Chapter Thirty Nine
Izin Terbit
POV: Bimo
Senin, lima belas Desember, papan tulis kecil di ruangan Pak Dimas tidak lagi kosong.
Aku tahu karena aku dipanggil ke sana pukul sembilan pagi untuk memperbaiki mouse yang, seperti biasa, tidak rusak. Pak Dimas hanya lupa menyalakannya. Aku menekan tombol kecil di bawahnya, lampunya menyala, dan Pak Dimas menyalamiku dengan dua tangan.
Lalu aku melihat papan tulis itu.
Di pojok kanan bawah, dengan spidol hitam dan huruf yang sangat kecil:
1.
“Pak,” kataku. “Hitung mundurnya mulai lagi?”
“Itu bukan hitung mundur.” Pak Dimas tidak mengangkat wajah dari laptopnya. Telinganya merah. “Itu hitung maju.”
“Hitung maju apa, Pak?”
“Hari pertama.” Ia mengetik sesuatu dengan sangat serius. “Kemarin malam, setelah gala, saya mengajak seseorang makan siang. Hari ini. Jam dua belas.”
“Seseorang, Pak?”
“Seseorang yang tidak lagi berada di bawah struktur perusahaan sejak pukul nol-nol tadi malam.” Pak Dimas akhirnya mendongak. “Saya sudah konsultasi dengan Mbak Sisil. Tidak ada konflik kepentingan. Mbak Sisil sudah buat formulir.”
“Tiga rangkap, Pak?”
“Empat. Satu untuk arsip pribadi saya.”
Pukul dua belas, dari jendela pantry lantai dua belas, Gilang dan aku melihat Pak Dimas dan Tasya berjalan keluar dari lobi gedung, menyeberangi Sudirman, menuju warung soto Lamongan di gang sebelah. Pak Dimas memakai jas lengkap. Tasya memakai kemeja biru muda, kemeja yang sama dengan yang ia pakai di hari presentasi pertamanya, hari ketika kopinya tidak tumpah.
Di tengah penyeberangan jalan, Pak Dimas tersandung trotoar. Tasya menangkap lengannya.
Gilang mengunyah kerupuk. “Bim. Itu meet-cute versi revisi.”
“Itu bukan meet-cute. Mereka udah kenal tiga bulan.”
“Itu meet-cute tingkat lanjut.” Gilang menatap pasangan itu sampai menghilang di gang. “Tahu nggak, Bim. Kopi yang nggak tumpah itu. Kalau dulu tumpah, mungkin mereka cuma jadi pasangan di novel. Gara-gara lo, mereka jadi pasangan beneran.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku mengambil satu kerupuk dari bungkus Gilang.
“Dan Bim,” kata Gilang, merebut kerupuk itu kembali. “Aturan nomor delapan.”
“Iya, Gil. Hari Sabtu.”
“Padang. Yang paling mahal. Di Menteng. Gue mau gulai kepala ikan.”
“Itu delapan puluh ribu, Gil.”
“Itu harga sebuah aturan, Bim.”
Kalea tidak kembali ke kantor sebagai sekretaris direksi.
Surat pengunduran dirinya tetap berlaku. Ia yang memutuskan begitu, di atap Hotel Arunika, setelah kami turun dan kedua ibu kami sudah merencanakan kursus memasak soto. Saya tetap resign, katanya. Tapi bukan karena pergi. Karena saya mau mulai sesuatu.
Ia hanya datang satu kali lagi ke gedung Haryanto Group, tanggal dua puluh Desember, hari Jumat, untuk menandatangani dokumen serah terima terakhir dan mengambil satu kardus barang yang tertinggal.
Pak Dimas menerima dokumen itu di ruangannya. Ia membaca semuanya dengan teliti, lalu mengeluarkan surat pengunduran diri dari saku kemejanya. Surat yang dilipat empat kali, yang sudah tiga minggu ia simpan di atas jantung.
Ia membukanya. Membaca ulang. Lalu ia mengambil pulpen dan menulis sesuatu di pojok kanan bawah, di bawah tanda tangan Kalea.
Disetujui. Dengan sangat, sangat tidak setuju. — D.H.
“Dua kali ‘sangat’, Pak,” kata Kalea.
“Kalau saya bilang ‘sangat’ dua kali, itu artinya serius.” Pak Dimas menyerahkan surat itu kembali ke map HR. “Tasya yang bilang.”
Lalu ia berdiri, berjalan ke papan tulis, dan menatap angka di pojok bawah. 6. Hari keenam.
“Kartu Idul Fitri tahun depan,” katanya, tidak menoleh.
“Tasya, Pak.”
“Tasya sekarang di divisi strategi. Bukan di bawah saya langsung.”
“Tasya tetap bisa nulis kartu Idul Fitri untuk Bapak,” kata Kalea. “Bukan sebagai bawahan.”
Pak Dimas tidak menjawab. Tapi telinganya, untuk keseratus kalinya bulan itu, merah sampai ke ujung.
Perpisahan Kalea diadakan di pantry lantai dua belas.
Bukan lantai empat belas. Bukan ruang rapat. Pantry lantai dua belas, di depan papan gabus yang sekarang, entah siapa yang memulainya, sudah dipenuhi kertas-kertas tempel kuning dari berbagai divisi. Tulisan tangan berbeda-beda.
Terima kasih sudah nulis saya berwibawa. — Darto (satpam lobi)
Laporan pengadaan sekarang printer pakai satu T. Terima kasih sudah mencoret. — Tim Pengadaan
Saya Tim Kalina dari Bab 12. — Wulan (resepsionis)
Kucing saya sehat. Obat cacing tanggal 20 sudah. — D.H.
Bu, saya akan nulis kartu Idul Fitri Pak Dimas. Saya sudah latihan. — Tasya
Bu Ratmi menyediakan bakwan. Seratus bungkus. Semuanya karet gelang hijau. Pak Darto datang memakai seragam, meskipun hari itu bukan jadwal dinasnya. Mbak Sisil datang dengan map plastik, dan di dalamnya, tumpukan formulir yang ia serahkan pada Kalea dengan dua tangan.
“Ini,” kata Mbak Sisil. Kacamatanya berembun. “Formulir Persetujuan Publikasi. Dari semua tokoh. Tiga rangkap. Ditambah empat puluh tujuh formulir dari karyawan yang tidak ada di novel tapi mau ikut tanda tangan.”
Kalea menatap tumpukan formulir itu.
“Kenapa yang nggak ada di novel ikut tanda tangan, Mbak?”
“Mereka bilang,” Mbak Sisil membaca catatan di mapnya, “‘Kalau suatu hari Ibu nulis lagi, kami mau ada di dalamnya.’”
Kalea memeluk tumpukan formulir itu. Ia tidak bilang apa-apa. Ia tidak bisa. Bu Ratmi menyodorkan bakwan tanpa cabai ke tangannya, dan ia memakannya sambil menangis di depan papan gabus yang penuh kertas kuning.
Pada malam yang sama, Kalea membalas email dari Penerbit Lentera.
Aku ada di sana. Di apartemennya, di lantai sembilan, duduk di kursi meja kerja yang sudah tidak goyang, sementara ia mengetik di laptop. Keran wastafel tidak menetes. Lampu kamar mandi menyala terang. Foto Ayah tersenyum di rak buku.
Ia mengetik pelan, kalimat demi kalimat, dan membacakannya padaku.
Kepada Penerbit Lentera,
Dua minggu lalu saya membalas bahwa karya saya sudah tidak ada. Hari ini saya ingin mengoreksi pernyataan itu. Karya tersebut masih ada. Saya memiliki salinannya, disimpan secara luring oleh seorang satpam untuk istrinya yang sinyal rumahnya jelek. Saya juga memiliki persetujuan tertulis dari seluruh tokoh nyata di dalamnya, tiga rangkap.
Namun, jika karya ini diterbitkan, saya ingin menulis ulang. Bukan ceritanya. Tapi cara saya menulis diri saya sendiri di dalamnya.
Ia berhenti mengetik. Menatapku.
“Judulnya,” katanya. “Saya nggak mau pakai Sang CEO dan Gadis Magang lagi. Itu judul untuk pohon palsu.”
“Terus apa?”
Ia menatap layar lama. Lalu ia membuka laci meja kerjanya dan mengeluarkan sesuatu. Kertas tempel kuning. Kusut, sedikit sobek di pojok. Tulisan tangannya sendiri, condong ke kanan, gemetar.
Kamu selalu ada di setiap bab.
Kertas yang ia tinggalkan di kantong cokelat, di depan partisi kaca buram, di pantry lantai dua belas. Aku menyimpannya di laci di bawah kabel. Aku memberikannya kembali padanya di atap Hotel Arunika, tanpa bicara.
“Kamu Ada di Setiap Bab,” katanya pelan.
Aku menatap judul itu. Aku memikirkan delapan puluh tujuh kalimat. Aku memikirkan halaman kosong yang tidak kuinginkan.
“Itu bagus,” kataku.
“Itu bukan bagus. Itu jujur.”
“Kata ibumu, orang yang jujur itu...”
“Nulisnya pendek-pendek.” Ia tersenyum. Lalu ia mengetik judul itu di email, dan menekan kirim.
Balasan dari Penerbit Lentera datang hari Senin.
Mereka ingin bertemu. Bukan hanya untuk membicarakan buku. Editor kepala mereka, seorang perempuan bernama Bu Ratna, membaca seluruh tiga puluh enam bab dalam satu akhir pekan dari salinan PDF yang dikirim Kalea. Lalu ia membaca dokumen serah terima yang tidak sengaja ikut terlampir di email yang sama, dokumen setebal empat puluh halaman yang berisi jadwal direksi, catatan obat cacing kucing, dan rekomendasi penundaan perbaikan lift nomor tiga dengan alasan “fungsi penting”.
Kami membutuhkan seorang editor, tulis Bu Ratna. Seseorang yang bisa membaca seribu halaman dan tahu di mana satu kalimat harus dipotong. Seseorang yang memperhatikan detail. Dokumen serah terima Anda adalah dokumen paling teliti yang pernah saya baca. Apakah Anda tertarik?
Kalea membaca email itu tiga kali. Lalu ia menatapku.
“Saya bisa motong kalimat Pak Dimas yang lebih dari dua puluh kata,” katanya. “Tiga tahun.”
“Itu kualifikasi yang bagus.”
“Itu kualifikasi yang aneh.”
“Semua kualifikasi kita aneh,” kataku. “Aku bisa dengar lift mau macet.”
Ia menerima tawaran itu.
Akhir Desember, aku pergi ke Bandung untuk pertama kali.
Kalea menjemputku di stasiun. Ia memakai kardigan abu-abu yang kebesaran dan sepatu kets putih yang sudah tidak putih lagi, sepatu dari Puncak. Ia tidak membawa rantang. Tapi di sebelahnya, berdiri ibunya, memegang rantang empat susun berwarna hijau.
“Makan dulu,” kata ibu Kalea, menyodorkan rantang itu padaku di peron, sebelum aku sempat menurunkan tas.
Aku menatap rantang itu. Lalu menatap Kalea. Kalea mengangkat bahu dengan wajah yang berkata saya sudah peringatkan kamu.
“Terima kasih, Bu,” kataku, dan membuka susun paling atas. Tempe mendoan.
Ibu Kalea memperhatikanku makan tempe mendoan di peron stasiun Bandung, dengan kacamata terpasang, dengan mata seorang guru SD yang memeriksa karangan.
“Kamu makannya cepat,” katanya.
“Maaf, Bu.”
“Bagus. Laki-laki yang makannya lambat itu biasanya pilih-pilih.”
Rumah di Dago lebih kecil dari yang kubayangkan. Cat putih yang mengelupas. Pohon jambu air di halaman. Teras kecil dengan dua kursi rotan.
Ibu Kalea menyuruhku duduk di salah satunya. Kursi yang bantalnya kempis.
“Bu, itu kursi Bapak,” bisik Kalea.
“Saya tahu,” kata Ibu Kalea. “Makanya dia yang duduk.”
Aku duduk di kursi rotan dengan bantal kempis, di teras rumah Dago, di sebelah perempuan yang kucintai, dengan perasaan yang sangat aneh. Seperti menginjak tempat yang bukan untukmu, tapi seseorang menyuruhmu tetap di situ.
Hari kedua, Ibu Kalea membawaku ke ruang kerja ayahnya.
Ruangan kecil, rak buku sampai langit-langit, meja jati yang penuh bekas cangkir teh. Dan di atas meja itu, sebuah mesin tik tua berwarna hijau tua, dengan tuts-tuts yang sudah kusam dan pita tinta yang kering.
“Itu rusak sejak lima tahun lalu,” kata Ibu Kalea. “Bapaknya Lea nggak sempat benerin. Lea nggak tega buang.”
Aku menatap mesin tik itu. Lalu menatap Ibu Kalea.
“Boleh saya lihat, Bu?”
Butuh tiga jam. Pegas pengembalian kertas yang longgar. Satu tuts huruf E yang macet karena debu dan karat. Pita tinta yang harus kuganti dengan pita baru yang kubeli di toko alat tulis tua di Jalan Braga, setelah bertanya ke empat toko. Kalea duduk di lantai ruang kerja ayahnya, memeluk lutut, menontonku bekerja. Sekali, ia tertidur bersandar ke rak buku, dan aku menyelimutinya dengan kardigannya sendiri.
Pukul sembilan malam, aku memasukkan selembar kertas ke rol mesin tik itu dan menekan tuts huruf K.
Tak.
Huruf K tercetak di kertas. Hitam. Tegas.
Kalea, yang sudah bangun, menutup mulutnya dengan tangan.
Aku menggeser kursi dan memberi isyarat padanya untuk duduk. Ia duduk di depan mesin tik ayahnya. Jari-jarinya gemetar di atas tuts. Lalu ia mengetik, pelan, satu huruf demi satu huruf, dengan bunyi tak-tak-tak yang memenuhi ruang kerja kecil itu:
Senin pagi, printer lantai dua belas rusak.
Ia berhenti. Menatap kalimat itu. Lalu ia menoleh padaku.
“Kalimat pertama,” katanya. “Untuk buku yang baru. Saya mau ketik di sini.”
“Kalimat pertamanya sama?”
“Sama. Tapi lanjutannya beda.” Ia menatap mesin tik. “Lanjutannya nanti. Saya belum siap.”
Di ambang pintu, Ibu Kalea berdiri dengan segelas teh melati di tangan. Ia tidak masuk. Ia hanya menatap putrinya di depan mesin tik suaminya, dan aku melihat matanya berkaca-kaca di balik kacamata.
Lalu ia meletakkan teh itu di rak buku dekat pintu, tanpa bicara, dan pergi. Seperti seseorang yang meninggalkan teh untuk orang yang tidak mau dilihat.
Pagi terakhir di Bandung, pukul 04.50, Kalea membangunkanku.
“Teras,” bisiknya. “Jam lima.”
Kami duduk di teras dengan dua kursi rotan, dengan teko keramik putih bermotif bunga biru di antara kami. Teh melati. Delapan puluh derajat. Langit di atas Dago masih biru tua, perlahan berubah ungu.
“Ayah bilang jam lima pagi itu jam paling jujur,” kata Kalea.
“Kamu cerita di Bali.”
“Semua orang masih tidur. Jadi nggak ada yang perlu pura-pura.”
Ia menuang teh ke cangkirku. Lalu ke cangkirnya.
“Bimo.”
“Hm.”
“Kamu duduk di kursi Ayah.”
“Ibumu yang suruh.”
“Saya tahu.” Ia menatap langit yang berubah warna. “Saya cuma mau bilang, kamu orang pertama yang duduk di situ sejak Ayah pergi. Ibu bahkan nggak duduk di situ. Ibu cuma duduk di situ waktu kamu baca tulisanmu, malam itu. Karena kamu.”
Aku menatap cangkir teh di tanganku. Aku memikirkan foto di album lama. Anak laki-laki di pundak Bapak. Aku memikirkan buku tulis bersampul cokelat. Aku harap dia nggak takut menulis dirinya sendiri dengan baik.
“Kalea.”
“Hm?”
“Ayahmu nulis di bukunya, kamu selalu nulis kucing tetangga lebih baik dari dirimu sendiri.”
Ia menoleh. “Kamu baca?”
“Ibumu yang tunjukin. Kemarin. Waktu kamu tidur di ruang kerja.” Aku meletakkan cangkirku. “Buku barumu. Yang kalimat pertamanya diketik di mesin tik. Tolong tulis dirimu sendiri lebih baik dari kucing tetangga.”
Kalea menatapku. Langit di belakangnya berubah dari ungu jadi merah muda.
“Itu bukan bagianmu,” katanya pelan. Lalu ia tersenyum, karena ia sudah tahu jawabanku.
“Itu bagianku,” kataku.
Ia meletakkan cangkirnya di lantai teras. Lalu ia berdiri dari kursi kecilnya yang terlalu kecil, melangkah satu langkah ke kursi Ayah, dan duduk di pangkuanku. Kardigan abu-abunya yang kebesaran jatuh menutupi kami berdua.
Lalu ia menciumku.
Di teras rumah Dago, pukul lima lewat sepuluh pagi, di jam paling jujur, di kursi rotan yang bantalnya kempis, dengan teh melati yang mendingin di lantai dan pohon jambu air yang bergoyang di halaman. Ciuman yang pelan, lalu tidak pelan. Ciuman yang rasanya seperti teh melati delapan puluh derajat dan udara dingin Bandung dan sesuatu yang sudah lama menunggu untuk ditulis.
Tangannya di wajahku. Tanganku di punggungnya, di bawah kardigan. Napasnya hangat di tengah udara pagi yang membuat napas kami berdua berasap.
Ia mundur sedikit. Dahinya menempel di dahiku.
“Semua orang masih tidur,” bisiknya.
“Iya.”
“Jadi nggak ada yang perlu pura-pura.”
“Aku nggak pura-pura.”
“Saya tahu.” Ia tersenyum. “Kamu nggak bisa pura-pura. Kamu bahkan nggak bisa pura-pura batuk.”
Dari dalam rumah, dari balik gorden ruang tamu, terdengar bunyi kecil. Seperti seseorang yang mundur terlalu cepat dan menabrak lemari kaca.
Kami menoleh. Gorden bergoyang.
Lalu suara ibu Kalea, sangat datar, sangat seperti guru SD: “Ibu nggak lihat. Ibu cari kacamata.”
Kacamatanya tergantung di lehernya. Kami bisa melihat tali manik-maniknya berkilat di celah gorden.
Kalea menyembunyikan wajahnya di leherku dan tertawa sampai kursi rotan Ayah berderit.
- 1 Satu Kalimat Tanpa Nama
- 2 Proyektor yang Terlalu Cepat Menyala
- 3 Aturan Figuran
- 4 Kolom Komentar
- 5 Printer Lantai 12
- 6 Kabel yang Sama
- 7 Antagonis Juga Makan Siang Sendiri
- 8 Senin Pagi
- 9 Plot Hole
- 10 Hujan di Puncak
- 11 “Dia Lagi”
- 12 Shipper Kantor
- 13 Lembur
- 14 Yang Ditulis dan Yang Terjadi
- 15 Perjalanan Dinas
- 16 Laut Jam Lima Pagi
- 17 Kamera
- 18 Aku Cuma Lewat, Tapi...
- 19 Jangan Baca Bab Malam Ini
- 20 Lift Nomor 3
- 21 Pacar Rahasia
- 22 Draf yang Tak Pernah Terkirim
- 23 Ulang Tahun yang Dilupakan
- 24 Penggemar Nomor Satu
- 25 Kebaikan Tasya
- 26 Semua Orang Melihat
- 27 Senin Pagi, Delapan Bulan Lalu
- 28 Rapat HR
- 29 Bab Terakhir
- 30 Notifikasi Tamat
- 31 Bab Satu
- 32 Rapat Darurat Para Figuran
- 33 Rumah di Bandung
- 34 Wibisena Bersatu
- 35 Catatan Staf IT yang Lewat
- 36 Jumat, Pukul 21.00
- 37 Gala
- 38 Itu Bagianku
- 39 Izin Terbit reading
- 40 Satu Kalimat dengan Nama
- 41 Epilog — Semua Orang di Dalam Foto