Chapter Sixteen
Langkah Kuda
POV: Bagas
Pak Hendra menelepon hari Rabu dan menantangku main catur.
Itu kalimatnya, persis: “Nak Bagas, saya menantang kamu main catur. Sabtu sore. Di rumah. Papan yang kamu kasih.”
Aku belum pernah ditantang siapa pun untuk apa pun, kecuali Nisa yang menantangku makan sambal bawang level sepuluh waktu aku SMA. Aku kalah. Aku menangis. Nisa merekamnya dan memutarnya di setiap acara keluarga sampai hari ini.
“Siap, Om,” kataku.
“Bawa ayahmu juga kalau mau. Biar ada saksi.”
“Saksi apa, Om?”
“Saksi waktu kamu kalah.”
Lalu Pak Hendra menutup telepon, dan aku duduk di meja kantor menatap layar ponsel dengan perasaan aneh bahwa aku baru saja diajak ke sesuatu yang lebih besar dari sekadar main catur.
Ayah tidak ikut. Ayah bilang ia ada acara pengajian. Ayah tidak pernah ikut pengajian.
“Ini urusan kamu,” kata Ayah sambil menepuk bahuku dua kali di depan pintu. “Bapak-bapak yang punya anak perempuan itu, kalau ngajak main catur berdua, artinya mau ngomong.”
“Ngomong apa, Yah?”
Ayah tidak menjawab. Ia hanya menurunkan kacamatanya dan menatapku di atas bingkainya, lalu masuk ke kamar.
Hari Sabtu jam tiga sore, aku duduk di teras belakang rumah keluarga Wardhani, berhadapan dengan Pak Hendra di atas papan catur kayu sonokeling. Bidak-bidak sudah tersusun. Dua cangkir teh di sebelah papan. Langit Bogor kelabu tipis, seperti biasa, dengan angin yang membawa bau tanah dari kebun kosong di belakang pagar.
Anjani tidak ada. Ia sedang di studio, menyelesaikan pesanan dekorasi untuk acara lamaran di Sentul. Bu Sri juga tidak ada. Pak Hendra bilang Bu Sri sedang arisan. Aku tidak tahu bahwa Bu Sri sedang arisan di rumahku, bersama Ibu, dengan dua orang peserta.
Pak Hendra memainkan putih. Ia membuka dengan pion ke e4, pelan, hati-hati, seperti meletakkan sesuatu yang bisa pecah.
Aku membalas dengan e5.
Kami bermain dalam diam selama dua puluh menit. Pak Hendra bermain seperti orang yang menunggu. Ia tidak menyerang. Ia membangun. Pion demi pion, langkah demi langkah, membentuk tembok yang rapat di tengah papan. Setiap kali aku mencoba menembus, ia sudah ada di sana lebih dulu, seperti sudah tahu apa yang akan kulakukan.
Di langkah kedua puluh tiga, ia memakan menteriku.
Aku menatap papan. Aku tidak melihatnya datang. Kudanya, yang sejak tadi diam di pojok, tiba-tiba melompat melewati dua pion dan mendarat tepat di tempat menteriku berdiri.
“Kuda,” kata Pak Hendra pelan. Ia mengangkat menteriku dari papan dan meletakkannya di sebelah cangkir tehnya. “Satu-satunya bidak yang bisa lompat.”
“Saya nggak lihat, Om.”
“Nggak ada yang lihat kuda.” Ia menyesap tehnya. “Semua orang lihat menteri, lihat benteng, lihat gajah. Yang jalannya lurus. Yang jelas arahnya. Kuda itu jalannya aneh. Bengkok. Dua langkah lurus, satu ke samping. Orang nggak ngira dia bakal sampai.”
Ia meletakkan cangkirnya.
“Tapi kuda selalu sampai, Nak,” katanya. “Karena dia nggak perlu jalan lurus. Dia bisa lompat.”
Aku tidak tahu apakah ia sedang membicarakan catur.
Kami bermain babak kedua. Pak Hendra masih memainkan putih. Ia bilang orang yang kalah tidak boleh memilih warna. Aku tidak protes.
Di tengah babak kedua, waktu aku sedang berpikir keras tentang benteng kiriku yang terjepit, Pak Hendra mulai bicara. Tanpa mengangkat mata dari papan. Suaranya pelan dan datar, seperti membacakan laporan cuaca.
“Waktu itu saya tidur di kursi,” katanya. “Di depan pintu kamarnya.”
Aku berhenti berpikir tentang benteng.
“Enam bulan,” lanjut Pak Hendra. “Gantian sama Sri. Sri jaga siang, saya jaga malam. Pintunya nggak boleh dikunci. Itu satu-satunya aturan di rumah waktu itu. Pintu kamar Anjani nggak boleh dikunci.”
Ia menggeser gajahnya dua petak. Langkah kecil. Tidak menyerang apa-apa.
“Saya nggak tahu apa yang saya takutkan,” katanya. “Atau lebih tepatnya, saya tahu, tapi saya nggak berani nyebut. Saya cuma duduk di kursi itu tiap malam dari jam sepuluh sampai subuh. Dengerin. Kadang ada suara. Kadang nggak ada. Yang paling menakutkan itu yang nggak ada suara.”
Aku menatap papan. Bidak-bidak hitam dan putih terlihat kabur.
“Suatu pagi saya ketiduran,” kata Pak Hendra. “Kacamata miring. Leher pegal. Waktu saya bangun, pintunya terbuka. Anjani berdiri di sana. Ngeliatin saya.” Ia diam sebentar. “Ngeliatin kayak orang ngeliatin tembok. Nggak ada apa-apa di matanya. Kosong. Anak saya. Anak saya satu-satunya. Kosong.”
Angin bergerak di kebun di belakang pagar. Sehelai daun jatuh ke atas papan catur, tepat di atas raja putih. Pak Hendra menyingkirkannya dengan ujung jari.
“Terus lama-lama dia kembali,” katanya. “Pelan-pelan. Kayak air rembes ke tanah. Satu hari dia makan setengah piring. Satu hari dia senyum ke kucing tetangga. Satu hari dia ketawa dengerin Sri telepon sama temannya.” Pak Hendra tersenyum kecil ke papan. “Hari itu saya masuk kamar mandi dan nangis sampai Sri gedor pintunya.”
Aku tidak bisa bicara.
“Sekarang dia sudah baik,” kata Pak Hendra. “Sudah lama baik. Sudah buka usaha. Sudah ketawa lagi. Lebih sering, akhir-akhir ini.” Ia mengangkat matanya dari papan untuk pertama kalinya dan menatapku. “Kamu tahu kenapa akhir-akhir ini?”
Kupingku panas.
“Saya cuma mau bilang satu hal, Nak,” kata Pak Hendra. “Saya nggak minta kamu janji macam-macam. Saya sudah pernah dengar laki-laki janji macam-macam ke anak saya. Janjinya bagus semua. Laki-lakinya juga bagus. Tapi janjinya nggak pulang.”
Ia memindahkan kudanya. Lompatan aneh itu lagi, dua lurus satu ke samping.
“Skak,” katanya pelan.
Aku menatap raja hitamku. Aku menatap Pak Hendra.
“Om,” kataku. Suaraku serak. “Saya nggak bisa janji macam-macam. Saya nggak pintar ngomong. Saya cuma ...” Aku berhenti. Aku menatap tanganku di pangkuan. “Saya cuma bisa pulang, Om. Itu doang yang saya bisa. Tiap hari. Saya nggak pernah nggak pulang.”
Pak Hendra menatapku lama.
“Saya tahu,” katanya akhirnya. “Makanya saya ngajak kamu main catur.”
Aku kalah babak kedua dalam tiga langkah. Raja hitamku terjepit di pojok oleh kuda dan benteng putih.
Pak Hendra tidak menyombongkan kemenangannya. Ia hanya merapikan bidak-bidak kembali ke posisi awal, satu per satu, dengan gerakan yang sangat lambat, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Lalu, waktu bidak terakhir sudah di tempatnya, ia berkata, masih tanpa menatapku:
“Nak Bagas. Ada satu hal lagi. Yang soal ...” Ia berhenti.
Aku menunggu.
Pak Hendra menatap papan catur yang sudah tersusun rapi. Rahangnya mengeras sebentar, seperti orang yang sedang menimbang sesuatu yang berat.
“Ah,” katanya akhirnya. “Nanti saja. Biar Anjani yang cerita. Itu haknya.”
Itu kalimat yang sama yang ia ucapkan di teras rumahku waktu pertama kali datang. Biar dia cerita sendiri. Itu haknya. Waktu itu aku kira yang dimaksud adalah statusnya sebagai janda. Sekarang aku sudah tahu itu, dan ia masih menyimpan sesuatu.
Aku seharusnya bertanya. Aku orang logistik. Aku seharusnya menelusuri setiap paket yang tidak jelas asal-usulnya.
Tapi aku tidak bertanya. Karena Anjani pernah bilang ada alasannya, dan aku pernah bilang saya bisa nunggu.
Dan aku memegang janji itu seperti aku memegang jam tujuh.
Sebelum aku pamit, Pak Hendra mengajakku ke dapur.
“Kamu tahu teh kesukaan Anjani?”
“Teh melati. Tanpa gula.”
“Teh melati apa?”
Aku diam. Aku tidak tahu ada jenis-jenis teh melati.
Pak Hendra membuka lemari dapur dan mengeluarkan sebuah kaleng teh kecil berwarna hijau tua, dengan tulisan yang sudah pudar. Ia membuka tutupnya. Bau melati yang pekat dan manis langsung memenuhi dapur.
“Teh tubruk Slawi,” katanya. “Ini yang dulu diminum almarhum nenek Anjani. Anjani minum ini dari kecil. Teh celup di kafe-kafe itu, dia minum karena sopan. Yang dia suka yang ini.”
Ia mengajarkanku cara membuatnya. Ia menjelaskannya pelan, seperti mengajarkan langkah pembukaan catur.
Air tidak boleh mendidih. Dibiarkan dulu satu menit setelah mendidih, sampai gelembungnya berhenti. Satu sendok teh tubruk untuk satu cangkir, tidak lebih. Tuang airnya pelan, dari pinggir cangkir, jangan langsung ke tengah. Lalu tutup cangkirnya dengan piring kecil. Tunggu tiga menit. Jangan diaduk.
“Kenapa nggak boleh diaduk, Om?”
“Karena nanti ampasnya naik. Pahit.” Pak Hendra menatapku. “Ada hal-hal yang harus dibiarkan tenang dulu, Nak. Biar mengendap sendiri. Baru bisa diminum.”
Aku tidak tahu lagi apakah ia sedang membicarakan teh.
Anjani pulang dari studio jam lima. Ia masuk lewat pintu samping, masih memakai celemek kanvas yang penuh noda getah bunga, rambut digelung tinggi dengan pensil yang ditusukkan ke dalamnya sebagai penahan. Ia melihatku di dapur, di depan kompor, sedang menuang air dari teko ke cangkir dengan sangat hati-hati, dari pinggir, pelan, dengan wajah yang aku yakin sangat serius.
Ia berhenti di ambang pintu.
“Mas ngapain?”
“Bikin teh.”
“Di dapur saya?”
“Om yang suruh.”
Ia menoleh ke Pak Hendra, yang sedang duduk di meja makan membaca koran yang tidak dibaca. Pak Hendra tidak mengangkat mata dari korannya.
Aku menutup cangkir itu dengan piring kecil. Aku melihat jam tangan. Tiga menit. Aku tidak mengaduknya.
Aku menyerahkan cangkir itu kepadanya.
Anjani menatap cangkir itu. Lalu ia mengangkat piring penutupnya, dan bau melati yang pekat dan manis menguar ke udara. Ia menatap teh di dalamnya, warna kuning kecokelatan dengan ampas yang sudah mengendap rapi di dasar.
Ekspresinya berubah. Pelan. Dari heran ke terkejut ke sesuatu yang lebih lembut, sesuatu yang membuat matanya sedikit basah.
Ia menyesapnya.
Ia diam lama.
“Siapa yang ngajarin?” tanyanya pelan.
Aku melirik Pak Hendra. Pak Hendra membalik halaman korannya.
“Pas banget,” kata Anjani. Suaranya sedikit bergetar. “Kayak buatan Eyang.”
Kami duduk di teras belakang. Pak Hendra sudah pindah ke ruang tengah, menonton televisi dengan volume yang sangat keras, cukup keras sehingga kami tahu ia tidak akan mendengar apa pun.
Aku membuat cangkir kedua untuk diriku sendiri. Rasanya pahit dan wangi, dengan manis samar di ujung lidah yang datang dari melatinya sendiri, bukan dari gula. Aku tidak meringis. Aku mulai mengerti kenapa ia menyukainya.
Anjani menghabiskan cangkirnya. Ia meletakkannya di meja kecil di antara kami. Lalu ia melirik cangkirku, yang masih setengah.
“Punya Mas enak?”
“Enak.”
“Lebih enak dari punya saya?”
“Sama. Saya bikinnya sama.”
“Belum tentu.” Ia mengulurkan tangan dan mengambil cangkirku dari tanganku. Begitu saja. Aku tidak sempat menolak.
Ia memutar cangkir itu pelan di tangannya. Ia menatap bibir cangkir, mencari sesuatu. Lalu ia menemukannya: bekas kecil di pinggir cangkir, tempat bibirku tadi menempel.
Ia menempelkan bibirnya tepat di sana.
Ia menyesap. Pelan. Matanya tidak lepas dariku, dari balik bibir cangkir, persis seperti di kafe pertama kali, menatapku dengan mata cokelat gelap yang sedikit menyipit di ujung.
Lalu ia menurunkan cangkir itu dan menjilat sudut bibirnya sedikit.
“Manisnya pas,” katanya.
Aku lupa cara bernapas.
Aku serius. Aku lupa. Paru-paruku berhenti bekerja, seperti mesin forklift yang mogok, dan aku duduk di kursi rotan di teras belakang rumah keluarga Wardhani dengan mulut sedikit terbuka dan dada yang tidak bergerak, sampai Anjani tertawa kecil dan menyodorkan cangkir itu kembali kepadaku.
“Mas, napas.”
Aku menarik napas. Itu napas yang sangat panjang dan sangat memalukan.
“Teh ini nggak ada gulanya,” kataku, setelah bisa bicara lagi.
“Saya tahu.”
“Terus manisnya dari mana?”
Ia tidak menjawab. Ia hanya menyandarkan punggung ke kursi rotannya, menatap langit yang mulai menguning di atas kebun kosong, dan tersenyum seperti orang yang tahu jawabannya tapi tidak mau mengatakannya.
Aku menatap cangkir di tanganku. Di bibirnya ada dua bekas sekarang. Satu dariku, satu darinya. Tumpang tindih.
Aku tidak minum dari cangkir itu lagi. Aku tidak tega.
Aku pulang jam enam lewat dua puluh, seperti biasa.
Di mobil, di lampu merah perempatan Jalan Pajajaran, aku mengeluarkan ponsel dan membuka spreadsheet Proyek A. Aku tidak membukanya hampir dua minggu. Aku membuka tab Timeline, tab yang hanya berisi satu kata: Datang.
Aku menambahkan satu baris di bawahnya.
Lamar.
Aku menatap kata itu lama sekali. Lampu sudah hijau. Mobil di belakangku membunyikan klakson. Aku tidak bergerak.
Lalu aku menambahkan satu baris lagi di bawahnya, lebih kecil:
Langkah kuda. Jangan jalan lurus.
Aku menyimpan file itu dan menginjak gas.
Di rumah, Ibu dan Bu Sri sedang duduk di ruang tamu dengan sisa kue arisan yang hanya dihadiri dua orang. Mereka berhenti bicara begitu aku masuk. Mereka menatapku. Lalu mereka saling menatap. Lalu Bu Sri menutup mulutnya dengan tangan, dan Ibu menepuk lutut Bu Sri, dan mereka berdua tertawa dengan cara yang membuatku curiga mereka tahu sesuatu yang aku sendiri baru tahu sepuluh menit yang lalu.
“Gimana caturnya, Gas?” tanya Ibu.
“Kalah, Bu.”
“Dua-duanya?”
“Dua-duanya.”
Bu Sri menyeka matanya dengan ujung kerudung. “Mas Hendra memang begitu,” katanya. “Calon menantunya dulu juga dikalahin.”
Lalu ia berhenti, seperti menyadari ia baru saja mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya. Ibu meremas lututnya.
Calon menantunya dulu.
Aku tersenyum sopan, berjalan ke kamar, dan menutup pintu.
Aku tidak tahu kenapa kalimat itu terasa seperti bidak kuda yang melompat diam-diam dari pojok papan, menuju sesuatu yang belum bisa kulihat.
- 1 Jam Tujuh
- 2 Janji Arisan
- 3 Pertemuan Pertama
- 4 Tameng
- 5 Krisan Putih
- 6 Bekal Gosong
- 7 Calon Saya
- 8 Rencana Hujan
- 9 Jangan Korbankan Hidupmu
- 10 Sup Hari Kamis
- 11 Pasien Paling Bandel
- 12 Mas Lulus
- 13 Cemburu pada Orang Baik
- 14 Izin
- 15 Undangan yang Tidak Menyebut Namaku
- 16 Langkah Kuda reading
- 17 Persiapan Rahasia
- 18 Sekali, Umur Dua Tahun
- 19 Masih Tameng?
- 20 Bukan
- 21 Cincin
- 22 Mawar Kuning
- 23 Bukan yang Ditunggu
- 24 Administrasi Kepulangan
- 25 Maju Dua Langkah
- 26 Lampu Teras
- 27 Pintu Kedatangan
- 28 Catatan Terakhir
- 29 Kiriman Tanpa Nama
- 30 Krisan Putih, Kali Ini Benar
- 31 Restu
- 32 Janda Tahu Caranya
- 33 Bukan Pengganti
- 34 Proyek A, Versi Final
- 35 Malam Tanpa Jam Tujuh
- 36 Selamat Datang Pulang
- 37 Malam Pertama
- 38 Laporan Bulanan
- 39 Jam Tujuh, ke Rumah Kita
- 40 Proyek B
- 41 Epilog — Hujan