Chapter Eleven
Pasien Paling Bandel
POV: Bagas
Aku tidak ingat banyak tentang hari Kamis itu, kecuali tiga hal.
Pertama, sup. Kuahnya bening keemasan, panas, dengan wangi merica dan sesuatu yang tidak bisa kukenali tapi membuat dadaku hangat dari dalam. Belakangan aku tahu itu pala. Rahasia Bu Sri.
Kedua, ibu jari. Ibu jarinya di sudut bibirku, lalu di bibirnya sendiri. Kalau aku memejamkan mata, aku masih bisa melihatnya, dalam gerakan lambat, seperti rekaman CCTV gudang yang diputar ulang untuk mencari bukti.
Ketiga, suara jeritan yang teredam handuk dari arah kamar mandi.
Sisanya kabur. Demam tiga puluh sembilan derajat membuat dunia terasa seperti dilihat dari balik akuarium. Aku tidur setelah sup habis. Waktu bangun, langit di luar jendela sudah gelap, kamarku remang-remang, dan kursi kerjaku di sebelah tempat tidur kosong.
Aku pikir aku bermimpi.
Lalu aku melihat rantang tiga susun di meja kerjaku, dicuci bersih, dengan secarik kertas ucapan kecil yang terselip di gagangnya. Kertas ucapan yang sama seperti yang dulu ia selipkan di saku kemejaku.
Besok saya datang lagi. Jangan buka laptop. Saya tahu kalau Mas buka.
Aku menatap laptop di meja. Laptop itu tertutup. Di atasnya, ada sebuah benda yang belum pernah kulihat sebelumnya: selembar kertas HVS yang dilipat dua, berdiri seperti tenda kecil. Tulisannya besar-besar dengan spidol merah:
JANGAN.
Aku tertawa, lalu terbatuk, lalu tertawa lagi.
Ia datang lagi hari Jumat.
Ia datang lagi hari Sabtu, hari Minggu, dan hari Senin. Setiap hari jam tiga sore, setelah menitipkan studio ke Pak Kumis. Setiap hari dengan rantang yang berbeda: sup ayam, bubur kacang hijau, nasi tim, sayur bening bayam. Setiap hari ia mengecek suhu tubuhku dengan termometer yang ia bawa sendiri dari rumah, karena menurutnya termometer di rumahku “sudah tua dan nggak jujur”.
Aku pasien yang buruk. Aku tahu itu. Ibu tahu itu. Seluruh keluarga Adinegara tahu itu sejak aku kena cacar air di kelas tiga SD dan tetap memaksa ikut lomba tujuh belasan.
Tapi Anjani belum tahu. Atau lebih tepatnya, Anjani baru tahu, dan Anjani ternyata tidak takut.
Hari Jumat, ia menemukanku duduk di tempat tidur dengan ponsel di tangan, sedang membalas pesan Tomi tentang jadwal bongkar muat. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengulurkan tangan dengan telapak menghadap ke atas.
Aku menyerahkan ponselku.
Ia memasukkan ponsel itu ke dalam tasnya, menutup ritsletingnya, lalu duduk dan membuka rantang bubur kacang hijau seolah tidak terjadi apa-apa.
“Itu ponsel kantor,” kataku.
“Sekarang ponsel saya.”
“Tomi butuh jadwal ...”
“Tomi kepala gudang. Tomi bisa bikin jadwal.” Ia menyendok bubur dan meniupnya. “Mas bukan satu-satunya orang di dunia yang bisa ngatur truk.”
“Saya satu-satunya yang ngatur dengan benar.”
Ia mengangkat alis. Lalu ia tersenyum, pelan, senyum yang tidak sampai ke giginya tapi sampai penuh ke matanya.
“Mas,” katanya, menyodorkan sendok. “Buka.”
Aku membuka mulut. Aku tidak tahu kenapa aku selalu menurut kalau ia bilang buka dengan nada itu.
Hari Sabtu, ia menemukan kacamata bacaku di bawah bantal dan laporan stok gudang di bawah selimut.
Ia tidak marah. Ia hanya menarik laporan itu perlahan, melipatnya, dan duduk di kursi kerja dengan laporan itu di pangkuannya. Lalu ia membacanya. Halaman demi halaman. Dengan sangat serius.
“Kamu ngerti?” tanyaku.
“Nggak.”
“Terus kenapa dibaca?”
“Supaya Mas lihat betapa membosankannya ini kalau dibaca orang lain.” Ia membalik halaman. “Stok kardus ukuran B-tiga, empat ratus dua belas unit. Wow. Seru banget. Saya sampai deg-degan.”
Ibu, yang sedang lewat di lorong dengan setumpuk handuk bersih, berhenti di depan pintu kamar. Ia mendengarkan. Lalu ia tertawa, tawa kecil yang ditahan, dan berjalan lagi.
Sore itu, waktu Anjani pamit, aku mendengar Ibu berbicara dengannya di teras. Suara mereka rendah, tapi pintu kamarku setengah terbuka dan dinding rumah kami tipis.
“Dia nurut sama kamu, Nak,” kata Ibu.
“Nggak nurut, Tante. Cuma kalah.”
“Sama aja.” Ibu tertawa. “Dari kecil, Tante bilang istirahat, dia malah ngepel. Tante bilang makan, dia malah nyuapin adiknya. Kamu ...” Suara Ibu berhenti sebentar. “Kamu orang pertama yang bisa bikin dia duduk diam.”
Hening. Lalu suara Anjani, pelan:
“Mas Bagas cuma butuh ada yang bilang, Tante, kalau dia juga boleh diurus.”
Aku menarik selimut sampai ke dagu dan menatap langit-langit lama sekali.
Hari Minggu, Tomi datang menjenguk membawa satu keranjang buah yang terlalu besar dan satu kantong gosip yang lebih besar lagi.
“Bos,” katanya, duduk di tepi tempat tidurku tanpa permisi. “Gudang kacau tanpa Bos.”
“Serius?”
“Nggak. Lancar-lancar aja.” Ia mengambil jeruk dari keranjangnya sendiri dan mulai mengupasnya. “Malah lebih cepat. Anak-anak nggak takut salah.”
Aku tidak tahu harus merasa tersinggung atau lega.
Tomi memakan jeruknya dan memandangi kamarku. Matanya berhenti di kemeja biru muda yang tergantung di belakang pintu.
“Bos, itu kemeja kok nggak dicuci? Ada bunga keringnya.”
“Bukan urusanmu.”
“Ya Allah.” Tomi meletakkan kulit jeruk di nakas, di sebelah termometer milik Anjani. “Bos udah separah itu.”
“Separah apa?”
“Bos nyimpen kemeja nggak dicuci. Bos daftar gym. Bos nolak promosi terus nego jadi dua minggu. Bos masak.” Ia menghitung dengan jari. “Saya cerai dua kali, Bos. Saya tahu tanda-tandanya. Itu stadium empat.”
Pintu kamar terbuka. Anjani masuk membawa nampan berisi teh dan pisang rebus.
Tomi berdiri begitu cepat sampai keranjang buahnya hampir jatuh. “Mbak Anjani! Selamat sore, Mbak!”
“Sore, Mas Tomi. Mawarnya diterima?”
Tomi menggaruk kepala. “Diterima, Mbak. Terus dibuang.”
“Sudah saya bilang.”
“Mbak benar.” Tomi melirikku, lalu melirik Anjani yang sedang meletakkan nampan di nakas dan mengecek termometer dengan gerakan yang sudah sangat terbiasa, seolah ia sudah melakukannya bertahun-tahun di kamar ini. Lalu Tomi berdeham. “Saya ... saya pamit, Bos. Cepat sembuh. Jangan cepat-cepat juga, gudang lagi enak.”
Ia keluar. Di lorong, aku mendengarnya berkata kepada Ibu dengan suara yang sangat tidak pelan: “Bu, itu calon menantu Ibu? Ya Allah, Bu, cantiknya. Bos nemu di mana, Bu?”
Anjani tidak bereaksi. Tapi aku melihat sudut bibirnya bergerak.
Hari Senin, demamku naik lagi.
Bukan karena penyakitnya. Dokter bilang demam kecapekan memang bisa naik turun beberapa hari. Tapi aku tahu, dan Anjani tahu, dan seluruh keluarga Adinegara tahu, bahwa demam itu naik lagi karena malam sebelumnya aku diam-diam membuka laptop jam sebelas malam untuk mengecek laporan Surabaya, dan tertidur dengan kepala di atas keyboard sampai jam tiga pagi.
Nisa yang menemukanku. Nisa yang melaporkan.
Anjani datang jam tiga sore dan langsung tahu. Ia berdiri di ambang pintu kamarku, menatapku, menatap laptop di meja kerja, menatap kertas JANGAN yang sekarang tergeletak miring di sebelahnya, lalu menatapku lagi.
Aku menunggu ia marah.
Ia tidak marah. Ia hanya meletakkan rantangnya di meja, berjalan ke tempat tidurku, dan duduk di tepinya. Bukan di kursi seperti biasa. Di tepi tempat tidur, dekat sekali, sampai kasurku miring sedikit ke arahnya.
Lalu ia mengulurkan tangan dan menempelkan telapak tangannya di dahiku.
Tangannya dingin. Sejuk, seperti air sumur. Aku memejamkan mata tanpa sadar.
“Panas,” katanya pelan.
“Sedikit.”
“Tiga puluh delapan setengah, kira-kira.”
“Kok tahu tanpa termometer?”
“Saya pernah ngerawat orang sakit.” Ia tidak menjelaskan siapa. Ia tidak perlu.
Telapak tangannya tidak langsung turun. Ia membiarkannya di dahiku beberapa detik lagi, lalu, perlahan, tangan itu bergeser. Turun dari dahi ke pelipis. Dari pelipis ke pipi. Telapaknya yang dingin menempel di pipiku yang panas, dan ibu jarinya bergerak sedikit di tulang pipiku, pelan, seperti mengusap debu dari permukaan sesuatu yang berharga.
Aku membuka mata.
Ia sedang menatapku. Dari jarak ini, dengan cahaya sore yang masuk dari jendela di belakangnya, aku bisa melihat semua hal yang biasanya hanya kulihat sekilas. Bulu matanya yang panjang dan sedikit melengkung. Tahi lalat kecil di bawah mata kirinya. Bekas luka kecil, hampir tidak terlihat, di dagunya. Rambutnya yang hari ini dikepang longgar dan diselampirkan ke bahu kanan, dengan beberapa helai yang lepas di dekat telinga.
Cantik. Sangat cantik, sampai rasanya tidak adil. Tapi bukan itu yang membuatku tidak bisa bernapas.
Yang membuatku tidak bisa bernapas adalah matanya. Mata itu tidak sedang menggodaku. Tidak sedang tertawa. Mata itu sedang khawatir. Benar-benar khawatir, seperti seseorang yang tahu persis bagaimana rasanya menunggu orang yang tidak pernah sembuh.
“Mas,” katanya. “Jangan sakit lama-lama.”
Aku tidak menjawab.
“Saya nggak sabar,” lanjutnya, dan sekarang sudut bibirnya bergerak, khawatirnya bercampur dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih nakal, “gantian dirawat Mas.”
Aku menatapnya. Telapak tangannya masih di pipiku. Ibu jarinya masih bergerak pelan di tulang pipiku.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, sebuah kalimat keluar dari mulutku tanpa melewati otak lebih dulu. Tanpa draf. Tanpa catatan delapan poin. Tanpa izin dari bagian mana pun di kepalaku yang biasanya mengatur segala hal.
“Kayaknya,” kataku, “demam saya naik lagi.”
Hening.
Tangannya berhenti bergerak di pipiku.
Lalu matanya melebar sedikit, dan aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya di wajahnya: ia terkejut. Benar-benar terkejut. Seperti orang yang selama ini mengira ia sedang bermain catur melawan anak kecil, lalu tiba-tiba anak kecil itu mengucapkan skak.
Pipinya merah.
Aku melihatnya. Merah muda samar, dari tulang pipi naik ke telinga. Anjani Wardhani, perempuan yang membuatku tersedak air mineral, yang mengecek kerah kemejaku terlalu lama, yang mencicipi ibu jarinya sendiri sambil menatapku, perempuan itu sedang tersipu.
Ia menarik tangannya dari pipiku. Ia berdiri dari tepi tempat tidur. Ia berjalan ke meja kerja dan mulai membuka rantang dengan gerakan yang terlalu cepat, terlalu sibuk, seperti orang yang tiba-tiba ingat ada sesuatu yang harus dikerjakan.
“Mas makan dulu,” katanya tanpa menoleh. “Terus minum obat. Terus tidur.”
“Anjani.”
“Jangan ngomong.”
“Kamu malu?”
“Saya nggak malu.” Ia membuka susun kedua rantang terlalu keras sampai tutupnya berdenting. “Saya cuma kaget. Mas nggak pernah ngomong kayak gitu.”
“Saya juga kaget.”
Ia berhenti. Ia menoleh. Ia menatapku dari seberang kamar, dengan tutup rantang di tangan dan pipi yang masih merah, dan bibirnya bergetar seperti menahan sesuatu.
Lalu ia tertawa. Tawa yang meledak dari dadanya, keras, tidak terkendali, sampai ia harus meletakkan tutup rantang dan bersandar ke meja kerja. Dan aku tertawa juga, meskipun kepalaku pusing dan tenggorokanku sakit dan tertawa membuat demamku mungkin benar-benar naik.
Di lorong, terdengar suara pintu kamar Nisa terbuka. Lalu langkah kaki. Lalu suara Nisa, cukup keras, ke arah dapur: “BU! MAS BAGAS NGEGOMBAL! MAS BAGAS BISA NGEGOMBAL, BU!”
Dari dapur, terdengar suara sesuatu jatuh. Mungkin panci.
Hari Rabu, demamku turun ke tiga puluh enam koma delapan. Dokter bilang aku boleh kembali bekerja hari Senin depan, dengan syarat tidak pulang lewat jam tujuh dan tidak membuka laptop setelah jam sembilan malam.
“Syarat kedua itu dari dokter atau dari Anjani?” tanyaku pada Ibu.
Ibu tidak menjawab. Ibu hanya tersenyum.
Sore itu, Anjani datang untuk terakhir kalinya sebagai perawat. Ia tidak membawa rantang. Ia membawa sebuah tas kain berisi termometer, sisa obat, dan buku catatan kecil yang ternyata berisi jadwal suhu tubuhku selama seminggu terakhir, ditulis rapi dengan pulpen biru, lengkap dengan jam dan catatan kecil di pinggirnya.
Jumat 15.00 — 38,7. Ngambek karena HP disita.
Sabtu 15.00 — 38,2. Ketahuan sembunyiin laporan.
Minggu 15.00 — 37,9. Tomi datang. Ngobrolin kardus.
Senin 15.00 — 38,5. Buka laptop jam 11 malam (lapor Nisa). Ngegombal (!!!).
Selasa 15.00 — 37,4. Nurut.
Rabu 15.00 — 36,8. Sembuh.
Aku membaca catatan itu dan merasakan sesuatu tersangkut di tenggorokanku.
“Kamu nyatat semua ini?”
“Saya florist, Mas. Saya nyatat kapan tiap bunga disiram.” Ia mengambil buku itu dari tanganku dan memasukkannya ke tas. “Mas lebih rewel dari anggrek.”
Ia pamit jam enam. Di luar, hujan turun pelan, gerimis Bogor yang dingin dan lembap. Ia berdiri di teras sambil memeluk tasnya, menatap langit, dan aku melihatnya menggigil sedikit. Ia hanya memakai blus tipis berlengan pendek.
Aku masuk ke kamar. Aku mengambil kemeja flanel kotak-kotak abu-abu dari lemari, kemeja tebal yang biasa kupakai kalau harus ke gudang jam dua pagi. Aku membawanya ke teras dan menyampirkannya ke bahunya.
Ia menoleh dan menatap kemeja itu, lalu menatapku.
“Ini apa?”
“Dingin.”
“Mas baru sembuh. Mas yang harusnya pakai jaket.”
“Saya di dalam rumah.” Aku memasukkan tangan ke saku celana. “Kamu di luar.”
Ia diam. Lalu ia menarik kemeja itu lebih rapat di bahunya, memasukkan tangannya ke lengan kemeja yang terlalu panjang, dan menggulung ujungnya dua kali sampai jari-jarinya kelihatan. Kemeja itu menelannya. Ia terlihat kecil di dalamnya, kecil dan hangat, dan tiba-tiba aku tidak bisa memikirkan apa pun selain bahwa kemejaku sedang memeluknya.
“Kapan saya kembalikan?” tanyanya.
“Nggak usah buru-buru.”
Ia menatapku lama. Lalu ia tersenyum, senyum yang kecil dan sedikit nakal, dan menarik kerah kemeja flanel itu sampai ke hidungnya.
“Wangi Mas,” katanya pelan, ke dalam kerah itu.
Lalu ia berjalan ke mobilnya di bawah gerimis, tanpa payung, kemejaku tergantung di bahunya, dan ia tidak menoleh. Kali ini ia benar-benar tidak menoleh.
Aku berdiri di teras sampai mobilnya hilang di ujung jalan.
Di belakangku, Ibu berdiri di ambang pintu depan. Aku tidak tahu sejak kapan Ibu di sana.
“Gas,” kata Ibu pelan.
“Iya, Bu.”
“Kemeja itu nggak bakal balik.”
“Saya tahu, Bu.”
Ibu menepuk bahuku dua kali, persis seperti Ayah, lalu masuk ke dalam.
- 1 Jam Tujuh
- 2 Janji Arisan
- 3 Pertemuan Pertama
- 4 Tameng
- 5 Krisan Putih
- 6 Bekal Gosong
- 7 Calon Saya
- 8 Rencana Hujan
- 9 Jangan Korbankan Hidupmu
- 10 Sup Hari Kamis
- 11 Pasien Paling Bandel reading
- 12 Mas Lulus
- 13 Cemburu pada Orang Baik
- 14 Izin
- 15 Undangan yang Tidak Menyebut Namaku
- 16 Langkah Kuda
- 17 Persiapan Rahasia
- 18 Sekali, Umur Dua Tahun
- 19 Masih Tameng?
- 20 Bukan
- 21 Cincin
- 22 Mawar Kuning
- 23 Bukan yang Ditunggu
- 24 Administrasi Kepulangan
- 25 Maju Dua Langkah
- 26 Lampu Teras
- 27 Pintu Kedatangan
- 28 Catatan Terakhir
- 29 Kiriman Tanpa Nama
- 30 Krisan Putih, Kali Ini Benar
- 31 Restu
- 32 Janda Tahu Caranya
- 33 Bukan Pengganti
- 34 Proyek A, Versi Final
- 35 Malam Tanpa Jam Tujuh
- 36 Selamat Datang Pulang
- 37 Malam Pertama
- 38 Laporan Bulanan
- 39 Jam Tujuh, ke Rumah Kita
- 40 Proyek B
- 41 Epilog — Hujan