Chapter Forty

Proyek B

POV: Anjani

Aku tahu sebelum testpack-nya tahu.

Tubuhku yang memberi tahu. Pelan, seperti cara tubuh selalu memberi tahu hal-hal yang penting. Bau kecap manis di dapur pagi itu tiba-tiba membuatku mual. Teh tubruk Slawi, yang sudah kuminum setiap pagi sejak kecil, tiba-tiba terasa terlalu pahit. Aku tertidur di kursi kayu di studio jam dua siang, di tengah merangkai buket wisuda, dan Pak Kumis harus mengetuk kaca etalase untuk membangunkanku.

“Neng sakit?” tanya Pak Kumis dengan wajah cemas.

“Nggak, Pak. Cuma capek.”

Pak Kumis menatapku lama. Lalu menatap perutku. Lalu menatap wajahku lagi. Lalu ia tersenyum di balik kumis tebalnya, senyum seorang laki-laki yang sudah punya enam cucu, dan berjalan kembali ke warungnya tanpa berkata apa-apa.

Aku tahu ia tidak akan berkata apa-apa. Di grup. Aku memintanya dengan tatapan. Dan Pak Kumis, untuk pertama kalinya sejak grup itu dibuat, menepati janji untuk tidak salah pencet.


Testpack-nya kubeli di apotek di Jalan Suryakencana. Apotek kecil di sebelah toko emas Tionghoa dengan patung singa batu di depan pintunya. Aku tidak sengaja memilih apotek itu. Kakiku membawaku ke sana.

Ibu penjaga toko emas sedang duduk di bangku di depan tokonya, mengipas-ngipas diri dengan kertas karton. Ia melihatku keluar dari apotek dengan kantong plastik kecil di tangan.

Ia menatap kantong itu. Ia menatap wajahku.

Lalu ia berdiri, masuk ke tokonya, dan keluar lagi membawa sebuah kotak kecil beludru merah.

“Aiya,” katanya. “Buat nanti. Gelang bayi. Emas putih. Polos. Garis tipis kayak tali dipilin. Sama kayak cincin kalian.”

“Bu, saya belum tahu ...”

“Saya sudah jual cincin tiga puluh tahun,” katanya. “Saya tahu muka perempuan yang baru beli testpack.” Ia menyodorkan kotak itu. “Bayar nanti. Kalau sudah lahir. Kalau ternyata belum, simpan aja buat nanti.”

Aku menatap kotak beludru merah itu di tanganku. Aku tidak bisa bicara.

“Garansinya,” kata ibu penjaga toko, sambil kembali duduk di bangkunya dan mengipas-ngipas diri, “di suami kamu sendiri.”


Aku melakukannya di kamar mandi rumah kami, jam enam pagi hari Sabtu, sebelum airnya mati.

Satu garis. Lalu, pelan, seperti foto yang muncul di kertas di kamar gelap, garis kedua.

Aku duduk di tepi bak mandi dan menatap dua garis itu lama sekali.

Aku pernah membayangkan ini. Dulu. Bertahun-tahun yang lalu. Di kontrakan kecil di Jakarta, menunggu seseorang pulang dari jaga malam. Aku membayangkan bagaimana aku akan memberitahunya. Mungkin dengan kertas yang kutempel di kulkas, seperti ia selalu menempel kertas di kulkas sebelum berangkat. Jan, aku berangkat. Jan, makan yang bener. Mungkin aku akan menulis Fik, kamu jadi ayah. Mungkin ia akan pulang jam dua pagi, membuka kulkas untuk mengambil air, membaca kertas itu, dan berdiri di dapur dalam gelap lama sekali.

Itu tidak pernah terjadi. Kami tidak pernah sampai ke sana. Selalu ada tempat bencana berikutnya. Selalu ada nanti.

Aku menyentuh dua garis di testpack itu dengan ujung jari.

Aku tidak sedih. Aku hanya mengingat. Seperti mengingat seseorang yang sudah lama pergi, dengan sayang, dari jarak yang aman.

Lalu aku mendengar suara dari dapur. Suara wajan diletakkan di atas kompor. Suara korek api. Suara laki-laki yang bersenandung pelan, lagu dangdut tentang ditinggal kekasih, dengan nada yang sangat sumbang. Lagu yang ia pelajari dari radio tua di studioku. Lagu yang ia senandungkan setiap pagi sekarang, waktu membuat sarapan, tanpa sadar bahwa ia menyenandungkannya.

Aku tersenyum.

Lalu aku berdiri, membasuh muka, dan keluar dari kamar mandi dengan testpack di genggaman.


Ia sedang berdiri di depan kompor. Kaus abu-abu. Celana pendek. Rambut berantakan karena baru bangun. Ia sedang menggoreng telur dengan api kecil, sangat kecil, dengan konsentrasi penuh, dengan wajah yang sama seperti waktu ia membersihkan huruf-huruf di nisan.

Di dinding di atas kompor, kertas HVS itu masih ada. API KECIL. JANGAN DITINGGAL. Tungku sebelah juga. Ditambah satu baris lagi, dengan spidol biru, tulisannya: Jangan senandung kalau lagi masak. Nanti lupa. Lalu dicoret. Lalu, di bawahnya, dengan tulisanku: Boleh senandung. Aku suka.

Aku berdiri di ambang pintu dapur.

“Mas.”

“Hm?” Ia tidak menoleh. “Telurnya hampir. Kamu mau setengah matang atau matang?”

“Mas, matiin kompornya dulu.”

Ia menoleh. Ia melihat wajahku. Ia mematikan kompor tanpa melihat tombolnya, dan telur di wajan berhenti mendesis.

“Kenapa?” Wajahnya tiba-tiba cemas. “Kamu sakit? Mual lagi? Aku antar ke dokter ...”

Aku tidak menjawab. Aku berjalan ke arahnya. Aku mengambil tangannya, tangan kanan yang masih memegang sodet, dan aku membuka jari-jarinya pelan-pelan sampai sodet itu jatuh ke meja dapur dengan bunyi klang.

Lalu aku meletakkan testpack itu di telapak tangannya.

Ia menatap benda itu.

Ia tidak langsung mengerti. Aku melihatnya. Laki-laki tiga puluh satu tahun, kepala operasional, yang bisa membaca laporan stok empat ratus dua belas unit kardus ukuran B-tiga dalam sekali lihat, menatap sebatang plastik putih dengan jendela kecil di tengahnya dan dua garis merah muda, dan wajahnya kosong, seperti layar komputer yang sedang memuat.

Lalu ia mengerti.

Aku melihat pengertian itu datang. Dari matanya dulu. Matanya melebar. Lalu bibirnya terbuka. Lalu kupingnya merah. Lalu lehernya. Lalu seluruh wajahnya.

Lalu matanya basah.

Ia tidak bicara. Ia menatap testpack itu. Lalu menatapku. Lalu menatap testpack itu lagi. Lalu menatap perutku, yang masih rata di balik kemeja flanel kotak-kotak abu-abu.

Lalu ia berlutut.

Di lantai dapur. Di depan kompor yang sudah mati, di sebelah wajan berisi telur setengah matang. Ia berlutut, dan melingkarkan tangannya di pinggangku, dan menempelkan pipinya di perutku, di atas kemeja flanel itu, dan ia menangis.

Bukan menangis diam-diam seperti di parkiran rumah sakit. Bukan menangis tanpa suara seperti di bandara. Ia menangis dengan suara, dengan bahu yang naik turun, dengan napas yang terputus-putus, seperti anak laki-laki berumur dua tahun di foto arisan yang biskuitnya direbut.

Aku meletakkan tanganku di kepalanya. Di rambutnya yang berantakan. Aku mengusapnya pelan.

“Mas,” bisikku.

Ia tidak menjawab. Ia hanya memelukku lebih erat.

“Mas, telurnya dingin.”

Ia tertawa. Di perutku. Basah. Gemetar.


Lima belas menit kemudian, setelah ia akhirnya berdiri, setelah ia mencuci muka di wastafel dapur dan mengelapnya dengan lap piring karena tidak sempat mengambil handuk, setelah kami makan telur yang sudah dingin dan roti yang sudah keras sambil saling menatap dan tidak bisa berhenti tersenyum, ia berdiri dari meja makan.

Ia berjalan ke ruang tamu. Ia kembali dengan laptop.

Aku menatapnya.

“Mas.”

“Sebentar.”

“Mas, jangan bilang ...”

Ia membuka laptop di meja makan kecil di dapur kami, di sebelah piring-piring kotor. Ia membuka file yang sudah sangat kukenal. File yang dibuat di hari Senin, dua hari setelah kafe dekat Kebun Raya. File yang punya tab Data Primer, Risiko, Timeline, dan KPI. File yang, di lamaran, ditampilkan di dinding ruang tamu rumah orang tuaku dengan satu baris saja.

Proyek A.

Ia menggerakkan kursor ke bagian bawah layar. Ke deretan tab. Ia mengklik tanda tambah.

Tab baru muncul. Sheet1.

Ia mengklik dua kali di nama tab itu. Ia menghapus Sheet1. Lalu ia mengetik, pelan, dengan dua jari, seperti orang yang mengetik sesuatu yang sangat penting dan tidak mau salah huruf.

Proyek B.

Aku menutup mulutku dengan tangan.

Ia tidak menoleh. Ia mengklik sel A1 di tab baru itu. Ia mulai mengetik.

Data Primer.
Tanggal tahu: Sabtu. Jam 6 pagi. Dapur. Telur setengah matang (dingin).
Perkiraan lahir: (tanya dokter).
Jenis kelamin: (nggak penting).
Nama: (diskusi).

Ia pindah ke kolom sebelah.

Risiko.
— Saya nggak tahu cara jadi ayah. (Sangat tinggi)
— Saya nggak tahu cara gendong bayi. (Tinggi)
— Saya nggak tahu cara ganti popok. (Tinggi)
— Kupingku merah. (Masih tidak bisa dimitigasi)

Aku mulai tertawa. Di balik tanganku.

Ia terus mengetik. Wajahnya serius. Sangat serius. Seperti sedang menyusun rencana logistik untuk pengiriman paling penting dalam sejarah perusahaan.

KPI.
Dia tertawa: (sedang berlangsung).

Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku menurunkan tanganku dan tertawa, keras, sampai kursiku bergoyang.

Ia akhirnya menoleh. Matanya masih merah. Tapi ia tersenyum, senyum yang kecil dan miring dan sangat bangga, seperti anak SD yang baru saja menunjukkan PR yang dikerjakannya sendiri.

“Ini proyek baru,” katanya. “Harus ada file-nya.”

Aku menatapnya. Aku menatap layar laptop. Aku menatap tab kecil di bagian bawah layar. Proyek A. Proyek B. Berdampingan.

Aku menggeser kursiku lebih dekat. Aku mengambil laptop itu dari depannya. Ia tidak protes.

Aku mengklik sel kosong di bawah KPI. Aku mengetik.

Lalu aku memutar laptop kembali ke arahnya.

Ia membaca:

Catatan: Yang ini hasil kerja sama. Jangan diklaim sendiri.

Ia menatap kalimat itu.

Lalu kupingnya merah tua. Lalu seluruh wajahnya. Lalu ia menutup laptop dengan sangat pelan, seperti waktu ia membaca tab Jadwal Latihan, dan menatap meja makan.

“Nggak bisa pakai SOP,” katanya pelan.

“Apa?”

“Yang ini.” Ia menyentuh laptop yang sudah tertutup. “Proyek B. Aku baru sadar. Ini nggak bisa pakai SOP.”

Aku mengulurkan tangan dan menggenggam tangannya di atas meja. Tangannya berkeringat. Masih. Sepuluh bulan sejak kafe dekat Kebun Raya, dan tangannya masih berkeringat setiap kali ia gugup.

“Nggak bisa, Mas,” kataku. “Yang ini kita belajar bareng.”


Kami memberi tahu keluarga di makan malam hari Minggu.

Jam tujuh. Di rumah Ibu dan Ayah. Di meja makan tempat ia menyendokkan nasi untuk semua orang selama tiga puluh tahun.

Tante Ratih yang mengusulkan. Atau lebih tepatnya, Tante Ratih yang memerintahkan. Setiap Minggu malam, sejak kami menikah, semua orang makan malam di sana. Keluarga Adinegara. Keluarga Wardhani. Kadang, kalau Bu Aminah sedang tidak di pengajian, keluarga Ramadhan juga. Meja makan untuk delapan orang itu sudah ditambah dua meja lipat dari gudang, dan kursi-kursinya tidak pernah cukup.

Malam itu kursinya tidak cukup lagi.

Ibu dan Ayah. Mama dan Bapak. Nisa, Reza, dan Kiki, yang sekarang hampir empat tahun dan jauh lebih cerewet. Bu Aminah dan Pak Zainal. Fadhil dan Laila, yang akan menikah bulan depan dan sudah duduk tanpa jarak setengah langkah.

Dan kami.

Ia menyendokkan nasi. Untuk Ayah dulu, sedikit, karena gula darahnya. Lalu Ibu. Lalu Bapak. Lalu Mama. Lalu Pak Zainal. Lalu Bu Aminah. Lalu Kiki, yang nasinya ia potongkan jengkolnya kecil-kecil. Lalu semua yang lain.

Lalu piringku.

Lalu, terakhir, piringnya sendiri.

Aku menatapnya melakukan itu dan tidak mengatakan apa-apa. Di rumah kami, yang mengambil terakhir bergantian. Di rumah ini, itu masih tempatnya. Dan aku tahu, dari cara ia tersenyum waktu menyendokkan nasi ke piring Ayah, bahwa ia tidak keberatan. Bahwa di rumah ini, ia ingin tetap jadi yang terakhir.

Ia duduk di kursinya, di sebelah kiri Om Darmawan. Aku duduk di sebelahnya, di kursi yang dulu kosong. Kursi tempat enam tangkai bunga matahari pernah diletakkan dalam vas kaca.

Ia meletakkan sendoknya dengan pelan. Seperti Ibu selalu meletakkan sendok sebelum mengatakan sesuatu yang berat.

Semua orang langsung diam.

Mereka tahu kebiasaan itu. Mereka sudah melihatnya tiga puluh tahun.

“Ibu. Ayah,” katanya. Lalu menoleh ke Mama dan Bapak. “Mama. Bapak.” Lalu ke Bu Aminah dan Pak Zainal. “Bu. Pak.”

Ia berhenti. Kupingnya merah.

Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya. Dari saku di dada kiri, tempat ia pernah menyimpan mawar kuning, lalu cincin, lalu kertas ucapan bunga.

Ia meletakkannya di tengah meja. Di antara semur jengkol dan sambal terasi.

Testpack. Dua garis.

Hening.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Lalu Kiki, yang duduk di pangkuan Reza dengan kuah semur di dagunya, menunjuk benda itu dengan sendok dan bertanya dengan suara balita yang sangat keras:

“Itu apa, Om Jomblo?”

Nisa yang menjawab. Pelan. Dengan buku kucing yang sudah terbuka di tangannya dan pulpen yang gemetar dan wajah yang sudah basah sebelum siapa pun sempat menangis.

“Itu,” kata Nisa, “artinya Om Jomblo mau jadi Papa, Ki.”

Kiki menatap testpack itu. Lalu menatap omnya. Lalu mengerutkan kening, seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat rumit.

“Om Jomblo jadi Papa?”

“Iya, Ki.”

Kiki memikirkannya lama. Lalu ia menggeleng keras.

“Nggak,” katanya tegas. “Om Jomblo tetap Om Jomblo. Papanya bayi aja yang manggil Papa.”


Meja makan itu meledak.

Ibu menangis. Mama menangis. Bu Aminah menangis. Tiga ibu, di tiga sisi meja yang berbeda, berdiri bersamaan dan berjalan ke arahku dan memelukku bersamaan, sampai aku terjepit di tengah seperti di kamar Mama di hari akad.

Bapak menurunkan kacamatanya. Om Darmawan menurunkan kacamatanya juga, lalu kacamata itu jatuh ke mangkuk semur, dan kali ini tidak ada yang mengambilnya.

Pak Zainal tidak memakai kacamata. Pak Zainal hanya menatap testpack di tengah meja, lalu menatap laki-laki di sebelahku, dan mengangguk pelan, sekali. Matanya basah.

Fadhil berdiri dan memukul punggung Bagas berkali-kali sampai Laila menariknya duduk.

Reza tertawa. Kiki ikut tertawa tanpa tahu apa yang lucu.

Dan Nisa menulis. Dengan sangat cepat. Sambil terisak. Di buku kucing yang sekarang sudah buku ketiga, karena dua buku sebelumnya sudah penuh.

Aku tidak tahu apa yang ia tulis malam itu. Aku tidak pernah bertanya. Tapi bertahun-tahun kemudian, waktu Nisa memberikan ketiga buku kucing itu kepada kami sebagai hadiah ulang tahun pernikahan yang ketujuh, aku membuka buku ketiga di halaman yang ditandai dengan pita kuning.

Isinya hanya satu kalimat, ditulis besar-besar, dengan pulpen merah, dengan tetesan air yang membuat tintanya sedikit luntur:

MAS BAGAS AKHIRNYA PULANG KE RUMAHNYA SENDIRI. DAN SEKARANG ADA YANG BAKAL NUNGGUIN DIA PULANG JUGA.