Chapter Thirty
Krisan Putih, Kali Ini Benar
POV: Bagas
Undangan itu datang lewat Fadhil, dalam bentuk pesan suara yang direkam di dapur rumah keluarga Ramadhan. Aku bisa mendengar suara minyak yang mendesis di latar belakang, dan suara ayam yang berkotek galak dari halaman.
“Mas Bagas. Ini Ibu. Ibu mau ngundang Mas makan siang. Besok. Di sini. Jangan bawa apa-apa. Ibu yang masak. Gantian.”
Lalu jeda, dan suara Bu Aminah yang lebih pelan, seolah ia mendekatkan mulut ke ponsel:
“Ibu masak ayam kecap. Nggak gosong. Biar Mas tahu rasanya.”
Lalu suara Fadhil di latar belakang, tertawa, dan suara Bu Aminah yang menegurnya, dan rekaman itu berhenti.
Aku memutarnya empat kali di parkiran kantor.
Aku datang jam sebelas. Tidak membawa apa-apa, karena dilarang. Aku membawa tangan kosong dan kemeja batik yang dipilihkan Ibu dan rasa gugup yang lebih besar dari waktu pertama kali duduk di kafe dekat Kebun Raya.
Bu Aminah membuka pintu. Ia memakai daster cokelat dan kerudung instan, pakaian rumah, bukan pakaian untuk menerima tamu. Ia menatapku dari ujung rambut sampai ujung sepatu, seperti Bu Sri dulu di ruang tamuku.
Lalu ia memelukku.
Aku tidak siap. Aku berdiri kaku di ambang pintu rumah keluarga Ramadhan dengan tangan menggantung di sisi tubuh, sementara seorang ibu yang anaknya meninggal dua kali memelukku erat-erat, dengan kepala yang hanya sampai dadaku.
“Terima kasih, Nak,” katanya ke kemejaku. “Sudah bawa Hanif pulang.”
Aku tidak bisa menjawab.
“Ibu tahu dari Mbak Rara,” katanya, melepaskanku dan menyeka matanya. “Ibu nggak tahu harus ngomong apa. Ibu cuma bisa masak.”
Lalu ia menarikku masuk ke dapur, mendudukkanku di meja makan, dan menyodorkan sepiring ayam goreng kecap.
Ayamnya cokelat keemasan. Mengilap. Tidak gosong sama sekali.
“Makan,” kata Bu Aminah. “Habis ini Ibu ajarin caranya.”
Ia mengajariku selama dua jam. Di dapurnya yang kecil, di depan kompor dua tungku yang sudah tua, dengan Pak Zainal yang menonton dari meja makan sambil membaca koran yang tidak dibaca, dan Fadhil yang menonton dari ambang pintu sambil menahan tawa, dan Anjani yang tidak ada.
Anjani tidak ada di sana. Itu disengaja. Bu Aminah yang memintanya pulang ke Bogor pagi itu. Ini urusan Ibu sama dia. Kamu jangan ikut campur.
Rahasianya ternyata bukan api kecil. Rahasianya adalah kecapnya dimasukkan terakhir, setelah ayamnya hampir matang, dan diaduk pelan-pelan dengan api yang kecil, tapi tidak boleh ditinggal sedetik pun.
“Fikri juga dulu gosong terus,” kata Bu Aminah sambil mengaduk. “Dia nggak sabar. Dia selalu ninggal kompor buat ngurusin hal lain. Telepon pasien. Bales pesan. Nolongin tetangga yang kucingnya nyangkut di pohon.” Ia tersenyum ke wajan. “Ibu bilang, Fik, masak itu kayak ngerawat orang. Nggak bisa ditinggal. Dia bilang, Bu, aku bisa ngerawat seratus orang, tapi nggak bisa ngerawat satu ayam.”
Aku tertawa. Lalu berhenti, karena aku tidak yakin boleh tertawa.
Bu Aminah menoleh dan menatapku. “Ketawa aja, Nak. Dia lucu. Anak Ibu lucu.”
Aku tertawa lagi. Bu Aminah juga.
Di meja makan, Pak Zainal menurunkan korannya sedikit. Ia tidak memakai kacamata. Tapi caranya menurunkan koran sama persis dengan cara Ayah menurunkan kacamata.
Lima minggu kemudian, peringatan seribu hari Fikri.
Ada yang berbeda kali ini.
Seribu hari dihitung dari tanggal kabar kematian pertama, karena dua tahun lalu tidak ada tanggal lain yang bisa dipakai. Tapi sekarang ada. Hanif ingat tanggalnya. Hanif ingat malam itu dengan sangat jelas, malam serangan di klinik, malam Fikri menyerahkan jam tangan dan buku catatan ke tangannya. Selisihnya empat hari dari tanggal yang selama ini dipakai keluarga Ramadhan.
Empat hari.
Pak Zainal yang memutuskan. Peringatan seribu hari tetap dilaksanakan di tanggal yang lama, karena keluarga besar sudah dikabari, karena tenda sudah dipesan. Tapi di nisan, akan ditambahkan tanggal yang benar.
“Biar anak saya punya hari,” kata Pak Zainal. “Selama ini dia nggak punya hari.”
Pengadilan agama juga sudah mengeluarkan penetapan. Fadhil yang mengurusnya, dengan kesaksian tertulis dari Hanif dan surat dari dua lembaga. Prosesnya cepat, lebih cepat dari yang kami kira, karena hakimnya, kata Fadhil, membaca kesaksian Hanif lalu diam lama sekali dan akhirnya berkata cukup.
Fikri Ramadhan bin Zainal Ramadhan, secara resmi, wafat.
Anjani Wardhani, secara resmi, janda.
Aku tidak merasa lega waktu mendengarnya. Aku merasa sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih berat dan lebih tenang, seperti teh tubruk yang sudah mengendap.
Pagi itu, sebelum berangkat ke Depok, aku berhenti di kios bunga di Jalan Otista.
Bu Iyah sedang menata ember-ember plastik biru di trotoar. Ia melihatku turun dari mobil dan berhenti bergerak, seperti waktu aku datang membeli mawar kuning.
“A,” katanya.
“Krisan putih, Bu.”
Bu Iyah menatapku. Ia tahu ini hari apa. Grup itu sudah tahu sejak seminggu lalu. Ia tidak bertanya apa artinya, karena ia sudah mengajarkanku artinya, berbulan-bulan yang lalu, dengan cara yang tidak langsung: temannya yang sabar ya, A.
“Berapa, A?”
“Satu ikat, Bu. Yang paling bagus.”
Ia memilih dari ember. Lama. Ia memeriksa setiap tangkai, membuang yang kelopaknya cacat, memilih yang paling segar dan paling putih. Lalu ia membungkusnya. Bukan dengan koran kali ini. Dengan kertas cokelat yang rapi, diikat dengan tali rami.
“Kali ini buat siapa, A?” tanyanya pelan.
Aku menatap krisan putih itu.
“Buat yang memang sudah pergi, Bu,” kataku.
Bu Iyah menatapku lama. Lalu ia mengangguk, menyerahkan bungkusan itu, dan menolak waktu aku mau membayar.
“Itu dari Ibu,” katanya. “Buat almarhum. Sama buat Aa.”
“Buat saya kenapa, Bu?”
Bu Iyah tersenyum. Matanya berkaca-kaca.
“Karena Aa akhirnya bawa krisan ke tempat yang benar,” katanya.
Pemakaman di belakang masjid kecil di pinggir Depok penuh pagi itu.
Lebih penuh dari yang kubayangkan. Keluarga besar Ramadhan. Bude Ningsih, yang kali ini diam. Om Harun dan Tante Wati dari Cirebon. Tetangga-tetangga. Teman-teman Fikri dari rumah sakit, beberapa dengan seragam putih yang belum sempat diganti. Mbak Rara dan beberapa relawan Jembatan Asa dengan rompi oranye.
Dan Hanif. Di kursi roda, didorong Jannah, dengan kaki yang masih dibebat dan perban yang sudah lebih kecil di kepalanya. Ia jauh lebih berisi sekarang, wajahnya tidak setirus di bandara. Jannah berdiri di belakangnya dengan kerudung biru muda, tangannya di bahu suaminya, tidak dilepaskan sedetik pun.
Keluargaku juga datang. Ayah, Ibu, Nisa, Reza, Kiki. Ibu yang mendesak. Kita datang sebagai keluarga, Gas. Bukan sebagai tamu.
Keluarga Wardhani juga. Pak Hendra, Bu Sri.
Dan Anjani.
Ia berdiri di sebelah Bu Aminah, di depan nisan, dengan kerudung putih dan baju kurung hitam. Ia tidak menangis. Wajahnya tenang, seperti di makam waktu pertama kali aku datang membawa ember pel. Tapi kali ini ketenangannya berbeda. Bukan permukaan air yang diam karena ada sesuatu yang berat tenggelam di bawahnya. Lebih seperti air yang diam karena memang sudah tidak ada lagi yang bergerak di dalamnya.
Pak Udin berdiri di dekat pos jaganya dengan peci abu-abu. Waktu ia melihatku datang membawa krisan putih, ia mengangkat tangannya, setengah melambai, setengah memberi hormat.
Nisan itu sudah diubah.
Masih marmer putih yang sama. Masih huruf hitam yang sama. Fikri Ramadhan bin Zainal Ramadhan. Wafat dalam tugas kemanusiaan.
Tapi di bawahnya, ada satu baris baru. Diukir minggu lalu oleh tukang batu dari kampung sebelah, dengan huruf yang sedikit lebih baru, sedikit lebih tajam dari yang lain.
Tanggal.
Satu tanggal. Hari, bulan, tahun. Tanggal yang diingat Hanif. Tanggal yang dua tahun lebih tidak ada di sana.
Aku berdiri di belakang, di barisan keluarga Adinegara, dan menatap baris itu lama sekali.
Nggak ada tanggalnya, aku pernah berkata, di sini, dengan sarung tangan karet dan ember pel hijau.
Nggak ada yang tahu tanggal pastinya, Anjani menjawab.
Sekarang ada.
Tahlilan dimulai. Doa-doa. Yasin. Suara-suara yang berbaur di bawah pohon kamboja, rendah dan bergetar. Aku ikut membaca. Ayah di sebelahku, membaca dengan suara yang lebih keras dari biasanya.
Lalu Pak Zainal maju ke depan nisan. Ia membawa sebuah kotak kayu kecil. Ia membukanya.
Di dalamnya, jam tangan digital hitam dengan tali karet yang retak. Jam tangan seharga tujuh puluh lima ribu rupiah yang dibeli di pasar dekat posko banjir. Jam tangan yang dibawa Hanif selama dua tahun lebih, dijahit di kantong kain lusuh, melewati kamp demi kamp.
Pak Zainal berlutut. Fadhil berlutut di sebelahnya. Mereka menggali tanah di kaki nisan dengan tangan, sedikit, tidak dalam. Lalu Pak Zainal meletakkan kotak kayu itu di sana, menutupnya, dan menimbunnya dengan tanah.
“Akhirnya ada yang pulang, Nak,” bisik Pak Zainal ke tanah. “Sedikit. Tapi pulang.”
Bu Aminah menangis. Anjani memeluknya dari samping.
Hanif, di kursi roda, menunduk dengan tangan menutup wajah. Jannah memeluk kepalanya ke perutnya, di depan semua orang, dan tidak peduli.
Aku berdiri di belakang, dengan krisan putih di tangan, dan tidak tahu harus berbuat apa.
Lalu Bu Aminah menoleh.
Ia mencari sesuatu di barisan belakang. Matanya bergerak dari wajah ke wajah. Lalu berhenti di wajahku.
Ia mengangkat tangannya. Melambai pelan. Memanggilku.
Aku berjalan ke depan. Melewati keluarga besar Ramadhan. Melewati Bude Ningsih yang menatapku dengan mata basah dan, untuk pertama kalinya, tidak berkata apa-apa. Melewati Mbak Rara. Melewati kursi roda Hanif.
Aku berhenti di depan nisan.
Aku berlutut. Seperti waktu itu. Aku meletakkan krisan putih itu di atas tanah, di bawah nama dan tanggal yang baru diukir, di dekat tempat jam tangan itu baru saja dikuburkan.
Krisan putih. Bunga duka. Bunga untuk orang yang sudah meninggal.
Dulu aku membawanya ke studio bunga seorang janda karena kupikir bunga itu awet. Dulu ia tertawa sampai jatuh dari kursi. Dulu ibu penjual bunga di Otista bilang temannya yang sabar ya, A.
Hari ini aku membawanya ke tempat yang benar.
“Mas Fikri,” kataku pelan. Hanya untuk nisan itu. “Saya sudah baca suratnya.”
Angin bergerak di pohon kamboja. Beberapa bunga jatuh.
“Saya nggak bisa main catur setengah jam tanpa gelisah,” kataku. “Saya kalah terus sama Pak Hendra. Tapi saya duduk. Saya nggak pernah berdiri sebelum selesai.”
Aku menunduk.
“Saya terima titipannya, Mas.”
Aku berdiri.
Waktu aku berdiri, aku merasakan sesuatu menyentuh tanganku. Tangan kananku, yang tergantung di sisi tubuh.
Jari-jari. Masuk ke sela-sela jariku. Satu per satu. Telunjuk. Jari tengah. Jari manis. Kelingking.
Aku menoleh.
Anjani berdiri di sebelahku. Ia tidak menatapku. Ia menatap nisan, dengan wajah yang tenang dan mata yang basah.
Dan ia menggenggam tanganku.
Di depan nisan suaminya. Di depan keluarga besar Ramadhan. Di depan Bu Aminah dan Pak Zainal dan Fadhil. Di depan Hanif dan Jannah. Di depan keluargaku dan keluarganya. Di depan Pak Udin dengan peci abu-abu di tangan.
Aku tahu apa yang seharusnya kulakukan. Aku sudah melakukannya selama dua bulan terakhir. Aku seharusnya menarik tanganku. Pelan, sopan, tanpa menyakitinya. Ini makam suaminya. Ini peringatan seribu harinya. Ini bukan tempatnya. Bukan waktunya.
Laki-laki yang baik akan menarik tangannya.
Kamu itu bukan laki-laki baik, Gas. Kamu itu laki-laki yang takut.
Waktu kepastiannya datang, kamu jangan sembunyi di balik pintu lagi. Kamu keluar. Kamu pilih. Buat kamu sendiri.
Aku tidak menarik tanganku.
Aku menggenggamnya balik.
Tidak hati-hati, kali ini. Tidak seperti memegang telur. Aku menggenggamnya dengan seluruh tanganku, erat, seperti orang yang memegang sesuatu yang sudah terlalu lama hampir terlepas dan akhirnya memutuskan tidak akan melepaskannya lagi.
Anjani menoleh. Ia menatap tangan kami. Lalu ia menatap wajahku.
Lalu ia tersenyum. Senyum yang kecil, basah, dan sangat lega.
Di sebelahnya, Bu Aminah melihat tangan kami. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk pelan, sekali, lalu kembali menatap nisan anaknya, dan bibirnya bergerak, membaca doa yang tidak bisa kudengar.
Di belakang, aku mendengar suara pulpen. Menulis sangat cepat. Lalu suara isak tertahan.
Lalu suara Kiki, sangat keras, di tengah pemakaman yang sunyi:
“Mama, Om Jomblo pegangan tangan!”
Seseorang tertawa. Mungkin Hanif. Lalu Fadhil. Lalu, pelan, Bu Aminah.
Aku tidak melepaskan tangannya.
Tidak waktu doa terakhir dibacakan. Tidak waktu keluarga besar Ramadhan menaburkan bunga satu per satu. Tidak waktu kami berjalan kembali melalui jalan setapak di antara makam-makam, melewati pohon-pohon kamboja, melewati pos jaga Pak Udin.
Pak Udin berdiri di depan posnya. Ia menatap tangan kami. Lalu ia tersenyum lebar, senyum yang memperlihatkan gigi depannya yang tinggal dua, dan berkata dalam bahasa Sunda yang tidak sepenuhnya kumengerti.
Anjani menerjemahkannya untukku, di mobil, dalam perjalanan pulang. Pelan. Dengan tangannya masih di tanganku, di atas tuas persneling.
“Katanya,” kata Anjani, “temennya sekarang udah bukan temen.”
- 1 Jam Tujuh
- 2 Janji Arisan
- 3 Pertemuan Pertama
- 4 Tameng
- 5 Krisan Putih
- 6 Bekal Gosong
- 7 Calon Saya
- 8 Rencana Hujan
- 9 Jangan Korbankan Hidupmu
- 10 Sup Hari Kamis
- 11 Pasien Paling Bandel
- 12 Mas Lulus
- 13 Cemburu pada Orang Baik
- 14 Izin
- 15 Undangan yang Tidak Menyebut Namaku
- 16 Langkah Kuda
- 17 Persiapan Rahasia
- 18 Sekali, Umur Dua Tahun
- 19 Masih Tameng?
- 20 Bukan
- 21 Cincin
- 22 Mawar Kuning
- 23 Bukan yang Ditunggu
- 24 Administrasi Kepulangan
- 25 Maju Dua Langkah
- 26 Lampu Teras
- 27 Pintu Kedatangan
- 28 Catatan Terakhir
- 29 Kiriman Tanpa Nama
- 30 Krisan Putih, Kali Ini Benar reading
- 31 Restu
- 32 Janda Tahu Caranya
- 33 Bukan Pengganti
- 34 Proyek A, Versi Final
- 35 Malam Tanpa Jam Tujuh
- 36 Selamat Datang Pulang
- 37 Malam Pertama
- 38 Laporan Bulanan
- 39 Jam Tujuh, ke Rumah Kita
- 40 Proyek B
- 41 Epilog — Hujan