Chapter Thirty Two
Janda Tahu Caranya
POV: Anjani
Satu minggu setelah restu, cincin itu masih di saku kemejanya.
Aku menghitung. Senin, cincinnya di saku kemeja biru. Selasa, kemeja putih. Rabu, kemeja abu-abu. Kamis, aku tidak bisa melihat karena ia memakai jaket. Jumat, kemeja biru lagi. Setiap hari, lingkaran kecil itu menonjol di balik kain di dada kirinya, dan setiap hari jari manis tangan kirinya kosong.
Ia masih datang setiap Selasa dan Kamis malam. Ia masih membuat teh tubruk di dapur Mama. Ia masih mengirim pesan setiap pagi jam enam. Ia menggenggam tanganku di makam. Ia tertawa sampai membungkuk di bawah pohon mangga.
Tapi ia tidak memakai cincinnya. Dan ia tidak bilang apa-apa soal lamaran.
Laki-laki itu sedang menahan sesuatu. Aku tidak tahu apa. Aku tahu dari cara ia menatap tanganku waktu kami minum teh di teras, lalu buru-buru membuang muka. Aku tahu dari cara ia membuka mulut, seperti mau mengatakan sesuatu, lalu menutupnya dan menyesap teh lagi.
Mama bilang, sabar, Jan, dia butuh waktu.
Tante Ratih bilang, anak itu memang lambat, Nak, dari kecil, waktu belajar sepeda aja dua tahun.
Nisa bilang, lewat pesan langsung jam sebelas malam: Kak, aku udah nggak kuat. Kakak harus maju. MAJU KAK.
Aku memikirkan semuanya. Lalu aku memikirkan kalimatku sendiri, di dapur keluarga Adinegara, dengan map cokelat di tangan dan air mata di pipi.
Kalau Mas mundur satu langkah, saya maju dua.
Ia tidak sedang mundur. Tapi ia juga tidak sedang maju.
Itu sama saja.
Hari Senin, aku membuka studio jam enam pagi dan menutupnya jam sebelas siang.
Aku membuat bekal. Bukan sup ayam. Nasi bakar isi cakalang, yang kubungkus daun pisang dan kupanggang di atas teflon sampai daunnya sedikit gosong. Gosong yang disengaja. Perkedel jagung. Sambal matah. Satu kotak kecil potongan semangka, karena di kantor gudang Cibinong, kata Tomi, AC-nya sering mati.
Aku berganti baju. Blus putih dan rok hijau zaitun. Pakaian kafe itu. Pakaian di hari aku menjawab bukan di meja makan keluarganya.
Aku tidak menggelung rambut. Aku menggerainya.
Lalu aku menyetir ke Cibinong.
Kantor PT Lintas Nusa Logistik cabang Cibinong adalah sebuah gudang besar beratap seng dengan bangunan kantor dua lantai menempel di sisinya, seperti kotak sepatu yang diselotip ke kardus kulkas. Halaman depannya penuh truk. Pos satpamnya kecil, bercat biru, dengan seorang bapak berkumis tipis di dalamnya.
Bapak itu melihatku turun dari mobil, membawa rantang, dan berdiri begitu cepat sampai kursinya terguling.
“Neng Anjani!”
Aku belum pernah bertemu Pak Satpam. Tapi ia ada di grup itu. Semua orang di grup itu tahu wajahku, karena Nisa mengirim foto-fotoku ke sana tanpa izin, dengan keterangan seperti Kak Anjani hari ini cantik banget, Mas Bagas kayaknya mau pingsan atau ini Kak Anjani pas ngetawain Mas Bagas, liat matanya.
“Pak,” kataku. “Mas Bagas ada?”
“Ada, Neng! Di atas! Lagi rapat!” Pak Satpam merapikan seragamnya dengan panik. “Mau saya panggilin?”
“Nggak usah, Pak. Saya naik aja.”
Pak Satpam menatapku. Lalu menatap rantang di tanganku. Lalu, perlahan, ia tersenyum lebar di balik kumis tipisnya, dan mengeluarkan ponselnya.
Aku tidak perlu melihat layarnya untuk tahu ia sedang mengetik di grup apa.
Ruang rapatnya di lantai dua, berdinding kaca. Dari lorong, aku bisa melihat ke dalam: meja panjang, dua belas kursi, papan tulis putih penuh angka dan garis-garis rute, layar proyektor yang menampilkan grafik batang berwarna biru.
Dan Bagas, berdiri di depan papan tulis dengan spidol di tangan, menjelaskan sesuatu kepada sebelas laki-laki dan dua perempuan berseragam polo yang duduk di sekeliling meja.
Ia tidak melihatku.
Aku berdiri di lorong, di balik kaca, dan menontonnya.
Aku belum pernah melihatnya bekerja. Aku pernah melihatnya memasak, dengan wajah serius dan tutup panci di tangan Tante Ratih seperti perisai. Aku pernah melihatnya bermain catur, dengan dahi berkerut. Aku pernah melihatnya membersihkan nisan, huruf demi huruf. Tapi aku belum pernah melihatnya di sini, di tempat ia menghabiskan sembilan tahun hidupnya.
Ia berbeda di sini.
Punggungnya tegak. Suaranya, yang tidak bisa kudengar dari balik kaca, terlihat mantap dari cara orang-orang di sekeliling meja mengangguk. Tangannya bergerak cepat dan pasti di papan tulis, menggambar garis, menulis angka, melingkari sesuatu. Tidak ada gemetar. Tidak ada kuping merah. Ia menunjuk seseorang di ujung meja dan mengatakan sesuatu, dan orang itu langsung menulis di bukunya.
Laki-laki yang memegang sendok terbalik dua kali di kafe dekat Kebun Raya. Di sini, ia memimpin.
Aku merasakan sesuatu yang hangat menyebar dari dadaku ke perutku. Sesuatu yang bukan rindu, bukan sayang, tapi sesuatu yang lebih tua dan lebih sederhana dari keduanya.
Aku tertarik padanya.
Bukan pada laki-laki baik yang meminta izin di makam. Bukan pada laki-laki yang memayungi semua orang di parkiran rumah sakit. Pada laki-laki ini. Yang berdiri di depan papan tulis dengan lengan kemeja digulung sampai siku dan urat-urat di lengan bawahnya yang terlihat setiap kali ia menulis. Yang bahunya, sekarang, setelah tiga bulan ke gym jam lima pagi dengan Coach Rudi, mengisi kemeja putihnya dengan cara yang berbeda dari kemeja biru muda pertama dulu.
Aku janda. Aku sudah pernah menikah. Aku tahu persis apa yang sedang kurasakan.
Aku tersenyum ke kaca.
Salah satu perempuan di meja rapat melihatku lebih dulu. Ia menyikut laki-laki di sebelahnya. Laki-laki itu menyikut yang lain. Dalam sepuluh detik, dua belas kepala menoleh ke arah lorong.
Lalu kepala ketiga belas.
Bagas berhenti di tengah kalimat. Spidol di tangannya berhenti di tengah garis. Ia menatapku melalui kaca, dan aku melihat wajahnya berubah dalam tiga tahap yang sangat cepat. Bingung. Panik. Merah.
Aku melambai dengan ujung jari.
Ia menjatuhkan spidolnya.
Di ujung meja, Tomi, yang duduk di kursi paling dekat pintu, menutup wajahnya dengan buku catatan dan bahunya mulai bergetar.
Rapat itu selesai lima menit kemudian. Lebih cepat dari jadwal, kata Tomi belakangan, sekitar empat puluh menit lebih cepat. Bagas menutupnya dengan satu kalimat, yang menurut Tomi adalah “Oke. Sudah. Sisanya email.”, sesuatu yang belum pernah ia ucapkan selama sembilan tahun.
Orang-orang keluar dari ruang rapat satu per satu. Setiap orang yang lewat di depanku tersenyum, atau mengangguk, atau, dalam kasus dua perempuan berseragam polo itu, berbisik dengan sangat tidak pelan, ya ampun, cantik banget, pantesan Pak Bagas sekarang pulang tepat waktu terus.
Bagas keluar terakhir. Ia berhenti di depanku. Kupingnya merah tua. Lehernya merah. Ada noda spidol hitam di jari telunjuknya.
“Kamu ngapain di sini?” tanyanya. Suaranya rendah, seperti orang yang takut ketahuan.
“Antar makan siang.” Aku mengangkat rantang.
“Ke kantor?”
“Mas pernah antar ke studio saya. Gantian.”
Ia menatap rantang itu. Lalu menatapku. Lalu menatap lorong, tempat setidaknya lima orang sedang pura-pura membaca papan pengumuman yang sama.
“Ruangan saya,” katanya cepat. “Ayo.”
Ruangannya kecil. Meja kerja, dua kursi, rak arsip, jendela kaca besar yang menghadap ke lantai gudang di bawah. Di jendela itu, aku bisa melihat forklift yang bergerak pelan dan tumpukan kardus dan anak-anak gudang yang semuanya, tanpa terkecuali, sedang menengok ke atas.
Bagas menutup tirai jendela. Lalu membukanya lagi, karena ia sadar menutup tirai dengan perempuan di dalam ruangan akan terlihat lebih buruk. Lalu menutupnya setengah.
Aku tidak duduk di kursi tamu.
Aku meletakkan rantang di atas mejanya, lalu duduk di tepi meja kerjanya. Di sudutnya. Di sebelah tumpukan map yang disusun berdasarkan warna. Rok hijau zaitunku jatuh di atas tepi meja, dan kakiku menggantung, tidak sampai ke lantai.
Bagas berdiri di depanku. Ia menatapku duduk di mejanya seperti menatap forklift yang diparkir di tempat yang salah.
“Itu meja kerja,” katanya.
“Saya tahu.”
“Itu ... ada laporan di situ.”
Aku melirik ke bawah. Aku sedang duduk di atas laporan bongkar muat bulan ini. Aku tidak bergeser.
“Mas,” kataku.
“Iya?”
“Dasinya miring.”
Ia tidak memakai dasi tadi pagi. Aku tahu, karena aku melihat fotonya di grup, dikirim Pak Satpam jam tujuh lewat lima: Pak Bagas datang. Kemeja putih. Belum pake dasi. Kayaknya rapat. Tapi sekarang ia memakai dasi. Dasi biru tua, yang ia pakai untuk rapat. Dan dasinya memang tidak miring.
Ia menunduk dan menatap dasinya.
Aku mengulurkan tangan dan meraih dasi itu. Pelan. Aku menariknya sedikit, cukup untuk membuatnya melangkah setengah langkah lebih dekat. Sekarang ia berdiri tepat di depan lututku, di antara meja dan kursi, dengan aku yang duduk di tepi meja dan wajahku hampir sejajar dengan dadanya.
Aku merapikan dasinya. Simpulnya dulu. Aku melonggarkannya sedikit, lalu mengencangkannya lagi, pelan, dengan dua tangan. Lalu aku merapikan kerahnya. Sisi kiri. Sisi kanan. Sisi kiri lagi. Seperti di studio, pertama kali, dengan mawar kuning di sakunya.
Lebih lama dari yang diperlukan. Jauh lebih lama.
Aku bisa merasakan napasnya di atas kepalaku. Napasnya pendek dan tidak teratur.
“Rapatnya tadi selesai cepat,” kataku pelan, masih memegang kerahnya, tidak menatap matanya.
“Iya.”
“Kenapa?”
Ia tidak menjawab.
Aku mengangkat mataku dan menatapnya dari bawah. Dekat. Sangat dekat.
“Rapat berikutnya jam berapa, Mas?”
“Jam ... jam dua.”
“Selesai jam berapa?”
“Jam empat. Mungkin.”
Aku menurunkan tanganku dari kerahnya ke dasinya, lalu ke dadanya. Telapak tanganku rata di atas kemeja putih, tepat di atas saku kiri. Tepat di atas cincin emas putih yang ia simpan di sana. Aku bisa merasakan bentuknya di bawah kain. Lingkaran kecil, keras, hangat.
Dan di bawahnya, jantungnya. Berdetak seperti genset gudang yang dinyalakan saat listrik padam.
“Saya nggak sabar,” bisikku.
Ia menahan napas.
“Nggak sabar nunggu Mas selesai rapat,” kataku. “Nggak sabar nunggu Mas pulang. Nggak sabar nunggu Mas pakai lagi yang di saku ini.”
Aku menekan sedikit, pelan, di atas cincin itu.
“Saya janda, Mas,” kataku. “Saya tahu apa yang saya mau. Saya juga tahu Mas lagi nahan sesuatu. Saya cuma nggak tahu apa.”
Ia menatapku. Matanya bergerak, seperti orang yang mencari jalan keluar dari ruangan yang semua pintunya terkunci.
Lalu, dari balik tirai yang setengah tertutup, dari arah lantai gudang di bawah, terdengar suara orang bersiul. Panjang. Keras. Diikuti suara tepuk tangan.
Bagas memejamkan matanya.
Aku tertawa. Aku melepaskan tanganku dari dadanya, turun dari meja, merapikan rokku, dan membuka tutup rantang.
“Makan dulu, Mas,” kataku. “Nasi bakar. Daunnya gosong sedikit. Sengaja.”
Ia makan. Aku duduk di kursi tamu di depan mejanya, menonton. Ia makan seperti ia melakukan segala hal, pelan dan rapi, tapi ada yang berbeda kali ini. Sesekali ia mengangkat mata dan menatapku, dan setiap kali, ia buru-buru menunduk lagi ke nasi bakarnya, seperti anak SMP yang ketahuan melirik.
Aku tidak bertanya lagi soal apa yang ia tahan. Aku sudah bilang. Aku sudah maju. Sekarang giliran ia.
Jam satu lewat empat puluh, ia mengantarku ke parkiran. Di tangga, kami melewati Tomi, yang berdiri dengan cangkir kopi dan wajah yang sangat serius.
“Mbak,” kata Tomi. “Terima kasih.”
“Buat apa, Mas Tomi?”
“Rapat kita hari ini paling efisien dalam sejarah cabang.” Tomi mengangkat cangkir kopinya seperti bersulang. “Kalau Mbak bisa datang tiap hari, kita bisa hemat empat puluh jam rapat per bulan.”
Bagas menatap Tomi dengan tatapan yang membuat Tomi langsung berbalik dan naik tangga lagi.
Di parkiran, di samping city car putihku, di bawah terik matahari Cibinong jam dua kurang dua puluh, aku berbalik menghadapnya.
Ia berdiri dengan tangan di saku, seperti biasa. Kemeja putihnya sedikit kusut di bagian depan, di tempat tanganku tadi menekan. Dasinya, yang tadi kurapikan, sekarang miring sungguhan.
“Hati-hati di jalan,” katanya.
“Iya, Mas.”
“Terima kasih makan siangnya.”
“Sama-sama.”
Kami berdiri di sana. Ia tidak bergerak. Aku juga tidak.
Di belakangnya, di pos satpam yang bercat biru, Pak Satpam berdiri dengan ponsel di tangan, tidak lagi pura-pura tidak menonton.
Di jendela lantai dua, aku melihat tirai yang setengah tertutup bergerak. Wajah-wajah. Banyak wajah.
Aku melangkah maju.
Aku berjinjit. Aku meletakkan tanganku di bahunya, untuk keseimbangan. Dan aku mencium pipinya.
Pipi kirinya. Pelan. Sebentar. Sedetik, mungkin dua. Kulitnya hangat dan sedikit kasar karena belum bercukur sejak pagi. Aku mencium bau sabun batangan dan sesuatu yang hangat di bawahnya, wangi yang sama seperti kemeja flanel kotak-kotak abu-abu yang masih ada di tempat tidurku setiap malam.
Lalu aku turun dari jinjitku dan mundur satu langkah.
Ia tidak bergerak. Ia sama sekali tidak bergerak. Ia berdiri di parkiran gudang dengan tangan di saku dan mata terbuka lebar dan mulut sedikit terbuka, seperti mesin yang baru saja mati listrik di tengah operasi.
Kupingnya tidak merah. Itu yang paling mengejutkan. Kupingnya tidak merah. Seluruh wajahnya yang merah, dari dahi sampai leher, dalam satu warna yang merata, seperti seseorang menuang cat merah ke kepalanya.
“Mas,” kataku.
Ia tidak menjawab.
“Itu cicilan,” kataku pelan. Aku membuka pintu mobil. “Lunasnya setelah akad.”
Lalu aku masuk ke mobil, menutup pintu, menyalakan mesin, dan menyetir keluar dari parkiran gudang PT Lintas Nusa Logistik cabang Cibinong tanpa menoleh.
Aku menoleh di spion.
Ia masih berdiri di sana. Di tempat yang sama. Dengan tangan yang sekarang tidak lagi di saku, tapi menempel di pipi kirinya.
Di belakangnya, dari arah gudang, aku melihat sesuatu jatuh dari tangga. Sesuatu yang berbentuk manusia, gempal, dengan cangkir kopi di tangan.
Belakangan, di grup, Pak Satpam melaporkan dengan sangat rinci: Mas Tomi kepeleset di tangga. Nggak apa-apa. Kopinya tumpah. Kata Mas Tomi dia hampir pingsan karena “kejadian bersejarah”. Pak Bagas masih berdiri di parkiran. Sudah 7 menit. Belum gerak. Mohon arahan.
Disusul pesan dari Coach Rudi: biarin aja pak, itu namanya cooling down.
- 1 Jam Tujuh
- 2 Janji Arisan
- 3 Pertemuan Pertama
- 4 Tameng
- 5 Krisan Putih
- 6 Bekal Gosong
- 7 Calon Saya
- 8 Rencana Hujan
- 9 Jangan Korbankan Hidupmu
- 10 Sup Hari Kamis
- 11 Pasien Paling Bandel
- 12 Mas Lulus
- 13 Cemburu pada Orang Baik
- 14 Izin
- 15 Undangan yang Tidak Menyebut Namaku
- 16 Langkah Kuda
- 17 Persiapan Rahasia
- 18 Sekali, Umur Dua Tahun
- 19 Masih Tameng?
- 20 Bukan
- 21 Cincin
- 22 Mawar Kuning
- 23 Bukan yang Ditunggu
- 24 Administrasi Kepulangan
- 25 Maju Dua Langkah
- 26 Lampu Teras
- 27 Pintu Kedatangan
- 28 Catatan Terakhir
- 29 Kiriman Tanpa Nama
- 30 Krisan Putih, Kali Ini Benar
- 31 Restu
- 32 Janda Tahu Caranya reading
- 33 Bukan Pengganti
- 34 Proyek A, Versi Final
- 35 Malam Tanpa Jam Tujuh
- 36 Selamat Datang Pulang
- 37 Malam Pertama
- 38 Laporan Bulanan
- 39 Jam Tujuh, ke Rumah Kita
- 40 Proyek B
- 41 Epilog — Hujan