Chapter Twenty Four

Administrasi Kepulangan

POV: Bagas

Kantor lembaga itu ternyata hanya sebuah ruko dua lantai di sebuah gang di Jakarta Selatan, terjepit di antara laundry kiloan dan warung pecel lele.

Papan namanya kecil, dari akrilik yang sudah menguning: Jembatan Asa — Lembaga Kemanusiaan. Di bawahnya, logo palang hijau yang sama dengan logo di rompi oranye Fikri di foto di rak studio.

Fadhil berdiri di sebelahku di trotoar, menatap papan nama itu dengan wajah pucat.

“Saya belum pernah ke sini, Mas,” katanya. “Dua tahun. Saya belum pernah ke sini.”

“Kenapa?”

“Takut.” Ia menelan ludah. “Takut kalau masuk, mereka bilang hal yang sama lagi. Kalau nggak masuk, masih ada kemungkinan mereka salah.”

Aku menatapnya. Lalu aku menepuk bahunya dua kali, seperti Ayah. Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Rasanya seperti tanganku bergerak sendiri.

“Ayo, Dhil,” kataku. “Kita tanya.”


Koordinatornya bernama Mbak Rara. Perempuan berusia empat puluhan dengan kerudung abu-abu, kacamata tebal, dan suara yang serak karena terlalu banyak menelepon. Ruangannya di lantai dua penuh dengan map, kardus, peta yang ditempel di dinding dengan selotip, dan papan tulis putih yang penuh coretan spidol: nama-nama tempat, nama-nama orang, tanggal-tanggal, garis-garis yang menghubungkan satu dengan yang lain.

Aku menatap papan tulis itu dan merasa seperti menatap papan perencanaan gudang di kantorku sendiri.

“Saya kenal Fikri,” kata Mbak Rara, waktu kami duduk. Ia menatap Fadhil lama. “Kamu mirip dia.”

Fadhil menunduk.

Mbak Rara menjelaskan semuanya. Pelan, urut, dengan suara yang sudah terlatih menyampaikan kabar yang tidak pasti kepada keluarga yang menunggu.

Seorang laki-laki ditemukan dua minggu lalu oleh tim medis lembaga mitra di sebuah kamp pengungsian di dekat perbatasan. Kondisinya buruk. Luka di kepala yang sudah lama dan tidak dirawat dengan baik. Patah kaki yang sembuh dengan bentuk yang salah. Kurang gizi. Ia tidak membawa dokumen apa pun. Ia hampir tidak bisa bicara; kalaupun bicara, kata-katanya campur aduk antara bahasa Arab, bahasa Indonesia, dan bahasa yang tidak dikenali siapa pun.

“Tapi dia nyebut Indonesia,” kata Mbak Rara. “Berkali-kali. Dan dia nyebut satu nama. Berkali-kali juga.”

Fadhil mengangkat kepala.

“Jan,” kata Mbak Rara. “Dia terus nyebut Jan. Kadang Jan, maaf. Kadang cuma Jan.”

Aku merasakan sesuatu di dadaku berhenti bergerak.

Fadhil menutup wajahnya dengan dua tangan.

Jan. Panggilan Fikri untuk Anjani. Anjani sendiri yang menceritakannya, di studio, sambil mengikat pita di buket pagar ayu: dia bilang, Jan, maaf, tapi tadi kalau aku nggak berhenti, orang itu nggak bakal pulang ke istrinya malam ini.

“Kami belum bisa memastikan,” kata Mbak Rara, pelan. “Perlu tes DNA. Sampelnya dari keluarga, dibandingkan dengan sampel dia. Kemenlu sudah koordinasi. Tapi tes DNA lintas negara di daerah konflik itu lama. Bisa dua bulan. Bisa tiga.”

“Dua bulan,” ulang Fadhil, dari balik tangannya.

“Ada cara yang lebih cepat,” kata Mbak Rara. Ia menatap kami berdua bergantian. “Bawa dia pulang. Evakuasi medis. Tes di sini, di rumah sakit kita, sambil dia dirawat. Kalau dia memang Fikri, dia sudah di rumah. Kalau bukan ...” Ia berhenti. “Kalau bukan, setidaknya ada satu orang Indonesia yang pulang dan dirawat dengan layak.”

“Kenapa nggak dilakukan, Mbak?” tanyaku.

Mbak Rara menatapku. Lalu ia tersenyum, senyum lelah yang sudah sering ia pakai.

“Uang, Mas,” katanya. “Selalu uang.”


Ia menjelaskan angkanya. Evakuasi medis dari wilayah perbatasan, dengan pesawat yang dilengkapi peralatan medis dan pendamping, ke Jakarta. Ditambah biaya izin, biaya koordinasi lintas negara, biaya perawatan di rumah sakit setelah tiba.

Angkanya membuat Fadhil pucat.

“Lembaga kami kecil, Mas,” kata Mbak Rara. “Dana kami dari donasi. Tahun ini donasi turun. Kami punya relawan lain yang juga harus dipulangkan, yang masih hidup, yang identitasnya sudah pasti.” Ia menghela napas. “Kami sudah ajukan ke Kemenlu. Mereka bantu sebagian. Tapi prosesnya lama. Dan kondisi orang ini ...” Ia menggeleng. “Saya nggak bisa janji dia bisa nunggu lama.”

Fadhil menatap tangannya di pangkuan. Aku tahu apa yang ia pikirkan. Gaji guru SMA. Rumah tipe lama di gang sempit Depok. Bapaknya, pensiunan guru SD. Ibunya, yang menjual kue di warung depan rumah setiap pagi.

“Kami ... kami bisa jual rumah, Mbak,” kata Fadhil pelan. “Mungkin. Kalau Bapak setuju.”

Mbak Rara menatapnya dengan mata yang tiba-tiba basah. “Dik,” katanya lembut. “Jangan dulu. Kita cari jalan lain dulu.”

Aku memikirkan spreadsheet.

Bukan Proyek A. Spreadsheet yang lain. Spreadsheet yang sudah kubuat jauh sebelum aku bertemu Anjani, sejak aku mulai bekerja sembilan tahun lalu. Namanya Dana. Isinya tab-tab yang rapi: Darurat Keluarga. Pendidikan Kiki. Renovasi Rumah. Pensiun Ayah-Ibu.

Dan satu tab yang kubuat paling akhir, tiga minggu lalu, setelah malam di teras rumah Ibu, setelah aku memeluk Anjani untuk pertama kali dan ia bilang setelah seribu harinya Fikri. Tab itu kunamai dengan sangat hati-hati, setelah lama menatap layar.

Nikah.

Angkanya tidak sebesar angka yang disebut Mbak Rara. Tapi kalau digabung dengan tab Darurat Keluarga, dan sebagian dari Renovasi Rumah yang sebenarnya sudah tidak terlalu mendesak karena atap belakang sudah kuperbaiki bulan lalu ...

Aku menghitung di kepala. Seperti menghitung muatan truk.

Cukup.


“Mbak,” kataku. “Bisa saya lihat rinciannya?”

Mbak Rara menatapku. Fadhil menatapku.

“Rincian biayanya,” kataku. “Per item. Penerbangannya pakai operator apa. Rutenya lewat mana. Ada transit atau langsung. Pendampingnya berapa orang. Biaya izin per negara. Semuanya.”

Mbak Rara mengerutkan kening. Tapi ia membuka laptopnya dan memutar layarnya ke arahku.

Aku membaca. Aku membaca seperti membaca penawaran dari vendor ekspedisi. Baris demi baris. Aku menemukan dua hal dalam lima menit.

Pertama, rutenya tidak efisien. Ada transit di kota yang tidak perlu, mungkin karena operatornya punya pangkalan di sana. Kalau dialihkan ke operator lain yang terbang langsung, biayanya turun cukup banyak.

Kedua, biaya pendampingan dihitung per hari, dan jadwalnya memasukkan dua hari tunggu di bandara transit. Kalau transitnya dihapus, dua hari itu juga hilang.

“Mbak,” kataku. “Operator yang ini, sudah pernah dihubungi?” Aku menunjuk nama sebuah perusahaan di daftar alternatif, di bagian bawah, yang dicoret.

“Mereka lebih mahal di awal.”

“Tapi mereka langsung. Nggak transit.” Aku menunjuk baris-barisnya. “Kalau dihitung total, dengan potongan dua hari pendampingan, mereka lebih murah.”

Mbak Rara menatap layar. Lalu menatapku. Lalu menatap layar lagi, lebih lama.

“Mas ini kerja di mana?”

“Logistik, Mbak.”

“Ya Allah.” Mbak Rara bersandar ke kursinya. “Ya Allah, kenapa kami nggak punya orang kayak Mas dari dulu.”


Kami menghabiskan tiga jam di ruangan itu.

Aku menelepon operator penerbangan medis yang dicoret itu. Aku bernegosiasi. Aku tidak pintar bicara soal perasaan, tapi aku pintar bicara soal muatan, rute, dan jadwal. Aku tahu kapan harus menekan harga dan kapan harus berhenti. Aku tahu bahwa perusahaan seperti itu, sama seperti perusahaan ekspedisi, lebih suka satu klien yang jelas dan cepat bayar daripada tiga klien yang lambat.

Fadhil duduk di sebelahku dan menonton dengan mulut sedikit terbuka. Mbak Rara mencatat semuanya di papan tulis putih.

Angka akhirnya turun hampir sepertiga.

Masih besar. Masih jauh lebih besar dari apa pun yang bisa dibayar keluarga Ramadhan. Tapi tidak lebih besar dari tab Nikah ditambah tab Darurat Keluarga ditambah sebagian tab Renovasi.

Aku menutup telepon. Aku menatap Mbak Rara.

“Saya yang tanggung, Mbak,” kataku.

Hening.

Fadhil menoleh ke arahku begitu cepat sampai lehernya berbunyi. “Mas.”

“Sisanya,” kataku ke Mbak Rara. “Setelah bantuan Kemenlu. Saya yang tanggung.”

“Mas,” kata Fadhil lagi, suaranya pecah. “Mas nggak bisa.”

“Bisa, Dhil.”

“Itu uang Mas. Itu ...” Ia berhenti. Aku tidak tahu apakah ia tahu tentang tab Nikah. Mungkin tidak. Tapi ia tahu cukup. “Mas, kalau itu beneran Mas Fikri, Mas bayarin dia pulang buat ngambil Mbak Anjani dari Mas.”

Mbak Rara menatap kami berdua bergantian. Wajahnya berubah, perlahan, seperti orang yang baru menyadari bahwa ia sedang melihat sesuatu yang jauh lebih rumit dari pengiriman biasa.

“Dhil,” kataku. “Kamu ingat apa kata Mbak Rara tadi?”

Fadhil menatapku.

“Kalau bukan dia, setidaknya ada satu orang Indonesia yang pulang dan dirawat dengan layak.” Aku menatap foto buram di ponselku, laki-laki kurus di ranjang lipat dengan perban di kepala. “Siapa pun dia, dia lagi nyari jalan pulang. Dia nyebut Indonesia berkali-kali. Dia nyebut nama orang yang dia sayang berkali-kali.”

Aku memasukkan ponsel ke saku.

“Saya orang yang selalu pulang, Dhil,” kataku. “Saya tahu rasanya pengin pulang.”


Satu syarat. Aku hanya minta satu syarat.

“Jangan bilang siapa-siapa,” kataku ke Mbak Rara, waktu ia mencetak dokumen-dokumen yang harus kutandatangani. “Jangan bilang keluarga. Jangan bilang Anjani. Catat saja donaturnya hamba Allah.”

Mbak Rara menatapku lama. “Mas yakin?”

“Yakin.”

“Kenapa?”

Aku tidak langsung menjawab. Aku menandatangani dokumen pertama. Lalu yang kedua. Tanda tanganku rapi dan kaku, seperti biasa.

“Karena kalau dia tahu,” kataku akhirnya, “dia bakal ngerasa berutang. Ke saya. Dan saya nggak mau dia milih apa pun karena ngerasa berutang.”

Mbak Rara tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengambil dokumen-dokumen itu dan memasukkannya ke map. Tapi waktu ia mengantar kami ke tangga, ia berhenti dan menyentuh lenganku.

“Mas,” katanya. “Fikri dulu sering bilang sesuatu ke kami. Waktu kami capek. Waktu donasi lagi seret.”

“Apa, Mbak?”

“Orang baik itu nggak selalu yang berangkat. Kadang orang baik itu yang tinggal, terus bayarin tiket orang lain.” Mbak Rara tersenyum dengan mata basah. “Saya nggak pernah ngerti maksudnya. Sampai hari ini.”


Di perjalanan pulang, di jalan tol, Fadhil tertidur di kursi penumpang. Ia tidur seperti anak kecil, dengan kepala miring ke jendela dan mulut sedikit terbuka. Ia lelah. Kami berdua lelah.

Di rest area di kilometer empat puluhan, aku berhenti untuk membeli kopi. Waktu aku membuka tas punggungku untuk mengambil dompet, tanganku menyentuh sesuatu yang tidak kuingat pernah kumasukkan.

Sebuah kotak bekal. Kotak plastik hijau. Kotak bekal Ibu yang dulu kupinjam untuk membawa telur balado ke studio.

Aku membukanya.

Nasi putih. Sup ayam dalam wadah kecil terpisah yang ditutup rapat. Telur dadar yang dilipat rapi. Tumis buncis. Sambal di wadah yang lebih kecil lagi. Semuanya masih hangat sedikit, seperti dimasukkan tadi pagi, sebelum aku berangkat jam lima.

Tidak ada yang gosong. Satu pun.

Di bawah tutup kotak, terselip secarik kertas ucapan kecil. Kertas ucapan bunga. Yang sama seperti yang pernah diselipkan ke saku kemejaku, berisi nomor telepon.

Tulisan tangannya. Rapi dan sedikit miring.

Makan. Saya butuh Mas sehat, bukan pahlawan.

Aku duduk di kursi pengemudi di parkiran rest area dengan kotak bekal di pangkuan, menatap kertas itu.

Aku tidak tahu bagaimana kotak ini bisa masuk ke tasku. Tasku di kamar semalaman. Pagi tadi aku berangkat jam lima. Ibu yang membukakan pintu. Ibu yang ...

Ibu.

Tentu saja Ibu.

Aku membuka wadah sup dan mencium baunya. Kaldu ayam, merica, dan sesuatu yang hangat di bawahnya. Pala. Rahasia Bu Sri. Rahasia yang hanya diketahui Bu Sri dan satu orang lain.

Bukan Ibu yang memasak. Ibu hanya yang menyelipkan.

Aku makan di parkiran rest area itu, sendok demi sendok, dengan Fadhil yang masih tertidur di kursi sebelah. Aku makan sampai kotak itu kosong. Lalu aku melipat kertas ucapan kecil itu dua kali dan menyelipkannya ke saku kemeja di dada kiri.

Di sebelah cincin emas putih yang kusimpan.

Fadhil bangun waktu aku menyalakan mesin. Ia mengucek mata, melihat kotak bekal kosong di dashboard, lalu melihat wajahku.

“Mas nangis?”

“Nggak.”

“Mas, mata Mas merah.”

“Sambalnya pedas,” kataku, dan menginjak gas.

Fadhil tidak bertanya lagi. Tapi lima menit kemudian, ponselku bergetar dengan notifikasi grup.

Fadhil: Mas Bagas habis makan bekal terus nangis
Neng Nisa (adik Aa): SIAPA YANG NAMBAHIN FADHIL KE GRUP
Pak Kumis: maaf, salah pencet lagi