Chapter Six

Bekal Gosong

POV: Bagas

Pesan pertamaku untuknya kukirim jam sembilan malam, setelah empat puluh menit menyusun draf.

Draf pertama: Selamat malam, Mbak Anjani. Ini Bagas. Terima kasih atas waktunya hari ini. Mohon maaf atas krisannya. Terlalu mirip email ke vendor. Kuhapus.

Draf kedua: Halo! Ini Bagas 😊 Aku menatap emotikon senyum itu dan merasa seperti orang yang memakai topi pesta di pemakaman. Kuhapus.

Draf ketiga sampai kesebelas tidak perlu diceritakan.

Draf kedua belas, yang akhirnya kukirim: Ini Bagas. Nomor saya sudah Mbak simpan. Sekarang nomor Mbak saya simpan juga. Kita impas.

Aku menatap layar. Dua centang abu-abu. Lalu dua centang biru.

Lalu tulisan sedang mengetik... muncul, hilang, muncul lagi.

Anjani: Impas apanya. Mas bawa krisan.

Anjani: Mas utang satu.

Aku tidak tidur sampai jam dua belas. Bukan karena kami terus mengobrol; ia sudah bilang selamat malam jam setengah sepuluh. Aku hanya berbaring menatap langit-langit, memegang ponsel di dada, dan membaca ulang dua pesan itu seperti membaca kontrak yang terlalu bagus untuk jadi kenyataan.

Mas utang satu.

Aku tidak tahu bagaimana cara membayar utang semacam itu. Tapi aku tahu satu hal tentang utang: orang yang punya utang punya alasan untuk datang lagi.


Rencana bekal muncul hari Selasa, waktu aku membaca ulang tab Data Primer di spreadsheet.

Ada satu kolom yang kosong: Makanan favorit. Aku tidak tahu makanan favoritnya. Tapi di kafe, waktu kami membicarakan studionya, ia sempat bilang: “Kalau lagi banyak pesanan, saya suka lupa makan siang.” Dan di studio, waktu aku membantu mengangkat ember, aku melihat sebungkus roti tawar yang tinggal setengah di samping radio, dan tidak ada apa-apa lagi.

Aku orang logistik. Masalah distribusi pangan adalah keahlianku.

Jadi Selasa malam, setelah makan malam jam tujuh, aku berdiri di dapur dan berkata, “Bu. Ajarin saya masak.”

Ibu yang sedang mengelap meja berhenti di tengah gerakan. Ayah, yang sedang menonton berita di ruang tengah, mengecilkan volume televisi.

“Masak apa?” tanya Ibu pelan, seperti orang yang takut burung langka terbang kalau ia bergerak terlalu cepat.

“Yang bisa dibawa. Buat bekal.”

“Buat kamu?”

“Buat ...” Aku berdeham. “Buat orang yang suka lupa makan siang.”

Ibu meletakkan lapnya dengan pelan.

Lalu Ibu menelepon Nisa.


Nisa datang dua puluh menit kemudian, tanpa Reza, tanpa Kiki, dengan rambut masih basah dan daster yang dilapisi jaket. Ia membawa buku kucingnya.

“Aku dengar,” katanya terengah-engah di pintu dapur, “Mas mau masak.”

“Kamu dengar dari mana? Ibu baru nelepon dua puluh menit lalu.”

“Itu nggak penting.” Nisa menarik kursi dan duduk di pojok dapur seperti juri. “Mulai.”

Ibu memutuskan ayam goreng kecap. “Gampang,” katanya. “Anak SMP juga bisa.”

Ibu meremehkan aku. Atau, lebih tepatnya, Ibu melebih-lebihkan anak SMP.

Masalah pertama adalah bawang. Aku memotong bawang merah dengan ketelitian yang sama seperti memotong anggaran: tipis, seragam, satu per satu. Lima belas menit kemudian aku baru selesai empat siung. Mataku berair. Nisa mencatat.

“Mas,” kata Ibu. “Itu buat sore ini atau buat lebaran?”

Masalah kedua adalah minyak. Ibu bilang tunggu sampai panas. Aku tidak tahu panas itu yang seperti apa. Aku menunggu. Minyak mulai berasap tipis. Aku menunggu lagi, untuk memastikan. Ibu bilang, “Gas, itu sudah panas, Gas, masukin, Gas, GAS!” dan aku memasukkan ayam, dan minyak meledak ke segala arah seperti kembang api tujuh belasan.

Ayah muncul di pintu dapur dengan kacamata di ujung hidung, melihat pemandangan itu, lalu kembali ke ruang tengah tanpa sepatah kata pun dan menaikkan volume televisi.

Masalah ketiga adalah kecap. Ibu bilang masukkan kecap, lalu aduk sampai mengental. Aku memasukkan kecap. Aku mengaduk. Lalu ponselku bergetar di saku, dan aku melihatnya, karena siapa tahu itu dia.

Ternyata dari Tomi. Bos, forklift 3 mogok lagi.

Waktu aku membalas pesan Tomi, ayam di wajan berubah dari cokelat ke cokelat tua ke hitam.

Bau gosong memenuhi dapur. Ibu mematikan kompor. Nisa menutup buku kucingnya dengan khidmat seperti hakim yang membacakan vonis.

Kami bertiga menatap wajan. Ayam goreng kecap itu masih bisa dikenali sebagai ayam, tapi hanya karena bentuknya. Bagian bawahnya hitam legam dan berkerak, menempel di wajan seperti aspal. Bagian atasnya masih lumayan cokelat.

“Bisa dikerok,” kataku.

“Mas,” kata Nisa. “Jangan bawa itu.”

“Bagian atasnya masih bagus.”

“Mas.”

Aku mengambil garpu dan mencicipi bagian atas. Rasanya manis, asin, dan ada nada pahit di ujungnya, seperti kopi yang terlalu lama di atas kompor. Tapi bisa dimakan. Aku pernah makan yang lebih buruk di warung dekat gudang jam dua pagi.

“Bisa dimakan,” kataku.

“Bisa dimakan bukan standar, Mas,” kata Nisa. “Bisa dimakan itu standar penjara.”

Ibu tidak bilang apa-apa. Ibu hanya menatapku lama, lalu mengambil kotak bekal plastik biru dari lemari, kotak bekal yang dulu kupakai waktu SMA, dan meletakkannya di depanku.

“Besok bangun jam lima,” kata Ibu. “Masak lagi. Ibu temenin.”


Besoknya aku bangun jam lima dan masak lagi. Hasilnya lebih baik. Lebih tepatnya, hasilnya kurang buruk. Bagian bawah ayam hanya gosong sedikit di pinggir-pinggirnya, bukan hitam total. Ibu bilang itu “karamelisasi”. Aku tahu Ibu sedang berbaik hati.

Aku menata nasi putih, ayam goreng kecap, tumis buncis yang dibuat Ibu karena aku kehabisan waktu, dan sambal di wadah kecil terpisah. Aku menutup kotak bekal biru itu dan membungkusnya dengan kain serbet bermotif bunga milik Ibu.

Jam setengah dua belas, aku izin keluar kantor.

“Bos makan siang di mana?” tanya Tomi.

“Antar barang.”

“Barang apa? Kirim pakai kurir aja, Bos, kita perusahaan logistik.”

Aku tidak menjawab.


Ia sedang berjongkok di lantai studio, memotong batang bunga matahari di atas koran, ketika lonceng pintu berdenting. Rambutnya kali ini dikepang satu ke samping, dan ada coretan tanah di dahinya. Ia mendongak.

“Mas utang satu,” kataku sebelum ia sempat bicara. Lalu aku mengulurkan kotak bekal biru itu.

Ia berdiri, membersihkan tangan di celemek, dan menerima kotak itu. Ia membuka simpul serbet. Ia membuka tutup kotaknya.

Ia menatap isinya.

Aku tahu persis apa yang ia lihat. Ayam yang pinggirnya gosong, kecap yang mengental terlalu pekat sampai berkilat seperti aspal basah, dan tumis buncis yang terlalu sempurna dibandingkan yang lain, sehingga jelas bukan buatanku.

“Mas masak sendiri?”

“Ayamnya saya. Buncisnya Ibu.”

“Kelihatan.”

Ia mengambil sendok dari laci meja kerjanya. Ia menarik kursi kayu, duduk, dan mulai makan.

Aku berdiri di depan meja, tidak tahu apakah harus duduk, menunggu, atau pergi. Ia tidak menyuruhku pergi. Ia juga tidak menyuruhku duduk. Ia hanya makan, pelan, satu suap demi satu suap, dan aku memperhatikan wajahnya untuk mencari tanda-tanda penderitaan.

Tidak ada. Ia mengunyah ayam gosong itu dengan ekspresi yang sama tenangnya seperti waktu menyesap teh melati di kafe. Ia bahkan menyendok kerak kecap yang menempel di sudut kotak.

“Mas,” katanya tanpa mengangkat kepala. “Duduk.”

Aku duduk di bangku plastik di depan meja.

“Mas sudah makan siang?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Saya ... nggak sempat. Tadi masaknya cuma satu porsi.”

Ia berhenti mengunyah. Ia menatapku. Lalu ia mendorong kotak bekal itu ke tengah meja, di antara kami, dan menyodorkan sendoknya.

“Separuh,” katanya.

“Itu buat Mbak.”

“Separuh, Mas.”

Aku mengambil sendok itu. Sendok yang baru saja masuk ke mulutnya. Aku menyadarinya terlalu jelas, dan kupingku langsung panas, dan aku makan suap pertama dengan sangat hati-hati seperti sedang menjinakkan bom.

Kami makan bergantian dengan satu sendok. Aku satu suap, ia satu suap. Radio dangdut di sudut memutar lagu tentang cinta yang tak sampai. Di luar, Pak Kumis melayani pembeli bakso sambil sesekali melirik ke dalam studio melalui kaca.

“Mas,” kata Anjani di suap kesekian.

“Ya?”

“Mas tuh selalu ngurusin orang lain makan, ya.”

Aku berhenti. “Kok tahu?”

“Kelihatan.” Ia mengambil sendok dariku dan menyendok nasi. “Masak buat orang yang suka lupa makan siang, tapi Mas sendiri lupa makan siang. Saya tebak, di rumah Mas juga yang nyendokin nasi buat semua orang. Terus ambil paling terakhir.”

Aku tidak menjawab. Karena ia benar, dan aku tidak tahu bagaimana ia bisa tahu.

“Terus siapa,” katanya pelan, “yang ngurusin Mas makan?”

Ruangan itu mendadak sunyi, meskipun radio masih menyala.

Tidak ada yang pernah menanyakan itu padaku. Ibu tidak pernah, karena Ibu selalu memasak dan aku selalu makan apa yang dimasak Ibu, jadi Ibu menganggap urusan itu sudah selesai. Nisa tidak pernah, karena Nisa adik dan adik tidak bertanya hal semacam itu. Tomi tidak pernah, karena Tomi hanya bertanya soal forklift dan perempuan.

Aku tidak punya jawaban. Jadi aku hanya mengangkat bahu.

Anjani menatapku lama. Lalu ia menyendok potongan ayam terakhir, yang paling gosong, dan memakannya sendiri sebelum aku sempat protes.

Ia mengunyah dengan mata setengah terpejam, seperti sedang menilai anggur mahal. Lalu ia menelan, meletakkan sendok di kotak kosong, dan menatapku dengan senyum yang perlahan melebar.

“Gosongnya pas,” katanya. “Kayak yang masak. Matang di luar, grogi di dalam.”

Aku tertawa. Aku tidak bermaksud tertawa, tapi itu keluar begitu saja.

Lalu ia mencondongkan badan ke depan, sikunya di meja, dagunya di atas kepalan tangan, dan menurunkan suaranya sedikit.

“Tapi saya suka laki-laki yang mau belajar di dapur,” katanya. “Laki-laki yang mau belajar di dapur biasanya cepat belajar hal lain juga.”

Aku sedang minum dari botol air mineral yang ia sodorkan tadi.

Aku tersedak.

Bukan tersedak kecil. Tersedak yang membuat air menyembur dari hidung, yang membuatku harus membungkuk dan terbatuk-batuk keras sampai mataku berair dan wajahku panas sampai ke leher. Anjani bangkit, memutari meja, dan menepuk-nepuk punggungku dengan telapak tangan yang terbuka. Tepukannya mantap, terlatih, seperti orang yang tahu persis di mana harus menepuk.

“Pelan-pelan, Mas.”

“Uhuk ... maksudnya ... uhuk ...”

“Maksudnya apa?”

“Hal lain ... itu ... uhuk ... hal lain apa?”

Ia berhenti menepuk. Tangannya tetap di punggungku, diam, hangat melalui kain kemeja.

“Mas nanya beneran?” bisiknya di dekat telingaku.

Aku tidak berani menoleh.

Ia tertawa kecil, menepuk punggungku sekali lagi, dan kembali ke kursinya. “Masak, Mas. Maksud saya masak yang lain. Rendang. Sop buntut. Apa yang Mas pikirin?”

Aku tidak memikirkan apa-apa. Aku memikirkan semuanya. Aku memikirkan bahwa ia jelas tidak sedang membicarakan rendang.


Waktu aku pamit, ia mencuci kotak bekal biru itu di wastafel kecil di belakang studio, mengeringkannya dengan serbet, lalu melipat serbet bermotif bunga milik Ibu dengan rapi dan meletakkannya di atas tutup kotak.

“Bilang terima kasih ke Ibu Mas,” katanya. “Buat buncisnya.”

“Iya.”

“Bilang juga buncisnya terlalu enak. Jadi ketahuan bukan Mas yang masak.”

Aku mengambil kotak itu. Di ambang pintu, aku berhenti.

“Mbak suka makan apa?”

Ia memiringkan kepala. “Kenapa?”

“Buat besok.”

“Besok?”

“Mbak bilang saya utang satu. Saya kira utangnya sudah lunas. Tapi tadi kita makan berdua, jadi setengahnya saya yang makan. Berarti saya baru bayar setengah.”

Ia menatapku seolah aku baru saja mengatakan sesuatu dalam bahasa yang tidak ia kenal. Lalu ia menutup mulut dengan punggung tangan, menahan tawa, dan matanya menyipit di ujung.

“Mas ngitungnya kayak gitu?”

“Saya orang logistik.”

Ia menurunkan tangannya. Ia masih tersenyum.

“Saya suka semua yang nggak manis,” katanya. “Kecuali yang masak.”

Lalu ia menutup pintu kaca di depan wajahku dengan lembut, dan lonceng kecil di atasnya berdenting.


Hari Kamis aku membawa dua kotak bekal.

Satu kotak biru, satu kotak hijau yang kupinjam dari lemari Ibu. Isinya sama: nasi, telur balado yang hanya sedikit gosong di bagian bawah, dan tumis kangkung yang kali ini benar-benar kubuat sendiri. Ibu hanya mengawasi dari belakang sambil memegang tutup panci seperti perisai.

Anjani membuka pintu studio, melihat dua kotak di tanganku, lalu mengangkat alis.

“Dua?”

“Satu buat Mbak. Satu buat saya.”

“Kenapa nggak satu berdua kayak kemarin?”

Pertanyaannya terdengar polos. Wajahnya tidak polos sama sekali.

Aku membuka mulut. Aku menutupnya.

Di seberang jalan, Pak Kumis berdiri dari bangku plastiknya dan berteriak cukup keras untuk didengar sampai ke toko kacamata: “SATU BERDUA AJA, A! LEBIH ROMANTIS!”

Anjani tertawa sampai harus berpegangan pada kusen pintu.

Malam itu, di tab KPI spreadsheet Proyek A, aku menambahkan satu baris baru:

Dia tertawa: 9 kali (minggu ini).

Lalu satu baris lagi, lebih kecil:

Saya tersedak: 1 kali. Masih belum tahu “hal lain” itu apa.

Aku menatap baris itu lama. Lalu aku menghapusnya, karena aku tahu. Aku hanya tidak berani menuliskannya.