Chapter Seventeen
Persiapan Rahasia
POV: Anjani
Aku tahu Bagas mau melamar sebelum Bagas sendiri tahu caranya.
Sumbernya, tentu saja, dua orang. Yang pertama mengirim pesan hari Minggu malam, dua puluh empat jam setelah Bagas kalah catur dua kali dari Bapak.
nisaadinegara_: KAK
nisaadinegara_: DARURAT
nisaadinegara_: Mas Bagas ngumpulin aku, Reza, sama Mas Tomi di rumah
nisaadinegara_: “rapat koordinasi” katanya
nisaadinegara_: dia bikin PRESENTASI Kak
nisaadinegara_: ada slide-nya
nisaadinegara_: judulnya “Proyek A: Fase 2”
nisaadinegara_: Kak aku nggak bisa bilang isinya apa
nisaadinegara_: tapi fase 2 dari pacaran itu biasanya apa ya Kak
nisaadinegara_: aku tanya aja sih, nggak ngasih tau
Yang kedua adalah Tomi, yang datang ke studio hari Senin siang dengan alasan membeli bunga untuk “mantan istri yang pertama, ulang tahun pernikahan kami yang dulu”.
“Mas Tomi,” kataku sambil membungkus setangkai krisan kuning yang ia pilih. “Krisan kuning artinya cinta yang tidak berbalas.”
“Pas, Mbak.” Tomi mengangguk dengan bijak. “Pas banget.”
Lalu ia bersandar ke meja kerja, menurunkan suaranya, dan berkata dengan nada seseorang yang sedang membocorkan rahasia negara:
“Mbak. Ukuran jari Mbak berapa?”
Aku berhenti membungkus.
“Itu buat siapa, Mas Tomi?”
“Buat ...” Tomi menatap langit-langit. “Buat survei. Survei ukuran jari florist se-Bogor. Buat ... penelitian. Logistik.”
“Logistik.”
“Iya, Mbak. Pengiriman cincin. Eh. Bunga. Pengiriman bunga.”
Aku menyelesaikan bungkusannya dengan pita kuning dan menyerahkannya kepada Tomi. Ia membayar. Ia berjalan ke pintu. Lalu ia berbalik.
“Mbak,” katanya, kali ini dengan wajah serius. “Bos saya nggak tahu caranya. Sama sekali. Saya cuma bilang ya, Mbak. Kalau nanti ada yang aneh, mohon dimaklumi.”
Yang aneh dimulai hari Selasa.
Bagas datang ke teras rumahku jam delapan malam seperti biasa. Kami minum teh tubruk Slawi, yang sekarang ia buat sendiri di dapur Mama dengan izin penuh dari Bapak. Kami mengobrol tentang hari kami. Ia bercerita tentang truk yang mogok di Ciawi. Aku bercerita tentang pengantin di Sentul yang menangis karena warna mawarnya “kurang merah muda”.
Lalu, di tengah cerita tentang truk, tiba-tiba ia bertanya:
“Kamu suka emas putih atau emas kuning?”
Aku menatapnya. Ia menatap cangkir tehnya dengan sangat serius.
“Kenapa nanya?”
“Nggak apa-apa.” Kupingnya mulai merah. “Survei.”
“Survei logistik?”
Ia tersedak teh.
Hari Kamis, ia bertanya apakah aku lebih suka batu permata yang besar atau yang kecil. Ia bertanya sambil pura-pura mengecek ponselnya, dengan nada seolah-olah sedang menanyakan cuaca besok.
Hari Sabtu, ia bertanya apakah aku pernah alergi logam. Ia bertanya waktu kami makan bakso di warung Pak Kumis, di tengah suapan, dan Pak Kumis yang sedang mengantarkan es teh berhenti di samping meja kami, menatap Bagas, menatapku, lalu menaruh es teh itu dengan sangat lambat sebelum kembali ke gerobaknya sambil tersenyum lebar di balik kumis.
Hari Minggu, Nisa mengirim pesan lagi.
nisaadinegara_: Kak, Mas Bagas mau ke toko perhiasan
nisaadinegara_: besok sore, abis kerja
nisaadinegara_: di Jalan Suryakencana, yang depannya ada patung singa
nisaadinegara_: aku nggak bilang ya Kak
nisaadinegara_: aku cuma ngetik kalimat secara acak
Aku membaca pesan-pesan itu sambil duduk di tempat tidurku, dengan kemeja flanel kotak-kotak abu-abu di pangkuan.
Dan aku tidak tersenyum.
Aku perlu menjelaskan sesuatu lagi, karena aku masih tidak suka berbohong, bahkan pada diri sendiri.
Aku tahu ia akan melamar. Aku tahu sejak ia bermain catur dengan Bapak, mungkin lebih awal. Mungkin sejak ia berlutut di makam Fikri dengan sarung tangan karet dan bunga kamboja di bahunya. Laki-laki seperti dia tidak menghabiskan sore di gym jam lima pagi dan belajar membuat teh tubruk Slawi kalau ia tidak sedang merencanakan sesuatu yang serius.
Dan aku mau.
Itu yang paling menakutkan. Aku mau. Bukan karena tenggat seribu hari. Bukan karena Bude Ningsih. Bukan karena Mama atau Ibu mertuaku atau keluarga mana pun. Aku mau karena setiap pagi jam enam aku menahan napas menunggu pesannya. Karena kemeja flanelnya ada di tempat tidurku setiap malam. Karena tangannya masih berkeringat setiap kali menggenggam tanganku, dan aku sudah tidak ingin ia berhenti berkeringat.
Tapi ia belum tahu.
Ia belum tahu bahwa pertama kali aku duduk di kafe dekat Kebun Raya itu, aku datang sebagai seseorang yang sedang mencari tameng. Ia belum tahu bahwa ini calon saya di ruang tamu rumahku hari itu awalnya adalah perisai yang kuangkat tanpa izinnya. Ia belum tahu bahwa ibunya dan ibuku bersekongkol, bahwa foto arisan itu adalah bagian dari rencana, bahwa janji lama yang katanya bercanda itu digali kembali dan dijadikan alasan.
Ia pernah bilang saya bisa nunggu. Dan aku membiarkannya menunggu, terlalu lama, karena aku takut.
Aku takut kalau ia tahu, ia akan merasa dipakai.
Dan ia memang dipakai. Awalnya.
Aku tidak bisa membiarkan ia melamarku tanpa tahu itu. Aku tidak mau dilamar oleh seseorang yang hanya tahu setengah cerita. Aku sudah pernah menikah dengan laki-laki yang sangat baik dan sangat jujur. Aku tidak mau pernikahan keduaku dimulai dengan satu kebohongan, sekecil apa pun.
Jadi aku memutuskan. Hari Minggu depan, setelah makan malam, di teras, aku akan cerita semuanya.
Sebelum ia sempat berlutut.
Tapi sebelum hari Minggu itu datang, ada hari Senin. Dan hari Senin, Bagas pergi ke toko perhiasan di Jalan Suryakencana.
Aku tidak berencana menyusulnya. Aku benar-benar tidak berencana. Aku sedang di studio, membereskan sisa pesanan, waktu Pak Kumis tiba-tiba mengetuk pintu kaca.
“Neng,” katanya, dengan wajah sangat serius. “Aa-na barusan lewat. Belok ke Suryakencana. Pakai kemeja putih yang baru.”
“Pak Kumis tahu dari mana dia mau ke Suryakencana?”
Pak Kumis tidak menjawab. Ia hanya mengangkat ponselnya. Di layarnya, ada obrolan WhatsApp dengan sebuah kontak bernama Neng Nisa (adik Aa).
Aku menatap ponsel itu lama sekali.
“Pak Kumis punya nomor Nisa?”
“Sejak krisan putih, Neng.” Pak Kumis memasukkan ponselnya ke saku. “Grupnya ada. Namanya Tim Sukses. Ada Neng Nisa, ada Mas Tomi, ada saya, ada Bu Iyah tukang bunga di Otista, ada satpam kantornya Aa, ada Coach Rudi.”
“Coach Rudi?”
“Pelatih gym-nya Aa.”
Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Lalu aku membuka celemek, mengambil tas, dan membalik tanda di pintu menjadi Tutup.
“Titip studio, Pak.”
“Siap, Neng.” Pak Kumis memberi hormat dengan dua jari di dahi. “Semangat.”
Toko perhiasan di Jalan Suryakencana itu toko lama, toko emas Tionghoa dengan etalase kaca panjang dan lantai tegel kuning dan patung singa batu di depan pintunya. Aku memarkir mobil agak jauh, di depan toko kue, dan berjalan pelan di trotoar.
Melalui kaca etalase, aku melihatnya.
Ia berdiri di depan etalase cincin dengan punggung tegak dan tangan terlipat di belakang, seperti sedang menginspeksi gudang. Kemeja putihnya rapi. Di sebelahnya, seorang ibu penjaga toko bertubuh gemuk sedang mengeluarkan cincin-cincin dari etalase dan meletakkannya satu per satu di atas bantalan beludru hitam. Bagas menatap setiap cincin dengan konsentrasi penuh. Ia mengambil satu, mendekatkannya ke mata, memutarnya, lalu meletakkannya kembali. Ia mengambil yang lain. Ia mengeluarkan ponselnya, mengetik sesuatu, lalu menyimpannya lagi.
Aku tahu ia sedang mengisi spreadsheet. Aku hanya tahu.
Aku mendorong pintu toko. Lonceng di atas pintu berdenting.
Ia tidak menoleh. Ia terlalu fokus pada cincin di tangannya.
Aku berjalan pelan dan berdiri tepat di sebelahnya, di depan etalase yang sama. Aku pura-pura melihat-lihat cincin.
“Yang itu bagus,” kataku, menunjuk cincin di tangannya.
Ia menjawab tanpa menoleh. “Iya, tapi bentuknya kurang ...”
Lalu ia berhenti.
Ia menoleh. Pelan. Seperti adegan film horor, ketika tokohnya sadar ada sesuatu di belakangnya.
Ia melihatku.
Cincin itu lepas dari jarinya dan jatuh ke atas bantalan beludru dengan bunyi tuk yang kecil.
“Anjani,” katanya. Suaranya hampir tidak terdengar.
“Hai, Mas.”
“Kamu ... kamu ngapain di sini?”
“Lewat,” kataku. “Kebetulan.”
Ia menatapku. Ibu penjaga toko menatap kami berdua bergantian, lalu perlahan mundur satu langkah dari etalase, dengan senyum yang ditahan.
“Suryakencana,” kata Bagas. “Kebetulan lewat.”
“Kayak Mas kebetulan lewat Depok.”
Kupingnya berubah merah, lalu leher, lalu rahang. Ia membuka mulut, menutupnya, lalu mengambil ponselnya dari saku seolah ponsel itu bisa menyelamatkannya.
“Saya ... saya lagi beli ... hadiah.”
“Buat siapa?”
“Buat ... Ibu.”
“Cincin?”
“Ibu suka cincin.”
Ibu penjaga toko tertawa. Ia mencoba menahannya dengan batuk, tapi gagal.
Aku memutuskan untuk tidak menyiksanya lebih lama. Tapi aku juga tidak bisa melewatkan kesempatan ini sepenuhnya.
Aku mengulurkan tangan kiriku di atas etalase kaca, di antara kami. Jari-jariku terbuka. Aku menggerakkan jari manisku sedikit.
“Ukuran saya enam, Mas,” kataku.
Ia menatap tanganku. Lalu menatap wajahku. Mulutnya sedikit terbuka.
“Catat di spreadsheet,” kataku. “Kalau salah, saya kabur.”
Lalu aku menarik tanganku kembali, membalik badan, dan berjalan keluar toko, dengan lonceng berdenting di belakangku.
Aku tidak menoleh sampai sampai di mobil. Waktu aku akhirnya menoleh, aku melihatnya masih berdiri di depan etalase, di balik kaca, menatap ke arah pintu. Ibu penjaga toko menepuk-nepuk bahunya. Lalu, perlahan, ia mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu.
Aku tidak perlu melihat layar ponselnya untuk tahu apa yang ia ketik. Satu baris baru di tab Data Primer: Ukuran cincin: 6.
Hari Rabu, aku menemukannya di toko perhiasan kedua, di Jalan Merdeka. Kali ini aku tidak masuk. Aku hanya berdiri di trotoar di depan etalase, di luar kaca, dan menunggu sampai ia menoleh. Ia menoleh. Ia melihatku. Ia menjatuhkan sesuatu lagi. Penjaga tokonya, laki-laki muda berkacamata, memungutnya dari lantai.
Aku melambai dengan ujung jari dan pergi.
Hari Jumat, toko ketiga, di mal dekat terminal Baranangsiang. Kali ini aku datang lebih dulu. Aku sudah duduk di bangku di depan toko itu, makan es krim, waktu ia datang dan melihatku dari jauh, berhenti di tengah lorong mal, berbalik, lalu berbalik lagi, lalu berjalan ke arahku dengan wajah seorang laki-laki yang sudah menyerah sepenuhnya pada nasib.
Ia duduk di sebelahku di bangku itu.
“Nisa,” katanya.
“Sama Pak Kumis.”
“Pak Kumis?”
“Ada grup WhatsApp, Mas. Namanya Tim Sukses.” Aku menyodorkan es krimku kepadanya. “Ada Coach Rudi juga.”
Ia menatap es krim itu. Lalu ia mengambilnya, menjilatnya sekali, dan menyerahkannya kembali dengan wajah orang yang sedang berduka.
“Saya mau bikin kejutan,” katanya.
“Saya tahu.”
“Ini sudah nggak kejutan lagi.”
“Masih, Mas.” Aku menyandarkan bahuku ke bahunya. “Saya belum tahu Mas mau ngomong apa.”
Ia menoleh dan menatapku. Dari jarak ini, aku bisa melihat lingkaran gelap di bawah matanya. Ia kurang tidur. Mungkin karena membuat slide presentasi Proyek A: Fase 2 sampai jam dua pagi. Mungkin karena memikirkan cincin. Mungkin karena memikirkan aku.
“Saya juga belum tahu mau ngomong apa,” katanya pelan.
Aku tertawa. Aku tertawa ke bahunya, dan ia tertawa juga, dan kami duduk di bangku mal di depan toko perhiasan ketiga yang tidak jadi ia masuki, berbagi satu es krim vanila yang mulai meleleh di tanganku.
Malam itu, di kamarku, aku memeluk kemeja flanel dan menatap langit-langit.
Minggu. Dua hari lagi. Setelah makan malam, di teras. Aku akan cerita semuanya. Tentang Ibu mertuaku dan Fadhil dan seribu hari. Tentang Mama dan amplop cokelat lusuh berisi foto arisan. Tentang tameng.
Aku sudah menyusun kalimatnya di kepala. Seperti ia menyusun itinerary empat belas titik. Aku tahu kalimatnya akan hancur begitu aku melihat wajahnya, seperti itinerary-nya hancur oleh hujan. Tapi aku tetap menyusunnya.
Mas, saya mau cerita sesuatu. Waktu pertama kali ketemu, saya datang bukan buat jatuh cinta. Tapi ...
Ponselku bergetar.
Bukan dari Bagas. Bukan dari Nisa.
Fadhil: Assalamualaikum, Mbak.
Fadhil: Mbak, maaf ganggu malam-malam.
Fadhil: Saya mau ketemu Mas Bagas. Mau ngomong sesuatu. Mau terima kasih, sebenarnya.
Fadhil: Boleh saya minta nomornya? Atau alamat kantornya?
Aku membaca pesan itu dan tersenyum. Fadhil yang manis. Fadhil yang sopan. Fadhil yang pasti ingin berterima kasih karena, dengan cara yang tidak langsung, kehadiran Bagas membebaskannya dari rencana yang tidak pernah ia inginkan.
Aku tidak berpikir panjang. Aku tidak memikirkan apa yang mungkin dikatakan Fadhil kepada Bagas. Aku tidak memikirkan apa yang Fadhil tahu, dan apa yang Bagas belum tahu.
Aku hanya mengetik alamat kantor Bagas di Cibinong, lalu nomornya, lalu menambahkan satu kalimat:
Aku: Dia orangnya kaku, Dhil. Tapi baik banget.
Fadhil: Saya tahu, Mbak. Kelihatan.
Fadhil: Besok saya ke kantornya. Makasih, Mbak.
Aku meletakkan ponsel di nakas. Aku mematikan lampu. Aku memeluk kemeja flanel dan memejamkan mata.
Aku tertidur dengan senyum di wajahku, memikirkan hari Minggu.
Aku tidak tahu hari Minggu akan datang terlambat.
- 1 Jam Tujuh
- 2 Janji Arisan
- 3 Pertemuan Pertama
- 4 Tameng
- 5 Krisan Putih
- 6 Bekal Gosong
- 7 Calon Saya
- 8 Rencana Hujan
- 9 Jangan Korbankan Hidupmu
- 10 Sup Hari Kamis
- 11 Pasien Paling Bandel
- 12 Mas Lulus
- 13 Cemburu pada Orang Baik
- 14 Izin
- 15 Undangan yang Tidak Menyebut Namaku
- 16 Langkah Kuda
- 17 Persiapan Rahasia reading
- 18 Sekali, Umur Dua Tahun
- 19 Masih Tameng?
- 20 Bukan
- 21 Cincin
- 22 Mawar Kuning
- 23 Bukan yang Ditunggu
- 24 Administrasi Kepulangan
- 25 Maju Dua Langkah
- 26 Lampu Teras
- 27 Pintu Kedatangan
- 28 Catatan Terakhir
- 29 Kiriman Tanpa Nama
- 30 Krisan Putih, Kali Ini Benar
- 31 Restu
- 32 Janda Tahu Caranya
- 33 Bukan Pengganti
- 34 Proyek A, Versi Final
- 35 Malam Tanpa Jam Tujuh
- 36 Selamat Datang Pulang
- 37 Malam Pertama
- 38 Laporan Bulanan
- 39 Jam Tujuh, ke Rumah Kita
- 40 Proyek B
- 41 Epilog — Hujan