Chapter Twenty One

Cincin

POV: Anjani

Kami membeli cincin di toko pertama. Toko emas Tionghoa di Jalan Suryakencana, yang ada patung singa batu di depan pintunya.

Bagas yang memilih tempat itu. Ia bilang ia sudah menghabiskan dua jam di sana minggu lalu, sebelum aku muncul dan membuatnya menjatuhkan cincin ke atas beludru, dan rasanya tidak adil kalau ibu penjaga toko itu tidak ikut melihat akhirnya.

Ibu penjaga toko itu ingat kami. Begitu lonceng di atas pintu berdenting dan ia melihat Bagas masuk dengan aku di sebelahnya, ia meletakkan kalkulator yang sedang dipegangnya, tersenyum lebar sampai matanya hilang, dan berkata dengan logat yang kental:

“Aiya. Akhirnya. Sudah ketangkap, ya?”

“Siapa yang ketangkap, Bu?” tanyaku.

Ibu itu menunjuk Bagas dengan dagunya. Bagas menunduk. Kupingnya merah.

“Dia,” kata ibu itu. “Minggu lalu dia di sini dua jam. Lihat cincin satu-satu. Pakai kaca pembesar. Tanya kadar emas, tanya asal batu, tanya garansi. Saya sudah jual cincin tiga puluh tahun, belum pernah ada yang nanya garansi cincin kawin.” Ibu itu tertawa. “Saya bilang, Mas, garansinya ya di Mas sendiri.”

Bagas menunduk lebih dalam.


Ia sudah memilih modelnya. Tentu saja ia sudah memilih modelnya. Ibu penjaga toko mengeluarkannya dari laci di bawah etalase, laci yang tidak kelihatan dari luar, seperti barang yang sengaja disimpan untuk seseorang.

Dua cincin emas putih. Polos. Tanpa batu. Hanya garis tipis berukir di bagian tengahnya, melingkar seperti tali yang dipilin.

“Kamu bilang kamu nggak suka yang besar,” kata Bagas pelan. “Waktu saya survei.”

“Survei logistik.”

“Iya.” Kupingnya makin merah. “Kamu bilang batu permata yang besar bikin tangan kelihatan kayak lagi pamer. Kamu bilang kamu kerja pakai tangan, jadi cincinnya harus bisa dipakai kerja. Nggak nyangkut di kawat bunga. Nggak nyangkut di sarung tangan.”

Aku menatapnya. Aku tidak ingat pernah mengatakan semua itu dengan lengkap. Aku hanya ingat menjawab pertanyaan-pertanyaan anehnya di teras dengan setengah perhatian, sambil menyesap teh dan memikirkan hal lain. Tapi ia mendengarkan semuanya. Ia mencatat semuanya. Ia menyusun semuanya menjadi sebuah keputusan, seperti menyusun rute pengiriman.

“Ukurannya enam,” kata Bagas. “Yang punya kamu.”

“Saya tahu. Saya yang kasih tahu.”

“Saya cek tiga kali.”

Aku tertawa. Ibu penjaga toko juga tertawa.

Lalu aku mengambil cincin yang lebih besar dari bantalan beludru. Cincin untuknya.

“Mas,” kataku. “Tangan.”

Ia menatapku bingung. “Bukannya saya yang ...”

“Tangan, Mas.”

Ia mengulurkan tangan kirinya. Lalu menariknya. Lalu mengulurkan tangan kanannya. Lalu menariknya lagi, karena ia tidak tahu cincin kawin harus di tangan yang mana, dan ia panik. Ibu penjaga toko membisikkan sesuatu, tunangan kiri, Mas, kawin kanan. Ia mengulurkan tangan kirinya lagi, ragu.

Aku memegang tangannya. Tangannya berkeringat. Masih.

Aku memasukkan cincin itu ke jari manisnya. Pelan. Melewati buku jari yang sedikit kasar, melewati bekas luka tipis dari kardus atau paku di gudang, sampai ke pangkal jari. Pas. Tentu saja pas. Ia sudah mengukurnya sendiri, mungkin tiga kali.

Ia menatap cincin di jarinya. Ia tidak bergerak.

“Kenapa saya duluan?” tanyanya pelan.

“Biar Mas tahu rasanya diikat,” kataku.

Ia mengangkat matanya dan menatapku.

Aku tidak melepaskan tangannya. Aku justru menggenggamnya lebih erat dan mendekatkan wajahku sedikit, cukup dekat sehingga hanya ia yang bisa mendengar.

“Nanti,” bisikku, “ikatannya lebih erat lagi.”

Di belakang etalase, ibu penjaga toko tiba-tiba sangat sibuk dengan kalkulatornya.

Bagas tidak menjawab. Bagas tidak bisa menjawab. Tapi ia mengambil cincin yang lebih kecil dari bantalan beludru dengan tangan kanannya, karena tangan kirinya masih kugenggam. Tangannya gemetar. Ia memegang tangan kiriku dengan sangat hati-hati, seperti memegang telur, dan memasukkan cincin itu ke jari manisku.

Pas.

Aku menatap tangan kami. Dua cincin emas putih polos dengan garis tipis seperti tali yang dipilin. Jarinya dan jariku. Masih bertaut.

Lalu aku menyadari sesuatu. Di jari manis tangan kananku, tidak ada apa-apa. Sudah lama tidak ada apa-apa. Cincin pernikahanku yang pertama sudah lama kusimpan di kotak kayu kecil di laci meja rias, bersama sepucuk surat dari lembaga relawan dan sebuah jam tangan yang ternyata bukan milik Fikri.

Aku pernah memakai cincin di jari manis tangan kanan. Sekarang aku memakai cincin di jari manis tangan kiri, karena di sini, untuk pertunangan, kebiasaannya begitu.

Dua tangan yang berbeda. Dua cincin yang berbeda.

Aku tidak sedih. Aku hanya memperhatikannya, seperti memperhatikan dua jenis bunga yang tumbuh di dua pot yang berbeda.

“Kebesaran?” tanya Bagas cemas, melihat aku menatap tanganku terlalu lama.

“Nggak, Mas,” kataku. “Pas banget.”


Kami tidak langsung pulang.

Bagas bilang ada satu hal lagi yang harus dilakukan sebelum cincin ini benar-benar dipakai. Sesuatu yang ia pikirkan sejak malam di teras rumah ibunya.

“Ibu mertua kamu bilang,” katanya di mobil, “lain kali ajak dia.”

Aku menoleh. “Mas tahu dari mana?”

“Kamu yang cerita. Waktu di Depok. Di depan minimarket.” Ia menatap jalan. “Saya mau datang. Bukan nyelonong. Datang baik-baik. Kasih tahu langsung.”

“Sekarang?”

“Hari Minggu. Kalau kamu mau.”

Aku menatapnya lama. Laki-laki ini tidak diundang ke syukuran tiga puluh lima tahun. Laki-laki ini duduk enam jam di depan minimarket. Laki-laki ini baru seminggu yang lalu tahu bahwa ia awalnya dipakai sebagai tameng di depan keluarga yang sama. Dan sekarang ia ingin datang ke rumah itu, ke ruang tamu yang ada foto pernikahan Fikri di dindingnya, untuk meminta restu dengan cara yang benar.

“Ajak Om sama Tante juga?” tanyaku.

“Ajak semuanya,” katanya. “Ayah saya. Ibu saya. Bapak kamu. Mama kamu.”

“Nisa?”

Ia diam sebentar. “Nisa jangan.”

“Nisa pasti ikut.”

“Saya tahu.” Ia menghela napas. “Nisa jangan pakai seragam katering.”


Hari Minggu, dua mobil berhenti di depan gang rumah keluarga Ramadhan di Depok. Satu sedan abu-abu. Satu city car putih. Lalu sebuah taksi online, dari mana Nisa turun dengan Reza dan Kiki, dengan buku kucing terselip di tas.

Bu Aminah menunggu di teras.

Ia sudah tahu kami akan datang. Mama yang meneleponnya hari Kamis, dengan suara yang sangat hati-hati, dan Bu Aminah diam lama di telepon sebelum berkata iya, datang saja, Sri. Bapak mertuaku duduk di sebelahnya. Fadhil berdiri di belakang mereka, dengan wajah pucat dan kemeja yang disetrika terlalu rapi.

Ruang tamu itu kecil dan penuh. Kursi-kursi tambahan diambil dari ruang makan. Kiki duduk di lantai dengan Reza. Nisa duduk di pojok dengan wajah yang sangat serius, tidak membuka buku kucingnya sama sekali, dan aku tahu itu caranya menghormati tempat ini.

Foto pernikahanku masih di dinding. Di atas sofa. Aku dengan kebaya putih. Fikri dengan beskap hitam.

Aku melihat Bagas melihat foto itu. Ia melihatnya lama. Lalu ia menunduk sedikit, sangat sedikit, hampir tidak terlihat, seperti orang yang memberi salam kepada seseorang yang ia hormati.

Om Darmawan yang bicara. Ayah Bagas, yang jarang bicara, yang biasanya hanya berdeham. Hari itu ia bicara panjang, dengan suara pelan dan kalimat yang tersusun rapi, seperti sudah dilatih di depan cermin. Ia memperkenalkan keluarganya. Ia menyampaikan niat anaknya. Ia meminta maaf karena datang ke rumah yang masih berduka dengan membawa kabar seperti ini.

“Kami tidak datang untuk menggantikan siapa pun, Pak, Bu,” kata Om Darmawan. “Kami datang untuk meminta izin. Supaya Anjani bisa melanjutkan hidup tanpa harus memilih antara keluarga yang lama dan yang baru.”

Bu Aminah mendengarkan semuanya dengan tangan terlipat di pangkuan. Matanya berkaca-kaca, tapi tidak menangis.

Lalu Bagas berdiri. Ia tidak diminta. Ia berdiri, menghadap Bapak dan Ibu mertuaku, dan membungkuk.

“Pak. Bu,” katanya. “Saya Bagas.”

Ia tidak menyebut jabatannya. Ia tidak menyebut perusahaannya. Hanya nama.

“Saya nggak bisa janji macam-macam,” katanya. “Saya nggak pintar ngomong. Saya cuma mau bilang satu hal.” Ia menelan ludah. “Saya sudah izin ke Mas Fikri. Di makam. Bulan lalu. Saya sekarang mau izin ke Bapak dan Ibu.”

Bu Aminah menatapnya.

Lalu, akhirnya, ia menangis. Bukan tangis yang keras. Tangis yang pelan, yang keluar sendiri, seperti air yang sudah terlalu lama ditahan di bendungan.

Ia tidak menjawab izin itu. Tidak hari itu. Ia hanya bangkit dari sofa, berjalan ke arah Bagas, dan memegang kedua tangannya. Ia menatap cincin di jari manis tangan kiri Bagas. Lalu menatap wajahnya.

“Kamu yang bersihin makamnya,” katanya pelan. “Pak Udin cerita. Hurufnya sampai mengilap.”

Bagas tidak menjawab.

“Pelan-pelan, ya, Nak,” kata Bu Aminah. “Ibu butuh waktu. Tapi pelan-pelan.”

Ia meremas tangan Bagas. Lalu ia melepaskannya, kembali ke sofa, dan duduk di sebelah suaminya, di bawah foto pernikahan anaknya.

Itu bukan restu. Belum. Tapi itu juga bukan penolakan.

Di pojok, Fadhil menunduk dengan tangan di wajah. Bahunya naik turun lagi.


Kami pulang jam tiga. Di mobil, di tol Jagorawi, aku memegang tangan Bagas di atas tuas persneling. Ia memindahkan gigi dengan tangan kiri, kaku, mobil tersendat dua kali. Aku tertawa dua kali.

Cincin di jariku berkilat setiap kali kami melewati cahaya matahari di antara pohon-pohon di pinggir tol.

“Mas,” kataku.

“Hm?”

“Tadi Mas keren.”

Ia tidak menjawab. Tapi aku melihat sudut bibirnya naik, dan kupingnya memerah, dan ia mengeratkan genggamannya di tanganku.

Aku menyandarkan kepala ke jendela dan menatapnya dari samping. Laki-laki ini. Laki-laki ini yang kaku dan tidak pintar ngomong dan memegang sendok terbalik. Dua bulan yang lalu aku mencari nama untuk disebut. Sekarang aku memakai cincin yang ia pilih setelah dua jam di toko emas dengan kaca pembesar.

Hidup bisa berubah secepat itu.

Aku memejamkan mata. Aku memikirkan seribu hari, yang tinggal tiga bulan lagi. Aku memikirkan pernikahan, yang mungkin kecil, mungkin di halaman rumah Tante Ratih, dengan bunga matahari di setiap meja. Aku memikirkan teh tubruk Slawi setiap pagi, dibuat oleh tangan yang tidak pernah mengaduknya.

Hidup bisa berubah secepat itu.

Dalam dua arah.


Ponselku berdering jam lima sore, waktu kami baru masuk Bogor.

Aku melihat layarnya. Fadhil.

Aku tersenyum. Mungkin ia mau berterima kasih lagi. Mungkin Bu Aminah menitipkan sesuatu. Aku mengangkatnya.

“Halo, Dhil?”

Hening di ujung telepon. Hanya suara napas. Napas yang berat, terputus-putus, seperti orang yang baru saja berlari.

“Dhil?”

“Mbak.” Suaranya pecah. “Mbak, tadi ... tadi setelah kalian pulang ... ada telepon.”

Aku duduk tegak. Bagas melirik ke arahku. Mobil melambat.

“Telepon dari mana, Dhil?”

“Dari lembaga, Mbak. Lembaganya Mas Fikri.” Fadhil menarik napas, panjang dan gemetar. “Mereka bilang ... mereka bilang ada orang Indonesia yang baru ditemukan. Di kamp pengungsian. Di perbatasan. Laki-laki. Umur tiga puluhan. Luka-luka. Nggak bisa ngomong jelas. Nggak bawa dokumen.”

Tanganku yang sedang menggenggam tangan Bagas di atas tuas persneling berhenti bergerak.

“Mbak,” kata Fadhil. “Mereka kirim fotonya. Fotonya buram. Tapi Mbak ...”

Ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Aku mendengarnya menangis.

“Mirip, Mbak,” bisiknya. “Mirip banget sama Mas Fikri.”


Aku tidak ingat sisa perjalanan itu.

Aku ingat Bagas menepikan mobil di bahu jalan di dekat Tugu Kujang. Aku ingat lampu hazard berkedip-kedip, oranye, oranye, oranye. Aku ingat ponsel yang masih menempel di telingaku, dengan suara Fadhil yang terus berbicara tapi aku tidak lagi mendengar kata-katanya.

Aku ingat menatap tanganku di pangkuan.

Cincin emas putih. Polos. Dengan garis tipis seperti tali yang dipilin.

Di jari manis tangan kiri.

Dan di laci meja rias di rumahku, di dalam kotak kayu kecil, cincin yang lain. Cincin yang pernah dipakai di jari manis tangan kanan. Cincin yang tidak pernah dilepas oleh siapa pun secara resmi. Cincin dari pernikahan yang tidak pernah diakhiri oleh pengadilan mana pun, karena tidak ada jenazah, karena tidak ada kepastian, karena semua orang hanya tahu, dan tahu tidak sama dengan pasti.

Aku merasakan sesuatu bergeser di dalam dadaku. Bukan harapan. Aku sudah lama berhenti berharap. Bukan juga takut, tidak persis.

Rasanya seperti tanah yang selama dua tahun kubangun pelan-pelan, satu karung pasir demi satu karung pasir, tiba-tiba diguncang dari bawah.

Bagas tidak bicara. Ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya duduk di kursi pengemudi dengan lampu hazard berkedip, dan tangannya, yang masih menggenggam tanganku, tidak melepaskan.

Tapi aku merasakannya. Aku merasakan tangannya berubah. Perlahan. Genggamannya tidak lagi mengerat. Jari-jarinya tidak lagi bergerak di punggung tanganku.

Tangannya tetap di sana. Hangat. Diam.

Seperti tangan seseorang yang sedang bersiap untuk melepaskan, tapi belum tahu caranya.