Chapter Twenty Two

Mawar Kuning

POV: Bagas

Aku mengantarnya pulang dengan lampu hazard masih menyala.

Aku tidak sadar lampunya masih menyala sampai kami berhenti di depan pagar rumahnya, dan Pak Hendra keluar dari rumah dengan wajah panik, karena dari jendela ia melihat mobilku datang dengan lampu oranye berkedip-kedip seperti ambulans. Aku mematikannya. Pak Hendra berdiri di depan pagar dan menatap putrinya di kursi penumpang.

Anjani tidak bergerak. Ia duduk dengan ponsel di pangkuan, menatap cincin di jarinya.

“Ada apa?” tanya Pak Hendra.

Aku keluar dari mobil. Aku menceritakan apa yang Fadhil ceritakan. Aku menceritakannya dengan datar, urut, seperti membaca laporan insiden di gudang: tanggal, waktu, sumber informasi, isi informasi, tingkat kepastian. Itu satu-satunya cara aku bisa mengatakannya tanpa suaraku pecah.

Pak Hendra mendengarkan. Wajahnya tidak berubah. Lalu ia membuka pintu penumpang, berjongkok di depan putrinya, dan memegang kedua tangannya.

“Jani,” katanya. “Masuk dulu.”

Anjani menoleh ke ayahnya. Lalu, perlahan, ia menoleh ke arahku.

Dan aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat di wajahnya. Bahkan di makam. Bahkan di depan pagar malam itu, waktu aku bertanya apakah aku masih tameng.

Aku melihatnya hilang.

Bukan sedih. Bukan takut. Seperti seseorang yang berjalan di atas es dan tiba-tiba mendengar retakan di bawah kakinya, dan ia tidak tahu harus melangkah ke mana, karena semua arah sama berbahayanya.

“Mas,” katanya pelan.

“Masuk dulu,” kataku. “Istirahat.”

Ia mengangguk. Pak Hendra membantunya keluar dari mobil. Bu Sri sudah berdiri di teras dengan tangan menutup mulut. Mereka bertiga masuk ke rumah. Pintu tertutup.

Aku berdiri di samping mobil lama sekali.

Jam enam lewat empat puluh. Aku harus pulang.

Aku pulang. Jam tujuh lewat delapan menit. Telat delapan menit. Ibu tidak bertanya apa-apa. Ibu sudah tahu. Grup itu sudah tahu sebelum aku sampai di Tugu Kujang.


Malam itu aku tidak tidur.

Jam sebelas, aku membuka laptop. Kertas JANGAN yang ditulis Anjani dengan spidol merah masih berdiri di sebelahnya, seperti tenda kecil. Aku memindahkannya ke laci. Aku tidak bisa membuka laptop dengan kertas itu menatapku.

Aku tidak membuka laporan gudang. Aku membuka mesin pencari.

Aku mengetik: status istri suami hilang tidak ditemukan jenazah.

Aku membaca sampai jam dua pagi. Artikel hukum. Tanya-jawab di situs pengadilan agama. Forum-forum yang isinya perempuan-perempuan yang suaminya hilang di laut, hilang di tambang, hilang di negeri orang. Ada istilahnya. Mafqud. Orang yang hilang dan tidak diketahui apakah masih hidup atau sudah meninggal.

Aku membacanya pelan-pelan, seperti membaca kontrak dengan klausul yang tidak kupahami, sampai aku memahaminya.

Seorang istri yang suaminya hilang tidak otomatis menjadi janda. Tidak di mata hukum. Tidak tanpa putusan pengadilan. Harus ada permohonan. Harus ada sidang. Harus ada penetapan bahwa suaminya dianggap telah meninggal, atau harus ada perceraian. Tanpa itu, ikatan pernikahannya tetap ada. Di atas kertas. Di catatan sipil. Di mata hukum.

Aku tidak tahu apakah keluarga Ramadhan pernah mengurus penetapan itu. Aku tidak tahu apakah Anjani pernah mengurusnya. Tapi aku tahu satu hal dari wajahnya di mobil tadi. Dari cara ia menatap cincin di jarinya. Dari kalimat Fadhil yang terus terulang di kepalaku: nggak bawa dokumen, nggak bisa ngomong jelas, mirip banget.

Kalau laki-laki di kamp itu Fikri, Anjani masih istrinya.

Bukan janda. Istri.

Dan aku, laki-laki dengan cincin tunangan emas putih di jari manis tangan kiri, adalah laki-laki yang sedang memegang tangan istri orang.

Aku menutup laptop. Aku duduk di tepi tempat tidur dalam gelap, dengan cincin itu di jariku, sampai azan subuh.


Jam enam pagi, aku mengirim pesan.

Aku: Selamat pagi. Sudah sarapan?

Aku mengirimnya karena aku tidak tahu cara untuk tidak mengirimnya. Sudah tiga bulan aku mengirim pesan itu setiap pagi. Jari-jariku mengetiknya sebelum kepalaku sempat menimbang apakah pantas.

Dua centang biru. Tidak ada balasan.

Jam delapan, aku berangkat kerja. Aku menandatangani surat jalan. Aku memimpin rapat koordinasi armada. Aku tidak salah menyebut teh melati ketika maksudku tarif tol. Aku bekerja seperti mesin, dengan presisi yang membuat Tomi menatapku dari pintu gudang dengan wajah cemas.

Jam sebelas, ponselku berdering. Bukan Anjani.

“Nak Bagas.”

Suara perempuan. Pelan, lelah, dengan logat yang sedikit Jawa. Aku mengenalinya meskipun baru mendengarnya sekali, kemarin, di ruang tamu kecil di Depok.

“Ibu Aminah?”

“Maaf, Nak. Ibu dapat nomor kamu dari Fadhil.” Hening. Lalu suara yang semakin kecil. “Ibu mau minta tolong.”

Aku menunggu.

“Ibu tahu kemarin kalian datang baik-baik. Ibu tahu kamu anak yang baik. Ibu lihat sendiri.” Suaranya bergetar. “Tapi Nak, Ibu ... Ibu mohon. Sampai kita tahu itu siapa. Sampai ada kepastian.” Ia menarik napas panjang, gemetar. “Bisa ... bisa ditunda dulu? Rencana kalian?”

Aku menatap cincin di jariku.

“Ibu nggak minta kamu pergi, Nak,” kata Bu Aminah cepat. “Ibu nggak berhak minta itu. Ibu cuma ... Ibu sudah kehilangan anak Ibu sekali. Ibu nggak tahu sanggup atau nggak kalau ternyata dia pulang, terus ...” Ia tidak bisa melanjutkan.

Terus apa, aku tidak perlu bertanya. Terus anaknya pulang dan menemukan istrinya memakai cincin orang lain. Terus anaknya pulang ke rumah yang sudah tidak menunggunya.

“Bu,” kataku. “Ibu nggak perlu minta.”

“Nak ...”

“Saya sudah mau bilang hal yang sama.”

Hening di ujung telepon.

Lalu Bu Aminah menangis. Pelan. Seperti di ruang tamunya kemarin. Dan di sela tangisnya ia berkata sesuatu yang membuatku harus memejamkan mata dan menekan punggung tanganku ke mulut, di ruanganku sendiri, di balik kaca, dengan anak-anak gudang yang lalu-lalang di bawah:

“Kamu anak baik, Nak. Ya Allah. Kenapa kamu anak baik.”


Sorenya, aku ke rumah keluarga Wardhani.

Aku tidak mengirim pesan dulu. Aku tidak memberi tahu. Aku hanya menyetir dari Cibinong jam empat, sampai jam lima kurang sepuluh, dan berdiri di depan pagar.

Pak Hendra yang membukakan. Ia menatapku lama, lalu menatap tanganku. Aku tidak tahu apa yang ia lihat di sana. Mungkin cincinnya. Mungkin sesuatu yang lain.

“Dia di belakang,” kata Pak Hendra pelan.

Anjani duduk di teras belakang, di kursi rotan yang biasa kududuki waktu main catur dengan ayahnya. Ia memakai kaus longgar dan rambutnya digerai, belum disisir. Matanya tidak bengkak. Itu yang membuatku khawatir. Ia tidak menangis. Ia hanya duduk, memeluk lutut, menatap kebun kosong di balik pagar belakang, dengan wajah yang tenang, terlalu tenang, seperti permukaan air yang diam karena ada sesuatu yang sangat berat tenggelam di bawahnya.

Bu Sri berdiri di ambang pintu dapur. Ia menatapku dengan mata merah, lalu mundur ke dalam, pelan-pelan, meninggalkan kami.

Aku duduk di kursi rotan di sebelahnya.

Ia tidak menoleh. “Mas.”

“Hai.”

“Ibu nelepon Mas?”

“Iya.”

“Minta ditunda?”

“Iya.”

Ia mengangguk pelan. Ia masih tidak menoleh. “Mas mau bilang apa?”

Aku menatap kebun kosong di depan kami. Rumput liar setinggi lutut. Pohon pisang yang daunnya robek-robek. Seekor kucing belang tidur di atas tumpukan bata.

Aku sudah menyiapkan kalimatnya sejak jam dua pagi. Seperti itinerary empat belas titik. Aku tahu kalimat itu akan hancur begitu aku melihat wajahnya. Tapi aku tetap mengucapkannya.

“Kalau dia pulang,” kataku, “rumahnya di sini.”

Ia menoleh.

Wajahnya yang tenang retak. Pelan. Dari mata dulu. Lalu bibir.

“Mas ...”

“Saya sudah baca,” kataku cepat, sebelum aku kehilangan keberanian. “Soal mafqud. Soal status. Kalau dia masih hidup, kamu masih istrinya. Di atas kertas. Di mata hukum. Di mata Allah juga, mungkin. Saya nggak tahu. Saya bukan ustadz.” Suaraku mulai bergetar. Aku menahannya. “Tapi saya tahu satu hal. Saya nggak bisa berdiri di sebelah istri orang. Nggak adil buat dia. Buat dia yang mungkin lagi luka di kamp pengungsian, yang mungkin lagi nyari jalan pulang. Nggak adil kalau dia pulang dan nemu kamu pakai cincin dari laki-laki lain.”

“Itu belum tentu dia, Mas.”

“Belum tentu bukan juga.”

Ia menatapku. Air mata mulai turun di pipinya. Akhirnya.

“Mas mundur,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Saya tunda,” kataku. “Sampai ada kepastian.”

“Itu sama aja.”

“Nggak sama.” Aku mengangkat tangan kiriku dan menatap cincin di jari manisnya. Lalu, pelan, aku melepasnya. Cincin itu keluar dari jariku dengan mudah, karena jariku sedikit berkeringat. Aku memegangnya di telapak tangan sebentar. Lalu aku memasukkannya ke saku kemeja, di dada kiri, tempat mawar kuning pernah diselipkan.

“Saya simpan,” kataku. “Bukan saya buang. Saya simpan.”

Ia menatap saku kemejaku. Lalu menatap cincin di jarinya sendiri.

“Punya saya?” tanyanya pelan.

“Itu punya kamu,” kataku. “Kamu yang putuskan.”

Ia tidak melepasnya. Tapi ia juga tidak menyentuhnya. Tangannya diam di atas lutut, dengan cincin emas putih yang berkilat di bawah cahaya sore.

Kami duduk seperti itu sampai jam enam lewat lima belas. Tidak bicara. Kucing belang di tumpukan bata bangun, meregangkan badan, lalu pergi.

Aku berdiri.

“Saya pulang dulu,” kataku.

Ia tidak menahanku. Ia tidak bilang jangan telat. Ia tidak bilang ditunggu. Ia hanya menatapku dari kursi rotan dengan mata basah, dan aku melihat bibirnya bergerak, seperti mau mengatakan sesuatu, lalu berhenti.

Aku berjalan ke pintu dapur. Di ambang pintu, aku menoleh.

“Saya tetap kirim pesan tiap pagi,” kataku. “Kalau kamu nggak keberatan.”

Ia menatapku lama. Lalu ia mengangguk, sekali, dan menunduk ke lututnya.


Besok paginya, sebelum kantor, aku berhenti di kios bunga di Jalan Otista.

Bu Iyah sedang menyusun ember-ember plastik biru di trotoar. Ia melihatku turun dari mobil dan berhenti bergerak. Ia sudah tidak menganggapku orang asing. Ia ada di grup itu. Ia tahu.

“A,” katanya pelan. “Mau krisan lagi?”

“Mawar kuning, Bu.”

Bu Iyah menatapku. Ia tahu artinya. Ia tukang bunga tiga puluh tahun.

“Kuning, A?” tanyanya. “Yakin?”

“Yakin, Bu.”

Ia tidak bertanya lagi. Ia mengambil mawar kuning dari ember, satu tangkai, dua tangkai, lalu berhenti dan menatapku. Aku mengangkat satu jari. Ia mengembalikan satu tangkai ke ember.

Satu tangkai. Seperti yang dulu diselipkan ke saku kemejaku.

Ia membungkusnya dengan koran, seperti dulu ia membungkus krisan putih. Lalu, sebelum menyerahkannya, ia menyelipkan sesuatu ke dalam bungkusan itu. Sepotong kecil daun eucalyptus.

“Itu dari Ibu, A,” katanya. “Artinya perlindungan. Biar dia tahu Aa masih jaga dari jauh.”

Aku tidak bisa menjawab. Aku membayar dan pergi.


Aku tidak mengantarnya sendiri. Aku menitipkannya ke Pak Kumis.

Pak Kumis menerima bungkusan koran itu di depan warung baksonya yang belum buka, jam tujuh pagi. Ia membuka sedikit lipatan korannya, melihat warna kuning di dalamnya, lalu menatapku dengan mata yang tiba-tiba basah di balik kumis tebal.

“Aa,” katanya. “Neng tahu artinya.”

“Saya tahu, Pak.”

“Aa yakin?”

“Untuk sekarang, Pak,” kataku. “Untuk sekarang.”

Pak Kumis mengangguk pelan. Ia menyimpan bungkusan itu di balik gerobaknya, di tempat yang teduh, supaya bunganya tidak layu sebelum studio buka.


Jam sepuluh pagi, di kantor, ponselku bergetar.

Bukan pesan dari Anjani. Notifikasi dari grup yang sekarang aku tidak bisa keluar darinya, karena setiap kali aku keluar, Pak Kumis menambahkanku lagi.

Pak Kumis: Bunga sudah sampai.
Neng Nisa (adik Aa): bunga apa
Pak Kumis: mawar kuning. satu.
Neng Nisa (adik Aa): MAS BAGAS
Neng Nisa (adik Aa): MAS BAGAS NGAPAIN
Neng Nisa (adik Aa): MAS BAGAS ITU ARTINYA TEMEN
Tomi: Neng, Bos-nya ada di grup.
Neng Nisa (adik Aa): BIARIN. MAS BAGAS BACA INI. KAMU BODOH MAS
Coach Rudi: ada apa nih
Bu Iyah Otista: Neng Nisa, sabar. Aa-nya lagi berkorban.
Neng Nisa (adik Aa): berkorban apa Bu?? Dia kan sayang sama Kak Anjani
Bu Iyah Otista: makanya, Neng. Makanya.

Lalu, satu pesan lagi:

Pak Kumis: Neng Anjani buka bungkusnya. Terus duduk di lantai studio. Belum bangun-bangun.
Pak Kumis: Nangis, Aa.

Aku mematikan ponsel.

Aku menatap laporan bongkar muat di mejaku sampai angka-angkanya kabur.

Di saku kemeja di dada kiriku, cincin emas putih itu terasa berat. Jauh lebih berat dari ukurannya.