Chapter Three
Pertemuan Pertama
POV: Bagas
Aku menyiapkan pertemuan itu seperti menyiapkan audit tahunan.
Ada catatan di ponselku. Judulnya “Sabtu, 15.00”. Isinya:
1. Salam. Jangan jabat tangan terlalu lama (Nisa: “maks 2 detik, Mas, lebih dari itu serem”).
2. Tanyakan pekerjaan. Dengarkan. Jangan bahas rute truk.
3. Tanyakan hobi. JANGAN jawab “merapikan rute pengiriman”.
4. Topik aman: kuliner Bogor, cuaca, keluarga.
5. Topik bahaya: politik, gaji, mantan.
6. Pesan minuman yang tidak berisik diminum (bukan jus pakai sedotan).
7. Bayar. (Ibu: “Harus bayar.” Tomi: “Jangan bayar, cewek modern tersinggung.” → TANYA DULU?)
8. Exit strategy: kalau canggung, pura-pura ditelepon gudang.
Poin delapan kuhapus, lalu kutulis lagi, lalu kuhapus lagi. Akhirnya kubiarkan, dengan tambahan: (JANGAN.)
Tempatnya kafe kecil di dekat pintu samping Kebun Raya, pilihan Bu Sri. Bangunan tua bercat putih dengan jendela-jendela besar yang menghadap pepohonan, lantai tegel kuning, dan pot-pot pakis yang menjuntai dari langit-langit. Aku datang jam dua lewat tiga puluh lima, dua puluh lima menit lebih awal, karena “lebih awal adalah tepat waktu, tepat waktu adalah terlambat”. Itu kalimat yang kutempel di dinding kantor, dan tim gudang membencinya.
Aku memilih meja di dekat jendela. Lalu pindah ke meja di pojok, karena di dekat jendela terlalu terang dan aku khawatir terlihat berkeringat. Lalu kembali ke dekat jendela, karena di pojok terlalu gelap dan terkesan seperti orang yang mau berbuat jahat.
Pelayan kafe, seorang anak muda dengan celemek hijau, memperhatikan perpindahanku dengan sabar.
“Sudah, Mas? Yang ini?”
“Yang ini.”
“Yakin?”
“Yakin.”
Ia meletakkan menu di meja dan pergi sambil menahan senyum. Aku tahu ia menahan senyum karena aku melihat bayangannya di jendela.
Jam dua lewat lima puluh delapan, ponselku bergetar.
Nisa: Mas udah dateng?
Nisa: Mas jangan lupa senyum
Nisa: tapi jangan kebanyakan senyum
Nisa: senyum yang normal
Nisa: Mas tau kan senyum normal itu gimana?
Nisa: Mas???
Aku membalik ponsel ke meja.
Jam tiga tepat, pintu kafe terbuka.
Aku sudah melihat fotonya. Aku sudah memperbesarnya sampai bisa menghitung bulu matanya. Aku pikir aku sudah siap.
Aku tidak siap.
Ia masuk dengan langkah yang tidak tergesa-gesa, seperti orang yang tidak pernah terlambat dan karena itu tidak pernah perlu berlari. Ia memakai blus putih sederhana dengan lengan sampai siku dan rok panjang berwarna hijau zaitun yang bergerak pelan setiap kali ia melangkah. Rambutnya tidak digelung seperti di foto; kali ini digerai, panjang sampai punggung, berwarna cokelat gelap dengan ujung yang sedikit bergelombang. Ia tidak memakai banyak riasan. Ia tidak perlu.
Cahaya sore masuk dari jendela-jendela besar, dan ketika ia berjalan melewati jendela pertama, cahaya itu jatuh tepat di wajahnya. Selama satu detik, seluruh kafe seperti berhenti. Pelayan bercelemek hijau berhenti mengelap gelas. Seorang bapak di meja sebelah berhenti mengaduk kopinya. Dan aku berhenti bernapas.
Kulitnya terang dan bersih. Garis rahangnya tegas, hidungnya kecil dan lurus, dan bibirnya tidak tersenyum tapi juga tidak cemberut, seperti sedang menimbang apakah ada alasan untuk tersenyum. Tahi lalat kecil di bawah mata kirinya ada di sana, persis seperti di foto. Dan matanya, mata cokelat gelap yang sedikit menyipit di ujungnya, menyapu ruangan sekali dan langsung menemukanku.
Belakangan, aku banyak berpikir tentang detik itu. Apakah benar seseorang bisa jatuh cinta dalam satu detik? Apakah itu bukan sekadar kagum, terpesona, hormon? Aku orang logistik. Aku percaya pada data, pada proses, pada sesuatu yang bisa diukur.
Tapi yang terjadi padaku sore itu tidak bisa diukur. Rasanya seperti seseorang membuka pintu di dalam dadaku, pintu yang tidak pernah kutahu ada, dan angin masuk dari sana.
Ia berjalan ke mejaku. Aku berdiri terlalu cepat dan lututku menghantam kaki meja. Gelas air putih bergoyang.
“Mas Bagas?”
Suaranya rendah dan sedikit serak, seperti suara orang yang baru bangun tidur siang.
“Saya,” kataku. “Bagas. Saya Bagas.”
Seluruh isi catatan di ponselku menguap. Poin satu sampai delapan hilang begitu saja, seperti file yang terhapus tanpa cadangan.
“Anjani.” Ia mengulurkan tangan.
Aku menjabatnya. Tangannya dingin dan halus, dengan sedikit kapalan di ujung jari, mungkin karena gunting bunga. Aku menghitung dalam hati: satu, dua. Aku melepasnya tepat di detik kedua. Nisa akan bangga.
Ia duduk. Aku duduk. Lututku masih berdenyut.
Pelayan bercelemek hijau datang. Anjani memesan teh melati panas, satu teko. Aku memesan teh melati panas juga, karena aku tidak bisa memikirkan minuman lain di dunia.
“Samain, Mas?” tanya pelayan itu.
“Samain.”
“Satu teko berdua aja kalau gitu,” kata Anjani. “Biar nggak mubazir.”
Pelayan itu menatapku. Aku mengangguk. Ia pergi dengan langkah yang terlalu ringan.
Kami duduk berhadapan. Aku menyadari bahwa aku harus mengatakan sesuatu. Poin dua: tanyakan pekerjaan. Aku tahu pekerjaannya, karena aku sudah melihat ember-ember bunga di fotonya. Tapi aku tidak boleh mengaku sudah melihat fotonya dengan sangat teliti. Jadi aku harus berpura-pura tidak tahu. Tapi kalau berpura-pura tidak tahu dan ia tahu aku pura-pura ...
“Mas,” kata Anjani.
“Ya?”
“Mas mau ngomong sesuatu, tapi lagi mikir terlalu keras.”
Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Teh datang. Teko putih dengan dua cangkir kecil. Anjani mengambil teko itu sebelum aku sempat bergerak dan menuangkan teh ke cangkirku lebih dulu, lalu ke cangkirnya. Gerakannya tenang dan terbiasa, seperti orang yang sudah ribuan kali menuangkan teh untuk orang lain. Ia mendorong cangkirku ke arahku, dan waktu aku mengulurkan tangan untuk mengambilnya, ujung jarinya masih di bibir cangkir.
Jari kami bersentuhan.
Hanya ujungnya. Sepersekian detik. Tapi ia tidak menarik tangannya lebih dulu. Aku yang menarik, karena aku kaget, dan sedikit teh tumpah ke tatakan.
Anjani tidak berkomentar. Ia hanya mengangkat cangkirnya sendiri, menyesap teh pelan-pelan, dan menatapku dari balik bibir cangkir. Lama.
Aku mengambil sendok kecil di tatakan dan mulai mengaduk teh. Teh tanpa gula. Aku tidak tahu kenapa aku mengaduknya.
“Mas,” katanya lagi.
“Ya?”
“Sendoknya kebalik.”
Aku melihat ke bawah. Aku sedang memegang sendok di bagian cekungnya dan mengaduk dengan gagangnya.
Aku membalik sendok itu. Lalu, karena panik, aku membaliknya lagi. Lalu aku meletakkannya di tatakan dan memutuskan bahwa sendok bukan bagian dari hidupku hari ini.
Anjani meletakkan cangkirnya. Ia mencondongkan badan sedikit, menopangkan dagu di punggung tangannya, dan menatapku dengan mata yang sedikit menyipit, persis seperti di foto, seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang bodoh tapi menyenangkan.
“Mas,” katanya pelan. “Saya mau terus terang dulu, biar nggak ada yang buang-buang waktu.”
“Silakan.”
“Saya janda, Mas.”
Aku tidak tahu wajahku seperti apa saat itu. Mungkin terkejut. Mungkin bingung. Ibu tidak menyebutnya. Bu Sri tidak menyebutnya. Bahkan Pak Hendra, di teras, berhenti tepat sebelum kata itu.
Biar dia cerita sendiri. Itu haknya.
“Suami saya relawan medis,” lanjut Anjani. Suaranya datar, tenang, seperti membacakan alamat. “Dua tahun lebih yang lalu, waktu bertugas di Timur Tengah, lembaganya mengabarkan dia meninggal. Daerahnya diserang. Jenazahnya nggak pernah ketemu.”
Kafe itu masih ramai. Bapak di meja sebelah masih mengaduk kopinya. Dari dapur terdengar desis mesin espreso. Tapi suara-suara itu terdengar sangat jauh.
“Saya nggak cerita ini supaya Mas kasihan,” kata Anjani. “Saya sudah selesai sama bagian itu. Sudah lama. Saya cerita karena Mas berhak tahu sebelum memutuskan mau ketemu lagi atau nggak. Dan karena ibu saya pasti nggak bilang, ibu Mas juga pasti nggak bilang, dan saya nggak suka ada orang yang ketemu saya tanpa tahu apa-apa.”
Aku menatapnya. Ia menatapku balik. Tidak ada air mata. Tidak ada getar di suaranya. Hanya seorang perempuan yang duduk tegak di kursi kayu dengan tangan terlipat di meja, menunggu dengan sabar, seperti sudah berkali-kali melihat laki-laki mundur di titik ini dan sudah siap melihatnya sekali lagi.
Aku memikirkan semua yang mungkin kukatakan. Saya turut berduka. Terlalu terlambat dua tahun. Saya tidak masalah. Terlalu mudah, seperti menyetujui kontrak tanpa membaca. Terima kasih sudah jujur. Terlalu seperti rapat.
Yang keluar dari mulutku adalah:
“Saya juga mau terus terang, kalau begitu.”
Alisnya terangkat sedikit.
“Tadi saya bikin catatan,” kataku. “Delapan poin. Apa yang harus diomongin, apa yang nggak boleh. Begitu Mbak masuk, semuanya hilang. Saya nggak ingat satu pun. Dari tadi saya cuma mikir satu hal, dan hal itu nggak ada di catatan.”
“Apa?”
“Saya nggak mau ini jadi satu kali saja.”
Aku langsung menyesalinya. Terlalu cepat. Terlalu jujur. Ibu akan memijat keningnya. Nisa akan menjerit ke bantal.
Tapi Anjani tidak mundur. Ia diam sebentar, memperhatikanku dengan kepala sedikit miring. Lalu sudut bibirnya bergerak. Bukan senyum, belum. Hanya sesuatu yang bergeser.
“Saya janda, Mas,” katanya lagi, kali ini lebih pelan, nadanya berubah. “Jadi Mas nggak usah pura-pura sama saya. Saya sudah pernah menikah. Saya tahu laki-laki kalau lagi suka itu kelihatan dari mana.”
Aku menelan ludah. “Dari mana?”
Ia tidak menjawab. Ia hanya menatap wajahku, lalu turun sedikit ke samping, ke sisi kepalaku.
“Kuping Mas merah,” katanya. “Dari tadi.”
Aku mengangkat tangan secara refleks untuk menyentuh telingaku. Telingaku panas seperti baru dijepit setrika.
Lalu Anjani tertawa.
Tawanya pendek dan rendah, tawa yang lolos sebelum sempat ditahan. Ia menutup mulut dengan punggung tangan, tapi matanya tetap tertawa, menyipit di ujung, dan tahi lalat kecil di bawah mata kirinya ikut terangkat.
“Saya suka,” katanya di sela tawa itu.
Aku tidak tahu ia suka yang mana. Kupingku? Kenyataan bahwa kupingku merah? Atau sesuatu yang lain? Aku tidak berani bertanya. Aku mengambil sendok kecil lagi, dan baru setelah ia tertawa untuk kedua kalinya aku sadar bahwa aku memegangnya terbalik, lagi.
Kali ini aku tidak membaliknya.
Kami mengobrol satu setengah jam. Aku tidak ingat sebagian besar isinya, dan aku ingat semuanya.
Ia punya studio bunga kecil di dekat Jalan Pajajaran, baru buka empat bulan. Ia lulusan arsitektur lanskap, pernah bekerja di konsultan di Jakarta, lalu berhenti. Ia tidak menjelaskan kenapa, dan aku tidak bertanya. Ia suka hujan tapi benci becek. Ia minum teh tanpa gula dan menganggap orang yang menambahkan gula ke teh melati sebagai “kejahatan kecil terhadap bunga”. Aku memutuskan untuk tidak pernah menambahkan gula ke teh melati seumur hidupku.
Ia bertanya tentang pekerjaanku. Aku menjelaskan, dan karena aku gugup, aku menjelaskan terlalu detail: sistem gudang, jadwal armada, rute pengiriman. Di tengah penjelasan aku sadar bahwa aku sedang melanggar poin dua dan poin tiga sekaligus. Aku berhenti di tengah kalimat.
“Maaf. Ini membosankan.”
“Nggak,” katanya. “Lanjutin.”
“Beneran?”
“Mas kalau ngomong soal kerjaan, tangannya berhenti gemetar.” Ia mengangkat cangkirnya. “Lanjutin.”
Aku melanjutkan. Tanganku memang berhenti gemetar. Aku tidak tahu ia memperhatikan tanganku.
Jam empat lewat dua puluh, ponselku bergetar di meja, layar menghadap ke bawah. Aku tidak mengangkatnya. Bergetar lagi. Lagi. Lagi.
“Mas nggak angkat?”
“Itu adik saya.”
“Kok tahu?”
“Cuma dia yang nelepon empat kali berturut-turut tanpa alasan.”
Ponsel itu bergetar untuk kelima kalinya, lalu berhenti, dan sedetik kemudian berbunyi notifikasi pesan. Aku tidak perlu membukanya untuk tahu isinya kira-kira MAS GIMANA.
Anjani tersenyum ke cangkirnya. “Lucu.”
“Adik saya?”
“Mas.”
Jam setengah lima, langit di luar jendela mulai menguning. Aku melirik jam tanganku. Setengah lima. Dari sini ke rumah dua puluh lima menit kalau lancar, empat puluh kalau Pajajaran macet. Aku masih punya waktu.
Anjani melihatku melirik jam.
“Mas ada janji?”
“Nggak. Saya ... saya biasa pulang jam tujuh.”
“Jam tujuh?”
“Makan malam. Di rumah.”
Ada sesuatu yang lewat di wajahnya. Cepat sekali, seperti bayangan burung di jendela. Lalu hilang.
“Ya sudah,” katanya, mengambil tasnya. “Saya juga harus balik ke studio. Ada pesanan buat besok pagi.”
Kami berdiri. Poin tujuh tiba-tiba muncul kembali di kepalaku, satu-satunya poin yang selamat dari bencana: Bayar. Aku mengeluarkan dompet. Anjani sudah lebih dulu mengangkat tangan memanggil pelayan.
“Saya yang bayar, Mbak,” kataku.
“Kenapa?”
Aku tidak siap untuk pertanyaan itu. Ibu bilang harus. Tomi bilang jangan. Catatanku bilang tanya dulu. Aku tidak bertanya dulu.
“Karena ... saya pengin,” kataku akhirnya.
Anjani menatapku sebentar, lalu menurunkan tangannya. “Oke. Tapi minggu depan saya yang bayar.”
Minggu depan. Ia bilang minggu depan.
Aku membayar. Pelayan bercelemek hijau menerima uangku dan, waktu mengembalikan kembalian, membungkuk sedikit dan berbisik, “Semangat, Mas.” Aku pura-pura tidak mendengar.
Di depan kafe, angin sore dari arah Kebun Raya membawa bau tanah basah dan daun. Anjani berhenti di trotoar dan menoleh padaku.
“Mas mau ketemu lagi karena disuruh ibu Mas,” katanya, “atau karena Mas mau?”
“Mau.”
Aku menjawab terlalu cepat lagi. Aku sudah berhenti menyesalinya.
“Kalau begitu,” katanya, “jangan minta nomor saya lewat ibu saya. Jangan minta lewat ibu Mas juga.”
“Terus?”
Ia mengeluarkan ponselnya dari tas dan menyodorkannya padaku, layar kontak baru sudah terbuka.
“Ketik nomor Mas.”
Aku mengetik. Jariku salah tekan dua kali. Ia menunggu dengan sabar, dan aku tahu tanpa melihat bahwa ia sedang tersenyum.
Aku mengembalikan ponselnya. Ia mengetik sesuatu di kolom nama. Aku tidak bisa melihat apa yang ia tulis.
“Nomor Mbak?” tanyaku.
“Nanti juga Mas dapat.”
“Kapan?”
“Kalau Mas cari saya sendiri.” Ia memasukkan ponsel ke tasnya. “Studio saya cuma satu di Pajajaran yang catnya hijau sage. Kalau Mas mau, Mas tahu di mana.”
Lalu ia berbalik dan berjalan ke mobilnya, sebuah city car putih yang diparkir dua bangunan dari kafe. Rok hijau zaitunnya bergerak pelan di udara sore. Ia tidak menoleh.
Lalu, tepat sebelum masuk ke mobil, ia menoleh.
Hanya sekali. Hanya sebentar. Ia mengangkat tangan setinggi bahu, melambai kecil dengan ujung jari.
Aku melambai balik dengan seluruh lenganku, seperti orang yang menghentikan bus.
Aku sampai di rumah jam tujuh kurang satu menit.
Bukan empat menit seperti biasa. Satu menit. Pajajaran macet, dan aku duduk di mobil yang tidak bergerak sambil memandangi lampu rem di depan, dan untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun aku lupa melihat jam. Aku baru sadar waktu lampu lalu lintas berganti hijau dan klakson di belakangku berbunyi panjang.
Ibu sudah duduk di meja makan. Ayah sudah memakai sarung lagi. Nisa, yang seharusnya di rumahnya sendiri, duduk di kursi Kiki dengan buku kucing terbuka.
Semua orang menatapku.
“Gimana?” tanya Ibu.
Aku melepas sepatu dengan perlahan. Aku menggantung kunci mobil di tempatnya. Aku duduk di kursiku, di sebelah kiri Ayah, dan mengambil centong nasi, lalu mulai menyendokkan nasi ke piring Ayah, seperti biasa.
“Gas,” kata Ibu. “Gimana?”
Aku menyendokkan nasi ke piring Ibu.
“Mas!” Nisa memukul meja pelan. “Gimanaaa?”
Aku meletakkan centong. Aku menatap Ibu.
“Bu,” kataku. “Ibu tahu nggak, toko bunga di Pajajaran yang catnya hijau sage?”
Ibu menatapku. Nisa menatapku. Ayah, perlahan sekali, menurunkan kacamatanya.
Lalu Nisa berdiri, berlari ke kamar mandi, dan menjerit ke dalam handuk.
- 1 Jam Tujuh
- 2 Janji Arisan
- 3 Pertemuan Pertama reading
- 4 Tameng
- 5 Krisan Putih
- 6 Bekal Gosong
- 7 Calon Saya
- 8 Rencana Hujan
- 9 Jangan Korbankan Hidupmu
- 10 Sup Hari Kamis
- 11 Pasien Paling Bandel
- 12 Mas Lulus
- 13 Cemburu pada Orang Baik
- 14 Izin
- 15 Undangan yang Tidak Menyebut Namaku
- 16 Langkah Kuda
- 17 Persiapan Rahasia
- 18 Sekali, Umur Dua Tahun
- 19 Masih Tameng?
- 20 Bukan
- 21 Cincin
- 22 Mawar Kuning
- 23 Bukan yang Ditunggu
- 24 Administrasi Kepulangan
- 25 Maju Dua Langkah
- 26 Lampu Teras
- 27 Pintu Kedatangan
- 28 Catatan Terakhir
- 29 Kiriman Tanpa Nama
- 30 Krisan Putih, Kali Ini Benar
- 31 Restu
- 32 Janda Tahu Caranya
- 33 Bukan Pengganti
- 34 Proyek A, Versi Final
- 35 Malam Tanpa Jam Tujuh
- 36 Selamat Datang Pulang
- 37 Malam Pertama
- 38 Laporan Bulanan
- 39 Jam Tujuh, ke Rumah Kita
- 40 Proyek B
- 41 Epilog — Hujan