Chapter Twelve
Mas Lulus
POV: Anjani
Kemeja flanel itu tidur di sebelahku selama tiga malam.
Aku tidak berencana begitu. Malam pertama, aku hanya melepasnya dan menyampirkannya di sandaran kursi rias, berniat mencucinya besok lalu mengembalikannya hari Sabtu. Malam kedua, kemeja itu entah bagaimana sudah pindah ke ujung tempat tidurku. Malam ketiga, aku terbangun jam dua pagi dan menemukan diriku memeluknya seperti guling.
Aku duduk di tempat tidur dalam gelap, memegangi kemeja kotak-kotak abu-abu itu, dan berkata pada diriku sendiri dengan suara keras: “Anjani. Kamu dua puluh sembilan tahun.”
Kemeja itu tidak menjawab. Kemeja itu wangi sabun batangan dan sesuatu yang hangat. Wangi yang sama seperti di teras hari Minggu waktu aku berbisik di telinganya.
Aku meletakkan kemeja itu di kursi rias. Aku berbaring. Aku menatap langit-langit.
Lima menit kemudian, aku mengambilnya lagi.
Hari Sabtu, Bagas datang ke rumah untuk berterima kasih.
Ia mengirim pesan hari Jumat malam, kalimatnya kaku seperti surat dinas: Besok sore saya mau ke rumah. Mau berterima kasih ke Om dan Tante karena sudah mengizinkan kamu merawat saya. Kalau tidak keberatan.
Aku membalas: Mama sama Bapak nggak ngizinin. Saya nggak minta izin.
Ia membalas tiga menit kemudian: Kalau begitu saya berterima kasih karena tidak dilarang.
Aku tertawa sampai Mama mengetuk pintu kamarku untuk bertanya apa yang lucu.
Ia datang jam empat sore, tepat jam empat, membawa dua kotak bolu pandan buatan Tante Ratih dan sebuah kantong plastik berisi sesuatu yang berat. Ia memakai kemeja putih dan celana bahan krem. Kemejanya pas di bahu, tidak terlalu sempit seperti yang biru muda. Kemeja baru. Aku tahu kemeja baru karena masih ada lipatan dari kemasan di bagian dada.
Ia membeli kemeja baru untuk datang ke rumahku.
“Ini buat Om,” katanya, menyerahkan kantong plastik itu ke Bapak. Isinya papan catur kayu. Papan catur bagus, kayu sonokeling dengan bidak-bidak yang diukir halus. “Ayah saya bilang Om kalah tiga kali waktu itu. Ayah bilang mungkin papannya yang salah.”
Bapak menatap papan catur itu. Lalu Bapak tertawa, tawa yang jarang sekali kudengar, tawa yang membuat Mama menoleh dari dapur dengan mata melebar.
“Ayahmu itu,” kata Bapak sambil menepuk bahu Bagas. “Ayahmu itu licik. Sini, Nak. Duduk. Kita coba papannya.”
Dan begitulah aku kehilangan Bagas selama satu setengah jam ke papan catur di teras belakang.
Aku duduk di dapur bersama Mama, memotong bolu pandan, dan menonton mereka melalui jendela.
Bapak bermain catur dengan cara yang sama seperti ia melakukan segalanya: pelan, hati-hati, banyak berpikir. Bagas bermain dengan cara yang sama seperti ia melakukan segalanya: sistematis, seperti sedang menyusun rute pengiriman. Mereka hampir tidak bicara. Sesekali Bapak berkata hmm dan Bagas berkata maaf, Om setiap kali memakan bidak Bapak, dan Bapak menjawab jangan minta maaf, itu namanya main catur.
“Bapakmu suka,” kata Mama.
“Bapak suka semua orang yang bisa main catur.”
“Bapakmu nggak suka Fikri main catur.”
Aku berhenti memotong.
Mama tidak menatapku. Ia sedang menata potongan bolu di piring saji, satu per satu, dengan sangat teliti.
“Fikri nggak bisa duduk diam setengah jam,” kata Mama pelan. “Bapakmu sering bilang, anak itu kayak burung. Selalu mau terbang.” Mama meletakkan potongan terakhir. “Bapakmu sayang sama Fikri, Jan. Kamu tahu itu. Tapi Bapakmu juga takut. Dari awal.”
Aku tidak menjawab. Aku menatap ke luar jendela, ke teras belakang, ke laki-laki berkemeja putih yang sedang mengerutkan dahi menatap papan catur dengan konsentrasi penuh, seolah tidak ada hal lain di dunia ini yang lebih penting dari langkah berikutnya.
Laki-laki itu bukan burung. Laki-laki itu lebih mirip pohon.
“Mama,” kataku.
“Hm?”
“Waktu Mama bilang ke Tante Ratih ...” Aku berhenti. Aku tidak tahu bagaimana aku tahu. Mungkin dari Tante Ratih, mungkin dari Mama sendiri yang menceritakannya sambil menangis di mobil dalam perjalanan pulang dari rumah keluarga Adinegara waktu itu. “Waktu Mama bilang Mama cuma mau aku dapat laki-laki yang pulang. Mama serius?”
Mama berhenti menata bolu. Ia akhirnya menoleh dan menatapku.
“Mama lihat kamu enam bulan, Jan,” katanya. “Enam bulan Mama nggak tahu anak Mama masih di dalam badan itu atau nggak. Mama nggak mau lihat itu lagi. Nggak sanggup.” Matanya basah. “Mama nggak minta yang kaya. Nggak minta yang ganteng. Mama cuma mau, kalau kamu nunggu di rumah, yang ditunggu itu pulang.”
Di teras belakang, Bapak berkata hmm panjang, lalu tertawa. Bagas pasti baru saja membuat langkah yang bagus.
Bagas pamit jam enam lewat dua puluh.
Aku tahu ia akan pamit jam segitu. Dari rumahku ke rumahnya dua puluh menit kalau lancar, dan Sabtu sore jalanan biasanya lancar. Ia akan sampai jam tujuh kurang sepuluh, menunggu di mobil sebentar, lalu masuk tepat sebelum Tante Ratih meletakkan semur di meja.
Aku mengantarnya ke mobil.
Mama dan Bapak tidak ikut mengantar. Mama bilang ia harus mencuci piring. Bapak bilang ia harus merapikan papan catur. Tapi waktu aku menoleh ke belakang, aku melihat gorden jendela ruang tamu bergerak, dan dua bayangan di baliknya yang berdiri terlalu dekat dengan kaca.
Langit sore berwarna jingga dan ungu. Lampu-lampu jalan kompleks baru mulai menyala satu per satu. Di kejauhan, terdengar suara azan magrib dari masjid di ujung jalan.
Bagas berhenti di samping pintu mobilnya. Ia berbalik menghadapku.
“Terima kasih,” katanya. “Buat seminggu kemarin.”
“Mas sudah bilang tadi. Ke Mama. Ke Bapak.”
“Belum ke kamu.”
“Saya nggak perlu diterima kasihi.”
“Saya perlu bilang.”
Ia menatapku. Kupingnya mulai merah. Tapi ia tidak menunduk. Seminggu yang lalu ia akan menunduk. Sekarang ia menatapku lurus, dengan mata yang jujur dan sedikit takut, seperti orang yang memutuskan untuk berdiri di bawah hujan tanpa payung.
“Terima kasih,” katanya lagi, lebih pelan. “Sudah datang.”
Aku tidak menjawab dulu. Aku memperhatikannya. Kemeja putih baru dengan lipatan kemasan di dada. Rambut yang disisir rapi tapi sudah mulai berantakan karena angin sore. Tangan yang dimasukkan ke saku celana, karena ia tidak tahu harus diletakkan di mana. Dan jam tangan di pergelangan kirinya, jam tangan sederhana berbingkai perak, yang sudah ia lirik dua kali sejak kami keluar dari rumah.
Jam enam lewat dua puluh tiga.
“Mas mau pulang,” kataku.
“Iya.”
“Jam tujuh.”
“Iya.”
“Mas tahu nggak,” kataku, melangkah setengah langkah lebih dekat, “Mama saya pernah bilang sesuatu ke ibu Mas. Di dapur rumah Mas. Waktu pertama kali datang.”
Ia menegang. Matanya bergerak sedikit, ke kiri, lalu kembali. Itu wajah orang yang tertangkap.
“Mas dengar,” kataku. Bukan pertanyaan.
“Saya ...” Ia menelan ludah. “Saya cuma mau ambil air.”
Aku tertawa pelan. Tentu saja ia menguping. Tentu saja ia berdiri di balik pintu dapur dengan gelas di tangan dan tidak bisa bergerak.
“Mama saya bilang,” kataku, mengulang kalimat yang tadi Mama ucapkan lagi di dapur dengan mata basah, “Mama nggak minta yang kaya. Nggak minta yang ganteng.”
Bagas tidak bergerak.
Azan magrib berhenti. Kompleks itu mendadak sangat sunyi. Hanya ada suara jangkrik dari kebun kosong di seberang jalan, dan suara motor jauh di jalan raya.
“Mama saya,” kataku pelan, menatap matanya, “cari laki-laki yang selalu pulang.”
Lalu aku tersenyum.
“Mas lulus.”
Aku tidak menunggu ia menjawab.
Aku mengulurkan tangan dan meraih tangan kanannya yang masih tersembunyi di saku celana. Aku menariknya keluar pelan. Ia tidak melawan. Tangannya besar dan hangat dan, seperti yang sudah kuduga, basah oleh keringat.
Aku tidak langsung menggenggamnya. Aku memegang tangannya dengan telapak menghadap ke atas, di antara kami, dan aku menatap tangan itu sebentar. Garis-garis di telapaknya dalam dan jelas. Ada kapalan kecil di pangkal jari tengah, mungkin bekas pulpen. Ada bekas luka tipis di punggung tangan, mungkin bekas kardus atau paku di gudang.
Lalu aku menyelipkan jariku ke sela-sela jarinya.
Pelan. Satu per satu. Jari telunjukku dulu, masuk ke celah antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Lalu jari tengah. Lalu jari manis. Lalu kelingking. Setiap kali satu jariku masuk, aku merasakan tangannya bergetar sedikit, seperti tali gitar yang dipetik.
Lalu jari-jariku menutup. Menggenggam.
Jari-jarinya tidak langsung menutup. Tangannya diam, terbuka, kaku, seperti tidak tahu apa yang harus dilakukan. Aku menunggu. Aku sudah belajar menunggu.
Lalu, perlahan sekali, jari-jarinya menutup juga. Menggenggam balik. Hati-hati, seperti memegang telur.
Aku mendongak dan menatapnya. Wajahnya merah sampai ke leher. Matanya tidak menatapku. Matanya menatap tangan kami yang bertaut, seperti melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya dan tidak yakin apakah boleh menyentuhnya.
“Tangan Mas keringetan,” kataku.
“Maaf.” Ia mencoba menarik tangannya.
Aku tidak melepaskan. Aku justru menggenggam lebih erat.
“Nggak usah minta maaf,” kataku. “Nanti juga terbiasa.”
Ia akhirnya mengangkat matanya dari tangan kami dan menatapku.
Dan ia tidak menarik tangannya lagi.
Kami berdiri seperti itu di samping mobilnya, di bawah langit yang semakin gelap, dengan lampu jalan kompleks yang berkedip sebelum menyala penuh. Aku tidak tahu berapa lama. Satu menit, mungkin dua. Ia tidak bicara. Aku juga tidak.
Ibu jarinya bergerak. Pelan, ragu, hampir tidak terasa. Ibu jarinya mengusap punggung tanganku, sekali, dari pangkal jari ke pergelangan.
Itu gerakan pertama yang ia lakukan sendiri. Tanpa aku memulainya. Tanpa aku menyuruhnya.
Aku merasakan sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan. Sesuatu yang hangat dan sedikit menakutkan, yang naik dari tangan kami ke lenganku, ke bahuku, ke dadaku, dan berdiam di sana.
Lalu ia melirik jam tangannya. Jam tangan di pergelangan kiri, karena tangan kanannya sedang kugenggam.
Jam enam lewat tiga puluh satu.
Aku melihatnya melihat jam. Aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya, keraguan, tarik-menarik, seperti orang yang berdiri di persimpangan dan untuk pertama kali dalam hidupnya tidak yakin jalan mana yang harus dipilih.
Aku melepaskan tangannya.
“Pulang, Mas,” kataku. “Ditunggu.”
“Saya bisa telat sedikit.”
“Jangan.”
“Anjani ...”
“Mas.” Aku menatapnya. “Saya nggak mau jadi alasan Mas telat. Saya mau jadi alasan Mas pulang.”
Ia menatapku lama. Lalu ia mengangguk, membuka pintu mobilnya, dan masuk.
Ia menyalakan mesin. Ia menurunkan kaca jendela. Ia menatapku dari balik kemudi, dan aku melihat tangan kanannya, tangan yang tadi kugenggam, terkepal di atas pahanya, seperti sedang menyimpan sesuatu di dalam kepalan itu supaya tidak hilang.
“Besok,” katanya.
“Besok apa?”
“Besok saya datang lagi.”
“Mas nggak perlu izin.”
“Saya bukan minta izin.” Kupingnya merah. Tapi suaranya mantap. “Saya kasih tahu.”
Lalu ia menaikkan kaca jendela dan menjalankan mobilnya pelan-pelan, sangat pelan, lebih pelan dari yang diperlukan di jalan kompleks yang kosong, sampai mobil itu berbelok di ujung jalan dan hilang.
Aku berdiri di depan pagar sampai suara mesinnya tidak terdengar lagi.
Lalu aku berbalik. Gorden jendela ruang tamu langsung tertutup rapat. Tapi tidak cukup cepat. Aku sempat melihat dua wajah di baliknya. Mama, dengan tangan menutup mulut. Bapak, dengan kacamata yang diturunkan ke ujung hidung, persis seperti yang selalu dilakukan Om Darmawan.
Aku masuk ke rumah. Mama sedang mencuci piring yang sudah bersih. Bapak sedang merapikan papan catur yang sudah rapi.
Tidak ada yang bicara.
Aku berjalan ke kamarku, menutup pintu, dan bersandar di baliknya. Aku mengangkat tangan kananku dan menatapnya. Tangan itu masih hangat. Masih sedikit lembap, bukan oleh keringatku sendiri.
Ponselku bergetar.
Mas SOP: Sudah sampai. Jam tujuh kurang dua menit.
Lalu, satu menit kemudian:
Mas SOP: Tangan saya masih keringetan.
Mas SOP: Kata kamu nanti terbiasa.
Mas SOP: Berapa lama biasanya?
Aku duduk di lantai kamar dengan punggung bersandar ke pintu, memeluk lutut, dan tersenyum ke layar ponsel seperti anak SMA yang baru pertama kali pacaran. Padahal aku bukan anak SMA. Padahal aku sudah pernah menikah. Padahal aku tahu persis bagaimana rasanya bergandengan tangan, berpelukan, dan semua hal lain yang jauh lebih dari itu.
Tapi aku tidak tahu bagaimana rasanya digenggam balik dengan sangat hati-hati, seperti memegang telur.
Aku tidak tahu ada laki-laki yang bisa memegang tangan perempuan seperti itu.
Aku: Tergantung.
Mas SOP: Tergantung apa?
Aku: Tergantung seberapa sering Mas latihan.
Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi. Muncul lagi.
Mas SOP: Besok jam berapa?
Malam itu, kemeja flanel kotak-kotak abu-abu itu tidak kusampirkan di kursi rias. Aku langsung memeluknya.
Aku tidak lagi bilang pada diriku sendiri bahwa ini hanya tameng.
- 1 Jam Tujuh
- 2 Janji Arisan
- 3 Pertemuan Pertama
- 4 Tameng
- 5 Krisan Putih
- 6 Bekal Gosong
- 7 Calon Saya
- 8 Rencana Hujan
- 9 Jangan Korbankan Hidupmu
- 10 Sup Hari Kamis
- 11 Pasien Paling Bandel
- 12 Mas Lulus reading
- 13 Cemburu pada Orang Baik
- 14 Izin
- 15 Undangan yang Tidak Menyebut Namaku
- 16 Langkah Kuda
- 17 Persiapan Rahasia
- 18 Sekali, Umur Dua Tahun
- 19 Masih Tameng?
- 20 Bukan
- 21 Cincin
- 22 Mawar Kuning
- 23 Bukan yang Ditunggu
- 24 Administrasi Kepulangan
- 25 Maju Dua Langkah
- 26 Lampu Teras
- 27 Pintu Kedatangan
- 28 Catatan Terakhir
- 29 Kiriman Tanpa Nama
- 30 Krisan Putih, Kali Ini Benar
- 31 Restu
- 32 Janda Tahu Caranya
- 33 Bukan Pengganti
- 34 Proyek A, Versi Final
- 35 Malam Tanpa Jam Tujuh
- 36 Selamat Datang Pulang
- 37 Malam Pertama
- 38 Laporan Bulanan
- 39 Jam Tujuh, ke Rumah Kita
- 40 Proyek B
- 41 Epilog — Hujan