Chapter Ten

Sup Hari Kamis

POV: Anjani

Rabu sore jam lima lewat dua belas, sebuah pesan masuk.

Mas SOP: Sudah sampai Bogor.
Mas SOP: Langsung pulang.

Aku membaca pesan itu sambil berdiri di depan etalase studio, dan aku tidak percaya satu pun dari dua kalimat itu.

Jam enam lewat empat puluh, pesan lagi.

Mas SOP: Mampir gudang sebentar. Ada truk yang salah rute. Sebentar saja.

Aku tidak membalas.

Jam tujuh lewat tiga, satu pesan lagi.

Mas SOP: Sudah di rumah. Jam tujuh lewat tiga menit. Pertama kali telat dalam sembilan tahun. Ibu nggak marah. Ibu cuma lihat bunga mataharinya terus nangis.

Aku tersenyum ke layar ponsel. Lalu aku membalas: Makan. Terus tidur. Jangan buka laptop.

Mas SOP: Siap.

Aku tidak percaya kata siap itu juga.


Kamis pagi, jam enam, aku bangun sebelum alarm. Aku berbaring di tempat tidur, memeluk bantal, menatap ponsel di nakas, dan menunggu.

Jam enam lewat satu. Tidak ada pesan.

Jam enam lewat lima. Tidak ada.

Jam enam lewat lima belas.

Selama tiga minggu, setiap pagi, tepat jam enam, tidak pernah lebih dari satu menit, pesan itu datang: Selamat pagi. Sudah sarapan? Bahkan dari Surabaya, dengan perbedaan waktu nol tapi kelelahan yang jelas, pesan itu datang tepat jam enam. Sekali pernah jam enam lewat dua menit, dan ia meminta maaf.

Jam enam lewat tiga puluh. Aku mengirim pesan duluan.

Aku: Pagi, Mas.

Satu centang abu-abu. Bukan dua. Satu.

Aku turun dari tempat tidur dan mandi dan berpakaian dan sarapan roti tawar dengan selai kacang sambil berdiri di dapur, dan selama itu aku melirik ponsel setiap tiga menit, dan centangnya masih satu.

Mama memperhatikanku dari meja makan.

“Kenapa, Jan?”

“Nggak apa-apa, Ma.”

“Kamu sudah ngecek HP dua belas kali.”

“Mama ngitung?”

“Mama ibumu.” Mama menyesap tehnya. “Bagas belum kirim pesan?”

Aku tidak menjawab. Mama tidak bertanya lagi. Tapi waktu aku keluar rumah, aku mendengar Mama berbisik ke Bapak, tuh kan, Mas, dan Bapak menjawab, iya, Sri, iya.


Di studio, aku tidak bisa berkonsentrasi.

Aku salah memotong batang mawar untuk rangkaian meja pernikahan, terlalu pendek, dan harus mengulang dari awal. Aku lupa memasukkan pita ke pesanan buket wisuda, dan kurir sudah sampai di depan pintu waktu aku menyadarinya. Aku menyalakan radio, dan lagu dangdut tentang ditinggal kekasih terasa terlalu tepat, jadi aku mematikannya.

Centangnya masih satu.

Aku memberi tahu diriku sendiri bahwa ini konyol. Bagas laki-laki dewasa berusia tiga puluh tahun. Ia baru pulang dari perjalanan dinas dua minggu. Ia mungkin kelelahan. Mungkin ponselnya habis baterai. Mungkin ia tidur sampai siang untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Itu semua hal normal yang terjadi pada orang normal.

Tapi ia bukan orang normal. Ia orang yang mengirim pesan jam enam tepat dan meminta maaf kalau terlambat dua menit.

Dan aku pernah menunggu pesan yang tidak pernah datang.

Aku duduk di kursi kayu di belakang meja kerja. Tanganku di pangkuan. Dan aku merasakan sesuatu merayap naik dari perutku ke dadaku, sesuatu yang dingin dan sudah sangat lama tidak kurasakan, sesuatu yang kukira sudah kukubur bersama nisan marmer putih di Depok.

Takut.

Bukan takut seperti orang yang khawatir. Takut yang lebih tua, lebih dalam, yang ingat persis bagaimana rasanya menatap layar ponsel menunggu satu pesan, satu telepon, satu kabar, sementara jam terus berjalan dan centangnya tetap satu.

Aku menarik napas panjang. Aku menghembuskannya pelan, empat hitungan, seperti yang diajarkan psikolog yang dulu Mama paksa aku temui.

Ini bukan itu, kataku pada diriku sendiri. Ini bukan itu, Jani. Ini Bogor. Ini Kamis. Ini laki-laki yang pulang jam tujuh.

Jam sepuluh lewat dua puluh, ponselku bergetar.

Bukan dari Bagas.


nisaadinegara_: Kak
nisaadinegara_: Kak maaf ganggu
nisaadinegara_: Mas Bagas sakit Kak
nisaadinegara_: Tadi pagi mau berangkat kerja tapi pas mau naik mobil dia oleng, terus jatuh di garasi
nisaadinegara_: Udah dibawa ke klinik, kata dokter demam tinggi karena kecapekan. Kurang tidur, kurang makan, dua minggu kerja kayak orang gila di Surabaya
nisaadinegara_: Disuruh istirahat total seminggu
nisaadinegara_: HP-nya mati, dicas aja dia nggak sempet
nisaadinegara_: Sekarang dia tidur di kamarnya. Ibu yang jaga
nisaadinegara_: Kak, aku nggak nyuruh Kakak dateng ya
nisaadinegara_: aku cuma info

Aku membaca pesan-pesan itu sambil berdiri.

Lalu aku duduk lagi, karena kakiku tiba-tiba lemas, dan aku tidak tahu apakah karena takut atau karena lega. Mungkin dua-duanya. Takut karena ia sakit. Lega karena ia sakit, hanya sakit, demam karena kecapekan, sesuatu yang bisa disembuhkan dengan tidur dan makan dan obat penurun panas. Sesuatu yang punya penjelasan. Sesuatu yang punya alamat.

Ia ada di kamarnya. Di rumahnya. Di Bogor Utara, dua puluh menit dari sini.

Ia tidak hilang.

Aku menutup wajah dengan kedua tangan dan duduk seperti itu lama sekali.


Lalu aku membalik tanda di pintu menjadi Tutup.

Aku tidak tahu bahwa aku akan melakukannya sampai aku sudah melakukannya. Aku menelepon dua pelanggan untuk memundurkan jadwal pengambilan. Aku menitipkan kunci cadangan ke Pak Kumis, yang menerimanya tanpa bertanya, hanya mengangguk dengan serius dan berkata, “Aa-na sakit, Neng?” dan aku tidak bertanya bagaimana ia tahu.

Lalu aku pulang ke rumah, dan aku memasak.

Sup ayam. Sup ayam Mama, yang dulu Mama masak setiap kali aku sakit waktu kecil, dan yang dulu Mama masak setiap hari selama enam bulan itu, meskipun aku tidak pernah menyentuhnya. Kaldu dari tulang ayam kampung yang direbus lama. Wortel, kentang, seledri, daun bawang. Bawang putih yang digeprek dan ditumis dulu sampai harum. Merica yang banyak, karena merica membuat badan hangat. Sedikit pala, karena pala adalah rahasia Mama.

Mama pulang dari pasar jam dua belas dan menemukanku berdiri di depan kompor dengan celemek, mengaduk panci besar.

Ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya meletakkan belanjaannya di meja, mencium bau sup itu, lalu berdiri di sebelahku dan mengambil alih pisau untuk memotong daun bawang.

“Pala sudah?” tanyanya.

“Sudah, Ma.”

“Merica?”

“Banyak.”

Mama mengangguk. Kami memasak dalam diam. Lalu, waktu aku sedang menuang sup ke rantang tiga susun, Mama berkata dengan pelan, tanpa menoleh:

“Terakhir kamu masak sup ini buat orang lain, kamu umur dua puluh empat.”

Aku berhenti menuang.

“Waktu Fikri tipes,” kata Mama. “Ingat? Kamu masak tiap hari selama dua minggu. Bawa ke rumah sakit. Dia bilang supmu lebih enak dari sup Mama.” Mama tersenyum kecil. “Mama nggak terima.”

Aku tidak menjawab. Aku menutup rantang itu rapat-rapat, susun demi susun.

“Jani,” kata Mama.

“Hm?”

“Mama senang.”


Rumah keluarga Adinegara sepi waktu aku tiba jam dua siang.

Tante Ratih yang membuka pintu. Wajahnya lelah, matanya merah, dan begitu ia melihatku berdiri di teras dengan rantang tiga susun di tangan, wajahnya runtuh.

“Anjani,” katanya. Lalu ia memelukku, rantang dan semuanya, seperti hari Minggu waktu aku membawa bunga matahari. “Ya Allah, Nak. Kamu datang.”

“Mas Bagas gimana, Tante?”

“Tidur. Panasnya masih tiga puluh sembilan.” Tante Ratih melepaskanku dan menyeka matanya dengan ujung kerudung. “Anak itu, Nak. Anak itu kalau sakit nggak mau ngaku. Tadi pagi sudah menggigil, masih maksa mau berangkat. Untung jatuhnya di garasi, bukan di jalan.”

Di ruang tengah, Om Darmawan duduk di kursi santainya dengan sarung, membaca koran yang tidak dibaca. Ia menurunkan korannya waktu melihatku, mengangguk sekali, lalu kembali ke korannya.

Lalu, dari arah kamar mandi, terdengar suara langkah kecil berlari, dan sesuatu yang kecil dan bulat menabrak lututku.

“Tante Bunga!”

Kiki. Dengan rambut berkuncir dua yang sudah setengah lepas. Ia memeluk kakiku, lalu mendongak.

“Om Jomblo sakit,” bisiknya keras-keras. “Om Jomblo panas. Kiki nggak boleh masuk.”

“Kenapa nggak boleh?”

“Kata Mama, nanti Kiki ketularan jomblo.”

Tante Ratih tertawa basah. Aku tertawa juga. Lalu Nisa muncul dari dapur dengan celemek dan rambut yang dicepol berantakan, melihatku, berhenti di tengah langkah, dan membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan.

Ia tidak menjerit. Mungkin karena kakaknya sedang sakit. Tapi aku melihat matanya, dan matanya menjerit.


Kamar Bagas ada di ujung lorong, pintu kayu bercat putih yang sedikit terbuka.

Tante Ratih mengantarku sampai depan pintu, lalu berhenti. “Masuk aja, Nak. Tante di dapur.”

“Tante nggak ikut?”

Tante Ratih menatapku. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang lembut dan penuh harap dan sedikit sedih, seperti seorang ibu yang sudah terlalu lama menunggu sesuatu dan sekarang takut hal itu akan hilang kalau ia bernapas terlalu keras.

“Tante sudah jaga dari pagi,” katanya. “Gantian.”

Lalu ia berbalik dan berjalan ke dapur, dan aku berdiri sendirian di depan pintu kamar seorang laki-laki yang baru kukenal satu bulan.

Aku mendorong pintunya.

Kamarnya rapi. Tentu saja kamarnya rapi. Tempat tidur single di sudut, meja kerja dengan laptop yang tertutup dan tumpukan map yang disusun berdasarkan warna, lemari pakaian kayu jati, rak buku yang isinya kebanyakan buku manajemen rantai pasok dan beberapa novel silat lama. Jendela setengah terbuka. Gorden biru tua bergerak pelan karena angin.

Dan di belakang pintu, tergantung di gantungan baju, sebuah kemeja biru muda.

Aku mengenali kemeja itu. Kemeja yang ia pakai waktu pertama kali datang ke studio. Kemeja yang kerahnya kurapikan terlalu lama.

Kemeja itu belum dicuci. Aku tahu karena di saku dadanya, masih terselip, setangkai mawar kuning yang sudah kering. Kelopaknya sudah berubah warna menjadi kuning tua kecokelatan, rapuh, mengerut ke dalam. Tapi masih di sana. Masih terselip rapi di dalam saku, seolah dijaga.

Aku berdiri menatap kemeja itu lama sekali.

Kemejanya jangan dicuci ya, Mas. Nanti wangi saya hilang.

Aku mengatakannya sebagai godaan. Sebagai lelucon. Sebagai sesuatu untuk membuat kupingnya merah.

Ia tidak menganggapnya lelucon.


Ia tidur telentang, selimut ditarik sampai dada. Wajahnya pucat, tapi pipinya merah karena demam. Rambutnya berantakan dan lembap oleh keringat, beberapa helai menempel di dahi. Bibirnya kering. Ia bernapas berat, pelan, dengan kerutan kecil di antara alis, seperti sedang bermimpi tentang sesuatu yang membuatnya khawatir. Truk yang salah rute, mungkin.

Kacamata baca yang kulihat di panggilan video itu ada di nakas, di sebelah segelas air yang tinggal setengah dan strip obat penurun panas.

Aku meletakkan rantang di meja kerjanya. Lalu aku menarik kursi kerjanya ke sebelah tempat tidur dan duduk.

Aku tidak membangunkannya. Aku hanya duduk di sana dan memperhatikannya.

Dalam tidur, wajahnya terlihat lebih muda. Tanpa kerutan konsentrasi, tanpa telinga yang memerah, tanpa tatapan cemas yang selalu melirik jam, ia terlihat seperti anak laki-laki di foto arisan itu. Anak gendut yang menangis karena biskuitnya direbut. Anak yang, belakangan aku tahu dari Tante Ratih, tumbuh menjadi laki-laki yang membayar pernikahan adiknya, menebus obat ayahnya, memperbaiki atap rumah, dan tidak pernah sekali pun meminta apa-apa untuk dirinya sendiri.

Dan aku merasakannya.

Bukan tiba-tiba. Bukan seperti petir. Lebih seperti air yang perlahan naik di dalam gelas, yang tidak kau sadari sampai gelas itu hampir penuh.

Aku rindu padanya.

Dua minggu ia di Surabaya, dan aku rindu padanya. Satu pagi ia tidak mengirim pesan, dan aku rindu padanya. Sekarang ia di depanku, tidur, demam, tidak bisa melihatku, dan aku masih rindu padanya, rindu pada matanya yang terbuka, pada kupingnya yang memerah, pada suaranya yang menyebut namaku dengan jeda kecil di depannya.

Aku sudah dua tahun lebih tidak merindukan siapa pun. Kecuali satu orang yang sudah tidak ada.

Dan perempuan yang dulu bisa merindukan seseorang seperti ini, perempuan yang dulu memasak sup setiap hari selama dua minggu untuk laki-laki yang sakit tipes, perempuan itu kukira sudah ikut terkubur di bawah nisan marmer tanpa jenazah.

Ternyata tidak.

Ternyata ia hanya tidur. Seperti laki-laki di depanku ini.


Ia bergerak.

Kerutan di antara alisnya semakin dalam. Ia menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, mungkin nomor rute truk. Lalu matanya terbuka, pelan, setengah, merah dan berkaca-kaca karena demam.

Ia menatap langit-langit. Lalu ia menoleh. Lalu ia melihatku.

Ia tidak langsung bereaksi. Ia hanya menatapku lama, berkedip lambat, seperti orang yang tidak yakin apakah yang dilihatnya nyata atau bagian dari mimpi demam.

“Anjani?” Suaranya serak dan lemah.

“Hai, Mas.”

“Kamu ...” Ia mencoba mengangkat kepala. Gagal. Kepalanya jatuh kembali ke bantal. “Kamu ngapain di sini?”

“Datang.”

Ia menatapku. Lama.

“Laki-laki nggak perlu rencana,” kataku, “cukup datang. Ternyata perempuan juga.”

Ia tersenyum. Senyum yang lemah dan sedikit miring, karena wajahnya terlalu lelah untuk tersenyum dengan benar. Tapi matanya tersenyum sepenuhnya.

“HP saya mati,” katanya. “Maaf. Tadi pagi nggak sempat kirim pesan.”

“Saya tahu.”

“Kamu nunggu?”

Aku tidak menjawab. Aku berdiri, mengambil rantang dari meja kerjanya, dan membuka susun yang paling atas. Uap hangat naik ke udara, membawa bau kaldu ayam, merica, dan pala.

“Bangun sedikit, Mas. Makan dulu.”

“Saya nggak lapar.”

“Saya nggak nanya Mas lapar atau nggak.”

Ia menatapku. Lalu, pelan dan susah payah, ia mendorong tubuhnya ke atas dengan siku sampai bisa bersandar ke kepala tempat tidur. Selimutnya melorot sampai pinggang. Ia memakai kaus putih yang sudah basah oleh keringat dan menempel di dadanya, di bahunya yang lebar, di lengannya yang ternyata memang keras, seperti yang kurasakan di teras hari Minggu itu. Aku membuang muka sebentar ke arah jendela, lalu kembali menatapnya, dan ia tidak menyadarinya karena terlalu sibuk menahan pusing.

Aku menuang sup ke mangkuk yang kubawa. Aku duduk kembali di kursi, dekat sekali dengan tempat tidur, sampai lututku menyentuh kasur. Aku mengaduk sup itu supaya tidak terlalu panas, lalu menyendok sedikit, dan meniupnya pelan.

Lalu aku mengulurkan sendok itu ke bibirnya.

Ia menatap sendok itu. Lalu menatapku.

“Saya bisa sendiri,” katanya.

“Tangan Mas gemetar.”

Ia mengangkat tangannya untuk membuktikan bahwa tangannya tidak gemetar. Tangannya gemetar.

“Buka, Mas,” kataku. “Biar nggak tumpah.”

Ia membuka mulutnya.

Aku menyuapinya sendok pertama. Ia menelan pelan, matanya terpejam sebentar, dan aku melihat sesuatu berubah di wajahnya, seperti orang kedinginan yang baru saja menyentuh air hangat.

Sedikit kuah menetes dari sudut bibirnya.

Aku tidak mengambil tisu. Aku mengangkat tanganku dan mengusap sudut bibirnya dengan ibu jari, pelan, sekali. Kulitnya panas karena demam. Bibirnya kering dan sedikit pecah-pecah.

Ia membuka matanya dan menatapku. Napasnya tertahan.

Aku menarik tanganku kembali. Aku menatap ibu jariku, yang sedikit basah oleh kuah sup. Lalu, tanpa melepaskan tatapanku dari matanya, aku menyentuhkan ibu jari itu ke bibirku sendiri dan mencicipinya.

“Asin sedikit,” kataku pelan. “Pas.”

Ia tidak bergerak. Ia tidak bernapas. Wajahnya, yang sudah merah karena demam, sekarang merah sampai ke leher dan dada, sampai ke tempat yang tertutup kaus.

Lalu, dengan suara yang hampir tidak terdengar, suara laki-laki yang baru saja menyadari sesuatu yang sangat besar dan sangat menakutkan:

“Saya nggak bakal selamat, ya.”

Aku tersenyum dan menyendok sup lagi.

“Nggak, Mas,” kataku, meniup sendok itu pelan. “Nggak bakal.”

Di luar pintu kamar yang setengah terbuka, aku mendengar suara sesuatu jatuh di lantai lorong. Seperti buku catatan bergambar kucing. Lalu suara langkah kaki berlari ke kamar mandi. Lalu, teredam oleh handuk, sebuah jeritan panjang.

Aku tidak menoleh. Aku terus menyuapinya, sendok demi sendok, sampai mangkuk itu kosong.