Chapter Nine
Plot Hole
POV: Bimo
Bab 28 terbit Selasa malam, dan kalimat pertamanya adalah ancaman.
Sabtu itu, hujan turun di Puncak, dan seseorang yang seharusnya tidak datang ternyata datang.
Aku membacanya di kasur, di bawah kipas angin yang berdecit, dan langsung tahu siapa yang dimaksud.
Aku. Staf IT yang lewat. Seseorang yang seharusnya tidak datang.
Bab itu menceritakan rencana outing kantor ke sebuah vila di Puncak. Lomba tarik tambang, makan siang bersama, dan hujan sore yang akan membuat semua orang berlarian. Di novel, Kalina akan menyabotase tim Tania dengan memotong tali tambangnya diam-diam. Lalu hujan akan turun, dan Dirgantara akan memayungi Tania, sementara Kalina berdiri sendirian di bawah gerimis, kalah dan basah.
Lalu di paragraf terakhir:
Dan seseorang yang seharusnya tidak datang akan berdiri di sana, di antara hujan, dan mengacaukan semuanya sekali lagi.
Penulis itu sudah memperhitungkanku. Ia tahu aku akan datang. Ia tahu aku akan mengacaukan sesuatu. Ia bahkan sudah menulisnya sebelum terjadi, seperti seorang dalang yang sudah menyiapkan wayang di balik layar.
Jadi, jawabannya sederhana.
Aku tidak akan datang.
“Sakit,” kata Gilang, dengan nada guru yang sedang menilai pidato murid. “Coba lagi.”
“Uhuk.”
“Itu bukan batuk. Itu bunyi printer lantai dua belas waktu kehabisan toner.”
Kami berdiri di pantry lantai dua belas pada hari Rabu sore. Gilang sedang mengajariku cara pura-pura sakit. Ia mengaku sebagai ahli, karena dalam dua tahun terakhir ia sudah tiga kali “sakit” di hari Jumat menjelang konser.
“Batuk itu dari dada, Bim. Bukan dari tenggorokan. Lo harus percaya lo sakit.”
“Aku nggak sakit.”
“Makanya disebut akting.” Gilang memperagakan batuk yang sangat meyakinkan, dalam dan basah. Bu Ratmi, yang sedang mengelap meja, mundur dua langkah dan menutup bakul gorengannya dengan serbet.
“Kenapa nggak mau ikut outing, Mas?” tanya Bu Ratmi curiga. “Kan seru. Ada tarik tambang. Ada bakar jagung.”
“Aku nggak suka keramaian, Bu.”
“Tapi tangga darurat jam dua belas lewat seperempat Mas suka.”
Gilang tersedak batuk palsunya sendiri.
Aku memutuskan untuk tidak menjawab.
Masalah pertama: outing kantor ternyata wajib.
Aku baru tahu Kamis pagi, saat menerima email dari Mbak Sisil, kepala HR. Mbak Sisil adalah perempuan berusia tiga puluh tahun dengan kacamata berbingkai merah dan sebuah map plastik berisi peraturan perusahaan yang ia bawa ke mana-mana, termasuk ke toilet. Ia percaya setiap masalah di dunia ini bisa dicegah dengan formulir yang tepat.
Kepada seluruh karyawan,
Outing tahunan Haryanto Group bersifat WAJIB (huruf kapital, cetak tebal, digarisbawahi). Ketidakhadiran hanya dapat diterima dengan surat keterangan dokter yang ditandatangani, dicap, dan disertai nomor izin praktik. Terima kasih atas kerja samanya.
Salam hangat (dan tegas),
Sisilia Wardhani, HRD
Masalah kedua: aku sangat buruk dalam berbohong.
Jumat malam, setelah tiga kali latihan dengan Gilang dan satu tutorial YouTube berjudul Cara Terdengar Sakit di Telepon, aku mengirim pesan WhatsApp ke Mbak Sisil.
Aku: Selamat malam, Mbak Sisil. Mohon maaf, saya tidak bisa ikut outing besok karena sakit.
Balasannya datang dalam empat detik.
Mbak Sisil: Sakit apa?
Aku: Flu, Mbak.
Mbak Sisil: Flu jenis apa?
Aku menatap layar. Aku tidak tahu flu punya jenis.
Aku: Flu biasa.
Mbak Sisil: Gejalanya?
Aku: Batuk. Pilek. Pusing.
Mbak Sisil: Demam?
Aku: Sedikit.
Mbak Sisil: Berapa derajat?
Aku: 37,5.
Mbak Sisil: Itu bukan demam, Mas. Itu suhu orang habis naik tangga.
Aku menatap pesan itu lama sekali. Bagaimana Mbak Sisil tahu soal tangga?
Mbak Sisil: Surat dokter, ya, Mas. Besok sore paling lambat. Kalau tidak ada, dicatat sebagai mangkir. Semoga lekas sembuh. 🙏
Aku menelungkupkan ponsel ke kasur. Gilang, yang sedang main ke kos untuk menumpang Wi-Fi, membaca pesan itu dari balik bahuku dan tertawa sampai jatuh dari kursi plastik.
“Lo bilang tiga puluh tujuh koma lima?” Ia memegangi perutnya. “Bim! Itu suhu badan normal orang Jakarta jam dua siang!”
Aku tetap tidak datang.
Sabtu pagi, aku pulang ke Bekasi, ke warung Ibu. Itu tempat paling aman di dunia, tempat tidak ada web novel, tidak ada lift, dan tidak ada sekretaris direksi dengan lipstik merah bata. Aku mengikis kerak panci, mengganti tabung gas, dan memotong daun bawang, sementara grup Tim Hore Kapal Kabel terus berbunyi di saku celanaku.
Gilang: Udah sampai vila. Dingin banget. Gue lupa bawa jaket
Gilang: Bim lo dicariin
Bu Ratmi: Mas Bimo kok nggak ada? Bakwan nggak pedasnya saya bawa nih 😢
Pak Darto: Siaga. Situasi aman terkendali. Bu Kalea tanya Mas Bimo dua kali.
Aku berhenti memotong daun bawang.
Pak Darto: Koreksi. Tiga kali.
Pukul 09.42, ponselku berdering. Nomor kantor. Ekstensi yang tidak terdaftar di daftar kontakku, tapi sudah kuhafal di luar kepala karena muncul di setiap tiket dengan tanda K.
Aku menatapnya. Dering kedua. Dering ketiga.
Aku berdeham, memasang suara paling sakit yang bisa kubuat, dan mengangkat.
“Ha... halo. Uhuk.”
“Bimo.” Suara Kalea. Tidak rendah dan tenang seperti biasa. Sedikit lebih cepat. “Kamu sakit?”
“Uhuk. Iya, Mbak. Flu.”
“Flu jenis apa?”
Kenapa semua orang di kantor ini bertanya soal jenis flu?
“Flu... yang biasa.”
Ada jeda. Di latar belakang, aku bisa mendengar suara angin, orang-orang mengobrol, dan seseorang menggigil (Gilang, jelas). Lalu Kalea berkata:
“Pak Dimas mau siaran langsung ke dewan komisaris jam dua siang. Sambutan ulang tahun perusahaan. Vendor sound system tidak datang. Wi-Fi vila mati. Laptop presentasi tidak mau tersambung ke proyektor vila. Gilang bilang dia cuma mengerti server, bukan sound system. Dan Gilang sekarang sedang menggigil di pojok sambil dibungkus taplak meja oleh Bu Ratmi.”
“Oh.”
“Saya tidak bisa memaksa kamu. Kamu sakit.”
“Iya. Uhuk.”
Dan saat itu juga, dari dapur warung, terdengar suara Bayu berteriak sekeras-kerasnya:
“MAS BIMOOO! GAS ELPIJINYA BOCOR LAGI! BAUNYA KAYAK KENTUT NAGA!”
Lalu disusul Ibu:
“BIM! ANGKAT KARUNG BERAS YANG DI DEPAN SEKALIAN! YANG LIMA PULUH KILO!”
Hening di telepon.
Hening yang sangat panjang.
“Flunya,” kata Kalea akhirnya, dengan suara yang sangat pelan dan sangat datar, “pasti parah sekali. Sampai bisa angkat karung lima puluh kilo.”
Aku memejamkan mata. Aku ingin lenyap ke dalam panci soto.
“Mbak...”
“Saya tidak marah.”
“Aku bisa jelasin.”
“Kamu tidak perlu jelasin.” Jeda lagi. Lalu suaranya berubah. Lebih pelan. Lebih seperti suaranya di tangga darurat, bukan suaranya di meja direksi. “Saya cuma... Saya sendirian di sini, Bimo. Semua orang sibuk. Pak Dimas panik. Dan saya tidak tahu apa-apa soal kabel.”
Aku menatap daun bawang di talenan.
Itu pertama kalinya ia menyebut namaku. Bukan Mas. Bukan kamu. Bimo. Dua kali dalam satu telepon. Dan cara ia mengatakan sendirian, pelan, seperti mengaku sesuatu yang memalukan, membuat semua aturan di ponselku tiba-tiba terdengar sangat bodoh.
“Aku berangkat,” kataku.
“Kamu sakit.”
“Aku sembuh.”
“Secepat itu?”
“Ajaib, Mbak. Doa Ibu.”
Ada suara kecil di telepon. Seperti tawa yang ditahan di balik telapak tangan. “Hati-hati di jalan. Jangan ngebut.”
“Iya.”
“Dan Bimo?”
“Ya?”
“Tolong urus gasnya dulu. Saya tidak mau kamu masuk novel karena warung ibumu meledak.”
Ia menutup telepon.
Aku berdiri di dapur selama lima detik, menatap ponsel. Lalu aku menyadari ada tiga orang berdiri di pintu dapur, menatapku: Ibu dengan sendok sayur, Bayu dengan stik gim, dan Mbak Awan dengan buku kasir.
“Siapa itu?” tanya Mbak Awan.
“Teman kantor.”
“Teman kantor yang bilang ‘hati-hati di jalan’?”
“Itu... kalimat umum.”
“Suaranya cantik,” kata Ibu.
“Ibu dengar dari mana?”
“Ibu dengar dari mukamu.”
Bayu mengangkat ponselnya dan mulai mengetik dengan kecepatan seorang gamer profesional. Tiga detik kemudian, ponselku bergetar.
Wibisena Bersatu
Bayu: BREAKING NEWS. MAS BIMO DITELEPON CEWEK. MUKANYA MERAH.
Embun: HAH
Embun: MAS BIMO??
Embun: MAS BIMO YANG ITU??
Mas Langit: Bimo siapa
Mbak Awan: Adik lo, Mas. Yang anak ketiga.
Mas Langit: Oh iya. Lupa. Sori. Selamat Bim
Embun: Mas Bimo jawab!!! Siapa namanya!!!
Bayu: Dia lagi benerin gas sambil senyum-senyum. Serem.
Aku menutup grup itu dan pergi memperbaiki tabung gas. Bayu benar. Aku memang senyum-senyum. Aku baru sadar saat melihat bayanganku sendiri di permukaan panci soto, dan langsung berhenti.
Ibu membekaliku dua wadah soto, satu termos kuah, dan sekantong kerupuk.
“Ini buat siapa, Bu? Banyak banget.”
“Buat yang suaranya cantik.” Ibu memasukkan satu wadah lagi. “Sama buat yang menggigil. Siapa tadi? Gilang.”
“Ibu tahu Gilang?”
“Ibu tahu semua temanmu, Bim. Kamu kira Ibu nggak dengar kamu cerita?” Ibu menepuk pipiku dengan tangan yang masih bau serai. “Kamu kira nggak ada yang dengar kamu?”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku mencium tangan Ibu, memeluk wadah-wadah soto itu seperti memeluk gulungan kabel, dan berangkat.
Perjalanan ke Puncak butuh dua setengah jam. Satu kali ganti angkot, satu kali naik bus, dan satu ojek yang pengemudinya terus bercerita tentang mantannya yang sekarang jualan seblak di Cianjur. Hujan mulai turun di Ciawi. Aku tiba di gerbang vila pukul 12.47, dengan celana basah sampai lutut, jaket penuh embun, dan wadah soto yang masih hangat karena kupeluk sepanjang jalan.
Di gerbang vila, di bawah payung transparan, berdiri Kalea Prameswari.
Ia tidak memakai blazer. Ia memakai kaus putih polos dengan kardigan abu-abu yang kebesaran, celana jins, dan sepatu kets putih yang ujungnya sudah sedikit kotor kena lumpur. Rambutnya dikuncir tinggi. Tanpa lipstik merah bata. Hanya bibirnya sendiri, yang ternyata berwarna merah muda pucat, seperti kelopak bunga jambu.
Aku belum pernah melihatnya seperti ini. Tanpa baju kerja, tanpa garis-garis tajam. Ia terlihat lebih muda. Lebih lembut. Seperti seseorang yang bisa kauajak makan bakso di pinggir jalan tanpa merasa harus menyiapkan laporan.
Ia terlihat seperti seseorang yang sudah menunggu di gerbang sejak lama.
Aku berhenti di depannya. Payungnya cukup besar untuk berdua. Ia tidak bergeser, tapi juga tidak menjauhkan payung itu.
“Sembuh?” tanyanya.
“Ajaib.”
Ia mengangguk, pelan dan sangat serius. Lalu ia menyodorkan sebuah gelas kertas yang mengepul. Aroma jahe dan gula merah langsung menyergap hidungku.
“Wedang jahe,” katanya. “Untuk flunya.”
“Aku nggak flu, Mbak.”
“Saya tahu.” Ia tetap menyodorkannya. “Tapi Mbak Sisil tidak tahu. Jadi kamu harus kelihatan sedang menyembuhkan flu.”
Aku menerima gelas itu. Hangatnya menjalar dari telapak tanganku sampai ke dada.
“Saya sudah bilang ke Mbak Sisil,” lanjut Kalea, dengan wajah yang sangat datar, “kamu sembuh karena doa ibumu. Mbak Sisil minta surat keterangan dari ibumu. Ditandatangani dan dicap.”
“Ibuku nggak punya cap.”
“Saya sudah bilang begitu. Mbak Sisil bilang cap warung soto juga boleh.”
Aku menatapnya. Ia menatapku. Hujan turun di sekeliling payung transparan itu, dan di dalamnya hanya ada kami berdua, wedang jahe, dan sekantong besar soto yang kupeluk erat-erat.
Lalu ujung bibirnya bergerak. Lalu matanya. Lalu ia menunduk dan tertawa tanpa suara, bahunya bergetar di bawah kardigan abu-abu yang kebesaran.
“Kenapa?” tanyaku.
“Kamu bawa soto,” katanya di sela tawa. “Ke Puncak. Waktu disuruh benerin sound system.”
“Panik nggak boleh lapar.”
“Saya tahu.” Ia mengangkat wajah. Matanya berkilat basah karena tawa, atau mungkin karena hujan. “Itu kalimatku sekarang. Saya pinjam.”
Dari arah vila, terdengar suara orang berteriak memanggil, “BU KALEA! PAK DIMAS NANYA PROYEKTORNYA!” Kalea langsung menegakkan punggung dan kembali jadi sekretaris direksi dalam satu tarikan napas. Hampir. Sudut bibirnya masih bergerak sedikit.
“Ayo,” katanya, dan berbalik. Payungnya ikut berbalik, menaungiku.
Aku berjalan di sebelahnya di bawah payung yang sama, menembus hujan, menuju vila tempat seluruh kantor sedang menunggu dan tempat sebuah web novel sudah menulis bahwa aku akan mengacaukan segalanya.
Seseorang yang seharusnya tidak datang ternyata datang.
Penulisnya benar. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak terlalu keberatan.
- 1 Satu Kalimat Tanpa Nama
- 2 Proyektor yang Terlalu Cepat Menyala
- 3 Aturan Figuran
- 4 Kolom Komentar
- 5 Printer Lantai 12
- 6 Kabel yang Sama
- 7 Antagonis Juga Makan Siang Sendiri
- 8 Senin Pagi
- 9 Plot Hole reading
- 10 Hujan di Puncak
- 11 “Dia Lagi”
- 12 Shipper Kantor
- 13 Lembur
- 14 Yang Ditulis dan Yang Terjadi
- 15 Perjalanan Dinas
- 16 Laut Jam Lima Pagi
- 17 Kamera
- 18 Aku Cuma Lewat, Tapi...
- 19 Jangan Baca Bab Malam Ini
- 20 Lift Nomor 3
- 21 Pacar Rahasia
- 22 Draf yang Tak Pernah Terkirim
- 23 Ulang Tahun yang Dilupakan
- 24 Penggemar Nomor Satu
- 25 Kebaikan Tasya
- 26 Semua Orang Melihat
- 27 Senin Pagi, Delapan Bulan Lalu
- 28 Rapat HR
- 29 Bab Terakhir
- 30 Notifikasi Tamat
- 31 Bab Satu
- 32 Rapat Darurat Para Figuran
- 33 Rumah di Bandung
- 34 Wibisena Bersatu
- 35 Catatan Staf IT yang Lewat
- 36 Jumat, Pukul 21.00
- 37 Gala
- 38 Itu Bagianku
- 39 Izin Terbit
- 40 Satu Kalimat dengan Nama
- 41 Epilog — Semua Orang di Dalam Foto