Chapter Thirty Seven
Malam Pertama
POV: Anjani
Ia tidak memberitahuku ke mana kami akan pulang.
Resepsi selesai jam empat sore. Tamu-tamu pulang satu per satu. Pak Kumis mendorong gerobak baksonya yang sudah kosong kembali ke Pajajaran, sambil bersiul. Bu Iyah membawa pulang sisa bunga untuk dijual lagi besok, biar nggak mubazir, Neng. Tim Sukses berfoto bersama di depan lengkungan bunga matahari, dengan Coach Rudi di tengah mengangkat Tomi seperti piala.
Hanif dan Jannah pamit terakhir. Jannah memelukku lama di teras dan berbisik, Mbak, makasih udah minjemin nama Mbak ke suami saya selama dua tahun. Dia nyebut Jan terus, saya kira buat saya. Ternyata separuhnya buat Mbak. Lalu ia tertawa, basah, dan memelukku lagi.
Jam lima, Mama dan Bapak berdiri di teras. Mama memelukku. Bapak tidak. Bapak hanya menatapku lama, lalu menatap Bagas, lalu mengangguk sekali, lalu masuk ke dalam rumah tanpa menoleh.
Mama yang menjelaskan, sambil menyeka mata: Bapakmu nggak bisa lihat kamu pergi, Jan. Dia di kamar mandi.
Lalu aku masuk ke mobil sedan abu-abu itu. Dengan koper kecil di jok belakang, sebuah tas berisi barang-barang yang tidak bisa kutinggalkan, dan kemeja flanel kotak-kotak abu-abu yang kulipat rapi di pangkuanku.
“Kita ke mana, Mas?”
“Pulang,” katanya.
“Ke mana?”
Ia tidak menjawab. Kupingnya merah.
Kami tidak ke rumah keluarga Adinegara. Aku tahu, karena di perempatan Jalan Pajajaran ia tidak belok kanan ke arah Bogor Utara. Ia belok kiri. Ke arah studioku.
Ia melewati studioku. Melewati warung bakso Pak Kumis yang sudah tutup. Melewati toko kacamata dan konter pulsa. Lalu ia belok ke sebuah gang di belakang deretan toko. Gang yang cukup lebar untuk satu mobil, dengan rumah-rumah kecil berderet di kedua sisinya, pot-pot bunga di teras, jemuran di pagar, anak-anak yang bermain sepeda di bawah lampu jalan yang baru menyala.
Ia berhenti di depan rumah keempat dari ujung.
Rumah kecil. Satu lantai. Atap genteng merah yang sudah tua tapi baru dibersihkan. Teras kecil dengan dua kursi rotan dan meja kecil di antaranya. Lampu teras kuning yang sudah menyala.
Dan pagar besi. Pendek, sebatas pinggang. Dicat baru.
Hijau sage.
Aku menatap pagar itu. Aku tidak bisa bergerak.
“Kontrak dua tahun,” katanya pelan, menatap kemudi, tidak menatapku. “Dua kamar. Satu dapur. Kamar mandinya kecil, airnya kadang mati kalau jam enam pagi, kata Bu RT. Sepuluh menit jalan kaki ke studio kamu. Lima belas menit nyetir ke rumah Ibu. Dua puluh menit ke rumah Mama kamu.”
Aku masih menatap pagar itu.
“Pagarnya aku cat sendiri,” katanya. Suaranya semakin pelan. “Hari Minggu. Tiga minggu lalu. Aku bandingin tiga katalog warna. Yang paling mirip studio kamu, yang ini.”
Aku menoleh dan menatapnya.
Ia masih menatap kemudi. Kupingnya merah tua.
“Kalau kamu nggak suka, kita cari yang lain,” katanya cepat. “Aku cuma ... aku mau kamu punya pintu yang warnanya kamu kenal. Biar tiap kali kamu pulang, kamu tahu ini rumah kamu.”
Aku tidak bisa bicara. Aku membuka pintu mobil dan keluar dan berdiri di depan pagar hijau sage itu dan menyentuhnya dengan ujung jari. Catnya halus. Rata. Tanpa satu pun tetesan yang meleleh. Dicat oleh tangan seseorang yang membandingkan tiga katalog warna dan mengecat dengan presisi yang sama seperti ia menyetrika kemeja.
Ia berdiri di belakangku.
Aku berbalik. Aku memeluknya. Di depan pagar. Di depan Bu RT yang sedang menyiram tanaman di teras sebelah dan langsung berhenti menyiram. Di depan tiga anak yang bermain sepeda dan langsung berhenti mengayuh.
“Aku suka,” kataku ke dadanya.
Ia diam. Lalu tangannya melingkar di punggungku.
“Kamu bilang aku,” katanya.
Aku mengangkat kepala dan menatapnya. Aku tidak sadar. Tiga bulan aku memanggilnya Mas dan diriku saya, seperti perempuan dewasa yang sopan, seperti janda yang tahu caranya. Dan tiba-tiba, di depan pagar hijau sage, kata itu keluar sendiri.
“Kamu duluan,” kataku. “Semalam.”
Ia tersenyum. Senyum yang kecil dan miring dan sangat malu.
“Iya,” katanya. “Aku duluan.”
Di dalam, rumah itu kecil dan bersih dan wangi cat baru dan sabun lantai.
Ruang tamu dengan sofa dua dudukan berwarna abu-abu. Rak buku kecil yang isinya sudah separuh terisi: buku-buku manajemen rantai pasok dan novel silat lama di rak atas, dan di rak bawah, kosong, dengan secarik kertas ditempel di sana: untuk buku kamu. Dapur kecil dengan kompor dua tungku dan rak bumbu yang tersusun berdasarkan abjad. Di sebelah kompor, sebuah kaleng teh kecil berwarna hijau tua dengan tulisan yang sudah pudar.
Teh tubruk Slawi. Dari Bapak.
Dan di dinding dapur, di atas kompor, ditempel dengan selotip, secarik kertas HVS dengan tulisan spidol hitam yang sangat kukenal:
API KECIL. JANGAN DITINGGAL.
Tanpa jangan buka HP. Bagian itu sudah dicoret.
Aku menatap kertas itu dan tertawa.
“Kenapa dicoret?” tanyaku.
Ia menggaruk tengkuknya. “Sekarang yang chat sudah di rumah.”
Ia membuat teh. Tentu saja ia membuat teh. Itu yang ia lakukan setiap kali tidak tahu harus berbuat apa dengan tangannya.
Aku duduk di sofa abu-abu dan menontonnya dari ruang tamu. Ia berdiri di depan kompor dengan kemeja putih yang sudah ia ganti dari beskap, lengan digulung sampai siku. Ia menunggu air mendidih. Ia menunggu satu menit sampai gelembungnya berhenti. Ia menuang dari pinggir cangkir. Ia menutup dengan piring kecil.
Lalu ia melirik jam tangannya.
Bukan untuk teh. Aku tahu. Tiga menit untuk teh tidak perlu dilihat di jam. Ia sudah hafal.
Ia melirik jam tangannya karena jam tujuh kurang lima menit.
Aku melihat bahunya menegang. Sedikit. Hampir tidak terlihat. Seperti otot yang ingat sesuatu sebelum pikirannya ingat. Sembilan tahun. Sembilan tahun, setiap hari, jam tujuh kurang lima menit adalah saat ia memarkir mobil di garasi rumah orang tuanya, melepas sepatu, menggantung kunci, dan duduk di kursi sebelah kiri ayahnya.
Malam ini ia di dapur kecil di sebuah gang di belakang Pajajaran, membuat teh untuk istrinya.
Ia membawa dua cangkir ke ruang tamu. Ia meletakkannya di meja kecil di depan sofa. Ia duduk di sebelahku. Tidak terlalu dekat. Ada jarak satu jengkal di antara kami.
Satu jengkal. Setelah semua jarak yang pernah ada. Tiga meter di teras. Satu meter dengan meja kecil di antaranya. Satu jengkal.
Tangannya di pangkuan. Gemetar.
Aku menatap tangannya. Lalu menatap jam tangan di pergelangan kirinya. Jam tangan sederhana berbingkai perak. Jarum panjangnya bergerak, pelan, ke angka dua belas.
Jam tujuh.
Ia melirik jam itu lagi.
Aku meletakkan cangkir tehku.
Aku mengulurkan tangan dan mengambil tangan kirinya. Pelan. Aku mengangkatnya ke pangkuanku. Aku membuka gesper jam tangannya, satu per satu lubangnya, sampai jam itu lepas dari pergelangannya. Kulit di bawahnya lebih pucat, dengan bekas garis tali jam yang sudah sembilan tahun tidak pernah dilepas lebih dari waktu mandi.
Aku meletakkan jam tangan itu di meja kecil. Di sebelah cangkir teh. Dengan layar menghadap ke bawah.
Ia menatap jam itu. Lalu menatapku.
“Jani ...”
“Mas,” kataku pelan. “Matikan spreadsheet di kepala Mas.”
Ia diam.
Aku menggeser tubuhku. Satu jengkal itu hilang. Aku duduk sangat dekat sekarang, cukup dekat sehingga lututku menyentuh lututnya, sehingga bahuku menyentuh bahunya, sehingga aku bisa merasakan tubuhnya menegang seperti tiang tenda.
Aku mengangkat tanganku dan menyentuh pipinya. Dari pelipis ke rahang. Pelan. Seperti waktu ia demam.
“Malam ini,” bisikku, “nggak ada SOP.”
Ia menatapku. Matanya bergerak, seperti mencari sesuatu di wajahku. Tangannya, yang tadi di pangkuan, sekarang di sofa di sebelahku, mencengkeram kain sofa abu-abu.
“Aku nggak tahu caranya,” katanya. Suaranya hampir tidak terdengar.
“Aku tahu,” kataku.
“Aku takut salah.”
“Mas sudah salah banyak.” Aku tersenyum. “Bawa krisan putih. Gosongin ayam. Mundur pas harusnya maju. Kirim mawar kuning.” Ibu jariku bergerak di tulang pipinya. “Tiap salah, Mas belajar. Cepat.”
Ia tertawa kecil. Napasnya bergetar.
“Laki-laki yang mau belajar di dapur,” bisikku, lebih dekat, sampai bibirku hampir menyentuh telinganya, “biasanya cepat belajar hal lain juga.”
Ia memejamkan mata.
“Itu yang dulu kamu bilang,” katanya.
“Iya.”
“Waktu aku tersedak.”
“Iya.”
Ia membuka matanya dan menatapku. Dan aku melihat sesuatu berubah di matanya. Ketakutan itu tidak hilang. Tapi di bawahnya, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang sama seperti di kafe dekat Kebun Raya, waktu ia bilang saya nggak mau ini jadi satu kali saja dengan suara yang terlalu cepat dan terlalu jujur.
Keberanian.
“Ajarin aku,” katanya.
Aku menciumnya.
Bukan seperti tadi siang, di kamar pengantin, dengan hidung yang membentur dan napas yang ditahan. Kali ini aku yang memimpin. Pelan. Sabar. Seperti mengajari seseorang menuang teh dari pinggir cangkir, supaya tidak tumpah, supaya ampasnya tidak naik.
Ia kaku di detik pertama. Di detik kedua, ia mengikuti. Di detik ketiga, tangannya yang mencengkeram kain sofa melepaskan cengkeramannya dan naik, pelan, gemetar, ke pinggangku.
Di detik kelima, ia berhenti menahan napas.
Di detik kesepuluh, aku yang lupa bernapas.
Aku tidak tahu kapan ia belajar. Aku tidak tahu kapan tangan yang kaku itu berubah. Aku tidak tahu kapan ciuman yang tadinya pelajaran berubah menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang membuatku harus mencengkeram kerah kemejanya, sesuatu yang membuat lututku tidak lagi menyentuh lututnya karena entah bagaimana aku sudah tidak duduk di sofa lagi.
Laki-laki yang mau belajar memang cepat belajar.
Aku menarik diri sebentar. Hanya sebentar. Cukup untuk menatapnya. Napasnya berat. Wajahnya merah sampai ke leher. Rambutnya berantakan karena tanganku. Kerah kemeja putihnya kusut karena tanganku juga.
Matanya gelap. Tidak takut lagi.
“Jani,” katanya. Serak.
Aku tidak menjawab. Aku berdiri dari sofa. Aku mengulurkan tangan.
Ia menatap tanganku. Lalu menatap jam tangan di meja kecil, yang masih tertelungkup, yang tidak lagi menunjukkan jam berapa pun.
Lalu ia menggenggam tanganku dan berdiri.
Di kamar, lampunya kuning dan redup. Ia sudah menggantinya juga. Aku tahu, karena bohlam di lampu kamar itu sama dengan bohlam di lampu teras rumah keluarga Adinegara. Yang ia pasang malam itu, untuk perempuan yang duduk dalam gelap.
Tempat tidurnya baru. Seprainya putih. Di atas bantal, terlipat rapi, ada sesuatu yang membuatku berhenti di ambang pintu.
Kemeja biru muda.
Kemeja itu. Yang ia pakai pertama kali datang ke studio. Yang kerahnya kurapikan terlalu lama. Yang tergantung di belakang pintu kamarnya selama berbulan-bulan, tidak pernah dicuci.
Sudah dicuci sekarang. Disetrika. Dilipat. Di saku dadanya, terselip setangkai tangkai mawar kering. Tanpa kelopak. Hanya tangkai.
“Aku cuci kemarin,” katanya pelan, di belakangku. “Wanginya sudah hilang.”
Aku menoleh dan menatapnya.
“Nggak apa-apa,” katanya. Kupingnya merah. “Mulai sekarang wangi kamu ada di mana-mana.”
Aku tidak akan menceritakan sisanya.
Bukan karena aku malu. Aku janda. Aku sudah pernah menikah. Aku tahu persis apa yang terjadi di malam pertama, dan aku tidak malu.
Aku tidak akan menceritakannya karena malam itu milik kami. Milik laki-laki yang gemetar dan perempuan yang tertawa pelan di telinganya waktu tangannya tersangkut di kancing kebaya. Milik laki-laki yang bertanya boleh? tiga kali, dengan suara yang semakin serak, dan perempuan yang menjawab Mas, kita sudah nikah tiga kali, dengan suara yang semakin lembut. Milik dua orang yang sama-sama belajar sesuatu yang baru: ia, untuk pertama kalinya; aku, untuk pertama kalinya dengan seseorang yang memegangku seperti memegang telur, dan yang belajar dengan cepat kapan harus berhenti memegang seperti itu.
Hujan turun di tengah malam. Hujan Bogor. Tidak permisi. Langsung deras, berdentam di genteng merah yang tua.
Aku terbangun karenanya. Kepalaku di dadanya. Jantungnya berdetak pelan sekarang. Teratur. Tidak seperti genset gudang lagi. Seperti jam dinding di ruang makan rumah orang tuanya, yang berdetak setiap detik selama tiga puluh tahun.
Ia sudah bangun. Aku tahu dari napasnya.
“Mas.”
“Hm?”
“Ngapain belum tidur?”
Hening. Lalu, sangat pelan, seperti orang yang mengaku dosa:
“Nunggu kamu nilai.”
Aku mengangkat kepala dari dadanya dan menatapnya dalam gelap. Aku bisa melihat bentuk wajahnya di bawah cahaya lampu jalan yang masuk dari celah gorden. Matanya terbuka. Menatapku. Cemas.
Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Aku tertawa sampai harus menyembunyikan wajahku lagi di dadanya, sampai tubuhku bergetar, sampai ia ikut tertawa meskipun tidak tahu apa yang lucu.
“Itu nggak dinilai, Mas,” kataku di dadanya.
“Kenapa?”
“Karena,” kataku, mengangkat kepala lagi, mencium dagunya, lalu rahangnya, lalu sudut bibirnya, “aku nggak mau kamu berhenti latihan.”
Hujan terus turun.
Di ruang tamu, di meja kecil di sebelah dua cangkir teh yang sudah dingin, jam tangan berbingkai perak masih tertelungkup. Tidak menunjukkan jam berapa pun.
Untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, ia tidak tahu jam berapa ia pulang.
Ia hanya tahu ia sudah di rumah.
- 1 Jam Tujuh
- 2 Janji Arisan
- 3 Pertemuan Pertama
- 4 Tameng
- 5 Krisan Putih
- 6 Bekal Gosong
- 7 Calon Saya
- 8 Rencana Hujan
- 9 Jangan Korbankan Hidupmu
- 10 Sup Hari Kamis
- 11 Pasien Paling Bandel
- 12 Mas Lulus
- 13 Cemburu pada Orang Baik
- 14 Izin
- 15 Undangan yang Tidak Menyebut Namaku
- 16 Langkah Kuda
- 17 Persiapan Rahasia
- 18 Sekali, Umur Dua Tahun
- 19 Masih Tameng?
- 20 Bukan
- 21 Cincin
- 22 Mawar Kuning
- 23 Bukan yang Ditunggu
- 24 Administrasi Kepulangan
- 25 Maju Dua Langkah
- 26 Lampu Teras
- 27 Pintu Kedatangan
- 28 Catatan Terakhir
- 29 Kiriman Tanpa Nama
- 30 Krisan Putih, Kali Ini Benar
- 31 Restu
- 32 Janda Tahu Caranya
- 33 Bukan Pengganti
- 34 Proyek A, Versi Final
- 35 Malam Tanpa Jam Tujuh
- 36 Selamat Datang Pulang
- 37 Malam Pertama reading
- 38 Laporan Bulanan
- 39 Jam Tujuh, ke Rumah Kita
- 40 Proyek B
- 41 Epilog — Hujan