Chapter Thirty Eight

Laporan Bulanan

POV: Bagas

Aku bangun jam lima pagi.

Bukan karena alarm. Aku sudah mematikan semua alarm di ponselku semalam, waktu Anjani tidak melihat. Aku bangun karena tubuhku sudah sembilan tahun bangun jam lima, dan tiga bulan terakhir bangun jam lima untuk ke gym bersama Coach Rudi, dan tubuhku tidak tahu bahwa hari ini berbeda.

Aku membuka mata. Langit-langit asing. Lampu kuning redup yang belum dimatikan. Gorden biru yang bergerak pelan karena angin dari celah jendela. Bau hujan yang masih tersisa.

Dan berat di dadaku.

Aku menunduk.

Ia tidur dengan kepala di dadaku. Rambutnya terurai di atas kausku, cokelat gelap, berantakan, dengan satu helai yang menempel di pipinya. Napasnya pelan dan teratur. Satu tangannya di perutku, terkepal longgar, seperti anak kecil yang menggenggam sesuatu dalam tidur. Bibirnya sedikit terbuka. Tahi lalat kecil di bawah mata kirinya.

Aku tidak bergerak.

Aku tidak mau bergerak. Aku takut kalau aku bergerak, ia bangun, dan kalau ia bangun, aku tidak bisa menatapnya seperti ini lagi. Tanpa ia tahu. Tanpa ia menggodaku. Tanpa kupingku memerah.

Jadi aku berbaring diam dan menatapnya.

Aku menatap bulu matanya yang panjang dan sedikit melengkung. Aku menatap garis rahangnya yang tegas, yang dalam tidur terlihat lebih lembut. Aku menatap bekas luka kecil di dagunya, yang dulu kulihat waktu aku demam dan ia merawatku. Aku menatap jari-jarinya di perutku, dengan cincin emas putih di jari manis tangan kiri.

Aku menghitung napasnya. Dua belas per menit. Aku menghitung berapa helai rambut yang menempel di pipinya. Tiga. Aku menghitung berapa kali ia menggerakkan bibir dalam tidur, seperti sedang bicara dengan seseorang di mimpinya. Empat.

Jam lima lewat tiga puluh. Jam enam kurang sepuluh. Langit di balik gorden mulai terang.

Aku masih menatapnya.


Jam enam lewat lima, ia bicara. Tanpa membuka mata.

“Mas.”

Aku membeku.

“Mas lagi lihatin aku,” katanya. Suaranya serak bangun tidur. Matanya masih terpejam. “Dari tadi.”

“Nggak.”

“Satu jam.”

“Kamu tidur.”

“Aku bangun dari jam lima lewat lima belas.” Sudut bibirnya bergerak. “Mas napasnya berubah kalau lagi mikir. Aku dengerin.”

Kupingku panas. Di sini, di tempat tidur ini, dengan kepalanya di dadaku, ia pasti bisa mendengar jantungku melompat.

Ia membuka matanya. Pelan. Mata cokelat gelap yang sedikit menyipit di ujung, menatapku dari bawah, dari dadaku. Masih setengah mengantuk. Tapi sudah jahil.

“Mas lihatin aku,” katanya, “kayak lagi baca laporan bulanan.”

Aku menatapnya.

Dulu aku akan menunduk. Dulu aku akan tersedak, atau menjatuhkan sendok, atau berdiri terlalu cepat sampai lututku membentur meja. Dulu aku akan bilang nggak, atau maaf, atau tidak bilang apa-apa sama sekali.

Tapi ini rumahku. Ini tempat tidurku. Ini istriku.

“Laporan terbaik,” kataku, “yang pernah aku baca.”

Ia berkedip.

Lalu matanya melebar. Pelan. Lalu pipinya merah. Dari tulang pipi naik ke telinga.

Anjani Wardhani. Perempuan yang membuatku tersedak air mineral dan menjatuhkan gelas teh dan berdiri sembilan menit di parkiran gudang. Perempuan itu, di pagi pertama pernikahan kami, tersipu di dadaku.

Ia menyembunyikan wajahnya di kausku. “Mas nggak boleh gitu.”

“Gitu gimana?”

“Ngegombal pagi-pagi. Aku belum siap.”

Aku tertawa. Aku memeluknya. Ia memukul dadaku pelan, lalu memelukku balik.

Di luar jendela, ayam tetangga berkokok. Terlambat satu jam. Seperti ayam yang juga baru menikah.


Jam enam lewat dua puluh, airnya mati.

Bu RT sudah memperingatkanku. Tiga minggu lalu, waktu aku datang untuk tanda tangan kontrak. Pak, airnya kadang mati jam enam pagi. Pompa komplek. Setengah jam aja, kok.

Aku sudah mencatatnya. Di spreadsheet. Di tab Risiko, di file baru yang kubuat waktu menyewa rumah ini.

Aku lupa memberitahu Anjani.

Aku sedang menyikat gigi di kamar mandi waktu airnya mati. Busa pasta gigi di mulutku. Keran yang tiba-tiba mengeluarkan bunyi grrrk lalu diam.

Anjani di bawah pancuran. Dengan sampo di rambutnya.

Hening.

“Mas,” katanya dari balik tirai plastik.

“Iya.”

“Airnya mati.”

“Iya.”

“Rambutku masih sampo.”

“Iya.” Aku menelan busa pasta gigi tanpa sengaja. “Bu RT bilang setengah jam.”

Hening yang sangat panjang dari balik tirai plastik.

Lalu ia tertawa. Tawa yang memantul di dinding keramik kamar mandi kecil itu, sampai aku ikut tertawa dengan mulut penuh busa pasta gigi. Kami berdua tertawa di kamar mandi yang tidak ada airnya, dengan sampo dan pasta gigi, sampai Bu RT dari teras sebelah berteriak, Pak Bagas! Ember di belakang ada air tampungan semalam! Pakai itu dulu!

Kami berhenti tertawa.

“Bu RT dengar,” bisik Anjani dari balik tirai.

“Dindingnya tipis.”

“Semalam juga?”

Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab. Kupingku terbakar.

Dari balik tirai plastik, Anjani tertawa sampai ia harus berpegangan pada dinding.


Jam tujuh pagi, aku membuat sarapan.

Ayam goreng kecap. Tentu saja. Ini satu-satunya masakan yang aku yakin bisa kubuat dengan benar sekarang, setelah dua jam pelajaran di dapur Bu Aminah. Api kecil. Kecap dimasukkan terakhir. Jangan ditinggal.

Ayamnya sempurna. Cokelat keemasan. Mengilap.

Nasinya gosong.

Aku lupa nasinya. Aku memasaknya di panci, karena rice cooker yang kubeli masih di kardus di sudut dapur dan aku belum sempat membaca petunjuknya. Aku memasang api besar di tungku sebelah, lalu aku fokus pada ayam, jangan ditinggal, dan aku tidak meninggalkannya, dan aku meninggalkan nasinya.

Bau gosong memenuhi dapur kecil itu.

Anjani muncul di ambang pintu dapur dengan rambut yang dililit handuk, memakai kemeja flanel kotak-kotak abu-abu milikku. Ia menatap panci nasi yang berasap. Lalu menatap wajan ayam yang sempurna. Lalu menatap kertas HVS di dinding: API KECIL. JANGAN DITINGGAL.

“Mas,” katanya pelan. “Kertasnya kurang satu.”

Aku menatap kertas itu.

Ia mengambil spidol hitam dari meja dapur. Ia berdiri di sebelahku, mengangkat tangan, dan menulis di bawah tulisanku, dengan huruf yang rapi dan sedikit miring:

Tungku sebelah juga.

Lalu ia mencium pipiku, mengambil piring, dan menyendok ayam kecap yang sempurna dan nasi yang setengah gosong, dan duduk di meja makan kecil di dapur kami, dan makan semuanya tanpa satu kata keluhan pun.

“Gosongnya pas,” katanya, dengan mulut penuh.

“Itu kalimat yang dulu.”

“Masih berlaku.” Ia mengunyah. “Matang di luar, grogi di dalam.”

“Aku sudah nggak grogi.”

Ia berhenti mengunyah. Ia menatapku dari seberang meja dengan alis terangkat, lalu menatap kupingku, yang tentu saja, pada saat itu, merah.

“Iya,” katanya. “Kelihatan.”


Jam tujuh lewat lima belas, pagar berbunyi.

Aku membuka pintu depan. Di balik pagar hijau sage, berdiri Nisa dengan Kiki di gendongan dan sebuah rantang tiga susun di tangan yang lain. Di belakangnya, Reza dengan wajah orang yang dipaksa bangun pagi.

“Pagi, Mas!” seru Nisa. “Kunjungan pengecekan!”

“Nis, ini jam tujuh pagi.”

“Mas biasanya bangun jam lima.”

“Kami pengantin baru.”

“Justru itu.” Nisa membuka pagar sendiri, tanpa diundang. “Ibu nyuruh antar sarapan. Ibu takut Mas masak nasi pakai api besar terus lupa.”

Aku tidak menjawab.

Nisa mencium bau gosong dari dalam rumah. Ia berhenti di teras. Ia menatapku. Lalu ia membuka buku kucingnya, yang entah bagaimana sudah ada di tangannya meskipun ia sedang menggendong Kiki dan membawa rantang, dan menulis sesuatu dengan sangat cepat.

Kiki menatapku dari gendongan Nisa. Lalu ia menatap ke dalam rumah, ke Anjani yang muncul di belakangku dengan kemeja flanel dan rambut terlilit handuk.

“Tante Bunga,” kata Kiki.

“Hai, Kiki.”

Kiki menatap kemeja flanel itu. Lalu menatapku. Lalu menatap Anjani lagi. Wajahnya berkerut, seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat rumit.

“Om Jomblo,” katanya akhirnya, menunjukku.

“Sudah bukan, Kiki,” kata Nisa.

Kiki mengerutkan kening lebih dalam. “Terus Om apa?”

Nisa menatapku. Reza menatapku. Anjani, di belakangku, meletakkan tangannya di punggungku.

“Om Bagas,” kata Anjani.

Kiki memikirkannya. Lama. Lalu menggeleng keras.

“Nggak,” katanya tegas. “Om Jomblo.”

Dan begitulah, sampai Kiki masuk SD, aku tetap dipanggil Om Jomblo. Bahkan setelah aku menikah. Bahkan setelah aku punya anak. Kiki tidak pernah mau menggantinya.


Nisa dan Reza pulang jam delapan, setelah memastikan kami sarapan dua kali, sekali dengan nasi gosong dan sekali dengan nasi uduk dari rantang Ibu.

Bu RT datang jam sembilan, dengan sepiring kue lapis dan pertanyaan-pertanyaan yang sangat sopan dan sangat menyelidik. Asal dari mana? Kerja di mana? Sudah kenal berapa lama? Kenapa pagarnya hijau? Ia menatap Anjani dari ujung rambut sampai ujung kaki dan berkata, ya Allah, cantik sekali istrinya, Pak Bagas, pantesan Bapak cat pagarnya sendiri.

Jam sepuluh, keponakan Pak Kumis datang dengan dua bungkus bakso urat. Dari Pak Kumis, Neng. Katanya hadiah pindahan. Katanya kalau Neng kangen warung, warungnya sepuluh menit jalan kaki.

Jam sebelas, Bu Iyah mengirim pot kecil berisi tanaman kaktus bulat berduri emas. Tidak ada catatan. Tapi aku tahu dari mana. Kaktus yang sama dengan yang di Taman Meksiko, di Kebun Raya, di kencan pertama yang hancur oleh hujan. Kaktus itu sabar, kata Anjani waktu itu. Saya pernah sabar kayak gitu.

Anjani meletakkan kaktus itu di meja kecil di teras, di antara dua kursi rotan.


Siang itu, aku membuat spreadsheet.

Aku tidak bangga mengakuinya. Tapi aku juga tidak tahu cara lain untuk memikirkan sesuatu yang sepenting ini.

Anjani menemukanku di sofa abu-abu, dengan laptop di pangkuan, sedang mengetik dengan sangat serius.

“Mas ngapain?”

“Bikin jadwal.”

“Jadwal apa?”

Aku memutar laptop ke arahnya.

RUMAH TANGGA.

Tab pertama: Jadwal Masak. Senin sampai Minggu, siapa yang masak pagi, siapa yang masak malam. Aku sudah mengisi bagianku. Bagiannya kubiarkan kosong, dengan catatan kecil: (isi sendiri, nggak wajib).

Tab kedua: Belanja. Daftar kebutuhan dapur, dengan kolom harga, kolom toko, dan kolom terakhir dibeli.

Tab ketiga: Tagihan. Listrik, air, internet, kontrakan. Tanggal jatuh tempo dicetak tebal.

Tab keempat: Risiko. Air mati jam enam pagi (sudah terjadi). Nasi gosong (sudah terjadi). Bu RT dengar dari teras (sudah terjadi).

Anjani membaca semuanya. Pelan. Dari tab pertama sampai tab keempat. Bibirnya bergerak. Ia sedang menahan tawa.

Lalu ia mengambil laptop dari pangkuanku.

“Mas,” katanya. “Tabnya kurang satu.”

Ia menambahkan tab baru. Ia mengetik namanya dengan cepat, menutupi layar dengan bahunya supaya aku tidak bisa melihat. Lalu ia menutup laptop itu, meletakkannya di meja kecil, berdiri, dan berjalan ke dapur sambil bersenandung lagu dangdut tentang ditinggal kekasih, dengan nada yang sedikit sumbang.

Aku membuka laptop.

Tab kelima. Di sebelah Risiko.

Jadwal Latihan.

Isinya kosong. Hanya satu baris di sel A1:

Tiap malam. Nggak ada libur.

Aku menutup laptop dengan sangat pelan.

Dari dapur, aku mendengarnya tertawa.