Chapter Thirteen
Cemburu pada Orang Baik
POV: Bagas
Pelatih gym-ku bernama Coach Rudi, dan aku yakin ia dikirim ke dunia ini untuk menghukumku atas semua dosa yang belum kulakukan.
“Satu lagi, Pak Bagas! Satu lagi!”
“Itu ... yang ... kamu bilang ... lima kali ... tadi.”
“Itu tadi! Ini satu lagi yang beda!”
Aku sedang berbaring di bangku, mendorong batang besi dengan beban yang menurut Coach Rudi “ringan, buat pemanasan” dan menurut lenganku “kekerasan dalam rumah tangga”. Keringat mengalir dari dahiku ke telinga. Di cermin raksasa di depanku, aku melihat seorang laki-laki tiga puluh tahun dengan wajah merah padam, kaus abu-abu yang basah kuyup, dan ekspresi orang yang sedang mempertanyakan seluruh pilihan hidupnya.
“Kenapa sih Pak Bagas tiba-tiba daftar?” tanya Coach Rudi sambil menahan batang besi supaya tidak jatuh ke dadaku. “Biasanya orang daftar gym karena dua hal. Mau kurus, atau mau nikah.”
Aku tidak menjawab. Aku tidak punya napas untuk menjawab.
Coach Rudi menatapku dari atas. Lalu ia tersenyum lebar, senyum seorang laki-laki yang sudah melihat ribuan laki-laki lain berbaring di bangku yang sama dengan alasan yang sama.
“Oh,” katanya. “Yang kedua.”
“Saya ... belum ... nikah.”
“Belum.” Coach Rudi mengangguk bijak. “Belum itu artinya mau.”
Anjani tidak tahu aku pergi ke gym setiap pagi jam lima sebelum kerja. Atau lebih tepatnya, aku kira Anjani tidak tahu.
Hari Minggu sore, waktu aku datang ke studio untuk menjemputnya, hal pertama yang ia lakukan setelah membukakan pintu adalah meremas lengan atasku. Begitu saja. Tanpa salam. Seperti ibu-ibu di pasar memeriksa mangga.
“Hmm,” katanya.
“Apa?”
“Nisa bilang Mas sudah tiga minggu ke gym.”
Tentu saja Nisa bilang.
“Kelihatan?” tanyaku sebelum bisa mencegah diriku sendiri.
Ia meremas lenganku sekali lagi, lebih lama. Lalu ia melepaskannya, berbalik ke meja kerja, dan berkata tanpa menoleh:
“Belum. Tapi lanjutin.”
Aku tidak tahu apakah itu pujian atau hinaan. Tapi aku memutuskan untuk menambah satu sesi seminggu.
Studio tutup hari Minggu, tapi Anjani sedang menyelesaikan pesanan bunga untuk akad nikah besok pagi. Dua belas buket kecil untuk pagar ayu, mawar putih dan baby’s breath, diikat dengan pita satin warna gading. Ia memintaku menunggu sebentar, “setengah jam lagi”, dan aku tahu dari pengalaman bahwa setengah jamnya florist itu sama dengan satu setengah jamnya orang normal.
Aku tidak keberatan. Aku duduk di bangku plastik di depan meja kerja dan menonton tangannya bekerja.
Tangannya cepat dan pasti. Ia mengambil setangkai mawar, memotong batangnya miring, membuang duri dengan ujung pisau kecil, lalu menyusunnya dengan baby’s breath dalam genggaman, memutar-mutar ikatan itu di tangannya sampai bentuknya bulat sempurna. Lalu pita. Lalu gunting. Lalu buket berikutnya. Ia melakukannya tanpa melihat, seperti orang yang mengetik tanpa melihat keyboard, sambil mengobrol denganku tentang Pak Kumis yang katanya sedang mencoba resep bakso urat baru.
Dari posisiku di bangku plastik, aku bisa melihat rak kayu di dinding belakang studio, di belakang meja kerja. Rak itu penuh dengan vas kosong, gulungan pita, kotak-kotak kawat bunga, dan beberapa pot kaktus kecil.
Dan di rak paling atas, di pojok, sebuah bingkai foto.
Aku tidak pernah memperhatikan bingkai itu sebelumnya. Mungkin karena aku selalu terlalu sibuk memperhatikan hal lain. Bingkainya kayu sederhana, ukuran postcard. Di dalamnya, sebuah foto berwarna seorang laki-laki muda berompi oranye dengan logo palang hijau di dada. Ia berjongkok di atas tanah berdebu, di depan tenda-tenda putih yang berderet sampai ke ujung foto. Di pelukannya, seorang anak kecil berambut keriting yang tertawa dengan mulut terbuka lebar. Laki-laki itu juga tertawa. Tawanya miring ke kiri, alisnya tebal, matanya menyipit sampai hampir tertutup.
Aku tahu siapa itu tanpa perlu bertanya.
Aku menatap foto itu terlalu lama. Cukup lama sehingga Anjani berhenti bicara tentang bakso urat dan mengikuti arah pandanganku.
“Itu Fikri,” katanya. Sederhana. Tanpa nada apa-apa. Seperti memperkenalkan nama bunga.
“Oh.”
“Di kamp pengungsian. Bulan kedua dia di sana.” Ia kembali ke buketnya. “Anak itu namanya Yusuf. Fikri ngirim foto itu ke saya dua minggu sebelum ...” Ia memotong batang mawar. “Sebelum.”
Aku tidak tahu harus berkata apa. Jadi aku berkata hal paling bodoh yang bisa kupikirkan.
“Dia ganteng.”
Anjani berhenti memotong.
Ia menoleh dan menatapku. Lalu menatap foto itu. Lalu menatapku lagi. Dan aku melihat sesuatu muncul di wajahnya, sesuatu yang sangat berbahaya: ketertarikan.
“Mas,” katanya pelan, “mau dengar ceritanya?”
Aku tidak mau. Aku sangat tidak mau. Tapi aku mengangguk.
Ia bercerita sambil terus bekerja. Tangannya tidak berhenti; hanya suaranya yang berubah sedikit, lebih pelan, lebih jauh, seperti sedang membaca dari buku yang sudah lama ditutup.
Mereka bertemu waktu ia berumur dua puluh. Banjir besar di Jakarta, akhir semester, dan kampusnya membuka posko bantuan. Ia mendaftar jadi relawan dapur umum karena teman sekamarnya mendaftar. Fikri, waktu itu mahasiswa kedokteran tingkat akhir, sudah tiga hari tidak tidur di posko kesehatan di sebelah dapur umum.
“Hari pertama, dia datang ke dapur umum minta kopi,” kata Anjani. “Saya kasih teh. Kopinya habis. Dia bilang, teh juga boleh, asal panas, asal dari kamu.” Anjani tersenyum ke buketnya. “Saya ketawa. Saya kira dia gombal. Ternyata dia memang gitu. Dia ngomong gitu ke semua orang. Ke ibu-ibu pengungsi. Ke bapak-bapak tentara. Ke kucing.”
Aku memaksa diriku tersenyum. Wajahku terasa kaku.
Mereka berpacaran empat tahun. Fikri lulus, jadi dokter, lalu bergabung dengan lembaga kemanusiaan. Ia pergi ke Palu waktu gempa. Ke NTT waktu banjir bandang. Ke perbatasan waktu ada wabah. Anjani menunggu di Jakarta, bekerja di konsultan lanskap, dan menghitung hari.
“Tiap kali pulang, dia bawa oleh-oleh aneh,” kata Anjani. “Batu dari Palu. Kain tenun dari Sumba. Satu kali dia bawa anak ayam dari Flores. Hidup. Di dalam kotak sepatu. Bilangnya, namanya Jani, kayak kamu, kecil tapi galak.”
Anjani tertawa kecil. Tawa yang hangat, yang keluar dari tempat yang sangat dalam.
Aku tidak tertawa.
Ada sesuatu yang bergerak di dadaku. Sesuatu yang panas, sempit, dan sangat tidak masuk akal. Aku mengenalinya karena aku pernah merasakannya waktu kelas empat SD, waktu Nisa lahir dan semua orang tiba-tiba hanya memperhatikan bayi merah yang menangis, dan aku berdiri di sudut kamar rumah sakit dengan bola mainan di tangan dan tidak ada yang menoleh.
Cemburu.
Aku cemburu pada laki-laki di foto itu. Laki-laki yang memberi anak ayam dengan nama perempuan yang ia cintai. Laki-laki yang berkata teh juga boleh, asal dari kamu dan membuat perempuan ini tertawa, bertahun-tahun yang lalu, dengan cara yang sama seperti ia tertawa sekarang ketika mengingatnya.
Aku cemburu pada orang yang sudah meninggal.
Aku cemburu pada orang yang meninggal karena menyelamatkan orang lain.
Aku tidak tahu ada perasaan yang lebih memalukan dari itu.
“Kami nikah waktu saya dua puluh empat,” lanjut Anjani. Ia sedang mengikat pita di buket kesepuluh. “Pestanya kecil. Fikri telat dua jam ke akad nikahnya sendiri karena ada pasien kecelakaan di jalan tol dan dia berhenti buat bantu.”
“Telat dua jam?”
“Penghulunya hampir pulang.” Anjani tersenyum. “Mama nangis. Bapak diam aja, tapi kacamatanya miring terus. Waktu Fikri akhirnya datang, bajunya ada noda darah di lengan. Dia minta maaf ke semua orang. Ke saya terakhir.”
Aku menunggu.
“Terus dia bilang, Jan, maaf, tapi tadi kalau aku nggak berhenti, orang itu nggak bakal pulang ke istrinya malam ini.” Anjani meletakkan buket yang sudah selesai di barisan. “Saya maafin. Saya selalu maafin. Karena dia benar. Dia selalu benar.”
Ia diam sebentar.
“Tiga tahun kemudian dia pergi ke Timur Tengah,” katanya. “Saya minta dia jangan pergi. Pertama kalinya saya minta. Saya pegang lengan kemejanya di bandara sampai petugas negur. Dia peluk saya, bilang tiga bulan, bilang ada orang yang butuh dia di sana.” Ia mengambil setangkai mawar lagi. Tangannya tetap mantap. “Lima minggu kemudian, lembaganya telepon.”
Studio itu sunyi. Radio dangdut sudah dimatikan dari tadi. Di luar, Pak Kumis sedang menyapu trotoar di depan warungnya yang tutup.
Aku menatap tangan Anjani, yang masih bekerja, masih memotong, masih mengikat. Tidak ada getaran. Tidak ada air mata. Hanya seorang perempuan yang menceritakan hal paling menyakitkan dalam hidupnya dengan suara yang sama seperti menceritakan resep bakso urat.
Dan aku, laki-laki dewasa berumur tiga puluh tahun, kepala operasional, yang sudah tiga minggu ke gym jam lima pagi, sedang duduk di bangku plastik merasa cemburu pada seorang dokter relawan yang mati menyelamatkan orang.
“Maaf,” kataku tiba-tiba.
Anjani mendongak. “Maaf kenapa?”
Aku tidak bisa menjelaskan. Aku hanya bisa menatap lantai.
Ia meletakkan gunting. Ia meletakkan mawar yang setengah dipotong. Ia memutari meja kerja dan berdiri di depanku, cukup dekat sehingga ujung sepatunya menyentuh ujung sepatuku.
“Mas,” katanya.
Aku tidak mendongak.
“Mas lihat saya.”
Aku mendongak.
Ia sedang menatapku dengan kepala sedikit miring, dan matanya, mata yang tadi jauh dan tenang waktu bercerita, sekarang berkilat. Seperti mata kucing yang baru menemukan sesuatu yang menarik untuk dimainkan.
“Mas cemburu?” tanyanya.
Aku membuka mulut untuk menyangkal. Lalu aku sadar kupingku sudah merah. Kupingku selalu mengkhianatiku.
“Sedikit,” kataku.
“Sedikit?”
“Banyak,” kataku. “Maaf. Saya tahu itu nggak masuk akal. Saya tahu itu nggak sopan. Dia orang baik. Dia meninggal. Saya ... saya nggak punya hak.”
Ia tidak menjawab. Ia hanya menatapku. Lalu, pelan-pelan, sudut bibirnya naik. Tidak tersenyum. Lebih tepatnya, ia sedang menahan senyum sekuat tenaga, dan gagal.
“Lucu,” katanya.
“Hah?”
“Mas cemburu sama orang yang sudah nggak ada. Sama foto.” Ia menunjuk bingkai di rak belakang dengan dagunya, tanpa menoleh. “Lucu banget.”
“Itu bukan pujian.”
“Itu pujian.” Ia mencondongkan badan sedikit ke depan, menopangkan kedua tangan di lututnya, sehingga wajahnya sejajar dengan wajahku yang sedang duduk. Dekat. Sangat dekat. Rambutnya yang dikepang jatuh ke depan bahu, ujungnya hampir menyentuh lenganku. “Terusin.”
“Terusin apa?”
“Cemburunya.” Matanya menyipit di ujung. “Saya suka lihat.”
Aku menatapnya. Ia menatapku. Jarak di antara wajah kami mungkin tiga puluh senti. Mungkin kurang. Aku bisa mencium bau mawar putih dari tangannya.
“Kamu ...” kataku. “Kamu nggak marah?”
“Kenapa harus marah?”
“Karena saya cemburu sama suami kamu.”
“Almarhum suami saya.” Ia mengoreksi dengan lembut. “Dan nggak, Mas. Saya nggak marah. Fikri juga nggak bakal marah. Fikri malah bakal ketawa. Fikri bakal bilang, Jan, ini laki-laki baik, kasih dia teh.”
Lalu ia berdiri tegak lagi, melipat tangan di dada, dan menatapku dari atas dengan ekspresi seorang guru yang sedang memberi nilai.
“Lagian,” katanya, “Mas cemburu itu bagus.”
“Bagus kenapa?”
“Laki-laki yang cemburu,” katanya pelan, “itu tandanya sudah siap.”
Aku mengerutkan kening. “Siap apa?”
Ia tidak langsung menjawab. Ia berbalik, berjalan kembali ke balik meja kerja, mengambil gunting dan setangkai mawar yang setengah dipotong tadi. Ia memotong batangnya, miring, empat puluh lima derajat. Ia membuang durinya. Ia menyusunnya ke dalam genggaman bersama baby’s breath.
Lalu, tanpa mengangkat kepala, dengan suara yang terdengar biasa saja, seperti menyebut harga bunga:
“Nanti saya kasih tahu,” katanya. “Setelah akad.”
Aku sedang memegang gelas teh melati yang ia buatkan tadi.
Gelas itu lepas dari tanganku.
Gelas itu tidak pecah, karena jatuh ke kakiku dulu sebelum ke lantai. Teh melati yang sudah dingin tumpah ke celana bahanku, ke kaus kakiku, ke lantai tegel studio. Aku berdiri terlalu cepat dan bangku plastik di belakangku jatuh terguling.
“Akad?” kataku. Suaraku keluar lebih tinggi dari yang seharusnya.
Anjani tidak mengangkat kepala. Ia terus menyusun buketnya. Tapi bahunya bergetar.
“Anjani. Akad?”
“Mas, lantainya basah. Ambil kain pel di belakang.”
“Kamu bilang akad.”
“Saya bilang setelah akad.” Bahunya bergetar lebih keras. “Itu beda.”
“Apa bedanya?”
“Kalau Mas mau tahu,” katanya, akhirnya mengangkat kepala, dan wajahnya merah karena menahan tawa, dan matanya basah, “Mas harus nunggu.”
Lalu ia tidak bisa menahannya lagi. Ia tertawa sampai buket di tangannya bergoyang, sampai beberapa kuntum baby’s breath rontok ke meja, sampai ia harus duduk di kursi kayunya dan menutup wajah dengan kedua tangan.
Aku berdiri di tengah studio dengan celana basah teh, bangku plastik terguling di belakangku, dan jantung yang berdetak lebih kencang dari waktu Coach Rudi menyuruhku mengangkat beban lima kali tambahan.
Di luar etalase kaca, Pak Kumis berhenti menyapu. Ia menatap ke dalam studio, menatap kami berdua, menatap celanaku yang basah. Lalu ia menggeleng pelan, tersenyum di balik kumisnya, dan melanjutkan menyapu.
Aku mengantar Anjani pulang jam enam lewat lima belas. Dua belas buket untuk pagar ayu sudah selesai, berderet rapi di ember di dalam studio, siap diambil besok pagi.
Di mobil, ia diam. Aku juga diam. Bukan diam yang canggung. Diam yang penuh, seperti gelas yang terisi sampai ke bibir dan tidak boleh digerakkan supaya tidak tumpah.
Di lampu merah Jalan Pajajaran, aku memberanikan diri.
“Anjani.”
“Hm?”
“Tadi itu ... bercanda?”
Ia tidak langsung menjawab. Ia menatap ke luar jendela, ke deretan toko yang lampunya mulai menyala satu per satu, ke Kebun Raya yang gelap di seberang jalan.
“Mas mau saya bercanda?” tanyanya pelan.
Lampu berganti hijau. Mobil di belakang membunyikan klakson. Aku menginjak gas.
“Nggak,” kataku.
Ia tidak menjawab. Tapi waktu aku melirik ke kiri, aku melihat tangannya, yang tadi diletakkan di pangkuan, sekarang terulur di atas tuas persneling. Telapak menghadap ke atas. Menunggu.
Aku menggenggamnya. Tanganku masih berkeringat. Ia tidak bilang apa-apa tentang itu.
Kami menyetir seperti itu sampai depan rumahnya. Aku memindahkan gigi dengan tangan kiri, yang ternyata sangat sulit dan membuat mobil tersendat dua kali. Ia tertawa dua kali. Aku tidak melepaskan tangannya.
Malam itu, setelah makan malam jam tujuh, aku menelepon Tomi.
Aku tidak tahu kenapa aku menelepon Tomi. Mungkin karena Tomi satu-satunya laki-laki yang kukenal yang pernah menikah. Dua kali.
“Bos?” Suara Tomi terdengar kaget. “Ada apa? Gudang kebakaran?”
“Tom. Kamu pernah cemburu sama orang yang sudah meninggal?”
Hening panjang di ujung telepon. Lalu suara kursi diseret, seperti Tomi baru saja duduk.
“Bos,” katanya, dengan suara yang tiba-tiba sangat serius, suara yang belum pernah kudengar dari Tomi selama sembilan tahun. “Itu saingan paling berat.”
“Kenapa?”
“Karena orang yang sudah meninggal nggak bisa bikin salah lagi, Bos.” Tomi menghela napas. “Dia nggak bakal lupa ulang tahun. Nggak bakal ngorok. Nggak bakal pulang telat. Yang diingat cuma yang bagus-bagus. Bos nggak bakal bisa ngalahin itu.”
Aku diam.
“Tapi, Bos,” lanjut Tomi.
“Apa?”
“Bos nggak perlu ngalahin dia.” Suara Tomi melunak. “Orang yang sudah meninggal juga nggak bisa bikin dia ketawa besok pagi. Bos yang bisa.”
Aku menatap langit-langit kamar. Di belakang pintu, kemeja biru muda dengan mawar kuning kering di sakunya bergoyang pelan karena angin dari jendela.
“Tom.”
“Ya, Bos?”
“Itu nasihat paling bagus yang pernah kamu kasih.”
“Saya tahu, Bos.” Tomi tertawa. “Makanya mantan istri saya dua-duanya masih telepon saya tiap Lebaran.”
- 1 Jam Tujuh
- 2 Janji Arisan
- 3 Pertemuan Pertama
- 4 Tameng
- 5 Krisan Putih
- 6 Bekal Gosong
- 7 Calon Saya
- 8 Rencana Hujan
- 9 Jangan Korbankan Hidupmu
- 10 Sup Hari Kamis
- 11 Pasien Paling Bandel
- 12 Mas Lulus
- 13 Cemburu pada Orang Baik reading
- 14 Izin
- 15 Undangan yang Tidak Menyebut Namaku
- 16 Langkah Kuda
- 17 Persiapan Rahasia
- 18 Sekali, Umur Dua Tahun
- 19 Masih Tameng?
- 20 Bukan
- 21 Cincin
- 22 Mawar Kuning
- 23 Bukan yang Ditunggu
- 24 Administrasi Kepulangan
- 25 Maju Dua Langkah
- 26 Lampu Teras
- 27 Pintu Kedatangan
- 28 Catatan Terakhir
- 29 Kiriman Tanpa Nama
- 30 Krisan Putih, Kali Ini Benar
- 31 Restu
- 32 Janda Tahu Caranya
- 33 Bukan Pengganti
- 34 Proyek A, Versi Final
- 35 Malam Tanpa Jam Tujuh
- 36 Selamat Datang Pulang
- 37 Malam Pertama
- 38 Laporan Bulanan
- 39 Jam Tujuh, ke Rumah Kita
- 40 Proyek B
- 41 Epilog — Hujan