← Kamu Ada di Setiap Bab

Chapter Thirty Three

Rumah di Bandung

POV: Kalea

Ibu menyambutku di stasiun Bandung dengan rantang empat susun.

Bukan pelukan. Bukan Lea, Ibu kangen. Rantang. Empat susun, warna hijau, berisi nasi liwet, ayam goreng, sayur asem, sambal, dan tempe mendoan yang masih hangat. Ibu menyodorkannya padaku di peron, di antara penumpang yang berlalu-lalang, sebelum aku sempat menurunkan koper.

“Makan dulu,” kata Ibu.

“Bu, ini peron.”

“Kamu kurus.” Ibu menatapku dari kepala sampai kaki dengan mata seorang guru SD yang sedang memeriksa seragam murid. “Pipimu cekung. Kamu nggak makan di Jakarta.”

“Aku makan, Bu.”

“Makan apa?”

Aku memikirkan dua minggu terakhir. Nasi, telur dadar, tumis kangkung. Bakwan berkaret gelang hijau, yang sudah tidak ada lagi.

“Menu diet,” kataku.

Ibu menyipitkan mata. Lalu ia membuka susun paling atas rantang itu, mengambil sepotong tempe mendoan, dan menyodorkannya langsung ke mulutku. Di peron. Di depan dua ratus penumpang.

Aku memakannya. Ibu memang guru SD. Ia selalu tahu kapan seseorang perlu disuapi.


Rumah kami di Bandung ada di gang kecil di daerah Dago. Rumah tua bercat putih yang mulai mengelupas, dengan teras kecil menghadap pohon jambu air yang ditanam Ayah waktu aku lahir. Di teras itu ada dua kursi rotan. Kursi Ayah, yang bantalnya sudah kempis karena terlalu sering diduduki. Dan kursi kecil yang dulu kududuki waktu aku bangun jam empat pagi dan menulis tentang kucing tetangga.

Ibu tidak pernah memindahkan kedua kursi itu.

Ruang kerja Ayah ada di belakang rumah. Sebuah kamar kecil dengan satu jendela menghadap kebun, rak buku dari lantai sampai langit-langit, meja kayu jati yang permukaannya penuh bekas cangkir teh, dan mesin tik tua yang tidak pernah dipakai lagi tapi tidak pernah dibuang.

Aku tidur di sana. Aku tidak tahu kenapa. Kamarku yang dulu masih ada, dengan poster boyband yang sudah pudar di dindingnya. Tapi aku membawa bantal dan selimut ke ruang kerja Ayah dan tidur di lantai di antara rak-rak bukunya, seperti anak kecil yang tidur di kamar orang tua setelah mimpi buruk.

Hari pertama, aku tidak keluar dari ruangan itu.

Ibu mengetuk pintu setiap tiga jam. Pukul tujuh pagi: nasi uduk. Pukul sepuluh: pisang goreng. Pukul satu siang: soto Bandung dengan lobak. Pukul empat sore: bandros. Pukul tujuh malam: nasi liwet lagi, karena “kamu belum habisin yang di rantang”.

Aku makan semuanya. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena makanan Ibu adalah satu-satunya hal di dunia yang tidak menuntutku untuk memikirkan apa pun.


Hari kedua, Ibu mencoba strategi yang berbeda.

“Lea,” katanya, berdiri di ambang pintu ruang kerja Ayah dengan sepiring bala-bala. “Anak Bu Wati sebelah, yang dokter gigi. Dia lagi pulang dari Surabaya.”

“Bu.”

“Dia masih single.”

“Bu.”

“Ibu cuma kasih informasi.” Ibu meletakkan bala-bala di meja jati, di sebelah mesin tik. “Bukan undangan.”

Aku menatap Ibu. Itu informasi. Bukan undangan.

Sesuatu di dadaku yang sudah tiga hari diam tiba-tiba bergerak. Seperti kipas angin yang tidak sengaja dinyalakan.

“Kenapa kamu senyum?” tanya Ibu curiga.

“Nggak apa-apa, Bu.”

“Kamu senyum kayak orang ingat sesuatu.”

Aku menggigit bala-bala supaya tidak perlu menjawab. Bala-bala buatan Ibu tidak ada cabainya. Ibu tahu aku tidak tahan pedas.

Bimo juga tahu.

Aku berhenti mengunyah.

Ibu menatapku lama. Lalu ia duduk di kursi kayu di depan meja Ayah, kursi yang bantalnya kempis, dan melipat tangan di pangkuan.

“Teman arisan Ibu,” katanya pelan, “kirim tautan Twitter lagi tadi pagi.”

Aku menunduk.

“Katanya ada utas. Orang-orang bahas novel kamu. Ada yang bilang kamu melanggar privasi. Ada yang bilang kamu penulis berbakat. Ada yang bilang...” Ibu berhenti. “Ada yang bilang kamu pantas ditinggal sendirian. Kayak tokohmu.”

“Aku tahu, Bu. Aku baca.”

“Kamu baca semuanya?”

“Sebagian.”

“Kenapa kamu baca yang jahat-jahat?”

Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu jawabannya. Mungkin karena yang jahat-jahat terdengar seperti suara di kepalaku sendiri. Antagonis. Pantasnya sendirian di ending.

Ibu menghela napas. Lalu ia berdiri, berjalan ke rak buku Ayah, dan menarik sesuatu dari rak paling bawah. Sebuah buku tulis bersampul cokelat, tebal, dengan sudut-sudut yang sudah lusuh.

“Ibu nemu ini waktu beresin ruangan ini setahun lalu,” katanya, meletakkan buku itu di pangkuanku. “Ibu nunggu kamu pulang buat kasih.”

“Ini apa, Bu?”

“Buku Ayahmu. Yang terakhir.”


Aku membukanya setelah Ibu keluar.

Tulisan tangan Ayah. Miring ke kiri, berantakan, dengan tinta biru yang kadang luntur karena tetesan teh. Puisi-puisi pendek. Catatan tentang mahasiswa. Daftar belanja yang tidak ada hubungannya dengan sastra: beras 5 kg, minyak goreng, sabun cuci, teh melati 2 kotak.

Halaman-halaman terakhir ditulis tiga minggu sebelum Ayah meninggal.

Minggu, jam 5 pagi. Teh melati. Hujan semalam.

Lea menelepon kemarin. Dia bilang kerjanya sibuk. Dia sekretaris direksi sekarang. Dia bilang dia nggak sempat nulis lagi.

Aku nggak khawatir. Lea itu seperti aku. Dia nggak bisa nulis kalau nggak memperhatikan sesuatu. Dan dia sekarang terlalu sibuk memperhatikan jadwal orang lain untuk memperhatikan dunia.

Tapi suatu hari, dia akan menemukan sesuatu yang dia perhatikan cukup lama. Sesuatu yang kecil. Sesuatu yang orang lain lewati. Dan dia akan nulis lagi.

Aku harap waktu itu terjadi, dia nggak takut menulis dirinya sendiri dengan baik. Lea selalu menulis kucing tetangga lebih baik dari dirinya sendiri.

Aku membaca halaman itu tiga kali. Tinta birunya kabur di beberapa tempat. Aku tidak tahu apakah karena tetesan teh Ayah hampir dua tahun lalu, atau karena air mataku sekarang.

Dia nggak takut menulis dirinya sendiri dengan baik.

Aku menulis Pak Darto berwibawa. Aku menulis Bu Ratmi hangat. Aku menulis Tasya berani, Pak Dimas canggung tapi baik, Gilang lucu, lift nomor tiga pemarah tapi bisa dimaafkan. Aku menulis Bimo sebagai seseorang yang tidak pernah cuma lewat.

Dan aku menulis diriku sendiri sebagai antagonis yang pantas ditinggal sendirian.

Ayah tahu. Hampir dua tahun lalu, sebelum ada novel, sebelum ada printer lantai dua belas, Ayah sudah tahu aku akan melakukan itu.


Sore itu, bel rumah berbunyi. Aku membuka pintu dengan piyama dan rambut yang tidak disisir sejak Jakarta.

Di teras berdiri seorang laki-laki berkacamata, memegang sepiring kue lapis surabaya, dengan wajah orang yang sangat ingin berada di tempat lain.

“Mbak Kalea?” katanya. “Saya anak Bu Wati. Ibu saya suruh antar kue.” Ia menatap piyamaku, lalu menatap langit. “Tenang, Mbak. Saya juga dipaksa.”

Kami saling menatap. Lalu kami berdua tertawa, pendek dan lelah, seperti dua sandera yang baru sadar mereka disandera oleh orang yang sama. Ia menyerahkan kue itu, mengangguk sopan, dan pulang.

Ibu mengintip dari balik gorden ruang tamu dengan wajah kecewa yang sangat dalam.

Hari ketiga, Pak Dimas mengirim email.

Subjek: Serah Terima — Jadwal Direksi Desember

Bu Kalea,

Terima kasih atas dokumen serah terimanya. Sangat lengkap, seperti biasa. Saya sudah membaca semuanya. Saya tidak mengerti sebagian besar, tapi saya sudah membaca.

Beberapa pertanyaan:
1. Kenapa ada catatan “Pak Kumis: makan jam 7 dan 7. Jangan lupa obat cacing tanggal 20” di jadwal direksi saya?
2. Siapa yang akan menulis ulang kartu Idul Fitri tahun depan? (Pertanyaan ini tetap berlaku.)
3. Gala tanggal 14: semua sudah siap sesuai rundown Ibu. Saya menambahkan satu sesi. Ibu tidak perlu mengubah apa pun. Ibu cukup datang.

Salam,
D.H.

P.S. Angka di papan tulis saya sekarang 8. Saya masih tidak setuju.

Aku membaca email itu di ruang kerja Ayah, dengan bala-bala dingin di sebelah laptop, dan tertawa. Pendek. Pecah.

Saya menambahkan satu sesi.

Aku membalas: Sesi apa, Pak?

Balasannya datang dalam empat menit.

Rahasia perusahaan. Kode etik. — D.H.

Aku menatap balasan itu lama. Pak Dimas tidak pernah merahasiakan apa pun dariku. Tiga tahun. Aku tahu kucingnya, hitung mundurnya, tiga puluh roti sobeknya, ketakutannya pada ketinggian dan kecoak.

Rahasia perusahaan.

Itu kalimatku. Kalimat yang kupakai di apartemen, waktu aku menjepit jari Bimo dengan laptop.


Malam itu, pukul sebelas, aku membuka aplikasi Lembar.

Aku tidak tahu kenapa. Novel itu sudah tidak ada. Profilku kosong. Penulis ini belum memiliki karya. Aku hanya ingin melihat halaman kosong itu, seperti melihat rumah lama yang sudah dirobohkan.

Ada satu notifikasi.

Pengguna baru mengikuti Anda: lewat_bawa_kabel.

Aku menatap nama itu.

Jari-jariku tiba-tiba dingin. Aku membuka profil pengguna itu. Akun baru, dibuat dua hari lalu. Tidak ada foto profil. Tidak ada karya. Tidak ada pengikut, kecuali satu. Tidak mengikuti siapa pun, kecuali satu.

Aku.

Di dinding profilku, yang kosong, yang tidak memiliki karya apa pun, ada satu pesan. Dikirim pukul 05.12, dua hari lalu.

Aku baru baca Bab 1.
Semalam. Di pos satpam.
Pak Darto yang simpan.

Aku menutup mulut dengan tangan.

Semalam. Di pos satpam.

Pak Darto. Saya simpan, Bu. Di lobi, saat aku keluar dengan kardus di pelukan. Pak Darto menyimpan semuanya. Tiga puluh enam bab. Untuk istrinya, yang di rumah sinyalnya jelek.

Dan Bimo membacanya. Dari Bab 1. Dari printer lantai dua belas. Dari Senin pagi.

Ia tahu.

Aku membaca pesan itu lagi. Lagi. Lagi. Lalu aku menggulir ke bawah, karena ada pesan kedua di bawahnya, dikirim kemarin malam pukul 23.47.

Aku nggak ingat wajahmu waktu itu.
Aku sengaja nggak lihat.
Kamu kayaknya nggak mau dilihat.
Maaf aku nggak lihat.
Sekarang aku mau lihat.

Aku menangis.

Bukan tangisan sebelas menit di kamar hotel. Bukan tangisan diam di depan printer. Tangisan yang keluar dari tempat yang sangat dalam, dari tempat yang sudah delapan bulan menunggu seseorang mengatakan sesuatu tentang pagi itu.

Ia tidak ingat wajahku. Ia sengaja tidak melihat. Karena ia tahu aku tidak mau dilihat.

Dan sekarang ia mau melihat.

Pintu ruang kerja Ayah terbuka. Ibu berdiri di ambang pintu dengan segelas teh hangat, karena Ibu selalu tahu kapan seseorang menangis, bahkan dari dapur.

Ibu menatapku. Menatap ponsel di tanganku. Menatap air mataku.

“Itu dia?” tanya Ibu pelan.

Aku mengangguk.

“Dia bilang apa?”

Aku menyerahkan ponselku pada Ibu. Ibu memakai kacamata bacanya, yang tergantung di leher dengan tali manik-manik, dan membaca pesan itu dengan wajah serius seorang guru yang memeriksa karangan murid.

Lalu ia menurunkan ponsel.

“Lea,” katanya.

“Bu.”

“Anak ini,” kata Ibu, menunjuk layar, “nggak pakai titik di akhir kalimat yang ketiga.”

Aku mengerjap. “Hah?”

“Nggak pakai titik. ‘Kamu kayaknya nggak mau dilihat.’ Itu pakai titik. Tapi ‘Pak Darto yang simpan’, yang di pesan pertama, nggak pakai titik.” Ibu menyerahkan ponsel kembali padaku. “Anak ini nulisnya grogi. Orang yang grogi itu jujur.”

Aku tertawa di sela tangis. Ibu duduk di lantai di sebelahku, di antara rak-rak buku Ayah, dan memelukku.

“Kamu mau balas?” tanya Ibu.

Aku menatap kolom balasan yang kosong. Kursor berkedip.

Aku tidak tahu harus menulis apa. Aku penulis. Delapan bulan, aku menulis satu juta dua ratus ribu kata. Dan sekarang, di depan tiga baris pesan tanpa titik dari seorang staf IT, aku tidak bisa menulis satu kata pun.

Lalu notifikasi baru masuk. Pesan ketiga dari lewat_bawa_kabel. Dikirim sekarang, pukul 23.52.

Jumat.
21.00.
Jangan tidur dulu.

Aku menatap pesan itu. Jangan tidur dulu. Kalimatku. Kertas tempel kuning dengan logo bunga kamboja, didorong ke bawah celah pintu kamar 312, pukul 23.47.

Ibu membaca pesan itu dari balik bahuku.

“Jumat jam sembilan malam itu apa?” tanya Ibu.

“Jadwal rilis, Bu,” bisikku. “Jadwal rilis novelku. Selasa dan Jumat. Jam sembilan malam.”

Ibu diam. Lalu ia mengusap kepalaku pelan, seperti mengusap kepala anak SD yang baru saja mendapat nilai bagus.

“Kalau gitu,” kata Ibu, “hari Jumat, kita bikin teh melati. Ibu temenin.”

Aku menyandarkan kepala di bahu Ibu, di lantai ruang kerja Ayah, di antara buku-buku dan mesin tik dan buku tulis bersampul cokelat yang berisi dia nggak takut menulis dirinya sendiri dengan baik.

Aku tidak membalas pesan itu malam itu.

Tapi aku tidak menghapus aplikasinya juga.