Chapter Twenty Seven

Pintu Kedatangan

POV: Anjani

Pesawat medis tidak mendarat di terminal penumpang. Mbak Rara menjelaskannya di telepon kemarin sore, dengan suara yang sudah terlatih: pesawat itu akan diparkir di area khusus, pasien akan diturunkan dengan tandu, lalu dibawa melalui pintu kedatangan di gedung terminal kargo, tempat ambulans rumah sakit sudah menunggu.

“Keluarga boleh menunggu di ruang tunggu dekat pintu itu,” kata Mbak Rara. “Tapi Mbak, saya mohon. Jangan berharap terlalu banyak. Dan jangan juga terlalu takut. Apa pun yang keluar dari pintu itu, dia manusia yang sedang sakit.”

Aku mengangguk di telepon, meskipun ia tidak bisa melihatku.


Ruang tunggu itu kecil dan dingin. AC-nya terlalu kencang. Kursi-kursi plastik biru berderet di sepanjang dinding, menghadap sebuah pintu ganda berwarna abu-abu dengan jendela kaca kecil di bagian atasnya dan tulisan KHUSUS PETUGAS dalam huruf merah.

Kami datang jam delapan pagi. Dua jam lebih awal.

Bapak dan Ibu mertuaku duduk di kursi paling depan. Bu Aminah memakai kerudung putih, yang biasanya hanya ia pakai untuk salat Id. Ia menggenggam tasbih kayu cokelat di tangannya dan bibirnya terus bergerak tanpa suara. Pak Zainal duduk di sebelahnya dengan peci hitam dan kemeja batik yang terlalu rapi. Tangannya di lutut. Ia tidak bergerak sama sekali.

Fadhil berdiri. Ia tidak bisa duduk. Ia berjalan bolak-balik di depan pintu abu-abu itu, sepuluh langkah ke kiri, sepuluh langkah ke kanan, seperti penjaga yang kehilangan pos.

Mbak Rara datang jam sembilan, membawa map dan dua orang petugas rumah sakit berseragam hijau.

Mama dan Bapak duduk di barisan kedua, di belakangku.

Dan aku duduk di antara barisan pertama dan kedua. Di kursi paling pinggir. Di dekat jendela. Dengan tas di pangkuan dan tangan yang tidak berhenti meremas tali tas itu.

Bagas berdiri di belakang.

Paling belakang. Seperti yang ia janjikan semalam di teras. Di dekat pintu masuk ruang tunggu, bersandar di tembok, dengan tangan di saku celana. Ia memakai kemeja biru muda. Bukan kemeja biru muda yang itu. Yang lain. Yang baru, karena yang itu masih tergantung di belakang pintu kamarnya dengan mawar kuning kering di sakunya.

Ia tidak duduk. Ia tidak mendekat. Ia hanya berdiri di sana, diam, seperti tiang yang menopang atap ruangan.

Aku menoleh ke belakang setiap sepuluh menit. Setiap kali, ia sudah menatapku. Setiap kali, ia mengangguk kecil. Setiap kali, aku menghadap ke depan lagi dan meremas tali tasku lebih keras.


Jam sembilan lewat empat puluh, Mbak Rara menerima telepon. Ia mendengarkan, mengangguk, lalu menutup telepon dan menoleh ke kami.

“Sudah mendarat,” katanya.

Bu Aminah menjatuhkan tasbihnya.

Fadhil berlutut untuk memungutnya. Tangannya gemetar begitu keras sampai butir-butir tasbih itu berdetak-detak di telapaknya.

“Proses pemindahan dari pesawat ke ambulans sekitar dua puluh menit,” lanjut Mbak Rara. “Lalu mereka akan lewat pintu ini.” Ia menunjuk pintu abu-abu itu. “Keluarga bisa melihat sebentar sebelum dibawa ke rumah sakit. Tapi jangan dikerumuni. Kondisinya lemah.”

Dua puluh menit.

Aku menatap pintu abu-abu itu. Jendela kaca kecilnya buram, seperti jendela ruang tamu keluarga Adinegara.

Aku memikirkan dua tahun lalu. Di bandara yang sama. Terminal yang berbeda. Aku memegang lengan kemeja Fikri sampai petugas menegur. Ia memelukku dan berkata tiga bulan, Jan, tiga bulan saja. Ia mencium keningku. Ia berjalan ke pintu keberangkatan dengan ransel oranye di punggung dan rompi lembaga yang dilipat di tangan. Ia menoleh sekali dan melambai. Ia tertawa, miring ke kiri. Lalu ia hilang di balik pintu.

Aku tidak pernah melihatnya lagi.

Kalau pintu abu-abu itu terbuka, dan yang keluar adalah ia, aku akan melihatnya lagi.

Aku menunggu harapan itu muncul. Harapan bahwa ia hidup. Harapan bahwa ia pulang. Harapan yang wajar, yang seharusnya dimiliki seorang istri yang suaminya dikabarkan meninggal lalu tiba-tiba mungkin masih hidup.

Harapan itu tidak muncul.

Yang muncul adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuatku malu, dan sekaligus membuatku sangat yakin.

Aku tidak ingin pintu itu terbuka.

Bukan karena aku tidak ingin Fikri hidup. Aku ingin Fikri hidup. Aku ingin semua orang yang pernah hilang di tempat-tempat bencana itu hidup. Aku ingin Bu Aminah memeluk anaknya lagi. Aku ingin Fadhil punya kakak lagi.

Tapi aku tidak ingin pintu itu terbuka, karena di balik pintu itu ada kehidupan yang sudah kututup. Kehidupan yang sudah kupamiti di lantai kamar, di depan nisan tanpa jenazah, di bawah pohon kamboja, ribuan kali. Kehidupan yang tidak lagi milikku.

Dan di belakangku, paling belakang, bersandar di tembok, ada kehidupan yang baru saja kumulai.


Jam sepuluh lewat tiga menit, terdengar suara dari balik pintu abu-abu. Roda. Langkah kaki. Suara orang-orang berbicara cepat dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang bercampur.

Semua orang berdiri.

Bu Aminah mencengkeram lengan suaminya. Fadhil berhenti berjalan dan berdiri tepat di depan pintu, terlalu dekat, sampai Mbak Rara harus menariknya mundur satu langkah. Mama memegang bahuku dari belakang. Bapak berdiri di sebelah Mama.

Aku berdiri.

Lalu, sebelum pintu itu terbuka, sebelum aku sempat berpikir, aku menoleh ke belakang.

Aku menoleh ke tembok di dekat pintu masuk ruang tunggu. Ke tempat paling belakang.

Bagas ada di sana. Ia sudah berdiri tegak, tidak bersandar lagi. Tangannya tidak di saku lagi. Tangannya di sisi tubuhnya, terkepal. Dan matanya, matanya tidak menatap pintu abu-abu itu seperti semua orang lain di ruangan ini.

Matanya menatapku.

Kami saling menatap melintasi ruang tunggu yang dingin, melintasi barisan kursi plastik biru, melintasi bahu Mama dan Bapak dan punggung keluarga Ramadhan yang membelakangiku.

Aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Ia juga tidak.

Tapi aku tahu ia tahu. Bahwa di detik terakhir sebelum pintu itu terbuka, sebelum aku tahu apakah suamiku masih hidup, yang kucari bukan pintu itu.

Yang kucari dia.


Pintu abu-abu itu terbuka.

Dua petugas medis berseragam biru keluar lebih dulu, mendorong tandu beroda. Di atas tandu itu, terbaring di bawah selimut putih, dengan selang infus di lengan dan perban di kepala, seorang laki-laki.

Kurus. Sangat kurus. Tulang pipinya menonjol, kulitnya gelap terbakar matahari dan kering. Janggutnya tipis dan tidak rata. Rambutnya dicukur pendek di satu sisi, di tempat perban melingkar. Matanya terbuka setengah, sayu, menatap langit-langit ruangan dengan bingung.

Bu Aminah melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah.

Lalu berhenti.

Aku melihat punggungnya menegang. Aku melihat tangannya yang mencengkeram tasbih berhenti bergerak. Aku melihat kepalanya miring sedikit, seperti seseorang yang menatap foto dan tidak yakin siapa yang ada di dalamnya.

Fadhil berhenti juga. Ia berdiri di sebelah tandu dan menatap wajah laki-laki itu dari jarak setengah meter.

“Mas?” bisik Fadhil.

Laki-laki di tandu itu mengalihkan matanya dari langit-langit ke wajah Fadhil. Matanya bergerak pelan, seperti orang yang baru bangun dari tidur yang sangat panjang.

Alisnya tebal. Hidungnya mancung. Garis rahangnya tegas.

Tapi matanya cokelat terang. Bukan hitam.

Mata Fikri hitam. Hitam pekat. Aku tahu, karena aku menatapnya setiap pagi selama tiga tahun, dan setiap malam selama dua tahun setelahnya di dalam kepalaku.

Laki-laki ini bukan Fikri.


Bu Aminah tidak menangis. Itu yang paling menakutkan. Ia berdiri di sebelah tandu dengan tasbih di tangan, menatap wajah laki-laki asing itu, dan wajahnya tidak bergerak sama sekali. Kosong. Seperti wajahku dulu, di enam bulan itu, yang Bapak lihat waktu ia bangun dari tidur di kursi depan kamarku.

Pak Zainal memegang bahu istrinya.

Fadhil mundur satu langkah. Lalu dua. Lalu ia membalikkan badan dan menutup wajah dengan kedua tangan.

Mbak Rara melangkah maju, membungkuk di sebelah tandu, dan berbicara pelan kepada laki-laki itu dalam bahasa Indonesia, lambat, jelas, seperti berbicara kepada anak kecil.

“Pak. Bapak sudah di Indonesia. Bapak sudah di Jakarta. Bapak dengar saya?”

Laki-laki itu menatapnya. Bibirnya yang kering bergerak.

“Jakarta,” katanya. Suaranya serak, hampir tidak terdengar. Seperti suara orang yang sudah sangat lama tidak menggunakannya.

“Iya, Pak. Jakarta. Bapak namanya siapa? Bisa sebut nama?”

Laki-laki itu memejamkan mata. Lama. Aku melihat dadanya naik turun di bawah selimut putih. Lalu matanya terbuka lagi.

“Hanif,” katanya.

Mbak Rara membeku.

“Hanif,” ulang laki-laki itu, lebih jelas. “Hanif Abdullah. Cirebon.”

Map di tangan Mbak Rara jatuh ke lantai.

Ia menatap laki-laki itu seperti melihat hantu. Bibirnya bergerak tanpa suara. Lalu, dengan suara yang pecah:

“Hanif? Hanif dari Lentera Kasih? Yang di tim Fikri?”

Laki-laki itu menatapnya. Lalu, pelan, ia mengangguk.


Mbak Rara menjelaskannya kepada kami nanti, di lorong rumah sakit, dengan suara yang terus bergetar. Hanif Abdullah adalah relawan dari lembaga lain, lembaga kecil dari Cirebon bernama Lentera Kasih, yang dikirim untuk bergabung dengan tim medis Jembatan Asa di kamp itu. Ia perawat. Ia bekerja di sebelah Fikri selama lima minggu. Waktu klinik itu diserang, dua nama dilaporkan hilang. Satu dari Jembatan Asa. Satu dari Lentera Kasih.

Dua lembaga yang berbeda. Dua daftar yang berbeda. Dua keluarga yang berbeda, di dua kota yang berbeda, yang masing-masing menerima telepon yang sama dan membuat nisan yang sama tanpa jenazah.

Jembatan Asa tidak pernah tahu bahwa Lentera Kasih juga kehilangan satu orang. Lentera Kasih tidak pernah tahu bahwa laki-laki tanpa dokumen di kamp perbatasan, yang terus menyebut Jan dan Indonesia, bisa jadi orang mereka.

“Dia nyebut Jan,” bisik Mbak Rara kepadaku di lorong itu, dengan mata merah. “Saya kira itu kamu, Mbak. Semua orang kira itu kamu.”

Tapi itu nanti.


Sekarang, di ruang tunggu yang dingin, di depan pintu abu-abu, laki-laki bernama Hanif itu mengalihkan matanya dari Mbak Rara. Matanya bergerak pelan ke sekeliling ruangan. Ke Fadhil yang menutup wajah. Ke Pak Zainal yang memegangi bahu istrinya.

Lalu ke Bu Aminah.

Matanya berhenti di sana. Lama.

Lalu wajahnya berubah.

Aku melihatnya berubah, dan aku tidak akan pernah melupakannya. Wajah yang tadi bingung dan kosong tiba-tiba hancur, seperti tembok yang retak dari dalam. Bibirnya bergetar. Matanya yang cokelat terang dipenuhi air.

Ia mengenali Bu Aminah.

Ia belum pernah bertemu Bu Aminah. Tapi ia mengenalinya. Dari foto, mungkin. Dari foto yang ditempel di dinding tenda. Dari foto yang dibawa di dompet seorang dokter yang tertawa miring ke kiri dan berbagi tenda dengannya selama lima minggu.

“Ibu,” bisik Hanif. Tangannya yang diinfus bergerak sedikit di atas selimut, terulur, gemetar, ke arah Bu Aminah. “Ibu ... Ibunya Mas Fikri.”

Bu Aminah tidak bergerak.

“Maafin saya, Bu,” kata Hanif. Air matanya turun ke pelipis, ke perban di kepalanya. “Maafin saya. Mas Fikri ... Mas Fikri ...”

Ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.

Bu Aminah menatapnya. Lalu, pelan sekali, seperti pohon tua yang akhirnya roboh setelah badai yang terlalu panjang, lututnya menekuk. Pak Zainal menahannya. Fadhil berbalik dan menahannya dari sisi yang lain.

Lalu Bu Aminah menangis.

Bukan tangis yang pelan. Bukan tangis yang ditahan. Tangis yang sudah dua tahun lebih tersimpan di balik kerudung putih dan tasbih kayu dan senyum yang dipaksakan di setiap acara keluarga. Tangis seorang ibu yang akhirnya, akhirnya, tahu.

Aku berdiri di tempatku. Aku tidak bisa bergerak.

Mama memelukku dari belakang. Aku merasakan Mama menangis di bahuku.

Aku tidak menangis. Belum. Aku hanya berdiri di sana, menatap laki-laki di tandu yang terus berkata maafin saya, Bu, maafin saya, dan aku merasakan sesuatu di dalam dadaku yang selama dua tahun lebih tidak pernah benar-benar tertutup, perlahan, sangat perlahan, menutup.

Fikri tidak pulang.

Fikri tidak akan pulang.

Dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun lebih, aku tahu itu dengan pasti.


Petugas medis membawa tandu itu ke ambulans. Hanif masih terus memanggil Bu Aminah sampai pintu ambulans tertutup.

Ruang tunggu itu kosong. Hanya kami. Dan suara AC yang terlalu kencang.

Aku menoleh ke belakang.

Ke tembok di dekat pintu masuk. Ke tempat paling belakang.

Bagas masih di sana. Ia tidak bergerak dari tempatnya sejak tadi. Ia berdiri tegak dengan tangan terkepal di sisi tubuhnya, dan wajahnya basah.

Ia menangis. Tanpa suara. Tanpa menyeka air matanya. Ia menangis seperti ia melakukan segala hal lain: diam, rapi, tidak mengganggu siapa pun.

Ia tidak menangis karena lega. Aku tahu itu. Aku tahu dari matanya, yang tidak menatapku lagi sekarang, tapi menatap Bu Aminah yang masih berlutut di lantai di pelukan suaminya dan anaknya.

Ia menangis untuk Bu Aminah. Untuk laki-laki di foto di rak studioku. Untuk dua keluarga di dua kota yang membuat nisan tanpa jenazah.

Laki-laki itu membayar tiket pulang untuk seseorang yang ia kira akan mengambil segalanya darinya. Dan ketika ternyata bukan, ia tidak merayakannya. Ia menangis untuk orang lain.

Aku berjalan ke arahnya. Melintasi ruang tunggu. Melewati kursi-kursi plastik biru. Pelan.

Aku berhenti di depannya.

Aku tidak memeluknya. Aku tidak menyentuhnya. Belum. Bu Aminah masih menangis di lantai. Ini bukan saatnya.

Aku hanya berdiri di depannya, dekat, dan menatapnya.

“Mas,” bisikku.

Ia menunduk dan menatapku. Matanya merah.

“Saya nyari Mas,” kataku. “Tadi. Sebelum pintunya kebuka.”

“Saya tahu,” katanya. Suaranya serak. “Saya lihat.”