Chapter Thirty Four

Proyek A, Versi Final

POV: Bagas

Aku bilang satu titik. Aku bilang tidak ada itinerary.

Aku tidak bilang tidak ada presentasi.


Hari Minggu jam tiga sore, ruang tamu keluarga Wardhani berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa kugambarkan dengan kata-kata yang ada di kamus logistik.

Aku datang jam dua untuk menyiapkan proyektor. Proyektor kantor, yang kupinjam dengan izin resmi dari kepala cabang, yaitu aku sendiri. Aku memasangnya di atas meja kecil di tengah ruang tamu, menghadap dinding putih di atas sofa, tempat Bu Sri sudah mencopot kalender bergambar Danau Toba untuk memberi ruang.

Jam dua lewat lima belas, Nisa datang dengan Reza dan Kiki dan dua tas besar berisi sesuatu yang tidak mau ia tunjukkan.

Jam dua lewat tiga puluh, Pak Kumis datang. Dengan gerobak baksonya. Ia mendorong gerobak itu sendiri dari Pajajaran ke Bogor Barat, kata Nisa belakangan, tiga kilometer, karena acara sepenting ini harus ada bakso, Neng, saya nggak percaya katering. Gerobak itu diparkir di halaman depan, di sebelah pot-pot bunga Bu Sri, dan asap kuah kaldunya mengepul ke udara sore.

Jam dua lewat empat puluh lima, Bu Iyah dari Otista datang membawa empat ember bunga. Mawar merah, mawar putih, bunga matahari, baby’s breath. Ia menolak dibayar. Ia menolak duduk. Ia langsung mulai merangkai di teras, bersama Anjani, yang keluar dari kamarnya dengan kebaya hijau zaitun dan rambut yang digelung rapi dan langsung berhenti di ambang pintu waktu melihat gerobak bakso di halaman.

Ia menatap gerobak itu. Lalu menatapku, yang sedang berjongkok di depan proyektor dengan kabel di tangan.

Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menutup mulutnya dengan tangan dan kembali masuk ke kamar. Dari balik pintu kamar, aku mendengarnya tertawa.

Jam tiga, Tomi datang dengan Pak Satpam. Mereka berdua memakai batik yang sama persis, karena, kata Tomi, kami pesan bareng di grup, Bos, biar kompak. Lalu Coach Rudi datang, dengan kaus olahraga di bawah kemeja batiknya, karena ia langsung dari kelas sore. Ia menghampiriku, menepuk punggungku dua kali, dan berbisik, tarik napas, Pak Bagas, buang lewat mulut, ini cuma satu set.

Jam tiga lewat lima belas, keluarga Ramadhan datang. Bu Aminah, Pak Zainal, Fadhil, dan Laila, yang sekarang berjalan di sebelah Fadhil tanpa jarak setengah langkah. Bu Aminah memeluk Bu Sri di teras. Lalu memeluk Ibu. Lalu memeluk Anjani, yang keluar lagi dari kamarnya. Lalu, untuk pertama kalinya, memelukku.

Jam tiga lewat dua puluh, sebuah mobil sewaan berhenti di depan pagar. Mbak Rara turun lebih dulu. Lalu Jannah. Lalu, dibantu Jannah dan sopir, Hanif. Dengan kruk. Tanpa kursi roda. Kakinya masih dibebat, tapi ia berjalan.

Ia berjalan ke arahku pelan-pelan, melewati gerobak bakso, melewati Bu Iyah dan ember-ember bunga, sampai ke teras. Lalu ia berhenti di depanku, menyandarkan kruknya ke tiang, dan menjabat tanganku dengan dua tangan.

“Saya nggak bisa nggak datang, Mas,” katanya. “Saya utang nyawa.”

“Mas nggak utang apa-apa.”

“Saya utang,” kata Hanif. Lalu ia tersenyum. “Tapi bayarnya nanti. Pas Mas punya anak. Saya jadi om yang paling galak.”

Jam tiga lewat tiga puluh, ruang tamu keluarga Wardhani berisi dua puluh tiga orang. Aku menghitungnya. Aku tidak bisa berhenti menghitung.


Nisa yang jadi MC.

Ia berdiri di depan dinding putih dengan mikrofon karaoke yang ia bawa dari rumah, mikrofon berwarna merah muda dengan lampu kelap-kelip. Ia memakai kebaya. Ia memegang buku kucing di tangan yang lain.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” katanya, dengan suara yang terlalu keras karena mikrofon karaokenya diatur ke volume maksimal. “Selamat datang di acara lamaran yang ... sudah ditunggu-tunggu oleh dua puluh tiga orang di ruangan ini, satu ayam di Depok, dan satu grup WhatsApp beranggota sebelas orang.”

Semua orang tertawa. Bu Aminah tertawa paling keras.

“Acara pertama,” kata Nisa, membuka buku kucingnya, “adalah presentasi.”

Ruangan itu tiba-tiba diam.

“Ya,” kata Nisa. “Presentasi. Masku mau presentasi. Di lamarannya sendiri.” Ia menatapku dengan wajah seorang adik yang sudah lama menyerah. “Silakan, Mas.”


Aku berdiri di depan dinding putih. Aku menyalakan proyektor. Layar biru muncul. Lalu slide pertama.

PROYEK A
Versi Final

Di bawahnya, lebih kecil: Disusun oleh Bagas Adinegara. Kepala Operasional. Belum pernah pacaran.

Seseorang tertawa. Mungkin Tomi. Lalu Hanif. Lalu semua orang.

Aku tidak melihat ke arah Anjani. Aku tidak berani. Ia duduk di sofa di antara Bu Sri dan Bu Aminah, di bawah dinding putih tempat slide-slideku ditampilkan, dan kalau aku melihatnya, aku akan lupa semua yang sudah kulatih semalaman di depan cermin.

Slide kedua.

LATAR BELAKANG
— Usia 30 tahun. Belum menikah.
— 12 kali dijodohkan. 12 kali gagal.
— Pulang jam 7 malam selama 9 tahun. Tidak pernah telat.
— Masalah: Tidak punya waktu jatuh cinta.

“Saya mulai file ini,” kataku, dengan suara yang lebih mantap dari yang kukira, “di hari Senin. Dua hari setelah pertama kali ketemu dia. Di kafe dekat Kebun Raya.”

Slide ketiga. Tangkapan layar dari spreadsheet asli. Tab Data Primer. Dengan tulisan yang kuketik di hari pertama.

Nama: Anjani Wardhani.
Usia: (perkiraan) 28–30.
Pekerjaan: florist. Studio cat hijau sage. Pajajaran.
Minuman: teh melati. Tanpa gula. JANGAN PERNAH PAKAI GULA.
Suka hujan. Benci becek.

Bu Sri mulai tertawa sambil menangis.

Slide keempat. Tab Risiko.

— Saya kaku. (Tinggi)
— Saya tidak berpengalaman. (Sangat tinggi)
— Saya tidak tahu apa yang dia suka. (Tinggi)
— Kupingku merah. (Tidak bisa dimitigasi)

Ruangan itu meledak. Coach Rudi tertawa sampai harus berpegangan pada bahu Pak Satpam. Kiki, di pangkuan Reza, menunjuk dinding dan berteriak, Om Jomblo kupingnya merah!, dan semua orang menoleh ke kupingku, yang tentu saja, pada saat itu, merah.

Slide kelima. Tab KPI.

Dia tertawa.
Minggu 1: 2 kali.
Minggu 2: 9 kali.
Minggu 3: 14 kali. (Termasuk krisan putih. Tertawa sampai jatuh dari kursi. Dihitung 3.)
Minggu 4–16: Berhenti menghitung. Tidak bisa dihitung lagi.

Aku melirik ke sofa untuk pertama kalinya.

Anjani menatap dinding. Wajahnya tertutup kedua tangan. Bahunya bergetar.

Bu Aminah, di sebelahnya, memeluk bahunya.


Slide keenam. Tab Timeline.

Bukan tangkapan layar. Aku mengetik ulang semuanya, satu per satu, karena aku ingin semua orang bisa membacanya.

Datang.
Lamar.
Langkah kuda. Jangan jalan lurus.

Lalu, di bawahnya, baris-baris yang kutambahkan semalam:

Mundur. (Salah.)
Ditunggu di teras 10 malam. (Bodoh tidak keluar.)
Dipegang tangannya di makam. (Akhirnya tidak mundur.)
Dicium di parkiran gudang. (Berdiri 9 menit. Mohon maaf kepada rapat jam 2.)

Tomi berdiri dan bertepuk tangan. Pak Satpam ikut berdiri. Lalu duduk lagi waktu Bu Sri menoleh.

Aku menelan ludah.

“Saya bikin banyak kesalahan,” kataku. “Saya mundur waktu seharusnya maju. Saya diam waktu seharusnya ngomong. Saya bikin dia nunggu. Dan dia ...” Suaraku mulai bergetar. “Dia sudah pernah nunggu terlalu lama. Dia nggak seharusnya nunggu lagi. Apalagi nunggu saya.”

Aku menatap Bu Aminah. Lalu Pak Zainal. Lalu Hanif, yang duduk di kursi di dekat pintu dengan kruk di sebelahnya dan tangan Jannah di bahunya.

“Saya nggak bisa gantiin siapa pun,” kataku. “Saya nggak mau. Saya cuma mau bikin tempat saya sendiri. Kata Bu Aminah.”

Bu Aminah mengangguk pelan, dengan mata basah.

Aku menekan tombol di laptop.


Slide terakhir.

Dinding putih di atas sofa berubah menjadi tampilan spreadsheet kosong. Satu tab. Satu kolom. Satu baris.

Di judul tab, di bagian bawah layar:

Proyek A — Versi Final.

Dan di satu-satunya sel yang terisi, A1, dengan huruf besar dan rata tengah:

Anjani. Selamanya.

Ruangan itu sunyi.

Bahkan Kiki diam. Bahkan Pak Kumis, yang berdiri di ambang pintu dengan centong kuah bakso di tangan, berhenti bergerak.

Aku mematikan proyektor. Dinding putih itu kembali putih. Lalu aku berjalan ke arah sofa, ke tempat Pak Hendra duduk di kursi santainya di sebelah Bu Sri, dan aku berlutut di depannya.

Aku tidak tahu bagaimana orang melamar. Aku tidak mencarinya di internet. Aku tidak bertanya ke Tomi. Aku hanya tahu satu hal: di keluarga Wardhani, orang yang paling lama tidur di kursi di depan pintu kamar Anjani adalah laki-laki di depanku ini.

“Om,” kataku. “Pak Hendra.”

Pak Hendra menatapku. Kacamatanya, yang biasanya tidak pernah turun, sudah turun ke ujung hidungnya. Aku tidak tahu sejak kapan.

“Saya mau minta izin,” kataku. “Menikahi Anjani.”

Pak Hendra tidak langsung menjawab. Ia menatapku lama. Lalu ia menoleh ke meja kecil di sebelah kursinya, tempat papan catur kayu sonokeling selalu diletakkan sejak aku memberikannya. Bidak-bidaknya sudah tersusun rapi di posisi awal.

Ia mengambil satu bidak. Kuda putih. Ia meletakkannya di telapak tanganku.

“Saya sudah jawab,” katanya pelan. “Lama. Di papan catur. Waktu kamu kalah dua kali dan nggak pernah berdiri sebelum selesai.”

Ia menutup jari-jariku di atas bidak kuda itu.

“Tanya dia sendiri, Nak,” kata Pak Hendra. “Itu haknya.”


Aku berdiri. Aku berbalik. Anjani sudah berdiri dari sofa.

Ia berdiri di depanku. Kebaya hijau zaitun. Rambut yang digelung rapi, tapi beberapa helai sudah lepas di dekat telinga. Wajahnya basah. Matanya merah. Tahi lalat kecil di bawah mata kirinya.

Cantik bukan kata yang cukup. Belum pernah cukup.

Aku mengeluarkan cincin emas putih dari saku kemejaku. Bukan cincinnya. Cincinku. Yang kulepas di teras belakang rumah ini, berminggu-minggu yang lalu.

Aku tidak berlutut lagi. Aku menyodorkan cincin itu kepadanya. Di telapak tanganku, di sebelah bidak kuda putih dari Pak Hendra.

“Jani,” kataku. “Pasangin lagi.”

Ia menatap cincin itu. Lalu menatapku.

“Biar saya tahu rasanya diikat,” kataku. “Lagi.”

Ia mengambil cincin itu dari telapak tanganku. Ia memegang tangan kiriku. Tangannya gemetar. Tanganku gemetar. Tangan kami berdua berkeringat, dan tidak ada yang peduli.

Ia memasukkan cincin itu ke jari manisku. Pelan. Melewati buku jari. Sampai ke pangkal.

Lalu ia tidak melepaskan tanganku.

“Mas nggak nanya apa-apa,” katanya pelan.

“Belum.”

“Tanya.”

Aku menatapnya. Dua puluh tiga orang di ruangan ini menahan napas. Aku bisa mendengar uap kuah bakso mendesis di halaman.

“Anjani Wardhani,” kataku. “Mau nikah sama saya?”

Ia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengangkat tangan kirinya, dengan cincin emas putih yang tidak pernah ia lepas, dan menunjukkannya kepadaku.

Lalu, akhirnya:

“Kali ini,” katanya, “saya kencengin ikatannya.”


Ruangan itu meledak lagi.

Tomi berdiri dan bertepuk tangan. Pak Satpam berdiri. Coach Rudi berteriak SATU LAGI!, lalu sadar itu bukan konteks yang tepat, lalu tetap berteriak. Pak Kumis memukul centong ke panci kuah. Bu Iyah melemparkan kelopak mawar dari ember. Nisa menangis ke mikrofon karaoke, dan tangisnya keluar dari pengeras suara dengan efek gema. Kiki melompat-lompat di pangkuan Reza dan berteriak, Om Jomblo udah nggak jomblo! Om Jomblo udah nggak jomblo!

Ibu memeluk Bu Sri. Bu Sri memeluk Bu Aminah. Bu Aminah memeluk Ibu. Tiga ibu, berpelukan di tengah ruang tamu, menangis.

Ayah menurunkan kacamatanya sampai jatuh ke lantai. Tidak ada yang mengambilnya.

Pak Hendra dan Pak Zainal berjabat tangan di pojok, di sebelah papan catur, dengan wajah dua laki-laki tua yang sama-sama baru saja kalah dalam permainan yang sangat lama dan sangat senang karenanya.

Hanif, di dekat pintu, menunduk dan menangis di bahu Jannah.

Fadhil menatapku dari seberang ruangan, mengangkat jempol, lalu menoleh ke Laila dan berkata sesuatu yang membuat Laila memukul lengannya lagi.


Lalu Bu Sri berhenti menangis.

Ia melepaskan pelukan dari Ibu dan Bu Aminah. Ia berjalan ke rak di sudut ruang tamu, rak tempat album-album foto lama disimpan, dan mengambil sesuatu.

Album foto. Sampulnya kain biru yang sudah pudar, dengan tulisan tangan di bagian depan: Arisan Komplek Melati, 1996–1999.

“Tih,” kata Bu Sri. Suaranya aneh. “Tih, sini.”

Ibu mendekat. Bu Sri membuka album itu di atas meja kecil, di sebelah proyektor. Halaman demi halaman. Foto-foto dua perempuan muda berkerudung model tahun sembilan puluhan. Foto-foto anak-anak di atas tikar. Foto-foto kue dan teh dan tawa.

Lalu Bu Sri berhenti di satu halaman.

Di halaman itu, ada foto yang sama dengan yang ia bawa ke rumahku di hari pertama. Anak laki-laki gendut menangis. Bayi perempuan dengan biskuit.

Tapi di bawah foto itu, di kertas album yang sudah menguning, ada tulisan tangan. Dua tulisan tangan yang berbeda. Dengan pulpen biru yang sudah luntur.

Bu Sri membacanya keras-keras, dengan suara yang bergetar:

“Kalau Bagas sama Anjani besar nanti jodoh, kita besanan ya, Tih. Janji. — Sri.”

Di bawahnya, tulisan tangan yang lain. Lebih rapi. Lebih kecil.

“Janji. — Ratih. 12 April 1998.”

Ruangan itu sunyi lagi.

Ibu menatap tulisan itu. Ibu menatap tulisan tangannya sendiri, dari dua puluh delapan tahun yang lalu, waktu ia masih muda dan berkerudung model tahun sembilan puluhan dan tertawa di arisan.

“Sri,” bisik Ibu. “Kita nulis ini?”

“Kita nulis ini,” kata Bu Sri. “Aku nggak ingat. Sumpah, Tih, aku nggak ingat sama sekali. Aku nemu tadi pagi, pas nyari foto buat acara ini.”

Mereka saling menatap.

Lalu Ibu mulai tertawa. Lalu Bu Sri. Lalu keduanya tertawa dan menangis bersamaan, berpelukan di atas album foto yang terbuka, seperti dua anak SMA yang baru saja menemukan surat yang mereka tulis untuk diri mereka sendiri di masa depan.

“Ternyata kita nggak bohong, Tih,” kata Bu Sri di sela tawa dan tangis. “Ternyata kita nggak bohong.”


Malam itu, setelah semua orang makan bakso Pak Kumis, setelah Bu Iyah merangkai bunga matahari di setiap sudut rumah, setelah Hanif dan Jannah pulang dan Fadhil dan Laila pulang dan Tim Sukses pulang satu per satu sambil memeluk-meluk aku seperti aku baru saja menang lotre, aku berdiri di teras depan rumah keluarga Wardhani bersama Anjani.

Hanya kami berdua. Di bawah lampu teras.

Jam enam lewat dua puluh lima.

Ia berdiri di depanku. Aku menatapnya. Ia menatapku.

Lalu aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan. Aku mengangkat kedua tanganku dan menangkup wajahnya. Pelan. Hati-hati. Seperti memegang telur.

Aku menunduk. Dan aku mencium keningnya.

Lama. Lebih lama dari yang diperlukan. Seperti ia merapikan kerah kemejaku di studio, pertama kali.

Kulitnya hangat. Rambutnya wangi eucalyptus. Aku merasakan ia memejamkan mata di bawah bibirku.

Lalu aku melepaskannya.

Ia membuka matanya. Ia menatapku dengan wajah yang belum pernah kulihat. Bukan tenang. Bukan menggoda. Bukan menahan tawa.

Kaget. Benar-benar kaget. Seperti di kamar waktu aku demam dan bilang demam saya naik lagi.

Pipinya merah.

“Mas,” katanya pelan.

“Hm?”

“Itu ...”

“Cicilan,” kataku.

Ia menatapku lama. Lalu ia tertawa, keras, tidak terkendali, sampai ia harus berpegangan pada lenganku supaya tidak jatuh.

Di dalam rumah, dari balik gorden yang bergerak, aku mendengar suara pulpen yang menulis sangat cepat.

Lalu suara Ayah, berdeham.

Satu kali.

Artinya: jam setengah tujuh, Gas. Pulang.