Chapter Twenty Three
Bukan yang Ditunggu
POV: Bagas
Voice note itu datang hari Rabu malam, jam sebelas lewat empat belas.
Aku sedang berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit, dengan cincin emas putih di genggaman. Sudah tiga hari aku tidur dengan cincin itu di tangan. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena kalau aku menaruhnya di nakas, aku takut lupa ada di mana. Mungkin karena kalau aku menggenggamnya, aku bisa berpura-pura masih memakainya.
Ponselku bergetar di dada.
Anjani: 🎤 Pesan suara (0:34)
Aku menatap notifikasi itu lama. Tiga hari ia tidak membalas pesan pagiku. Tiga hari dua centang biru tanpa jawaban. Dan sekarang, tengah malam, tiga puluh empat detik suaranya.
Aku menekan tombol putar.
Ada suara napas dulu. Lalu suara sesuatu bergesek, mungkin kain, mungkin bantal. Lalu suaranya. Pelan. Serak. Seperti suara orang yang sudah lama tidak bicara dan baru saja memutuskan untuk mulai lagi.
“Mas.”
Jeda. Napas.
“Saya nggak tahu Mas bakal dengerin ini atau nggak. Mungkin Mas langsung hapus. Nggak apa-apa.”
Jeda lagi. Lebih panjang.
“Saya cuma mau bilang satu hal. Mas pernah bilang, laki-laki nggak perlu rencana, cukup datang. Itu kalimat saya, sebenarnya. Mas cuma ngulang.”
Suara tawa kecil. Basah.
“Saya bukan gadis yang nunggu dijemput, Mas. Saya bukan perempuan yang duduk di rumah sambil nunggu kabar. Saya sudah pernah jadi perempuan kayak gitu. Dua tahun lebih. Saya nggak mau jadi itu lagi.”
Suaranya menguat. Hanya sedikit.
“Saya perempuan yang tahu apa yang dia mau.”
Jeda. Lama sekali. Aku mendengar napasnya bergetar.
“Dan yang saya mau, Mas.”
Lalu rekaman itu berhenti.
Aku tidak membalas.
Bukan karena aku tidak mau. Aku memegang ponsel itu dengan jempol di atas tombol rekam selama dua puluh menit. Aku membuka mulut. Aku menutupnya. Aku menekan tombol rekam, lalu melepaskannya sebelum mengatakan apa-apa, dan rekaman satu detik berisi suara napas terkirim tanpa sengaja. Aku menghapusnya sebelum ia membacanya. Atau mungkin ia sudah membacanya. Aku tidak tahu.
Apa yang bisa kukatakan?
Saya juga mau kamu. Itu benar. Tapi itu kalimat yang egois. Itu kalimat laki-laki yang memegang tangan istri orang dan menolak melepaskannya.
Tunggu sampai ada kepastian. Itu juga benar. Tapi itu kalimat yang kejam. Itu kalimat yang menyuruhnya menjadi perempuan yang menunggu kabar lagi. Perempuan yang baru saja ia bilang tidak mau ia jadi.
Saya nggak tahu harus gimana. Itu yang paling benar. Dan itu yang paling tidak bisa kukatakan.
Jadi aku tidak mengatakan apa-apa. Aku memutar voice note itu lagi. Dan lagi. Dan lagi. Aku memutarnya sampai aku hafal setiap jeda, setiap napas, setiap gesekan kain. Aku memutarnya sampai suara azan subuh dari masjid di ujung jalan bercampur dengan suaranya di telingaku, dan yang saya mau, Mas, dan aku tidak tahu lagi mana yang doa dan mana yang bukan.
Jam enam pagi, aku mengirim pesan.
Aku: Selamat pagi. Sudah sarapan?
Dua centang biru.
Lalu, untuk pertama kalinya dalam empat hari:
Anjani: Belum.
Hanya itu. Satu kata. Aku menatapnya sampai layar ponselku mati sendiri.
Nisa datang ke kantorku hari Kamis siang.
Ia tidak memberi tahu. Ia tidak menelepon satpam. Ia langsung naik ke lantai dua, melewati gudang, melewati Tomi yang mencoba menghadangnya dengan dua tangan terbuka seperti penjaga gawang dan gagal total, lalu masuk ke ruanganku dan menutup pintu kaca di belakangnya dengan bunyi yang membuat seluruh anak gudang di bawah menengok ke atas.
Ia berdiri di depan mejaku dengan tangan di pinggang. Ia membawa buku kucing.
“Mas,” katanya. “Bodoh.”
“Nis.”
“Bodoh. Bodoh. Bodoh.” Ia membuka buku kucingnya, membalik halaman dengan kasar, lalu membanting buku itu terbuka di atas mejaku. “Baca.”
Aku membaca. Tulisan Nisa, besar-besar, dengan pulpen merah, di satu halaman penuh:
HARI INI KAK ANJANI DI STUDIO DARI JAM 6 PAGI SAMPE JAM 10 MALEM. NGGAK MAKAN. PAK KUMIS ANTERIN BAKSO, NGGAK DIMAKAN. BU IYAH ANTERIN NASI BUNGKUS, NGGAK DIMAKAN. MAWAR KUNING DARI MAS DITARO DI VAS DI MEJA KERJANYA. DILIATIN TERUS. SAMA FOTO MAS FIKRI DI RAK DIAMBIL, DITARO DI SEBELAHNYA. DUA-DUANYA DILIATIN. DARI PAGI SAMPE MALEM.
Di bawahnya, lebih kecil:
Mas tau nggak rasanya disuruh milih antara mawar sama foto?
Aku menutup buku itu pelan-pelan.
“Aku nggak nyuruh dia milih, Nis.”
“Mas ngirim mawar kuning!” Nisa memukul meja. “Mawar kuning artinya temen! Mas bilang ke dia, kita temenan aja dulu, sambil nunggu suami kamu pulang. Itu yang Mas bilang!”
“Bukan gitu.”
“Terus gimana?”
Aku menatap adikku. Adikku yang menyamar jadi pelayan katering. Yang mencatat setiap kali aku menyebut nama Anjani di meja makan. Yang menjerit ke handuk di kamar mandi waktu aku pertama kali mengatakan sesuatu yang manis tanpa sadar.
“Kalau dia pulang, Nis,” kataku pelan. “Kalau itu beneran dia. Kak Anjani masih istrinya.”
Nisa membuka mulut. Lalu menutupnya.
“Aku nggak bisa jadi laki-laki yang megangin tangan istri orang,” kataku. “Sementara suaminya lagi luka di kamp pengungsian. Sementara ibunya nelepon aku sambil nangis. Aku nggak bisa, Nis.”
Nisa menatapku lama. Matanya mulai berkaca-kaca. Lalu ia menarik kursi di depan mejaku dan duduk, pelan, seperti balon yang kempes.
“Terus Mas mau gimana?” tanyanya, suaranya jauh lebih kecil. “Mas mau nunggu? Kayak Kak Anjani dulu?”
Aku tidak menjawab.
“Mas,” bisik Nisa. “Mas nggak boleh kayak Kak Anjani dulu. Enam bulan nggak keluar kamar. Mas nggak boleh.”
“Aku keluar kamar, Nis. Aku kerja.”
“Itu lebih parah.” Nisa menyeka matanya dengan punggung tangan. “Mas kalau sedih nggak nangis. Mas kalau sedih kerja. Kerja terus. Sampai jatuh di garasi.”
Di luar pintu kaca, aku melihat Tomi berdiri di tangga dengan cangkir kopi di tangan, pura-pura sedang membaca papan pengumuman yang sudah ia baca seribu kali.
Malam itu, setelah makan malam jam tujuh, setelah Ibu menatapku menyuap nasi sedikit demi sedikit tanpa berkata apa-apa, aku masuk ke kamar dan menutup pintu.
Aku duduk di tepi tempat tidur. Di belakang pintu, kemeja biru muda itu masih tergantung. Mawar kuning kering di sakunya sudah sangat rapuh sekarang. Kelopaknya mulai rontok, satu-satu, ke lantai di bawah gantungan.
Aku membuka genggaman tanganku. Cincin emas putih itu ada di telapak tanganku, hangat karena sudah digenggam berjam-jam.
Aku memikirkan semua orang di hidupku yang menunggu.
Ibu, yang menunggu Ayah pulang dari dinas, bertahun-tahun yang lalu, dengan piring yang ditutup tudung saji. Ibu, yang menungguku pulang jam tujuh setiap malam selama sembilan tahun. Bu Sri dan Pak Hendra, yang menunggu di depan pintu kamar putrinya selama enam bulan, gantian, siang dan malam. Bu Aminah, yang menunggu anaknya pulang dari Timur Tengah dan tidak pernah berhenti menunggu, bahkan setelah membuat nisan tanpa jenazah.
Dan Anjani. Anjani yang dulu menunggu di Jakarta, menghitung hari setiap kali Fikri pergi ke tempat bencana. Anjani yang memegang lengan kemeja di bandara sampai ditegur petugas. Anjani yang menunggu lima minggu sampai telepon itu datang.
Mereka semua menunggu seseorang.
Dan aku. Aku tidak pernah menunggu siapa pun. Aku yang selalu ditunggu. Aku yang selalu pulang. Aku yang selalu datang tepat waktu, empat menit sebelum jam tujuh, sebelum siapa pun sempat merasa cemas. Aku membangun seluruh hidupku di atas satu janji kecil yang kubuat waktu kelas lima SD: aku tidak akan membuat siapa pun menunggu.
Tapi malam ini aku mengerti sesuatu yang tidak pernah kupahami selama tiga puluh tahun.
Selalu pulang tidak sama dengan ditunggu.
Aku pulang ke rumah ini setiap malam, dan Ibu menungguku, karena aku anaknya. Tapi di sebuah kamar di Bogor Barat, seorang perempuan duduk di lantai studio dengan mawar kuning dan foto seorang laki-laki berompi oranye, dan yang ia tunggu bukan aku. Mungkin ia tidak menunggu siapa-siapa. Mungkin ia sudah berhenti menunggu bertahun-tahun yang lalu. Tapi kalau pintu kedatangan di bandara itu terbuka, dan yang keluar adalah laki-laki yang ia peluk di bandara yang sama, laki-laki yang memanggilnya Jan dan memberinya anak ayam dari Flores ...
Aku menatap cincin di telapak tanganku.
“Aku bisa jadi laki-laki yang selalu pulang,” kataku pelan, ke kamar yang kosong. “Tapi aku bukan laki-laki yang ditunggu.”
Kalimat itu menggantung di udara. Tidak ada yang menjawab. Hanya suara jangkrik di luar jendela dan suara televisi dari ruang tengah, tempat Ayah menonton berita dengan volume yang sangat pelan.
Aku menggenggam cincin itu lagi.
Lalu aku berbaring, dan untuk pertama kalinya sejak kelas lima SD, aku menangis. Pelan. Tanpa suara. Dengan wajah di bantal, supaya Ibu tidak mendengar.
Ibu mendengar. Tentu saja Ibu mendengar. Dinding rumah kami tipis.
Ibu tidak masuk. Ibu hanya berdiri di depan pintu kamarku. Aku tahu karena aku melihat bayangan kakinya di celah bawah pintu. Bayangan itu berdiri di sana lama sekali. Lalu, pelan, bayangan itu turun. Ibu duduk. Di lantai lorong. Bersandar di pintu kamarku.
Seperti Pak Hendra di kursi depan kamar Anjani.
Kami berdua duduk seperti itu, dipisahkan oleh sebuah pintu kayu bercat putih, sampai aku berhenti menangis. Lalu bayangan itu bangkit, dan aku mendengar langkah kaki Ibu yang pelan menjauh ke kamarnya.
Ibu tidak pernah menyebut malam itu. Tidak sekali pun. Sampai hari ini.
Jam tiga pagi, aku bangun dan duduk di meja kerja.
Aku tidak membuka laptop. Aku membuka laci dan mengeluarkan kertas JANGAN yang ditulis Anjani dengan spidol merah. Aku meletakkannya di meja, berdiri seperti tenda kecil.
Lalu aku mengambil selembar kertas HVS baru dan pulpen. Aku menulis, dengan tulisan tanganku yang rapi dan kaku, seperti menulis rencana kerja:
Masalah: Tidak ada kepastian.
Akibat: Anjani tidak bisa maju. Bu Aminah tidak bisa tenang. Fadhil tidak bisa bebas. Saya tidak bisa berdiri di sebelahnya.
Solusi: Cari kepastian.
Aku menatap tiga baris itu lama.
Aku tidak bisa membuat laki-laki di kamp pengungsian itu menjadi Fikri atau bukan Fikri. Aku tidak bisa membuat Anjani memilih. Aku tidak bisa membuat Bu Aminah berhenti menangis.
Tapi aku orang logistik. Aku tahu satu hal yang tidak diketahui kebanyakan orang: bahwa barang yang hilang di perjalanan jarang benar-benar hilang. Barang itu hanya tersangkut. Di gudang transit. Di pelabuhan. Di meja seseorang yang lupa mengirim dokumen. Dan barang yang tersangkut bisa dilacak, kalau ada orang yang cukup keras kepala untuk menelepon setiap titik di rute itu, satu per satu, sampai ketemu.
Aku menulis baris keempat:
Langkah pertama: Telepon lembaganya. Telepon Kemenlu. Telepon siapa pun.
Lalu baris kelima, lebih kecil:
Bukan buat saya. Buat dia. Dia berhak tahu.
Jam delapan pagi, aku menelepon Fadhil.
“Mas?” Suaranya terdengar kaget. Lalu takut. “Mas, ada apa?”
“Dhil. Nomor lembaganya Mas Fikri. Kamu punya?”
Hening. “Punya, Mas. Kenapa?”
“Kirim ke saya. Sama nama orang yang nelepon kamu kemarin. Sama semua yang mereka bilang. Foto juga, kalau ada.”
“Mas mau ngapain?”
Aku menatap kertas HVS di mejaku. Lima baris. Rapi. Kaku.
“Saya mau bantu cari kepastian,” kataku.
Hening yang lama sekali di ujung telepon. Lalu, dengan suara yang sangat kecil, seperti suara anak SMA yang dulu dibantu mengerjakan PR fisika:
“Mas,” kata Fadhil. “Kalau itu beneran Mas Fikri ... Mas kehilangan Mbak Anjani.”
“Saya tahu, Dhil.”
“Terus kenapa Mas mau bantu?”
Aku menatap cincin emas putih yang sekarang tergeletak di atas kertas HVS, di sebelah baris kelima.
Bukan buat saya. Buat dia. Dia berhak tahu.
“Karena dia sudah nunggu kepastian dua tahun lebih,” kataku. “Dan nggak ada yang pernah ngasih. Saya mau jadi orang pertama yang ngasih.”
Fadhil tidak menjawab. Tapi tiga menit kemudian, ponselku bergetar. Satu nomor telepon. Satu nama. Satu foto buram seorang laki-laki kurus berjanggut tipis yang berbaring di ranjang lipat di dalam tenda putih, dengan perban di kepala dan mata yang terpejam.
Aku menatap foto itu lama.
Mirip. Fadhil benar. Alis tebal yang sama. Hidung yang sama. Garis rahang yang sama dengan laki-laki di bingkai foto di rak studio, yang tertawa sambil memeluk anak kecil berambut keriting.
Aku menyimpan foto itu. Lalu aku menelepon nomor itu.
- 1 Jam Tujuh
- 2 Janji Arisan
- 3 Pertemuan Pertama
- 4 Tameng
- 5 Krisan Putih
- 6 Bekal Gosong
- 7 Calon Saya
- 8 Rencana Hujan
- 9 Jangan Korbankan Hidupmu
- 10 Sup Hari Kamis
- 11 Pasien Paling Bandel
- 12 Mas Lulus
- 13 Cemburu pada Orang Baik
- 14 Izin
- 15 Undangan yang Tidak Menyebut Namaku
- 16 Langkah Kuda
- 17 Persiapan Rahasia
- 18 Sekali, Umur Dua Tahun
- 19 Masih Tameng?
- 20 Bukan
- 21 Cincin
- 22 Mawar Kuning
- 23 Bukan yang Ditunggu reading
- 24 Administrasi Kepulangan
- 25 Maju Dua Langkah
- 26 Lampu Teras
- 27 Pintu Kedatangan
- 28 Catatan Terakhir
- 29 Kiriman Tanpa Nama
- 30 Krisan Putih, Kali Ini Benar
- 31 Restu
- 32 Janda Tahu Caranya
- 33 Bukan Pengganti
- 34 Proyek A, Versi Final
- 35 Malam Tanpa Jam Tujuh
- 36 Selamat Datang Pulang
- 37 Malam Pertama
- 38 Laporan Bulanan
- 39 Jam Tujuh, ke Rumah Kita
- 40 Proyek B
- 41 Epilog — Hujan