Chapter Thirty Three

Bukan Pengganti

POV: Bagas

Aku berdiri di parkiran gudang selama sembilan menit.

Pak Satpam yang menghitung. Pak Satpam yang melaporkannya di grup, setiap menit, dengan disiplin seorang petugas jaga malam: Menit 3. Belum gerak. Menit 5. Tangan masih di pipi. Menit 7. Mas Tomi sudah bangun dari tangga, kopinya diganti. Menit 9. Pak Bagas akhirnya jalan. Ke arah yang salah. Masuk ke gudang B, bukan ke kantor.

Aku tidak ingat berjalan ke gudang B. Aku ingat berdiri di antara tumpukan kardus ukuran B-tiga, empat ratus dua belas unit, dengan tangan masih menempel di pipi kiriku, dan menyadari bahwa aku tidak tahu kenapa aku ada di sana.

Rapat jam dua kupimpin dengan sangat buruk. Aku menyebut teh melati dua kali ketika maksudku tarif tol. Tidak ada yang menegurku. Semua orang di ruangan itu sudah melihat parkiran dari jendela lantai dua.

Itu cicilan. Lunasnya setelah akad.

Aku tahu ia menunggu. Aku tahu ia sudah maju dua langkah, tiga langkah, sepuluh langkah. Ia datang ke teras rumahku sepuluh malam. Ia menggenggam tanganku di depan nisan suaminya. Ia bilang kalau Mas masih mundur, saya yang lamar. Ia duduk di atas laporan bongkar muatku dan merapikan dasi yang tidak miring dan menekan telapak tangannya di atas cincin di saku kemejaku.

Saya juga tahu Mas lagi nahan sesuatu. Saya cuma nggak tahu apa.

Ia layak tahu.


Hari Kamis malam, hujan.

Aku datang ke rumah keluarga Wardhani jam delapan, seperti biasa. Aku membuat teh tubruk di dapur Bu Sri, seperti biasa. Pak Hendra menyapaku dari ruang tengah dengan hmm pendek dan tidak menoleh dari televisi, seperti biasa.

Anjani duduk di kursi rotan di teras depan. Ia memakai kemeja flanel kotak-kotak abu-abu. Kemejaku. Sudah tiga bulan sekarang, dan aku tidak pernah memintanya kembali, dan ia tidak pernah menawarkan.

Aku meletakkan cangkirnya di meja kecil di antara dua kursi rotan. Lalu aku duduk di kursi yang satunya. Bukan di kursi plastik. Bukan di lantai. Di kursi rotan, di sebelahnya, dengan meja kecil di antara kami.

Hujan turun deras di halaman. Air mengalir dari ujung genteng ke pot-pot bunga Bu Sri.

Kami minum teh. Kami tidak bicara.

Lalu aku meletakkan cangkirku.

“Jani.”

“Hm?”

“Saya mau cerita.”

Ia meletakkan cangkirnya juga. Ia tidak menoleh. Ia hanya menunggu, menatap hujan, dengan tangan terlipat di pangkuan, persis seperti di kafe pertama kali, waktu ia bilang saya janda, Mas dan menunggu aku mundur.

Aku menarik napas.

“Saya baca suratnya Mas Fikri,” kataku. “Di rumah sakit.”

“Saya tahu.”

“Saya baca lagi. Di makam. Dalam kepala.” Aku menatap tanganku. “Saya baca tiap malam, Jani. Saya hafal.”

Ia menoleh sekarang.

“Dia nulis bagus,” kataku. “Dia nulis kayak orang yang tahu dirinya. Tahu salahnya. Tahu apa yang dia nggak bisa kasih. Terus dia ngasih kamu izin. Di malam terakhirnya. Dia mikirin kamu, bukan dirinya.” Suaraku mulai bergetar. Aku membiarkannya. “Dia orang baik, Jani. Dia nolong orang di jalan tol sampai telat dua jam ke akadnya sendiri. Dia gendong Hanif keluar dari reruntuhan. Dia masuk lagi buat nyelametin anak kecil. Dia ...”

Aku berhenti.

“Dia pahlawan,” kataku. “Dan saya ... saya orang gudang.”

Hening. Hanya hujan.

“Saya takut,” kataku pelan. “Saya takut seumur hidup kamu bakal bandingin. Nggak sengaja. Nggak bermaksud. Tapi tiap kali saya gosongin ayam, kamu bakal ingat dia yang nggak sabar di dapur. Tiap kali saya kalah catur sama Bapak, kamu bakal ingat dia yang nggak bisa duduk diam. Tiap kali saya pulang jam tujuh, kamu bakal ingat dia yang nggak pulang.” Aku menatap hujan. “Dan saya bakal selalu jadi yang kedua. Yang datang belakangan. Yang dapat izin dari surat orang lain.”

Aku menelan ludah.

“Saya nggak mau jadi pengganti, Jani.”


Ia tidak langsung menjawab.

Aku menunggu. Aku sudah belajar menunggu. Darinya.

“Itu aja, Mas?” tanyanya akhirnya. Pelan.

Aku diam. Lalu aku menggeleng.

“Satu lagi,” kataku.

Ia menunggu.

“Tabungan saya habis,” kataku. Kalimat itu keluar lebih cepat dari yang kurencanakan, seperti kardus yang jatuh dari tumpukan paling atas. “Yang buat nikah. Saya pakai buat Hanif. Saya nggak nyesel. Sumpah, nggak nyesel. Tapi sekarang ...” Aku menatap tanganku. “Saya mau ngelamar kamu, Jani. Saya mau ngelamar yang bener. Bukan di teras rumah Ibu sambil kaku kayak tiang. Saya mau ngasih kamu pernikahan yang bagus. Yang kamu layak dapat. Dan saya nggak punya apa-apa buat ngasih.”

Aku mengeluarkan cincin dari saku kemeja. Aku meletakkannya di telapak tanganku, di antara kami, di bawah lampu teras.

“Saya cuma punya ini,” kataku. “Sama ini.”

Dengan tangan yang lain, aku mengeluarkan sesuatu dari saku celana. Sebuah tasbih kayu cokelat. Butir-butirnya sudah licin dan mengilap karena terlalu sering dipegang.

Anjani menatap tasbih itu. Napasnya berhenti.

Ia mengenalinya. Tentu saja ia mengenalinya. Ia sudah melihat tasbih itu di tangan Bu Aminah selama dua tahun lebih. Di setiap kunjungan. Di setiap acara keluarga. Di ruang tunggu bandara, waktu tasbih itu jatuh dan Fadhil memungutnya dengan tangan gemetar.

“Itu ...”

“Bu Aminah yang kasih,” kataku. “Di teras. Waktu restu.” Aku memutar tasbih itu pelan di jariku. “Dia bilang, Ibu pakai ini dua tahun buat doain Fikri pulang. Sekarang Ibu nggak nunggu lagi. Kamu yang pegang. Doain dia. Doain Anjani. Doain kalian.”

Anjani menutup mulutnya dengan tangan.

“Terus dia bilang satu hal lagi,” kataku. Suaraku pecah sekarang. Aku tidak bisa menahannya. “Dia bilang, kamu bukan gantinya Fikri, Nak. Ibu nggak mau kamu jadi gantinya. Ibu mau kamu jadi kamu. Fikri udah punya tempatnya. Kamu bikin tempat kamu sendiri.”

Hujan berdentam di genteng.

“Saya nggak ngerti maksudnya,” kataku. “Sampai sekarang. Gimana caranya bikin tempat sendiri di hidup orang yang sudah punya cerita sebesar itu.”


Anjani berdiri.

Aku kira ia akan memelukku. Aku kira ia akan menangis. Aku kira ia akan bilang sesuatu yang lembut dan menenangkan.

Ia tidak melakukan satu pun dari itu.

Ia berjalan masuk ke rumah. Begitu saja. Meninggalkanku di teras dengan cincin di satu tangan dan tasbih di tangan yang lain dan secangkir teh tubruk yang sudah dingin.

Aku duduk di sana, bingung.

Dua menit kemudian, ia kembali. Ia membawa dua benda.

Yang pertama, setangkai mawar kuning. Kering. Kelopaknya sudah berubah warna menjadi kuning tua kecokelatan, rapuh, mengerut ke dalam. Mawar yang kukirim lewat Pak Kumis, di hari aku mundur. Ia mengeringkannya. Ia menyimpannya.

Yang kedua, setangkai mawar merah. Segar. Kelopaknya merah tua, hampir hitam di bagian tengah, masih basah oleh embun. Mawar dari studionya. Mawar yang paling bagus. Aku tahu, karena aku sudah cukup lama berdiri di studio itu untuk tahu bahwa ia menyimpan mawar-mawar terbaik di ember paling belakang, yang tidak dijual.

Ia berdiri di depanku. Aku masih duduk di kursi rotan.

Ia mengulurkan mawar kuning yang kering itu kepadaku.

“Ini punya Mas,” katanya. “Saya kembalikan.”

Aku menerimanya. Kelopaknya rontok satu di pangkuanku.

Lalu ia mengulurkan mawar merah itu.

“Persahabatannya,” katanya, “sudah selesai, Mas.”

Aku menatap mawar merah di tangannya. Aku tidak bisa bergerak.

Mawar merah. Cinta. Jangan pernah kasih ini ke perempuan yang baru Mas kenal seminggu. Kesannya putus asa.

Itu kalimatnya. Di studio. Waktu ia mengajariku bahasa bunga dan aku mencatat dalam kepala: mawar merah, jangan dulu.

Sekarang ia yang memberikannya kepadaku.


Ia tidak menunggu aku mengambilnya. Ia meletakkan mawar merah itu di pangkuanku, di sebelah mawar kuning yang kering, di sebelah cincin dan tasbih. Lalu ia berlutut di lantai teras, di depan kursi rotanku, sehingga wajahnya sejajar dengan wajahku.

“Mas dengerin saya,” katanya.

Aku mengangguk.

“Mas bukan pengganti.”

“Jani ...”

“Dengerin dulu.” Ia meletakkan kedua tangannya di lututku. “Fikri itu bagian dari hidup saya yang dulu. Hidup yang sudah selesai. Saya cinta dia. Saya nggak bakal pura-pura nggak pernah cinta dia. Tapi hidup itu sudah selesai, Mas. Dia sendiri yang bilang. Di suratnya.”

Ia menatapku. Matanya basah, tapi suaranya mantap.

“Sekarang saya hidup di hidup yang lain,” katanya. “Hidup yang dimulai di kafe dekat Kebun Raya, waktu ada laki-laki pegang sendok kebalik. Hidup yang ada krisan putih di studio. Ayam gosong. Teh tubruk Eyang yang nggak diaduk. Pesan jam enam pagi.”

Ia meremas lututku.

“Di hidup yang ini, Mas bukan yang kedua,” katanya pelan. “Mas yang pertama.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Mas bukan pengganti,” katanya lagi, lebih pelan. “Mas yang pertama untuk hidupku yang ini.”


Aku tidak tahu siapa yang bergerak lebih dulu.

Mungkin aku. Mungkin aku akhirnya, setelah tiga bulan, setelah dua puluh kali menahan diri, setelah sepuluh malam di balik pintu dan satu malam di lantai teras dan satu siang di parkiran gudang, akhirnya bergerak. Mungkin ia. Mungkin ia yang menarikku turun dari kursi rotan, atau naik dari lantai, atau entah bagaimana, karena yang kuingat berikutnya adalah aku berlutut di lantai teras keramik yang dingin dan basah oleh cipratan hujan, dan ia di depanku, dan lenganku melingkar di tubuhnya, dan lengannya melingkar di leherku.

Pelukan itu tidak kaku. Tidak seperti di teras rumah Ibu, pertama kali, dengan lengan yang terlalu tinggi dan dagu yang membentur ubun-ubunnya. Kali ini aku tahu caranya. Aku sudah belajar. Dari pelukan pertama itu, dari kepalanya di bahuku di depan minimarket di Depok, dari kepalanya di punggungku di parkiran rumah sakit.

Lenganku melingkar di punggungnya, rendah, erat. Dagunya di bahuku. Pipiku di rambutnya. Wangi rambutnya, eucalyptus dan tanah dan sesuatu yang manis di bawahnya, wangi yang sama seperti hari pertama di studio.

Ia menangis. Aku merasakannya di leherku. Hangat dan basah.

Aku juga menangis. Aku tidak malu.

Mawar merah dan mawar kuning dan cincin dan tasbih jatuh dari pangkuanku ke lantai teras. Tidak ada yang memungutnya.

Kami berlutut seperti itu lama sekali. Di bawah lampu teras. Di antara dua kursi rotan. Dengan hujan yang turun deras di halaman dan teh tubruk yang sudah dingin di meja kecil.

Dari dalam rumah, aku mendengar suara televisi tiba-tiba dimatikan. Lalu sunyi. Lalu suara Bu Sri, berbisik keras, Mas Hendra, jangan intip, Mas! Lalu suara Pak Hendra, juga berbisik keras, kamu juga ngintip, Sri!

Anjani tertawa ke leherku. Basah. Gemetar.

Aku tidak melepaskannya.


Ponselku berdering di saku. Kami berdua kaget. Anjani menarik diri sedikit, cukup untuk menatap wajahku. Matanya merah. Pipinya basah. Ada bekas air mata di kerah kemeja flanel kotak-kotak abu-abu milikku yang ia pakai.

“Angkat, Mas,” katanya. “Siapa tahu penting.”

Aku mengeluarkan ponsel. Mbak Rara – Jembatan Asa.

Aku mengangkatnya dengan satu tangan. Tangan yang lain masih di punggung Anjani.

“Halo, Mbak?”

“Mas Bagas! Maaf malam-malam!” Suara Mbak Rara terdengar sangat bersemangat, sangat berbeda dari suaranya yang serak dan lelah biasanya. “Mas, saya mau kabarin. Barusan dapat konfirmasi.”

“Konfirmasi apa, Mbak?”

“Kemenlu! Pengajuan kami disetujui! Program perlindungan WNI. Mereka ganti sebagian biaya evakuasi Mas Hanif. Karena identitasnya sudah pasti WNI, relawan resmi, terdaftar.” Mbak Rara menarik napas. “Terus, Mas, ini yang bikin saya nangis tadi. Lentera Kasih di Cirebon bikin penggalangan dana. Warga kampungnya Mas Hanif. Ibu-ibu pengajian. Anak-anak sekolah. Mereka patungan. Buat, katanya, buat orang Bogor yang bawa pulang Mas Hanif.”

Aku tidak bisa bicara.

“Jumlahnya nggak semua, Mas,” kata Mbak Rara. “Tapi kalau digabung sama penggantian dari Kemenlu, lebih dari separuh yang Mas keluarkan bisa balik. Mungkin tiga minggu lagi masuk ke rekening Mas.”

Aku menatap Anjani. Ia menatapku. Ia mendengar semuanya. Speaker ponselku terlalu keras, seperti biasa.

“Mas?” Suara Mbak Rara. “Mas masih di situ?”

“Masih, Mbak,” kataku. Serak.

“Mas nangis?”

“Nggak, Mbak.”

“Mas nangis,” kata Mbak Rara, dan aku mendengar ia juga menangis di ujung telepon. “Fikri bener, Mas. Orang baik itu kadang yang tinggal, terus bayarin tiket orang lain. Terus kadang, kalau Allah lagi baik, tiketnya dibayarin balik.”


Setelah telepon ditutup, kami memungut barang-barang yang jatuh di lantai teras. Satu per satu. Tasbih kayu cokelat. Mawar kuning yang kering, yang sekarang tinggal tangkai dan tiga kelopak. Mawar merah yang segar, yang tidak rusak sama sekali.

Dan cincin emas putih.

Aku memungutnya. Aku menatapnya di telapak tanganku.

Anjani menatapnya juga. Lalu menatapku. Ia tidak berkata apa-apa. Ia tidak menyuruh. Ia hanya menunggu.

Aku memasukkan cincin itu kembali ke saku kemeja. Di dada kiri.

Ia mengangkat alis.

“Belum,” kataku. “Saya mau pasang lagi waktu ngelamar. Yang bener. Di depan semua orang.”

“Kapan?”

Aku menatapnya. Lalu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku membuat rencana yang tidak kutulis di spreadsheet lebih dulu.

“Minggu depan,” kataku. “Hari Minggu. Jam empat sore. Di rumah ini.”

Ia menatapku lama. Lalu ia tersenyum, senyum yang pelan-pelan melebar sampai matanya menyipit di ujung dan tahi lalat kecil di bawah mata kirinya ikut terangkat.

“Mas yakin?”

“Yakin.”

“Nggak pakai itinerary empat belas titik?”

Aku berpikir sebentar.

“Satu titik,” kataku. “Cuma satu.”