Chapter Four

Tameng

POV: Anjani

Aku menyimpan nomornya dengan nama Mas SOP.

Waktu itu aku belum tahu ia benar-benar punya SOP. Aku hanya menebak, dari caranya duduk tegak seperti sedang diwawancarai, dari caranya melirik jam setiap dua puluh menit, dari caranya menjelaskan sistem gudang dengan tangan yang tiba-tiba berhenti gemetar. Laki-laki seperti itu pasti punya daftar. Daftar untuk segalanya. Mungkin juga daftar untuk kencan.

Belakangan aku tahu tebakanku benar. Daftarnya delapan poin. Poin delapan ditulis lalu dihapus tiga kali.

Tapi itu nanti.


Pagi setelah pertemuan di kafe, aku membuka studio jam enam. Lebih pagi dari biasanya. Ada pesanan dua rangkaian bunga meja untuk pernikahan di Sentul, dan aku tidak bisa tidur.

Bukan karena laki-laki itu. Aku memastikan pada diriku sendiri bahwa bukan karena laki-laki itu.

Studioku kecil, dulunya bengkel jahit, dengan etalase kaca di depan dan dinding yang kucat sendiri dengan warna hijau sage. Di dalam, ember-ember seng berderet di lantai berisi mawar, krisan, baby’s breath, dan daun eucalyptus yang wanginya seperti obat batuk mahal. Ada meja kerja panjang dari kayu jati bekas, gunting-gunting yang tergantung di dinding, dan radio tua yang hanya bisa menangkap satu stasiun dangdut. Aku membiarkannya menyala karena sunyi terlalu keras.

Aku memotong batang mawar miring, empat puluh lima derajat, dan memikirkan kuping yang merah.

Aku berhenti memotong.

Aku memikirkan sendok yang dipegang terbalik. Dua kali.

Aku tertawa sendirian di studio jam enam pagi, dan penyanyi dangdut di radio sedang menyanyikan lagu tentang ditinggal kekasih, dan aku tertawa lebih keras lagi, karena betapa tidak cocoknya semua itu.

Lalu ponselku berbunyi, dan aku berhenti tertawa.


Mama: Gimana kemarin? Mama belum dengar apa-apa dari kamu.
Mama: Tante Ratih bilang Bagas pulangnya senyum-senyum.
Mama: Kata Tante Ratih, Bagas nanya alamat studiomu.
Mama: Kamu kasih nomormu?
Mama: Anjani?
Mama: Kalau kamu nggak balas, Mama ke studio.

Aku membalas sebelum Mama benar-benar datang.

Aku: Biasa aja, Ma.
Mama: Biasa aja gimana?
Aku: Ya biasa.
Mama: Anjani Wardhani.
Aku: Orangnya baik, Ma. Kaku. Lucu.
Mama: Lucu??
Mama: Kamu bilang lucu???
Mama: Terakhir kamu bilang laki-laki lucu itu sembilan tahun lalu

Aku meletakkan ponsel di meja kerja dengan layar menghadap ke bawah.

Sembilan tahun lalu, laki-laki yang kubilang lucu adalah Fikri.


Aku perlu menjelaskan sesuatu, karena aku tidak suka berbohong, bahkan pada diri sendiri.

Aku datang ke kafe itu bukan untuk jatuh cinta.

Tiga bulan lalu, Ibu mertuaku menelepon. Aku masih memanggilnya Ibu, karena dua tahun tidak cukup untuk mengubah kebiasaan bertahun-tahun. Suaranya hangat, seperti biasa, dan ia bertanya apakah aku sudah makan, apakah studio ramai, apakah aku masih suka sakit kepala kalau kurang tidur.

Lalu, di akhir telepon, dengan suara yang lebih hati-hati:

“Nak, sebentar lagi seribu harinya Fikri.”

“Iya, Bu.”

“Setelah itu ... Ibu sama Bapak sudah bicara. Kami nggak mau kehilangan kamu, Nak. Kamu sudah seperti anak kami sendiri.”

“Saya juga nggak ke mana-mana, Bu.”

“Bukan begitu maksud Ibu.” Hening. “Fadhil sudah besar. Sudah mapan. Kalau kamu mau, setelah seribu hari, kita bisa bicarakan baik-baik. Biar kamu tetap jadi keluarga kami. Biar ada yang menjaga kamu.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku berdiri di tengah studio yang waktu itu baru setengah jadi, dengan cat hijau sage yang belum kering di dinding, dan merasa seolah lantai di bawah kakiku miring.

Fadhil. Adik Fikri. Anak laki-laki yang dulu kubantu mengerjakan PR fisika waktu ia masih SMA. Anak laki-laki yang memanggilku Mbak dan selalu membawakan gorengan kalau datang ke rumah. Anak laki-laki baik, sangat baik, yang aku yakin juga tidak menginginkan ini, tapi terlalu berbakti untuk mengatakannya.

Aku tidak bisa menolak Ibu mertuaku. Perempuan itu memelukku semalaman waktu kabar kematian Fikri datang. Ia menyuapiku bubur waktu aku tidak mau makan. Ia tidur di lantai kamarku selama dua minggu karena takut aku melakukan sesuatu yang bodoh. Bagaimana aku bisa bilang tidak pada perempuan seperti itu?

Jadi aku tidak bilang apa-apa. Aku bilang nanti kita bicarakan, Bu, dan menutup telepon, dan duduk di lantai studio sampai magrib.

Mama yang menemukan jalan keluarnya.

“Kita bilang saja kamu sudah dijodohkan,” kata Mama, dua minggu kemudian, di dapur rumah baru kami yang masih penuh kardus. “Sejak kecil. Sama anak sahabat Mama.”

“Ma. Itu bohong.”

“Nggak sepenuhnya.” Mama membuka sebuah amplop cokelat lusuh dan mengeluarkan foto-foto lama. “Mama sama Tante Ratih memang pernah ngomong begitu. Waktu kamu masih bayi. Waktu arisan.”

“Itu bercanda, Ma.”

“Bercanda juga omongan.” Mama meletakkan sebuah foto di depanku: bayi perempuan gemuk mencengkeram biskuit, dan anak laki-laki gendut yang menangis. “Lagian Mama nggak minta kamu nikah sama dia, Jani. Mama cuma minta kamu ketemu. Supaya kalau keluarga Ramadhan tanya, ada nama yang bisa kamu sebut. Supaya kamu bisa bilang tidak tanpa menyakiti siapa-siapa.”

Itulah alasanku datang ke kafe itu.

Tameng. Sebuah nama yang bisa kusebut. Seorang laki-laki asing yang tidak perlu tahu apa-apa, yang mungkin akan mundur begitu mendengar kata janda, dan itu juga tidak apa-apa, karena yang kubutuhkan hanya sebuah nama untuk disebut, bukan seorang laki-laki untuk dinikahi.

Aku tidak menyangka laki-laki itu akan memegang sendok terbalik dua kali.

Aku tidak menyangka ia akan bilang saya nggak mau ini jadi satu kali saja, dengan suara yang terlalu cepat dan terlalu jujur, seperti anak sekolah yang menjawab pertanyaan guru sebelum soalnya selesai dibacakan.

Dan aku sama sekali tidak menyangka aku akan tertawa.


Jam sepuluh, setelah dua rangkaian bunga meja selesai dan diambil kurir, aku menutup studio sebentar dan pergi ke makam.

Makam Fikri ada di pemakaman keluarga Ramadhan di Depok. Satu jam perjalanan kalau tol lancar. Aku ke sana sebulan sekali, kadang dua kali. Dulu, di enam bulan pertama, aku ke sana setiap hari. Duduk di samping nisan dari pagi sampai sore, tidak berbicara, tidak menangis, hanya duduk, sampai Bapak atau Mama datang menjemput dan membawaku pulang seperti membawa barang.

Enam bulan itu aku tidak ingat banyak. Aku ingat langit-langit kamar. Aku ingat suara Mama di balik pintu, memanggil namaku dengan suara yang semakin pelan setiap hari. Aku ingat beratku turun sebelas kilo. Aku ingat suatu pagi aku bangun dan melihat Bapak tidur duduk di kursi di depan pintu kamarku, dengan kepala terkulai dan kacamata miring, dan aku tidak merasakan apa-apa melihatnya. Sama sekali tidak ada.

Itu yang paling menakutkan. Bukan sedihnya. Kosongnya.

Lalu, pelan-pelan, seperti air yang merembes ke tanah kering, rasa itu kembali. Rasa lapar dulu. Lalu rasa lelah. Lalu, suatu sore, aku mendengar Mama tertawa di telepon dengan temannya, dan aku ikut tersenyum, dan aku tidak tahu kenapa.

Sekarang sudah dua tahun lebih. Aku sudah selesai menangis. Bukan berarti aku lupa; luka itu masih ada, seperti bekas jahitan di kulit, pucat dan sedikit menonjol, kadang gatal kalau cuaca berubah. Tapi luka itu sudah tidak berdarah.

Makam Fikri sebenarnya bukan makam. Tidak ada jenazah di bawah nisan itu. Lembaga relawannya mengirim surat resmi, sebuah jam tangan yang ditemukan di reruntuhan dan ternyata bukan miliknya, dan permintaan maaf yang sangat sopan. Keluarga Ramadhan memutuskan untuk tetap membuat nisan, supaya ada tempat untuk didatangi. Aku setuju. Kita semua butuh tempat untuk berdiri saat berduka.

Nisannya sederhana, marmer putih dengan huruf hitam:

Fikri Ramadhan bin Zainal Ramadhan. Wafat dalam tugas kemanusiaan.

Tidak ada tanggal wafat yang pasti. Hanya bulan dan tahun.

Aku menyapu daun-daun kering dari atas nisan, menyiram air dari botol yang kubawa, lalu duduk di bangku semen kecil di sebelahnya.

“Hai,” kataku.

Angin bergerak di pohon kamboja di atas kepalaku. Beberapa bunganya jatuh, putih dengan tengah kuning, ke atas tanah.

“Aku ketemu orang kemarin.” Aku melipat tangan di pangkuan. “Laki-laki. Dijodohin Mama. Kamu pasti ketawa.”

Fikri memang akan tertawa. Ia selalu menertawakan Mama, dengan sayang, dan Mama selalu memukul lengannya, juga dengan sayang.

“Orangnya aneh,” lanjutku. “Pegang sendok kebalik. Dua kali. Jelasin sistem gudang kayak lagi presentasi ke direksi. Kupingnya merah dari awal sampai akhir.” Aku tersenyum ke nisan itu. “Terus dia pulang jam tujuh. Katanya tiap hari. Katanya makan malam sama keluarga.”

Angin berhenti. Pohon kamboja diam.

Fikri tidak pernah pulang jam tujuh. Fikri pulang jam sebelas malam, jam dua pagi, kadang tidak pulang berhari-hari karena ada operasi darurat atau bencana di suatu tempat. Fikri pulang dengan baju bau antiseptik dan mata merah, mencium keningku, lalu tidur seperti orang mati. Fikri pergi ke Timur Tengah meskipun aku memohon agar ia tidak pergi, dan ia memelukku di bandara dan bilang tiga bulan saja, Jan, tiga bulan, aku janji, dan aku percaya karena aku selalu percaya.

Aku tidak marah padanya. Sudah lama aku tidak marah. Fikri adalah orang baik yang memilih menyelamatkan dunia, dan dunia itu besar sekali, terlalu besar untuk muat di meja makan jam tujuh.

“Maaf,” kataku pada nisan itu. “Aku pinjam nama dia sebentar. Biar Ibu nggak sedih. Biar Fadhil nggak terpaksa.”

Bunga kamboja jatuh lagi.

“Cuma sebentar,” kataku. “Cuma tameng.”


Di perjalanan pulang, di tol Jagorawi, aku memikirkan tangan laki-laki itu.

Aku tidak berniat memikirkannya. Pikiran itu datang sendiri, seperti pikiran-pikiran yang datang waktu menyetir sendirian dengan radio mati.

Tangannya besar. Telapaknya lebar, jari-jarinya panjang, dengan buku-buku jari yang sedikit kasar, seperti tangan orang yang dulu pernah bekerja kasar sebelum duduk di balik meja. Waktu ia menjabat tanganku, tangannya hangat dan sedikit basah karena gugup, dan ia melepasnya tepat di detik kedua, seperti sedang menghitung. Aku tahu ia menghitung. Bibirnya bergerak.

Dan bahunya. Ia memakai kemeja biru muda yang disetrika terlalu rapi, dan kemeja itu sedikit terlalu sempit di bagian bahu, seperti dibeli bertahun-tahun lalu saat tubuhnya belum selebar sekarang. Waktu ia membungkuk ke depan untuk menjelaskan sesuatu, kain di punggungnya tertarik.

Aku sudah dua tahun lebih tidak memperhatikan bahu laki-laki.

Sayang sekali, pikirku sambil menyalip sebuah truk, kalau tangan sebesar itu cuma dipakai pegang spreadsheet.

Lalu aku tertawa sendirian di mobil, untuk kedua kalinya hari itu, karena aku tidak percaya baru saja memikirkan hal itu.


Aku sampai di studio jam dua siang. Begitu membuka ponsel, ada sebuah notifikasi Instagram.

Pesan langsung dari akun yang tidak kukenal. Namanya nisaadinegara_. Foto profilnya seorang perempuan muda berpipi bulat menggendong balita berkuncir dua.

nisaadinegara_: Halo Kak Anjani!! Maaf ganggu 🙏🙏
nisaadinegara_: Aku Nisa, adiknya Mas Bagas
nisaadinegara_: Aku cuma mau info aja ya Kak, bukan apa-apa
nisaadinegara_: Semalam pas makan malam Mas Bagas nyebut nama Kakak 11 kali
nisaadinegara_: Aku hitung Kak. Aku punya buku catatan
nisaadinegara_: Terus dia nanya ke Ibu alamat studio Kakak
nisaadinegara_: Terus dia nyari “arti bunga” di Google, aku liat di HP-nya pas dia ke kamar mandi
nisaadinegara_: Kak tolong jangan bilang Mas Bagas aku DM ya
nisaadinegara_: Dia bisa ngambek tiga hari
nisaadinegara_: Ngambeknya diem doang sih, tapi tetep serem
nisaadinegara_: Oke sekian Kak. Semoga harimu menyenangkan 🌸

Aku membaca semuanya dua kali. Lalu aku duduk di kursi kayu di belakang meja kerja dan tertawa sampai perutku sakit.

Sebelas kali. Ada orang yang menghitung.

Aku membalas.

Aku: Hai Nisa. Makasih infonya 😊 Aman, rahasia kita.
nisaadinegara_: KAKAK BALES
nisaadinegara_: Kak boleh aku tanya satu hal aja
nisaadinegara_: Kakak nyebut nama Mas Bagas berapa kali semalam?

Aku tidak membalas pertanyaan itu.

Bukan karena jawabannya nol. Karena aku tidak menghitung.


Sore hari, studio sepi. Hujan tipis turun, membuat kaca etalase berembun. Aku sedang membersihkan ember-ember ketika ponselku bergetar lagi.

Fadhil: Mbak, assalamualaikum. Ibu nanya, kapan Mbak main ke Depok lagi?
Fadhil: Ibu bikin rendang. Katanya sisain buat Mbak.

Aku menatap pesan itu lama. Fadhil selalu sopan. Selalu baik. Pesannya selalu diawali salam dan diakhiri dengan sesuatu tentang makanan, karena ia tahu aku tidak bisa menolak masakan Ibu.

Aku: Waalaikumsalam, Dhil. Insyaallah minggu depan ya. Salam buat Ibu.
Fadhil: Siap, Mbak.

Lalu, setelah beberapa saat, satu pesan lagi:

Fadhil: Mbak baik-baik aja kan?

Aku tidak tahu kenapa pertanyaan itu membuat tenggorokanku tercekat. Mungkin karena aku tahu Fadhil juga sedang terjepit, sama sepertiku, di antara orang tua yang ia sayangi dan sesuatu yang tidak pernah ia minta.

Aku: Baik, Dhil. Kamu juga ya.

Ia tidak membalas lagi.


Malam itu, sebelum tidur, aku membuka daftar kontak dan menggulir ke huruf M.

Mas SOP.

Aku belum mengirim pesan apa-apa. Ia juga tidak bisa mengirim pesan padaku, karena ia tidak punya nomorku. Aku yang menyuruhnya mencariku sendiri. Kalau ia memang laki-laki yang serius, ia akan datang. Kalau tidak, ia hanya akan menjadi sebuah nama untuk disebut di depan keluarga Ramadhan. Itu juga tidak apa-apa.

Itu yang kukatakan pada diriku sendiri.

Aku mematikan lampu. Hujan masih turun di luar jendela, pelan, menetes dari ujung genteng ke pot-pot bunga Mama di teras.

Lalu aku menyalakan lampu lagi, membuka kontak itu sekali lagi, dan menambahkan sesuatu di kolom catatan di bawah namanya:

Kupingnya merah kalau gugup.

Aku mematikan lampu.

Aku bilang pada diriku sendiri bahwa ini hanya tameng. Aku juga bilang begitu waktu menyimpan nomornya.