Chapter Thirty Five
Malam Tanpa Jam Tujuh
POV: Bagas
Tanggal akadnya ditentukan oleh dua ibu, satu ayah, satu ibu mertua dari pernikahan sebelumnya, dan satu kalender Jawa yang sudah robek di pojoknya.
Aku tidak diajak rapat. Anjani juga tidak. Kami berdua duduk di teras rumah keluarga Wardhani minum teh tubruk, sementara di ruang tamu, Ibu, Bu Sri, Bu Aminah, Pak Hendra, dan Ayah duduk mengelilingi kalender itu dengan serius, seperti dewan direksi yang sedang memutuskan merger perusahaan.
Satu jam kemudian, Bu Sri keluar ke teras dengan kalender di tangan dan menunjuk satu tanggal yang sudah dilingkari spidol merah.
“Ini,” katanya. “Lima minggu lagi. Hari Sabtu. Jam sembilan pagi. Di halaman sini.”
“Kenapa lima minggu, Tante?” tanyaku.
“Karena empat minggu terlalu cepat buat bikin tenda,” kata Bu Sri. “Enam minggu terlalu lama buat Mas Hendra. Dia sudah nggak sabar.”
Dari ruang tamu, Pak Hendra berdeham.
“Terus kenapa hari Sabtu?”
Bu Sri menatapku. Lalu menatap Anjani. Lalu tersenyum lebar, senyum seorang perempuan yang sudah menunggu dua puluh delapan tahun untuk mengatakan sesuatu.
“Karena Sabtu itu,” katanya, “tanggal dua belas.”
Aku tidak mengerti.
Anjani mengerti. Ia meletakkan cangkirnya. Ia menatap ibunya dengan mata yang melebar.
“Dua belas April, Mas,” kata Anjani pelan. “Tanggal di album arisan.”
Aku menatap kalender itu. Dua belas April. Dua puluh delapan tahun setelah dua perempuan muda menulis janji di bawah foto seorang anak laki-laki gendut yang menangis karena biskuitnya direbut.
Di ruang tamu, Ibu menangis lagi.
Lima minggu itu berlalu seperti truk di jalan tol yang kosong. Cepat dan tidak bisa dihentikan.
Mbak Rara menelepon di minggu pertama. Uang penggantian dari Kemenlu dan patungan dari Cirebon sudah masuk. Aku membuka spreadsheet Dana dan menatap tab Nikah yang tadinya kosong, sekarang terisi lagi. Tidak penuh. Tapi cukup. Cukup untuk tenda di halaman, cukup untuk katering sederhana yang akhirnya diambil alih oleh Pak Kumis, dan cukup untuk satu hal lain yang belum kuberitahukan kepada siapa pun.
Rumah kontrakan. Kecil. Dua kamar, satu dapur, satu teras dengan pagar besi bercat hijau. Di sebuah gang di belakang Jalan Pajajaran, sepuluh menit jalan kaki dari studio Anjani, dan lima belas menit menyetir dari rumah Ibu dan Ayah.
Aku menemukannya di minggu kedua. Aku menyewanya di minggu ketiga. Aku tidak memberi tahu Anjani. Aku hanya mengecat ulang pagar besinya, sendirian, di hari Minggu pagi, dengan cat hijau yang kubeli di toko bangunan setelah membandingkan tiga katalog warna.
Hijau sage.
Aku tidak berhenti pulang jam tujuh selama lima minggu itu.
Setiap malam, aku sampai di rumah empat menit sebelum jam tujuh. Aku menyendokkan nasi untuk Ayah, lalu Ibu, lalu diriku sendiri. Aku mencuci piring dengan Ayah, kadang, dan kami tidak bicara, dan jari kami bersentuhan waktu Ayah menyerahkan piring yang masih berbusa.
Setiap malam, Ibu menatapku dari ujung meja dengan wajah yang aneh. Bukan sedih. Bukan senang. Sesuatu di antaranya. Seperti orang yang sedang menghitung mundur hari-hari terakhir dari sesuatu yang sudah sangat lama.
Di malam ketiga puluh tujuh, Ayah berbicara.
Bukan berdeham. Berbicara. Kalimat panjang. Di depan bak cuci, dengan tangan berbusa, tanpa menoleh.
“Gas,” kata Ayah. “Ayah minta maaf.”
Aku berhenti mengeringkan piring.
“Waktu kamu kelas lima,” kata Ayah. “Ayah dinas terus. Berminggu-minggu. Ibumu masak tiap malam, nyisain satu piring, terus pagi-pagi dibuang.” Ayah menggosok piring lebih keras dari perlu. “Ayah tahu. Ibumu nggak pernah cerita, tapi Ayah tahu. Ayah tahu kamu lihat.”
“Yah ...”
“Ayah nggak bisa nolak dinas waktu itu, Gas. Ayah PNS. Ayah takut dipindah. Ayah takut nggak bisa bayar sekolahmu.” Ayah membilas piring itu. “Tapi Ayah tahu itu bukan alasan. Ayah tahu, karena tiap malam, waktu Ayah pulang, kamu sudah duduk di meja makan. Jam tujuh. Nungguin. Kamu umur sebelas tahun, Gas, dan kamu nungguin Ayahmu kayak orang tua nungguin anaknya.”
Ayah menyerahkan piring itu kepadaku. Jarinya menyentuh jariku.
“Sembilan tahun kamu pulang jam tujuh,” kata Ayah. “Ayah bangga. Tapi Ayah juga tahu kenapa. Kamu nggak mau ada yang nunggu kayak Ibumu dulu nunggu Ayah.”
Aku tidak bisa menjawab. Aku memegang piring basah itu dengan dua tangan.
Ayah mematikan keran. Ia mengeringkan tangannya di lap. Lalu, untuk kedua kalinya dalam tiga puluh tahun, ia meletakkan tangannya di bahuku dan tidak langsung menepuknya.
“Mulai minggu depan,” kata Ayah, “kamu pulang ke rumahmu sendiri. Jam berapa aja. Nggak usah jam tujuh. Ayah sama Ibu nggak bakal nungguin piring kosong.”
Ia meremas bahuku.
“Ayah sama Ibu udah punya satu sama lain,” katanya. “Sekarang giliranmu.”
Malam sebelum akad, aku tidak pulang jam tujuh.
Itu bukan rencanaku. Rencanaku adalah membantu memasang tenda di halaman rumah keluarga Wardhani dari jam empat sore sampai jam enam lewat dua puluh, lalu pulang, lalu makan malam jam tujuh, seperti biasa. Untuk terakhir kalinya.
Tapi jam empat sore, waktu aku datang membawa kotak perkakas, tenda itu belum datang.
Truk penyewa tenda terlambat. Ban bocor di Ciawi. Aku menelepon vendornya tiga kali. Aku menawarkan untuk mengirim truk gudang dari Cibinong. Vendornya bilang tidak perlu, mereka sudah ganti ban, mereka akan tiba jam lima.
Mereka tiba jam enam kurang sepuluh.
Tiang-tiang besi. Terpal putih yang dilipat. Rangka atap. Lampu-lampu kecil. Kursi-kursi plastik yang ditumpuk tinggi. Empat orang pekerja yang kelelahan karena terjebak di Ciawi selama dua jam.
Dan halaman rumah keluarga Wardhani yang masih kosong.
Aku menatap jam tanganku. Jam enam kurang sepuluh. Kalau aku pulang sekarang, aku sampai jam enam lewat sepuluh. Tepat waktu. Tapi tenda ini tidak akan berdiri sebelum jam sembilan malam dengan empat orang saja.
Aku menatap jam tanganku lagi.
Lalu ponselku bergetar.
Ibu: Gas. Jangan pulang.
Aku menatap pesan itu.
Ibu: Ibu sudah dengar dari grup. Tendanya telat.
Ibu: Malam ini kamu nggak usah pulang jam tujuh. Ibu yang izinin.
Ibu: Ayah juga.
Lalu, satu pesan lagi, setelah jeda:
Ibu: Ibu sama Ayah makan berdua. Kayak dulu. Nggak apa-apa. Ibu nggak bakal nyisain piring.
Aku berdiri di halaman rumah keluarga Wardhani dengan ponsel di tangan dan merasakan sesuatu di dadaku terlepas. Seperti tali yang sudah sembilan tahun terikat terlalu kencang, dan akhirnya, akhirnya, dikendurkan oleh tangan yang dulu mengikatnya.
Aku memasukkan ponsel ke saku. Aku menggulung lengan kemejaku.
“Pak,” kataku ke kepala pekerja tenda. “Tiang utamanya di mana?”
Tim Sukses datang jam enam lewat dua puluh.
Aku tidak memanggil mereka. Aku tidak perlu. Grup itu sudah tahu sebelum aku.
Tomi datang dengan dua anak gudang dan sarung tangan kerja. Pak Satpam datang dengan senter besar. Coach Rudi datang dengan kaus olahraga dan langsung mengangkat tiang besi yang paling berat sendirian sambil berteriak INI BARU NAMANYA LATIHAN, PAK BAGAS!. Pak Kumis datang dengan gerobak bakso, sekali lagi, didorong dari Pajajaran. Bu Iyah datang dengan ember bunga untuk besok, dan langsung duduk di teras merangkai rangkaian meja bersama Bu Sri.
Lalu Fadhil datang dengan Laila. Lalu Reza dengan Kiki di gendongan. Lalu Nisa, dengan buku kucing dan senter kepala yang ia pakai di atas kerudung seperti penambang batu bara.
Dan Hanif. Dengan kruk. Ditemani Jannah, yang menyetir dari Cirebon sore itu juga.
Hanif tidak bisa mengangkat apa-apa. Kakinya masih dibebat. Jadi ia duduk di kursi plastik di tengah halaman dan memimpin. Ternyata ia perawat yang dulu sering memimpin pemasangan tenda medis darurat di kamp. Ternyata ia sangat galak.
“Tiang kiri miring!” teriaknya. “Mas Tomi, tiang kiri! Bukan kanan! Kiri itu yang sebelah sana! Ya Allah, Mas, itu kanan!”
“Ini kiri, Mas Hanif!”
“Kiri saya atau kiri Mas?”
Coach Rudi tertawa sampai menjatuhkan tiang. Pak Satpam mengarahkan senter ke wajah Tomi. Kiki, di gendongan Reza, berteriak KIRI! KIRI! ke arah yang sama sekali tidak ada hubungannya.
Aku berdiri di tengah semua itu, dengan tangan yang memegang tali terpal dan keringat yang menetes dari dahi, dan aku tertawa.
Aku melirik jam tanganku. Jam tujuh tepat.
Untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, jam tujuh datang dan aku tidak di meja makan.
Dan tidak ada yang menunggu piring kosong.
Anjani tidak boleh keluar. Itu aturan Bu Sri. Calon pengantin perempuan tidak boleh melihat calon pengantin laki-laki di malam sebelum akad. Pamali.
Tapi aku tahu ia menonton. Dari jendela kamarnya di lantai atas. Aku melihat gordennya bergerak setiap kali Hanif berteriak, setiap kali Coach Rudi menjatuhkan tiang, setiap kali Kiki berteriak ke arah yang salah. Aku melihat bayangannya di balik kaca, kecil, memeluk lutut, dengan sesuatu yang besar dan kotak-kotak tersampir di bahunya.
Kemeja flanel itu. Masih.
Jam sembilan lewat sepuluh, tenda berdiri. Terpal putih membentang di atas halaman. Lampu-lampu kecil berkelip di rangka atap. Kursi-kursi plastik berderet rapi. Di depan, di bawah lengkungan bunga matahari dan baby’s breath buatan Bu Iyah dan Bu Sri, sebuah meja kecil dengan dua kursi, untuk akad besok pagi.
Semua orang berdiri di tengah halaman dan menatapnya. Lelah. Berkeringat. Puas.
Pak Hendra keluar dari rumah. Ia berjalan pelan ke tengah halaman. Ia menatap tenda itu dari bawah, dari ujung ke ujung. Lalu ia menatapku.
Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk, sekali, seperti mengangguk setelah langkah catur yang bagus.
Lalu ia mengulurkan tangan dan menjabat tanganku. Bukan menepuk bahu. Menjabat tangan. Seperti dua laki-laki dewasa yang baru saja menyelesaikan pekerjaan yang sama.
Aku sampai di rumah jam sepuluh lewat dua puluh.
Ibu dan Ayah sudah tidur. Lampu ruang tengah dimatikan. Di meja makan, tidak ada piring yang ditutup tudung saji.
Hanya secarik kertas, ditindih stoples kerupuk.
Gas, Ibu sama Ayah sudah makan. Berdua. Enak. Sayur sop. Kamu jangan lupa makan bakso Pak Kumis. Tidur. Besok kamu nikah. — Ibu.
Di bawahnya, dengan tulisan tangan yang lain, lebih kaku, lebih besar:
Selamat. — Ayah.
Aku berdiri di ruang makan dan membaca kertas itu tiga kali.
Lalu aku masuk ke kamar. Aku mandi. Aku berbaring di tempat tidur. Di belakang pintu, kemeja biru muda dengan mawar kuning kering di sakunya masih tergantung. Mawar itu tinggal tangkai sekarang. Semua kelopaknya sudah rontok ke lantai, berbulan-bulan lalu, dan aku tidak pernah menyapunya.
Jam sebelas, ponselku berdering.
Bukan pesan. Telepon.
Anjani.
Aku mengangkatnya.
“Mas belum tidur,” katanya. Bukan pertanyaan.
“Belum.”
“Saya juga.”
Hening. Aku mendengar napasnya. Aku mendengar suara kain bergesek, mungkin bantal, mungkin kemeja flanel.
“Tendanya bagus,” katanya. “Saya lihat dari jendela.”
“Saya tahu kamu lihat.”
“Mas Hanif galak banget.”
“Banget.”
Ia tertawa. Pelan. Suaranya serak, seperti suara orang yang sudah menangis sebentar sebelum menelepon.
Kami bicara tentang hal-hal kecil. Tentang Coach Rudi yang menjatuhkan tiang tiga kali. Tentang Kiki yang tertidur di gendongan Reza jam delapan dengan mulut terbuka. Tentang Pak Kumis yang kehabisan bakso jam setengah sembilan dan harus mengirim keponakannya kembali ke Pajajaran untuk mengambil persediaan. Tentang bunga matahari di lengkungan, yang menurut Anjani terlalu banyak dan menurut Bu Sri terlalu sedikit.
Jam dua belas. Jam satu. Jam dua.
Kami tidak menutup telepon. Kadang kami tidak bicara sama sekali selama sepuluh menit. Aku mendengar napasnya. Ia mendengar napasku. Seperti malam-malam waktu aku di Surabaya, waktu ia merangkai bunga dan aku mengerjakan laporan dan ponsel kami tersandar di depan masing-masing.
Jam tiga lewat dua puluh, ia berkata pelan, hampir tertidur:
“Mas.”
“Hm?”
“Besok malam.”
“Kenapa besok malam?”
Hening. Lalu suaranya, lebih pelan lagi, dengan sesuatu di bawahnya yang membuat seluruh tubuhku tiba-tiba sangat bangun:
“Besok malam Mas nggak usah pulang jam tujuh.”
Aku tidak bernapas.
“Pulangnya,” bisiknya, “ke saya.”
Aku tidak menjawab lama sekali.
Aku berbaring di tempat tidur di kamarku. Kamar yang sudah kutiduri tiga puluh tahun. Kamar dengan meja kerja yang mapnya disusun berdasarkan warna, rak buku penuh buku manajemen rantai pasok, dan kertas JANGAN berspidol merah yang berdiri seperti tenda kecil di sebelah laptop. Kamar dengan kemeja biru muda di belakang pintu.
Ini malam terakhir aku tidur di sini sebagai laki-laki yang pulang ke rumah orang tuanya.
Besok, aku pulang ke tempat lain.
“Jani,” kataku.
“Hm?” Suaranya sudah setengah tidur.
Aku menatap langit-langit. Aku memikirkan kafe dekat Kebun Raya. Aku memikirkan sendok yang terbalik dua kali. Aku memikirkan kertas ucapan kecil dengan nomor telepon. Aku memikirkan semua kali aku memanggilnya dengan jeda kecil di depan namanya, seperti orang yang mau melangkah ke air dingin. Dan semua kali aku memakai saya, seperti memakai kemeja yang disetrika terlalu rapi.
Besok aku menikah dengannya.
“Besok,” kataku pelan, “aku jemput kamu pulang.”
Hening di ujung telepon.
Lalu suara napas yang tertahan. Lalu suara yang sangat kecil, sangat pelan, seperti orang yang baru saja dibangunkan oleh sesuatu yang sangat mengejutkan.
“Mas.”
“Hm?”
“Mas barusan bilang aku.”
Kupingku panas. Di dalam gelap. Sendirian. Aku bisa merasakan kupingku memerah.
“Iya,” kataku.
Hening lagi. Lama. Lalu aku mendengarnya tertawa. Pelan dulu. Lalu tidak bisa ditahan. Tertawa sampai napasnya tersengal, sampai aku mendengar suara sesuatu jatuh dari tempat tidurnya, mungkin bantal, mungkin dia sendiri.
“Ulangi,” katanya di sela tawa.
“Nggak.”
“Mas, ulangi.”
“Besok.”
“Mas ...”
“Besok,” kataku, dan aku tersenyum ke langit-langit kamar dalam gelap, “aku ulangi. Di depan penghulu. Sampai kamu bosan.”
Ia tidak menjawab. Tapi aku mendengar napasnya. Panjang. Tenang. Seperti orang yang akhirnya, setelah sangat lama, bisa tidur nyenyak.
Azan subuh terdengar dari masjid di ujung jalan.
Kami belum menutup telepon.
- 1 Jam Tujuh
- 2 Janji Arisan
- 3 Pertemuan Pertama
- 4 Tameng
- 5 Krisan Putih
- 6 Bekal Gosong
- 7 Calon Saya
- 8 Rencana Hujan
- 9 Jangan Korbankan Hidupmu
- 10 Sup Hari Kamis
- 11 Pasien Paling Bandel
- 12 Mas Lulus
- 13 Cemburu pada Orang Baik
- 14 Izin
- 15 Undangan yang Tidak Menyebut Namaku
- 16 Langkah Kuda
- 17 Persiapan Rahasia
- 18 Sekali, Umur Dua Tahun
- 19 Masih Tameng?
- 20 Bukan
- 21 Cincin
- 22 Mawar Kuning
- 23 Bukan yang Ditunggu
- 24 Administrasi Kepulangan
- 25 Maju Dua Langkah
- 26 Lampu Teras
- 27 Pintu Kedatangan
- 28 Catatan Terakhir
- 29 Kiriman Tanpa Nama
- 30 Krisan Putih, Kali Ini Benar
- 31 Restu
- 32 Janda Tahu Caranya
- 33 Bukan Pengganti
- 34 Proyek A, Versi Final
- 35 Malam Tanpa Jam Tujuh reading
- 36 Selamat Datang Pulang
- 37 Malam Pertama
- 38 Laporan Bulanan
- 39 Jam Tujuh, ke Rumah Kita
- 40 Proyek B
- 41 Epilog — Hujan