Chapter Thirty Six

Selamat Datang Pulang

POV: Anjani

Pagi itu Bogor tidak hujan.

Aku bangun jam empat, sebelum azan subuh, dengan ponsel masih menempel di telinga dan suara napas pelan di ujung sana. Ia tertidur. Aku mendengarnya mendengkur kecil, dengkuran pendek yang berhenti-berhenti seperti mesin yang belum yakin mau menyala. Aku tidak pernah tahu ia mendengkur.

Aku tidak menutup teleponnya. Aku berbaring di sana dalam gelap, memeluk kemeja flanel kotak-kotak abu-abu, dan mendengarkan laki-laki yang akan menjadi suamiku dalam lima jam mendengkur di kamarnya sendiri, untuk terakhir kalinya.

Jam empat lewat dua puluh, Mama mengetuk pintu.

“Jani. Bangun. Perias datang jam lima.”

Aku berbisik ke ponsel, “Mas, bangun.”

Dengkuran itu berhenti. Lalu suara tersentak. Lalu suara sesuatu jatuh, mungkin ponselnya, mungkin dia sendiri. Lalu suara serak, panik:

“Jam berapa?”

“Empat lewat dua puluh.”

“Ya Allah.” Hening. “Saya ketiduran. Maaf. Kamu dengerin saya ngorok?”

“Dua jam.”

Hening yang sangat panjang.

“Aku,” katanya. “Aku ketiduran.”

Aku tertawa ke bantal sampai Mama mengetuk pintu lagi.


Perias itu bernama Teh Euis, perempuan Sunda bertubuh kecil dengan tangan yang sangat cepat dan mulut yang lebih cepat lagi. Ia sudah merias pengantin selama dua puluh tahun. Ia sudah merias Nisa tiga tahun lalu. Ia ada di grup itu, tentu saja.

“Neng,” katanya sambil menyapukan bedak ke pipiku, “Teteh denger calonnya pasang tenda sampe jam sembilan semalem.”

“Iya, Teh.”

“Terus teleponan sampe subuh.”

Aku membuka mata. “Teteh tahu dari mana?”

Teh Euis tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dan mengangkat ponselnya, sedikit, cukup untuk memperlihatkan layar dengan notifikasi dari Tim Sukses yang terus bermunculan.

Neng Nisa (adik Aa): Mas Bagas udah bangun. Lagi mandi. Udah 40 menit. Belum keluar.
Neng Nisa (adik Aa): Ibu ketok pintu kamar mandi, katanya Mas lagi latihan ijab kabul
Neng Nisa (adik Aa): kedengeran dari luar. Udah 200 kali kayaknya
Tomi: Bos memang begitu. Rapat tahunan juga latihan 50 kali.
Coach Rudi: 200 repetisi. respect.

Aku menutup mataku lagi dan membiarkan Teh Euis bekerja. Dadaku sesak, tapi bukan karena takut.


Kebayaku putih gading. Bukan putih bersih. Aku yang memilih. Waktu Mama bertanya kenapa, aku tidak bisa menjelaskan dengan baik. Aku hanya bilang, bukan yang dulu, Ma. Dan Mama mengerti, tanpa aku perlu menjelaskan lagi.

Kebaya yang dulu putih bersih. Kebaya yang dulu kupakai di sebuah rumah di Depok, menunggu dua jam karena pengantin laki-lakinya berhenti menolong orang di jalan tol. Kebaya itu sekarang tersimpan di lemari Mama, dibungkus plastik, dan aku tidak memintanya keluar.

Kebaya ini baru. Putih gading. Dengan sulaman kecil di bagian ujung lengan, bunga-bunga kecil yang hampir tidak kelihatan. Bunga matahari. Mama yang menjahitkan sulamannya sendiri, diam-diam, selama lima minggu, setiap malam setelah aku tidur.

Jam delapan lewat tiga puluh, aku berdiri di depan cermin di kamarku.

Teh Euis sudah selesai. Rambutku disanggul sederhana, dengan untaian melati yang menjuntai di sisi kanan. Riasanku tipis, karena aku yang meminta. Tahi lalat kecil di bawah mata kiriku tidak ditutupi. Aku yang meminta itu juga.

Mama berdiri di belakangku. Ia menatapku di cermin. Matanya merah.

“Cantik,” kata Mama. “Kamu cantik sekali, Jan.”

“Mama sudah bilang itu empat kali.”

“Mama mau bilang empat puluh kali.” Mama memegang bahuku. Lalu ia meletakkan dagunya di bahuku, seperti dulu waktu aku kecil dan kami berdiri di depan cermin yang sama di rumah yang lama. “Dulu Mama takut nggak bakal lihat kamu kayak gini lagi.”

Aku menatap Mama di cermin.

“Enam bulan itu,” bisik Mama. “Mama takut kamu nggak bakal berdiri di depan cermin lagi. Nggak bakal pakai kebaya lagi. Nggak bakal senyum lagi.”

Aku meletakkan tanganku di atas tangan Mama di bahuku.

“Aku di sini, Ma.”

“Iya.” Mama memejamkan mata. “Iya. Kamu di sini.”


Akad dimulai jam sembilan tepat.

Tentu saja jam sembilan tepat. Dua laki-laki di ruangan itu belum pernah terlambat untuk apa pun dalam hidup mereka: Bapakku, yang akan menjadi wali, dan laki-laki yang akan menjabat tangannya.

Aku tidak duduk di sebelahnya di meja akad. Kebiasaan keluarga Mama: pengantin perempuan menunggu di dalam, mendengarkan dari balik pintu, dan baru keluar setelah semuanya sah. Aku duduk di kamar Mama, di tepi tempat tidur, dengan Bu Aminah di sebelah kiriku dan Tante Ratih di sebelah kananku. Tiga perempuan. Tiga ibu. Dua dari mereka mertuaku, satu yang dulu dan satu yang akan datang.

Bu Aminah memegang tangan kiriku. Tante Ratih memegang tangan kananku. Mereka berdua gemetar. Aku tidak.

Pintu kamar sedikit terbuka. Dari celahnya, aku bisa melihat sebagian halaman. Tenda putih. Lampu-lampu kecil yang masih menyala meskipun hari sudah terang. Lengkungan bunga matahari dan baby’s breath. Kursi-kursi plastik yang penuh.

Dan meja kecil di depan. Bapak di satu sisi. Penghulu di tengah. Dan di sisi yang lain, membelakangiku, seorang laki-laki dengan beskap putih gading, peci hitam, dan bahu yang mengisi beskap itu dengan cara yang membuat Teh Euis, kemarin, bersiul pelan waktu melihat foto fitting-nya.

Aku tidak bisa melihat wajahnya. Hanya punggungnya. Tegak. Diam.

Tapi aku bisa melihat kupingnya.

Merah.

Aku tersenyum.


Penghulu membuka acara. Doa. Khotbah nikah yang pendek. Pembacaan taklik talak. Aku tidak mendengar sebagian besarnya. Aku mendengar jantungku sendiri dan napas dua ibu di kiri dan kananku.

Lalu suara Bapak.

“Ananda Bagas Adinegara bin Darmawan Adinegara.”

Suara Bapak bergetar. Bapak tidak pernah bergetar. Bapak yang tidur di kursi depan kamarku selama enam bulan. Bapak yang tidak menangis di depan siapa pun kecuali di kamar mandi, waktu aku pertama kali tertawa lagi.

“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Anjani Wardhani binti Hendra Wardhani, dengan mas kawin emas dua belas gram dan seperangkat alat salat, dibayar tunai.”

Dua belas gram. Untuk dua belas April.

Hening. Satu detik. Seluruh halaman menahan napas. Dari celah pintu, aku melihat punggungnya menegang.

Lalu suaranya. Jelas. Mantap. Tanpa jeda. Tanpa ragu. Dengan presisi seorang laki-laki yang sudah berlatih dua ratus kali di kamar mandi.

“Saya terima nikah dan kawinnya Anjani Wardhani binti Hendra Wardhani dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”

Satu napas. Satu tarikan. Tidak ada satu kata pun yang tersandung.

Hening.

Penghulu menoleh ke kiri, ke saksi pertama. Om Darmawan. Lalu ke kanan, ke saksi kedua. Pak Zainal.

Pak Zainal. Ayah Fikri. Yang meminta sendiri untuk menjadi saksi. Yang duduk di sana dengan peci hitam dan batik cokelat dan wajah yang basah.

“Sah?” tanya penghulu.

“Sah,” kata Om Darmawan.

“Sah,” kata Pak Zainal. Suaranya pecah.

“SAH!” teriak seluruh halaman.

Lalu, di atas semua suara itu, suara balita yang sangat keras:

“OM JOMBLO SAH!”


Di kamar Mama, Bu Aminah memelukku dari kiri. Tante Ratih memelukku dari kanan. Mereka berdua menangis. Aku terjepit di tengah, dengan kebaya putih gading dan untaian melati yang mulai miring, dan untuk pertama kalinya hari itu, aku juga menangis.

Tangisnya tidak seperti yang dulu. Tidak seperti tangis di bandara, tidak seperti tangis di lantai kamar, tidak seperti tangis di makam waktu ia meminta izin. Tangis ini ringan. Tangis ini seperti hujan pertama setelah kemarau panjang. Tangis yang membuat tanah lega.

Mama masuk ke kamar. Ia menatapku. Lalu ia ikut memeluk, dari depan, dan sekarang ada tiga ibu yang memelukku, dan aku tidak bisa bernapas, dan aku tidak peduli.

“Ayo, Nak,” kata Mama akhirnya, menyeka matanya dan mataku dengan tisu yang sama. “Suamimu nunggu.”

Suamimu.


Aku berjalan keluar dari kamar. Melewati lorong. Melewati ruang tamu yang penuh bunga matahari. Melewati pintu depan.

Ke halaman.

Semua orang menoleh. Dua puluh tiga orang yang sama dengan di hari lamaran, ditambah tetangga-tetangga, ditambah teman-teman Bagas dari kantor, ditambah keluarga besar Ramadhan dan keluarga besar Adinegara dan keluarga besar Wardhani. Bude Ningsih di barisan ketiga, menyeka matanya dengan ujung kerudung, tidak berkata apa-apa. Hanif di kursi plastik dengan kruk di sebelahnya, tersenyum lebar, dengan Jannah yang menggenggam tangannya. Mbak Rara dengan rompi oranye yang dipakai di atas gamis. Pak Kumis di dekat gerobak baksonya, dengan peci baru. Bu Iyah, Pak Satpam, Tomi, Coach Rudi, Pak Udin dari makam, yang datang naik angkot dari Depok dengan peci abu-abu.

Dan Nisa, berdiri di samping meja akad, dengan buku kucing yang ia peluk erat di dada, dan wajah yang sudah tidak bisa dibedakan antara riasan dan air mata.

Dan dia.

Ia berdiri di depan meja akad. Ia sudah berdiri sejak aku keluar dari pintu. Beskap putih gading. Peci hitam. Kupingnya merah tua. Matanya merah juga.

Ia menatapku seperti di kafe dekat Kebun Raya. Seperti pertama kali. Seperti seseorang yang baru saja membuka pintu di dalam dadanya dan merasakan angin masuk dari sana.

Aku berjalan ke arahnya. Pelan. Melewati kursi-kursi. Melewati lengkungan bunga matahari.

Aku berhenti di depannya.

Ia tidak bergerak. Ia hanya menatapku.

Aku mengambil tangan kanannya. Aku menciumnya. Punggung tangannya. Seperti istri mencium tangan suami. Seperti yang dulu pernah kulakukan dan kupikir tidak akan pernah kulakukan lagi.

Tangannya gemetar di bibirku. Berkeringat. Masih.

Aku mengangkat kepala. Aku menatapnya. Dan aku mengatakan kalimat yang sudah kusimpan sejak malam di dapur keluarga Adinegara, sejak malam ia bilang ia bukan laki-laki yang ditunggu.

“Selamat datang pulang, Mas.”


Ia tidak menjawab.

Ia tidak bisa menjawab. Aku melihat jakunnya bergerak. Aku melihat bibirnya bergetar. Aku melihat air mata yang sudah ia tahan sejak ijab kabul akhirnya jatuh, satu, dua, ke pipinya, ke kerah beskap putih gading.

Lalu ia menangkup wajahku dengan dua tangan. Pelan. Hati-hati. Seperti memegang telur. Seperti di teras rumah ini, malam lamaran, waktu ia mencium keningku.

Ia mencium keningku lagi. Lama.

Halaman itu meledak. Tepuk tangan. Sorak. Siulan. Coach Rudi berteriak sesuatu yang tidak bisa kudengar. Pak Kumis memukul panci kuah bakso dengan centong. Bu Iyah melempar kelopak mawar.

Tapi ia tidak menciumku di depan mereka. Tidak di bibir. Ia tahu. Ia tahu ada Bapak, ada Pak Zainal, ada Bu Aminah, ada penghulu. Ia tahu ini tempatnya kening.

Ia melepaskan keningku. Ia menatapku. Lalu ia membungkuk sedikit, cukup dekat sehingga hanya aku yang bisa mendengar, di tengah sorak dan tepuk tangan dan teriakan Kiki yang masih belum berhenti.

“Nanti,” bisiknya. “Yang lain nanti.”

Kupingnya merah tua.


Nanti itu datang jam sebelas lewat sepuluh.

Setelah sungkeman. Setelah aku berlutut di depan Mama dan Bapak, lalu di depan Tante Ratih dan Om Darmawan, lalu, karena aku memintanya dan semua orang menangis, di depan Bu Aminah dan Pak Zainal. Setelah foto-foto. Setelah Nisa memeluk kakaknya sampai beskapnya kusut dan Teh Euis harus merapikannya lagi. Setelah Hanif berdiri dari kursinya dengan kruk dan menjabat tangan Bagas dan berkata, Mas, saya om paling galak, ingat, ya.

Teh Euis membawaku ke kamar untuk berganti ke baju resepsi. Kebaya hijau zaitun. Warna rok yang kupakai di kafe. Mama yang memilih warnanya.

Teh Euis membantu melepas sanggul. Lalu ia meninggalkanku sendirian sebentar untuk mengambil hiasan rambut yang tertinggal di mobil.

Pintu kamar diketuk. Pelan. Dua kali.

“Masuk,” kataku, mengira Teh Euis.

Pintu terbuka. Bukan Teh Euis.

Ia masuk. Masih dengan beskap putih gading. Pecinya sudah dilepas. Rambutnya berantakan karena peci. Ia menutup pintu di belakangnya dan bersandar di sana, dengan tangan di belakang, seperti orang yang takut ketahuan menyelinap ke tempat yang tidak boleh dimasuki.

“Mas,” kataku. “Teh Euis bilang ...”

“Teh Euis lagi di mobil,” katanya. “Sepuluh menit. Nisa yang jaga di depan pintu.”

Aku menatapnya. Ia menatapku. Aku duduk di depan meja rias, dengan rambut yang setengah terurai dan kebaya putih gading yang sudah dibuka kancing atasnya.

Ia tidak bergerak dari pintu.

“Mas mau apa?” tanyaku pelan.

Kupingnya merah. Seluruh wajahnya merah. Tapi ia tidak menunduk. Ia menatapku lurus, seperti di dapur keluarga Adinegara, waktu ia bilang karena kamu berhak tahu.

“Aku belum pernah,” katanya.

Aku diam.

“Tiga puluh tahun,” katanya. Suaranya serak. “Aku belum pernah cium siapa-siapa.”

Aku berdiri dari kursi rias. Aku berjalan ke arahnya. Pelan.

Aku berhenti di depannya. Sangat dekat. Aku bisa mencium bau melati dari sisa untaian di rambutku, dan bau sabun batangan dari kerah beskapnya.

Aku tidak menciumnya. Aku menunggu.

Aku sudah belajar menunggu. Darinya.

Ia mengangkat tangannya. Pelan. Gemetar. Tangannya menyentuh pipiku. Lalu turun ke daguku. Lalu naik lagi ke pipiku, seperti tidak yakin harus diletakkan di mana. Seperti orang yang belajar dari buku panduan dan menyadari buku panduannya tidak lengkap.

Lalu ia menunduk.

Ciuman itu kaku. Canggung. Hidungnya membentur hidungku. Bibirnya terlalu kaku, terlalu hati-hati, seperti menekan tombol yang takut rusak. Ia menahan napas sepanjang ciuman itu. Aku bisa merasakannya. Seluruh tubuhnya tegang seperti tiang tenda yang dipasang Coach Rudi.

Itu ciuman paling buruk yang pernah kuterima.

Dan aku tidak pernah sebahagia itu.

Ia menarik diri. Napasnya keluar sekaligus, seperti balon yang kempes. Wajahnya merah sampai ke leher. Matanya terbuka lebar, panik, mencari sesuatu di wajahku.

“Gimana?” bisiknya.

Aku menatapnya. Aku menahan senyum. Aku menahannya sekuat tenaga, dan gagal.

“Untuk yang pertama,” kataku pelan, “nilainya delapan.”

Ia membuka mulut.

“Sisanya,” kataku, menyentuh kerah beskapnya, merapikannya, sisi kiri, sisi kanan, sisi kiri lagi, “kita latihan.”

Ia menatapku lama.

Lalu ia tertawa. Tawa yang pecah, basah, keluar bersamaan dengan air mata, sampai ia harus bersandar di pintu dan menutup wajah dengan satu tangan. Ia tertawa dan menangis bersamaan, laki-laki tiga puluh tahun dengan beskap putih gading, bersandar di pintu kamar pengantin, dan aku memeluknya, dan ia memelukku balik, tidak kaku lagi.

Di balik pintu, Nisa mengetuk tiga kali dengan panik.

“MAS! TEH EUIS UDAH BALIK! MAS KELUAR SEKARANG!”

Ia melepaskanku. Ia membuka pintu. Ia keluar dengan wajah merah dan beskap kusut dan mata basah, dan aku mendengar Teh Euis di lorong berkata, Aa, kenapa beskapnya kusut lagi?, dan Nisa menjawab, jangan tanya, Teh, jangan tanya.

Aku duduk kembali di depan meja rias. Aku menatap diriku sendiri di cermin.

Bibirku sedikit bengkak. Pipiku merah. Untaian melati di rambutku sudah jatuh ke lantai.

Aku tersenyum ke cermin. Lama. Seperti anak SMA. Padahal aku bukan anak SMA. Padahal aku sudah pernah menikah.

Tapi aku belum pernah dicium oleh seseorang untuk pertama kalinya dalam hidupnya.