Chapter Twenty Six
Lampu Teras
POV: Bagas
Ia datang jam tujuh lewat lima belas.
Bukan jam tujuh tepat. Jam tujuh lewat lima belas. Aku tahu kenapa. Ia menunggu sampai aku selesai makan malam. Ia tidak mau aku melewatkan makan malam jam tujuh karena dirinya. Ia tidak pernah mau aku melewatkan apa pun karena dirinya.
Aku sedang mencuci piring waktu mendengar suara pagar dibuka. Pelan. Engselnya berbunyi sedikit, bunyi yang sudah kukenal sejak kecil. Lalu langkah kaki di atas paving halaman. Lalu suara kursi rotan di teras ditarik, pelan, dan diduduki.
Lalu sunyi.
Aku berdiri di depan bak cuci dengan busa di tangan dan tidak bergerak.
Ibu, yang sedang mengelap meja makan di belakangku, berhenti mengelap.
“Gas,” kata Ibu pelan.
“Iya, Bu.”
“Itu Anjani.”
“Saya tahu, Bu.”
Ibu menunggu. Aku tidak bergerak. Aku membilas piring berikutnya. Lalu berikutnya lagi. Aku membilas piring yang sudah bersih dua kali.
Ibu tidak berkata apa-apa lagi. Ia meletakkan lapnya, berjalan ke ruang tamu, dan aku mendengar pintu depan dibuka. Aku mendengar suara Ibu, rendah dan hangat, masuk, Nak, masuk, jangan di luar, dingin. Aku mendengar suara Anjani, lebih rendah lagi, di sini aja, Tante, nggak apa-apa.
Lalu pintu depan ditutup. Ibu kembali ke dapur. Ia menatapku dari ambang pintu dengan wajah yang tidak bisa kubaca.
“Dia nggak mau masuk,” kata Ibu.
“Iya, Bu.”
“Dia bilang dia cuma mau duduk.”
Aku mengeringkan tanganku. Aku melipat lap dua kali dan meletakkannya di pinggir bak cuci.
Lalu aku berjalan ke ruang tamu. Bukan ke pintu depan. Ke saklar lampu di dinding sebelah pintu. Saklar lampu teras.
Lampu teras rumah kami sudah lama rusak. Bohlamnya putus bulan lalu, dan aku belum sempat menggantinya karena terlalu sibuk dengan Surabaya, dengan sakit, dengan semuanya. Teras itu gelap. Satu-satunya cahaya di sana berasal dari lampu jalan di depan pagar, yang jauh dan kuning dan tidak cukup.
Ia duduk di sana. Dalam gelap.
Aku berbalik, berjalan ke gudang di belakang rumah, mencari kardus bohlam cadangan yang kusimpan di rak paling atas, mengambil satu, kembali ke ruang tamu, membuka pintu depan sedikit, cukup untuk menjulurkan tangan, dan meraih fitting lampu di langit-langit teras.
Aku tidak melihatnya. Aku sengaja tidak melihatnya. Aku hanya menatap fitting lampu, memutar bohlam yang lama sampai lepas, memasang yang baru.
Aku menutup pintu. Aku menekan saklar.
Lampu teras menyala. Kuning. Hangat.
Melalui kaca jendela ruang tamu yang buram, aku melihat bayangannya. Ia duduk di kursi rotan, memeluk lutut, dan kepalanya mendongak ke arah lampu yang baru menyala.
Ia diam lama. Lalu kepalanya turun lagi.
Ia tidak menoleh ke jendela. Tapi aku melihat bahunya bergetar sedikit.
Lima belas menit kemudian, aku membuat teh.
Teh tubruk Slawi. Kaleng hijau tua dengan tulisan yang sudah pudar, yang diberikan Pak Hendra kepadaku waktu aku pulang dari main catur. Bawa pulang. Latihan. Biar nggak lupa. Aku menyimpannya di lemari dapur, di belakang kaleng kopi Ayah.
Air mendidih. Dibiarkan satu menit sampai gelembungnya berhenti. Satu sendok teh. Tuang dari pinggir cangkir. Tutup dengan piring kecil. Tiga menit.
Jangan diaduk.
Aku membuka pintu depan, cukup lebar untuk lewat. Aku tidak keluar. Aku berjongkok di ambang pintu, mengulurkan tangan, dan meletakkan cangkir itu di lantai teras. Lalu aku mendorongnya pelan, sangat pelan, di atas keramik, sampai cangkir itu berhenti di dekat kaki kursi rotannya.
Lalu aku menutup pintu.
Dari balik kaca buram, aku melihat bayangannya membungkuk. Mengambil cangkir itu. Mengangkat piring penutupnya.
Ia diam lama.
Lalu suaranya. Pelan. Tapi cukup keras untuk menembus pintu kayu yang tertutup.
“Pas, Mas.”
Aku bersandar di balik pintu dan memejamkan mata.
Ia datang setiap malam.
Hari kedua, jam tujuh lewat lima belas. Hari ketiga, jam tujuh lewat lima belas. Hari keempat, hujan, dan ia tetap datang, dengan payung transparan yang ia sandarkan di tiang teras, dan celana yang basah di ujung.
Setiap malam ia duduk di kursi rotan yang sama. Setiap malam aku menyalakan lampu teras dan membuat teh tubruk dan mendorongnya pelan di atas keramik. Setiap malam ia bilang pas, Mas dari balik pintu.
Setiap malam ia pulang jam delapan lewat lima belas. Tepat satu jam.
Kami tidak bicara. Tidak benar-benar. Ia duduk di luar. Aku duduk di dalam, di sofa ruang tamu, di dekat jendela yang buram. Kadang aku membaca laporan gudang. Kadang aku hanya duduk. Kadang aku mendengar ia bersenandung pelan, lagu dangdut yang sama dengan yang selalu diputar radio tua di studionya, lagu tentang ditinggal kekasih, dengan nada yang sedikit sumbang.
Hari kelima, ia memakai kemeja flanel kotak-kotak abu-abu. Kemejaku. Lengannya digulung dua kali, seperti waktu pertama kali aku menyampirkannya ke bahunya di teras ini.
Aku melihatnya dari balik kaca, dan dadaku sesak.
Lalu ponselku bergetar.
Anjani: Kemeja Mas ada di saya.
Aku menatap pesan itu. Lalu aku menatap bayangannya di balik kaca. Ia tidak memegang ponsel lagi. Ia sudah meletakkannya di meja kecil di sebelah cangkir teh, dan sekarang ia sedang menatap halaman, memeluk lutut, dengan kemeja flanelku yang menelan tubuhnya.
Ponselku bergetar lagi.
Anjani: Kalau mau diambil, ambil sendiri.
Aku tidak keluar.
Aku sangat ingin keluar. Kakiku sudah berdiri dari sofa. Tanganku sudah di gagang pintu. Aku bisa merasakan dinginnya logam gagang pintu di telapak tanganku, dan aku bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau aku memutarnya. Aku akan keluar. Aku akan berdiri di depannya. Ia akan mendongak. Dan aku tidak akan bisa tidak menyentuhnya.
Aku melepaskan gagang pintu.
Aku duduk kembali di sofa. Di balik kaca buram, aku melihat bayangannya menoleh ke arah pintu, sebentar, lalu kembali menatap halaman.
Ia tidak kecewa. Aku tahu ia tidak kecewa. Karena lima menit kemudian, aku mendengarnya tertawa kecil. Sendirian. Di teras. Seperti orang yang baru saja memenangkan langkah kecil dalam permainan catur yang panjang.
Tim Sukses tidak sesabar dia.
Hari keenam, Nisa menjalankan operasi.
Ia datang jam enam sore dengan Reza dan Kiki, pura-pura untuk makan malam. Setelah makan, jam tujuh lewat sepuluh, ia berdiri, mengambil kunci rumah dari gantungan di dinding, dan berkata dengan suara sangat santai:
“Mas, tolong buang sampah dong. Tempat sampahnya di depan pagar.”
“Nanti, Nis.”
“Sekarang, Mas. Penuh. Bau.”
Aku menatapnya. Ia menatapku balik dengan wajah yang terlalu polos.
Aku mengambil kantong sampah dari dapur. Aku membuka pintu depan. Aku melangkah ke teras.
Anjani belum datang. Kursi rotan itu masih kosong. Jam tujuh lewat sebelas.
Aku berjalan ke pagar, membuang sampah ke tong di luar, lalu berbalik.
Pintu depan tertutup. Aku mendengar bunyi kunci diputar dari dalam.
“NIS.”
“Maaf, Mas!” Suara Nisa dari balik pintu, teredam. “Kuncinya kebalik! Aku nggak sengaja!”
“Buka, Nis.”
“Nggak bisa, Mas! Kuncinya macet!”
“NIS.”
Dari balik jendela ruang tamu yang buram, aku melihat empat bayangan. Nisa. Reza. Kiki di gendongan Reza. Dan Ibu. Ibu. Ibu ikut.
Aku menggedor pintu. Tidak ada yang membuka.
Jam tujuh lewat lima belas, pagar berbunyi.
Aku berbalik. Anjani berdiri di depan pagar dengan payung transparan yang terlipat di tangan, menatapku. Aku berdiri di teras dengan kantong sampah kosong di tangan dan kaus rumah yang ada noda kecap di dadanya, terkunci di luar rumahku sendiri.
Kami saling menatap.
Lalu, dari dalam rumah, suara Kiki, sangat keras: “OM JOMBLO DIKUNCI!”
Anjani menutup mulutnya dengan tangan. Bahunya bergetar.
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan sebagai laki-laki yang sudah memutuskan tidak akan berdiri di sebelahnya sampai ada kepastian. Aku berjalan ke ujung teras yang paling jauh dari kursi rotan. Aku duduk di lantai. Di pojok. Dengan punggung bersandar ke tembok dan kantong sampah kosong di pangkuan.
Anjani menatapku. Lalu ia membuka pagar, berjalan ke teras, dan duduk di kursi rotannya. Di ujung yang lain. Tiga meter dariku.
Kami duduk seperti itu di bawah lampu teras yang baru. Tidak bicara. Ia di kursi. Aku di lantai. Seperti dua orang asing yang menunggu bus di halte yang sama.
Lima menit. Sepuluh menit.
Lalu ia mulai tertawa. Pelan dulu. Lalu tidak bisa ditahan. Ia membungkuk di kursi rotan, memeluk perutnya, tertawa sampai air mata keluar.
“Mas,” katanya di sela tawa. “Mas duduk di lantai.”
“Kursinya cuma satu.”
“Mas bisa duduk di sebelah saya.”
“Nggak bisa.”
“Kenapa?”
Aku menatapnya dari pojok teras. Tiga meter. Tiga meter yang terasa seperti tiga ratus kilometer.
“Karena kalau saya duduk di sebelah kamu,” kataku pelan, “saya nggak bakal bisa pulang.”
Ia berhenti tertawa.
Ia menatapku lama. Lalu ia mengangguk pelan, sekali, dan tidak meminta lagi.
Dari dalam rumah, aku mendengar Nisa menangis. Lalu suara pulpen. Lalu suara Ibu, sudah, Nis, buka pintunya, kasihan Masmu. Lalu bunyi kunci diputar.
Pintu terbuka. Nisa berdiri di sana dengan mata merah dan buku kucing di dada.
“Maaf, Mas,” katanya. “Kuncinya udah nggak macet.”
Hari ketujuh, Tomi yang menjalankan operasi.
Ia meneleponku jam tujuh lewat dua belas dengan suara panik. Forklift tiga terbakar. Gudang kebakaran. Aku harus datang sekarang. Aku berdiri dari sofa, mengambil kunci mobil, membuka pintu depan dengan tergesa-gesa, dan hampir bertabrakan dengan Anjani yang baru saja duduk di kursi rotan.
Lalu ponselku bergetar dengan pesan dari Pak Satpam di grup: Gudang aman, Pak. Nggak ada apa-apa. Mas Tomi lagi ngopi di pos.
Aku menatap pesan itu. Aku menatap Anjani. Anjani menatap ponselku, karena ia juga ada di grup itu. Pak Kumis menambahkannya minggu lalu. Salah pencet.
Aku kembali masuk dan menutup pintu.
Dari balik pintu, aku mendengarnya tertawa lagi.
Hari kedelapan, Coach Rudi datang ke rumah. Ia bilang ia mau “sesi latihan di rumah, Pak Bagas, gratis, promo.” Ia membawa matras yoga dan menggelarnya di teras, tepat di sebelah kursi rotan Anjani.
Aku tidak keluar. Coach Rudi melakukan sit-up sendirian di teras selama setengah jam, sambil sesekali berteriak SATU LAGI, PAK BAGAS! ke arah pintu yang tertutup. Anjani menonton dari kursinya dengan cangkir teh tubruk di tangan.
Setelah setengah jam, Coach Rudi menggulung matrasnya, berdiri, menghormat kepada Anjani dengan dua jari di dahi, dan pergi.
Pak Kumis tidak datang. Pak Kumis hanya mengirim bakso. Setiap malam jam tujuh lewat tiga puluh, seorang tukang ojek mengantar dua bungkus bakso urat ke teras kami. Satu untuk kursi rotan. Satu untuk di balik pintu.
Hari kesembilan, Ibu yang bicara.
Bukan operasi. Bukan Tim Sukses. Hanya Ibu.
Jam delapan lewat dua puluh, Anjani sudah pulang. Aku masih duduk di sofa ruang tamu, menatap kursi rotan kosong di balik jendela buram dan cangkir teh kosong di meja kecil di sebelahnya. Ibu datang dari dapur, duduk di sebelahku, dan menyodorkan segelas teh manis.
Teh manis biasa. Teh celup dengan dua sendok gula. Teh yang Ibu buat untukku setiap malam sejak aku SD.
Aku menerimanya.
“Gas,” kata Ibu.
“Iya, Bu.”
“Kamu ingat waktu kamu kelas lima?”
Aku menatap Ibu.
“Ayah dinas,” kata Ibu pelan. “Berminggu-minggu. Ibu masak tiap malam, nyisain satu piring. Terus pagi-pagi Ibu buang.” Ibu tersenyum kecil. “Kamu kira Ibu nggak tahu kamu lihat?”
Aku tidak menjawab.
“Ibu tahu, Gas,” kata Ibu. “Ibu lihat kamu berdiri di pintu dapur. Ibu lihat muka kamu. Terus besoknya, kamu mulai pulang sekolah tepat waktu. Nggak main. Nggak mampir. Langsung pulang. Sampai sekarang.”
Ibu menatap tangannya di pangkuan.
“Ibu nggak pernah bilang apa-apa,” lanjutnya. “Karena Ibu seneng. Ibu seneng ada yang selalu pulang. Ibu egois, Gas. Ibu biarin kamu tumbuh jadi laki-laki yang mikir tugasnya di dunia ini cuma satu. Pulang. Buat Ibu. Buat Ayah. Buat Nisa.”
“Bu, itu bukan ...”
“Dengerin Ibu dulu.”
Aku diam.
Ibu menoleh dan menatapku. Matanya basah, tapi suaranya tidak bergetar.
“Kamu selalu pulang ke rumah ini,” kata Ibu. “Sembilan tahun. Nggak pernah telat. Ibu bangga. Ibu bangga banget, Gas.”
Ia meletakkan tangannya di atas tanganku.
“Tapi pernah nggak,” kata Ibu, “kamu pulang ke dirimu sendiri?”
Aku menatap Ibu. Lalu menatap jendela buram, kursi rotan yang kosong, lampu teras yang baru, cangkir teh kosong.
Aku tidak punya jawaban.
“Kamu kasih semua tabunganmu buat orang yang mungkin bakal ngambil dia dari kamu,” kata Ibu. “Kamu duduk di dalam, dia duduk di luar, sembilan malam. Kamu bikin teh, terus kamu dorong pakai tangan dari balik pintu kayak ngasih makan kucing.” Ibu menggeleng pelan. “Gas, kamu itu bukan laki-laki baik. Kamu itu laki-laki yang takut.”
Itu kalimat yang paling menyakitkan yang pernah Ibu ucapkan kepadaku. Dan Ibu mengucapkannya dengan suara yang paling lembut.
“Takut apa, Bu?”
“Takut milih sesuatu buat dirimu sendiri,” kata Ibu. “Karena kalau kamu milih, terus kamu kehilangan, kamu nggak punya alasan lagi. Kamu nggak bisa bilang saya cuma nurut. Kamu nggak bisa bilang saya cuma pulang.”
Ibu meremas tanganku.
“Ibu nggak nyuruh kamu keluar sekarang,” katanya. “Ibu ngerti kenapa kamu nunggu. Kamu nunggu kepastian. Itu benar. Itu adil.” Ia tersenyum. “Tapi waktu kepastiannya datang, apa pun itu, kamu jangan sembunyi di balik pintu lagi. Kamu keluar. Kamu pilih. Buat kamu sendiri.”
Malam kesepuluh adalah malam terakhir sebelum penerbangan medis itu tiba.
Ia datang jam tujuh lewat lima belas. Seperti biasa. Ia duduk di kursi rotan. Aku menyalakan lampu teras.
Aku membuat dua cangkir teh tubruk.
Aku membuka pintu depan. Aku tidak berjongkok kali ini. Aku keluar. Aku berjalan di atas keramik teras, membawa dua cangkir dengan piring penutup di atasnya, dan ia mendongak dan menatapku dengan mata yang melebar.
Aku tidak duduk di sebelahnya. Aku meletakkan satu cangkir di meja kecil di sebelah kursinya. Lalu aku menarik kursi plastik dari ujung teras, kursi yang biasa dipakai Ayah untuk memotong kuku, dan meletakkannya di seberang meja kecil itu. Dengan meja di antara kami. Satu meter. Bukan tiga.
Aku duduk.
Kami tidak bicara. Kami minum teh. Pahit dan wangi, dengan manis samar yang datang dari melatinya sendiri.
Besok jam sepuluh pagi, sebuah pesawat medis akan mendarat di Cengkareng. Besok jam sepuluh pagi, pintu itu akan terbuka, dan kami semua akan tahu.
Jam delapan lewat sepuluh, ia meletakkan cangkirnya.
“Mas,” katanya.
“Hm?”
“Besok Mas ikut?”
“Ikut.”
“Mas berdiri di mana?”
Aku memikirkannya. Aku sudah memikirkannya sepanjang minggu.
“Di belakang,” kataku. “Paling belakang.”
Ia mengangguk pelan. Ia tidak protes. Ia mengerti.
Lalu ia berdiri, mengambil payung transparannya dari tiang teras, dan berjalan ke pagar. Di pagar, ia berhenti. Ia menoleh.
“Mas,” katanya. “Saya bakal nyari Mas.”
“Di mana?”
“Di belakang,” katanya. “Paling belakang.”
Lalu ia pergi.
Aku duduk di kursi plastik Ayah sampai jam sembilan, menatap kursi rotan yang kosong dan dua cangkir teh di meja kecil, satu di depanku, satu di depan kursinya, dua-duanya kosong. Lampu teras menyala kuning di atas kepalaku.
Aku tidak mematikannya malam itu. Aku membiarkannya menyala sampai pagi.
- 1 Jam Tujuh
- 2 Janji Arisan
- 3 Pertemuan Pertama
- 4 Tameng
- 5 Krisan Putih
- 6 Bekal Gosong
- 7 Calon Saya
- 8 Rencana Hujan
- 9 Jangan Korbankan Hidupmu
- 10 Sup Hari Kamis
- 11 Pasien Paling Bandel
- 12 Mas Lulus
- 13 Cemburu pada Orang Baik
- 14 Izin
- 15 Undangan yang Tidak Menyebut Namaku
- 16 Langkah Kuda
- 17 Persiapan Rahasia
- 18 Sekali, Umur Dua Tahun
- 19 Masih Tameng?
- 20 Bukan
- 21 Cincin
- 22 Mawar Kuning
- 23 Bukan yang Ditunggu
- 24 Administrasi Kepulangan
- 25 Maju Dua Langkah
- 26 Lampu Teras reading
- 27 Pintu Kedatangan
- 28 Catatan Terakhir
- 29 Kiriman Tanpa Nama
- 30 Krisan Putih, Kali Ini Benar
- 31 Restu
- 32 Janda Tahu Caranya
- 33 Bukan Pengganti
- 34 Proyek A, Versi Final
- 35 Malam Tanpa Jam Tujuh
- 36 Selamat Datang Pulang
- 37 Malam Pertama
- 38 Laporan Bulanan
- 39 Jam Tujuh, ke Rumah Kita
- 40 Proyek B
- 41 Epilog — Hujan