Chapter Forty One
Epilog — Hujan
POV: Bagas
Setahun setelah akad, aku masih pulang jam tujuh.
Bukan karena harus. Tidak ada lagi piring yang ditutup tudung saji. Tidak ada lagi Ibu yang menunggu di ujung meja makan dengan sendok yang diletakkan pelan. Ibu dan Ayah sekarang makan malam berdua, kadang jam enam, kadang jam delapan, kadang di warung sate di depan kompleks karena Ibu malas masak dan Ayah, untuk pertama kalinya dalam tiga puluh enam tahun, mengajaknya keluar.
Aku pulang jam tujuh karena aku mau.
Karena di sebuah gang di belakang Jalan Pajajaran, di rumah keempat dari ujung dengan pagar besi bercat hijau sage yang engselnya sudah kuminyaki, ada dua orang yang menungguku.
Namanya Asa.
Kinasih Asa Adinegara. Lahir di bulan Januari, di tengah hujan Bogor yang turun tiga hari tanpa berhenti. Beratnya tiga kilo dua ons. Panjangnya empat puluh sembilan senti. Rambutnya tebal dan hitam. Matanya, kata semua orang, mirip ibunya: cokelat gelap, sedikit menyipit di ujung kalau sedang memperhatikan sesuatu.
Dan di bawah mata kirinya, sangat kecil, hampir tidak terlihat, sebuah tahi lalat.
Anjani yang memilih nama Kinasih. Artinya yang dikasihi. Aku yang memilih Asa.
Waktu aku memberi tahu Anjani nama itu, di rumah sakit, dengan bayi merah yang tertidur di dadanya, ia menatapku lama.
“Asa,” katanya. “Kayak Jembatan Asa?”
“Kayak harapan,” kataku. “Tapi iya. Kayak itu juga.”
Ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menatap bayi di dadanya, lalu menatapku, lalu menangis, dan aku tidak tahu apakah karena nama itu atau karena jahitan di perutnya atau karena semuanya.
Mbak Rara datang ke rumah sakit keesokan harinya dengan rompi oranye dan sekeranjang buah. Waktu ia membaca nama di kartu kecil di ranjang bayi, ia keluar dari ruangan dan kembali sepuluh menit kemudian dengan mata bengkak.
Hari ini hari Sabtu. Hari ini ziarah tahunan.
Setiap tahun, di tanggal yang diukir di nisan marmer putih di Depok, kami ke sana. Kami semua. Keluarga Ramadhan, keluarga Adinegara, keluarga Wardhani. Dan Hanif.
Hanif datang dari Cirebon setiap tahun. Kakinya sudah sembuh, meskipun ia masih sedikit pincang kalau berjalan jauh. Ia sudah kembali bekerja sebagai perawat, di puskesmas di kampungnya, bukan di tempat bencana lagi. Jannah nggak ngizinin, katanya, sambil tertawa. Saya juga nggak mau.
Tahun ini Jannah datang dengan perut yang membulat besar. Tujuh bulan. Anak pertama mereka.
Ia berdiri di sebelah nisan dengan tangan di perutnya, dan Hanif berdiri di sebelahnya dengan tangan di bahunya, tidak dilepaskan sedetik pun.
“Kalau laki-laki,” kata Hanif kepadaku, di jalan setapak di antara makam-makam, “namanya Fikri.”
Aku berhenti berjalan.
“Sudah izin sama Bu Aminah,” kata Hanif cepat. “Bu Aminah nangis. Terus bilang boleh. Terus bilang, tapi jangan biarin dia jadi relawan di tempat bencana, Nif. Satu cukup.”
Aku tertawa. Hanif juga tertawa. Lalu kami berdua diam, berdiri di jalan setapak di bawah pohon kamboja, dan tidak ada yang menyeka mata.
Pak Udin masih menjaga makam itu. Pecinya masih abu-abu. Giginya tinggal satu sekarang. Ia menyambut kami di depan pos jaganya dan langsung meminta menggendong Asa. Anjani memberikannya. Pak Udin menggendong Asa dengan sangat hati-hati, seperti memegang telur, dan bersenandung dalam bahasa Sunda, dan Asa, yang biasanya menangis kalau digendong orang asing, menatapnya dengan mata cokelat gelap yang sedikit menyipit dan tidak menangis sama sekali.
“Neng,” kata Pak Udin kepada Anjani, tanpa mengalihkan pandangan dari bayi di gendongannya. “Ini anak sabar.”
Di depan nisan, kami berdoa. Yasin. Al-Fatihah. Suara-suara yang berbaur di bawah pohon kamboja.
Bu Aminah duduk di bangku semen kecil di samping nisan. Bangku yang dulu diduduki Anjani setiap bulan, selama dua tahun lebih, sendirian. Di pangkuan Bu Aminah, terlipat rapi, jaket relawan oranye. Ia membawanya setiap tahun.
Pak Zainal menyiram tanah makam dengan air mawar dari botol yang kubawa. Botol yang sama, setiap tahun. Aku mengisinya ulang dari toko di Otista, dari Bu Iyah, yang selalu menyelipkan sehelai daun eucalyptus ke dalam kantong plastiknya.
Fadhil dan Laila berdiri di belakang. Laila hamil juga. Empat bulan. Fadhil terus memegangi lengannya seperti takut Laila akan jatuh di jalan setapak yang rata.
Aku meletakkan krisan putih di kaki nisan. Satu ikat. Seperti setiap tahun.
Lalu aku berlutut. Seperti setiap tahun.
Aku tidak mengatakan apa-apa dengan suara keras kali ini. Aku hanya berbicara dalam hati, seperti orang yang memberi laporan kepada seseorang yang ia hormati.
Mas Fikri. Ini laporan tahun ini.
Anjani sehat. Studionya tambah satu karyawan. Dia masih nggak bisa nyanyi dangdut dengan nada yang benar.
Asa lahir Januari. Tiga kilo dua ons. Matanya kayak ibunya. Ada tahi lalat juga.
Saya masih gosongin nasi kadang-kadang. Tapi ayam kecap saya sudah stabil. Kata Pak Zainal.
Saya masih kalah catur sama Pak Hendra. Tapi saya nggak pernah berdiri sebelum selesai.
Aku menyentuh nisan itu. Huruf-hurufnya. Tanggal yang diukir di bawah nama.
Titipannya saya jaga, Mas. Masih.
Di perjalanan pulang dari Depok, di tol Jagorawi, Asa tertidur di kursi bayi di jok belakang. Anjani duduk di sebelahnya, bukan di depan, karena ia tidak mau jauh-jauh dari bayinya. Aku menyetir sendirian di depan, dengan dua tangan di kemudi, posisi jam sepuluh dan jam dua.
Lewat spion, aku melihat Anjani menatap Asa yang tertidur. Tangannya di dada bayi itu, merasakan napasnya naik turun. Ia tersenyum. Senyum yang kecil dan lelah dan sangat penuh.
“Mas,” katanya pelan, supaya tidak membangunkan Asa.
“Hm?”
“Tadi Mas lapor apa ke dia?”
Aku menatap jalan.
“Laporan tahunan,” kataku.
Ia tertawa pelan di jok belakang. “Pakai spreadsheet?”
“Dalam kepala.”
“Ada tab Risiko-nya?”
Aku memikirkannya. “Ada. Satu baris.”
“Apa?”
“Kupingku merah,” kataku. “Masih belum bisa dimitigasi.”
Ia tertawa lebih keras. Asa menggeliat dalam tidurnya. Anjani menutup mulutnya dengan tangan, matanya menyipit di ujung, dan di spion aku melihat bahunya bergetar karena menahan tawa.
Kami sampai di rumah jam enam lewat empat puluh.
Asa bangun waktu aku mengangkatnya dari kursi bayi. Ia tidak menangis. Ia hanya menatapku dengan mata cokelat gelap yang sedikit menyipit, seperti sedang menilai apakah aku layak menggendongnya. Lalu ia menguap, lebar sekali, sampai seluruh wajahnya yang kecil ikut terbuka, dan menyandarkan kepalanya di bahuku.
Anjani masuk ke dapur. Aku mendengarnya menyalakan kompor. Api kecil. Aku tahu dari bunyinya.
Di dinding di atas kompor, kertas HVS itu sudah diganti. Kertas yang lama sudah robek di pojok, sudah penuh tulisan tangan kami berdua, sudah kuning karena minyak dan asap. Anjani melepasnya dari dinding bulan lalu dan menyimpannya di kotak kayu kecil, bersama mawar kuning yang kering dan kertas ucapan bunga berisi nomor telepon dan kertas JANGAN berspidol merah.
Kertas yang baru hanya berisi satu baris. Tulisan tangannya. Rapi dan sedikit miring.
Api kecil. Jangan ditinggal. Tapi kalau Asa nangis, tinggal aja. Ayamnya bisa gosong. Anaknya jangan.
Jam tujuh kurang lima, makan malam siap. Sayur bening bayam. Ayam goreng kecap. Sambal matah. Nasi dari rice cooker, karena kami berdua sudah menyerah memasak nasi di panci.
Kami makan di meja kecil di dapur. Asa di kursi bayi di sebelahku, memukul-mukul nampan plastiknya dengan sendok karet.
Aku menyendokkan nasi untuk Anjani dulu. Lalu sayur. Lalu ayam.
Anjani mengambil centong dari tanganku. Ia menyendokkan nasi untukku. Lalu sayur. Lalu ayam. Yang paling besar.
Asa memukul nampannya dengan sendok karet, keras, sekali, seperti hakim yang mengetok palu.
Kami berdua tertawa.
Jam tujuh. Tepat.
Aku tidak melihat jam tangan. Aku sudah lama tidak memakainya di rumah. Jam tangan berbingkai perak itu tergeletak di meja kecil di ruang tamu, tertelungkup, sejak malam pertama, dan aku tidak pernah membaliknya lagi kecuali untuk berangkat kerja.
Aku tahu jam tujuh karena Asa mulai rewel. Asa selalu rewel jam tujuh. Lapar. Mengantuk. Minta digendong.
Ia anakku. Tentu saja ia punya jam tujuh.
Hujan turun jam delapan.
Hujan Bogor. Tidak permisi. Langsung deras, berdentam di genteng merah yang tua, mengalir dari ujung atap ke pot-pot tanaman di teras, ke kaktus bulat berduri emas di meja kecil di antara dua kursi rotan.
Asa sudah tidur. Di boks kayu di kamar kami, dengan selimut bermotif bunga matahari yang dijahit Bu Sri, dan gelang emas putih polos dengan garis tipis seperti tali dipilin di pergelangan tangannya yang kecil. Gelang dari ibu penjaga toko emas di Suryakencana. Sudah lunas, di hari Asa lahir. Ibu penjaga toko itu menolak uangnya. Garansinya, katanya, sudah terbukti.
Anjani berdiri di ambang pintu depan, menatap hujan.
Ia memakai kemeja flanel kotak-kotak abu-abu. Kemejaku. Sudah lebih dari setahun, dan kemeja itu sudah tidak pernah kembali ke lemariku. Sudah pudar sekarang. Sudah tipis di siku. Sudah ada noda susu bayi di bahu kiri yang tidak bisa hilang meskipun sudah dicuci tiga kali.
Ia tidak mau kemeja yang lain.
Aku berdiri di belakangnya. Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya. Aku meletakkan daguku di bahunya, di atas noda susu bayi.
Kami menatap hujan bersama.
Lampu teras menyala kuning di atas kepala kami. Bohlam yang sama. Aku membawanya dari rumah Ibu waktu pindah. Bohlam yang kupasang malam itu, untuk perempuan yang duduk dalam gelap di kursi rotan.
“Mas,” katanya pelan.
“Hm?”
“Ingat kencan pertama?”
“Empat belas titik.”
“Kertasnya luntur.”
“Rencananya hancur.”
Ia tertawa pelan. Lalu ia berbalik, di dalam pelukanku, sehingga ia menghadapku. Ia mendongak. Matanya cokelat gelap, sedikit menyipit di ujung, dengan tahi lalat kecil di bawah mata kiri. Persis seperti mata anakku. Persis seperti di foto di ponsel Bu Sri, yang kuperbesar diam-diam di ruang tamu rumah Ibu, setahun lebih yang lalu.
“Mas sudah bikin rencana cadangan buat hujan malam ini?” tanyanya.
Aku memikirkannya.
Dulu aku akan punya rencana. Dulu aku akan punya payung lipat di tas, jas hujan di bagasi, dan tab Risiko yang mencatat kemungkinan hujan dengan persentase dan tindakan mitigasi. Dulu aku akan melirik jam tangan dan menghitung berapa lama hujan ini akan turun dan apakah aku masih bisa pulang tepat waktu.
Aku sudah pulang.
“Nggak,” kataku.
“Nggak ada?”
“Nggak ada.”
Ia menatapku lama. Lalu ia tersenyum, senyum yang pelan-pelan melebar sampai matanya menyipit di ujung dan tahi lalat kecil di bawah mata kirinya ikut terangkat. Senyum yang sama seperti di kafe dekat Kebun Raya, waktu ia menatapku dari balik bibir cangkir teh melati dan aku memegang sendok terbalik.
Aku mengulurkan tanganku.
Ia menatap tanganku. Lalu menatapku.
“Mas mau apa?”
“Dansa.”
“Mas nggak bisa dansa.”
“Aku tahu.”
“Mas bakal nginjek kaki aku.”
“Kemungkinan besar.”
Ia tertawa. Lalu ia meletakkan tangannya di tanganku.
Tanganku berkeringat. Masih. Lebih dari setahun, dan tanganku masih berkeringat setiap kali menyentuh tangannya.
Ia tidak bilang apa-apa tentang itu. Ia sudah lama berhenti bilang. Ia hanya menggenggamnya, jari-jarinya masuk ke sela-sela jariku satu per satu, telunjuk, jari tengah, jari manis, kelingking, seperti di samping mobilku di depan rumah orang tuanya, malam pertama.
Aku menariknya keluar dari ambang pintu. Ke teras. Ke bawah lampu kuning.
Lalu satu langkah lagi. Ke tepi teras. Ke tempat hujan jatuh dari ujung genteng seperti tirai air.
Lalu satu langkah lagi.
Hujan Bogor membasahi kami dalam tiga detik. Kemeja flanel itu menempel di tubuhnya. Kausku menempel di punggungku. Rambutnya basah dan berat dan jatuh ke wajahnya. Ia menjerit kecil, lalu tertawa, lalu tidak berhenti tertawa.
Aku tidak tahu cara berdansa. Aku tidak pernah belajar. Tidak ada di spreadsheet. Tidak ada di catatan delapan poin. Tidak ada di itinerary empat belas titik.
Jadi aku hanya memeluknya, di halaman kecil di depan rumah kami, di bawah hujan, di antara pot-pot tanaman dan pagar besi hijau sage, dan aku bergerak. Pelan. Ke kiri. Ke kanan. Tanpa musik. Tanpa irama. Tanpa rencana.
Aku menginjak kakinya. Dua kali.
Ia tertawa dua kali.
Di teras sebelah, lampu Bu RT menyala. Gorden jendelanya bergerak. Aku tidak peduli. Ibu akan tahu besok pagi. Grup itu akan tahu dalam lima menit. Nisa akan menulisnya di buku kucing keempat.
Aku tidak peduli.
Anjani menyandarkan kepalanya di dadaku. Di atas kausku yang basah. Di atas jantungku, yang berdetak kencang, tidak teratur, seperti genset gudang yang dinyalakan saat listrik padam.
Sama seperti pertama kali. Di warung kopi di luar pintu samping Kebun Raya. Dengan tisu basah di tangannya dan telapak tangannya di dadaku dan pertanyaan yang tidak bisa kujawab.
Karena hujan, atau karena saya?
Aku menunduk. Aku mencium puncak kepalanya, yang basah dan wangi eucalyptus dan hujan.
“Jani,” kataku.
“Hm?”
“Karena kamu.”
Ia mengangkat kepalanya. Ia menatapku, dengan hujan yang mengalir di wajahnya, dengan rambut yang menempel di pipi, dengan mata yang basah dan bukan hanya karena hujan.
“Apa?”
“Jantungku,” kataku. “Waktu itu. Di warung kopi. Kamu tanya, karena hujan atau karena kamu.”
Ia tidak bergerak.
“Aku nggak bisa jawab waktu itu,” kataku. “Sekarang bisa.”
Ia menatapku lama sekali.
Lalu ia berjinjit, dan menangkup wajahku dengan dua tangan yang basah, dan menciumku. Di bawah hujan. Di halaman rumah kami. Di depan pagar hijau sage dan lampu teras kuning dan Bu RT yang menonton dari balik gorden.
Ciuman itu tidak dinilai. Sudah lama tidak dinilai.
Kami berdiri di sana sampai hujan reda. Aku tidak tahu jam berapa. Aku tidak melihat jam. Tidak ada jam yang perlu dilihat.
Di dalam rumah, di kamar kami, Asa tidur nyenyak dalam boks kayunya, dengan gelang emas putih di pergelangan tangannya dan selimut bunga matahari yang ditarik sampai dagu.
Ia tidak tahu bahwa ayahnya sedang berdansa di bawah hujan dengan ibunya, menginjak kakinya, tanpa rencana cadangan.
Suatu hari nanti, aku akan menceritakannya. Semuanya. Kafe dekat Kebun Raya. Sendok terbalik. Krisan putih. Mawar kuning. Teh tubruk yang tidak diaduk. Seorang laki-laki di foto berompi oranye yang menulis surat untuk ibunya di malam terakhirnya. Dan seorang laki-laki gendut berumur dua tahun yang menangis karena biskuitnya direbut oleh bayi perempuan berpipi bulat.
Aku akan menceritakannya pelan-pelan. Tanpa SOP. Tanpa spreadsheet.
Tapi tidak malam ini.
Malam ini, hujan turun di Bogor.
Dan aku sudah pulang.
— TAMAT —
- 1 Jam Tujuh
- 2 Janji Arisan
- 3 Pertemuan Pertama
- 4 Tameng
- 5 Krisan Putih
- 6 Bekal Gosong
- 7 Calon Saya
- 8 Rencana Hujan
- 9 Jangan Korbankan Hidupmu
- 10 Sup Hari Kamis
- 11 Pasien Paling Bandel
- 12 Mas Lulus
- 13 Cemburu pada Orang Baik
- 14 Izin
- 15 Undangan yang Tidak Menyebut Namaku
- 16 Langkah Kuda
- 17 Persiapan Rahasia
- 18 Sekali, Umur Dua Tahun
- 19 Masih Tameng?
- 20 Bukan
- 21 Cincin
- 22 Mawar Kuning
- 23 Bukan yang Ditunggu
- 24 Administrasi Kepulangan
- 25 Maju Dua Langkah
- 26 Lampu Teras
- 27 Pintu Kedatangan
- 28 Catatan Terakhir
- 29 Kiriman Tanpa Nama
- 30 Krisan Putih, Kali Ini Benar
- 31 Restu
- 32 Janda Tahu Caranya
- 33 Bukan Pengganti
- 34 Proyek A, Versi Final
- 35 Malam Tanpa Jam Tujuh
- 36 Selamat Datang Pulang
- 37 Malam Pertama
- 38 Laporan Bulanan
- 39 Jam Tujuh, ke Rumah Kita
- 40 Proyek B
- 41 Epilog — Hujan reading