Chapter Seven

Calon Saya

POV: Anjani

Keluarga Ramadhan datang hari Minggu, dan aku sudah tahu sejak Rabu bahwa hari itu akan berat.

Ibu mertuaku menelepon Rabu malam. Suaranya ceria, ceria yang dipaksakan, ceria yang kudengar setiap kali ia berusaha keras untuk tidak terdengar sedih. Ia bilang mereka ingin melihat rumah baru kami di Bogor. Ia bilang ia membawa rendang. Ia bilang Bapak kangen main catur dengan Bapakku.

Lalu, di akhir telepon, dengan nada yang lebih ringan dari seharusnya: “Fadhil juga ikut, Nak.”

Aku menutup telepon dan berdiri lama di dapur dengan ponsel di tangan.

Mama, yang sedang mencuci piring, tidak menoleh. “Fadhil ikut?”

“Iya.”

“Ya sudah.” Mama menggosok piring lebih keras dari perlu. “Bilang saja kamu sudah ada calon.”

“Ma.”

“Jani, kamu sudah ketemu Bagas tiga kali. Dia bawain kamu bekal. Itu namanya calon.”

“Itu namanya tetangga baik hati.”

Mama berhenti menggosok. Ia menoleh dengan busa sabun di tangannya dan menatapku dengan tatapan yang sama seperti waktu aku SMP dan bilang nilai matematikaku jelek karena gurunya yang salah.

“Tetangga baik hati,” ulangnya, “nggak bawa ayam gosong ke rumah orang sampai tiga kali.”

“Dua kali, Ma. Yang ketiga telur balado.”

Mama tersenyum. Mama jarang tersenyum seperti itu. Senyum yang tahu sesuatu.

Aku keluar dari dapur sebelum Mama sempat mengatakan apa yang ia tahu.


Masalahnya, aku tidak berencana mengundang Bagas hari Minggu.

Rencananya sederhana. Keluarga Ramadhan datang. Kami makan siang. Kalau Ibu mertuaku menyinggung soal setelah seribu hari, aku akan menyebut nama itu dengan sopan. Bu, sebenarnya Anjani sudah dijodohkan. Anak sahabat Mama. Sudah sejak kecil. Ibu akan sedih, tapi Ibu akan mengerti, karena Ibu perempuan yang terlalu sopan untuk merebut sesuatu yang sudah dijanjikan kepada orang lain. Lalu mereka pulang, dan semuanya selesai dengan baik-baik, tanpa ada yang tersakiti secara langsung.

Bagas tidak perlu hadir. Bagas bahkan tidak perlu tahu.

Tapi aku melupakan satu variabel. Tante Ratih.


Jam sebelas lewat lima belas, setengah jam setelah keluarga Ramadhan tiba, bel pagar berbunyi.

Kami sedang duduk di ruang tamu. Bapakku dan Bapak mertuaku di pojok, sudah mulai main catur. Mama dan Ibu mertuaku di sofa panjang, mengobrol tentang harga cabai dengan intensitas yang tidak wajar, seperti dua orang yang sedang berjalan di atas es tipis dan memilih membicarakan cuaca. Fadhil duduk di kursi tunggal di dekat jendela, memegangi gelas teh manis dengan kedua tangan dan menatap ke luar.

Aku duduk di sebelah Ibu mertuaku. Tangannya menggenggam tanganku sejak tadi dan belum dilepaskan.

Bel berbunyi lagi.

“Siapa, Jan?” tanya Mama, dengan nada terlalu polos.

Aku menatap Mama. Mama menatap stoples kue nastar di meja dengan sangat serius.

Aku berdiri dan berjalan ke pintu depan.

Di balik pagar, berdiri seorang laki-laki dengan kemeja biru muda yang disetrika terlalu rapi, celana bahan abu-abu, dan sepatu kulit yang disemir sampai mengilap. Ia memegang sebuah keranjang rotan besar yang ditutup kain batik, dengan dua tangan, di depan dadanya, seperti petugas yang membawa kotak suara.

Bagas.

Ia melihatku dan wajahnya langsung memerah, mulai dari kuping.

“Ibu saya,” katanya cepat sebelum aku sempat bertanya, “nyuruh antar kue. Buat Tante Sri. Katanya Tante Sri pesan.”

“Mama pesan kue?”

“Kata Ibu begitu.” Ia mengangkat keranjang itu sedikit, seperti barang bukti. “Kue lumpur. Bolu pandan. Risoles. Lapis legit.”

“Itu banyak banget, Mas.”

“Ibu saya kalau bikin kue nggak pernah sedikit.”

Aku melirik ke belakang, ke ruang tamu. Melalui jendela, aku bisa melihat Mama di sofa, pura-pura masih membicarakan cabai tapi lehernya terjulur ke arah pintu seperti jerapah.

Mama pesan kue. Tentu saja Mama pesan kue. Mama menelepon Tante Ratih, mungkin hari Kamis, mungkin hari Jumat, dan dua perempuan itu menyusun rencana ini bersama dengan ketelitian dua jenderal di ruang perang.

“Mas tahu ada tamu di dalam?” tanyaku pelan.

Bagas melirik ke halaman, ke mobil sedan tua berpelat B yang diparkir di depan rumah. “Sekarang tahu.”

“Mas nggak dikasih tahu Ibu Mas?”

“Ibu cuma bilang, antar jam sebelas. Jangan telat. Pakai kemeja yang bagus.” Ia menunduk menatap kemejanya sendiri, lalu menatapku dengan wajah yang perlahan berubah dari bingung menjadi curiga. “Ini jebakan, ya?”

Aku tidak bisa menahan senyum. “Kayaknya, Mas.”

“Saya pulang aja kalau gitu.” Ia menyodorkan keranjang itu ke arahku melalui celah pagar. “Saya titip kuenya. Saya nggak mau ganggu.”

Aku menatap keranjang itu. Lalu aku menatap wajahnya. Laki-laki ini datang membawa kue untuk ibuku, tidak tahu apa-apa, dan langsung bersiap mundur begitu menyadari ada sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Tanpa bertanya. Tanpa marah. Hanya saya nggak mau ganggu.

Di belakangku, di ruang tamu, Ibu mertuaku sedang menunggu. Fadhil sedang menatap jendela dengan wajah yang terlalu tenang.

Aku membuka gembok pagar.

“Masuk, Mas.”

“Tapi ...”

“Masuk.” Aku mengambil keranjang itu darinya dan menyerahkannya kembali ke tangannya. “Bawa sendiri. Biar Mama senang.”


Begitu kami masuk ruang tamu, semua kepala menoleh.

Mama berdiri dengan semangat yang berlebihan untuk seseorang yang tidak tahu siapa yang datang. “Ya Allah, Bagas! Kok repot-repot!”

Bapakku, di pojok, menurunkan bidak kuda yang sedang dipegangnya dan menatap Mama dengan tatapan yang hanya bisa diterjemahkan sebagai Sri, kamu ini.

Bagas menyerahkan keranjang kepada Mama, membungkuk sopan, lalu berbalik menghadap tamu-tamu yang lain. Aku melihat matanya bergerak cepat, membaca ruangan: dua bapak bermain catur, seorang ibu berkerudung abu-abu di sofa yang menatapnya dengan mata yang tiba-tiba waspada, dan seorang laki-laki muda di dekat jendela yang tiba-tiba duduk lebih tegak.

Lalu Bagas melakukan sesuatu yang membuatku hampir tertawa di tengah situasi yang sama sekali tidak lucu.

Ia mengulurkan tangan kepada Bapak mertuaku dan berkata, dengan suara jelas dan tegas, seperti sedang memperkenalkan diri di rapat tender: “Selamat siang, Pak. Bagas Adinegara. Kepala Operasional PT Lintas Nusa Logistik, cabang Cibinong.”

Bapak mertuaku, yang pensiunan guru SD, menjabat tangannya dengan bingung. “Oh. Iya. Zainal.”

Bagas beralih ke Ibu mertuaku. “Selamat siang, Bu. Bagas.”

“Siang, Nak,” kata Ibu mertuaku pelan. Matanya bergerak dari wajah Bagas ke wajahku, lalu kembali ke wajah Bagas.

Lalu Bagas beralih ke Fadhil, yang sudah berdiri dari kursinya. Fadhil lebih muda tiga tahun, lebih pendek beberapa senti, dengan wajah yang selalu mengingatkanku pada Fikri waktu pertama kali kami bertemu: alis tebal, hidung mancung, senyum yang miring ke kiri. Tapi Fadhil tidak tersenyum sekarang.

“Fadhil,” katanya, menjabat tangan Bagas.

“Bagas.”

Mereka berjabat tangan. Lalu, karena tidak ada yang tahu harus berbuat apa, semua orang diam.

Hening itu berlangsung tiga detik. Aku menghitungnya. Tiga detik terasa sangat panjang ketika enam orang dewasa berdiri di ruang tamu yang sama dan semuanya sedang memikirkan hal yang sama tanpa ada yang mau mengatakannya.

Lalu Ibu mertuaku bertanya, dengan suara yang sangat hati-hati, “Nak Bagas ini ... siapanya Anjani?”

Mama membuka mulut. Aku tahu Mama akan menjawab. Aku tahu Mama akan bilang anak sahabat saya, atau teman Anjani, sesuatu yang aman dan setengah benar.

Tapi aku lebih dulu.

Aku melangkah ke samping Bagas. Aku menyelipkan tanganku ke lengannya, melingkarkannya di siku, dan merapatkan diriku ke sisinya. Lengannya menegang di bawah tanganku, keras seperti kayu.

“Ini calon saya, Bu,” kataku.


Aku tidak akan pernah lupa wajah Ibu mertuaku saat itu.

Bukan marah. Ibu tidak pernah marah. Wajahnya seperti orang yang baru saja menerima kabar yang sudah lama ia takutkan tapi tetap tidak siap mendengarnya. Matanya berkaca-kaca, lalu ia tersenyum, senyum yang dipaksa terlalu lebar, dan mengangguk berkali-kali.

“Oh,” katanya. “Oh, ya Allah. Alhamdulillah, Nak. Alhamdulillah.”

Dan aku merasakan sesuatu di dadaku retak sedikit.

Aku berbohong. Setengah berbohong. Aku memakai laki-laki di sebelahku ini, laki-laki yang membawakan kue untuk ibuku dan siap pulang begitu merasa mengganggu, sebagai perisai, tanpa memberitahunya. Dan aku menyakiti perempuan yang pernah tidur di lantai kamarku selama dua minggu.

Aku melihat ke arah Fadhil.

Fadhil sedang menatapku. Lalu menatap tanganku di lengan Bagas. Lalu, dan ini yang tidak kusangka, bahunya turun sedikit. Seperti orang yang baru saja meletakkan karung beras yang sudah lama ia pikul.

Lega. Fadhil lega.

Ia menangkap tatapanku dan buru-buru membuang muka ke jendela. Tapi aku sudah melihatnya. Dan entah kenapa, itu membuat dadaku sedikit lebih ringan.

Lalu aku menoleh ke laki-laki di sebelahku.

Bagas berdiri tegak seperti tiang bendera. Matanya lurus ke depan, ke dinding, ke kalender bergambar pemandangan Danau Toba yang digantung Mama di sana. Kupingnya merah. Lehernya merah. Aku cukup yakin ia tidak bernapas.

Tapi ia tidak menarik lengannya. Ia tidak berkata maaf, ada salah paham. Ia tidak bertanya apa-apa.

Ia hanya berdiri di sana, membiarkan aku memegangi lengannya, dan menunggu.


Sisa siang itu berjalan seperti mimpi yang aneh.

Kami makan siang. Rendang Ibu mertuaku, sayur asem Mama, kue-kue Tante Ratih yang jumlahnya cukup untuk acara tahlilan. Bagas duduk di sebelahku, karena Mama sudah menyiapkan kursinya di sana. Tentu saja Mama sudah menyiapkan kursinya.

Ia makan dengan sopan dan diam. Sesekali Bapak mertuaku bertanya tentang pekerjaannya, dan ia menjawab panjang lebar tentang sistem pergudangan, dan Bapak mertuaku mengangguk-angguk dengan wajah yang semakin lama semakin tertarik. Ternyata Bapak mertuaku dulu mengajar matematika dan senang mendengar orang membicarakan efisiensi. Mereka berdua menghabiskan dua puluh menit membahas rute terpendek untuk mengantar paket ke tiga puluh titik di Bogor, dengan menggambar di atas tisu.

Ibu mertuaku memperhatikan mereka. Lalu ia memperhatikan Bagas yang, tanpa ditanya, mengambilkan nasi untuk Bapakku dan Bapak mertuaku, lalu sayur untuk Mama, lalu sambal untuk Fadhil, lalu terakhir untuk dirinya sendiri.

Ibu mertuaku tidak berkomentar. Tapi aku melihat tatapannya melunak sedikit.

Fadhil hampir tidak bicara. Ia makan dengan cepat, lalu izin ke teras dengan alasan menerima telepon. Melalui jendela, aku melihatnya berdiri di dekat pot-pot bunga Mama dengan ponsel di telinga. Ia tersenyum ke ponsel itu, senyum kecil yang lembut, senyum seseorang yang sedang berbicara dengan orang yang ia sayangi.

Aku mencatatnya di kepala. Nanti.


Keluarga Ramadhan pamit jam tiga sore.

Di teras, Ibu mertuaku memelukku lama. Lebih lama dari biasanya. Ia berbisik di telingaku, “Dia baik, Nak. Kelihatan.” Lalu ia melepaskanku, mengusap pipiku dengan ibu jarinya, dan masuk ke mobil tanpa berkata apa-apa lagi.

Fadhil menyalamiku. Tangannya dingin. “Mbak,” katanya. Hanya itu. Tapi matanya mengatakan sesuatu yang lain, sesuatu seperti terima kasih, dan sesuatu seperti maaf.

Mobil sedan tua itu berjalan pelan meninggalkan kompleks. Aku berdiri di teras dan menonton sampai mobil itu berbelok di ujung jalan.

Lalu aku menyadari bahwa aku masih memegangi lengan Bagas.

Aku tidak tahu sejak kapan aku memegangnya lagi. Mungkin sejak di teras. Mungkin sejak Ibu mertuaku memelukku. Tanganku melingkar di sikunya, dan tubuhku bersandar sedikit ke sisinya, dan ia masih berdiri tegak seperti tiang bendera, menunggu.

Mama dan Bapak sudah masuk ke dalam. Pintu depan tertutup. Hanya kami berdua di teras.

Aku tidak melepaskan lengannya.

Aku justru mendekatkan wajahku ke telinganya. Aku harus sedikit berjinjit, karena ia lebih tinggi. Aku bisa mencium bau sabunnya, sabun batangan biasa, sabun yang dijual di warung, dan sesuatu yang hangat di bawahnya.

“Lengan Mas keras juga,” bisikku. “Rajin olahraga?”

Aku merasakan seluruh tubuhnya menegang. Lengannya di bawah tanganku berubah menjadi batu.

“Saya ...” Suaranya serak. “Saya ... angkat-angkat kardus. Di gudang. Kadang.”

“Oh.” Aku meremas lengannya sedikit, seperti mengecek buah di pasar. “Kardusnya berat-berat, ya?”

Ia tidak menjawab. Ia tidak bisa menjawab.

Aku melepaskan lengannya dan mundur selangkah. Lalu aku menatapnya, dan seluruh rasa bersalah yang tadi kurasakan di ruang tamu kembali, karena ia masih berdiri di sana, wajahnya merah, dan ia belum bertanya satu pun.

“Mas,” kataku. “Maaf.”

“Maaf kenapa?”

“Tadi. Di dalam. Saya bilang Mas calon saya.”

Ia menatapku lama. Lalu ia mengangguk pelan.

“Ada alasannya, kan,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Ada.”

“Mbak nggak harus cerita sekarang.”

Aku menatapnya. Laki-laki ini baru saja dipakai sebagai perisai di depan keluarga mertuaku. Ia dijebak oleh ibunya sendiri untuk datang ke sini. Ia duduk dua jam di meja makan bersama orang-orang yang tidak ia kenal, menjelaskan sistem gudang kepada pensiunan guru matematika, menyendokkan nasi untuk semua orang. Dan sekarang ia bilang aku tidak harus cerita.

“Mas nggak penasaran?”

“Penasaran.” Ia memasukkan tangan ke saku celananya. “Tapi saya bisa nunggu.”

Lalu, setelah jeda, dengan kuping yang semakin merah:

“Lagian, saya nggak keberatan. Disebut begitu.”


Malam itu, waktu aku sedang membersihkan studio, ponselku bergetar.

nisaadinegara_: KAK
nisaadinegara_: KAK ANJANI
nisaadinegara_: Mas Bagas pulang dari rumah Kakak terus langsung keluar lagi
nisaadinegara_: Aku kira mau ke studio Kakak
nisaadinegara_: TERNYATA KE GYM
nisaadinegara_: MAS BAGAS DAFTAR GYM KAK
nisaadinegara_: MAS BAGAS NGGAK PERNAH OLAHRAGA SEUMUR HIDUPNYA SELAIN ANGKAT KARDUS
nisaadinegara_: Kakak ngomong apa ke dia???

Aku membaca pesan itu sambil berdiri di tengah studio, di antara ember-ember bunga, dengan lampu yang sudah setengah dimatikan.

Lalu aku duduk di lantai, bersandar ke meja kerja, dan tertawa sampai Pak Kumis di seberang jalan menengok dari warungnya yang sudah tutup.

Malam itu aku tidak menelepon Fikri di dalam kepalaku. Aku tidak meminta maaf pada nisan di Depok. Aku hanya duduk di lantai studio, memeluk lutut, dan memikirkan lengan yang berubah menjadi batu di bawah tanganku, dan suara serak yang bilang saya nggak keberatan disebut begitu.

Aku mulai khawatir tameng ini tidak akan bertahan lama sebagai tameng.