Chapter Twenty Five

Maju Dua Langkah

POV: Anjani

Aku tahu dari selembar formulir.

Mbak Rara meneleponku hari Selasa pagi. Suaranya serak dan sopan, suara yang kukenal dari dua tahun lalu, waktu ia meneleponku untuk mengabarkan bahwa Fikri tidak akan pulang. Hari itu suaranya bergetar. Hari ini suaranya lebih tegas, tapi tetap ada sesuatu di bawahnya, sesuatu yang hati-hati.

“Mbak Anjani,” katanya. “Evakuasi medisnya sudah dijadwalkan. Tiga minggu lagi, insyaallah. Tapi ada beberapa dokumen yang harus ditandatangani keluarga terdekat.”

“Keluarga terdekat?”

Hening. Lalu, sangat pelan: “Istri, Mbak. Secara hukum, Mbak masih tercatat sebagai istri.”

Aku duduk di kursi kayu di belakang meja kerja studio. Mawar kuning dari Bagas masih ada di vas di depanku. Sudah seminggu, kelopaknya mulai layu di pinggir. Di sebelahnya, bingkai foto Fikri yang kuambil dari rak.

“Kalau memang dia Fikri,” kata Mbak Rara, “rumah sakit butuh persetujuan istri untuk tindakan medis. Kalau bukan Fikri, formulirnya nggak berlaku. Tapi kami harus siapkan dua-duanya.”

“Saya ke sana,” kataku.


Aku ke Jakarta hari Rabu. Sendirian. Mama mau ikut. Aku bilang tidak usah.

Ruko dua lantai itu tidak berubah sejak terakhir kali aku ke sini, dua tahun lalu, untuk mengambil surat resmi dan jam tangan yang ternyata bukan milik Fikri. Papan nama akrilik yang menguning. Laundry kiloan di sebelah kiri. Warung pecel lele di sebelah kanan. Tangga sempit ke lantai dua.

Tapi ada yang berubah di ruangan Mbak Rara. Papan tulis putih di dindingnya penuh dengan coretan baru. Rute penerbangan. Nama operator. Angka-angka yang dicoret dan ditulis ulang. Dan di pojok kanan bawah, dengan spidol biru, sebuah tulisan tangan yang sangat rapi, sangat kaku, sangat kukenal, yang jelas bukan tulisan Mbak Rara:

Transit dihapus. Hemat 2 hari pendampingan. Operator B lebih efisien total.

Aku berdiri di depan papan tulis itu lama sekali.

“Mbak Anjani?” Mbak Rara memanggilku dari mejanya. “Silakan duduk.”

Aku duduk. Mbak Rara menjelaskan dokumen-dokumennya satu per satu. Formulir persetujuan medis. Formulir penerimaan jenazah, kalau-kalau kondisinya memburuk selama penerbangan. Aku menandatanganinya dengan tangan yang tidak gemetar, karena aku sudah memutuskan tanganku tidak boleh gemetar.

Lalu Mbak Rara menyodorkan dokumen terakhir. Rincian biaya evakuasi. Untuk diketahui keluarga.

Aku membaca angkanya. Angka yang besar. Angka yang tidak mungkin dibayar keluarga Ramadhan. Angka yang tidak mungkin dibayar oleh studio bunga kecil di Pajajaran.

Di bawah angka itu, ada kolom yang bertuliskan Sumber Dana. Dua baris. Baris pertama: Bantuan Kementerian Luar Negeri RI. Baris kedua: Donatur Perorangan.

Dan di sebelah Donatur Perorangan, di kolom kecil yang bertuliskan Penjamin Biaya (untuk keperluan administrasi rumah sakit), sebuah nama. Diketik rapi. Dengan tanda tangan di sebelahnya. Tanda tangan yang rapi dan kaku.

Bagas Adinegara.


Aku tidak ingat apa yang kukatakan pada Mbak Rara. Aku ingat ia meminta maaf berkali-kali. Aku ingat ia bilang beliau minta dicatat sebagai hamba Allah, Mbak, tapi untuk rumah sakit harus ada nama penjamin, saya nggak bisa ... dan aku ingat aku mengangguk, dan menandatangani dokumen itu juga, karena aku harus.

Aku ingat ia mengantarku ke tangga dan berkata, pelan, dengan tangan di lenganku:

“Beliau di sini tiga jam, Mbak. Telepon operator penerbangan sendiri. Nawar sendiri. Pakai bahasa yang kami nggak ngerti, soal muatan, soal rute.” Mbak Rara tersenyum dengan mata basah. “Fadhil bilang, itu uang tabungan. Fadhil nggak bilang tabungan buat apa. Tapi wajahnya, Mbak. Wajah Fadhil waktu bilang itu.”

Aku menyetir pulang ke Bogor tanpa menyalakan radio.

Di tol Jagorawi, di kilometer empat puluhan, aku menepi di rest area. Aku duduk di mobil dan menelepon satu orang.

“Nis.”

“Kak?” Suara Nisa terdengar kaget. Lalu takut. “Kak kenapa?”

“Nisa, kamu pernah lihat spreadsheet Mas Bagas?”

Hening.

“Yang bukan Proyek A,” kataku. “Yang lain. Yang soal uang.”

Hening yang lebih lama. Lalu suara Nisa, sangat kecil, sangat pelan, seperti anak kecil yang terpaksa mengaku:

“Ada tab baru, Kak. Tiga minggu lalu. Aku lihat pas Mas ke kamar mandi.”

“Namanya apa?”

Nisa tidak langsung menjawab. Aku mendengarnya menarik napas, lalu menahannya, lalu melepaskannya pelan-pelan.

“Nikah, Kak,” bisiknya. “Namanya Nikah.”


Aku sampai di depan rumah keluarga Adinegara jam tujuh lewat dua puluh.

Aku tidak menelepon dulu. Aku tidak mengirim pesan. Aku memarkir mobil di depan pagar dan berjalan masuk tanpa membunyikan bel, karena pagarnya tidak pernah dikunci sebelum jam sembilan.

Tante Ratih yang membuka pintu. Ia melihat wajahku dan tidak bertanya apa-apa. Ia hanya mundur dan menunjuk ke dalam, ke arah ruang makan.

Mereka baru selesai makan. Om Darmawan masih duduk di ujung meja, dengan kacamata. Bagas sedang berdiri di depan bak cuci piring, membelakangi pintu, dengan lengan kemeja yang digulung sampai siku dan busa sabun di tangan.

Ia mencuci piring. Seperti ayahnya. Seperti yang ia ceritakan kepadaku bertahun-tahun yang lalu, rasanya, tapi sebenarnya baru tiga bulan: ayahnya mencuci, ibunya membilas, dan mereka tidak bicara, dan jari mereka bersentuhan, dan tidak satu pun dari mereka menganggapnya istimewa.

Malam ini ia mencuci sendirian.

“Mas,” kataku.

Piring di tangannya berhenti bergerak.

Ia tidak langsung berbalik. Aku melihat bahunya menegang. Aku melihat busa sabun menetes dari jarinya ke dalam bak. Lalu, pelan, ia mematikan keran, mengeringkan tangannya di lap, dan berbalik.

Ia melihat wajahku. Lalu ia melihat map cokelat di tanganku. Map dari Jembatan Asa, dengan logo palang hijau di pojok kanan atas.

Wajahnya berubah. Pelan. Seperti orang yang baru saja melihat truknya terguling di jalan tol dan tahu tidak ada lagi yang bisa diselamatkan dari muatannya.

Om Darmawan berdiri dari kursinya, pelan, dan berjalan keluar dari ruang makan tanpa sepatah kata pun. Tante Ratih menutup pintu dapur dari luar.

Kami berdua. Di dapur. Di depan bak cuci piring yang setengah penuh.


“Kenapa?” tanyaku.

Suaraku tidak keras. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri di sepanjang tol Jagorawi bahwa suaraku tidak akan keras. Tapi suaraku bergetar, dan aku tidak bisa menghentikannya.

“Kenapa Mas bantu dia pulang?”

Ia tidak menjawab. Ia berdiri di depan bak cuci dengan lap di tangan, menatapku.

“Mas tahu kalau itu beneran dia, saya ...” Aku tidak bisa menyelesaikannya. Aku mengangkat map cokelat itu. “Mas bayarin dia pulang pakai uang yang Mas tabung buat nikahin saya.”

Matanya bergerak sedikit, ke kiri, lalu kembali. Itu wajah orang yang tertangkap.

“Nisa,” katanya pelan.

“Jangan salahin Nisa.” Air mataku mulai turun. Aku membiarkannya. “Jawab saya, Mas. Kenapa?”

Ia meletakkan lap di pinggir bak cuci. Pelan. Rapi. Dilipat dua. Lalu ia menatapku, dan matanya jujur dan lelah dan sangat tenang, seperti air teh tubruk yang sudah mengendap.

“Karena kamu berhak tahu,” katanya.

Aku menatapnya.

“Kamu sudah nunggu kepastian dua tahun lebih,” katanya. “Nggak ada yang ngasih. Lembaganya nggak bisa. Keluarganya nggak bisa. Saya bisa.” Ia mengangkat bahu sedikit, seolah itu hal yang sangat sederhana. “Saya cuma nggak bisa lihat kamu nunggu lagi, Jani. Tiga bulan. Mungkin lebih. Duduk di lantai studio sama mawar kuning sama foto. Saya nggak bisa.”

“Terus kalau itu dia?”

“Terus kamu tahu.”

“Terus Mas?”

Ia tidak menjawab. Ia hanya menatap lantai dapur, di antara kami, seolah jawabannya tertulis di atas ubin.

Aku menjatuhkan map cokelat itu ke meja dapur. Bunyinya keras. Aku tidak peduli.

“Mas nggak boleh begitu,” kataku. Suaraku pecah. “Mas nggak boleh ngorbanin semua buat saya terus nggak nyisain apa-apa buat Mas. Saya sudah bilang. Di studio. Waktu Surabaya. Saya nggak mau jadi satu hal lagi yang Mas korbankan diri Mas buat.”

“Ini bukan buat kamu.”

“Bohong.”

“Ini buat dia.” Bagas menatapku. “Siapa pun dia. Dia lagi luka di tenda di perbatasan. Dia nyebut Indonesia. Dia nyebut ...” Ia berhenti.

“Nyebut apa?”

Ia menutup mulutnya.

“Mas. Dia nyebut apa?”

Lama sekali. Lalu, dengan suara yang sangat pelan:

“Jan.”


Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di dapur itu tanpa bergerak.

Jan.

Hanya satu orang yang memanggilku begitu. Dulu. Satu orang yang menulis Jan di setiap pesan, di setiap surat yang ia kirim dari tempat-tempat bencana, di setiap kertas kecil yang ia tempelkan di kulkas sebelum berangkat dinas. Jan, aku berangkat. Jan, makan yang bener. Jan, tiga bulan saja.

Aku seharusnya merasakan sesuatu. Harapan. Rindu. Duka yang terbuka lagi.

Yang kurasakan hanya takut.

Bukan takut Fikri hidup. Takut pada laki-laki di depanku ini, yang berdiri di dapur ibunya dengan lengan kemeja digulung dan lap yang dilipat rapi di pinggir bak cuci, yang tahu bahwa laki-laki di kamp itu memanggil Jan, yang tahu apa artinya, dan yang tetap membayar tiketnya pulang.

Takut karena aku tidak pernah dicintai seperti ini. Takut karena cinta seperti ini bisa membuat seseorang memberikan segalanya, sampai tidak ada yang tersisa.

“Mas,” kataku.

Ia tidak menjawab.

“Saya mau ngomong sesuatu. Dan Mas harus dengerin sampai habis. Jangan dipotong.”

Ia mengangguk.

Aku melangkah satu langkah ke arahnya.

“Kalau itu Fikri,” kataku, “saya akan temui dia. Saya akan duduk di sebelah ranjangnya di rumah sakit. Saya akan pegang tangannya. Saya akan dengerin semua yang dia mau bilang, kalau dia bisa bilang. Saya akan urus semuanya dengan benar. Di depan keluarganya. Di depan hukum. Di depan Allah.” Aku menarik napas. “Saya akan pamit dengan benar. Karena dua tahun lalu saya nggak sempat pamit.”

Bagas tidak bergerak.

“Tapi saya nggak nunggu dia, Mas,” kataku.

Aku melangkah satu langkah lagi. Sekarang hanya ada satu langkah di antara kami.

“Saya sudah selesai nunggu dia dua tahun yang lalu. Di lantai kamar. Di depan nisan tanpa jenazah. Saya sudah pamit di dalam hati ribuan kali, tiap kali Bapak tidur di kursi depan kamar saya.” Air mataku jatuh lebih deras. “Saya nggak nunggu dia. Saya nunggu Mas. Tiap pagi jam enam. Tiap Selasa sama Kamis jam delapan. Saya nunggu Mas.”

Ia membuka mulut. Aku mengangkat tangan.

“Belum selesai.”

Ia menutup mulut.

“Mas mundur,” kataku. “Saya tahu kenapa. Saya ngerti. Mas nggak mau berdiri di sebelah istri orang. Mas laki-laki baik. Mas laki-laki yang minta izin ke makam pakai ember pel.” Aku tertawa, basah, di tengah tangis. “Saya ngerti, Mas. Mas mundur satu langkah, karena Mas laki-laki baik.”

Aku melangkah langkah terakhir. Sekarang aku berdiri tepat di depannya. Cukup dekat sehingga aku bisa mencium bau sabun cuci piring di tangannya. Cukup dekat sehingga aku bisa melihat kupingnya, yang mulai memerah, bahkan sekarang.

“Tapi Mas perlu tahu satu hal tentang saya,” kataku pelan.

Ia menatapku.

“Kalau Mas mundur satu langkah,” kataku, “saya maju dua.”

Hening.

“Mas tahu, kan,” lanjutku, lebih pelan, mendongak menatap matanya, “saya nggak malu.”


Ia tidak memelukku. Aku tahu ia tidak akan memelukku. Ia sudah memutuskan, malam itu di teras belakang rumahku, dengan cincin yang ia lepas dan ia simpan di saku kemeja, bahwa ia tidak akan menyentuhku sampai ada kepastian. Laki-laki ini memegang keputusannya seperti ia memegang jam tujuh.

Tapi ia juga tidak mundur.

Ia berdiri di sana, di depan bak cuci, dengan aku yang berdiri terlalu dekat, dan ia tidak bergerak ke belakang. Ia tidak membuang muka. Ia hanya menatapku dengan mata yang merah dan basah, dan tangannya di sisi tubuhnya terkepal, seperti sedang menahan sesuatu yang sangat ingin bergerak.

“Jani,” katanya. Suaranya serak. “Saya nggak bisa.”

“Saya tahu.”

“Sampai ada kepastian ...”

“Saya tahu, Mas.” Aku tidak mundur. “Mas nggak perlu nyentuh saya. Mas nggak perlu janji apa-apa. Mas cuma perlu tahu, saya di sini. Saya nggak ke mana-mana.”

Aku melirik ke saku kemejanya. Di dada kiri. Aku bisa melihat bentuk cincin itu di balik kain tipis, lingkaran kecil yang menonjol sedikit. Dan di sebelahnya, sesuatu yang lain. Selembar kertas kecil yang dilipat.

Kertas ucapan bunga. Milikku.

Makan. Saya butuh Mas sehat, bukan pahlawan.

Ia menyimpannya. Di sebelah cincin.

Aku menatap saku itu lama. Lalu aku mengangkat tanganku, pelan, dan menyentuhnya. Hanya ujung jariku. Di atas kain, di atas cincin dan kertas yang ia simpan di dekat jantungnya.

Ia menahan napas.

“Mas bilang ini bukan buat saya,” bisikku.

Ia tidak menjawab.

“Terus kenapa disimpan di sini?”

Aku menurunkan tanganku. Aku mundur satu langkah, akhirnya. Satu langkah saja. Lalu aku mengambil map cokelat dari meja dapur dan memeluknya di dada.

“Saya pulang dulu, Mas,” kataku. “Besok jam tujuh saya ke sini lagi.”

“Jani ...”

“Mas nggak usah keluar. Mas nggak usah ngomong apa-apa. Saya cuma duduk di teras.” Aku tersenyum, dengan mata yang masih basah. “Mas yang ngajarin saya. Laki-laki nggak perlu rencana, cukup datang. Ternyata perempuan juga.”

Aku berbalik dan membuka pintu dapur.

Di lorong, Tante Ratih berdiri dengan tangan di mulut. Om Darmawan berdiri di sebelahnya, kacamatanya diturunkan sampai ke ujung hidung. Dan di ujung lorong, di pintu kamar mandi, Nisa, dengan buku kucing yang ia peluk erat di dada, menangis tanpa suara.

Aku mengangguk sopan kepada mereka semua, seperti tamu yang pamit.

Lalu aku pulang.


Malam itu, jam sepuluh, ponselku bergetar.

Mas SOP: Udah makan?

Aku menatap pesan itu. Lalu aku tersenyum ke layar ponsel, di tempat tidur, dengan kemeja flanel kotak-kotak abu-abu di dada.

Aku: Udah. Tadi di rest area. Sup ayam. Sisa yang buat Mas kemarin.

Hening lama. Tiga titik muncul. Hilang. Muncul.

Mas SOP: Pakai pala?

Aku: Pakai.

Tiga titik muncul lagi. Lama sekali. Lalu hilang. Lalu muncul lagi.

Pesan yang akhirnya masuk hanya satu kata.

Mas SOP: Enak.

Aku memeluk ponsel itu dan memejamkan mata.

Satu langkah mundur. Dua langkah maju.

Besok jam tujuh, aku akan maju lagi.