Chapter Two
Janji Arisan
POV: Bagas
Hari Sabtu, rumah kami berubah menjadi lokasi syuting iklan pembersih lantai.
Ibu bangun jam empat pagi. Jam lima, gorden ruang tamu sudah dicopot dan dicuci. Jam enam, Ibu menyuruhku memindahkan lemari pajangan dua jengkal ke kiri, lalu dua jengkal ke kanan, lalu kembali ke tempat semula, karena “ternyata memang paling bagus di situ”. Jam tujuh, Ayah diusir dari kursi santainya karena sarungnya “kelihatan sarung banget”.
“Bu, Ayah memang pakai sarung,” kataku.
“Hari ini Ayah pakai celana.”
Ayah memakai celana. Ayah tidak protes. Tiga puluh enam tahun menikah mengajarkan Ayah memilih pertempuran.
Jam delapan, Nisa datang sendirian, tanpa Kiki dan Reza, membawa tas besar dan semangat seorang intel.
“Kiki dititip ke mertuaku,” katanya sambil mengikat rambut. “Hari ini aku full tugas.”
“Tugas apa?”
“Pengamatan.” Nisa mengeluarkan buku catatan kecil dari tasnya. Sampulnya bergambar kucing. “Ibu nggak bisa objektif, Ayah nggak ngomong, Mas apalagi. Harus ada yang nyatat.”
“Nyatat apa?”
“Semuanya, Mas. Semuanya.”
Keluarga Wardhani datang jam sepuluh lewat tiga menit. Aku tahu karena aku melihat jam. Ternyata kebiasaan sulit dihilangkan, bahkan di hari Sabtu.
Pak Hendra Wardhani bertubuh tinggi dan kurus, rambutnya hampir putih semua, dan cara bicaranya lembut seperti orang yang sudah terlalu sering menenangkan orang lain. Bu Sri Wardhani bertubuh kecil, gesit, dengan mata yang langsung menyapu seluruh ruang tamu dalam satu detik, dan aku tahu tanpa perlu diberi tahu bahwa ia dan Ibu adalah dua orang yang sama, hanya beda kemasan.
Mereka berdua.
Aku tidak menyadari bahwa aku sedang melihat ke belakang mereka, ke arah pagar, sampai Nisa menyikut rusukku.
“Anaknya nggak ikut, Mas,” bisiknya. “Tenang.”
“Saya tenang.”
“Mas ngecek pagar tiga kali.”
“Saya ngecek pagarnya sudah ditutup atau belum.”
Nisa menulis sesuatu di buku kucingnya.
Ibu dan Bu Sri berpelukan di ambang pintu dengan suara yang membuat tetangga sebelah menengok dari jendela. Mereka berpelukan, melepas, saling memandang, lalu berpelukan lagi, lalu menangis, lalu tertawa karena menangis. Pak Hendra dan Ayah bersalaman, saling menepuk bahu, lalu berdiri berdampingan menonton istri-istri mereka dengan ekspresi sabar yang sama persis.
“Tiga puluh tahun,” kata Bu Sri akhirnya, menyeka mata dengan ujung kerudung. “Tiga puluh tahun kita nggak ketemu, Tih.”
“Dua puluh delapan,” koreksi Ibu.
“Kamu masih aja suka koreksi.”
“Kamu masih aja salah hitung.”
Mereka tertawa lagi. Lalu Bu Sri menoleh, dan matanya jatuh padaku. Mata itu memeriksaku dari ujung rambut sampai ujung kaus kaki dengan teliti yang biasanya hanya kulihat pada petugas bea cukai.
“Ini Bagas?”
“Saya, Tante.” Aku menyalaminya.
“Ya Allah.” Bu Sri memegangi tanganku lebih lama dari perlu. “Dulu kamu segini.” Ia menunjuk setinggi lututnya. “Gendut. Nangis terus.”
“Masih suka nangis, Tante,” kata Nisa dari belakangku. “Kalau nonton film perang.”
Aku tidak menoleh. Aku tidak mau memberi Nisa kepuasan.
Kami duduk di ruang tamu yang sudah dibersihkan sampai ke celah-celah ubin. Ibu menyajikan kue lumpur, bolu pandan, risoles, dan teh manis, semuanya disusun di atas taplak renda yang hanya keluar di hari Lebaran. Ayah dan Pak Hendra langsung menemukan bahasa yang sama: catur. Dalam sepuluh menit, papan catur sudah terbuka di meja kecil di pojok, dan dua bapak itu tidak bicara lagi selain “skak” dan “hmm”.
Bu Sri membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang sudah lusuh.
“Aku bawa ini, Tih. Kamu pasti lupa.”
Isinya foto-foto lama. Foto berwarna yang sudah memudar ke kuning, dengan tanggal oranye tercetak di pojok kanan bawah: ‘98.
Ibu memekik. Nisa langsung pindah duduk ke sebelah Ibu, buku kucing siaga.
Foto pertama: dua perempuan muda, dua-duanya berkerudung model tahun sembilan puluhan, berdiri di depan sebuah rumah dengan spanduk kecil bertuliskan ARISAN IBU-IBU KOMPLEK MELATI. Ibu dan Bu Sri. Dua-duanya tertawa ke kamera.
Foto kedua membuat seisi ruangan meledak.
Seorang anak laki-laki gendut, kira-kira dua tahun, duduk di atas tikar sambil menangis dengan mulut terbuka lebar. Di depannya, seorang bayi perempuan dengan pipi bulat dan rambut tipis mencengkeram sepotong biskuit dengan kedua tangan, tampak sangat puas pada dirinya sendiri.
“Itu kamu, Gas,” kata Ibu, menunjuk anak yang menangis. “Biskuitmu direbut.”
“Itu Anjani,” kata Bu Sri, menunjuk bayi yang menang. “Umur setahun. Sudah jago.”
Nisa tertawa sampai buku kucingnya jatuh. “Mas! Mas dari bayi udah kalah!”
Aku menatap foto itu. Anak gendut yang menangis memang mirip aku. Bayi perempuan dengan biskuit itu tidak mirip siapa-siapa yang kukenal, hanya bayi gemuk dengan senyum kemenangan.
Anjani. Jadi namanya Anjani.
“Waktu itu kita sempat bercanda ya, Tih,” kata Bu Sri, suaranya tiba-tiba lebih pelan. “Kalau mereka sudah besar, kita jodohin.”
“Ya Allah, iya!” Ibu menepuk lututnya. “Aku ingat! Kamu yang ngomong duluan.”
“Kamu yang setuju duluan.”
“Itu kan bercanda, Sri.”
Bu Sri tidak langsung menjawab. Ia memandangi foto itu lama, lalu meletakkannya di meja dengan sangat hati-hati, seperti meletakkan sesuatu yang bisa pecah.
“Iya,” katanya. “Waktu itu bercanda.”
Ada sesuatu di cara Bu Sri mengatakannya yang membuat Nisa berhenti tertawa. Aku melihat Nisa menulis sesuatu di buku kucingnya, lalu menggarisbawahinya dua kali.
Bu Sri mengeluarkan ponselnya. “Ini Anjani sekarang.”
Ia menyodorkan ponsel itu kepada Ibu, bukan kepadaku. Ibu melihatnya, dan aku mendengar Ibu menarik napas, napas yang pendek dan kaget. Lalu Ibu menyerahkan ponsel itu kepada Nisa. Nisa melihatnya dan berkata, “Hah,” satu kata, lalu menatapku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat di wajah adikku: kasihan.
Ponsel itu berpindah ke tanganku.
Aku melihatnya sekilas. Sekilas saja. Seperti orang yang tidak terlalu peduli. Aku mengangguk sopan, “Oh, iya,” lalu mengembalikannya ke meja.
Tapi sekilas sudah cukup.
Seorang perempuan duduk di sebuah bangku kayu di antara ember-ember berisi bunga. Ia tidak sedang menatap kamera; ia sedang menatap seseorang di luar bingkai, mungkin orang yang memotretnya, dan ia tersenyum seolah orang itu baru saja mengatakan sesuatu yang bodoh tapi menyenangkan. Rambutnya digelung asal-asalan dengan beberapa helai yang lepas di sekitar leher. Kulitnya terang, bersih, dengan garis rahang yang tegas dan mata yang sedikit menyipit kalau tersenyum. Ia memakai kemeja linen krem yang lengannya digulung sampai siku, dan ada noda tanah di jari-jarinya.
Cantik bukan kata yang cukup. Cantik adalah kata untuk perempuan di iklan sampo. Perempuan di foto itu seperti seseorang yang tahu persis bahwa dirinya cantik, dan memutuskan bahwa itu hal yang paling tidak menarik tentang dirinya.
Aku mengambil sepotong risoles dan mengunyah dengan khusyuk.
Sepuluh menit kemudian, waktu Ibu dan Bu Sri pindah ke dapur untuk “mengambil teh lagi”, yang artinya mengobrol tanpa diganggu, ponsel Bu Sri tertinggal di meja. Layarnya masih menyala. Fotonya masih di sana.
Nisa sedang ke kamar mandi. Ayah dan Pak Hendra sedang tenggelam di papan catur.
Aku mengambil ponsel itu. Aku hanya ingin memastikan bahwa layarnya tidak terkunci, karena kalau terkunci, Bu Sri akan repot nanti. Itu alasan yang sangat logis. Lalu, entah bagaimana, dua jariku sudah berada di layar dan foto itu sudah membesar, tepat ke wajahnya, dan aku sedang memperhatikan bahwa ia punya tahi lalat kecil di bawah mata kirinya.
“Skak,” kata Pak Hendra di pojok.
Aku menjatuhkan ponsel itu ke sofa seperti barang panas.
Pak Hendra tidak menoleh. Ayah juga tidak. Tapi waktu aku melirik ke pojok, kacamata Ayah turun sedikit.
Aku pergi ke dapur untuk mengambil air putih. Itu alasan sungguhan, karena tenggorokanku mendadak kering.
Pintu dapur setengah terbuka. Ibu dan Bu Sri berdiri di dekat kompor, membelakangi pintu, kepala mereka berdekatan. Suara mereka rendah, tapi dapur kami kecil, dan aku sudah tiga puluh tahun hafal di mana harus berdiri supaya tidak terlihat dari kompor. Itu keahlian yang kudapat waktu kecil, ketika ingin tahu apakah ada kue yang disembunyikan untuk tamu.
Aku tidak berniat menguping. Aku hanya berhenti di tempat itu, dan kebetulan tidak bisa bergerak.
“... nggak usah buru-buru juga, Sri,” Ibu sedang berkata. “Biarin anak-anak ketemu dulu.”
“Aku nggak punya banyak waktu, Tih.” Suara Bu Sri hampir berbisik. “Kamu nggak ngerti.”
“Ya makanya cerita.”
Hening. Sendok berdenting di gelas.
“Aku sudah lihat dia hampir habis sekali,” kata Bu Sri akhirnya. “Enam bulan, Tih. Enam bulan dia nggak mau makan, nggak mau ngomong, nggak mau keluar kamar. Aku sama Mas Hendra gantian jaga di depan pintu kamarnya, takut ... takut aja. Sekarang dia sudah baik. Sudah ketawa lagi. Sudah buka usaha. Tapi aku ...”
Suaranya pecah sedikit.
“Aku nggak minta yang kaya, Tih. Nggak minta yang ganteng. Aku cuma mau Anjani dapat laki-laki yang selalu pulang.”
Air di gelas yang kupegang bergetar. Aku tidak sadar aku sedang memegang gelas.
“Sri,” kata Ibu pelan.
“Waktu kamu bilang di telepon anakmu pulang jam tujuh tiap hari, sembilan tahun nggak pernah telat, aku langsung nangis, Tih. Di depan Mas Hendra. Dia sampai bingung.”
“Sri, anakku itu kaku. Kamu belum kenal dia. Dia itu kalau diajak kencan, yang dibahas rute truk.”
“Nggak apa-apa.”
“Dua belas perempuan sudah nyerah, Sri.”
“Anjani bukan perempuan yang gampang nyerah.” Bu Sri tertawa kecil, basah. “Lagian, Tih, aku nggak cuma minta karena itu. Ada ...” Ia berhenti. “Ada hal lain. Nanti aku cerita. Pokoknya, kalau bisa, secepatnya.”
“Hal lain apa?”
“Nanti, Tih.”
Lalu langkah kaki mendekat ke pintu, dan aku melakukan hal paling tidak terhormat yang pernah kulakukan sebagai laki-laki dewasa berusia tiga puluh tahun: aku mundur cepat ke ruang tengah sambil pura-pura sedang memeriksa colokan listrik.
Nisa keluar dari kamar mandi dan melihatku jongkok di depan stopkontak dengan gelas air di tangan.
“Mas ngapain?”
“Ngecek.”
“Ngecek apa?”
“Arus.”
Nisa menatapku lama. Lalu ia membuka buku kucingnya dan menulis sesuatu tanpa melepaskan pandangannya dariku.
Aku tidak terlalu ingat sisa siang itu. Ada makan siang, ada sayur asem dan ikan bakar, ada Pak Hendra yang ternyata kalah catur tiga kali dari Ayah dan menerimanya dengan anggun. Ada Ibu dan Bu Sri yang mengobrol tanpa henti tentang guru-guru SMA mereka, yang sebagian besar ternyata sudah meninggal, dan mereka mendoakan satu per satu lalu tertawa lagi.
Yang kuingat adalah kalimat Bu Sri di dapur. Kalimat itu terus berputar di kepalaku seperti lagu yang tidak bisa dimatikan.
Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Anjani. Aku tidak tahu kenapa enam bulan. Aku tidak tahu apa “hal lain” yang dimaksud Bu Sri. Tapi aku tahu satu hal: selama sembilan tahun, kebiasaan pulang jam tujuh selalu menjadi bahan ejekan. Nisa menyebutku “satpam keluarga”. Rekan kerjaku menyebutku “Cinderella logistik”. Mantan atasanku menyebutku “tidak punya ambisi”.
Hari ini, untuk pertama kalinya, ada orang yang menangis karena kebiasaan itu.
Menjelang sore, keluarga Wardhani pamit. Di teras, sementara Ibu dan Bu Sri melakukan ritual perpisahan yang tampaknya akan berlangsung sampai magrib, Pak Hendra berdiri di sebelahku sambil memakai sepatu.
“Nak Bagas,” katanya tanpa menoleh.
“Iya, Om.”
“Saya nggak akan maksa.” Ia mengikat tali sepatunya dengan pelan, teliti, seperti orang yang menyimpul sesuatu yang penting. “Kalau nanti ketemu dan nggak cocok, ya sudah. Anjani juga nggak suka dipaksa.”
“Iya, Om.”
“Tapi kalau Nak Bagas mau ketemu ...” Ia selesai mengikat sepatu dan berdiri. Ia lebih tinggi dariku beberapa senti. Matanya teduh, tapi ada lelah di sana, lelah yang tidak hilang dengan tidur. “Anak saya pernah ... ah, sudahlah. Biar dia cerita sendiri. Itu haknya.”
Ia menepuk bahuku sekali, lalu berjalan ke mobil.
Malam itu, jam tujuh tepat, kami makan malam. Nisa ikut makan, karena “laporan belum selesai”.
Ibu menunggu sampai semua orang sudah mengambil nasi, yang tentu saja aku yang menyendokkan. Lalu Ibu meletakkan sendoknya dengan pelan.
“Gas.”
“Iya, Bu.”
“Kamu nggak harus mau.”
Aku menatap Ibu. Ibu menatapku. Di seberang meja, Nisa berhenti mengunyah dan memegang pulpennya di atas buku kucing seperti wartawan yang menunggu pernyataan resmi.
Aku memikirkan anak gendut yang menangis karena biskuitnya direbut. Aku memikirkan perempuan di antara ember-ember bunga yang tersenyum pada seseorang di luar bingkai. Aku memikirkan Bu Sri yang menangis di depan suaminya karena mendengar seorang laki-laki pulang tepat waktu.
“Satu kali, Bu,” kataku. “Satu kali ketemu. Kalau nggak cocok, Ibu janji berhenti. Nggak ada yang ketiga belas.”
“Janji,” kata Ibu terlalu cepat.
“Bu.”
“Ibu janji, Gas. Ibu janji.”
Nisa menulis besar-besar di buku kucingnya, cukup besar sehingga aku bisa membacanya dari seberang meja:
MAS BAGAS SETUJU. TIDAK DIPAKSA. (DIA ZOOM FOTONYA.)
Aku menatap adikku. Waktu itu ia di kamar mandi. Aku tidak tahu bagaimana ia bisa tahu, dan aku memutuskan bahwa aku tidak mau tahu.
Nisa menatapku balik, lalu tersenyum seperti bayi yang baru saja merebut biskuit.
- 1 Jam Tujuh
- 2 Janji Arisan reading
- 3 Pertemuan Pertama
- 4 Tameng
- 5 Krisan Putih
- 6 Bekal Gosong
- 7 Calon Saya
- 8 Rencana Hujan
- 9 Jangan Korbankan Hidupmu
- 10 Sup Hari Kamis
- 11 Pasien Paling Bandel
- 12 Mas Lulus
- 13 Cemburu pada Orang Baik
- 14 Izin
- 15 Undangan yang Tidak Menyebut Namaku
- 16 Langkah Kuda
- 17 Persiapan Rahasia
- 18 Sekali, Umur Dua Tahun
- 19 Masih Tameng?
- 20 Bukan
- 21 Cincin
- 22 Mawar Kuning
- 23 Bukan yang Ditunggu
- 24 Administrasi Kepulangan
- 25 Maju Dua Langkah
- 26 Lampu Teras
- 27 Pintu Kedatangan
- 28 Catatan Terakhir
- 29 Kiriman Tanpa Nama
- 30 Krisan Putih, Kali Ini Benar
- 31 Restu
- 32 Janda Tahu Caranya
- 33 Bukan Pengganti
- 34 Proyek A, Versi Final
- 35 Malam Tanpa Jam Tujuh
- 36 Selamat Datang Pulang
- 37 Malam Pertama
- 38 Laporan Bulanan
- 39 Jam Tujuh, ke Rumah Kita
- 40 Proyek B
- 41 Epilog — Hujan