Chapter Eighteen
Sekali, Umur Dua Tahun
POV: Bagas
Sabtu pagi, gudang Cibinong hanya buka setengah hari, dan aku sedang memeriksa laporan bongkar muat ketika satpam meneleponku dari pos depan.
“Pak Bagas, ada tamu. Namanya Fadhil. Katanya adiknya ... adiknya ...” Pak Satpam terdengar ragu. “Katanya adiknya almarhum suaminya Neng Anjani, Pak.”
Aku meletakkan laporan.
Pak Satpam, aku baru ingat, ada di grup WhatsApp itu. Tim Sukses. Ia pasti tahu siapa Anjani. Ia mungkin tahu lebih banyak dariku.
“Suruh naik, Pak.”
Fadhil masuk ke ruanganku dengan langkah yang sangat hati-hati, seperti orang yang masuk ke masjid asing. Ia memakai kemeja batik lengan pendek dan celana bahan, dan ia membawa sebuah kotak kardus kecil yang dibungkus plastik hitam.
“Assalamualaikum, Mas.”
“Waalaikumsalam. Duduk, Dhil.”
Ia duduk di kursi di depan mejaku. Ia meletakkan kotak kardus itu di atas meja, di antara kami, lalu mendorongnya pelan ke arahku.
“Ini dari Ibu,” katanya. “Rendang. Ibu bilang, kalau ketemu Mas, kasih ini.”
Aku menatap kotak itu. Lalu menatap Fadhil. Ia masih muda, dua puluh tujuh, tiga tahun lebih muda dariku. Wajahnya mirip laki-laki di foto di rak studio Anjani: alis tebal yang sama, hidung yang sama. Tapi matanya berbeda. Mata Fikri di foto itu tertawa. Mata Fadhil sekarang gugup, dan di bawah gugupnya, ada sesuatu yang kelihatan seperti lega.
“Terima kasih, Dhil. Sampaikan terima kasih saya ke Ibu.”
“Iya, Mas.” Ia menunduk sebentar, menatap tangannya di pangkuan. Lalu ia mengangkat kepala. “Mas, saya ke sini sebenarnya mau bilang terima kasih juga.”
“Terima kasih buat apa?”
Fadhil menarik napas panjang. Ia terlihat seperti orang yang sudah menyusun kalimat ini berhari-hari, mungkin di depan cermin, mungkin di kamar mandi, dan sekarang takut lupa.
“Mas tahu kan,” katanya, “soal rencana keluarga saya? Soal setelah seribu harinya Mas Fikri?”
Aku tidak tahu. Tapi Fadhil tidak menunggu jawabanku.
“Ibu sama Bapak mau saya nikah sama Mbak Anjani,” lanjutnya cepat, seperti mencabut plester. “Setelah seribu hari. Biar Mbak tetap jadi keluarga. Turun ranjang, istilahnya.”
Aku diam.
Ruanganku tiba-tiba terasa sangat sunyi. Di luar jendela kaca, aku bisa melihat lantai gudang di bawah: forklift yang bergerak pelan, tumpukan kardus, anak-anak gudang yang tertawa di dekat dispenser air. Tapi suara mereka tidak sampai ke sini. Yang sampai hanya suara AC yang berdengung dan suara Fadhil, yang terus berbicara, pelan dan gugup dan sangat tulus.
“Saya sayang sama Mbak Anjani, Mas,” katanya. “Tapi bukan begitu. Mbak itu kakak saya. Dari saya SMA, dia yang ngajarin saya fisika. Saya nggak bisa.” Ia menelan ludah. “Tapi saya juga nggak bisa bilang nggak ke Ibu. Ibu sudah kehilangan Mas Fikri. Saya nggak mau Ibu kehilangan lagi.”
Aku mengangguk pelan. Aku tidak tahu apa yang kuanggukkan.
“Terus Mbak bilang di depan keluarga besar,” lanjut Fadhil, dan wajahnya mulai cerah, “bahwa Mbak sudah punya calon. Bude Ningsih sampai diam, Mas. Bude Ningsih nggak pernah diam.”
Aku tersenyum sedikit. Aku membayangkan Anjani berdiri di ruang tamu yang penuh orang, dengan senyum sopan yang ia pelajari dari ibunya, mengatakan saya sudah punya calon. Aku membayangkan diriku sendiri duduk di depan minimarket di ujung gang, minum kopi keempat, tidak tahu apa yang terjadi.
“Terus Ibu,” kata Fadhil, suaranya melembut, “Ibu yang belain Mbak. Ibu bilang, Ibu sudah ketemu orangnya, orangnya baik.” Ia menatapku. “Itu Mas. Ibu ngomongin Mas.”
Aku tidak bisa menjawab.
“Jadi saya mau terima kasih, Mas,” kata Fadhil. Ia mencondongkan badan ke depan, kedua tangannya di atas meja, di sebelah kotak rendang. “Karena Mas ada. Karena Mas mau. Kalau Mas nggak ada, Mbak nggak punya nama buat disebut. Kalau Mbak nggak punya nama buat disebut, saya ...”
Ia berhenti. Ia menggeleng.
“Pokoknya, terima kasih.”
Aku seharusnya mengucapkan sama-sama. Aku seharusnya mengantarnya ke pintu, menitipkan salam untuk ibunya, lalu kembali ke laporan bongkar muat. Itu yang dilakukan orang normal.
Tapi sesuatu di kalimat Fadhil tersangkut di kepalaku, seperti kardus yang tersangkut di ban berjalan.
Nama buat disebut.
“Dhil,” kataku pelan.
“Iya, Mas?”
“Waktu Anjani bilang di depan keluarga besar. Dia bilang apa persisnya?”
Fadhil mengerutkan kening sebentar, mengingat. “Mbak bilang sudah punya calon. Terus Bude Ningsih tanya calon siapa, waktu Mbak sudah pulang. Terus Ibu bilang ...” Ia tersenyum. “Ibu bilang kalian sudah dijodohin dari kecil. Anak sahabat ibunya Mbak. Sejak bayi. Makanya Ibu nggak bisa maksa. Ibu bilang, masa kita mau ngerebut yang sudah dijanjiin orang lain.”
Fadhil tertawa kecil. Ia tidak melihat wajahku.
“Saya nggak tahu ternyata kalian sudah dijodohin sejak kecil, Mas,” katanya. “Romantis banget. Kayak di film.”
Aku menatap mejaku. Aku menatap kotak rendang. Aku menatap tanganku sendiri, yang tiba-tiba terasa dingin.
“Dhil,” kataku. “Kami ketemu sekali.”
Fadhil berhenti tersenyum. “Hah?”
“Waktu kecil. Kami ketemu sekali. Di arisan.” Suaraku keluar datar, sangat datar, seperti suara yang dipakai untuk membaca laporan stok. “Saya umur dua tahun. Dia umur satu. Dia rebut biskuit saya. Saya nangis. Ada fotonya.”
Fadhil menatapku.
“Habis itu kami nggak pernah ketemu lagi,” lanjutku. “Dua puluh delapan tahun. Ibu saya sama ibunya bahkan nggak pernah kontak lagi. Ibunya ganti nomor tiga kali. Baru dua bulan lalu ibunya nelepon ibu saya. Tiba-tiba. Minta saya ketemu anaknya.”
Wajah Fadhil berubah.
Aku melihatnya berubah, dan rasanya seperti menonton seseorang yang perlahan menyadari bahwa ia baru saja menginjak sesuatu yang rapuh. Dari bingung, ke tidak percaya, ke pucat. Mulutnya terbuka sedikit. Tangannya, yang tadi di atas meja, perlahan ditarik kembali ke pangkuan.
“Mas,” bisiknya. “Mas ... nggak tahu?”
Ia menceritakan semuanya. Tidak dengan sengaja. Tidak dengan niat buruk. Fadhil bukan orang yang bisa berniat buruk. Ia hanya terlalu jujur dan terlalu panik, dan setiap kalimat yang ia ucapkan untuk memperbaiki keadaan justru membuka satu pintu lagi.
Bahwa Ibu mertua Anjani menelepon tiga bulan lalu, menyampaikan rencana setelah seribu hari.
Bahwa Anjani tidak bisa menolak. Bahwa ia terlalu sayang pada ibu mertuanya untuk mengatakan tidak.
Bahwa ibu Anjani yang punya ide. Bahwa dijodohkan sejak kecil adalah alasan yang paling sopan untuk menolak tanpa menyakiti siapa pun.
Bahwa semuanya sudah direncanakan sebelum aku duduk di kafe dekat Kebun Raya itu.
“Mas, saya kira Mas tahu,” kata Fadhil. Suaranya bergetar. “Sumpah, Mas. Saya kira Mas tahu dari awal. Saya kira Mas setuju bantu Mbak.”
Aku tidak menjawab.
Aku sedang memikirkan hal-hal kecil. Hal-hal yang dulu tidak kupahami dan sekarang tiba-tiba sangat jelas, seperti potongan teka-teki yang langsung pas begitu kau melihat gambar di kotaknya.
Bu Sri di dapur rumahku, berbisik kepada Ibu: ada hal lain. Nanti aku cerita. Pokoknya secepatnya.
Pak Hendra di teras rumahku, mengikat tali sepatu: anak saya pernah ... ah, sudahlah. Biar dia cerita sendiri.
Pak Hendra di atas papan catur, satu minggu lalu: ada satu hal lagi. Yang soal ... ah, nanti saja.
Ibu, waktu aku pulang dari kafe dan bertanya soal toko bunga hijau sage: Ibu tidak terkejut. Ibu sudah tahu alamatnya.
Bu Sri, malam setelah aku kalah catur, menutup mulutnya dengan tangan: Mas Hendra memang begitu. Calon menantunya dulu juga dikalahin.
Dan Anjani. Anjani di ruang tamu rumahnya, dengan keluarga Ramadhan duduk di sofa, menyelipkan tangan ke lenganku dan berkata ini calon saya, Bu. Lalu di teras, sesudahnya, berkata maaf. Ada alasannya. Dan aku bilang saya bisa nunggu.
Aku bilang aku bisa nunggu.
Aku tidak pernah bertanya nunggu apa.
“Mas?” Suara Fadhil terdengar jauh. “Mas, maaf. Saya ... saya nggak bermaksud ...”
“Nggak apa-apa, Dhil.”
“Mas, Mbak Anjani nggak jahat. Mbak itu ...”
“Saya tahu.” Aku mengangkat kepala dan menatapnya. Aku tersenyum. Aku tidak tahu senyum macam apa yang muncul di wajahku, tapi Fadhil melihatnya dan wajahnya semakin pucat. “Saya tahu dia nggak jahat.”
“Mas mau marah sama dia?”
Aku memikirkan pertanyaan itu. Aku benar-benar memikirkannya. Aku menunggu kemarahan datang, seperti menunggu truk yang terlambat di gerbang gudang. Kemarahan itu tidak datang.
Yang datang adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dingin dan lebih pelan, yang mulai di perut dan naik perlahan ke dada, seperti air yang mengisi lambung kapal.
“Nggak,” kataku. “Saya nggak marah.”
Fadhil menatapku lama. Ia sepertinya tidak percaya. Aku juga tidak sepenuhnya percaya.
Ia pamit sepuluh menit kemudian. Di ambang pintu ruanganku, ia berhenti dan menoleh.
“Mas,” katanya. “Satu lagi.”
“Apa, Dhil?”
“Waktu Mbak bilang Mas calonnya. Di depan Bude Ningsih. Saya lihat wajahnya.” Fadhil menelan ludah. “Itu nggak kayak orang bohong, Mas. Itu kayak orang yang lagi ngomong sesuatu yang dia sendiri baru sadar.”
Lalu ia pergi.
Aku duduk di ruanganku sampai jam dua belas, sampai gudang tutup, sampai anak-anak gudang pulang satu per satu dan menyapaku di depan pintu ruanganku yang terbuka. Duluan, Pak. Duluan, Bos. Aku menjawab mereka satu per satu. Aku tidak ingat apa yang kujawab.
Tomi berhenti di ambang pintu. Ia menatapku. Ia menatap kotak rendang yang belum kusentuh.
“Bos?”
“Hm?”
“Bos kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
Tomi tidak bergerak. Ia sudah sembilan tahun bekerja denganku. Ia tahu nggak apa-apa yang mana yang berarti nggak apa-apa, dan yang mana yang berarti forklift tiga baru saja jatuh dari lantai dua.
“Bos,” katanya pelan. “Mau saya temenin?”
“Nggak usah, Tom. Pulang.”
Tomi menatapku sebentar lagi. Lalu ia mengangguk dan pergi. Tapi lima menit kemudian, aku melihat ponselku menyala di meja dengan notifikasi grup. Grup yang aku tidak tahu aku ada di dalamnya, karena seseorang baru saja menambahkan nomorku.
Tim Sukses.
Tomi: Bos kenapa-napa. Ada yang tahu?
Pak Satpam: Tadi ada tamu. Adiknya almarhum.
Neng Nisa (adik Aa): HAH
Neng Nisa (adik Aa): Fadhil???
Neng Nisa (adik Aa): Mas Tomi tolong jangan biarin Mas Bagas nyetir sendirian
Tomi: Neng, ini grupnya ada Bos-nya. Barusan ditambahin.
Tomi: Siapa yang nambahin?
Pak Kumis: maaf, salah pencet
Aku mematikan ponsel.
Jam empat sore, aku menjemput Anjani di studio. Kami sudah janji, sejak hari Kamis, untuk makan malam di warung tenda nasi uduk di dekat Taman Kencana, jam lima, sebelum aku pulang jam tujuh.
Aku tidak membatalkannya. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku tidak pernah membatalkan janji. Mungkin karena aku ingin melihat wajahnya. Mungkin karena sebagian dari diriku berharap Fadhil salah, bahwa ada penjelasan lain, bahwa semua potongan teka-teki itu sebenarnya membentuk gambar yang berbeda.
Ia keluar dari studio dengan blus biru muda dan rok krem. Rambutnya digerai. Ia tersenyum lebar begitu melihat mobilku.
Senyum itu membuatku lupa cara bernapas, sama seperti setiap kali.
Lalu senyum itu berubah. Pelan. Waktu ia sampai di samping mobil, waktu ia membungkuk untuk melihatku melalui kaca jendela, senyumnya memudar dan matanya menyipit, tapi bukan menyipit karena tertawa.
“Mas?”
Aku keluar dari mobil. Aku berjalan memutar ke sisi penumpang. Aku membukakan pintu untuknya.
Itu hal kecil. Aku sudah melakukannya puluhan kali. Tapi hari ini aku melakukannya dengan sangat hati-hati, seperti membuka pintu untuk tamu di acara resmi. Sopan. Benar. Tanpa menyentuhnya.
Ia menatapku lama. Ia tidak masuk.
“Mas kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Mas.”
“Masuk dulu. Nanti kemalaman.”
Ia masuk. Aku menutup pintunya. Aku berjalan kembali ke sisi pengemudi. Di seberang jalan, Pak Kumis berdiri di samping gerobaknya dengan sendok sayur di tangan, menatapku. Ia tidak tersenyum.
Kami makan nasi uduk di bawah tenda. Ia bercerita tentang pesanan bunga. Aku mendengarkan. Aku mengangguk. Aku menjawab oh dan iya dan bagus di tempat yang tepat.
Ia berhenti bercerita di tengah kalimat.
“Mas,” katanya pelan. “Kamu kenapa?”
“Capek.”
“Bohong.”
Aku menatap piring nasi udukku. Aku belum menyentuhnya.
“Mas, kalau ada apa-apa ...”
“Nanti,” kataku. “Nanti saya cerita.”
Ia menatapku. Aku melihat sesuatu bergerak di matanya. Pengenalan. Seperti orang yang mendengar kalimatnya sendiri diucapkan kembali kepadanya.
Nanti. Biar dia cerita sendiri. Itu haknya.
Ia tidak bertanya lagi.
Aku mengantarnya pulang jam enam. Aku membukakan pintu mobil untuknya. Ia keluar. Ia berdiri di samping mobil, di depan pagar rumahnya, dan menatapku dengan wajah yang membuatku ingin menceritakan semuanya saat itu juga, di jalan, di depan pagar.
Tapi aku tidak bisa. Aku belum tahu apa yang mau kukatakan. Aku belum tahu apa yang kurasakan. Aku hanya tahu ada air dingin yang terus naik di dadaku, dan aku harus sampai di rumah sebelum air itu sampai ke tenggorokan.
“Hati-hati di jalan, Mas,” katanya.
“Iya.”
“Mas.”
“Iya?”
Ia membuka mulutnya. Lalu menutupnya. Lalu ia hanya menggeleng pelan dan masuk ke balik pagar.
Aku menunggu sampai pintu rumahnya tertutup, seperti biasa.
Lalu aku masuk ke mobil, menyalakan mesin, dan duduk di sana dengan kedua tangan di kemudi, posisi jam sepuluh dan jam dua, menatap jalan kompleks yang mulai gelap.
Aku tidak menangis. Laki-laki tiga puluh tahun tidak menangis di mobil di depan rumah perempuan.
Aku hanya duduk di sana sampai jam enam lewat dua puluh. Lalu aku menyetir pulang, pelan, sangat pelan, dan aku sampai di rumah jam tujuh tepat.
Tidak kurang satu menit. Tidak lebih satu menit.
Tepat.
- 1 Jam Tujuh
- 2 Janji Arisan
- 3 Pertemuan Pertama
- 4 Tameng
- 5 Krisan Putih
- 6 Bekal Gosong
- 7 Calon Saya
- 8 Rencana Hujan
- 9 Jangan Korbankan Hidupmu
- 10 Sup Hari Kamis
- 11 Pasien Paling Bandel
- 12 Mas Lulus
- 13 Cemburu pada Orang Baik
- 14 Izin
- 15 Undangan yang Tidak Menyebut Namaku
- 16 Langkah Kuda
- 17 Persiapan Rahasia
- 18 Sekali, Umur Dua Tahun reading
- 19 Masih Tameng?
- 20 Bukan
- 21 Cincin
- 22 Mawar Kuning
- 23 Bukan yang Ditunggu
- 24 Administrasi Kepulangan
- 25 Maju Dua Langkah
- 26 Lampu Teras
- 27 Pintu Kedatangan
- 28 Catatan Terakhir
- 29 Kiriman Tanpa Nama
- 30 Krisan Putih, Kali Ini Benar
- 31 Restu
- 32 Janda Tahu Caranya
- 33 Bukan Pengganti
- 34 Proyek A, Versi Final
- 35 Malam Tanpa Jam Tujuh
- 36 Selamat Datang Pulang
- 37 Malam Pertama
- 38 Laporan Bulanan
- 39 Jam Tujuh, ke Rumah Kita
- 40 Proyek B
- 41 Epilog — Hujan