Chapter Eight

Rencana Hujan

POV: Bagas

Itinerary-nya empat belas titik.

Aku tahu itu terlalu banyak. Aku tahu sejak titik kesembilan. Tapi setiap kali aku mencoba menghapus satu, aku membayangkan wajahnya waktu melihat titik itu, dan aku tidak tega.

Sabtu. Kencan pertama (resmi).

09.00 — Jemput di rumah. (Tiba 08.50. Tunggu di mobil sampai 08.58.)
09.20 — Kebun Raya, pintu utama. Jalan kaki ke Taman Meksiko (kaktus — tanya apakah dia suka kaktus).
10.15 — Jembatan Merah. Foto? (Tanya dulu. Jangan maksa.)
10.45 — Rumah Anggrek. (Dia florist. Pasti suka. Kalau tidak suka, pura-pura tidak tahu.)
11.30 — Keluar pintu samping. Jalan ke Surya Kencana.
11.45 — Soto kuning Pak Yusup.
12.30 — Asinan Gedung Dalam. (Bawa pulang buat Ibu.)
13.00 — Salat zuhur.
13.30 — Toge goreng.
14.00 — Pasar Bogor. Lihat-lihat. (Jangan beli apa-apa yang berat.)
14.45 — Kopi di Jalan Suryakencana. (Teh melati kalau ada. Jangan pesan gula.)
15.30 — Prasasti Batutulis. (Sejarah. Mungkin dia suka sejarah?)
16.30 — Jalan pulang. Mampir beli roti unyil.
17.00 — Antar pulang. Selesai.

Titik keempat belas adalah yang paling penting: Selesai jam 17.00. Supaya aku bisa pulang jam tujuh dengan selisih aman dua jam. Supaya ia tidak perlu berkata pulang sana, ditunggu dengan suara yang aneh itu lagi.

Aku mengirim itinerary itu ke Nisa hari Jumat malam untuk diperiksa. Nisa membalas dalam tiga puluh detik.

Nisa: Mas
Nisa: ini kencan apa study tour SD
Nisa: mas kurang bawa bus sama pak guru
Nisa: coret setengahnya

Aku mencoret Prasasti Batutulis. Lalu memasukkannya lagi.


Sabtu pagi, langit Bogor biru bersih. Tidak ada satu pun awan.

Aku tiba di depan rumah keluarga Wardhani jam delapan lewat lima puluh, sesuai rencana, dan menunggu di mobil. Aku menunggu sampai delapan lewat lima puluh delapan, sesuai rencana. Lalu aku turun dan berjalan ke pagar.

Pagar terbuka sebelum aku sempat membunyikan bel.

Ia berdiri di sana dengan celana kain krem longgar, kemeja putih tipis yang dimasukkan setengah ke celana, dan sepatu kanvas putih. Rambutnya diikat ekor kuda tinggi. Ia membawa tas selempang kecil dan kacamata hitam yang diselipkan di kerah kemejanya. Pagi itu matahari jatuh miring dari arah timur, membuat kulitnya seperti bercahaya dari dalam. Ia terlihat seperti seseorang yang akan pergi berlibur ke tempat yang jauh lebih bagus dari Bogor.

“Jam sembilan kurang dua menit,” katanya, melirik jam tangannya. “Mas nunggu di mobil delapan menit.”

“Kok tahu?”

“Saya lihat dari jendela.” Ia tersenyum. “Mas ngecek jam empat kali.”

Aku memutuskan untuk berhenti bertanya bagaimana orang-orang di sekitarku tahu semua yang kulakukan.

Di dalam mobil, aku menyerahkan selembar kertas kepadanya. Aku sudah mencetaknya. Dua salinan. Satu untukku, satu untuknya.

Ia membaca kertas itu. Ia membacanya dari atas sampai bawah, lalu dari bawah sampai atas. Bibirnya bergerak waktu sampai di titik ke-sembilan, Pasar Bogor — jangan beli apa-apa yang berat. Lalu ia melipat kertas itu dengan rapi dan memasukkannya ke tas.

“Empat belas,” katanya.

“Terlalu banyak?”

“Tergantung.”

“Tergantung apa?”

Ia memakai kacamata hitamnya dan bersandar ke kursi. “Tergantung Mas mau ngejalanin itinerary, atau mau jalan sama saya.”

Aku memikirkan kalimat itu sepanjang jalan ke Kebun Raya. Aku tidak berhasil menemukan bedanya.


Titik kedua, ketiga, dan keempat berjalan sempurna.

Ia suka kaktus. Ia berhenti lama di Taman Meksiko, berjongkok di depan sebuah kaktus bulat berduri emas, dan bercerita tentang bagaimana kaktus menyimpan air di dalam batangnya selama berbulan-bulan, menunggu hujan yang mungkin tidak datang. “Kaktus itu sabar,” katanya. “Saya pernah sabar kayak gitu.” Lalu ia berdiri dan berjalan lagi sebelum aku sempat bertanya apa maksudnya.

Di Jembatan Merah, aku bertanya apakah ia mau difoto. Ia bilang tidak. Lalu ia mengambil ponselku dari tanganku, mengangkatnya tinggi, dan memotret kami berdua dengan jembatan di belakang. Di foto itu aku terlihat seperti orang yang sedang disandera. Ia terlihat seperti sampul majalah.

“Ini buat Mas,” katanya, menyerahkan kembali ponselku. “Biar Mas punya foto saya selain yang di HP Mama.”

Aku hampir menjatuhkan ponselku ke sungai.

Di Rumah Anggrek, ia menjelaskan nama Latin setiap anggrek tanpa membaca papan namanya. Aku tidak mengerti satu pun, tapi aku mendengarkan semuanya.

Jam sebelas lewat lima belas, waktu kami berjalan menuju pintu samping, aku merasakan angin berubah.

Angin itu tiba-tiba lebih dingin. Lebih basah. Daun-daun pohon kenari besar di atas kami mulai berbisik keras. Aku mendongak. Langit yang tadi biru bersih kini dipenuhi awan abu-abu gelap yang bergerak cepat dari arah Gunung Salak, seperti tirai yang ditarik.

“Hujan,” katanya, juga mendongak. “Dua menit lagi.”

“Ramalan cuaca bilang cerah.”

“Ramalan cuaca bukan orang Bogor.”

Hujan turun dalam satu menit.


Hujan Bogor bukan hujan biasa. Hujan Bogor tidak permisi. Ia tidak mulai dengan gerimis sopan lalu perlahan membesar. Ia langsung jatuh seperti seseorang membalikkan ember raksasa dari langit.

Aku membawa payung. Tentu saja aku membawa payung. Payung lipat hitam, ada di tas punggungku, sesuai catatan kecil di bagian bawah itinerary: Bawa payung (jaga-jaga). Aku mengeluarkannya dan membukanya secepat mungkin.

Payung itu kecil. Payung lipat untuk satu orang.

Aku memegangnya di atas kepalanya.

“Mas juga kehujanan,” katanya.

“Nggak apa-apa.”

“Mas, sini ...”

“Nggak apa-apa. Ayo, cari tempat teduh.”

Kami berlari. Lebih tepatnya, ia berjalan cepat dan aku berjalan di sampingnya dengan lengan terulur, memegangi payung di atas kepalanya, sementara hujan menghantam bahu kiriku, punggungku, sisi kepalaku. Dalam tiga puluh detik kemejaku basah. Dalam satu menit, air hujan mengalir dari rambutku ke leher, masuk ke balik kerah, turun ke punggung.

Tempat teduh terdekat adalah sebuah warung kecil di luar pintu samping Kebun Raya. Warung kopi beratap seng, dengan dua bangku kayu panjang dan sebuah meja yang dilapisi plastik bermotif kotak-kotak merah. Di belakang etalase kaca berisi gorengan, seorang ibu tua berkerudung cokelat sedang menggoreng bakwan.

Kami masuk ke bawah atap seng. Hujan berdentam di atas kepala kami seperti ribuan kerikil yang dilemparkan.

Aku menutup payung. Ia kering. Hampir sepenuhnya kering, kecuali ujung celananya yang terkena cipratan.

Aku tidak.

Aku basah dari kepala sampai pinggang. Kemeja biruku menempel ke kulit. Air menetes dari ujung hidungku ke lantai semen warung. Sepatu kulit yang kusemir semalam berbunyi cek-cek setiap kali aku bergerak.

Ia menatapku. Ia menatapku lama.

“Mas,” katanya pelan.

“Saya nggak apa-apa.”

“Mas basah kuyup.”

“Kering nanti.”

Ia tidak menjawab. Ia mengambil tisu dari tas selempangnya, sebungkus tisu saku yang sudah tinggal setengah, dan menarik selembar. Lalu ia melangkah ke arahku.


Ia mulai dari bahu kiriku, bagian yang paling basah.

Tisu itu tipis dan langsung basah begitu menyentuh kemejaku. Ia menariknya, mengambil yang baru, dan melanjutkan. Pelan. Teliti. Dari bahu ke lengan atas. Dari lengan atas kembali ke bahu. Lalu ke leher, di bawah telinga, di tempat air menetes dari rambutku.

Aku tidak bergerak. Aku tidak bisa bergerak.

Di belakang etalase, ibu penjual gorengan berhenti membalik bakwan.

Tisu-tisu itu habis. Ia meremas gumpalan tisu basah di tangan kirinya, dan tangan kanannya, yang sudah tidak memegang apa-apa, tetap di bahuku. Lalu tangan itu turun, pelan, dari bahu ke dadaku, dan berhenti di sana. Telapak tangannya terbuka, rata di atas kemeja yang basah, tepat di atas jantungku.

Ia tidak menariknya.

Aku bisa merasakan kehangatan tangannya menembus kain yang dingin. Aku bisa merasakan bahwa ia bisa merasakan apa yang terjadi di bawah tangannya. Jantungku berdetak seperti genset gudang yang dinyalakan saat listrik padam. Kencang. Kacau. Memalukan.

Ia mendongak. Ia menatapku dari jarak yang sangat dekat, dan matanya tidak tertawa kali ini. Matanya tenang dan dalam, seperti kolam di Kebun Raya yang tadi kami lewati.

“Jantung Mas kencang banget,” katanya pelan, hampir tertelan suara hujan di atap seng.

Aku tidak menjawab.

“Karena hujan,” tanyanya, “atau karena saya?”

Aku membuka mulut. Tidak ada yang keluar.

Ia tidak menunggu jawaban. Ia juga tidak menarik tangannya. Tangannya tetap di sana, rata dan hangat, sementara hujan berdentam di atas kepala kami, sementara ibu penjual gorengan menatap kami dari balik etalase dengan sodet yang terangkat di udara, sementara jantungku terus berdetak dan berdetak di bawah telapak tangannya seperti sedang berusaha menjawab pertanyaan yang tidak bisa dijawab mulutku.

Lalu, akhirnya, ia menepuk dadaku dua kali, ringan, seperti di studio, dan menurunkan tangannya.

“Duduk, Mas,” katanya. “Kita nggak ke mana-mana dulu.”


Kami duduk di bangku kayu. Ia memesan dua teh manis panas dari ibu penjual gorengan.

“Manis?” kataku. “Bukannya Mbak nggak suka manis?”

“Ini bukan teh melati. Ini teh warung. Teh warung harus manis. Itu aturannya.” Ia menoleh ke ibu penjual. “Kan, Bu?”

“Leres, Neng,” jawab ibu itu sambil tersenyum. Lalu ia meletakkan dua gelas teh manis di depan kami, bersama sepiring bakwan dan pisang goreng yang tidak kami pesan. “Ieu mah gratis. Kasihan Aa-na, kebasahan.”

Aku mengucapkan terima kasih dalam bahasa Sunda yang kaku. Ibu itu tertawa dan menepuk bahuku yang basah.

Hujan tidak berhenti. Jam dua belas lewat. Jam dua belas tiga puluh. Soto kuning Pak Yusup lewat. Asinan Gedung Dalam lewat. Toge goreng lewat. Aku mengeluarkan kertas itinerary-ku dari saku celana dan menemukan bahwa kertas itu sudah basah dan tintanya luntur menjadi garis-garis biru yang tidak terbaca.

Aku menatapnya lama.

“Rencananya hancur,” kataku.

Ia mengambil kertas basah itu dari tanganku, menatapnya, lalu meremasnya dan memasukkannya ke kantong plastik sampah di bawah meja.

“Mas,” katanya.

“Ya?”

“Mas tahu kenapa saya tadi bilang tergantung? Waktu Mas tanya empat belas titik itu kebanyakan atau nggak?”

Aku menggeleng.

Ia memeluk gelas teh manisnya dengan dua tangan. Uap naik dari gelas itu ke wajahnya.

“Dulu,” katanya, menatap hujan di luar, “saya punya banyak rencana. Rencana besar. Rencana kecil. Mau tinggal di mana. Mau punya anak berapa. Mau ke mana waktu tua. Semua rencana itu ada di kepala saya, rapi kayak itinerary Mas, lengkap sama jamnya.”

Ia diam sebentar.

“Terus semuanya hujan,” katanya. “Satu hari. Satu telepon. Rencananya luntur kayak kertas Mas tadi.”

Aku tidak berani bergerak.

“Habis itu saya nggak bikin rencana lagi,” lanjutnya. “Lama. Saya cuma bangun, terus tidur, terus bangun lagi. Lama-lama saya ngerti satu hal.” Ia menoleh dan menatapku. “Yang penting itu bukan rencananya. Yang penting itu siapa yang masih ada di sebelah kita waktu rencananya hancur.”

Hujan berdentam di atap seng. Ibu penjual gorengan menyalakan radio kecil. Lagu Sunda lama mengalun pelan, bercampur suara hujan.

“Laki-laki nggak perlu rencana, Mas,” katanya. “Cukup datang.”

Aku menatapnya. Ia menatapku balik. Dan untuk pertama kalinya sejak di kafe, aku tidak merasa harus mengatakan sesuatu yang benar. Aku tidak merasa harus mengikuti poin satu sampai delapan. Aku hanya duduk di sana, basah kuyup, di bangku kayu warung kopi, dengan sepiring bakwan gratis dan segelas teh manis yang terlalu manis, di sebelah perempuan yang baru saja menceritakan bagian paling hancur dalam hidupnya tanpa satu tetes air mata pun.

“Saya datang,” kataku.

Ia tersenyum. “Saya tahu. Mas datang delapan menit lebih awal.”


Hujan reda jam dua siang. Waktu aku mengeluarkan dompet, ia menahan tanganku dan membayar ibu penjual gorengan lebih dulu, termasuk bakwan dan pisang goreng yang katanya gratis.

“Minggu lalu Mas yang bayar,” katanya. “Saya sudah janji.”

Kami tidak ke Surya Kencana. Kami tidak ke Pasar Bogor. Kami tidak ke Prasasti Batutulis, dan aku tidak keberatan sama sekali.

Kami hanya berjalan pelan menyusuri trotoar yang basah di sepanjang pagar Kebun Raya, ke tempat mobilku diparkir. Ia berjalan di bagian dalam trotoar. Aku di bagian luar, dekat jalan, supaya kalau ada mobil lewat dan menyipratkan genangan, aku yang kena. Dua kali ada mobil lewat. Dua kali aku kena. Dua kali ia tertawa.

Di depan mobil, ia berhenti.

“Mas utang satu lagi,” katanya.

“Apa lagi?”

“Itinerary. Masih ada sepuluh titik yang belum.”

“Mbak mau ngulang?”

“Saya mau Mas datang lagi.” Ia membuka pintu mobil sendiri sebelum aku sempat membukakannya. “Itinerary-nya opsional.”

Lalu, sebelum masuk, ia menoleh.

“Satu lagi, Mas.”

“Ya?”

“Jangan panggil saya Mbak.” Ia menatapku dari balik kacamata hitam yang baru saja ia pakai lagi, meskipun matahari belum keluar. “Saya bukan kakak Mas.”

“Terus saya panggil apa?”

“Nama saya.”

Aku menelan ludah. “Anjani.”

Itu pertama kalinya aku menyebut namanya di depannya. Nama itu terasa aneh di mulutku. Terlalu indah. Seperti memegang gelas kristal yang takut pecah.

Ia diam sebentar. Lalu ia masuk ke mobil dan menutup pintu.

Melalui kaca jendela, aku melihatnya memalingkan wajah ke arah yang berlawanan dan menekan punggung tangannya ke bibir, seperti orang yang sedang menahan senyum terlalu lebar.


Aku sampai di rumah jam empat sore. Tiga jam lebih awal dari jam tujuh. Basah, bau hujan, dengan sepatu yang masih berbunyi cek-cek.

Ibu membuka pintu, melihatku, dan menjerit kecil. “Ya Allah, Gas! Kamu kehujanan?”

“Sedikit, Bu.”

“Sedikit apanya! Kamu kayak habis nyebur kolam! Kenapa nggak pakai payung?”

“Pakai, Bu.”

“Terus kenapa basah?”

Aku melepas sepatu yang basah dan meletakkannya di rak. Aku menggantung kunci mobil di tempatnya.

“Payungnya buat dia,” kataku.

Ibu tidak berkata apa-apa lagi. Ibu hanya menatapku dari pintu dapur, dengan handuk di tangan, dan matanya berkaca-kaca, dan aku tidak mengerti kenapa.

Malam itu, aku membuka spreadsheet Proyek A. Aku membuka tab Timeline dan menghapus semua yang pernah kutulis tentang rencana kencan berikutnya.

Lalu aku menulis satu baris saja:

Datang.