Chapter Fifteen
Undangan yang Tidak Menyebut Namaku
POV: Anjani
Undangannya datang lewat pos, di dalam amplop krem dengan tulisan tangan Ibu mertuaku yang miring dan rapi.
Syukuran 35 Tahun Pernikahan
Bpk. Zainal Ramadhan & Ibu Hj. Aminah
Minggu, pukul 10.00 WIB
Kediaman keluarga, Depok
Di bawahnya, dengan pulpen biru, sebuah catatan kecil:
Anjani sayang, Ibu tunggu ya. Jangan nggak datang. Keluarga besar semua kumpul.
Aku membaca undangan itu dua kali. Lalu tiga kali. Lalu aku menyadari apa yang sedang kucari: sebuah nama lain. Sebuah dan, sebuah bersama, sebuah ajak. Tidak ada.
Tentu saja tidak ada. Ibu mertuaku perempuan yang sopan. Ia tidak akan mengundang laki-laki yang baru ia temui satu kali ke acara keluarga besar Ramadhan, di rumah tempat foto pernikahan anaknya masih tergantung di ruang tamu.
Aku mengerti. Aku benar-benar mengerti.
Tapi aku tetap meletakkan undangan itu terbalik di meja rias, supaya tidak perlu melihatnya setiap kali bercermin.
“Saya nggak apa-apa,” kata Bagas waktu aku memberitahunya, Kamis malam di teras.
“Saya belum bilang apa-apa, Mas.”
“Wajah kamu sudah bilang.” Ia memutar cangkir teh di tangannya. “Itu acara keluarga mereka. Wajar kalau saya nggak diundang.”
“Saya tahu wajar.”
“Kamu harus datang.”
“Saya tahu saya harus datang.”
Ia menatapku. Aku menatap pot bunga Mama.
“Anjani.”
“Hm?”
“Kamu takut?”
Aku tidak langsung menjawab. Takut bukan kata yang tepat. Takut itu untuk hal-hal yang bisa melukai. Keluarga Ramadhan tidak akan melukaiku. Mereka akan memelukku, menyuapiku, menanyakan kabarku dengan mata berkaca-kaca. Mereka akan mencintaiku dengan seluruh hati mereka.
Dan di tengah semua cinta itu, seseorang pasti akan menyebut nama Fadhil.
“Bukan takut,” kataku. “Capek duluan.”
Bagas tidak menjawab. Tapi ia mengulurkan tangannya di atas meja kecil di antara kami, telapak menghadap ke atas, menunggu.
Aku meletakkan tanganku di atasnya. Tangannya masih sedikit berkeringat. Ia sudah tidak minta maaf lagi soal itu.
Hari Minggu, rumah keluarga Ramadhan penuh sesak.
Rumah itu tidak besar, rumah tipe lama di gang yang hanya muat satu mobil, dengan teras keramik merah dan pohon mangga di halaman depan. Tapi hari itu tenda biru dipasang di halaman, kursi-kursi plastik berderet sampai ke jalan, dan suara anak-anak berlarian bercampur dengan suara ibu-ibu yang tertawa dan bapak-bapak yang membicarakan sepak bola.
Begitu aku turun dari mobil, Ibu mertuaku sudah berdiri di ambang pagar. Ia memelukku lama. Ia mencium kedua pipiku. Ia memegangi wajahku dengan dua tangan dan menatapku seperti menatap sesuatu yang hampir hilang dan baru ditemukan lagi.
“Kurus,” katanya.
“Nggak, Bu. Sudah naik dua kilo.”
“Masih kurus.” Ia menarikku masuk. “Makan dulu. Ibu masak opor.”
Lalu satu per satu mereka datang. Bude Ningsih, kakak Bapak mertuaku, yang suaranya bisa terdengar sampai ke ujung gang. Om Harun dan Tante Wati dari Cirebon. Sepupu-sepupu Fikri yang dulu kuingat masih SMP dan sekarang sudah bawa anak. Mereka memelukku, mencubit pipiku, menepuk punggungku. Anjani, ya Allah, apa kabar. Anjani makin cantik. Anjani sudah lama nggak ke sini.
Tidak ada yang menyebut nama Fikri. Semua orang menghindarinya seperti orang menghindari lubang di jalan, dengan hati-hati, sambil terus melirik ke arahnya.
Dan di ruang tamu, di dinding di atas sofa, foto pernikahan kami masih tergantung. Aku dengan kebaya putih, Fikri dengan beskap hitam yang lengannya ada noda samar yang tidak bisa hilang meskipun sudah dicuci, karena hari itu ia datang terlambat dua jam setelah menolong orang di jalan tol.
Aku tidak menatap foto itu. Tapi aku tahu foto itu ada di sana, seperti orang tahu ada matahari meskipun tidak menatapnya langsung.
Fadhil menemukanku di dapur jam sebelas, waktu aku sedang membantu menata kue di piring saji.
“Mbak,” katanya. Ia memakai batik cokelat yang sedikit kebesaran, mungkin pinjaman dari Bapaknya.
“Hai, Dhil.”
Ia berdiri di sebelahku dan ikut menata kue tanpa bicara. Kami bekerja dalam diam beberapa saat. Kue lapis, kue lumpur, risoles. Banyak kue yang sama seperti yang dibawa Bagas ke rumahku waktu itu, dan aku tidak bisa menahan senyum.
“Mbak senyum kenapa?” tanya Fadhil.
“Nggak apa-apa.”
Fadhil menatapku sebentar. Lalu ponselnya bergetar di saku batiknya. Ia mengeluarkannya, melihat layarnya, dan wajahnya berubah. Lembut. Seperti waktu di teras rumahku dulu.
Dari sudut mataku, aku sempat melihat layar kuncinya sebelum ia buru-buru membalikkan ponsel itu ke dada. Foto seorang perempuan muda berkerudung biru muda, tersenyum di depan papan tulis sebuah ruang kelas.
“Siapa, Dhil?”
“Bukan siapa-siapa, Mbak.” Ia memasukkan ponselnya kembali ke saku. Kupingnya merah. Aku tidak tahu kenapa semua laki-laki di hidupku akhir-akhir ini punya kuping yang mengkhianati mereka.
“Guru juga?”
Fadhil berhenti menata kue. Ia menatapku dengan mata yang tiba-tiba sangat takut, seperti anak kecil yang tertangkap mencuri mangga tetangga.
“Mbak,” bisiknya. “Tolong jangan bilang Ibu.”
Aku menatapnya lama. Adik iparku. Anak laki-laki yang dulu kubantu mengerjakan PR fisika. Yang setiap kali datang ke rumah selalu membawa gorengan. Yang sekarang berdiri di dapur ibunya dengan batik pinjaman, menyembunyikan foto perempuan yang ia sayangi di balik dadanya, karena ia tahu ibunya punya rencana lain untuknya.
Untuk kami.
“Dhil,” kataku pelan.
“Iya, Mbak.”
“Rahasia kita.”
Bahunya turun. Sama seperti hari itu di rumahku. Ia mengangguk sekali, lalu kembali menata kue, dan aku melihat tangannya sedikit gemetar.
Lalu aku melihat sesuatu yang membuatku hampir menjatuhkan piring kue lapis.
Di dekat pintu belakang dapur, di antara tiga perempuan berseragam katering yang sedang menata gelas-gelas teh di atas nampan, berdiri seorang perempuan muda berpipi bulat dengan kerudung hitam, celemek putih, dan seragam katering yang sedikit kekecilan di bagian lengan.
Ia sedang menata gelas dengan sangat serius. Terlalu serius. Dan setiap kali menata satu gelas, matanya melirik ke arah ruang tamu, lalu ke arahku, lalu ke arah Fadhil, lalu kembali ke gelas.
Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari saku celemeknya dan menulis di atasnya cepat-cepat.
Sebuah buku catatan kecil. Sampulnya bergambar kucing.
Aku meletakkan piring kue lapis di meja dengan sangat hati-hati.
“Dhil,” kataku. “Mbak ke belakang sebentar.”
Aku berjalan ke pintu belakang dapur. Perempuan berseragam katering itu melihatku datang, membeku, lalu buru-buru berbalik menghadap tembok dan pura-pura mengelap gelas yang sudah kering.
Aku berdiri di sebelahnya. Aku mengambil satu gelas dan ikut mengelap.
“Nisa,” kataku pelan, tanpa menoleh.
“Bukan, Kak. Saya Mbak katering.”
“Nisa.”
“Saya Ratna, Kak. Dari Katering Barokah.”
Aku menoleh. Ia masih menghadap tembok. Pipinya merah padam.
“Kenapa kamu di sini?”
Hening. Lalu, sangat pelan, dengan suara orang yang menyerah:
“Katering ini punya teman pengajian Ibu, Kak. Mereka kekurangan orang. Aku daftar.”
“Kamu daftar jadi pelayan katering?”
“Seharian aja. Gratis.”
“Nisa.”
“Mas Bagas nggak diundang, Kak.” Akhirnya ia menoleh. Matanya berkaca-kaca, dan aku tidak tahu apakah karena malu atau karena hal lain. “Mas Bagas bilang nggak apa-apa. Tapi Kak, aku kenal Mas Bagas tiga puluh tahun. Kalau Mas Bagas bilang nggak apa-apa dengan suara kayak gitu, artinya apa-apa banget.”
Aku menatapnya.
“Jadi aku ke sini,” lanjut Nisa, berbisik cepat. “Buat lihat. Buat jaga-jaga. Kalau ada yang ngomong macam-macam soal Kakak, aku catat. Kalau ada yang nyakitin Kakak, aku ...” Ia mengangkat buku kucingnya dengan ekspresi galak. “Aku catat juga.”
Aku tidak tahu harus tertawa atau menangis. Sudah dua kali dalam seminggu aku tidak tahu harus tertawa atau menangis, dan dua-duanya gara-gara keluarga Adinegara.
“Mas Bagas tahu kamu di sini?”
Nisa tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah jendela dapur dengan dagunya.
Aku melongok ke luar jendela. Di ujung gang, di depan sebuah minimarket kecil di pinggir jalan besar, sebuah sedan abu-abu yang sangat kukenal sedang diparkir di bawah pohon ketapang.
Kaca jendela pengemudinya terbuka sedikit. Aku bisa melihat siku seseorang yang bersandar di sana.
“Mas Bagas yang nyetir,” bisik Nisa. “Aku yang nyusup.”
Bude Ningsih membuka topiknya setelah makan siang.
Kami semua duduk di ruang tamu dan teras, piring-piring opor sudah kosong, gelas-gelas teh sudah diisi ulang oleh “Mbak Ratna dari Katering Barokah”. Bapak mertuaku baru saja selesai memberi sambutan singkat tentang tiga puluh lima tahun pernikahan, suaranya bergetar waktu menyebut “anak-anak kami”, dan semua orang pura-pura tidak menyadari bahwa ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
Lalu Bude Ningsih berdiri.
“Saya mau ngomong sedikit,” katanya dengan suara yang bisa terdengar sampai ke ujung gang. “Sebagai yang paling tua di sini.”
Ibu mertuaku menatapnya. Aku melihat tatapan itu: jangan, Mbak, jangan sekarang.
Bude Ningsih tidak melihat.
“Kita semua tahu keluarga ini sudah melalui banyak hal,” katanya. “Kita kehilangan Fikri. Anak yang baik. Anak yang berbakti. Semoga Allah tempatkan di surga.”
Aamiin, gumam semua orang.
“Tapi Allah juga Maha Pengasih. Allah tidak mengambil semuanya.” Bude Ningsih menoleh ke arahku. Lalu ke arah Fadhil, yang duduk di kursi plastik di pojok teras dan tiba-tiba terlihat seperti ingin menghilang. “Allah masih meninggalkan Anjani untuk keluarga ini. Dan Fadhil.”
Ruang tamu itu mendadak sunyi.
“Kita semua sudah tahu, kan,” lanjut Bude Ningsih, tersenyum lebar, tidak menyadari udara yang tiba-tiba membeku di sekitarnya. “Setelah seribu harinya Fikri nanti, insyaallah, Anjani sama Fadhil ...”
Aku berdiri.
Aku tidak berencana berdiri. Kakiku berdiri sendiri, sebelum kepalaku sempat menyuruhnya. Semua kepala menoleh.
Di pojok dapur, aku mendengar bunyi pulpen yang berhenti menulis.
Aku menatap Bude Ningsih. Lalu aku menatap Ibu mertuaku, yang matanya sudah basah. Lalu aku menatap Bapak mertuaku, yang menunduk ke piringnya. Lalu aku menatap Fadhil, yang menatapku dengan wajah pucat, dengan tangan menggenggam ponsel di saku batiknya.
Lalu aku tersenyum.
Senyum yang sopan. Senyum yang kupelajari dari Mama, yang dipakai Mama setiap kali harus menolak tawaran arisan berantai dari tetangga.
“Mohon maaf, Bude,” kataku. Suaraku tenang. Lebih tenang dari yang kukira. “Anjani sangat sayang sama keluarga ini. Sampai kapan pun, Ibu tetap ibu Anjani. Bapak tetap bapak Anjani. Fadhil tetap adik Anjani.”
Aku berhenti sebentar. Aku menatap Fadhil saat mengucapkan adik. Ia menahan napas.
“Tapi Anjani sudah punya calon, Bude,” kataku. “Insyaallah, Anjani mau jalan sama dia.”
Tidak ada yang bicara.
Bude Ningsih membuka mulut, lalu menutupnya. Om Harun berdeham. Tante Wati tiba-tiba sangat tertarik pada kue lumpur di piringnya. Anak-anak kecil di teras berhenti berlarian karena merasakan sesuatu yang tidak mereka pahami.
Lalu Ibu mertuaku berdiri.
Aku menahan napas. Aku menunggu. Aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Marah, mungkin. Kecewa. Menangis.
Ibu mertuaku berjalan ke arahku. Ia menggenggam tanganku. Lalu ia menoleh ke Bude Ningsih.
“Mbak Ning,” katanya pelan, tapi semua orang mendengar. “Anjani sudah bilang. Ibu sudah ketemu orangnya. Orangnya baik.” Ia meremas tanganku. “Sudah, Mbak. Ini hari bahagia. Jangan dibahas.”
Bude Ningsih menatap adik iparnya. Lalu menatapku. Lalu, perlahan, ia duduk kembali.
“Ya sudah,” katanya, dengan suara yang jauh lebih kecil. “Ya sudah. Alhamdulillah kalau begitu.”
Dan acara berlanjut, seolah tidak ada yang terjadi.
Tapi waktu aku melirik ke pojok teras, Fadhil sedang menunduk dengan wajah di telapak tangannya. Bahunya naik turun. Aku tidak tahu apakah ia menangis atau tertawa. Mungkin dua-duanya.
Aku mengirim pesan ke Bagas dari kamar mandi.
Aku tidak berencana mengirim pesan itu. Aku hanya masuk ke kamar mandi untuk menenangkan diri, untuk membasuh wajah, untuk bersandar di pintu dan bernapas empat hitungan. Lalu aku mengeluarkan ponselku, dan aku melihat namanya di daftar obrolan paling atas, dan jari-jariku bergerak sendiri.
Aku: Di sini ramai.
Aku: Tapi saya lagi bayangin kepala saya di bahu Mas, dan Mas pura-pura nggak gugup.
Dua centang biru. Langsung.
Sedang mengetik...
Hilang.
Sedang mengetik...
Hilang.
Sedang mengetik...
Hilang lagi.
Aku berdiri di kamar mandi keluarga Ramadhan dan menonton tulisan sedang mengetik muncul dan hilang, muncul dan hilang, berkali-kali, sampai aku tidak bisa berhenti tersenyum. Aku menghitungnya. Belakangan, Nisa memberitahuku angka pastinya, karena ia duduk di jok penumpang di sebelah kakaknya dan melihat semuanya: empat belas draf. Ada yang panjang, ada yang pendek. Satu berisi puisi yang ia salin dari internet lalu ia hapus karena “kayaknya ini lirik lagu”. Satu berisi saya juga sedang membayangkan hal yang sama, dan saya memang akan gugup yang ia hapus karena “terlalu jujur”. Satu lagi hanya berisi emotikon wajah memerah, yang ia hapus karena “saya bukan anak SMA”.
Pesan yang akhirnya masuk, setelah empat menit:
Mas SOP: Saya juga.
Hanya itu. Dua kata.
Aku menekan ponsel ke dadaku dan bersandar di pintu kamar mandi, dan aku merasakan sesuatu yang hangat menyebar dari dadaku ke seluruh tubuh, dan untuk pertama kalinya hari itu, rumah keluarga Ramadhan tidak terasa sesak lagi.
Aku pamit jam tiga sore.
Ibu mertuaku memelukku di teras. Kali ini lebih singkat. Tapi waktu ia melepaskanku, ia berbisik sesuatu di telingaku yang hampir membuatku menangis lagi:
“Lain kali, ajak dia, Nak.”
Aku berjalan keluar gang. Langkahku cepat. Lebih cepat dari biasanya. Aku melewati warung, melewati pos ronda, melewati rumah-rumah dengan jemuran di teras, sampai ke ujung gang tempat jalan besar dan minimarket kecil dan pohon ketapang berada.
Sedan abu-abu itu masih di sana.
Bagas berdiri di samping mobil, bersandar di pintu pengemudi. Ia memakai kaus polo hitam dan celana jins, pakaian akhir pekan yang belum pernah kulihat ia pakai. Tangannya di saku. Wajahnya tenang, tapi waktu ia melihatku datang, ia menegakkan badan begitu cepat sampai hampir terantuk spion.
Di jok penumpang, Nisa, masih dengan seragam katering, melambai dengan buku kucing di tangan.
“Kamu ngapain di sini, Mas?” tanyaku waktu sampai di depannya.
“Kebetulan lewat.”
“Depok? Kebetulan lewat?”
“Ada ... gudang. Di sini.” Kupingnya merah. “Mungkin.”
“Mas di sini dari jam berapa?”
Ia tidak menjawab.
“Dari jam sembilan, Kak!” seru Nisa dari dalam mobil. “Enam jam! Mas Bagas beli kopi di minimarket itu empat kali! Kasirnya sampai hafal!”
Bagas menutup matanya.
Aku menatapnya. Laki-laki yang tidak diundang. Laki-laki yang bilang saya nggak apa-apa dengan suara yang membuat adiknya rela menyamar jadi pelayan katering. Laki-laki yang menyetir satu jam ke Depok, duduk enam jam di depan minimarket, minum kopi empat gelas, hanya untuk berada di ujung gang yang sama.
Bukan untuk masuk. Bukan untuk menyela. Hanya untuk ada di sana.
Laki-laki nggak perlu rencana. Cukup datang.
Aku melangkah ke arahnya. Aku berdiri sangat dekat. Aku mengangkat kedua tanganku dan merapikan kerah kaus polonya, yang tidak perlu dirapikan, pelan, sisi kiri lalu sisi kanan.
“Mas,” kataku.
“Iya.”
“Bahunya kosong?”
Ia menatapku bingung. Lalu, perlahan, matanya melebar, karena ia mengerti.
Aku tidak menunggu jawabannya. Aku memutar badanku, berdiri di sebelahnya, ikut bersandar di pintu mobil. Lalu aku menjatuhkan kepalaku ke bahunya.
Bahunya keras. Tegang. Seperti kayu.
Lalu, pelan-pelan, bahu itu melunak.
Di dalam mobil, aku mendengar Nisa menahan napas begitu keras sampai terdengar seperti cegukan. Lalu suara pulpen menulis dengan sangat cepat.
“Mas,” bisikku, tanpa mengangkat kepala.
“Hm?”
“Mas gugup.”
“Nggak.”
“Jantung Mas kedengaran dari sini.”
Hening. Lalu, dengan suara orang yang sudah menyerah:
“Saya pura-pura nggak gugup,” katanya. “Kayak di pesan kamu.”
Aku tertawa ke bahunya. Kami berdiri seperti itu di depan minimarket di pinggir jalan Depok, di bawah pohon ketapang, sementara mobil dan motor lewat, sementara kasir minimarket menonton dari balik kaca, sementara langit sore mulai menguning.
Jam empat lewat lima, ia melirik jam tangannya.
Aku mengangkat kepala sebelum ia sempat bilang apa-apa.
“Ayo pulang, Mas,” kataku. “Biar nggak telat.”
- 1 Jam Tujuh
- 2 Janji Arisan
- 3 Pertemuan Pertama
- 4 Tameng
- 5 Krisan Putih
- 6 Bekal Gosong
- 7 Calon Saya
- 8 Rencana Hujan
- 9 Jangan Korbankan Hidupmu
- 10 Sup Hari Kamis
- 11 Pasien Paling Bandel
- 12 Mas Lulus
- 13 Cemburu pada Orang Baik
- 14 Izin
- 15 Undangan yang Tidak Menyebut Namaku reading
- 16 Langkah Kuda
- 17 Persiapan Rahasia
- 18 Sekali, Umur Dua Tahun
- 19 Masih Tameng?
- 20 Bukan
- 21 Cincin
- 22 Mawar Kuning
- 23 Bukan yang Ditunggu
- 24 Administrasi Kepulangan
- 25 Maju Dua Langkah
- 26 Lampu Teras
- 27 Pintu Kedatangan
- 28 Catatan Terakhir
- 29 Kiriman Tanpa Nama
- 30 Krisan Putih, Kali Ini Benar
- 31 Restu
- 32 Janda Tahu Caranya
- 33 Bukan Pengganti
- 34 Proyek A, Versi Final
- 35 Malam Tanpa Jam Tujuh
- 36 Selamat Datang Pulang
- 37 Malam Pertama
- 38 Laporan Bulanan
- 39 Jam Tujuh, ke Rumah Kita
- 40 Proyek B
- 41 Epilog — Hujan