. Ia memegangi pagar dengan satu tangan dan centong nasi dengan tangan yang lain, dan tertawa sampai matanya basah.

“Pulang, Gas,” katanya di sela tawa. “Pulang sana. Istrimu nunggu.”

Aku menatap mereka berdua. Ibu dan Ayah, di depan rumah yang sudah kupulangi setiap malam selama tiga puluh tahun. Rumah dengan meja makan tempat aku menyendokkan nasi untuk semua orang dan mengambil paling akhir. Rumah dengan kamar yang dindingnya tipis, tempat Ibu duduk di lantai di balik pintuku malam itu.

“Bu,” kataku. “Ibu sama Ayah makan malam apa?”

Ibu berhenti tertawa. Ia menatapku. Lalu ia tersenyum, senyum yang lembut dan sedikit sedih dan sangat bangga.

“Sayur sop,” katanya. “Berdua. Nggak ada piring yang disisain.”

Ayah meletakkan tangannya di bahu Ibu. Tidak menepuk. Hanya meletakkan.

“Sana,” kata Ayah. “Jam tujuh. Jangan telat.”


Aku memutar balik di depan rumah Pak RT. Anjingnya menggonggong. Aku tidak peduli.

Dari rumah Ibu ke rumah kami lima belas menit kalau lancar. Jam enam lewat empat puluh lima. Aku akan sampai jam tujuh tepat.

Aku tidak sampai jam tujuh tepat.

Lampu merah di perempatan Jalan Pajajaran macet. Ada angkot yang mogok di tengah persimpangan, dan polisi lalu lintas sedang mengatur arus dengan peluit dan tangan yang melambai-lambai. Aku duduk di mobil yang tidak bergerak dan menatap jam di dasbor.

Jam enam lewat lima puluh delapan.

Jam enam lewat lima puluh sembilan.

Jam tujuh.

Untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, jam tujuh datang dan aku masih di jalan.

Aku menunggu rasa panik itu datang. Rasa yang sama seperti di malam aku pulang dari Tugu Kujang dengan lampu hazard menyala, telat delapan menit, dengan Ibu yang menunggu di meja makan tanpa bertanya.

Rasa itu tidak datang.

Yang datang adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang ringan dan hangat dan sedikit menggelitik, seperti tawa yang tertahan di perut. Aku duduk di mobil yang tidak bergerak di perempatan Pajajaran, telat, dan aku tersenyum ke kaca depan.

Karena aku tahu ada seseorang yang menungguku.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak takut membuatnya menunggu sedikit.


Aku sampai di gang di belakang deretan toko jam tujuh lewat dua menit.

Lampu teras rumah keempat dari ujung sudah menyala. Kuning. Hangat.

Ia berdiri di ambang pintu.

Bukan di teras. Bukan di kursi rotan. Di ambang pintu, dengan satu bahu bersandar di kusen dan tangan terlipat di dada, seperti perempuan yang sudah menunggu dengan sabar dan sekarang sedang mempertimbangkan apakah kesabarannya akan diberi hadiah atau tidak.

Ia memakai daster. Daster katun berwarna krem dengan motif bunga-bunga kecil, daster yang tidak pernah kulihat sebelumnya, yang pasti dibelikan Bu Sri sebagai bagian dari barang bawaan pengantin. Rambutnya digerai, masih sedikit basah di ujung. Ia sudah mandi.

Aku memarkir mobil di depan pagar hijau sage. Aku mematikan mesin. Aku turun.

Ia tidak bergerak dari ambang pintu.

Aku membuka pagar. Engselnya berbunyi sedikit. Aku belum sempat meminyakinya. Aku mencatatnya di kepala: tab Risiko, engsel pagar. Lalu aku menghapusnya dari kepala, karena ia sedang menatapku dari ambang pintu dengan mata yang sedikit menyipit di ujung, dan aku tidak bisa memikirkan engsel.

Aku berjalan ke teras. Aku berhenti di depannya. Di anak tangga paling bawah, sehingga mataku sejajar dengan matanya.

“Assalamualaikum,” kataku.

“Waalaikumsalam.” Ia tidak bergerak. “Mas telat.”

“Macet. Ada angkot mogok di Pajajaran.”

“Dua menit.”

“Iya.”

Ia melirik jam di dinding ruang tamu di belakangnya. Lalu kembali menatapku.

“Kata Nisa,” katanya pelan, “Mas tadi ke rumah Ibu dulu.”

Aku menutup mataku. Tentu saja Nisa tahu. Tentu saja grup itu tahu. Ibu pasti sudah mengirim pesan sebelum aku sampai di perempatan pertama.

“Kebiasaan,” kataku.

“Sembilan tahun.”

“Iya.”

Ia menatapku lama. Lalu ia melepaskan lipatan tangannya di dada. Ia melangkah turun dari ambang pintu ke anak tangga teratas. Sekarang ia sedikit lebih tinggi dariku. Sekarang aku harus mendongak sedikit untuk menatapnya.

Ia meletakkan kedua tangannya di bahuku.

“Mas telat dua menit,” katanya.

“Maaf.”

“Nggak usah minta maaf.” Ia mendekatkan wajahnya. Pelan. Sampai napasnya menyentuh hidungku. Ia wangi sabun mandi dan sesuatu yang manis di bawahnya, dan eucalyptus, selalu eucalyptus. “Dendanya aku tagih di kamar.”


Ia menciumku di ambang pintu.

Bukan ciuman yang lembut. Bukan ciuman pertama yang kaku di kamar pengantin, atau ciuman pelajaran yang pelan di sofa abu-abu. Ciuman perempuan yang sudah menunggu seharian di rumah barunya, yang sudah mandi dan memakai daster baru dan berdiri di ambang pintu dari jam setengah tujuh, dan yang sekarang tidak mau menunggu lagi.

Tanganku menemukan pinggangnya. Tangannya menemukan kerah kemejaku. Aku naik satu anak tangga, lalu satu lagi, sampai aku berdiri di ambang pintu bersamanya, dan aku mendorong pintu itu tertutup di belakang kami dengan kaki, tanpa melepaskannya.

Aku mendengar sesuatu jatuh di teras sebelah. Mungkin selang air Bu RT. Mungkin Bu RT sendiri.

Aku tidak peduli.

Tasku jatuh di lantai ruang tamu. Kunci mobilku tidak sempat kugantung di tempatnya. Sepatuku masih kupakai sampai ia melepaskannya untukku, di lorong, sambil tertawa, karena tali sepatuku tersimpul mati dan ia tidak bisa membukanya dan aku tidak bisa membantunya karena tanganku sedang sibuk.

Aku tidak ingat sisanya dengan urut. Aku hanya ingat lampu kamar yang kuning dan redup. Daster krem bermotif bunga kecil di lantai. Tertawanya di telingaku waktu aku bertanya boleh?, dan jawabannya, Mas, ini denda, bukan izin.

Dan aku ingat satu hal lagi. Satu hal yang tidak akan pernah kulupakan.

Di tengah semua itu, ia berhenti. Ia menangkup wajahku dengan dua tangan, seperti aku menangkup wajahnya di teras malam lamaran. Ia menatapku dalam cahaya kuning yang redup. Matanya basah.

“Mas,” bisiknya.

“Hm?”

“Selamat datang di rumah.”


Kami makan malam jam sembilan lewat sepuluh.

Sayur asem yang sudah dingin. Ikan goreng yang sudah tidak renyah lagi. Sambal terasi yang dibuat Anjani sendiri di ulekan batu yang dibawakan Bu Sri. Nasi yang dimasak dengan rice cooker, karena Anjani sudah membaca petunjuknya tadi siang.

Tidak ada yang gosong.

Kami makan di meja kecil di dapur, dengan dua piring dan dua gelas teh tubruk yang sudah dingin juga. Ia memakai kemeja flanel kotak-kotak abu-abu. Aku memakai kaus yang ia pilihkan dari lemari, karena kemeja kerjaku entah ada di mana.

Aku menyendokkan nasi ke piringnya dulu. Lalu sayur. Lalu ikan.

Lalu, terakhir, ke piringku sendiri.

Ia memperhatikanku melakukannya. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum, dan mengambil centong dari tanganku, dan menyendokkan satu potong ikan lagi ke piringku. Yang paling besar.

“Mas makan duluan,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena di rumah ini,” katanya, menyendok sambal untukku juga, “yang ngambil terakhir gantian.”

Aku menatapnya. Lalu menatap piringku, yang sekarang lebih penuh dari piringnya.

Sembilan tahun aku mengambil paling akhir. Tiga puluh tahun, kalau dihitung sejak aku cukup besar untuk memegang centong.

Aku makan duluan.

Rasanya aneh. Rasanya enak.


Jam sepuluh malam, setelah piring dicuci berdua, ia mencuci dan aku membilas, dan jari kami bersentuhan setiap kali ia menyerahkan piring yang masih berbusa, dan tidak satu pun dari kami menganggapnya istimewa, aku duduk di sofa abu-abu dan membuka ponsel.

Pesan dari Ibu. Dikirim jam tujuh lewat lima.

Ibu: Gas, sudah sampai?

Aku belum membalas. Aku lupa. Tiga jam aku lupa membalas pesan Ibu. Pertama kalinya dalam hidupku.

Aku: Sudah, Bu. Maaf baru balas.

Balasan Ibu datang dalam tiga detik. Ibu belum tidur. Ibu menunggu.

Ibu: Nggak apa-apa. Ibu tahu kamu sudah sampai.
Ibu: Bu RT sebelah rumahmu itu temen pengajian Ibu.

Aku menatap pesan itu.

Ibu: Dia bilang kamu sampai jam 7 lewat 2. Terus pintunya langsung ditutup.
Ibu: Terus dia nggak lihat kamu keluar lagi sampai jam 9.

Aku meletakkan ponsel di sofa dengan layar menghadap ke bawah.

Dari dapur, Anjani menoleh. “Kenapa, Mas? Kuping Mas merah.”

“Nggak apa-apa.”

“Ibu?”

“Bu RT,” kataku. “Teman pengajian Ibu.”

Anjani menatapku. Lalu, pelan, ia mengerti.

Ia tertawa sampai harus duduk di lantai dapur.