Chapter Twenty Two
Draf yang Tak Pernah Terkirim
POV: Kalea
Folder Draf di aplikasi pesanku berisi tujuh pesan yang tidak pernah terkirim.
Semuanya untuk Bimo. Semuanya dimulai dengan kalimat yang sama.
Bimo, ada yang harus saya bilang.
Draf pertama, ditulis Senin malam setelah lift nomor tiga:
Bimo, ada yang harus saya bilang. Web novel yang Gilang suka. Sang CEO dan Gadis Magang. Saya yang nulis.
Terlalu pendek. Ia akan membacanya di kos, sendirian, di bawah kipas angin yang berdecit, tanpa ada aku di sana untuk menjelaskan apa pun. Ia akan membaca ulang dua puluh dua bab dalam semalam dan menemukan dirinya di setiap halaman, tanpa nama, dan bertanya-tanya sejak kapan ia diawasi.
Draf ketiga, ditulis Rabu:
Bimo, ada yang harus saya bilang. Delapan bulan lalu, saya mulai menulis sebuah cerita tentang kantor. Awalnya cuma untuk diri sendiri. Lalu ada yang membaca, lalu makin banyak yang membaca, lalu...
Terlalu panjang. Terdengar seperti surat pembelaan di pengadilan.
Draf kelima, ditulis Kamis pukul dua pagi:
Bimo, kamu ingat aturan terakhirmu? Jangan cari tahu siapa Senin Pagi. Kamu nggak perlu cari tahu. Dia udah ada di depan kamu.
Terlalu dramatis. Seperti kalimat dari web novel. Aku menghapusnya dengan perasaan malu yang sangat dalam.
Draf ketujuh, ditulis Jumat sore, di toilet kantor lantai empat belas, dengan pintu terkunci:
Bimo, ada yang harus saya bilang. Tolong jangan benci saya.
Aku menatap draf itu lama sekali. Itu satu-satunya draf yang jujur. Tapi itu bukan pengakuan. Itu permohonan.
Aku tidak mengirimkan satu pun.
Sabtu sore, Bimo datang ke apartemenku untuk pertama kali.
Itu ideku. Aku yang mengundangnya. Aku menulis undangannya di kertas tempel kuning dan menempelkannya di monitornya hari Jumat: Sabtu. Jam empat. Apartemen saya. Bawa bahan nasi goreng. — K. Lalu aku menghabiskan sepanjang Sabtu pagi membersihkan apartemen studio seluas dua puluh empat meter persegi, seolah yang datang adalah tim audit eksternal.
Ia datang tepat pukul empat. Tidak lebih awal, tidak terlambat. Seperti jadwal yang kususun sendiri.
Ia membawa dua kantong plastik berisi bahan nasi goreng: beras sisa kemarin dari warung Ibu, bawang merah, bawang putih, cabai (untuknya), kecap manis, telur, dan kerupuk. Ia juga membawa tas pinggang berisi obeng, pinset, dan senter.
“Kenapa bawa obeng?” tanyaku.
“Kebiasaan.”
“Ini apartemen saya. Bukan ruang server.”
Ia melangkah masuk, melepas sepatu, dan berhenti di tengah ruangan. Matanya bergerak cepat ke seluruh apartemenku, seperti pemindai. Rak buku yang terlalu penuh. Kasur yang dirapikan dengan sudut empat puluh lima derajat. Meja kerja di depan jendela. Dapur kecil di pojok.
“Kerannya netes,” katanya.
“Hah?”
“Keran wastafel.” Ia menunjuk dapur. “Netes. Tiap tujuh detik.”
Aku mendengarkan. Tes. Ia benar. Aku sudah mendengar bunyi itu sejak pindah ke apartemen ini dua tahun lalu dan menganggapnya bagian dari suasana.
“Itu... suasana,” kataku.
Bimo sudah berjalan ke dapur dan membuka tas pinggangnya.
Dalam satu jam berikutnya, sebelum satu butir nasi pun digoreng, Bimo memperbaiki: keran wastafel yang menetes (karet di dalamnya aus), kursi meja kerja yang goyang (bautnya longgar), engsel lemari dapur yang berdecit (butuh pelumas, yang entah bagaimana ada di tas pinggangnya), lampu kamar mandi yang berkedip (stater-nya rusak), dan router Wi-Fi yang selalu putus pukul sembilan malam (ternyata disetel otomatis restart oleh pemilik apartemen sebelumnya).
Aku duduk di kasur, memeluk bantal, dan menontonnya bekerja.
“Bimo.”
“Hm?” Ia sedang tiarap di bawah meja kerja, mengencangkan baut kursi.
“Kamu ke sini pacaran atau servis?”
Ia mengeluarkan kepalanya dari bawah meja. Rambutnya berantakan. Ada sarang laba-laba kecil di pundaknya.
“Dua-duanya,” katanya. “Paket bundling.”
Aku melempar bantal ke arahnya. Bantal itu mengenai kepalanya, dan ia tidak menghindar sama sekali. Ia hanya menatapku dengan wajah datar, bantal jatuh ke lantai, sarang laba-laba di pundak, dan berkata:
“Kursinya sudah nggak goyang.”
Aku tertawa sampai harus berbaring di kasur.
Pukul enam, ia akhirnya memasak.
Dapurku kecil. Satu kompor dua tungku, satu wajan, satu talenan. Bimo berdiri di depannya dengan lengan kemeja digulung, memotong bawang merah dengan kecepatan dan ketepatan seseorang yang sudah memotong bawang di warung soto sejak umur sepuluh tahun.
Aku duduk di kursi meja kerja yang sudah tidak goyang, memperhatikannya.
Ia bersenandung. Nada yang sama. Nada yang kudengar pertama kali delapan bulan lalu, di depan printer lantai dua belas.
Aku memperhatikannya sangat lama. Seperti kata Ayah: kalau kamu memperhatikan sesuatu cukup lama, kamu akan menemukan sesuatu yang indah di dalamnya. Aku sudah memperhatikan punggung itu delapan bulan. Aku sudah menemukan banyak sekali hal yang indah. Cara ia memiringkan kepala kalau mendengar bunyi aneh. Cara jari-jarinya menahan sesuatu dengan sangat hati-hati, seolah semua benda bisa pecah. Cara ia selalu memotong bawang dengan irama yang sama dengan senandungnya.
Aku berdiri. Aku berjalan ke dapur. Aku berhenti di belakangnya.
Lalu aku melingkarkan kedua lenganku di pinggangnya dan menyandarkan pipiku di punggungnya.
Pisaunya berhenti di atas talenan.
“Kalea,” katanya pelan.
“Hm.”
“Aku lagi pegang pisau.”
“Saya tahu.”
“Ini bahaya.”
“Lanjutin aja.” Aku mengeratkan lengan. “Saya nggak ganggu.”
“Kamu ganggu banget.”
“Lanjutin.”
Ia melanjutkan memotong bawang. Pelan. Jauh lebih pelan dari sebelumnya, seperti orang yang memotong bawang sambil memikul sesuatu yang sangat berharga di punggungnya. Aku bisa merasakan setiap gerakan pisaunya lewat punggungnya. Aku bisa merasakan jantungnya yang berdetak lebih cepat dari irama senandungnya.
“Kamu wangi bawang,” kataku ke punggungnya.
“Aku lagi motong bawang.”
“Wangi bawang dan melati.”
“Melatinya dari kamu.”
“Saya tahu.” Aku menutup mata. “Jadi sekarang kamu wangi saya.”
Pisaunya berhenti lagi.
“Kalea,” katanya, suaranya sedikit serak. “Kalau kamu ngomong gitu terus, nasi gorengnya bakal gosong.”
“Kompornya belum dinyalakan.”
“Nanti. Pasti gosong.”
Aku tertawa ke punggungnya. Ia juga tertawa, dan tawanya bergetar di pipiku, dan aku tidak melepaskannya sampai bawang merah selesai dipotong, bawang putih selesai dicincang, dan ia harus menyalakan kompor dan bilang, sangat lembut, “Minyaknya bisa nyiprat. Mundur sedikit, ya.”
Aku mundur satu langkah. Hanya satu.
Nasi gorengnya tidak gosong. Telur ceploknya sempurna, kuningnya masih lumer. Ia memindahkan telur ceplok miliknya ke piringku. Aku memindahkan kerupukku ke piringnya.
Seperti di meja sekretaris direksi pukul sepuluh malam. Seperti kebiasaan lama.
Setelah makan, ia mencuci piring. Aku tidak bisa menghentikannya. Ia berdiri di depan wastafel dengan keran yang sudah tidak menetes, mencuci wajan dengan teliti, lalu berhenti.
Ia menatap rak buku di sebelah wastafel. Di rak paling atas, ada foto berbingkai. Ayah, dengan kemeja batik kebesaran, tersenyum di depan papan tulis.
“Itu ayahmu?” tanyanya.
“Iya.”
Bimo mengeringkan tangannya dengan lap, lalu berdiri tegak di depan foto itu. Sangat tegak. Seperti orang yang menghadap atasan pada hari pertama kerja.
“Selamat malam, Pak,” katanya pada foto Ayah.
Aku membeku di kasur.
“Saya Bimo,” lanjutnya, dengan nada serius yang sama yang ia pakai untuk menjelaskan kenapa printer macet. “Bimo Wibisena. Staf IT di kantor Kalea. Saya... saya biasanya cuma lewat. Tapi...”
Ia berhenti. Menggaruk tengkuk. Lalu menatap foto itu lagi.
“Tapi saya mau tinggal, Pak. Kalau Bapak izinkan. Saya janji nggak bikin keran netes.”
Aku menutup mulut dengan kedua tangan.
Bimo menoleh padaku. Wajahnya merah. “Itu aneh, ya?”
Aku tidak bisa menjawab. Air mataku sudah keluar, deras, tanpa izin. Aku menggeleng-geleng, tidak tahu apakah artinya tidak aneh atau aku tidak bisa bicara.
Ia berjalan ke kasur, duduk di sebelahku, dan dengan sangat hati-hati, seperti memegang benda yang bisa pecah, mencium keningku.
Pelan. Lama. Bibirnya hangat di keningku, dan aku merasakan napasnya di rambutku.
“Jangan nangis,” bisiknya. “Nanti Bapak kira aku jahat.”
Aku tertawa di sela tangis. Ia memelukku. Dan di dalam pelukan itu, dengan wajah di bahunya, aku memikirkan tujuh draf di folder ponselku.
Bimo, ada yang harus saya bilang.
Sekarang. Sekarang adalah waktunya. Ia baru saja bicara pada foto Ayah. Ia baru saja bilang ingin tinggal.
“Bimo,” kataku ke bahunya.
“Hm?”
“Ada yang...”
Ponselnya berbunyi. Panggilan masuk. Ia melirik layar. Ibu.
“Maaf,” katanya, “Ibu jarang telepon malam.”
Ia mengangkatnya. Dari speaker, suara Ibu Sri yang keras dan ceria terdengar sampai ke telingaku: “Bim! Besok jadi pulang? Gas lagi bocor! Bayu bilang baunya kayak kentut naga lagi!”
Bimo menatapku dengan wajah meminta maaf. Aku tertawa sambil mengusap air mata, dan mengangguk. Ia berdiri dan berjalan ke dekat jendela untuk bicara dengan ibunya.
Kalimatku tertinggal di bahunya, tidak selesai.
Saat Bimo menelepon di dekat jendela, aku melihat laptopku.
Laptop itu terbuka di meja kerja. Aku lupa menutupnya tadi pagi. Di layar, di balik screensaver yang baru saja padam karena Bimo tadi menyenggol mejanya saat memperbaiki kursi, ada dashboard penulis Lembar.
Sang CEO dan Gadis Magang.
Penulis: Senin Pagi.
Pembaca: 61.430.
Dan sebuah notifikasi baru di pojok kanan atas, dengan ikon amplop:
Pesan baru dari Penerbit Lentera: “Kami tertarik membicarakan kemungkinan menerbitkan karya Anda dalam bentuk buku...”
Bimo menutup telepon. Ia berbalik dari jendela. Ia berjalan ke arah meja kerja, karena kabel charger ponselnya tergeletak di sana.
Aku bergerak lebih cepat daripada yang pernah kulakukan seumur hidupku.
Aku melompat dari kasur dan menutup laptop itu dengan dua tangan.
BRAK.
Tepat saat jari-jari Bimo mendarat di tepi meja untuk mengambil charger.
“ADUH.”
Aku menatap tanganku, yang menekan laptop. Aku menatap jari-jari Bimo, yang terjepit di antara laptop dan meja.
“Maaf! Maaf maaf maaf!” Aku membuka laptop lagi setengah, cukup untuk membebaskan jarinya, lalu menutupnya lagi dengan cepat. “Maaf!”
Bimo menarik tangannya dan menatap jari-jarinya yang memerah. Lalu menatap laptop yang tertutup rapat di bawah kedua tanganku. Lalu menatapku.
“Laporan,” kataku. Suaraku terlalu tinggi. “Laporan direksi. Rahasia perusahaan. Kamu nggak boleh lihat. Kode etik.”
Ia diam. Menatapku. Menatap laptop.
Aku menunggu ia bertanya. Aku menunggu kecurigaan. Aku menunggu, dengan dada yang berdebar seperti printer yang macet, wajah yang berubah.
Ia mengangguk.
“Oke,” katanya. “Rahasia perusahaan.”
Lalu ia mengambil charger dari ujung meja yang lain, yang tidak dekat laptop, dan meniup jari-jarinya yang memerah.
“Kamu kuat juga,” katanya. “Kayak pintu lift.”
Ia tersenyum padaku. Senyum yang tidak curiga sedikit pun. Senyum seseorang yang menulis Jangan cari tahu siapa Senin Pagi dan sungguh-sungguh mematuhinya.
Aku tidak bisa membalas senyum itu.
Ia pulang pukul sembilan. Di depan pintu, ia mencium keningku lagi, singkat, dan berkata, “Keranmu jangan dipakai terlalu kencang. Karetnya baru.”
Aku menutup pintu dan bersandar di baliknya.
Lalu aku membuka laptop.
Notifikasi dari Penerbit Lentera masih ada di pojok kanan atas. Aku tidak membukanya.
Aku membuka folder Draf di ponsel. Tujuh pesan. Aku menulis yang kedelapan.
Bimo, ada yang harus saya bilang. Hari ini kamu bicara sama foto Ayah dan bilang kamu mau tinggal. Lalu saya menjepit jarimu dengan laptop, karena di dalam laptop itu ada sesuatu yang membuat kamu mungkin tidak mau tinggal lagi. Saya pengecut. Saya sudah jadi pengecut delapan kali. Saya akan bilang. Minggu depan. Sumpah.
Aku tidak mengirimnya.
Aku membuka Aturan Antagonis. Di bawah nomor dua belas, Bilang di Jakarta, aku menambahkan dengan jari gemetar:
(Sudah di Jakarta dua minggu. Belum bilang. Minggu depan.)
Lalu aku menatap foto Ayah di rak buku, yang sekarang terlihat lebih jelas karena Bimo memperbaiki lampu kamar mandi dan cahayanya memantul sampai ke sana.
Ayah tersenyum seperti biasa.
“Dia bilang mau tinggal, Yah,” bisikku. “Dan aku nggak bisa bilang apa-apa.”
Keran wastafel tidak menetes lagi. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, apartemenku benar-benar sunyi. Dan kesunyian itu jauh lebih keras dari bunyi tes setiap tujuh detik.
- 1 Satu Kalimat Tanpa Nama
- 2 Proyektor yang Terlalu Cepat Menyala
- 3 Aturan Figuran
- 4 Kolom Komentar
- 5 Printer Lantai 12
- 6 Kabel yang Sama
- 7 Antagonis Juga Makan Siang Sendiri
- 8 Senin Pagi
- 9 Plot Hole
- 10 Hujan di Puncak
- 11 “Dia Lagi”
- 12 Shipper Kantor
- 13 Lembur
- 14 Yang Ditulis dan Yang Terjadi
- 15 Perjalanan Dinas
- 16 Laut Jam Lima Pagi
- 17 Kamera
- 18 Aku Cuma Lewat, Tapi...
- 19 Jangan Baca Bab Malam Ini
- 20 Lift Nomor 3
- 21 Pacar Rahasia
- 22 Draf yang Tak Pernah Terkirim reading
- 23 Ulang Tahun yang Dilupakan
- 24 Penggemar Nomor Satu
- 25 Kebaikan Tasya
- 26 Semua Orang Melihat
- 27 Senin Pagi, Delapan Bulan Lalu
- 28 Rapat HR
- 29 Bab Terakhir
- 30 Notifikasi Tamat
- 31 Bab Satu
- 32 Rapat Darurat Para Figuran
- 33 Rumah di Bandung
- 34 Wibisena Bersatu
- 35 Catatan Staf IT yang Lewat
- 36 Jumat, Pukul 21.00
- 37 Gala
- 38 Itu Bagianku
- 39 Izin Terbit
- 40 Satu Kalimat dengan Nama
- 41 Epilog — Semua Orang di Dalam Foto