Chapter Five

Krisan Putih

POV: Bagas

Hari Senin, aku membuat spreadsheet.

Aku tidak bangga mengakuinya. Tapi aku juga tidak tahu cara lain untuk memikirkan sesuatu yang sepenting ini. Selama sembilan tahun, setiap masalah di hidupku selesai di spreadsheet: jadwal armada, biaya renovasi atap, cicilan mobil, anggaran pernikahan Nisa. Kalau sesuatu bisa dimasukkan ke kolom dan baris, sesuatu itu bisa diatur.

Jadi jam setengah delapan pagi, sebelum siapa pun di kantor datang, aku membuka laptop dan membuat file baru.

Nama file-nya: Proyek A.

Aku tidak berani menulis nama lengkapnya. Kalau suatu hari laptop ini dipinjam orang, setidaknya mereka akan mengira ini proyek gudang baru.

Isinya empat tab.

Tab pertama, Data Primer: nama, usia (perkiraan: 28–30), pekerjaan (florist, studio cat hijau sage, Pajajaran), minuman (teh melati, tanpa gula, JANGAN PERNAH PAKAI GULA), suka hujan, benci becek.

Tab kedua, Risiko: Saya kaku (tinggi). Saya tidak berpengalaman (sangat tinggi). Saya tidak tahu apa yang dia suka (tinggi). Kupingku merah (tidak bisa dimitigasi).

Tab ketiga, Timeline: kosong, karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi berikutnya.

Tab keempat, KPI. Aku menatap tab itu lama, lalu mengetik satu baris:

Dia tertawa.

Lalu aku mengetik satu baris lagi di bawahnya, lebih kecil:

Dua kali.


“Bos, itu apaan?”

Aku menutup laptop terlalu keras.

Tomi berdiri di belakang kursiku dengan cangkir kopi sachet di satu tangan dan donat gula di tangan yang lain. Tomi adalah kepala gudang, tiga puluh satu tahun, sudah menikah dua kali dan bercerai dua kali, dan karena itu menganggap dirinya ahli dalam segala hal yang berhubungan dengan perempuan.

“Bukan apa-apa,” kataku.

“Proyek A?” Tomi menggigit donatnya. “Proyek gudang baru? Kok saya nggak tahu?”

“Itu rahasia.”

“Rahasia perusahaan?”

“Rahasia saya.”

Tomi berhenti mengunyah. Ia menatapku, lalu menatap laptop yang tertutup, lalu menatapku lagi, dan aku melihat sesuatu menyala di matanya. Itu mata seorang laki-laki yang sudah dua kali gagal menikah dan sangat ingin melihat orang lain mencoba.

“Bos,” katanya pelan, menarik kursi dari meja sebelah dan duduk terbalik di atasnya. “Bos lagi deketin cewek?”

“Bukan urusanmu.”

“Ya Allah. Bos lagi deketin cewek.” Ia meletakkan kopinya di mejaku, yang tidak pernah boleh ia lakukan. “Sembilan tahun saya kerja sama Bos, saya kira Bos nikah sama gudang ini.”

“Tom.”

“Siapa? Anak mana? Ketemu di mana?”

Aku seharusnya tidak menjawab. Aku tahu aku seharusnya tidak menjawab. Tapi aku juga tahu bahwa aku sama sekali tidak punya pengalaman, dan Tomi, betapapun gagalnya, setidaknya punya.

“Dijodohin,” kataku. “Anak teman Ibu. Punya toko bunga.”

“Cantik?”

Aku tidak menjawab.

Tomi menatap wajahku lalu bersiul pelan. “Kuping Bos merah.”

Aku mulai membenci kupingku sendiri.

“Terus? Sudah chat?”

“Saya nggak punya nomornya.”

“Lho?”

“Dia yang minta nomor saya. Dia nggak kasih nomornya. Katanya saya harus cari dia sendiri.”

Tomi meletakkan donatnya. Ia menatapku dengan serius, ekspresi yang biasanya hanya ia pakai waktu ada forklift yang rusak.

“Bos,” katanya. “Itu tes.”

“Tes apa?”

“Tes keseriusan. Cewek kayak gitu, yang nggak kasih nomor, yang nyuruh nyari sendiri, itu cewek level tinggi, Bos. Nggak bisa didekati pakai cara biasa.” Ia mengangkat satu jari. “Pertama, jangan datang sekarang. Tunggu tiga hari. Biar dia penasaran.”

“Tiga hari?”

“Kedua.” Jari kedua. “Waktu datang, jangan kelihatan terlalu niat. Pura-pura kebetulan lewat. Pura-pura mau beli bunga buat orang lain.”

“Buat siapa?”

“Buat siapa aja. Ibu Bos. Biar dia cemburu sedikit, terus lega waktu tahu itu buat ibu Bos.”

“Itu bohong, Tom.”

“Itu strategi, Bos.” Jari ketiga. “Ketiga. Bawa sesuatu. Hadiah kecil. Tapi jangan bunga.”

“Kenapa jangan bunga?”

Tomi menatapku seolah aku baru saja bertanya kenapa truk tidak bisa terbang. “Bos. Dia jualan bunga. Bawa bunga ke tukang bunga itu kayak bawa kardus ke gudang.”

Aku mengangguk perlahan. Itu masuk akal.

Itu satu-satunya nasihat Tomi hari itu yang masuk akal, dan aku tidak mengikutinya.


Aku tidak menunggu tiga hari. Aku menunggu sampai jam empat sore.

Sepanjang hari aku tidak bisa berkonsentrasi. Aku menandatangani surat jalan untuk rute Cianjur dan baru sadar setelah ditandatangani bahwa surat itu untuk rute Cikampek. Aku memimpin rapat koordinasi armada dan dua kali mengatakan “teh melati” ketika maksudku “tarif tol”. Di rapat kedua, salah satu supervisor bertanya apakah aku sedang tidak enak badan.

Jam empat, aku mematikan laptop dan berdiri.

“Bos mau ke mana?” teriak Tomi dari gudang. “Belum tiga hari!”

Aku tidak menjawab.

Masalah pertama: aku tidak tahu alamat pastinya. Aku tahu Pajajaran, aku tahu cat hijau sage, tapi Pajajaran itu panjang. Aku sedang berpikir apakah harus menyusuri seluruh jalan itu dengan kecepatan dua puluh kilometer per jam ketika ponselku bergetar.

Nisa: Mas
Nisa: Jl. Pajajaran no. 71B, sebelah toko kacamata, seberang warung bakso Pak Kumis
Nisa: jangan tanya aku tau dari mana
Nisa: dan jangan bawa bunga ke toko bunga ya Mas, itu kayak bawa kardus ke gudang

Aku menatap pesan itu. Bagaimana Nisa dan Tomi bisa menggunakan perumpamaan yang sama persis? Apakah ada grup WhatsApp yang tidak kuketahui?

Aku tidak mau tahu.


Masalah kedua: hadiah.

Tomi bilang jangan bunga. Nisa bilang jangan bunga. Logika bilang jangan bunga. Aku setuju dengan semuanya.

Lalu, di lampu merah perempatan Jalan Pajajaran–Jalan Otista, aku melihat sebuah kios bunga kecil di trotoar. Ember-ember plastik biru berderet, dan di salah satunya ada bunga putih yang bulat-bulat dan rapat, seperti kumpulan bola kapas kecil.

Bunga itu cantik. Bersih. Sederhana. Seperti blus putih yang dipakainya di kafe.

Dan aku ingat, dari zaman kuliah, ibu kosku pernah bilang bahwa bunga jenis itu paling awet. Bisa tahan dua minggu di vas. Aku suka hal-hal yang awet. Hal-hal yang awet itu efisien.

Bunga ke tukang bunga memang aneh, aku tahu. Tapi bunga yang awet ke tukang bunga, itu berbeda. Itu menunjukkan bahwa aku memikirkan daya tahan. Keberlanjutan. Bahwa aku orang yang berpikir jangka panjang.

Itu yang kukatakan pada diriku sendiri ketika menepi dan membeli satu ikat besar.

“Buat siapa, A?” tanya ibu penjual bunga sambil membungkus dengan koran.

“Buat ... teman.”

Ibu itu menatapku, lalu menatap bunganya, lalu menatapku lagi dengan ekspresi aneh yang tidak bisa kubaca.

“Temannya ... yang sabar ya, A,” katanya, dan menyerahkan bunga itu.

Aku tidak mengerti maksudnya. Belakangan aku mengerti.


Studio itu memang bercat hijau sage. Bangunannya kecil, terjepit di antara toko kacamata dan sebuah konter pulsa, dengan etalase kaca besar yang penuh ember berisi bunga warna-warni. Ada papan nama kayu kecil di atas pintu, ditulis tangan dengan huruf yang rapi dan sedikit miring: Sepetak.

Aku memarkir mobil di seberang, di depan warung bakso Pak Kumis. Pak Kumis sendiri sedang duduk di bangku plastik di depan warungnya, memang berkumis, dan menatapku dengan rasa ingin tahu yang terang-terangan ketika aku turun membawa seikat besar bunga putih terbungkus koran.

Aku menyeberang. Aku berdiri di depan pintu kaca. Melalui kaca, aku bisa melihat bagian dalam studio: meja kayu panjang, gunting-gunting tergantung di dinding, radio tua di sudut.

Dan dia.

Ia berdiri membelakangi pintu, di depan meja kerja, sedang merangkai sesuatu dalam vas kaca tinggi. Rambutnya digelung asal-asalan seperti di foto, dengan beberapa helai yang lepas di leher. Ia memakai celemek kanvas cokelat di atas kaus putih, dan lengan kausnya digulung sampai bahu. Lengannya ramping tapi kuat, berkilau sedikit karena keringat. Dari radio terdengar lagu dangdut tentang orang yang ditinggal kekasih. Ia ikut menggumamkan lagunya, pelan, sedikit sumbang.

Aku berdiri di sana terlalu lama. Pak Kumis di seberang jalan mungkin sedang menghitung.

Aku mendorong pintu. Sebuah lonceng kecil di atasnya berdenting.

Ia menoleh.

Ada satu detik di mana wajahnya tidak siap. Satu detik di mana aku melihatnya terkejut, matanya melebar sedikit, gunting di tangannya berhenti di udara. Lalu detik itu lewat, dan wajahnya kembali tenang, dan sudut bibirnya bergeser ke arah yang sama seperti di kafe.

“Mas SOP,” katanya.

“Hah?”

“Nggak.” Ia meletakkan guntingnya. “Cepat juga. Saya kira Mas butuh seminggu.”

“Teman saya bilang tiga hari.”

“Terus?”

“Saya nggak tahan tiga hari.”

Kupingku panas. Aku tahu kupingku panas.

Ia tidak berkomentar soal kupingku kali ini. Matanya turun ke bungkusan koran di tanganku.

“Itu apa?”

Aku mengulurkan bunga itu dengan kedua tangan, seperti menyerahkan sertifikat. “Buat Mbak.”

Ia mengambil bungkusan itu. Ia membuka korannya. Ia melihat isinya.

Lalu ia diam.

Diam yang panjang. Ia menatap bunga putih itu, lalu menatapku, lalu menatap bunga itu lagi. Bibirnya terkatup rapat. Bahunya mulai bergetar.

Aku panik. “Mbak? Mbak alergi?”

Ia menggeleng. Bahunya bergetar lebih keras. Lalu ia meletakkan bunga itu di meja kerja, membungkuk, menopangkan kedua tangannya di tepi meja, dan tertawa.

Tertawa sungguhan. Bukan tawa pendek seperti di kafe. Tawa yang keluar dari perut, yang membuatnya harus menunduk dan menutup wajah dengan satu tangan, yang membuat bahunya terguncang sampai beberapa helai rambut lagi lepas dari gelungannya. Tawa yang begitu keras sampai radio dangdut di sudut kalah.

Aku berdiri di tengah studio, tidak tahu harus berbuat apa.

“Mas,” katanya akhirnya, menyeka sudut matanya. “Mas tahu ini bunga apa?”

“Bunga putih.”

“Ini krisan putih, Mas.”

“Iya. Katanya awet.”

“Awet.” Ia mulai tertawa lagi, lalu menahannya dengan susah payah. “Mas. Krisan putih itu bunga duka. Bunga buat orang meninggal. Buat karangan bunga turut berduka cita. Buat ditaruh di makam.”

Aku menatap bunga itu. Aku menatapnya.

Ibu penjual bunga. Temannya yang sabar ya, A.

“Saya ...” kataku.

“Mas bawa bunga duka ke janda,” katanya, dan kali ini ia tertawa sampai harus duduk di kursi kayu di belakang meja.

Aku ingin menghilang. Aku ingin lantai studio terbuka dan menelanku, bersama krisan putih itu, bersama spreadsheet Proyek A dan seluruh tab-tabnya. Aku membuka mulut untuk meminta maaf, untuk menjelaskan, untuk mengatakan bahwa aku tidak bermaksud apa-apa, bahwa aku tidak tahu, bahwa aku orang logistik dan bukan orang bunga ...

Lalu aku melihat wajahnya.

Ia masih tertawa. Matanya basah karena tertawa, pipinya memerah, dan ia menatapku dari kursi itu bukan dengan tatapan orang yang tersinggung. Bukan juga tatapan orang yang kasihan. Ia menatapku seperti orang yang baru saja menemukan sesuatu yang ia kira sudah lama hilang.

“Maaf,” kataku. “Saya ganti. Saya beli yang lain.”

“Nggak usah.”

“Saya nggak tahu, Mbak. Sumpah.”

“Saya tahu Mas nggak tahu.” Ia berdiri, menghela napas panjang untuk menenangkan diri, lalu mengambil krisan putih itu dan mengamatinya. “Lagian ini krisan bagus. Segar. Mas beli di mana?”

“Kios di Otista.”

“Bu Iyah.” Ia mengangguk. “Barangnya memang bagus. Dia pasti bingung waktu Mas beli.”

“Dia bilang temannya yang sabar.”

Itu membuatnya tertawa lagi, tapi kali ini lebih pelan.


Ia mengajariku bahasa bunga.

Aku tidak memintanya. Ia hanya berjalan ke ember-ember di sepanjang dinding dan mulai menunjuk satu per satu, sambil aku mengikutinya seperti anak magang di hari pertama.

“Mawar merah. Cinta. Ini yang paling gampang, semua orang tahu.” Ia menyentuh kelopak mawar merah dengan ujung jari. “Jangan pernah kasih ini ke perempuan yang baru Mas kenal seminggu. Kesannya putus asa.”

Aku mencatat dalam kepala: mawar merah, jangan dulu.

“Lili putih. Kesucian. Biasanya buat pernikahan. Atau pemakaman, tergantung siapa yang beli.” Ia beralih ke ember berikutnya. “Baby’s breath. Bunga pengisi. Nggak punya arti khusus, tapi tanpa dia rangkaian kelihatan kosong.”

“Kayak saya di rapat direksi,” kataku.

Ia menoleh, alisnya terangkat. Lalu ia tersenyum. “Mas bisa lucu juga ternyata.”

“Itu nggak sengaja.”

“Yang nggak sengaja biasanya yang paling lucu.”

Ia berhenti di depan sebuah ember berisi mawar kuning. Kelopaknya kuning terang dengan tepi yang sedikit lebih pucat, seperti sinar matahari jam sembilan pagi.

“Kalau ini,” katanya, mengambil satu tangkai, “mawar kuning.”

“Artinya apa?”

Ia tidak langsung menjawab. Ia memotong batangnya dengan gunting kecil yang tergantung di pinggangnya, pendek, cukup pendek untuk masuk ke saku. Lalu ia berjalan ke arahku.

Ia berdiri dekat sekali. Lebih dekat dari yang diperlukan. Aku bisa mencium bau tubuhnya: campuran eucalyptus, tanah, dan sesuatu yang lebih manis di bawahnya, seperti sabun. Ia menyelipkan mawar kuning itu ke saku dada kemejaku. Jarinya menyentuh dadaku melalui kain, ringan sekali.

Lalu, alih-alih mundur, tangannya naik ke kerahku.

“Kerah Mas miring,” katanya pelan.

Kerahku tidak miring. Aku menyetrikanya sendiri tadi pagi, dan aku menyetrika dengan presisi. Tapi aku tidak mengatakan apa-apa. Aku berdiri diam seperti tiang listrik, sementara jari-jarinya merapikan kerah yang tidak perlu dirapikan, pelan, teliti, sisi kiri lalu sisi kanan, lalu sisi kiri lagi.

Lebih lama dari yang diperlukan. Jauh lebih lama.

Aku bisa melihat bulu matanya dari jarak ini. Aku bisa melihat tahi lalat kecil di bawah mata kirinya. Aku bisa melihat bahwa ada sedikit serbuk sari kuning di pipinya, di dekat telinga, dan aku harus menahan seluruh tubuhku supaya tidak mengangkat tangan dan membersihkannya.

“Mawar kuning,” katanya, masih memegangi kerahku, matanya tidak menatap mataku melainkan kerah itu, “artinya persahabatan.”

“Oh.”

“Untuk sekarang.”

Ia mengangkat matanya dan menatapku. Dekat. Sangat dekat.

“Kemejanya jangan dicuci ya, Mas,” katanya. “Nanti wangi saya hilang.”

Lalu ia melepaskan kerahku, menepuk dadaku dua kali dengan telapak tangan, ringan, dan berbalik kembali ke meja kerjanya seolah tidak terjadi apa-apa.

Aku berdiri di tengah studio dengan setangkai mawar kuning di saku dan jantung yang berdetak seperti mesin truk tua yang dipaksa naik tanjakan Puncak.

Untuk sekarang.


Kami mengobrol sampai jam enam. Lebih tepatnya, ia bekerja dan aku menonton. Ia menyelesaikan rangkaian di vas kaca tinggi: mawar peach, eucalyptus, dan sesuatu berwarna ungu yang namanya tidak bisa kuingat meskipun ia sudah menyebutkannya dua kali. Aku membantu mengangkat ember-ember air yang berat dari belakang ke depan. Setiap kali aku mengangkat ember, aku merasakan matanya di lenganku, dan setiap kali aku menoleh, ia sedang menatap bunga.

Jam enam lewat sepuluh, aku melihat jam tangan. Lalu melihatnya lagi.

“Mas buru-buru?”

“Saya ...” Aku memasukkan tangan ke saku. “Saya selalu pulang jam tujuh.”

Tangannya berhenti di atas vas.

Hanya sebentar. Setengah detik, mungkin. Sama seperti di kafe, ada sesuatu yang lewat di wajahnya, cepat seperti bayangan burung. Kali ini aku sempat melihatnya lebih jelas. Itu bukan kesal. Itu bukan sedih. Itu sesuatu yang lebih rumit, seperti orang yang mendengar lagu lama di tempat yang tidak terduga.

Lalu ia menunduk kembali ke vasnya.

“Pulang sana,” katanya. “Ditunggu.”

“Saya bisa telat sedikit kalau ...”

“Jangan.” Ia tidak menoleh. “Jangan telat. Pulang.”

Suaranya tidak keras. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuatku tidak membantah.

Aku berjalan ke pintu. Aku memegang gagangnya. Lalu aku berbalik.

“Mbak.”

“Hm?”

“Nomor Mbak.”

Ia menoleh. Ia menatapku lama, dari ujung rambut sampai sepatu, dan aku merasa seperti truk yang sedang diperiksa di jembatan timbang.

“Mas sudah cari saya sendiri,” katanya akhirnya. “Datang di hari pertama, bukan hari ketiga. Bawa bunga duka ke janda. Bantuin angkat ember tanpa disuruh.” Ia mengambil sepotong kertas kecil dari meja, kertas ucapan untuk rangkaian bunga, dan menulis sesuatu di atasnya. “Lulus.”

Ia berjalan ke arahku dan menyelipkan kertas itu ke saku dada kemejaku, di sebelah mawar kuning.

“Krisannya saya simpan,” katanya. “Buat kenang-kenangan.”


Aku sampai di rumah jam tujuh kurang dua menit.

Ibu menatap mawar kuning di sakuku begitu aku masuk. Ayah menatapnya juga, lalu menurunkan kacamatanya. Untungnya Nisa tidak ada, karena ini hari Senin.

Lalu ponselku bergetar.

Nisa: Mas.
Nisa: Pak Kumis bilang Mas bawa krisan putih.
Nisa: MAS BAWA KRISAN PUTIH???
Nisa: ITU BUNGA ORANG MENINGGAL MAS

Aku tidak bertanya bagaimana Nisa kenal Pak Kumis. Aku sudah berhenti bertanya.

Setelah makan malam, di kamar, aku membuka laptop dan file Proyek A. Aku membuka tab Data Primer dan menambahkan satu baris di bagian paling atas, di atas nama:

Nomor: lalu kusalin angka-angka dari kertas ucapan kecil itu, satu per satu, dan mengeceknya tiga kali.

Lalu aku membuka tab Timeline yang kosong, dan untuk pertama kalinya, aku tahu apa yang harus kutulis.

Status: Mawar kuning.

Aku berhenti, lalu menambahkan dua kata:

Untuk sekarang.

Aku menyimpan file itu. Aku menutup laptop. Aku membuka mesin pencari di ponsel dan mengetik, dengan jempol yang sedikit gemetar: arti mawar kuning dari perempuan.

Lalu aku menghapusnya, karena aku sudah tahu artinya. Ia sudah mengatakannya.

Kemeja biru muda itu tergantung di belakang pintu kamarku. Aku tidak mencucinya.